Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 19: The Rat

"Kau sudah dengar tentang anak yang dikurung di ruang bawah tanah oleh Master?"

"Anak itu? Ya, aku pernah dengar."

"Aku pernah melihatnya sekali. Jujur saja, aku lebih memilih mati daripada berada di posisinya!"

"Seperti apa penampilannya?"

"Satu-satunya hal yang kuingat adalah rambutnya, karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Rambutnya hitam panjang dan berantakan, tidak terurus!"

"Hei! Bagaimana kau bisa mengurus rambutmu kalau kau dikurung di tempat seperti itu?"

Elliot nyaris saja menjatuhkan nampannya ketika dia tanpa sengaja mendengar gosip antar pelayan itu.

"Rambut hitam, berantakan, Gil?" gumamnya.

Malam itu juga, Elliot menyelinap ke ruang bawah tanah tempat 'anak itu' dikurung. Dia harus memastikan bahwa 'anak itu' bukan salah satu dari kakaknya. Sejak mendengarkan deskripsi salah seorang pelayan tentang 'anak itu', entah kenapa perasaan Elliot tidak enak. Dia tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum membuktikan kecurigaannya.

Elliot mendapati kalau pintu ruang bawah tanah hanya diamankan dengan sebuah selot yang mudah dibuka. Selot itu memang sudah lumayan berkarat, tetapi masih bisa dibuka dengan mudah tanpa menimbulkan derit yang bisa membangunkan seisi mansion.

Setelah memastikan dia sendirian, Elliot mendorong pintu kayu itu hingga terbuka sedikit. Dia mengernyit ketika pintu itu mengeluarkan suara derit yang tidak enak didengar. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri sekali lagi sebelum mengintip ke dalam.

Gelap, hanya itu yang bisa dilihatnya.

Elliot kembali mendorong pintu itu dengan hati-hati hingga pintu itu terbuka sepenuhnya. Elliot mendesis kesal ketika dia masih juga tidak bisa melihat ke dalam. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pemantik api. Hadiah dari Gil beberapa bulan yang lalu sebelum Elliot diculik. Elliot mengguncang pemantik itu dengan pelan untuk memastikan isinya masih penuh, dia nyaris tidak pernah menggunakannya, sebelum menyalakannya.

Elliot melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan melihat ke sekelilingnya. Bau darah segera menyergap hidungnya. Cahaya api dari pemantiknya cukup untuk menerangi sebagian besar ruangan itu, tetapi cahaya itu nyaris tidak mencapai sudut-sudut ruangan. Dia harus menyipitkan mata agar dia bisa melihat sosok yang berada di salah satu sudut dengan jelas.

"GIL!"

.

Erm, tuan? Kapan kita akan kabur?

"Sebentar! Biarkan aku bicara dengan hantu sialan ini dulu! Setelah seharian penuh mendengarkan isakannya, aku jadi kasihan kepadanya." gumam Reo. Selama dua jam terakhir, Reo telah berusaha melepaskan kain yang menutup matanya dengan cara menaik-naikkan kelopak matanya berulang kali.

"Tidak ada orang lagi di gedung ini, kan?"

Sepertinya tidak ada. Kau dengar sendiri apa yang tikus itu katakan.

"Tikus sialan! Aku tidak percaya dia berani menkhianati Pandora!" geram Reo.

Sebenarnya, berbicara dengan hantu yang tinggal di sel tempat dia kini berada bukanlah tujuan utama Reo untuk menunda rencana kaburnya. Dia perlu waktu untuk berpikir. Dia perlu waktu untuk menyusun hal-hal yang telah dikatakan tikus itu sebelumnya

.

"KAU!" teriak Reo penuh kemarahan.

"Wah, kau bisa mengenaliku hanya dengan suara, ya? Hebat!" ejek orang di depannya. Reo mendengar suara langkah kaki dan dia tahu si penkhianat sudah berdiri di depannya.

"Kalau begitu, coba sebut namaku!"

Reo menggertakkan giginya, "Apa yang kau mau, VINCENT?"

Walaupun dia tidak bisa melihatnya, dia bisa mengetahui kalau Vincent, karena pengkhianat itu memang Vincent, tersenyum, "Yang aku mau? Aku hanya ingin menghancurkan Pandora dan menguasai dunia!"

