Sesuatu membangunkan anak laki-laki itu dari mimpinya.

Anak laki-laki itu menguap dan mengerjapkan kedua matanya, mengutuk dirinya sendiri karena tertidur ketika dia seharusnya berjaga. Dia mengedarkan pandangannya, memastikan kalau keadaan di markas baik-baik saja.

Teman-temannya tertidur dengan nyenyak di dalam sleeping bag atau selimut masing-masing. Anak laki-laki itu mendesah, lega karena semuanya baik-baik saja, hingga dia melihat dua "orang" yang sedang berdiri di dekat Alice dan Ada yang tidur berdampingan.

Anak laki-laki itu tidak bergerak, karena dia tahu kedua "orang" itu tidak bermaksud buruk. Malah, dia senang karena dua "orang" itu akhirnya datang berkunjung. Dia memperhatikan salah satu dari dua "orang" itu, yang memiliki rambut panjang berwarna perak" berlutut di samping Alice dan menyentuh wajah gadis itu. Tangannya yang tembus pandang menembus wajah Alice, seakan "orang" itu hanya terbuat dari udara, yang mungkin saja benar. Dia menggelengkan kepalanya, sedih karena dia tidak bisa menyentuh wajah orang yang disayanginya.

Tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, akhirnya anak laki-laki itu membuka mulutnya untuk menyapa kedua "orang" itu.

"Halo Alyss! Halo Jack!"

Dua "orang" itu menoleh ke arah anak laki-laki itu. Salah satu dari mereka, yang memiliki rambut pirang panjang yang dikepang dan sepasang iris emerald, Jack, melambaikan tangannya. "Halo juga! Kami membangunkanmu, ya?"

Anak laki-laki itu tertawa kecil, "Sepertinya begitu. Kalian ingin mengunjungi saudara kalian, ya?"

"Yup," jawab Alyss. Mereka berdua berjalan, tidak, melayang menuju anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu berdiri untuk menyabut kedua temannya, atau arwah temannya, itu.

"dan kami ingin mengatakan kalau kami berdua akan 'terus'" tambah Alyss begitu dia dan Jack sampai di depan anak laki-laki itu.

"Kalian aka 'terus'" tanya anak laki-laki itu untuk memastikan.

Alyss mengangguk dan tersenyum, senyumnya adalah satu-satunya bagian yang terlihat jelas di wajah tembus pandangnya. "Yup, kami tidak mau menjadi arwah penasaran, berkeliaran di muka bumi ini hingga entah kapan. Lebih baik kalau kami meneruskan perjalanan kami. Jadi, ini terakhir kalinya kita bertemu…"

"Sampai kau mati, setidaknya." tambah Jack dengan senyum jahilnya.

"Kalau begitu, aku berharap kita tidak bertemu dalam waktu dekat!" kekeh anak laki-laki itu.

Alyss menyentakkan kepalanya, seakan-akan mendengar seseorang memanggilnya. "Waktu kita sudah habis, Jack! Kita harus kembali!" Jack mengangguk.

"Sampaikan salamku pada Reim dan Lily, oke?" kata anak laki-laki itu ketika dia melihat tubuh transparan sahabatnya mulai memudar.

"Oke. Jangan bilang kalau kami kesini pada yang lain, oke?" pinta Jack. Anak laki-laki itu mengacungkan jempol tangan kanannya, tanda kalau dia setuju.

"Jaga dirimu dan Pandora baik-baik, oke," pinta Alyss sebelum dia dan Jack sepenuhnya menghilang. Angin kecil berhembus dari tempat mereka berdua berada sebelumnya, menyibakkan poni berantakan anak laki-laki itu. Tanpa poni hitam berantakan untuk menutupi mereka, kedua iris ungu gelap miliknya terlihat dengan jelas.

"…Reo."

Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Arc 4

Chapter 17: Drastic Steps

"Kenapa aku harus terjebak dengan dia?"

Itulah yang dipikirkan Reo selama setengah jam belakangan ini. Anak laki-laki itu menatap punggung Echo yang berjalan di depannya, memegang sebuah daftar belanja yang diberikan oleh Sharon kepadanya. Jujur saja, pada waktu seperti ini Reo lebih memilih berbelanja bersama Zwei daripada Echo.

