Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 18: Melody in The Darkness
Kalau ada hal lain yang dia takuti selain penglihatannya, hal itu adalah kegelapan. Kegelapan tempat dia terperangkap selama ini.
Hal ketiga yang dia takuti adalah ruang gelap yang tertutup, begitu gelapnya hingga kau tidak tahu batas-batas ruangan itu. Begitu gelapnya hingga kau nyaris tidak bisa melihat apa-apa.
Satu-satunya sumber cahaya adalah lilin yang hanya bisa bertahan selama beberapa jam sebelum padam. Cahaya yang menghabiskan pasokan oksigen yang terbatas di ruang bawah tanah itu.
Satu-satunya orang yang mengunjunginya adalah majikannya yang hanya turun untuk menyiksanya dan, sesekali, memberinya makan.
Entah sudah berapa lama dia terkurung di bawah sana, hanya ditemani oleh cahaya api lilin yang dingin dan tikus yang sesekali berkeliaran.
Dia tidak mengerti kenapa majikannya mengurungnya disini. Dia tidak salah apa-apa, bukan? Dia hanya… berbeda.
Anak Setan. Majikannya selalu memanggilnya dengan nama itu, hanya karena dia bisa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa.
Anak Setan. Itu bukan namanya.
Dia sudah lupa akan hangatnya sinar mentari di tubuhnya pada pagi hari. Dia sudah lupa seberapa birunya angkasa di atas. Dia sudah lupa akan sejuknya hembusan angin. Dia sudah melupakan dunia di luar sana, saking lamanya dia terperangkap di bawah sana.
Dunianya adalah ruang bawah tanah yang sempit ini.
Dia menghabiskan waktunya duduk di sudut ruangan, membenamkan wajahnya di lututnya. Berharap seseorang akan datang menolongnya.
Dia bisa mendengar pintu ruangan terbuka. Tubuhnya menegang. Luka-luka bekas siksaan oleh majikannya terasa semakin perih di tubuhnya.
Apa dia datang? Apa dia akan menyiksanya lagi?
"GIL!"
Gil? Itu juga bukan namanya.
Namanya… namanya adalah…
…Reo
.
Aaargh!
Reo tersentak bangun. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Kedua matanya bergerak-gerak dengan panik, berusaha mengenali ruangan tempat dia berada.
Gelap, semuanya gelap. Dia sama sekali tidak bisa melihat apa-apa.
Detak jantungnya yang sudah tidak teratur semakin bertambah kacau ketika dia menyadari dia tidak bisa melihat apa-apa. Demi Tuhan, kenapa harus gelap? pekiknya dalam hati. Walaupun bertahun-tahun sudah berlalu, ketakutannya terhadap gelap masih terasa.
Dia berusaha menenangkan nafasnya, mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya. Perlahan-lahan dia mulai mengingat semuanya.
Tadi dia sedang menunggu Echo di depan sebuah gang sebelum Dark Sabrie menyerangnya. Dia masih bisa mencium sisa bau parafin di hidungnya. Bau itu membuatnya mual, sangat mual malah.
Dengan pikirannya yang semakin jernih, dia akhirnya menyadari kalau dia tidak memakai kacamatanya. Bukan kacamatanya yang berada di sana, melainkan sehelai kain hitam panjang yang diikat untuk menutupi matanya. Kain itulah yang membuat pandangannya gelap. Dia menyadari kalau dia berada di sebuah kursi. Kedua tangannya diikat ke belakang menggunakan seutas tambang yang juga mengikat dada dan perutnya.
"Sebenarnya, aku berada dimana?" gumamnya.
Sebuah ruang bawah tanah, tuan. Tepatnya ruang bawah tanah sebuah bangunan di sebelah barat Sabrie.
Kalau saja dirinya tidak terikat ke kursi, Reo pasti sudah melompat terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut, apabila sebuah suara tiba-tiba berbicara di pikirannya?
"Hey, kalau kau mau muncul, beritahu aku dulu!" gumamnya.
Maaf, tuan! Kau perlu bantuan?
"Menurutmu?" gumam Reo. "Dengan keadaan terikat seperti ini, tentu saja aku butuh bantuan!"
Kalau kau mau, aku bisa membebaskanmu.
"Tunggu dulu, kita harus mendapatkan informasi dulu. Selama mereka tidak mengetahui tentang dirimu, kita aman."
Baiklah, tuan. Kalau begitu, aku pergi dulu. Panggil aku kalau kau sudah siap.
