Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Arc 5
Chapter 22: One as Two
Hari masih pagi ketika seluruh penghuni Reinhart dibangunkan oleh suara berisik langkah kaki seseorang.
Pemilik suara langkah kaki itu adalah Alice. Dia berlari dengan cepat dan berisik menuju lantai satu, tidak peduli kalau suara berisiknya membangunkan penghuni kamar-kamar yang dilaluinya. Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan itu! Dengan cepat, dia menuruni tangga menuju lantai satu.
Beberapa saat setelah Alice menghilang, pintu-pintu kamar di lantai tiga terbuka dan pemiliknya yang masih mengantuk menjulurkan kepala mereka keluar, bertanya-tanya siapa yang membuat suara bising tadi.
"Siapa sih tadi?" tanya Elliot sambil menggosok kedua matanya yang masih mengantuk. Dia melangkah keluar dari kamarnya dan Reo kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Dari kamar di sebelahnya, Break dan Will juga melangkah keluar.
"Tadi siapa yang lari-lari di lorong?" tanya Break dengan nada mengantuk.
"Dari suara langkah kakinya, sepertinya itu Alice!" kata Oz sambil menahan kuapnya. Anak laki-laki itu juga baru keluar dari kamarnya diikuti dengan Gil. Mereka, seperti teman-temannya, masih mengenakan piama mereka.
Beberapa saat kemudian, seluruh anak laki-laki di lantai tiga sudah terbangun dan memenuhi lorong, bertanya-tanya apa yang terjadi. Anak-anak perempuan sudah bangun terlebih dahulu dan berada di lantai bawah.
"Apa kita harus ke bawah?" tanya Reo. Yang lain memandang ke arah satu sama lain sebelum mengangguk.
"Sepertinya kita harus ke bawah! Lagipula, sudah waktunya untuk bangun!" kata Oz.
.
Sementara itu, Alice sudah sampai di lantai bawah. Dia menendang pintu ruang makan hingga pintu itu terbuka dan membentur dinding dengan suara keras, mengagetkan anak-anak perempuan yang berada di sana.
"Hai, Alice!" sapa Ann dengan tenang. Dari semua orang yang ada di ruangan itu, tampaknya hanya dia yang tidak terkejut dengan kedatangan Alice yang ribut dan tiba-tiba. "Omong-omong, kalau mau masuk, pintunya jangan ditendang seperti itu! Nanti rusak!"
Dia, Aire dan Esther (gadis itu sering menginap di sana) sedang duduk di lantai, merakit beberapa pistol. Bagian-bagian pistol berserakan di sekeliling mereka. Ada sedang duduk di kursi meja makan. Dia hampir tersedak roti panggangnya ketika Alice datang. Sharon sedang menuangkan susu ke mangkuk berisi serealnya.
"Halo, Alice!" sapa Ada setelah dia pulih dari keterkejutannya. Dia sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat ke belakang Alice, "Mana Echo?"
Alice mengabaikan pertanyaan Ada dan memusatkan perhatiannya kepada Ann dan Aire, "Kalian punya borgol atau jaket pengaman? Atau apapun untuk mengamankan seseorang yang sedang mengamuk?"
Ann dan Aire mendongak dari pekerjaan mereka dan menatap Alice dengan bingung. "Tentu saja kami punya!" jawab Aire. "Memangnya kenapa?"
"Biar kutebak!" kata Sharon. Dia membalikkan badannya untuk menghadap Alice, "Echo dan Zwei, ya kan?"
"Tepat sekali!"
"Memangnya ada apa dengan Echo ataupun Zwei, Alice?" tanya Esther bingung.
"Mereka berdua bertengkar, jauh lebih hebat dari kemarin-kemarin!" jawab Alice singkat.
"Memangnya kenapa kalau mereka berdua bertengkar?" tanya Ann. Dia meletakkan pistol setengah jadi yang sedang dirakitnya di atas lantai dan membersihkannya tangannya yang berlumuran minyak di celananya. "Maksudku, bagaimana kau bisa bertengkar dengan alter egomu?"
