Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 23: The Hunt

"Berapa lama lagi, Echo?" tanya Zwei dengan tidak sabar.

"Sebentar lagi! Dan akan lebih cepat kalau kau diam sebentar!" gumam Echo. Kedua tangannya dengan cekatan melepaskan rantai yang mengikat kedua kakinya setelah sebelumnya melepaskan rantai yang memborgol kedua tangannya. Untung saja rantai yang mengikatnya cukup panjang sehingga dia tidak kesulitan bergerak.

"Selesai!" bisiknya setelah dia berhasil melepaskan kedua kakinya dari borgol. Dia bangkit berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang pegal. Setelah sedikit merapihkan gaun compang-camping yang dikenakannya, dia melangkah menuju pintu penjaranya.

Penjara itu lebih tepat disebut kandang beroda. Di dalam kandang yang diletakkan di pinggir alun-alun itulah, Echo dan Zwei menghabiskan tiga tahun terakhir mereka setelah orang-orang di desa mencapnya sebagai gadis gila. Mereka mengunci gadis itu di sana demi keamannya sendiri, atau begitulah kata mereka.

Sebenarnya tinggal di sana tidak terlalu buruk. Para penduduk desa bersikap cukup hangat kepadanya. Dia mendapatkan makan tiga kali sehari. Dan ketika cuaca tidak mendukung, mereka akan menarik kandangnya ke tempat yang terlindung. Hanya saja, kadang-kadang mereka semua menatapnya dengan aneh ketika dia berbicara dengan alter egonya.

Butuh waktu lama bagi Echo maupun Zwei untuk menyadari kalau orang lain tidak mendengar suara orang lain di dalam kepala mereka seperti mereka berdua. Orang lain juga tidak harus bergantian dalam mengontrol tubuh mereka, karena mereka hanya memiliki satu kepribadian untuk mengontrol tubuh mereka. Sebelum mereka menyadari kalau mereka berbeda, mereka sudah berada di dalam kandang itu.

Baik Zwei maupun Echo tidak mengetahui kapan tepatnya jiwa mereka terbagi. Mungkin pada malam ketika orangtua mereka dibunuh secara brutal ketika mereka baru berumur dua tahun. Mungkin sejak mereka lahir jiwa mereka sudah terpecah. Bahkan mereka tidak tahu siapa diantara mereka yang merupakan kepribadian asli dan siapa yang bukan. Yang mereka ketahui adalah, alter ego mereka sudah berada di sana sejak mereka bisa mengingat.

"Cepatlah, Echo!" desak Zwei. "Aku sudah gatal ingin keluar dari sini!"

"Kau kira membobol kunci itu mudah? Coba kau yang melakukannya, Zwei!" gumam Echo yang sedang mengontrol tubuh mereka. Gadis itu menggigil sedikit ketika angin malam membelai bagian tubuhnya yang tidak terlindungi oleh pakaiannya.

Terdengar suara ceklikan samar ketika gerendel kandang itu terbuka. Echo melangkah keluar dari tempat yang sudah mengungkungnya selama ini.

"Oke, kau bisa mengambil alih sekarang, Zwei!" bisik Echo.

"Dengan senang hati!" jawab Zwei dengan riang. Gadis itu menutup kedua kelopak matanya dan tubuhnya mengejang sebentar selagi mereka berganti posisi.

Zwei membuka matanya dan menarik nafas dalam-dalam. "Ah, sudah lama aku tidak merasakan lembutnya rumput di bawah kedua kakiku!" pekiknya riang.

"Zwei, berhenti berteriak dan bersikap puitis kalau kau tidak mau kita tertangkap!" kata Echo datar di dalam pikiran Zwei.

"Iya! Iya! Aku tahu!" kata Zwei dengan tidak sabar. Dengan riang, dia berlari-lari kecil meninggalkan tempat mereka menghabiskan tiga tahun terakhir mereka. Kedua kakinya melangkah dengan lincah sementara dia berlari melewati rumah-rumah yang gelap. Tidak perlu waktu lama baginya untuk mencapai gerbang desa, tempat dia berhenti berlari untuk mengatur nafasnya.

"Zwei? Aku punya pertanyaan," bisik Echo di dalam pikiran Zwei.

"Memangnya apa yang kau ingin tanyakan?" kata Zwei. "Cepatlah!"

"Kita akan kemana? Kita sama sekali tidak punya tujuan!"

Untuk pertama kalinya, Zwei tidak bisa menjawab pertanyaan Echo.

.