"Menghancurkan Pandora? Kau sadar kalau kakak dan adikmu ada disana, kan? Atau Gil juga ikut bersekongkol denganmu?"

"Gil tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua, aku melakukan semua ini atas kemauanku sendiri. Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya maupun Elliot, tetapi aku akan membunuh sisanya!" kata Vincent dengan nada girang yang membuat Reo mual.

Reo meludah ke depan, berharap itu mengenai Vincent, "Mau membunuh mereka semua? Ha! Langkahi dulu mayatku!"

"Dengan senang hati! Aku akan mengurungmu disini tanpa makanan dan akan datang mengecek satu minggu lagi! Kemudian, aku akan melangkahi mayatmu dan aku bisa membunuh semua teman-temanmu! Kau bisa mencoba kabur kalau kau mau, kami tidak akan menjaga gedung ini. Tapi aku tidak yakin kau bisa kabur, tidak selama kau tidak memiliki chain!" tawa Vincent.

"Apa kau gila, Vincent? Apa kau memang sengaja memasuki Pandora untuk memata-matai kami, atau kau baru mulai berkhianat setelah kau masuk Pandora?"

"Gila? Mungkin aku memang gila! Aku memang sengaja masuk Pandora untuk memata-matai kalian! Aku sudah menjadi anggota Dark Sabrie sebelum menjadi anggota Pandora! Bahkan aku sudah mengikat kontrak dengan chain lain di sini sebelum aku mengikat kontrak dengan Dormouse!"

"Double Contract?"

" Yap! Aku adalah orang pertama yang mengikat kontrak dengan dua chain!"

"Kenapa kau melakukan semua ini, Vincent?" geram Reo, "Kau tahu kalau Dark Sabrie hanya ingin menguasai dunia!"

"Itulah sebabnya aku memilih Dark Sabrie! Aku ingin menguasai dunia! Aku ingin menghukum orang-orang yang menyebabkan hidupku dan Gil menderita dulu!"

"Yap, kau memang benar-benar gila!"

"Aku merasa tersanjung mendengar pujianmu. Well, kurasa aku harus pergi sekarang! Sampai jumpa satu minggu lagi, kalau kau masih hidup!" tawa Vincent sekali lagi sebelum Reo mendengar suara pintu membuka.

"Oiya, aku rasa kau ingin mengetahu ini." kata Vincent santau sebelum dia menutup pintu, "Setelah kau berhasil disingkirkan dan aku sudah melangkahi mayatmu, yang akan kami kejar berikutnya adalah Echo dan Zwei!"

Vincent tertawa dan menutup pintu, meninggalkan Reo yang membeku di selnya.

.

"Bisa-bisanya dia mengkhianati Pandora! Berani-beraninya!" gumam Reo. "Semoga dia hanya satu-satunya tikus di Pandora! Mempunyai satu tikus saja sudah serepot itu! Seharusnya aku tahu dialah pengkhianat ketika melihat chainnya! Hah, chain itu cocok untuknya! Tikus sialan! Omong-omong, kau benar-benar yakin gedung ini kosong?"

Yakin, tuan! Aku sudah memeriksa tadi.

"Mereka memang berniat mengurungku hingga aku mati kelaparan rupanya! Aku kira dia hanya menggertak! Dasar licik!" Reo terus mengumpat Dark Sabrie dengan kata-kata yang akan membuat Elliot menamparnya apabila sahabatnya itu mendengarkannya.

Tuan, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengumpat-ngumpat…

"Aku tahu! Tapi sekarang hanya kata-kata yang kumiliki untuk melampiaskan kekesalanku!" geram Reo dengan suara cukup keras. Tak apa-apa, toh tidak akan ada yang mendengarnya.

"Soal double contract yang dia bicarakan tadi, apakah itu benar?"

Ya, itu benar.

"Aku baru tahu kalau manusia bisa membuat dua kontrak sekaligus dengan kotak yang berbeda." gumam Reo. "Aku ingin tahu sekuat apa chain pertamanya itu!"

