Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 24: Synchronicity

Mereka semua telah pergi. Seluruh penduduk desa kecuali mereka, telah pergi…

Desa yang mereka kenal, kini sudah rata dengan tanah.

Zwei berjalan dengan terseok-seok di atas hamparan abu yang tadinya adalah desa mereka. Hanya ada beberapa bangunan yang masih berdiri, itupun sudah tidak layak huni lagi. Mayat-mayat penduduk desa bergelimpangan di atas hamparan abu itu, beberapa hangus terbakar, yang lain mati karena ditikam atau digorok, darah mereka kini mengotori tanah berselimut abu di sekeliling mereka. Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, para penjagal dari desa lawan itu sama sekali tidak pilih-pilih korban. Mereka membunuh siapapun yang mereka temui.

Dia dan Echo berhasil selamat dengan berpura-pura sudah mati ketika pembantaian itu terjadi. Untung saja para pembantai itu berhasil dia kelabui, kalau tidak tubuhnya pasti sekarang berada di antara mayat-mayat itu.

Zwei nyaris tersandung salah satu mayat yang tidak dilihatnya. Mayat itu berada di dalam posisi tertelungkup. Darah masih merembes dari luka gorok di lehernya, menggenangi tanah di sekelilingnya.

Dengan tangan yang gemetar, dia membalikkan tubuh mayat itu untuk melihat wajahnya. Dengan mual, dia menyadari kalau itu adalah mayat bibinya yang merawatnya setelah orangtuanya meninggal

Zwei tidak tahan lagi. Tidak ingin menajiskan tempat tubuh bibinya berada, Zwei berlari menuju sebuah pohon yang masih berdiri dan muntah. Setelah dia selesai, bau asap, mayat yang terbakar dan darah kembali membuatnya muntah.

"Zwei? Kau baik-baik saja?" suara khawatir milik Echo terdengar di dalam kepalanya.

Zwei tidak repot-repot menjawab pertanyaan Echo. Dia duduk di bawah pohon itu, memeluk lututnya yang bergetar.

"Kenapa ini harus terjadi?" bisiknya. Tanpa dia sadari air mata mulai menurni pipinya. "Kenapa mereka harus mati?"

Memang benar, orang-orang desalah yang mencapnya gila dan mengurungnya. Tapi hanya itu. Selain itu, mereka bersikap baik kepadanya, memberinya makan dengan baik, mengobrol dengannya, bahkan kadang-kadang dia diizinkan untuk keluar dari penjaranya untuk menikmati udara segar. Tidak, para penduduk desa sama sekali bukan orang-orang jahat!

"Kenapa, Echo? Kenapa orang-orang itu ingin menghancurkan desa kita?" isak Zwei.

"Karena hanya manusialah yang bisa membunuh tanpa alasan," jawab Echo. "Setidaknya, itulah yang pernah kudengar." Zwei mendengus ketika mendengar jawaban Echo.

"Bagaimana kau bisa setenang itu, Echo?" tanya Zwei iri.

"Kalau kau mau menyempatkan diri ke sini, kau akan melihat kalau aku juga sedang menangis!"

Zwei memejamkan matanya untuk melihat Echo. Benar saja. Di satu-satunya tempat mereka bisa melihat satu sama lain, dia melihat Echo sedang menangis. Seperti Zwei, dia juga duduk sambil memeluk lututnya. Echo juga bisa melihat melalui mata Zwei, jadi Zwei tidak perlu menceritakan apa yang telah dilihatnya.

"Kejadian sembilan tahun lalu terulang lagi…" gumam Zwei. Yang dia maksud adalah malam ketika orangtua mereka terbunuh. Echo mengangguk mengiyakan.

"Aku tidak tahu kenapa orang-orang itu menghancurkan desa kita, Zwei," bisik Echo. "Tapi kita selamat, dan kita harus mensyukuri itu."