"Zwei? Kenapa kau membawa kita berdua ke sini?" tanya Echo.

"Hanya ingin bernostalgia saja. Kita tidak pernah kesini lagi sejak Reo hilang, kan?" jawab Zwei santai.

"Memangnya apa yang mau kau lihat di sini?" tanya Echo lagi. "Lautan abu? Tidak banyak yang bisa dilihat di sini! Dan jujur saja, pemandangan ini membuatku gelisah, terlalu membawa kenangan buruk!"

"Mmmm?" gumam Zwei tidak jelas. Jujur saja, tempat ini juga membuatnya gelisah, tetapi dia tidak akan membiarkan alter egonya mengetahuinya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa ada di sini, dia hanya mengikuti kemana kedua kakinya membawanya tadi. Dia berlutut di atas hamparan abu yang dulu adalah markas mereka dan mulai mengorek-ngorek abu yang sudah lumayan mengeras itu.

"Zwei! Apa yang kau lakukan!" seru Echo di dalam pikiran Zwei.

"Mencari sesuatu yang masih bisa diselamatkan. Mungkin ada sesuatu yang tidak ditemukan oleh Sharon dan Break," gumam Zwei. Dia bangkit berdiri dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan abu yang menempel.

"Aku ragu kau akan menemukan apapun di sini. Omong-omong, jangan lupa cuci tangan nanti!"

"Lihat saja nanti, Echo!" kata Zwei. Dia menatap lingkungan di sekelilingnya dan mendecakkan lidahnya.

"Sebenarnya para pemadam kebakaran itu ngapain saja sih?" siulnya. "Aku bertaruh api sudah melalap seluruh blok sebelum mereka bisa memadamkannya!"

"Tampaknya mereka menikmati waktu mereka. Lagipula, daerah ini kan tidak berpenghuni," sahut Echo.

"Berpenghuni sebelum kita terpaksa pergi dari sini!" bantah Zwei. Dia berjalan beberapa langkah sebelum kembali berlutut dan menggali dengan menggunakan kedua tangannya.

"Aku bertaruh kau tidak akan menemukan apa-apa di sana!" kata Echo dengan nada datar.

"Siapa bilang? Ini tempat kita menaruh kotak-kotak kita dulu, kan? Aku bertaruh aku akan menemukan sesuatu!" kata Zwei bersemangat.

"Oke. Apa taruhannya?"

"Kalau kau kalah, kau harus mencium Reo!"

"Dan kalau aku menang?"

"Aku akan mencium Gil! Bagaimana?" tantang Zwei.

"Kuterima!"

"Kupegang kata-katamu! Aku akan mulai mencari sekarang!" Zwei menggali dengan semangat yang semakin meningkat.

"Kau tidak akan menemukan apa-apa, Zwei!"

"Kau salah besar, Echo!" Zwei mengangkat tangannya yang menggenggam sesuatu dengan penuh kemenangan. "Aku menemukan sesuatu!"

Zwei meniup benda itu dengan pelan untuk menyingkirkan lapisan abu yang menempel dan menyingkirkan sisanya dengan menggunakan tangannya. Cahaya matahari memantul dari bawah lapisan tipis abu yang tidak berhasil disingkirkan oleh Zwei.

"Kacamata Reim!" Zwei bersiul dengan kagum. "Sama sekali tidak ada kerusakan! Break pasti senang! Kau kalah, Echo!"

Zwei menyeringai girang ketika dia mendengar Echo menggerutu di dalam kepalanya. Dia meletakkan kacamata Reim di sampingnya dan kembali menggali. "Mari kita lihat apa lagi yang bisa aku temukan!"

.

Kabar hilangnya Zwei menyebar dengan cepat di rumah kos Reinhart, dan dalam waktu kurang dari lima belas menit, semua orang, termasuk Gil, Reo, dan beberapa anggota Reinhart yang lain, sudah berkumpul di ruang makan untuk mendiskusikan hal ini.

"Pertanyaannya adalah, apakah kita harus mencarinya atau tidak?" tanya Oz untuk yang entah keberapa kalinya.

"Kurasa kita tidak perlu mencarinya," kata Miranda. "Zwei sendiri yang bilang kalau kita tidak usah mencarinya. Benar kan?"

"Tapi terlalu berbahaya untuk keluar seorang diri sekarang!" kata Sharon. "Setiap kali salah satu dari kita pergi seorang diri tanpa memberitahu yang lain, pasti sesuatu yang buruk terjadi!"