"Tapi kuakui, Vincent cukup hebat untuk mengikat dua kontrak sekaligus." Reo mengakui setengah hati. "Tapi aku tetap tidak bisa memaafkannya karena telah menjadi pengkhianat!"

.

"Elliot? Sebenarnya kita mau mencari Reo atau tidak sih?"

"Sudah kubilang kita tidak perlu mencarinya! Kita hanya perlu mendapatkan tanda dari Reo!"

"Kalau begitu kenapa kau tidak memberitahu yang lain? Yang lain sudah mulai mencari! Kita tidak perlu buang-buang tenaga!"

"Reo tidak ingin aku memberitahu yang lain!"

"Ini situasi darurat, Elliot!"

"Mau darurat atau tidak, rahasia tetap rahasia!"

Tidak sampai tiga kilo dari tempat Reo ditahan, Ada dan Elliot sedang berdebat dengan seru. Mereka kini berada di tengah pasar. Mereka semua, dengan bantuan Esther dan Reinhart Twins, telah mendapatkan tempat tinggal yang memadai tadi pagi, dan kini mereka memutuskan berpencar untuk mencari Reo.

"Oke kalau kau tidak mau mencari Reo! Tapi, setidaknya kita harus pura-pura mencari dia! Oz akan marah kalau dia tahu kalau kita hanya bersantai disini!" bentak Ada.

"Fine! Kalau itu bisa membuatmu diam!" akhirnya, setelah perdebatan yang memakan waktu lebih dari sepuluh menit itu, Elliot mengalah.

Bahu Ada merileks, 'Akhirnya dia setuju juga." batinnya.

"Jadi, kita mulai mencari darimana?" tanya Elliot. Ada mengangkat bahunya. Sekilas, dia mendengar Elliot menggumam, "Marah-marah dari tadi, kukira dia punya rencana!"

"Halo! Aku tidak tuli, tahu!"kata Ada jengkel. "Memangnya kau belum mendapatkan informasi apapun dari Humpty Dumpty?"

"Jujur saja, belum. Kalau sampai sore nanti dia belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Reo, kita terpaksa berasumsi dia tidak berhasil kabur dan kita harus mencarinya secara manual." Elliot menjelaskan taktiknya.

"Kenapa tidak dari sekarang mencarinya?" gumam Ada sembari memutar kedua bola matanya.

"Aku hanya berharap dia tidak dikurung di ruang bawah tanah…"

"Mengingat kesadisan Dark Sabrie, aku rasa dia malah dikurung di ruang bawah tanah."

"Kalau begitu, aku harap Ann dan Aire mengenal seorang psikiater. Ingat ketika dia tidak sengaja terkunci di ruang bawah tanah Pandora beberapa bulan yang lalu?" Elliot bertanya kepada Ada.

"Tentu aku ingat!" Ada bergidik sedikit ketika mengingat insiden itu. "Sharon sampai terpaksa harus menjejalkan makanan ke mulutnya! Tetapi kondisinya masih lebih baik daripada saat pertama kali aku bertemu kalian!"

"Bagaimana aku bisa melupakan pisau-pisau beracunmu itu? Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya apakah orang-orang yang mengejarku dan Reo dulu masih hidup… Omong-omong soal makanan, kenapa kita tidak mencari makan siang saja? Sekarang cukup ramai, aku yakin kita bisa mengambil satu atau dua batang roti tanpa ketahuan." saran Elliot.

Ada memandang sekelilingnya sejenak, "Sepertinya itu tidak mungkin Elliot…" gumamnya pelan.

"Eh? Kenapa?" tanya Elliot heran.

"Dia," Ada menunjuk ke arah seorang pedagang roti yang berdiri di depan kios miliknya, dia sedang menatap Ada dan Elliot dengan tajam. "adalah pemilik kios yang kita curi rotinya kemarin."

"Lalu, kenapa?"

"Ya ampun, Elliot! Dia sedang menatap kita, dan sepertinya dia baru saja mengenali kita. Firasatku mengatakan kalau sebentar lagi dia akan berteriak, 'Itu anak-anak yang mencuri rotiku kemarin!'. Jadi, kurasa sebaiknya kita kabur, sekarang!" saran Ada.