Setelah itu, suara itu tidak lagi berjalannya waktu, trauma lama Reo kembali muncul. Reo mulai menyesali kepergian suara itu. Setidaknya, kalau suara itu tidak pergi, dia punya teman mengobrol. Dia berharap seseorang segera datang.
"…tolong… tolong aku…"
Reo merinding ketika dia mendengar suara yang, entah kenapa, terlalu mengingatkannya pada masa lalu yang dia ingin lupakan. Seseorang pernah dikurung disini, seperti dia dulu, dan mati disini. Sekarang arwahnya menghantui ruang bawah tanah itu. Pantas saja dari tadi Reo merasakan kehadiran makhluk lain di ruangan ini.
Kadang-kadang Reo menyesal memiliki indra keenam, walaupun kadang-kadang itu membantunya dan Pandora juga. Hantu lebih memilih untuk menganggu orang-orang yang memiliki indra keenam daripada orang biasa.
"…tolong… keluarkan aku dari sini!"
"Aku tidak bisa menolongmu. Bahkan, sekarangpun aku tidak bisa menolong diriku sendiri. Jadi, kau bisa diam?" gumam Reo. Jujur saja, suara itu mulai membuatnya takut.
"…keluarkan aku…"
"Tolong diam…"
"KELUARKAN AKU!"
"DIAM!" teriak Reo, frustasi karena suara itu tidak juga berhenti. Dia menggertakkan giginya, berharap hantu itu mau diam. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolong hantu itu, begitu pula sebaliknya. Untunglah, hantu itu akhirnya diam. Reo menghembuskan nafas dengan lega.
"Sekarang, saatnya menunggu!"
.
"Aku sudah lupa betapa dinginnya tidur diluar…" gumam Gil sambil merenggangkan tubuhnya yang kram. Semalam, mereka terpaksa menginap di sebuah gang karena tidak juga menemukan tempat yang cocok untuk tinggal.
"Aku juga sudah lupa…" Elliot menguap selagi berbicara. Dia baru saja menyelesaikan jam jaganya bersama Break.
"Jadi, hari ini kita ngapain?" tanya Zwei yang baru saja bangun. Dia dan Echo kembali bertukar tempat tadi malam sebelum mereka tidur.
"Sebaiknya kita bagi-bagi tugas!" kata Oz. Dia meloncat turun dari dinding rendah tempat dia duduk sejak dia bangun. "Kita ada berdelapan, kan?"
"Yup!"
"Kalau begitu kita bagi tiga kelompok. Aku, Gil, Zwei dan Alice akan kembali mencari tempat tinggal. Break dan Sharon, kalian kembalilah ke Pandora dan selamatkan apapun yang bisa diselamatkan. Elliot, Ada, kalian berdua cari informasi mengenai keberadaan Reo dan Vincent. Nanti sore, kita kembali berkumpul disini. Semua paham?" tanya Oz setelah merinci tugas mereka semua. Semuanya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, tunggu apalagi? Cepat kerjakan tugas kalian!"
"Hai!"
.
"Emmm, Elliot? Kita tidak mencari Reo dan Vincent?" tanya Ada bingung. Yang lain sudah pergi untuk menjalankan tugas masing-masing. Bukannya langsung mencari mereka berdua, Elliot, setelah memastikan semua orang telah pergi, malah kembali berbaring dan tertidur.
Elliot tidak merespon. Sepertinya dia benar-benar sudah tertidur.
"Elliot? Halo!" Ada mengguncang-guncangkan tubuh Elliot, berusaha membuat anak laki-laki itu terbangun. Nihil, Elliot sama sekali tidak terbangun. Bergerak saja tidak!
"Grrr!" geram Ada, kesal. Akhirnya, gadis itu menyerah dan memilih untuk duduk di sebelah kotak biola Elliot, satu-satunya benda yang berhasil selamat dari kebakaran selain Kotak Pandora dan baju yang mereka pakai.
Ada mengamati kotak biola itu denga tertarik. Dengan jari-jari mungilnya, dia meraba lapisan kain yang melapisi bagian luar kotak yang terbuat dari kayu itu. Kain itu sudah aus di beberapa tempat. Maklumlah, itu biola antik yang terus diwariskan oleh keluarga Elliot.
"Dari dulu aku ingin mencoba memainkan biola…" gumam Ada, setengah bermimpi. Dengan ragu-ragu, dibukanya gesper kotak itu.
Biola Elliot terletak di dalam situ, disimpan dengan rapi oleh Elliot di dalam sebuah cekungan yang mengikuti bentuk biola itu.