"Sharon benar! Terlalu berbahaya untuk pergi keluar seorang diri, apalagi sekarang!" Elliot menyetujui.

"Tapi walaupun kita memutuskan untuk mencarinya, kita tidak tahu dia ada dimana sekarang, kan?" kata Alice.

Tiba-tiba Reo bangkit berdiri, menarik perhatian teman-temannya. Dengan nada panik, dia berkata, "Kita harus mencarinya! Aku baru ingat sesuatu yang dikatakan oleh si tikus dulu!" Sejak tadi pagi, nama Vincent dilarang diucapkan oleh sebuah perjanjian tidak tertulis.

"Apa yang dikatakannya?" tanya Break ingin tahu.

"Mereka akan mengincar Echo setelah aku!"

.

"Apa kita perlu mengembalikannya, Echo?"

"Kurasa tidak. Dia pasti akan marah kalau kita memberikannya dalam keadaan seperti itu!"

Zwei melempar buku setengah terbakar yang dipegangnya dan kembali mencari. Echo benar, Reo hanya akan mengamuk kalau mereka memberikan buku itu kepadanya. Lagipula, dengan banyaknya buku di tempat mereka tinggal, sepertinya Reo sudah melupakan buku-buku yang sebelumnya dimilikinya.

"Kurasa aku sudah tidak bisa menemukan apa-apa lagi," gumam Zwei setelah lima menit berlalu dan dia tidak berhasil menemukan apa-apa lagi. Selain kacamata milik Reim, dia juga menemukan beberapa benda lain, seperti sisir milik Sharon dan beberapa lembar kertas skor milik Elliot yang entah bagaimana selamat dari amukan si jago merah walaupun kertas-kertas itu disimpan di sebelah buku-buku milik Reo.

"Sudah semua? Kita bisa pulang sekarang?"

"Kurasa iya,"Zwei bangkit berdiri. Dia memperhatikan tangannya yang diselimuti oleh abu, "Kau punya air, Echo? Tanganku kotor!"

"Kalau kau tidak punya, tentu saja aku juga tidak!"

"Aku tahu! Geez, kau memang tidak bisa diajak bercanda, ya?" ledek Zwei.

"Bukannya aku tidak bisa diajak bercanda, tapi aku hanya bersikap realistis, itu saja!"

Gadis itu tertawa kecil ketika dia mendengar bantahan Echo. Dia meraup benda-benda yang telah ditemukannya dan memasukkanya ke dalam tas kain milik Ada yang sedikit hangus. Gadis itu mengetahui kalau tas itu milik Ada karena dia menemukan tas itu di dalam kotak milik Ada. Dia bertanya-tanya sejak kapan Ada memiliki tas itu, karena dia tidak pernah melihat gadis itu memakainya.

Zwei menyelempangkan tas itu ke bahunya dan mulai berjalan meninggalkan tempat markas mereka dulu berdiri.

.

Panik. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan di dalam ruang makan.

"Kita harus mencarinya! Aku tidak ingin ada anggota Pandora lain yang jatuh ke tangan Dark sabrie!" seru Ada.

"Aku setuju dengan Ada! Kita harus mencarinya!" dukung Reo.

"Masalahnya, kita tidak tahu dimana dia berada sekarang!" kata Aire.

"Zwei mempunyai chain! Kita bisa melacaknya dengan mudah!" kata Break.

"Tapi…"

BRAAKK

Seseorang menggebrak meja dengan keras, membuat mereka semua terdiam karena kaget.

"Kalian semua, DIAM!" perintah Oz.

Ruang makan berubah menjadi sunyi ketika semua orang di sana mengunci mulut mereka. Oz bisa berubah menjadi menyeramkan kalau dia sedang marah.

Oz menghela nafas lega, "Bagus! Kita tidak akan kemana-mana kalau kita ribut seperti ini terus, paham?" Semua orang mengangguk.

"Sharon, chain milikmulah yang paling bisa diandalkan untuk mencari chain yang lain. Kau bisa melacak Doldam dengan menggunakan Eques?" tanya Oz kepada Sharon.

Sharon mempertimbangkan pertanyaan itu selama sesaat. "Ini cukup sulit. Kalau Zwei tidak menggunakan Doldam, aku tidak yakin aku bisa menemukannya. Tapi, aku akan mencoba!"

"Baiklah! Sekarang, kita hanya bisa menunggu!" kata Oz.

"Kita tidak mencarinya sendiri?" tanya Gil.