"Tapi, kita harus kemana?" tanya Zwei. "Kita tidak mungkin tinggal disini lagi, kan?"

"Aku juga tidak tahu," Echo mengakui. "Tetapi, dimanapun lebih baik daripada di sini."

"Kalau begitu, kuserahkan kendali kepadamu," kata Zwei.

Echo membuka matanya dan bangkit berdiri. Untuk pertama kalinya, dia melihat pembantaian di depannya secara langsung. Dengan menggunakan punggung tangannya, dia menghapus air mata yang masih membasahi pipinya.

"Kalau saja kita benar-benar kabur dulu, mungkin kita tidak perlu melihat ini," gumamnya pelan. "Tapi, sudah terlambat sekarang.

Dengan langkah mantap dan tanpa menoleh ke belakang, Echo melangkah meninggalkan satu-satunya tempat yang dia ketahui.

.

Zwei mengelak ke samping ketika peluru itu berdesing ke arahnya. Peluru itu nyaris mengenai tangan kanannya. Vincent sama sekali tidak buang-buang waktu, dia segera menembakkan pistolnya setelah dia menyapa Zwei.

Tembakan kedua mengarah ke kedua kaki Zwei, menyebabkan gadis itu terpaksa melompat untuk menghindarinya. Peluru itu mengenai dinding rumah yang ada dibelakangnya dan menembusnya. Zwei benar-benar berharap rumah itu tidak berpenghuni. Dia tidak ingin ada orang tak berdosa yang menjadi korban.

"Zwei! Awas!" Echo yang juga bisa melihat dari mata Zwei memperingatkan.

Peringatan Echo membuat Zwei kembali fokus. Dia segera tiarap untuk menghindari peluru yang sekarang mengarah ke kepalanya.

"Gila! Kau benar-benar berniat untuk membunuhku rupanya!" seru Zwei sementara dia kembali mengelak dari peluru keempat yang ditembakkan Vincent.

"Well, kau sendiri berniat untuk mencongkel bola mataku, kan?" Vincent menjawab dengan santai.

Zwei menggertakkan giginya dengan kesal. "Echo, menurutmu berapa peluru yang bisa ditembakkan oleh pistol itu?" bisiknya.

"Sepertinya enam. Apa yang kau rencanakan?"

"Aku akan menyerangnya ketika dia kehabisan peluru," kata Zwei pendek. "Dia perlu waktu untuk kembali mengisi kembali pistolnya, pada saat itu aku akan menyerang!"

Dia kembali melompat untuk menghindari peluru lain. "Nah, itu peluru kelima!"

"Good luck!"

Zwei berguling ke samping untuk menghindari peluru keenam yang ditembakkan oleh Vincent. Dalam waktu singkat, dia sudah berada di dalam posisi berjongkok, pisau siap di tangan kirinya. Gadis itu mengambil ancang-ancang untuk melompat ke atap.

Tapi dia sama sekali tidak menduga akan kedatangan peluru ketujuh.

Zwei merasakan ledakan rasa sakit di tangan kirinya ketika timah panas itu menembus kulitnya. Cipratan darah tercipta di dinding dan tanah di belakangnya. Menjerit kesakitan, dia menjatuhkan pisaunya dan kembali berguling di atas tanah, kali ini karena kesakitan. Untung saja, sebab peluru kedelapan telah tertanam di tanah tempat gadis itu berada sedetik sebelumnya.

Samar-samar, Zwei bisa melihat dua pistol yang berada di kedua tangan Vincent. Anak laki-laki itu menjatuhkan pistol di tangan kanannya dan memindahkan pistol di tangan kirinya ke tangan kanannya.

"Sial, dia membaca rencanaku! Kapan dia mengeluarkan pistol itu?" pikir Zwei geram. "Dan sejak kapan kemampuan menembaknya meningkat? Dia nyaris tidak bisa mengenai titik tengah papan sasaran terakhir kali kami berlatih! Apa itu hanya pura-pura agar kami tidak mengetahui kemampuan sebenarnya?"