Dengan hati-hati, diambilnya biola itu beserta penggeseknya. Permukaan kayu biola itu terasa halus di bawah jari-jemari Ada dan benang-benang penggeseknya terasa kesat karena serbuk resin. Terbukti kalau Elliot benar-benar merawat biolanya dengan baik.
Ada meletakkan biola itu di pundak kirinya dan menjepitnya menggunakan dagunya. Dia menempelkan penggesek di atas senar-senar biola, sebuah posisi yang dilakukan oleh Elliot ribuan kali. Dengan ragu, Ada mulai menggesek biola Elliot.
Ngiiiikkkk
Bisa ditebak, usaha pertama Ada menghasilkan nada yang sangat fals. Ada sendiri bergidik ketika mendengarnya.
Nada fals itu jugalah yang membangunkan Elliot dari tidurnya.
"Ada! Kenapa kau memainkan biolaku tanpa izin, hah?" bentaknya begitu dia menyadari biola kesayangannya berada di tangan Ada.
"Go… gomennasai!" pekik Ada panik. Elliot bangun dari posisi tidurnya dan mulai mendekati Ada, membuat gadis itu menutup matanya, takut Elliot akan memarahinya.
"Kalau mau memain biola, bukan begitu caranya!"
Eh?
Ada merasakan tangan-tangan piawai Elliot membetulkan posisi tangannya yang salah sambil bergumam, "Pegang penggeseknya dengan kuat, tapi jangan terlalu kaku seperti ini! Rileks saja!"
Ada membuka kedua iris emerald-nya. Elliot tampak sedang sibuk membenarkan posisi jari-jari Ada di leher biola. "Jepit dengan kuat, jangan gemetaran seperti ini! Nah, sekarang coba mainkan!"
Ngiiikk?
"Gesek satu senar saja, jangan semuanya seperti itu!"
Ngiieek?
"Usahakan jangan menyentuh senar lain ketika menggesek, kalau tidak mau suaranya fals. Sekarang, coba lagi!"
Ngeeekkkk
"Nah, seperti itu baru benar!" kata Elliot puas setelah, akhirnya, Ada bisa memainkan satu nada dengan benar. "Sekarang, coba lagi! Tadi masih sedikit fals. Jangan pindah senar dulu! Latihanlah menggunakan senar yang tadi dulu. Kalau sudah tidak fals lagi, baru latihan dengan senar lain!"
Ada mencoba memainkan biola itu kembali.
Ngeeeeik
"Usahakan posisi penggesek tetap lurus, jangan tiba-tiba miring di tengah!"
Ngeeeek…. Ngeeek… Ngeeek…
"Nah, bagus! Sekarang, coba senar yang kedua!"
Dengan perlahan, Elliot mengajari Ada dasar-dasar memainkan biola. Dia mengajari gadis itu cara memainkan setiap senar dengan benar, tanpa kesalahan. Dengan perlahan pula, Ada mulai memahami alat musik gesek itu.
Setelah sekitar setengah jam berlatih, Elliot menghentikan permainan Ada. "Stop! Cukup untuk hari ini!" Elliot menyuruh Ada meletakkan biola dan penggeseknya kembali ke kotaknya.
"Kenapa berhenti?" protes Ada kecewa. Dia sudah mulai terbiasa denga biola itu dan tidak ingin berhenti berlatih.
"Kau sudah kelelahan, tangan kirimu sudah gemetaran tadi. Kau tidak bisa belajar memainkan biola dalam satu hari, itu keahlian yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai." Elliot menjelaskan.
"Memangnya, sudah berapa tahun kau mulai bermain biola?" tanya Ada penasaran.
"Sejak aku berumur lima tahun. Karena Gil dan Vincent tidak pernah tertarik dengan biola, akhirnya ayah menyerah mengajari mereka dan beralih kepadaku. Aku jatuh cinta dengan alat musik ini begitu aku menyentuhnya." Elliot bercerita sambil tersenyum, mengenang masa-masa ketika keluarganya masih utuh.
"Gil dan Vincent memang tidak suka memainkan biola, tetapi mereka suka mendengarnya. Sejak ayah meninggal, mereka berdua selalu menyuruhku memainkan biola sebelum mereka tidur. Kadang-kadang aku memarahi mereka dan menyuruh mereka mencoba memainkannya sendiri. Sekali, mereka pernah mencoba dan menyebabkan cermin rumah pecah. Tentu saja kami bertiga dihukum oleh ibu kami. Hehehe." kekeh Elliot. Mau tidak mau, Ada ikut tersenyum ketika mendengarkan cerita Elliot.