"Tentu saja bisa!" jawab Ada. "Mereka berdua memang sering bertengkar sebelumnya, tetapi tidak separah ini!"
"Memangnya separah apa?" tanya Aire.
"Well, kalian pernah dengar kalau pertengkaran antara dua orang saudara kembar adalah pertengkaran yang paling mengerikan?" tanya Alice kepada mereka bertiga.
"Tentu saja!" jawab Ann. "Kita berdua sering mengalaminya! Ya kan, Ai?"
"Ya, dan akan terjadi lagi kalau kau terus memanggilku Ai!" kata Aire dengan nada datar.
"Percayalah, pertengkaran antar alter ego jauh lebih mengerikan!" ucap Alice. "Setidaknya, apabila kalian berdua bertengkar, kalian tidak akan melukai tubuh kalian sendiri, kan?"
.
"Demi Tuhan! Echo! Zwei! Apa yang kalian lakukan!" pekik Sharon ketika mereka sampai di kamar Echo dan Alice.
"Jauh lebih buruk daripada ketika tadi kutinggalkan…" gumam Alice.
"Memangnya Echo kenapa sih?" tanya Oz ingin tahu. Dia dan anak-anak laki-laki lainnya bertemu dengan anak-anak perempuan ketika mereka baru saja hendak turun. Dia sedikit berjinjit agar dia bisa mengintip ke dalam ruangan dari atas bahu Alice dan langsung terdiam.
Echo, atau Zwei? sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya dengan kedua mata tertutup. Kalau dilihat sekilas, orang-orang tidak akan mengira ada yang salah dengannya. Tetapi, apabila diperhatikan lebih teliti, barulah mereka menyadari ada sesuatu yang salah.
Kedua lengan telanjang Echo dipenuhi oleh bekas cakaran yang cukup dalam, begitu juga wajahnya. Seprei putih yang melapisi tempat tidurnya kini sudah dinodai oleh bercak-bercak darah yang menetes dari bekas cakaran yang disebabkannya sendiri. Gadis itu mencengkram kepalanya dengan kuat, nyaris mencabut rambutnya sendiri. Mulutnya tidak henti-hentinya bergerak, membisikkan, kadang-kadang meneriakkan, kata-kata yang tidak bisa teman-temannya pahami. Dia seperti sedang bertarung melawan dirinya sendiri, yang memang benar.
"Sejak kapan dia seperti itu?" tanya Reo yang sedang menatap Echo, atau Zwei, dengan ngeri. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahui siapa yang sedang mengontrol tubuh gadis itu.
"Aku tidak tahu!" Alice mengakui, "Aku tadi terbangun karena teriakan mereka dan keadaannya sudah seperti ini!"
"Yang penting, sekarang kita harus mencegahnya agar tidak melukai diri sendiri!" gumam Ann. "Sebaiknya aku panggil Revis atau Miranda sekarang! Luka-luka itu kelihatan dalam! Aire! Esther! Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan!" dia membalikkan badannya dan segera berlari untuk mencari Miranda dan Revis.
"Roger! Aku hanya berharap kepala tempat tidur itu cukup kuat." gumam Aire. Dia memegang sebuah borgol di tangannya. Borgol lain yang identik dengan milik Aire berada di genggaman Esther.
"Kau siap, Esther?" tanyanya kepada Esther. Gadis yang ditanya mengangguk.
"Kapanpun kau siap, teman!"
"Kau tangan kanan, dan aku tangan kiri! Siap sekarang?" tanya Aire lagi.
"Aku sudah bilang kalau aku siap, Aire!" kata Esther gemas.
Aire tersenyum jenaka, "Hanya memastikan! Baiklah, satu… dua… tiga!"