Oz menggeleng, "Tidak kalau kita belum tahu dimana dia berada. Aku tidak ingin kita terpencar dan disergap oleh Dark Sabrie seperti Jack dan Alyss dulu! Tidak boleh ada yang jatuh ke tangan mereka lagi!"

Suara deringan telepon membuat mereka semua terlonjak kaget.

"Biar aku saja!" Alice yang duduk paling dekat dengan telepon menawarkan. Dia bangkit berdiri dan mengangkat gagang telepon yang terpasang di dinding ruang makan.

"Halo?

.

"Serius, Zwei?"

"Aku cukup yakin kalau kita lewat sini tadi. Cukup… yakin…"

Zwei mendengar Echo mengerang di dalam kepalanya, "Aku tidak percaya kau membuat kita berdua tersesat!"

"Aku tidak tersesat! Aku hanya kehilangan arah!" kata Zwei untuk membela dirinya sendiri. Gadis itu sudah berputar-putar di daerah yang sama selama sekitar lima belas menit terakhir dan kini dia berada di sebuah kawasan pertokoan yang cukup ramai. Dia maupun Echo sama sekali tidak mengingat jalan untuk kembali ke rumah kos. Mereka berdua tidak terlalu familiar dengan bagian kota yang ini.

"Tersesat dan kehilangan arah itu hal yang sama!"

"Menurutku berbeda!" bantah Zwei. Zwei bersumpah dia bisa mendengar suara benturan antara kepala Echo dan dinding. Tunggu, memang di tempat Echo berada sekarang ada dinding? Seingat Zwei tidak ada apa-apa di sana.

"Baiklah! Kita tersesat, puas?" dengusnya. " Jadi, berhenti membenturkan kepalamu ke dinding seperti itu!"

"Memangnya di sini ada dinding?"

Zwei mengangkat bahunya, "Mungkin? Soalnya aku mendengar suara benturan tadi."

"Kau hanya membayangkannya saja!"

"Terserah! Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kau punya koin? Kalau ya, di sana ada telepon umum. Kita bisa menelpon rumah, aku hafal nomornya," saran Echo.

Zwei berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ide yang bagus, masalahnya aku tidak punya koin. Tetapi, tempat ini cukup ramai. Aku yakin aku bisa mencopet seseorang untuk beberapa keping koin!"

"Zwei? Kau yakin?" tanya Echo dengan nada ragu.

"Aku yakin seratus persen!" kata Zwei dengan penuh percaya diri. "Beri aku waktu lima menit!"

"Baiklah. Tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau kita tertangkap!" Echo memperingatkan.

"Kau saja yang tidak pernah mencopet, Echo! Ini semudah membalikkan telapak tangan!"

"Ingat, pilih-pilih korbanmu!"

"Tenang saja, aku tidak akan mencopet dari sesama street child, kok!" kata Zwei menenangkan. Dia memutar lehernya, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan yang cukup lebar, mencari mangsa. Akhirnya, pilihannya jatuh kepada seorang wanita muda berpakaian mencolok yang tampak cukup kaya. Tentunya dia tidak akan keberatan kehilangan beberapa keping koin, kan?

Lima menit kemudian, dompet wanita itu menjadi sedikit lebih ringan setelah Zwei mencopet lima keping koin dari situ. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, Zwei memasukkan tangannya yang menggenggam koin-koin itu ke dalam saku celananya dan melangkah dengan santai menuju boks telepon sambil bersiul kecil. Penyamaran yang sempurna.

Zwei memasuki boks telepon itu dan mengangkat gagang telepon kemudian memasukkan tiga keping koin ke dalam lubang koin. Dia menekan tombol-tombol angka yang disebutkan oleh Echo dan menunggu selagi nada sambung terdengar dari gagang telepon itu.

Tidak butuh lama sebelum telepon diangkat di ujung lainnya. "Halo?"

"Alice?" tanya Zwei.

"Zwei? Itu benar-benar kau?" tanya Alice dari seberang sana.

"Yup!"

"Kemana saja kau?" teriakan Alice cukup untuk mengagetkan Zwei hingga dia hampir menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya.

"Erm, jalan-jalan?" jawab Zwei dengan ragu-ragu.

"Jalan-jalan? Yang benar saja! Semua orang di sini panik karena kau! Mereka mengira kau ditangkap oleh Dark Sabrie, dan kau bilang kau hanya jalan-jalan?" Zwei mengernyit ketika teriakan Alice yang bernada cukup tinggi mulai membuat telinganya sakit. Samar-samar, dia mendengar seseorang berbicara dengan Alice di ujung sana. Terdengar suara kuku beradu dengan plastik ketika gagang telepon satunya lagi berpindah tangan.