"Zwei?" panggil Echo.

"Ada apa Echo?" gumam Zwei yang sekarang sudah kembali berjongkok. Dengan tangan kanannya yang canggung, dia berusa mencari pisau yang tadi dijatuhkannya. "Kau lihat, aku sedikit sibuk disini!"

"Tukar tempat!"

"Tapi…" Zwei mulai memprotes.

"Pertarungan dengan senjata sama sekali bukan keahlianmu! Lagipula, kau tidak bisa menggunakan tangan kirimu, kan?" kata Echo.

"Kita butuh waktu untuk bertukar tempat!"

"Kita hanya butuh sedetik! Lakukan sekarang!"

"Baiklah! Tetapi kalau kita mati, aku menyalahkanmu!" gumam Zwei sebelum dia menutup matanya untuk bertukar tempat dengan Echo.

"Apa yang kau lakukan, Zwei?" teriak Vincent dengan nada mengejek. "Kau sudah menyerah?"

Echo membuka kedua matanya dan menyambar pisau yang tadi dijatuhkan oleh Zwei dengan tangan kanannya yang lebih dominan. Detik berikutnya, dia sudah melompat ke atas atap dan berdiri di belakang Vincent,

"Aku belum menyerah," kata Echo dengan nada monoton. "Mungkin ini saatnya untuk menyamakan angka."

Vincent menoleh ke belakang, sebuah seringai terbentuk di bibirnya. "Oh, halo Echo! Apa Reo sudah memberitahumu kalau kaulah yang akan kami incar berikutnya?"

"Belum," Echo mengakui.

"Apa itu sebabnya yang lain panik ketika mereka tahu aku dan Zwei pergi?" pikirnya bingung.

"Sayang sekali. Kalau saja kau mengetahuinya, mungkin kau akan lebih berhati-hati dengan tidak mengejarku!" kata Vincent.

"Aku tidak peduli!" ujar Echo. Dia menghunuskan pisaunya kepada Vincent.

"Zwei ingin balas dendam kepadamu. Sebagai alter egonya, aku akan melakukannya untuknya!" seru gadis itu.

"Oya?" tantang Vincent. "Kita lihat saja nanti!"

Vincent mengangkat pistolnya dan menembakkan sebuah peluru ke arah kepala Echo. Tapi gadis itu sudah siap. Dia menjatuhkan dirinya ke belakang sebelum peluru itu menembus tubuhnya.

Tawa mengejek keluar dari mulut Vincent, "Kau hanya bisa menghindar, ya? Padahal aku mengharapkan lebih darimu!"

Yang tidak Vincent ketahui adalah, Echo mengambil kesempatan itu untuk menyapu kaki Vincent dengan menggunakan kakinya. Anak laki-laki itu kehilangan keseimbangannya ketika tendangan Echo mengenai kedua tulang keringnya. Tidak bisa mempertahankan keseimbangannya di atas atap yang miring, Vincent jatuh dengan keras ke atas tanah.

Dengan cepat, Echo melompat ke bawah dan memiting Vincent sebelum anak laki-laki itu sempat melakukan apa-apa. Echo menempelkan mata pisaunya ke leher Vincent.

"Satu gerakan, dan pisau ini akan memenggal lehermu," ancam Echo, masih dengan nada monoton. "Sekarang, lepaskan pistolmu!"

Vincent menuruti perintah Echo dan melepaskan pistolnya. "Baiklah, kurasa aku tidak punya pilihan lain! Omong-omong, kau lumayan berat, ya?"

"Ejekan tentang berat badan sama sekali tidak mempan untukku," kata Echo datar. Dia memberikan sedikit tekanan kepada pisaunya, meninggalkan satu garis merah tipis di leher Vincent.

"Kata-kata terakhir?" tanyanya.