Aire dan Esther melompat memasuki ruangan dan segera mengamankan Echo, atau Zwei. Yang membuat mereka terkejut, gadis itu sama sekali tidak memberikan perlawanan. Bahkan dia tidak membuka kedua matanya sama sekali ketika Aire dan Esther membuatnya berbaring di tempat tidur dan memborgol kedua tangannya ke kepala tempat tidur.
"Phew, aku tidak mengira akan semudah ini!" kata Esther.
"Setidaknya sekarang dia tidak bisa menyakiti dirinya sendiri." gumam Aire. Dia memperhatikan luka-luka yang berada di kedua lengan Echo, "Wow, kukunya pasti tajam sekali! Aku saja tidak bisa mencakar sampai sedalam itu!"
"Pengkhianatan Vincent berbuntut panjang rupanya." gumam Oz. "Gil, bukannya aku bermaksud menyinggung atau apa, tetapi kupikir kau yang akan paling terpengaruh! Rupanya aku salah!"
"Tidak apa-apa, Oz!" kata Gil. Dia sudah mau keluar dari kamarnya sejak seminggu yang lalu, "Jujur saja, aku juga terkejut karena hal ini lebih mempengaruhi Zwei daripada aku!"
"Minggir!" teriak seseorang dari belakang mereka. Otomatis, Gil, Oz, dan yang lain melangkah ke samping, memberikan jalan kepada Revis yang baru datang. Ann mengekor di belakangnya tetapi dia tidak masuk ke kamar Alice dan Echo. Sementara itu, Aire dan Esther bergegas keluar dari kamar.
"Bagaimana?" tanya Ann kepada Sharon.
"Kembaranmu dan Esther berhasil mengamankan mereka berdua." jawab Sharon. "Kuharap luka-lukanya tidak terlalu serius!"
"Itu hanya luka cakaran, kok!" kata Ann menenangkan. "Kurasa itu tidak terlalu serius!"
"Aku tidak terlalu mengkhawatirkan fisiknya." gumam Ada. "Mentalnya yang aku khawatirkan!"
"Aku harap dia baik-baik saja." kata Break. "Aku bersumpah akan mematahkan leher Vincent kalau aku bertemu dengannya lagi! Aku serius!"
"Jangan dipatahkan lehernya! Tusuk saja matanya! Jauh lebih sakit!" saran Reo.
"Erm, guys?" panggil Oz dengan tidak nyaman. Anak laki-laki itu melirik ke arah Elliot dan Gil, yang untung saja tidak mendengarnya, "Kalau kalian mau merencanakan pembunuhan Vincent, kusarankan jangan di sini!"
"Kalian semua berisik!" teriak Revis dari dalam kamar. Semua orang langsung terdiam ketika mereka mendengar teriakan itu. Mereka semua mengintip ke dalam kamar.
Revis sedang berlutut di samping tempat tidur Echo dan Zwei. Dia sedang menggenggam tangan kiri Echo sementara di tangan kanannya dia memegang sebuah suntikan berisi cairan bening. Dokter itu menatap remaja-remaja itu dengan kesal.
"Kalau kalian berisik terus, aku tidak bisa berkonsentrasi!" katanya kesal. "Kalian tidak mau aku salah dalam menanganinya, kan?
"Revis? Apa yang akan kau lakukan kepadanya?" tanya Esther bingung ketika dia melihat alat suntik di tangan Revis.
"Aku akan membiusnya, jadi kalian harap tenang, oke? Kalau tidak, aku bisa salah!"
Revis menyuntikkan cairan bening itu ke dalam pembuluh darah Echo. Gadis itu meronta sebentar dan merintih kesakitan ketika jarum suntik itu menembus kulitnya. Revis tidak mempedulikan rintihannya dan terus menyuntikkan cairan itu ke tubuh Echo hingga dia berhenti meronta-ronta.
Revis bangkit berdiri setelah dia berhasil membius Echo. Gadis itu kini sudah tertidur karena pengaruh obat bius. Revis memasukkan alat suntik yang sekarang sudah kosong ke dalam saku jas dokternya. Dia memutar tubuhnya hingga dia menghadap wajah-wajah penasaran yang berada di balik pintu.