Sejak kejadian di taman itu, Echo yang biasanya pendiam menjadi lebih pendiam lagi. Gadis itu jarang memunculkan dirinya ke permukaan lagi dan terus membiarkan Zwei memakai tubuh mereka. Biasanya dia bertukar tempat dengan Zwei ketika ada tugas yang harus dikerjakannya, seperti sekarang. Karena sampai kapanpun, Zwei tidak akan pernah bisa disuruh belanja.

Reo menghela nafas lega ketika mereka berdua akhirnya sampai di pasar. Dalam hati dia mengutuk Elliot yang dengan pandainya menghindari tugas berbelanja dengannya dan Echo dengan alasan harus memperbaiki senar biolanya. Biola milik Elliot memang sudah cukup sumbang dan harus diperbaiki. Tetapi, bukannya itu bisa menunggu? Lagipula, toko musik langganan Elliot cukup dekat dengan pasar.

Tanpa banyak berbicara lagi, Echo berbelok menuju salah satu kios. Tanpa mempedulikan pandangan curiga pemilik kios itu (tidak biasanya seorang street child berbelanja, biasanya mereka mengambil apapun yang diperlukan, tanpa membayar), gadis itu segera memilih bahan-bahan makanan yang telah dipesan oleh Sharon. Reo hanya berdiri diam di sampingnya, sambil sesekali membantunya memilih sayuran yang bagus.

"Arigatou!" ucap pemilik kios itu ketika Echo menyerahkan beberapa keping koin kepadanya. Mengangguk pelan, dia dan Reo berbalik pergi dan berjalan menuju kios berikutnya.

"Hmm… kornet? Tidak biasanya kita membeli daging, eh, Echo?" tanya Reo sambil mengamati daftar belanja yang diberikan Echo kepadanya karena dia harus membawa belanjaan mereka.

"Sebentar lagi hari ulang tahun Alice, jadi Sharon bilang kita akan merayakannya sedikit." jawab Echo. Reo mengangguk mendengar jawaban Echo.

"Sayang sekali Alyss tidak ada…" gumamnya. Anak laki-laki itu masih mengingat malam ketika arwah Alyss dan Jack mendatanginya, kira-kira sebulan yang lalu.

Echo tidak merespon perkataan Reo. Gadis itu sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Mereka sampai di kios berikutnya. Echo segera sibuk kembali memilih bahan-bahan yang harus dibelinya. Reo memilih untuk bersandar di tiang kios dan mengamati Echo. Setelah beberapa saat, dia membuka mulutnya.

"Kau masih cemburu kepada Alice?"

"Aku tidak cemburu kepadanya…" balas gadis itu pendek tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kalau begitu, kau sudah tidak menyukai Oz lagi?" tanya Reo lagi. Echo menghentikan kegiatannya begitu Reo melontarkan perkataan itu. Gadis itu mencengkeram pinggiran meja kayu kios dengan kuat, seakan berusaha mengendalikan dirinya. Reo menatapnya dengan khawatir, takut kalau dia sudah bertanya terlalu jauh.

"Tidak, sepertinya aku masih menyukainya…" jawab Echo pelan. Reo mengalihkan pandangannya dari Echo, berharap gadis itu tidak bisa melihat ekspresinya.

"Ehem, kalian jadi beli atau tidak?" tegur pemilik kios itu, tampaknya dia gerah melihat adegan di depannya. Echo cepat-cepat mengangguk dan menyerahkan barang-barang yang akan dibelinya kepada pedagang itu.

"Jadi, soal pertanyaanku waktu itu?" tanya Reo pelan ketika mereka berdua menunggu pedagang itu mencari uang kembalian.

Echo menundukkan kepalanya, menolak untuk menatap Reo, "Maaf, aku belum bisa menjawabnya."

Reo menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke samping. "Tak apa, aku tidak akan memaksamu." Dengan kata-kata itu, dia mulai melangkah pergi.

Echo mengangkat wajahnya dan bertanya, "Reo, kau mau kemana? Kita berdua belum selesai berbelanja!"

Tanpa menolehkan pandangannya, Reo menjawab, "Aku akan menunggu disana, di dekat mulut gang, oke?"