Untung saja Elliot tidak banyak bertanya-tanya lagi dan segera mengikuti Ada menyelinap di antara pengunjung pasar, karena tepat lima detik setelah mereka menghilang, prediksi Ada terbukti benar.

.

"Akhirnya lepas juga!" gumam Reo ketika, akhirnya, dia berhasil mengangkat penutup mata itu dari matanya. Dia menggoyang-goyangkan kepalanya untuk melepaskan kain itu dari rambutnya. Setelah kain itu berhasil lepas dari rambutnya yang berantakan, dia mengedarkan pandangannya dan untuk pertama kalinya melihat ruangan tempat dia ditahan.

Hal yang pertama kali dilihat oleh Reo adalah sebuah lilin yang terbakar yang berada beberapa langkah di depannya. Hal itu membuat Reo bertanya-tanya apakah lilin itu diletakkan disana untuk menerangi ruangan atau untuk membuatnya mati perlahan-lahan karena kekurangan oksigen, karena ruangan itu sama sekali tidak mempunyai lubang untuk membiarkan udara luar masuk.

Hal kedua yang dilihatnya adalah sebuah pintu besi besar yang menghalangi jalan keluarnya. Reo menghela nafas. Tidak apa-apa, toh dia tidak berniat untuk keluar melalui pintu itu. Reo memperhatikan dinding-dinding penjaranya. Batu-batu yang menyusun dinding itu tampak sudah sedikit merasa penjara ini cukup dekat dengan permukaan tanah. 'Bagus, aku bisa melarikan diri dengan mudah' pikirnya.

Walaupun begitu, Reo tetap merasa pusing. Traumanya dengan ruang bawah tanah dan kegelapan masih membekas dengan kuat. Dia tahu kalau dia menghabiskan waktu satu malam lagi disini, dia akan menjadi gila. Memang situasinya sekarang tidak separah saat dia belum bergabung dengan Pandora, setidaknya dia tidak disiksa sekarang. Tetapi, Reo lebih memilih untuk mempertahankan kewarasannya saat ini.

Hantu yang sedari tadi menganggu Reo dengan isakannya sama sekali tidak kelihatan. Reo mengira dia tidak ingin menampakkan diri di hadapannya, walaupun Reo memiliki indra keenam. Walaupun dia tidak bisa melihatnya, Reo tetap berbicara kepada hantu itu.

"Hei, sebentar lagi aku akan membebaskanmu! Jadi, jangan menangis dan biarkan aku berkonsentrasi, oke? Ketika aku sudah membebaskanmu, berkumpullah dengan keluargamu disana, oke?"

Reo tidak yakin hantu itu bisa mendengarnya, tetapi isakannya berhenti. Reo menghela nafas lega. Sekarang dia bisa berkonsentrasi untuk membebaskan dirinya.

Kalau kau hanya ingin berbicara seperti itu, kau tidak perlu bersusah payah melepas kain penutup matamu.

"Aku tahu, tetapi aku tidak bisa melihat ke arah mana aku pergi kalau aku tidak melepaskannya, kan?" kilah Reo.

Diucapkan oleh seorang anak yang menghabiskan setengah dari hidupnya untuk menutup matanya!

Rei terbatuk-batuk kecil karena asap lilin dan kekurangan oksigen, "Vincent tidak perlu menunggu seminggu untuk memastikan kalau aku sudah mati! Kalau aku tidak bisa meloloskan diri dalam waktu satu hari ke depan, aku pasti sudah mati lemas! Ah, sudahlah! Kau siap?" tanya Reo. Reo mendengar gesekan sayap sebagai balasannya.

"Bagus kalau begitu! Dalam hitungan tiga!" Reo mengambil nafas dalam-dalam. "Satu… Dua… Tiga!"

Reo berteriak kencang, memanggil…

…dan sebuah ledakan menghancurkan gedung itu

.

"Haahh…" Elliot membungkuk badannya, berusaha mengatur nafasnya. Dia dan Ada sudah berlari cukup jauh dari pasar ke bagian kota yang tidak begitu mereka kenal. Mereka kini berada di halaman belakang sebuah gedung.

"Kita sudah tidak dikejar lagi, kan?" tanya Ada dengan suara terputus-putus.