"Well, itu akan menyelesaikan masalah, untuk saat ini setidaknya!" kata dokter muda itu.
"Trims, Rev!" kata Esther. "Berapa lama obat itu akan bertahan?"
Revis mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu! Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap obat yang sama. Tebakan terbaikku adalah dia akan tetap tertidur sampai malam tiba."
"Apa dia akan kembali seperti semula?" tanya Ada. Dia menatap tubuh sahabatnya yang sedang tertidur dengan khawatir.
Revis kembali mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu! Aku bukan psikolog! Omong-omong, sejak kapan dia seperti itu? Bertengkar dengan alter egonya maksudku."
"Sepertinya ini pertama kalinya. Biasanya dia dan Zwei akur-akur saja." jawab Gil. Dia menoleh kepada teman-temannya, "Aku benar tidak?"
"Sebelum ini, mereka juga pernah bertengkar sih." Oz menambahkan. Dia mengerutkan keningnya, berusaha mengingat-ingat kapan itu terjadi. "Kejadiannya terjadi sekitar dua bulan setelah mereka bergabung, kalau aku tidak salah. Tapi tidak separah ini! Benar kan, Ada?"
Ada mengangguk, "Mereka mempertengkarkan hal sepele. Aku sudah tidak terlalu mengingatnya, tetapi kurasa itu tentang siapa yang paling sering muncul di antara mereka berdua!"
"Masalahnya, kurasa sekarang mereka tidak mempertengkarkan hal sepele." kata Reo.
"Zwei menyukai Vincent, dan pengkhianatannya menghancurkan hati Zwei. Sebagai orang yang paling mengerti isi hati Zwei, Echo berusaha untuk menghiburnya. Menyuruhnya untuk melupakannya atau apalah, aku tidak tahu. Sepertinya Zwei tidak terlalu terima dan akhirnya mereka bertengkar." kata Alice. "Setidaknya, itulah yang sempat aku dengar ketika aku bangun tadi pagi sebelum aku turun untuk memanggil kalian!"
"Kita hanya bisa berharap mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri." gumam Break. "Kita tidak bisa membantu mereka kali ini kalau kita sendiri tidak tahu apa yang mereka pertengkarkan!"
Revis melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. "Sebaiknya kalian membiarkan dia beristirahat dan turun ke bawah. Bukannya kalian punya hal-hal yang harus kalian lakukan?"
"Omong-omong tentang hal yang harus kami lakukan…" Oz membalikkan badannya hingga dia menghadap Reo dan Gil, "Apa kalian berdua sudah memutuskan siapa yang akan menyegel Kotak Pandora?"
Reo dan Gil memandang satu sama lain sebentar sebelum menggeleng. Diskusi mereka selama seminggu terakhir sama sekali tidak membuahkan hasil, karena kedua pihak bersikeras bahwa dirinyalah yang akan melakukan penyegelan.
Oz menghela nafas panjang, "Baiklah, aku mengerti! Tapi lebih baik kalau kalian memutuskannya lebih cepat! Keadaan damai seperti ini tidak bisa berlangsung selamanya!"
"Oke!" jawab mereka berdua serempak.
.
"Lupakan dia, Zwei!" kata Echo pelan. Dia mengusap bibirnya yang berdarah sambil meringis kesakitan. Tinju Zwei ternyata cukup menyakitkan.
"Aku tidak bisa, Echo!" bisik Zwei. Dia memeluk lututnya dan terisak, "Aku tidak bisa!"
Hanya di tempat inilah Echo dan Zwei bisa berhadapan secara langsung. Hanya di tempat inilah mereka bisa saling menyentuh, bercakap-cakap layaknya dua orang biasa. Hanya di tempat yang diciptakan oleh imajinasi mereka inilah mereka bisa melihat sosok asli alter ego masing-masing.