"Kuakui kau memang hebat dalam pertempuran langsung, Echo!" puji Vincent. "Tapi kau punya satu kelemahan!"

Sesuatu mencengkram bahu Echo dan merengutnya dari Vincent. Sebelum dia sadari, tubuhnya telah membentur dinding dengan sangat keras, memaksa udara meninggalkan paru-parunya. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Dia berharap tidak ada tulangnya yang patah karena benturan itu.

"Kau sama sekali tidak punya harapan dalam menghadapi chain!" seru Vincent dengan girang.

.

"Belum ada kabar, Sharon?" tanya Alice dengan sedikit cemas.

Sharon menggelengkan kepalanya. Selama satu jam terakhir dia berusaha untuk mencari Doldam dengan menggunakan Eques, tapi dia belum menemukan chain itu baik di Abyss maupun di dunia mereka.

"Zwei tidak menggunakan Doldam, jadi Eques tidak bisa mencarinya di dunia kita. Dia terpaksa mencari di Abyss. Dengan luasnya Abyss dan banyaknya chain yang berada di sana, ini akan memakan cukup banyak waktu!" kata Sharon sambil menggigiti kuku jarinya, hal yang hanya dilakukannya kalau dia sedang cemas.

"Mungkin pertanyaan ini tidak relevan, tetapi aku selalu ingin tahu ada berapa banyak chain yang berada di Abyss," kata Gil.

Oz mengangkat bahunya, "Siapa yang tahu? Seratus? Seribu? Satu juta? Sebanyak manusia di bumi? Tidak ada yang tahu! Ingat, kita hanya bisa mengunjungi Abyss pada saat kita mengikat kontrak!"

"Oz! Jangan membuat harapanku turun!" ujar Sharon. "Kalau chain di Abyss sebanyak itu, bagaimana Eques bisa menemukan Doldam? Kalau chainnya saja tidak bisa kita temukan, bagaimana kita bisa menemukan kontraktornya?"

"Maaf, Sharon!"

Semua orang kembali menunggu. Alice dan Ada mengistirahatkan kepala mereka di atas meja,mengetuk-ngetukkan jari mereka ke atas permukaan meja yang dipelitur dengan bosan. Oz, Gil, dan Will bercakap-cakap dengan suara pelan. Break sedang tidur-tiduran di atas lantai, menatap langit-langit ruang makan dengan pandangan nyalang. Reo membaca bukunya tanpa semangat sementara di sebelahnya Elliot menyetel biolanya tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang dilakukannya. Ann, Aire dan Esther kembali berada di atas lantai, merakit pistol-pistol baru dalam diam.

"Aargh!"

Semua orang terlonjak kaget ketika mereka mendengar teriakan kesal Sharon. Otomatis, mereka menghentikan apapun yang mereka lakukan dan menoleh ke arah Sharon.

"Ada apa, Sharon? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Oz kepada Sharon yang tampak kesal.

"Aku kesal! Tadi Eques sempat melihat Doldam, tetapi, coba tebak? Ketika Eques menghampirinya, Doldam menghilang begitu saja! Lenyap! Tak berbekas! Bagaimana aku tidak kesal!" kata Sharon dengan ketus.

"Kalau Doldam menghilang begitu saja, kemungkinan Zwei memanggilnya," kata Break. "Coba kau cari dia di dunia ini!"

"Bicara sih gampang, melakukannya yang susah!" erang Sharon. "Seseorang, buatkan aku teh atau apapun yang manis! Aku capek!" Berhubungan terus menerus dengan chainnya mulai menguras tenaga Sharon.

Ada bergegas melaksanakan permintaan Sharon. Untung saja dia hanya perlu waktu sebentar untuk memanaskan air di teko karena Sharon sudah memanaskannya terlebih dahulu satu jam yang lalu ketika dia membuat teh untuk mereka semua. Dengan cepat, Ada menuangkan air di dalam teko kedalam cangkir berisi daun teh dan gula yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Setelah mengaduk teh itu hingga kental, Ada memberikan cangkir itu kepada Sharon.