"Elliot, kau dulu diculik, kan? Kalau begitu, bagaimana bisa kau tetap memiliki biolamu?" tanya Ada.
"Aku diculik bersama biolaku." jawab Elliot pendek.
Ada memiringkan kepalanya, bingung. "Maksudmu?"
Elliot tidak menjawab. Ada memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. "Beberapa pertanyaan lebih baik tidak terjawab…" pikirnya.
"Hey, Elliot?"
"Hn?"
"Bukannya kita harus mencari Reo dan Vincent?" tanya Ada bingung.
"Iya, lalu?"
"Kenapa kita malah diam saja disini dan tidak mencarinya?"
Elliot bangkit berdiri, "Mereka salah karena telah menculik Reo. Mereka pikir mereka telah menculik anggota terlemah Pandora, kan? Heh, mereka salah besar!"
"Maksudmu, Reo itu anggota terkuat, begitu? "
"Salah satu dari yang terkuat. Aku yakin Reo bisa meloloskan diri, dan pasti dia membawa Vincent juga. Aku sudah menyuruh Humpty Dumpty untuk bersiaga. Kalau mereka sudah berhasil meloloskan diri, Humpty Dumpty akan memberitahu kita, dan kita tinggal menjemput mereka! Simpel, kan?" Elliot menyeringai.
"Tapi, Humpty Dumpty tidak akan berguna kalau Reo tidak memilik… Oiya, aku lupa!" Ada menepuk kepalanya dengan telapak tangannya.
"Kau sudah tahu?" tanya Elliot. Seharusnya hanya dia dan Reo yang mengetahui tentang hal itu.
"Well, aku pernah melihat Reo topless dan aku langsung menyadarinya."
"Heh? Kau pernah melihatnya topless? Kau tidak selingkuh dengannya, kan?"
"..Reo!"
"Oh, syukurlah kalau begitu. Kau tidak memberitahu Oz atau hal yang lain tentang ini, kan?" tanya Elliot waswas.
"Tidak, aku yakin Reo punya alasan untuk merahasiakannya. Masalahnya, kenapa?"
"Dia takut akan di-cap berbeda oleh kita, seperti sebelum dia bergabung dengan Pandora. Dia juga takut penglihatannya akan semakin kuat karena itu."
"Heh? Memangnya dia membuat ikatan dengan siapa hingga dia ketakutan seperti itu?"
Elliot membisikkan sebuah nama di telinga Ada dengan pelan, mengucapkan setiap suku kata dengan benar. Kedua mata Ada membelalak begitu dia mendengar nama itu.
"APA?"
"Sssstt! Jangan berisik!" Elliot berusaha menenangkan Ada.
"Kalau kau dan dia tidak merahasiakannya, kita sudah bisa mengalahkan Dark Sabrie dari dulu, BAKA!" bentak Ada.
"Eh?" itulah reaksi Elliot.
"Gah!" Ada mengacak-acak rambut pirangnya, "Sekarang situasinya jadi rumit, kan? Sekarang ada dua orang yang bisa menyegel kotak itu!"
"Maksudmu?" tanya Elliot, bingung karena Ada yang biasanya tenang tiba-tiba frustasi seperti itu.
"Ah, lupakan! Kalau mau tahu, tanya kakak saja sana!"
Elliot menatap Ada yang masih tampak frustasi dengan bingung. Akhirnya, dia mengangkat bahu dan berkata, "Terserah deh. Lebih baik kita cari sarapan saja dulu!"
"Cari? Gak ada yang salah huruf, tuh?" gumam Ada sambil mengikuti Elliot berjalan menuju pasar.
.
"Yang lain belum kembali juga, ya?" tanya Ada. Matahari sudah mulai terbenam dan teman-teman mereka belum juga datang ke tempat yang dijanjikan.
"Mungkin mereka… tersesat?" jawab Elliot asal.
"Mana mungkin mereka tersesat? Kita sudah mengenal bagian kota yang ini seperti punggung tangan sendiri!"
"Memangnya kau mengenal punggung tanganmu sendiri?" sergah Elliot. Ada memilih untuk tidak menjawab.
"Yo!"
Ada dan Elliot menoleh dan mendapati dua orang telah berada di samping mereka. Kedua orang itu adalah Sharon dan Break. Break tampak sedang membawa sebuah bungkusan kain berukuran sedang.