"Zwei?" terdengar suara Oz di telinga Zwei.

"Yup!"

"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada panik.

"Aku dan Echo tidak apa-apa, tenang saja!"

"Syukurlah kau tidak apa-apa!" kata Oz dengan nada lega. "Semua orang panik ketika kau menghilang, untunglah kau tidak apa-apa! Kau ada dimana sekarang?"

"Aku tidak tahu. Bisa dibilang aku sedikit tersesat," Zwei mengakui dengan malu.

"Jadi itu sebabnya kau menelpon? Sebentar, aku panggil Ann dulu!" Terdengar suara ribut ketika telepon kembali berpindah tangan. Zwei menyandarkan punggungnya ke dinding boks yang terbuat dari kaca sementara dia menunggu.

"Halo?"

"Ann?"

"Yup! Bisa kau jelaskan dimana kau berada sekarang?" tanya Ann.

"Hmm, tunggu sebentar. Aku berada di sebuah pertokoan yang cukup ramai. Toko-toko disini kebanyakan menjual pakaian, walaupun ada beberapa yang menjual makanan, sih. Boks telepon yang kupakai berada di depan sebuah toko bernama Altair's Collections," Zwei mendeskripsikan tempat dia berada.

"Apa ada taman di dekat sana? Taman dengan sebuah air mancur berbentuk ikan?" tanya Ann.

Zwei kembali memperhatikan sekelilingnya dan melihat taman yang Ann maksud, "Yup!"

"Baiklah! Sebenarnya kau tidak terlalu jauh dari sini! Sekarang, kau harus berjalan lurus ke arah taman, kemudian belok kanan di perempatan…"

Sadar kalau dirinya tidak mungkin menghafal petunjuk Ann dalam waktu singkat, Zwei membiarkan Echo menghafal petunjuk arah yang diberikan oleh Ann sementara dirinya memperhatikan orang-orang yang lewat melalui dinding kaca boks telepon mereka.

Dua orang anak laki-laki berumur sekitar lima dan tujuh tahun berlari melewati boks telepon mereka sambil tertawa dengan riang. Beberapa langkah di belakang mereka berdua, orangtua mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka berdua tersenyum ketika melihat tingkah laku anak-anak mereka.

Zwei memperhatikan keluarga itu dengan sedikit iri. Dia ingin memiliki keluarga seperti itu. Dia nyaris tidak bisa mengingat lagi wajah ayah dan ibunya yang dibunuh oleh bandit secara brutal di depan matanya sendiri ketika dia berumur dua tahun. Memang, dia sudah menganggap teman-temannya sebagai keluarganya. Tetapi, kadang-kadang dia ingin merasakan kehangatan keluarga yang asli, dengan ayah dan ibu yang menyayanginya.

Orang yang berikutnya lewat adalah seorang remaja berambut gelap yang membawa banyak tas belanjaan. Dia tampak kerepotan membawanya. "Salah sendiri dia berbelanja sebanyak itu!" pikir Zwei.

Yang lewat berikutnya adalah sepasang kekasih. Kedua tangan mereka tertaut dengan erat sementara mereka berdua berbagi permen kapas. Yang berikutnya adalah seorang anak laki-laki berambut pirang sepunggung yang…

Zwei menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya dan cepat-cepat keluar dari boks telepon itu.

"Zwei! Apa yang kau lakukan?" tanya Echo kesal. "Aku belum selesai meng… Zwei! Jangan bodoh! Kau tidak bersenjata!"

"Tidak masalah!" seru Zwei. "Tinjuku sudah cukup untuk orang sepertinya!"

.

"Halo? Zwei? Echo? Halo? Hey! Kau masih di sana?" Ann berusaha memanggil Zwei kembali.

"Kenapa, Ann?" tanya Oz yang berada di belakangnya. "Putus?"

"Tidak, aku tidak mendengar dengungan yang menandakan kalau sambungan sudah putus. Sepertinya teleponnya masih tersambung, tapi aku tidak bisa mendengar suaranya lagi," Ann menjelaskan.

"Berarti dia masih di sana!" kata Sharon.

"Atau dia menjatuhkan teleponnya," Elliot menambahkan.

"Sepertinya Elliot benar, aku sempat mendengar suara berisik sebelum suara Zwei menghilang!" kata Ann. Dia meletakkan gagang telepon itu berjalan kembali ke tempat duduknya. Yang lain masih duduk di tempatnya masing-masing.