"Trims!" kata Sharon dengan penuh rasa syukur. Dia mulai menyesap teh yang dibuatkan oleh Ada selagi dia menunggu Eques memberikan kabar.

.

Echo mengumpat pelan, hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.

Chain berbentuk burung hitam yang cukup mirip dengan Raven itu masih mengejarnya. Echo menghabiskan setengah jam terakhir untuk melarikan diri dari chain itu sementara dia menunggu tubuhnya pulih kembali.

"Apa itu chain Vincent yang pertama?" pikir Echo. "Kekuatannya hampir sama dengan para Black Wings!" Black Wings adalah sebutan untuk lima chain yang dulu ikut menciptakan kotak Pandora.

"Setidaknya dia tidak menggunakan Dormouse. Kalau dia menggunakannya, pasti kita sudah jatuh tertidur sekarang," kata Zwei. "Mungkin dia terlalu sombong untuk menggunakannya!"

"Mau sombong atau bukan, tetap saja chain itu menyusahkan kita! Pundakku masih sakit karena cakar makhluk itu," batin Echo.

Echo merapatkan tubuhnya ke dinding yang berada di belakangnya, berharap bayangan akan melindunginya. Sambil mengernyit kesakitan, Echo meraba dada bagian kanannya. Echo sedikit meringis ketika jari-jarinya menyentuh tulang rusuknya tang patah.

Echo semakin merapatkan tubuhnya ke dinding ketika bayangan seekor burung berukuran raksasa menyelimuti tempat itu. Di punggung chain itu, Vincent berdiri dengan santainya. Echo baru tahu kalau kontraktor bisa menunggangi chainnya. Dia maupun Zwei tidak pernah mencoba menaiki Doldam sebelumnya.

Untungnya, atau justru ruginya, mereka berada di kawasan kota yang sudah ditinggalkan oleh penduduknya, jadi tidak ada yang melihat burung raksasa dengan seseorang di atasnya. Entah apa yang akan dikatakan orang kalau mereka melihat Vincent dan chainnya sekarang. Masalahnya, karena tidak ada yang melihat, Echo tidak bisa mengharapkan bantuan orang lain sekarang.

"Echo, kita harus tukar tempat," bisik Zwei.

"Kau yakin?" Echo balas berbisik.

"Ini bukan pertarungan senjata lagi, ini pertarungan chain! Kau tidak punya kesempatan untuk menang melawan makluk itu! Chain hanya bisa dikalahkan oleh chain, ingat?"

"Tentu saja aku ingat," gerutu Echo. "Masalahnya aku tidak yakin apakah Doldam bisa mengalahkan benda itu!"

"Kita lihat saja, Echo! Kita lihat saja!"

"Baiklah, tetapi kau terpaksa menggunakan tangan kanan. Tangan kiri sudah tidak bisa digunakan lagi," gumam Echo. Dia menutup kedua matanya dan membiarkan Zwei mengambil alih.

Dalam sekejap, wujud raksasa Doldam yang menyerupai tubuh perempuan setinggi tiga meter dengan mata tertutup kain muncul di belakang Zwei, kemunculannya menghancurkan beberapa rumah yang berada di belakang Zwei. Sekali lagi, Zwei bersyukur karena tempat itu sepi. Entah apa yang akan dikatakan oleh orang apabila mereka melihat Doldam. Invasi raksasa? Kadang-kadang, Zwei bertanya-tanya apakah chain memiliki kemampuan untuk menyesuaikan ukuran tubuh mereka dengan tempat mereka berada. Seingatnya, Doldam dan para Black Wings tidak berukuran sebesar sekarang ketika mereka bertarung di dalam markas Pandora dulu.

'Perintahmu?' suara dalam milik Doldam terdengar di dalam pikiran Zwei.