Echo berlutut di depan Zwei dan menghapus air mata yang berada di pipi Zwei. "Ssst, sudahlah! Jangan menangis terus!"
Echo mau tidak mau memperhatikan luka cakar di pipi Zwei. Echolah yang menorehkan luka itu ketika dia mempertahankan diri dari serangan Zwei. Sebagai balasan, Echo juga mendapatkan beberapa bekas cakaran di tubuhnya. Mereka tadi benar-benar berkelahi habis-habisan. Seluruh kekesalan dan kemarahan mereka kepada satu sama lain yang mereka pendam selama ini mereka tumpahkan. Sekarang, setelah semuanya telah mereka keluarkan, mereka bahkan tidak memiliki tenaga untuk menampar satu sama lain.
"Kau sih enak, Echo!" ujar Zwei. "Orang yang kau sukai bukanlah seorang pengkhianat!"
"Tapi aku tidak mungkin mendapatkan Oz, kan? Kau juga tidak mungkin mendapatkan Vincent! Jadi, kurasa kita impas sekarang!" kata Echo.
"Tapi Reo menyukaimu!" bantah Zwei.
"Kalau dia menyukaiku, berarti dia juga menyukaimu, kan?" Echo bertanya. "Kita berdua kan orang yang sama!"
"Walaupun kita orang yang sama, kepribadian kita berbeda!" kata Zwei. "Dia menyukai kepribadianmu, bukan kepribadianku!"
"Bukannya kepribadian kita juga mirip?" Echo kembali bertanya.
"Huh! Mirip apanya!" dengus Zwei. Dia meluruskan kakinya dan berbaring di atas lantai yang putih, atau melayang di ruang hampa? Tidak ada batas antara bumi dan langit di dunia serba putih ini. Hanya mereka berdua yang ada di sini.
"Kita berdua seperti refleksi cermin. Mirip, tetapi bertolak belakang. Aku kidal, sementara kau normal. Kau pendiam, sementara aku tidak bisa diam. Aku bisa bertempur dengan chain, sementara kau tidak bisa. Kita berdua sangat bertolak belakang! Coba sebutkan apa yang sama di antara kita!" tantang Zwei.
"Ada." jawab Echo.
"Oh ya? Apa?"
"Kita sama-sama dicap gila." kata Echo datar. "Dan teman-teman kita juga akan mencap kita gila kalau kita tetap bertengkar seperti ini!"
"Memangnya sudah berapa lama kita bertengkar?" tanya Zwei.
Echo mengangkat bahunya, "Memang ada yang namanya waktu di sini?" Zwei tersenyum lemah untuk menanggapi pertanyaan Echo.
"Maaf karena telah meninjumu tadi!"
"Maaf karena telah menamparmu tadi!"
Mereka menatap satu sama lain sebelum tertawa kecil. Echo bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Zwei, yang menyambutnya dengan senang hati. Echo menarik Zwei hingga mereka berdua berdiri tegak di ruang putih itu.
"Kau benar, Echo!" kata Zwei. "Vincent memang hanya seekor tikus got! Tidak ada gunanya aku menangisinya!"
"Kau juga benar, Zwei!" kata Echo. "Oz sekarang milik Alice! Aku harus bisa melangkah maju!"
Mereka berdiri diam selama beberapa saat hingga Echo berbicara.
"Kurasa sebaiknya kita kembali sekarang. Yang lain pasti khawatir. Aku tidak tahu apa yang telah kita perbuat kepada tubuh kita!"
"Baiklah! Dan, Echo?"
"Ya?"
"Boleh aku yang mengontrol sekarang?" tanya Zwei.
Echo mengedikkan bahunya, "Silahkan saja!"
.
"Kenapa pedang tidak dicantumkan di sini?" tanya Eliot kesal. Dia menghunjamkan jari telunjuknya ke permukaan sebuah kertas yang berada di atas meja makan.
"Karena," Will menjawab dengan tenang, "tidak ada lagi orang yang bertempur menggunakan pedang, Elliot!"