"Sharon! Break! Kalian bikin kaget saja!" protes Ada. Break hanya terkekeh pelan menanggapi protes gadis itu.
"Jadi, ada yang bisa diselamatkan?" tanya Elliot penasaran. Break membuka bungkusan kainnya dan menggelar isisnya di atas tanah.
"Tidak banyak, kami hanya bisa menyelamatkan beberapa pisau, pistol milik Gil, dan pedang milikku dan Oz. Kami tidak bisa menemukan senjata lain, bahkan pistol Vincent pun tak kita temukan. Malah, kita menemukan ini!" Break mengacungkan sebuah benda yang terbuat dari kayu.
"Itu kan seruling milik Reo!" pekik Ada. "Bagaimana serulingnya bisa selamat? Itu kan terbuat dari kayu!"
Sharon mengangkat bahu, "Keajaiban mungkin?"
"Mungkin?" kata Elliot ragu.
"Belum ada kabar mengenai Reo atau Vincent?" tanya Sharon kepada Elliot dan Ada. Mereka berdua menggeleng.
"Belum, mungkin besok?" jawab Ada.
"Kalian mau makan? Aku punya sisa roti tadi siang." Elliot menawarkan roti yang dia dan Ada sengaja sisakan tadi siang.
"Arigatou" mereka berdua menerima roti itu dengan senang hati.
"Yang lain belum kembali juga?" tanya Break dengan mulut penuh.
"Mungkin sebentar lagi? Aku penasaran apa mereka telah menemukan tempat tinggal yang pas untuk kita?" gumam Ada.
"Seharusnya Reo ikut mereka, jadi kita bisa tahu kalau gedung itu dihantui atau tidak. Masih ingat markas paling pertama kita?" tanya Break, mengingatkan Ada dan Sharon tentang markas pertama mereka sebelum mereka pindah ke markas yang dibakar oleh Dark Sabrie kemarin.
"Aku tidak bisa tidur, suara-suara itu membuatku merinding…" kenang Sharon. Ada mengangguk menyetujui.
"Tuh, mereka berempat sebentar lagi datang! Eques baru saja memberitahuku." Sharon memberitahu mereka semua.
Benar saja, beberapa menit kemudian mereka melihat Oz, Gil, Alice dan Zwei muncul di jalan masuk gang.
"Hai!" sapa Oz kepada mereka berempat. Yang lain mengangguk untuk menanggapi sapaan Oz.
"Jadi, kalian sudah menemukan tempat yang pas?" tanpa basa-basi lagi, Elliot langsung bertanya.
"Belum." Gil menghempaskan diri ke samping Elliot dan mengambil pistolnya yang diberikan oleh Break. "Tapi kami bertemu dengan Esther tadi."
"Esther? Apa hubungannya dengan semua ini?" tanya Sharon heran.
"Dia bilang mungkin dia bisa mengusahakan tempat tinggal untuk kita. Dia menyuruh kita semua untuk menemuinya di Waterhill Shop besok pagi. Jadi, kita terpaksa bermalam di sini lagi untuk malam ini." jawab Zwei.
"Oiya, barusan Echo bertanya apakah kalian berhasil menemukan Reo dan Vincent." lanjut Zwei dengan datar. Ada tertawa kecil begitu mendengar pertanyaan Echo yang disampaikan oleh zwei.
"Belum, Echo! Mungkin besok?"
.
Entah sudah berapa lama Reo berada di sana. Tiga puluh menit, dua jam, atau mungkin satu hari? Dia tidak tahu, tidak ada yang bisa dijadikannya sebagai patokan waktu. Dia pernah mencoba untuk menghitung detik-detik yang berlalu, tetapi menyerah begitu dia mencapai hitungan seribu.
Jadi, dia menunggu… dan menunggu…
Hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan seseorang menyapanya.
"Halo, Reo! Ckckck, ternyata kau cukup mudah ditangkap, ya?"
Reo tersentak, kaget. Mungkin dia tidak bisa melihat orang itu, tapi dia bisa mengenali orang itu dari suaranya.
"KAU!" teriaknya marah.
TBC
A/N:
Tadaima^^
Yo, fast update. Karena Aoife terpaksa nungguin ade lomba dari pagi sampai sore, daripada bengong, mendingan nulis aja deh xD Sekarang, semuanya udah tahu penkhianatnya, kan? (Yaiyalah tahu, udah jelas banget woy!)
Jadi, gimana menurut readers chapter ini? Komentarnya di review ya^^