"Sepertinya tidak…" Elliot kembali menegakkan tubuhnya. "Kenapa kita tidak istirahat dulu disini sebentar?" usulnya. "Paru-paruku rasanya mau pecah!" Kali ini, Ada tidak membantah. Dia segera menyenderkan tubuhnya ke dinding, diikuti oleh Elliot.

"Kita berlari cukup jauh juga, ya?" komentar Ada ketika dia memperhatikan sekelilingnya. "Kau yakin kita bisa kembali nanti?"

"Sejujurnya? Tidak. Sepertinya kita harus menebak-nebak jalan pulang nanti." kata Elliot. Mereka terdiam selama beberapa saat, berusaha menenangkan nafas mereka.

"Elliot?" setelah beberapa saat, Ada memecahkan keheningan.

"Ya?"

"Aku bingung, kenapa Aire dan Ann bersedia merelakan rumah kos milik Reinhart sebagai tempat tinggal sementara kita. Kita tidak terlalu dekat dengan mereka, kan?" tanya Ada. "Maksudku, baru beberapa bulan yang lalu kita mengenal mereka, itupun kebetulan!" tambah Ada.

"Kurasa ini semacam simbiosis mutualisme." Elliot menjawab.

"Eh? Simba… simbi… Gah!"

"Simbiosis mutualisme!"

"Apapun itu! Apa artinya?" Ada menyerah mencoba mengucapkan kata itu dengan benar.

"Itu suatu istilah dalam ilmu pengetahuan. Artinya saling memberi keuntungan. Mereka memberi kita tempat tinggal, tetapi mereka juga akan mendapatkan keuntungannya." Elliot menjelaskan.

"Memangnya mereka mendapatkan keuntungan apa?" tanya Ada bingung. Elliot mengangkat bahunya, tanda dia juga tidak tahu.

"Aku tidak tahu. Tapi tadi pagi Aire berkata kita boleh tinggal di rumah kosnya hingga kita menemukan Reo. Setelah kita menemukan Reo, dia dan Ann akan membuat sebuah perjanjian dengan kita."

"Memangnya mereka menginginkan apa dari street child seperti kita? Mereka punya segalanya, kan?"

"Sudah kubilang aku tidak tahu!" seru Elliot jengkel.

"Tidak perlu pakai marah-marah juga, aku kan hanya bertanya…" gumam Ada sebelum membiarkan tubuhnya merosot hingga dia berada di dalam posisi berjongkok.

"Dan aku hanya menjawab!"

"Terserah, deh…" respon Ada yang sedang tidak ingin menolerir kekeras kepalaan Elliot. Dia menengadahkan kepala dan melihat awan tebal telah menutupi matahari.

"Elliot, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Kita harus mencari Reo sekarang kalau kita tidak mau kehujanan! Menurut perkiraanku, kita punya waktu kurang lebih satu jam sebelum hujan turun!" kata Ada.

"Hei, kau dengar aku atau tidak, sih?" kata Ada kesal ketika Elliot sama sekali tidak merespon. Dia menoleh ke kanan dan melhat Elliot masih berdiri di sampingnya.

Ada bangkit berdiri dan mengguncang tubuh Elliot dengan cukup keras, "Elliot! Kau masih disini, kan?"

Masih tidak ada respon dari Elliot, bahkan dia tidak mengedip karena guncangan Ada.

Ada kini sudah berada di depan Elliot dan memperhatikan wajahnya. Dia baru memperhatikan kalau kedua mata safirnya kini menatap lurus ke depan, kosong.

"Elliot?" tanya Ada khawatir. "WOI! Kau masih disini, kan?" Ada berteriak tepat di telinga Elliot. Kali ini usahanya berhasil, Elliot mengedip dan berkata, "Eh?"

Dengan tidak sabar, Ada mengulangi kata-kata yang sebelumnya dia ucapkan. Elliot menyeringai ketika Ada selesai berbicara.

"Aku rasa kita tidak perlu satu jam. Yang kita perlukan hanyalah sedikit keberuntungan."

Kini giliran Ada yang berkata, "Eh?"

.