Zwei menunjuk burung hitam raksasa di atasnya dengan tangan kanannya. "Lumpuhkan dia!" perintah Zwei.

'Sesuai perintahmu, nona," jawab Doldam.

"Jangan panggil aku nona!" gerutu Zwei. Dia bisa mendengar suara tawa Doldam di dalam pikirannya, disusul oleh perkataan Echo.

"Chainmu memiliki selera humor yang payah, Zwei."

"Aku tahu itu," balas Zwei pendek. "Bisa diam sebentar? Satu suara orang lain di dalam kepalaku sudah cukup. Dua orang, parah!"

Doldam mengangkat kedua tangannya, telapak tangannya membuka ke arah Vincent dan chainnya. Dari tengah telapak tangannya, benang-benang setebal benang sulam dan sehalus sutra keluar. Benang-benang yang berjumlah cukup banyak itu melesat menuju chain Vincent yang masih mengangkasa. Mereka melilit sayap, cakar dan kepala chain itu, membuatnya tidak bisa bergerak.

"Gotcha! Kerja bagus, Doldam!" puji Zwei.

'Kau bisa mengandalkanku," kata Doldam. Benang-benang itu kembali masuk ke dalam telapak tangan Doldam, menyeret chain Vincent beserta kontraktornya bersama mereka.

"Bagus! Tarik dia mendekat, Doldam!"

'Kau kira apa yang sedang aku lakukan?' balas chain itu. Zwei mulai bersiap-siap untuk menyerang begitu Vincent sudah berada di jarak yang menguntungkan. Sayangnya, hal yang tidak dia duga sebelumnya terjadi.

Benang Doldam putus.

'Ba.. bagaimana bisa?' kata Doldam dengan terkejut. Dalam waktu singkat, keterkejutannya berubah menjadi kegusaran, 'Benangku tidak pernah putus!'

Dalam keterkejutannya karena melihat benang-benang Doldam yang sekarang menjuntai dengan tidak berguna di depan pemiliknya, Zwei terlambat menyadari kalau chain milik Vincent sudah menghilang. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan panik, mencari-cari si burung hitam raksasa dan pemiliknya.

"Zwei, Doldam!"

Zwei memutar tubuhnya tepat pada waktunya untuk melihat chain milik Vincent merobek punggung Doldam dengan paruhnya.

Rasa sakit yang amat sangat meledak di punggung Zwei ketika rasa sakit yang diderita Doldam sampai kepadanya dan dia merasakan punggungnya sendiri robek, membentuk sebuah luka yang serupa dengan yang diderita oleh Doldam. Rasanya seperti terkena sabetan sepuluh cambuk panas dalam waktu bersamaan. Zwei terjatuh ketika rasa sakitnya sudah tidak tertahankan. Jerit kesakitannya dikalahkan oleh lolongan Doldam yang memekakkan telinga.

Doldam menghilang, meninggalkan Zwei tanpa perlindungan. Dia terbaring dengan posisi menyamping di tanah, terengah-engah sementara kolam darah mulai terbentuk di sekelilingnya. Matanya melebar ketika dia melihat darahnya sendiri.

"Tidak…" rintihnya.

Walaupun mereka berusaha sebisa mungkin menyembunyikannya dari teman-teman mereka, baik Echo maupun Zwei benci melihat darah. Trauma itu dipicu oleh pengalaman-pengalaman mengerikan yang mereka alami ketika mereka masih kecil.

Di tengah rasa sakitnya, samar-samar dia bisa mendengarkan langkah-langkah kaki yang semakin mendekat, diikuti oleh decakan seseorang.

"Jangan kira benang-benang rapuh itu bisa mengalahkanku, Zwei! Doldam-mu tidak akan pernah mengalahkan Demios-ku!"

.

"Gotcha!" pekik Sharon girang.

"Kau menemukannya, Sharon?" tanya Reo penasaran. Sharon mengangguk.