"Maaf, Reo. Aku belum bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Tunggu beberapa waktu lagi, oke?" seru Echo. Reo mengangguk dan terus melangkah pergi.

Reo berhenti di depan mulut gang yang dimaksudnya tadi. Dia bersandar pada dinding batu yang dingin dan menutup matanya. Lensa kacamatanya memantulkan sinar matahari yang cukup terik hari itu. Sekali lagi, dia menghela nafas panjang.

"Ckckck, teman kita sedang bingung sepertinya. Masalah cinta, ya?" celutuk seseorang. Spontan, Reo membuka kedua matanya. Dia sangat mengenal suara ini, dan ini sama sekali bukan pertanda baik.

Sebelum Reo sempat berteriak, melarikan diri, atau bersiap untuk mempertahankan dirinya, sebuah sapu tangan dibekapkan di depan hidung dan mulutnya. Bau tajam parafin memenuhi hidungnya, dan semuanya berubah gelap.

.

Sementara, di kios tempat Reo meninggalkan Echo tadi, gadis itu sedang bertengkar dengan alter ego-nya.

"Geez, tidak bisakah kau melupakan Oz, Echo?" Zwei berteriak di dalam pikiran Echo.

"Diam, Zwei! Kau tidak tahu apa yang kau rasakan?" Echo menggerutu.

"Aku? Tidak tahu? Kita berbagi satu otak, Echo! Tentu saja aku tahu apa yang kau rasakan? Berapa lama kau mau membuat Reo menunggu?" balas Zwei.

"Apa yang akan kau rasakan kalau Vincent jadiandengan Ada?" balas Echo tajam. Pertanyaan itu sukses membuat Zwei terdiam cukup lama.

"Ojou-chan, kau baik-baik saja?" tanya pemilik kios tempat Echo berada sambil menatapnya dengan khawatir. Echo baru menyadari kalau tadi dia dan Zwei bertengkar cukup keras. Orang-orang yang lewat pasti menganggapnya orang gila.

"Eh? Aku tidak apa-apa…" jawab Echo cepat.

"Ya, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang bertengkar dengan alter ego-ku saja tentang anak laki-laki. Sama sekali tidak ada yang aneh!" tambah Zwei dengan sarkastik di dalam pikiran Echo.

"Diam, Zwei!" gumam Echo sementara dia menerima uang kembalian dari pemilik kios itu. Sebelum pemilik kios itu sempat bertanya lebih lanjut, Echo segera beranjak pergi menuju tempat Reo menunggu.

Atau tempat Reo tadi menunggu.

Echo berdiri terpaku di depan mulut gang tempat Reo tadi menunggu. Kedua tangannya menggenggam kantong plastik belanjaanya dengan erat.

"Tidak mungkin…" bisiknya.

Reo tidak ada disana. Yang ada hanyalah kacamata miliknya yang sudah pecah. Sebuah kertas ditempelkan di kertas itu.

Echo-chan, Reo-kun kami ambil dulu, ya! Mungkin kalau kau dan teman-temanmu bisa menemukannya lebih dulu, dia tidak akan berakhir seperti Jack dan Alyss.

Salam manis,

DS

.

"Arigatou!" Elliot berterima kasih ketika biola miliknya diserahkan kembali. Dengan hati-hati, dia meletakkan biola peninggalan ayahnya di kotaknya. Dia menyelempangkan kotak biola itu di punggungnya dan meninggalkan toko musik tempat dia mereparasi biolanya.

Dengan santai, dia berjalan menuju pasa untuk mencari Reo dan Echo. Sebelum dia pergi ke toko musik, dia sudah berjanji untuk menemui mereka disana. Dia yakin mereka belum selesai berbelanja.

"Elliot…"

Elliot berhenti berjalan dan mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Humpty Dumpty memanggilnya. Dia menutup iris safir miliknya dan berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh chainnya itu.

Beberapa saat kemudian, kedua matanya kembali terbuka. Elliot segera berlari menuju pasar. Dia harus menemukan Reo dan Echo sekarang. Situasinya gawat. Dalam hatinya, dia menyumpahi seluruh anggota Dark Sabrie. Ini pertama kalinya mereka bertindak seekstrem ini. Dalam waktu kurang dari satu menit, akhirnya dia sampai di pasar.