"Elliot! Kita mau berlari sampai kapan?" tanya Ada di sela-sela nafasnya. Sekali lagi, mereka berdua bermanuver dengan gesit melewati gang, jalan, dan taman yang tidak terhitung jumlahnya.

"Sampai kita sampai di tempat Reo! Humpty bilang tempatnya tidak jauh lagi!" jawab Elliot dengan setengah berteriak.

"Sepertinya definisi 'tidak jauh lagi' milikmu dan milikku berbeda jauh! Lima menit yang lalu kau bilang sebentar lagi kita akan menemukannya, tapi nyatanya kita masih terus berlari!"

"Jangan salahkan aku! Salahkan Humpty! Salahkan Reo juga kenapa dia terus bergerak!"

"Mana ada pelarian yang duduk diam dengan manis dan menunggu ditangkap kembali, Elliot!

Mereka masih terus bertengkar selama perjalanan hingga Elliot berkata, "Kali ini aku berkata jujur! Kita sudah dekat!"

"Dia berhenti bergerak?" tanya Ada dengan terengah-engah.

"Yup, sepertinya dia pingsan atau jatuh. Satu belokan lagi!" Mereka segera berbelok di sebuah belokan yang ditunjuk Elliot. Ada baru memperhatikan jejak darah yang masih segar yang rupanya Elliot ikuti dari tadi.

"Dimana dia?" seru Elliot ketika mereka berdua berhenti untuk mencari Reo.

"Di sana!" Ada menunjuk ke depan, ke arah Reo yang berbaring tertelungkup di tengah jalan.

"REO!" seru Elliot. Dia, diikuti oleh Ada, segera berlari menuju sahabat mereka yang terbaring tidak bergerak itu.

Mereka berlutut di samping tubuh Reo dan Elliot membalikkan tubuhnya hingga wajah Reo kini menghadap ke atas. Wajah Reo tempak berbeda tanpa kacamata bundar yang selalu dipakainya. Sebuah luka yang cukup dalam tertoreh di pipi kanannya, membuat wajah dan rambutnya lengket karena darah. Bajunya robek di beberapa tempat dan melalui robekan itulah Elliot dan Ada bisa melihat cukup banyak memar yang menghiasi kulitnya.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Ada.

"Menurutmu? Kau kan penyembuh di Pandora!"

"Lumayan buruk… Lukanya kelihatan cukup dalam… Kita harus segera menghentikan pendarahannya! Selain luka itu, kurasa dia baik-baik saja."

Elliot segera merobek bagian bawah kaus yang dipakainya dan memakainya sebagai perban untuk menghentikan pendarahan Reo. Segera saja kain itu berubah menjadi merah.

"Kita harus segera membawanya kembali! Sharon tidak ikut pencarian, kan? Suruh Humpty Dumpty untuk memberitahu Sharon kalau kita perlu tumpangan kilat!" perintah Ada.

Elliot memejamkan matanya sebentar untuk berkomunikasi dengan chainnya. Setengah menit kemudian, dia kembali membuka matanya. "Humpty sedang mencari Eques sekarang. Kuharap dia bisa menemukannya dengan cepat!"

"Masalahnya, cepat versi chain dan manusia itu berbeda." gumam Ada.

"Ugh…"

Ada dan Elliot serentak menundukkan pandangan mereka dan mereka melihat Reo mulai membuka kedua matanya dengan pelan.

"Kalian lama banget sih…" gumamnya kesal yang mau tak mau membuat Ada dan Elliot tertawa pelan.

"Hei! Kau beruntung kami bisa menemukanmu tepat waktu!" gerutu Elliot. "Kalau kami terlambat setengah jam saja, kemungkinan besar kau sudah mati!"

"Aku tidak apa-apa, kok!Ini hanya luka kecil! Luka sekecil ini tidak akan bisa membunuhku!" protes Reo.

"Mungkin tidak. Tetapi kau akan menderita infeksi yang menyakitkan selama sedikitnya seminggu!" kata Ada. "Apa sih yang kau lakukan hingga kau mendapat luka separah itu.

"Well, aku terpaksa meledakkan bangunan tempat aku ditahan untuk melarikan diri."

"Kau APA?" pekik Elliot dan Ada tidak percaya.