"Ada dua kemungkinan kenapa Zwei menjatuhkan gagang teleponnya," kata Elliot. "Pertama, dia disergap oleh Dark Sabrie."

"Kurasa dia tidak disergap," kata Ann. "Aku memang mendengar suara berisik tadi, tapi suara itu tidak seperti suara orang berkelahi!"

"Kemungkinan kedua, dia melihat seseorang dan bergegas untuk bersembunyi. Atau, karena ini Zwei yang kita bicarakan, mengejarnya," tambah Elliot.

"Siapa kira-kira yang orang yang dikejar oleh Zwei?" tanya Oz. "Siapa yang membuat Zwei buru-buru mengejarnya dan tidak mengatakan apapun kepada kita?"

Mereka memandang satu sama lain, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Oz. Dalam sekejap, mereka tahu siapa orang itu.

"Si Tikus Got!"

.

Zwei sudah mengikuti Vincent selama kurang lebih lima belas menit. Anak laki-laki itu terus berjalan dari satu jalan ke jalan yang lain tanpa menoleh. Zwei sama sekali tidak tahu dimana dia berada sekarang.

"Sebenarnya dia mau kemana, sih?" gerutu Zwei. Dia menyentuh lengan baju kanannya untuk memastikan pisaunya, satu-satunya senjata yang dia miliki saat ini, berada di sana dan siap untuk dipakai.

Tiba-tiba, Vincent berbelok menuju sebuah jalan yang sepi. Zwei menunggu sepuluh detik sebelum mengikutinya. Sekilas, ia melihat kibaran rambut pirang Vincent sebelum anak laki-laki itu berbelok ke arah sebuah gang.

"Zwei? Kusarankan agar kau melupakan dia! Kita hanya bersenjatakan sebilah pisau sementara dia memiliki dua chain!"

"Aku tahu, Echo!" gumam Zwei. "Tapi kita tidak tahu kapan kesempatan ini akan kembali datang!"

"Pasti ada kesempatan lain! Kita sama sekali tidak siap sekarang!" balas Echo. "Jangan bodoh, Zwei! Berbalik sekarang juga!"

"Aku tidak mau!" gumam Zwei dengan nada meninggi. "Jangan jadi pengecut, Echo!"

"Aku bukan pengecut!"

"Kalau begitu, diam!" geram Zwei.

Sepuluh menit kemudian, Zwei masih terus membuntuti Vincent. Anak laki-laki itu terus berjalan melewati gang ke bagian kota yang sepi tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.

"Mungkin kembali ke markas Clockwork? Bagus! Setidaknya aku akan tahu dimana markas rahasia mereka berada!" pikir Zwei dengan senang.

Vincent kembali berbelok ke sebuah gang, membuat Zwei mengerang pelan. Ini sudah belokan yang entah keberapa. Zwei ragu dia akan menemukan jalan pulang nanti. Dengan tidak sabar, Zwei mengikuti Vincent setelah menunggu beberapa saat dan berhenti di mulut gang ketika dia mendapati kalau gang itu kosong.

"Aaargh!" pekik Zwei frustasi. "Kemana lagi dia?"

"Kau kehilangan dia, Zwei?" tanya Echo.

"Kau pikir? Ugh, padahal sebentar lagi aku akan bisa mencongkel matanya keluar!" geram Zwei.

Suara tawa terdengar oleh telinga Zwei yang tajam. Dalam sekejap, pisau Zwei sudah berada di tangannya. "Siapa disana!" teriaknya.

"Wah, rupanya kau sangat ingin balas dendam, ya? Sampai kau ingin mencongkel mataku! Ckckck, tidak kusangka kau sesadis itu, Zwei!"

Zwei memutar tubuhnya dan mendongak. Seorang anak laki-laki sedang berdiri di atas atap rendah sebuah bangunan. Rambut pirangnya berkibar terkena angin sementara kedua matanya yang berbeda warna menatap Zwei dengan dingin. Sebuah pistol berada di tangannya.

"Vincent!" desis Zwei dengan marah.

"Halo juga, Zwei!"

TBC

A/N:

Mengubah kebiasaan itu susah ya?

Yap, dua hari lagi Aoife masuk sekolah lagi. Tapi tenang, seluruh chapter di Arc 5 udah selesai Aoife ketik dan akan Aoife update seminggu sekali :) Tahu gak, Aoife sampe dimarahin ortu karena main laptop terus *pundung

So, RnR guys?