"Damn!" Elliot mengutuk ketika dia melihat banyaknya orang di pasar itu. "Bagaimana aku bisa mencari mereka berdua di antara orang sebanyak ini?"

Mungkin itu hanya suatu kebetulan, atau mungkin itu takdir, tapi beberapa saat kemudian Elliot melihat seorang anak perempuan berambut perak pendek berlari di tengah sesaknya pasar. Anak itu sudah pasti Echo, tetapi Elliot tidak melihat tanda-tanda keberadaan Reo.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Elliot segera berlari mengejar Echo dan meneriakkan namanya. Dia tidak mempedulikan pandangan-pandangan bingung dari orang-orang yang dilewatinya. Sekali lagi, Elliot meneriakkan nama Echo.

"ECHO! TUNGGU!"

.

"Err, Echo?"

"Ada apa, Zwei? Cepatlah?"

"Elliot ada di belakang kita. Apa kau tidak mendengarnya memanggilmu?"

Echo segera berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Benar saja, Elliot sedang mengejarnya. Dengan tidak sabar, Echo menunggu Elliot menyusulnya.

"Geez, kau berlari seperti setan, Echo!" kata Elliot sambil terengah-engah begitu dia berhasil menyusul Echo.

"Ada apa, Elliot? Cepatlah?" tanya Echo dengan tidak sabar. Elliot mengangkat tangannya, menyuruh Echo untuk menunggu sementara dia menenangkan nafasnya.

"Mana Reo?" tanyanya begitu dia bisa mengendalikan nafasnya. Kemudian, pandangannya tertumbuk pada kacamata Reo dan kertas berisi pesan dari Dark Sabrie di tangan Echo. Gadis itu sudah membuang belanjaannya ketika dia mengetahui Reo diculik. Mencari Reo jauh lebih penting daripada belanjaanya.

Sebuah kerutan terbentuk di dahi Elliot, "Jangan bilang…"

Echo meremas kertas berisi pesan itu, "Dark Sabrie berulah lagi!" katanya pendek.

"Sekarang mereka berulah terlalu jauh! Kita harus kembali ke markas sekarang!" kata Elliot frustasi.

"Kita tidak mencari Reo terlebih dahulu?" tanya Echo bingung.

"Aku tidak terlalu menkhawatirkan Reo, aku yakin dia bisa membebaskan diri. Dia tidak selemah kelihatannya. Yang kucemaskan adalah keadaan di markas!" seru Elliot frustasi.

"Apa yang terjadi di Pandora?" tanya Echo. Sebelum Elliot sempat menjawab, tiba-tiba Zwei memanggil Echo.

"Erm, Echo?"

"Ada apa, Zwei?"

"Kau harus kembali ke markas secepatnya!"

"Elliot barusan memberitahukan hal yang sama. Memangnya apa yang terjadi?"

"Eques tadi mengontak Dol…"

"Langsung ke inti, Zwei!"

"Pandora terbakar, dan pelakunya adalah DARK SABRIE!"

.

Elliot dan Echo berlari kencang menuju Pandora, berdoa dalam hati dan berharap mereka belum terlambat. Dari Zwei, yang mendapatkan kabar dari Doldam, dan Humpty Dumpty, mereka berdua mengetahui kalau semua teman-teman mereka sudah berada di sana, berusaha memadamkan api yang membakar tempat tinggal mereka. Hanya mereka berdua, dan Reo tentu saja, yang tidak berada di sana.

"Sial, sial, sial! Dark Sabrie sialan! Kenapa harus main bakar-bakaran segala?" Elliot terus menyumpahi Dark Sabrie selama perjalanan. Echo memilih untuk diam dan berusaha untuk menetralkan ekspresinya, walaupun dalam hati dia juga mengutuk lawan mereka. Pertama Jack dan Alyss, kemudian Reo, sekarang mereka berani membakar tempat tinggal mereka?

Elliot mendongak dan melihat langit siang telah dihiasi oleh asap hitam. "Mereka tidak main-main, ini benar-benar kebakaran besar!" katanya terengah-engah.

"Aku penasaran bagaimana mereka bisa membuat kebakaran sebesar ini. Aku harap tidak ada yang terluka…" gumam Echo.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di tempat markas mereka berada. Mereka sempat berhenti sebelum mencapai markas mereka, tertegun dengan pemandangan di depan mereka.