"Aku bilang aku terpaksa meledakkan bangunan tempat aku ditahan untuk melarikan diri. Aku mendapatkan luka ini karena sebuah tergores sebuah batu yang jatuh."

"Bukan tergores lagi, robek lebih tepatnya…" gumam Ada ketika dia memeriksa luka Reo.

"Kau menggunakan 'itu' ya? Aku harap kau tidak ikut meledakkan kakakku, Reo, karena aku tidak melihatnya di sekitar sini. Kau lari dengannya, kan?" tanya Elliot.

Ekspresi Reo langsung menggelap begitu Elliot menyebut nama Vincent, "Tidak. Dan aku harap aku benar-benar meledakkannya tadi!"

"Eh? Apa maksudm…" ekspresi Elliot berubah menjadi panik. "Jangan bilang…."

Dengan pelan, Reo mengangguk.

Elliot meninju jalan batu di bawahnya dengan keras hingga membuat Afa terlonjak. Dia terus meninju jalan itu hingga buku-buku jarinya berdarah. Sumpah serapah terlontar dari mulutnya. Ada butuh waktu lebih lama untuk mencerna semua itu, tetapi akhirnya pemahaman menghampirinya.

"Reo? Kau cuma bercanda, kan?" tanya Ada dengan nada bergetar.

"Aku tidak bercanda! Aku mendengarkan pengakuannya dengan kedua telingaku sendiri!"

"Oh tidak! Bagaimana kita bisa menyampaikan berita ini kepada Gil?"

Elliot mencengkram kedua bahu Reo, membuatnya sedikit mengernyit kesakitan, "Gil tidak terlibat, kan? Tolong bilang Gil tidak terlibat!"

"Untungnya Gil tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Vincent bilang sendiri dia bertindak atas kemauannya sendiri."

Elliot mulai berjalan mondar mandir di depan Reo dan Ada, "Berbulan-bulan kita bertanya-tanya siapa penkhianat itu, dan sekarang semuanya jelas! Ha! Seharusnya aku tahu ada yang tidak beres ketika dia dan Gil tiba-tiba menjadi anggota Pandora! Dark Sabrie pura-pura menyerang mereka berdua! Mereka tahu kalau kita mengawasi dan akan menyelamatkan mereka! Seharusnya aku sudah tahu sejak pertama kali melihat chainnya! Tikus! Cocok untuknya! Mungkin Dormouse juga ingin memperingatkan kita kalau dia tidak bisa dipercaya! Aku malu punya hubungan darah dengannya!" Elliot masih terus menyumpahi kakaknya selama sekitar sepuluh menit sementara mereka menunggu Eques untuk membawa mereka pulang.

"Omong-omong, kita sedang menunggu apa sih?" tanya Reo dengan nada mengantuk. Dia harus berusaha keras untuk tetap sadar. Dia sudah kehilangan cukup banyak darah.

"Kita menunggu Eques untuk membawa kita pulang." jawab Ada.

"Ke markas?"

"Tidak, bukan ke markas…"

"Lalu kemana?"

Elliot dan Ada saling bertukar pandang, "Kau lihat saja nanti. Sekarang kau tidur saja!"

"Kau menyuruhku tidur atau pingsan?" gumam Reo. Elliot dan Ada melihat kalau kesadarannya sudah hampir menghilang. Hal terakhir yang mereka dengar sebelum dia kembali pingsan adalah, "Jangan bilang siapa-siapa dulu!"

Elliot dan Ada kembali bertukar pandang.

"Situasinya semakin rumit saja!"

TBC

Tadaima!

Yo, Aoife is back! Gomen karena telat update. Aoife keasyikan download dan nonton anime sampai lupa update fanfic. Gomen! (_ _)

Dan, yup, pengkhianatnya memang Vincent! Congrats buat Baka Reader, ShachiiKyarorain, dan Stepai Elly yang berhasil menebak dengan benar!

Question of the chapter: Apa sebenarnya kekuatan Reo (selain mata batin) sampai dia bisa meledakkan gedung seperti itu?

Hints: Kalau melihat dengan lebih teliti atau ngikutin manganya pasti tahu

Oke, that's all! See ya all in the next chapter!