Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 26: Determination
"Jadi dia belum bangun juga?" tanya Oz.
"Belum," jawab Ada. "Luka-lukanya sudah membaik, tetapi dia belum sadar juga."
Oz mendesah pelan, "Baiklah. Kalau ada kabar, langsung beritahu aku, oke?"
"Roger!"
Oz memutuskan sambungan dan mengembalikan telepon itu ke tempatnya. Sambil mendesah panjang, Oz menyapukan jarinya ke rambut keemasannya, "Dua minggu sudah berlalu, dan dia belum sadar juga," gumamnya pelan.
Setelah operasi dinyatakan sukses, Echo dipindahkan dari ruang ICU ke bangsal biasa. Selama dua minggu ini, mereka semua bergiliran menjaganya di rumah sakit. Hari ini, giliran Ada dan Elliot yang menjaganya.
Suara seseorang yang memasuki ruang makan mengalihkan perhatian Oz. Anak laki-laki itu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Rupanya Aire.
"Halo," sapa Aire ketika melihat Oz berada di ruangan itu. "Ada kabar apa dari rumah sakit?"
"Belum ada perubahan," jawab Oz lesu. Aire berjalan menuju lemari pendingin dan membukanya. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan beberapa butir telur dari sana.
"Kau sudah makan?" tanyanya kepada Oz.
Oz mengangguk pelan, dia memang sudah makan siang tadi. Aire pun mulai menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri. Oz hanya berdiri diam, memperhatikan gadis itu memasak.
"Oh ya," kata Aire ketika dia sedang menggoreng telurnya. "Mata-mata kita di Clockwork baru saja memberi laporan tadi pagi."
"Jadi bagaimana?" tanya Oz. "Apa dia sudah melaksanakan permintaanku?"
"Sudah," jawab Aire tanpa membalikkan tubuhnya.
"Jadi?"
"Orang itu koma selama seminggu," jawab Aire lagi.
Mata Oz yang tadi kosong kini kembali bersinar ketika dia mendengar jawaban Aire. "Sampaikan terimakasihku kepada mata-mata itu!" serunya sebelum berlari keluar dari ruangan.
"Huh?" gumam Aire bingung ketika dia menoleh dan mendapati kalau Oz sudah tidak ada. "Sebenarnya apa sih yang direncanakan oleh anak itu?"
.
'Bau ini, apa?'
Itulah pertanyaan pertama yang hinggap di pikiran Echo ketika dia mulai mendapatkan lagi kesadarannya. Hal pertama yang dia sadari adalah bau rumah sakit yang seperti memenuhi hidungnya. Karena Echo tidak pernah ke rumah sakit sebelumnya, dia tidak mengetahui bau apa itu.
Hal kedua yang disadarinya adalah rasa sakit yang berasal dari sekujur tubuhnya, terutama punggung dan dadanya. Rasa sakit itulah yang membuat Echo mengerang pelan tanpa sadar.
"Echo, kau sudah sadar?" bisik seseorang dengan cemas.
Dengan perlahan, Echo mulai membuka matanya. Cahaya lampu yang menyilaukan membuat Echo terpaksa menyipitkan matanya untuk menyesuaikan diri. Samar-samar, dia bisa melihat sosok-sosok manusia yang mengelilinginya. Dia bisa melihat selang-selang yang menghubungkan tubuhnya ke beberapa alat dan dia bisa merasakan perban yang melilit beberapa bagian tubuhnya.
"Dia sudah sadar!" pekik seseorang dengan gembira.
Perlahan-lahan, pandangan Echo mulai menfokus. Sekarang dia bisa melihat wajah-wajah gembira teman-temannya karena dia sudah sadar.
"Zwei, bagaimana perasaanmu?" Echo bertanya kepada alter egonya di dalam hati.
Sunyi, tidak ada jawaban dari Zwei.
"Zwei?" Echo kembali bertanya, kali ini dengan nada cemas.
Masih tidak ada jawaban dari alter egonya.
Tiba-tiba, ingatan akan percakapan terakhirnya dengan Zwei muncul di benak Echo, percakapan yang Echo kira adalah mimpi.
"Echo, bagaimana perasaanmu?" tanya Ada dengan cemas.
"Sepi," bisik Echo, jawaban yang membingungkan teman-temannya.
"Apa maksudmu, Echo?" tanya Alice. Dia dan Sharon baru saja datang beberapa saat yang lalu untuk berkunjung.
"Omong-omong, bagaimana kabar Zwei?" tanya Sharon dengan ingin tahu.
Pertanyaan Sharon membuat Echo menyadari kenyataan yang dihadapinya. Bahwa Zwei telah pergi. Bahwa Zwei tidak akan muncul kembali. Bahwa Echo sudah kehilangan setengah jiwanya.
Kenyataan yang baru disadarinya itu membuat air mata Echo merebak. Dia menangis sekeras-kerasnya.
Elliot, Ada, Alice dan Sharon segera menjali kalang kabut begitu mereka melihat Echo menangis. Ini pertama kalinya mereka melihat Echo menangis. Bahkan ketika Alyss dan Jack meninggal pun, Echo tidak meneteskan setitik air mata. Topeng stoic yang selalu Echo kenakan, kini hancur.