"Aku, Reo, Oz dan Break bertarung menggunakan pedang ketika kami bertempur dengan Dark Sabrie!" bantah Elliot marah.
"Kalian dulu bertempur di tempat yang sepi, jadi tidak ada masalah. Lain halnya dengan di sini! Ini daerah ramai. Akan sulit bagi kalian untuk bergerak dengan membawa-bawa pedang, orang-orang akan mencurigai kalian. Lagipula, pedang sulit untuk disembunyikan." Esther menjelaskan dengan tenang.
"Tapi aku tetap tidak bisa berduel tanpa pedangku!" gerutu Elliot lagi.
"Kau bukan satu-satunya orang yang enggan berduel tanpa pedang, Elliot!" kata Break. "Tapi berduel dengan pisau tidak terlalu sulit, kok!"
Oz mengambil daftar senjata yang akan mereka gunakan nanti dari bawah telunjuk Elliot dan membacanya. Dia mengangkat tangannya, "Pertanyaan! Bagaimana kalau Dark Sabrie membawa pedang?"
"Mereka tidak akan membawanya, percayalah! Clockwork tidak akan mengizinkannya!" kata Aire untuk meyakinkan mereka.
"Granat?" tanya Break setelah dia membaca salinan daftar senjata. Dia mengerutkan keningnya ke arah Ann, Aire, Will dan Esther, "Kalian tidak bermaksud melakukan pembantaian massal, kan?"
"Tentu saja tidak! Kau kira kami apa? Pembunuh berdarah dingin? Granat hanya akan digunakan apabila kalian berduel di tempat yang sepi!" jawab Ann.
"Lagipula granat yang akan kalian gunakan adalah granat dengan kekuatan rendah, kok!" tambah Esther. "Aku juga akan menambahkan beberapa granat suara kalau-kalau kalian harus bertarung di tempat tempat yang ramai. Tenang, granat itu tidak akan membunuh orang, hanya membuat mereka pingsan! Aku juga akan memberikan headset supaya kalian tidak ikut pingsan!"
"Oke, aku mengerti!" kata Oz. "Tetapi,"
"Apa yang kau maksud dengan bom bunuh diri?" sambung Alice yang sedang mengintip daftar yang Oz pegang.
"Kalau kalian ingin bunuh diri tentu saja!" jawab Esther. "Memangnya kenapa?"
"Dan kenapa kami ingin bunuh diri?" tanya Elliot bingung.
Aire menepuk keningnya, "Aku lupa kalau kalian masih baru dalam hal ini! Well, dalam dunia mafia, ada pepatah seperti ini, "Daripada tertangkap, lebih baik mati!". Itulah sebabnya kami selalu membawa bom bunuh diri dalam misi!"
Oz tertawa gugup, "Bisa kita coret yang ini? Tidak ada di antara kami yang berniat untuk bunuh diri!"
"Baiklah kalau itu yang kau mau!" kata Aire sebelum mencoret sesuatu dari daftar yang dipegangya.
"Bagaimana dengan dummy-dummy itu?" tanya Sharon.
"Tenang, kami sudah memesannya!" kata Esther. "Aku berani bersumpah kalau hasilnya akan seratus persen mirip!"
"Sepertinya semuanya sudah siap." kata Oz. "Kita hanya harus menunggu Gil dan Reo memutuskan saja. Setelah itu, kita bisa mulai menyerang!"
"Mari kita berharap agar rencana ini berhasil!" kata Elliot yang diiringi anggukan setuju teman-temannya.
"Ada? Bisa kau periksa Gil dan Reo? Seharusnya mereka sudah memutuskan sekarang!" pinta Oz.
"Oke! Sebentar, ya!" Ada segera melesat meninggalkan ruang makan tempat mereka mengadakan rapat.
Sharon melirik jam yang berada di dinding, "Hari memang masih pagi, tapi ada yang mau teh?" tawarnya kepada yang lain.