"Aku menemukannya! Dia berada di daerah barat kota, yang sudah ditinggalkan itu!" jawabnya.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita harus segera kesana!" kata Elliot. "Senjata kalian semua sudah siap, kan?"

"Tunggu," kata Sharon tiba-tiba. "Eques baru saja bilang kalau Doldam bukan satu-satunya chain di sana. Dia tidak mengenalinya, tetapi itu bukan Dormouse!"

"Berarti itu chain kedua Vincent," kata Break. "Sebaiknya kita juga menyiagakan chain kita. Kita tidak tahu seberapa kuat chain ini."

"Eques bilang kekuatannya hanya beberapa tingkat di bawah para chain pembuat Kotak Pandora," kata Sharon. Dia menatap Gil dan Reo, "Kuharap chain kalian siap untuk bertempur."

"Kalau begitu, ayo!" kata Alice. "Bagian barat kota cukup jauh dari sini, dan kurasa kita tidak punya banyak waktu."

.

Dengan kakinya, Vincent membalik tubuh Zwei hingga gadis itu berada pada posisi telentang. Gadis itu merintih ketika punggungnya yang terluka mengenai tanah. Rintihan itu mengundang decakan lain dari Vincent.

"Masa begitu saja tidak kuat?" sindirnya.

"Sialan kau Vincent!" geram Zwei melalui giginya yang terkatup.

"Sebenarnya untuk apa kau mengikutiku tadi?" tanya Vincent dengan santai. Dia menahan Zwei tetap di tanah dengan menggunakan siku tangan kirinya, yang dia tekankan ke bahu kanan Zwei sementara dia memitingnya. "Padahal kalau kau tidak mengikutiku, mungkin aku tidak akan menyadari keberadaanmu."

"Oh, kau tidak perlu menjawabnya! Kau ingin balas dendam karena aku mengkhianati Pandora, benar kan?" lanjutnya dengan santai. Dia sama sekali tidak memberi Zwei kesempatan untuk berbicara.

"Padahal sebenarnya aku tidak mengkhianati kalian, lho! Aku sudah menjadi anggota Dark Sabrie sebelum aku masuk Pandora, jadi aku itu seorang mata-mata, bukan seorang pengkhianat. Nah, kalau Lily, dia baru pengkhianat. Dia dulu loyal kepada DS, kan? Setelah kematian Reim, barulah dia menjadi mata-mata kalian. Itu baru pengkhianat!" anak laki-laki itu menjelaskan dengan santainya.

"Bagiku, kau tetap pengkhianat!" geram Zwei. "Sekarang, lepaskan aku!"

"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tanya Vincent dengan polos.

"Dia benar-benar gila!" pikir Zwei. "Kenapa aku bisa menyukainya dulu?"

"Zwei?" panggil Echo.

"Apa?" balas Zwei di dalam hati.

"Pisau," kata Echo pendek.

Zwei baru menyadari kalau tangan kanannya masih memegang pisau miliknya. Dengan pelan agar Vincent tidak menyadarinya, Zwei mengeratkan genggamannya atas pisau itu. Sekarang, dia siap untuk beraksi.

Dengan cepat, dia menilai keadaan. Dia tidak terlalu terbiasa menggunakan tangan kanannya jadi dia tidak bisa melancarkan serangan yang fatal, dia harus bertukar tempat dengan Echo untuk melakukan itu. Dengan Vincent yang berada begitu dekat dengannya, bertukar tempat dengan Echo adalah hal yang mustahil. Tapi tidak masalah! Yang penting sekarang adalah menyingkirkan Vincent dari atas tubuhnya supaya dia bisa bangkit. Satu-satunya anggota tubuh Vincent yang bisa dia lukai sekarang adalah…

"Kehabisan kata-kata, Zwei? Tumben," sindir Vincent.