Markas Pandora, tempat mereka tinggal selama ini, sekarang dibalut sepenuhnya oleh si jago merah. Api bahkan sudah merambat ke beberapa bangunan di sekitar markas mereka. Daerah yang biasanya sunyi dan tenang itu, sekarang sudah berubah menjadi lautan api.

"ELLIOT! ECHO! NGAPAIN KALIAN BENGONG DI SITU?"

Teriakan Oz sontak membuat Elliot dan Echo tersadar. Mereka berdua segera berlari untuk membantu teman-teman mereka yang sedang kewalahan. Dalam keadaan seperti ini, chain mereka tidak bisa membantu, bahkan mungkin akan membuat keadaan semakin buruk. Jadi terpaksa mereka harus menggunakan air dan kain-kain yang ada untuk memadamkan api.

"Mana keparat-keparat itu?" tanya Elliot kepada Gil yang sedang berusaha untuk memadamkan api dengan sebuah kain basah.

"Kabur. Pengecut-pengecut itu hanya datang kesini dan membakar, kemudian kabur!" geram Gil. "Mereka berniat menusk kita dari belakang, rupanya! Omong-omong mana Reo?"

Ekspresi Elliot dan Echo menjawab pertanyaan Gil.

"Dark Sabrie sialan!" rutuk Gil.

"Bantu aku memadamkan api! Break masih ada di dalam!" perintah Gil. Elliot menaikkan sebelah alisnya.

"Break? Ngapain dia di dalam?"

"Berusaha menyelamatkan kotak Pandora." jawab Oz singkat. Tanpa banyak bicara lagi, Elliot dan Echo segera membantu mereka berdua memadamkan api.

"Cih, apinya tidak mau padam. Kalau kugunakan Raven…"

"Jangan, bodoh! Angin dari sayapnya malah akan membuat api semakin besar!" cegah Elliot sebelum kakaknya sempat mencoba ide miliknya.

"Break lama sekali!" pekik Ada ketika Break tidak juga keluar. "Dia belum berhasil mendapatkan kotak Pandora, Sharon?" tanyanya kepada Sharon.

"Belum, dia bilang sedikit lagi!" jawab Sharon singkat. Selama beberapa saat Sharon terdiam, kemudian berteriak, "Dapat, akhirnya!"

Sebuah portal terbentuk di udara dan Break terjatuh dari sana. Di tangannya terdapat sebuah kotak perak, Kotak Pandora. Tubuh anak laki-laki itu dipenuhi jelaga dan beberapa luka bakar. Dia tersenyum lemah.

"Tidak mau… berurusan dengan api… lagi…" gumamnya sebelum pingsan di tempat.

Alice segera membawa Break ke tempat aman sementara yang lain masih berusaha memadamkan api yang semakin mengganas. Tetapi, apapun yang mereka lakukan, api itu tidak kunjung dapat mereka jinakkan, bahkan dengan bantuan Break, yang sadar beberapa saat kemudian. Akhirnya, saking putus asanya, mereka mencoba untuk menggunakan chain mereka. Namun, api malam semakin sulit dikendalikan.

Tiba-tiba Oz membuang kain basah yang dipegangnya dan berteriak, "Tidak ada gunanya! Kita tidak akan pernah bisa memadamkan apinya! Kita harus pergi sekarang sebelum terlambat!"

"Tetapi Oz…" perkataan Break terputus begitu Oz menatapnya. Air mata yang terpaksa ditahan oleh pemuda itu terlihat jelas di kedua iris emerald milik pemimpin mereka.

Oz menghela nafas dengan berat, "Bahkan walaupun kita berhasil memadamkan api, kita tidak akan bisa lagi tinggal disini. Kita tetap saja terpaksa mencari tempat tinggal baru dan memulai semuanya dari awal…"

"Tetapi, barang-barang kita, bahkan persenjataan kita, semuanya berada disini!" pekik Alice tidak terima.

"Kita terpaksa meninggalkannya. Setidaknya, kotak Pandora masih aman…" Oz mengambil kotak perak itu dari tangan Break sebelum kembali menghadap teman-temannya.