"Aku mau!" sambut teman-temannya dengan bersemangat. Sharon pun bangkit berdiri untuk menyiapkan teh untuk mereka semua.
Ceret air bahkan belum berbunyi ketika Ada kembali. Dia menutup pintu di belakangnya dan menggelengkan kepalanya.
"Mereka belum memutuskan! Mereka masih berdebat sekarang, kalau itu masih bisa dibilang berdebat. Seakan-akan pertengkaran antara Zwei dan Echo belum cukup saja!" lapornya.
"Kita tidak bisa menunggu terlalu lama!" kata Oz gelisah. "Aku muak menjadi pihak yang diserang terus!"
"Sabarlah, Oz!" kata Break santai. "Memangnya kau kira gampang memutuskan hal seperti itu?"
Sharon menuangkan teh ke cangkir-cangkir keramik kecil dan dia menyisihkan tiga cangkir. Dia menyajikan cangkir-cangkir itu kepada teman-temannya. Mereka semua menerimanya dengan senang hati.
"Itu untuk siapa, Sharon?" tanya Alice sambil menunjuk tiga cangkir yang sebelumnya disisihkan oleh Sharon.
"Untuk Reo, Gil, dan Echo kalau dia sudah bangun." jawab Sharon. Dia meletakkan cangkir-cangkir itu di atas sebuah baki kayu. "Kalau kalian tidak keberatan, aku akan mengantarkan baki ini ke atas sekarang!"
"Silahkan, Sharon!"kata Oz mempersilahkan.
"Oya! Sekedar saran, jangan masuk ke kamar tempat Reo dan Gil berada. Letakkan saja tehnya di depan pintu dan ketuk pintunya!" saran Ada.
Sharon mengangguk dan melangkah meninggalkan dapur. Yang lain tetap tinggal, menikmati teh mereka dan sesekali membicarakan strategi mereka untuk menghadapi Dark Sabrie sekaligus Clockwork.
Tidak perlu waktu lama bagi Sharon untuk kembali. Yang lain menatap menatap gadis itu dengan bingung, karena dia datang sambil terengah-engah dan wajah yang memerah.
"Sharon? Ada apa? Kenapa buru-buru?" tanya Break heran.
"Kalian tidak akan percaya ini!" seru gadis itu.
"Memangnya ada apa sih?" tanya Aire.
Tanpa mengatakan apa-apa, Sharon mengangkat sesuatu yang berada di tangan kanannya agar yang lain bisa melihatnya. Rupanya itu adalah sebuah kertas putih yang berisi tulisan besar-besar. Sambil menahan nafas, mereka membaca pesan itu.
Serius, deh! Untuk apa kalian memborgolku seperti itu? Kau tahu kalau itu tidak berguna!
Aku dan Echo baik-baik saja dan memutuskan untuk mencari sedikit udara segar. Jangan cari kami!
"Aku menemukannya di atas tempat tidurnya. Borgol itu masih terpasang dengan kuat di kepala tempat tidurnya, tetapi dia sudah tidak ada!" Sharon menjelaskan.
"Aku lupa kalau dia sudah berkutat dengan borgol sejak dia masih kecil." gumam Elliot. "Tidak heran kalau dia bisa melepaskan diri sekarang!"
"Ada sisi baik dan sisi buruk dari pesan ini." kata Oz. "Sisi baiknya, kita semua tahu kalau mereka berdua baik-baik saja."
"Sisi buruknya?" tanya Alice.
"Kita tidak tahu dimana mereka berada."
TBC
A/N:
Libur tinggal seminggu lebih dikit lagi, kira-kira bisa gak ya Arc 5 selesai? *garuk-garuk tanah
Aoife mau kebut nulis sekarang, karena nanti Aoife gak bisa janji bisa update sesering dulu. Kemungkinan Chainned ditunda dulu karena mau fokus sama Pandora Street Child. Rasanya masih pengen deh jadi anak SMP ;_;
RnR, please?