"Aku tidak kehabisan kata-kata, kok," kata Zwei. "Aku punya cukup banyak stok kata-kata yang akan membuat orang dewasa mencuci mulutku dengan satu kilo sabun."

"Benarkah? Kalau begitu, katakanlah kepadaku sekarang!" tantang Vincent. "Katakan saja!"

Zwei semakin mempererat genggamannya di sekitar gagang pisaunya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menyemburkan kata-katanya.

"Aku ingin mengatakan bahwa kau hanyalah tikus got pengkhianat dan pengecut berbau busuk dan sampah yang berani mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh saudaranya dan aku adalah seseorang yang bodoh karena menyukaimu!"

Secepat kilat, Zwei mengangkat pisaunya dan menusukkannya ke lengan atas tangan kiri Vincent.

.

Sementara itu, di tempat lain, Oz tersentak.

"Ini?" bisiknya terkejut.

"Ada apa, Oz?" tanya Break heran. Dia, Oz, Reo, Alice, Ada dan Sharon sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat Echo berada. Elliot dan Gil setuju untuk tetap tinggal untuk berjaga-jaga kalau Dark Sabrie menyerang. Mereka berdelapan kini berada di ruang tamu, siap untuk berangkat.

"Kak, ada apa?" tanya Ada khawatir ketika dia melihat tingkah laku kakaknya.

Oz mengerutkan keningnya, berusaha mengenali perasaan aneh yang tiba-tiba dirasakannya. Tiba-tiba dia berbalik dan berlari menaiki tanga sambil berteriak.

"Kalian berangkat saja tanpa aku! Break, aku serahkan semuanya kepadamu! Elliot! Gil! Ikut aku!" perintahnya.

"Oi! Memangnya ada apa, sih?" tanya Elliot dengan kesal sebelum berlari mengikuti Oz. Beberapa saat kemudian, Gil menyusul mereka berdua.

"Kakakmu itu kenapa sih?" tanya Alice kepada Ada, yang mengangkat bahunya. Dia sama tidak tahunya dengan Alice.

"Well, sebaiknya kita berangkat sekarang, dengan atau tanpa Oz," kata Break.

Sementara itu, Oz sudah sampai di depan ruangan tempat Kotak Pandora disimpan. Dengan gerakan terlatih, dia membuka pintu itu dan merayap di bawah benang jebakan. Gil dan Elliot mencontoh gerakan Oz.

"Oz, kenapa buru-buru sekali? Dan kenapa kita kesini?" tanya Gil dengan bingung.

"Ada sesuatu yang terjadi," gumam Oz. Dia melangkah menuju Kotak Pandora dan menyentuhnya. "Aku tidak tahu apakah itu baik atau buruk."

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Elliot tidak sabar.

"Lihat saja! Tolong jangan ganggu!" perintah Oz sebelum memejamkan matanya.

"Kalau kau tidak mau diganggu, kenapa kau menyuruh kami ikut?" gerutu Elliot sebal, tetapi dia dan Gil mengunci mulut mereka.

Oz berdiri diam selama lima menit penuh. Gil dan Elliot sudah mulai bosan berdiri diam ketika tiba-tiba Oz membuka matanya dan membalikkan tubuhnya. Sebuah senyum kini menghiasi bibirnya.

"Kurasa, aku punya berita baik!"

TBC

A/N:

MOS is over, guys!

Apakah ada orang selain Aoife yang berhasil selamat dari siksaan kakak kelas? Sumpah, pas hari kedua telinga Aoife sampai sakit karena diteriakin kakak kelas terus *curcol

Oke, cukup curcolnya. Ada yang bisa nebak apa yang akan terjadi selanjutnya setelah Zwei menyerang Vincent? Omong-omong, chapter ini klimaks dari Arc 5. Gimana battle scene, nya? Maaf ya kalau jelek, Aoife belum bisa bikin battle scene yang bagus *pundung di pojokan

RnR, guys?