"Aku tahu ini semua berat, teman. Tetapi kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak boleh melupakan misi kita! Percayalah, aku tidak akan mengambil pilihan ini kecuali terpaksa!" Oz berusaha meyakinkan teman-temannya. Mereka semua menatap tempat tinggal mereka yang masih juga dilalap api.

"Belum genap enam bulan aku tinggal disini, sekarang sudah…" gumam Gil. "Tapi Oz memang benar, kita harus pergi. Aku tidak tahu kemana, tetapi setidaknya kita harus menghindari polisi yang pasti akan datang kesini untuk menyelidiki. Masih banyak bangunan kosong di kota ini, mungkin kita bisa tinggal sementara di salah satu bangunan itu sementara kita mencari tempat tinggal yang cocok."

"Sepertinya aku harus setuju dengan Gil…"desah Break dengan berat hati, disusul oleh anggukan setengah hati dari Elliot.

Kini mereka berempat menatap Ada, Sharon, Alice dan Echo yang belum menentukan pilihan. Echo membuka mulutnya, "Aku setuju dengan kalian berempat, Zwei juga bilang kalau dia setuju…"

"Baiklah kalau memang tidak ada jalan lain…" desah Ada, yang disetujui oleh Sharon.

"Yah, sepertinya ini tidak bisa dihindari. Takdir memberiku hadiah ulang tahun yang hebat, eh?" kata Alice getir. Tidak ada di antara mereka yang berani menjawab perkataan Alice. Memang kejam, tetapi takdir itu memang kejam, bukan?

"Baiklah, sudah diputuskan kalau begitu. Kita harus pergi!" Oz memutuskan.

"Tunggu!" cegah Break. Anak laki-laki itu memandang berkeliling ke arah teman-temannya, "Kenapa kita hanya berdelapan? Kita seharusnya bersepuluh, kan? Dengan diculiknya Reo, berarti bersembilan. Tetapi, kenapa kita hanya berdelapan?"

Mereka semua terdiam dan saling menatap satu sama lain, bingung. Selama beberapa saat, yang terdengar hanya suara retihan api dan derak kayu yang terbakar, hingga Gil memecahkan keheningan,

"Mana Vincent?" tanyanya tajam.

Butuh beberapa saat lagi bagi mereka untuk menyadari apa yang terjadi.

"Dark Sabrie sialan!" Gil menghentakkan kakinya ke tanah dengan marah. "Seharusnya aku mengawasi dia!" sesalnya.

"Well, masalah Reo dan Vincent harus menunggu. Sekarang kita harus pergi dari sini! Aku sudah mendengar suara sirene polisi!" potong Break yang memiliki pendengaran paling tajam.

Mereka menatap sisa-sisa dari apa yang pernah menjadi tempat tinggal mereka untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. Mereka tidak menoleh ke belakang kembali. Ada dan Sharon terisak pelan. Alice, Elliot, dan Break mengepalkan telapak tangan mereka dengan begitu keras hingga buku jari mereka memutih. Gil, Oz dan Echo terus memandang ke depan, walaupun isi hati mereka sama dengan teman-teman mereka.

Marah, sedih, kehilangan, dendam.

Hanya satu yang mereka inginkan sekarang.

"Dark Sabrie… akan merasakan akibatnya!" gumam Oz.

Dan pengkhianat kecil itu, tambahnya dalam hati.

TBC

A/N:

Tadaima, FPHI^^

Akhirnya, PSC update juga! (loncat-loncat kayak anak kecil) Menurut readers, bagaimana Arc baru kali ini? Seperti janji Aoife, Arc 4 akan lebih menonjolkan Elliot, Reo dan Ada^^ Mungkin di chapter ini bagian Ada gak terlalu banyak dan malah lebih banyak bagian Echo, tetapi cuma buat chapter ini kok :) Gomennasai kalau karakternya banyak yang OOC ^^"

Yak, karena US sudah selesai, berarti Aoife bisa lebih lama berduaan dengan lappie, jadi mungkin, masih mungkin lho, updatenya akan lebih cepet xD Aoife sih rencananya mau bikin fanfic baru lagi, pairingnya masih rahasia, pairingnya crack sih, tapi yang pasti straight kok xP

So, RnR?