Tapi Echo tidak peduli. Dia mengabaikan kata-kata bujukan yang teman-temannya katakan untuk membuatnya berhenti menangis. Dia mengabaikan suara pintu yang didobrak ketika seorang dokter buru-buru masuk. Dia mengabaikan tusukan jarum di pergelangan tangannya ketika dokter yang sama menyuntikkan obat penenang ke pembuluh darahnya. Dia hanya ingin terus menangis.
.
Reo menyipitkan matanya, memperkirakan jarak antara dirinya dan papan sasaran, dan melempar panah dart yang berada di tangannya.
"Ekh!" Will memekik terkejut ketika dart yang dilemparkan oleh Reo melenceng jauh dan menancap di dinding beberapa senti di sebelah kanan tangannya.
"Reo, sudah kubilang, fokus!" seru Will setelah dia pulih dari keterkejutannya.
"Aku sudah fokus!" Reo balas berseru. "Sepertinya dart bukan keahlianku."
"Sepertinya memang bukan," Gil yang juga sedang berlatih bersamanya menyetujui. Dari dua puluh dart yang sudah dilemparkan oleh Reo, hanya satu panah yang berhasil mencapai tujuannya, itupun melenceng jauh dari titik tengah. Sementara dart Gil selalu mendarat di papan sasaran, walaupun belum mengenai titik tengah.
"Coba lagi," saran Break. Di antara mereka bertiga, dialah yang kemajuannya paling pesat sehingga Will membiarkannya berlatih sendiri.
Sambil menggertakkan giginya dengan kesal, Reo kembali mengambil sebuah dart dan melemparkannya kembali. Dart itu melayang sebentar sebelum jatuh dan tergeletak tidak berguna beberapa langkah di depan Reo.
Will membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. "Aku menyerah! Kau memang tidak berbakat dalam melempar benda!"
"Aku sudah tahu itu," gumam Reo. Terlalu malas untuk melanjutkan latihannya, dia memilih untuk menepi dan memperhatikan Break dan Gil berlatih di bawah arahan Will. Dia duduk termanggu di pinggir ruang latihan sambil sesekali meneguk sebotol air mineral.
"Tidak latihan, Reo?" tanya seseorang. Reo menoleh dan mendapati kalau Oz sudah berdiri di sebelahnya. Rasanya dia tidak mendengar Oz datang tadi.
"Dart bukan keahlianku," jawab Reo malas.
"Setidaknya kau bisa menembak menggunakan pistol," hibur Oz. "Ingat, aku hampir membunuh Break ketika kita latihan dua hari yang lalu!"
Reo tersenyum ketika dia mengingat sesi latihan itu. Tembakan Oz meleset dan nyaris saja mengenai kepala Break.
"Omong-omong, kenapa kau ada di bawah sini?" tanya Reo heran.
Oz menepuk dahinya dengan lagak dramatis, "Oh iya! Aku lupa! Ada sesuatu yang harus kusampaikan!"
Oz membentuk sebuah corong dengan menggunakan kedua tangannya dan meletakkannya di depan mulutnya. Melalui corong tangan itu, dia berteriak, "Hei, kalian! Berhenti dulu!"
Break, Gil dan Will segera menghentikan kegiatan mereka masing-masing. Dengan tidak sabar, mereka menoleh ke arah Oz.
"Ada apa, Oz?" tanya Break dengan tidak sabar, dia ingin kembali berlatih.
"Tadi Elliot menelpon. Dia bilang Echo baru saja sadar," kata Oz.
"Eh?" kata Reo. Dia menatap Oz dengan tidak percaya, "Benarkah itu?"
Oz mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kita harus menjenguknya sekarang," kata Gil yang diikuti oleh anggukan Break, Reo dan Will.
Senyum Oz langsung memudar ketika dia mendengar perkataan Break, "Sepertinya jangan dulu," bisiknya pelan.
"Oz? Ada apa?" tanya Reo dengan cemas. "Apa yang kau sembunyikan?"
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa!" tegas Oz. "Hanya saja…"
"Katakanlah, Oz!" kata Gil dengan tidak sabar."Muntahkan saja!"
"Baiklah," Oz mengalah. "Tapi kurasa kalian tidak akan menyukainya."
Oz menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "Elliot bilang, Echo langsung menangis ketika dia sadar."
"Echo? Menangis?" tanya Break dengan bingung. "Oz, kau tidak bercanda, kan? Memangnya Echo pernah menangis?"
"Itulah yang membuatku bingung," jawab Oz. "Echo tidak pernah menangis sebelumnya! Apakah kalian pernah melihatnya menangis?" tanyanya kepada semua orang.
Mereka berempat menggeleng. Mereka tidak pernah melihat Echo menangis.
"Jadi, apa yang membuatnya menangis?" tanya Will.
"Berdasarkan informasi yang berhasil Elliot, Ada, Alice dan Sharon korek dari Echo, aku berhasil menyimpulkan sesuatu. Kalian tidak akan menyukainya, percayalah!" kata Oz.
"Katakan saja, Oz!" desak Reo tidak sabar.
"Zwei sudah pergi…"
Keheningan menyelimuti ruangan itu begitu kata-kata itu meninggalkan mulut Oz.
.
Sepi.
Walaupun ruangan itu dipenuhi oleh orang, Echo tetap merasa kesepian.
Dua hari sudah berlalu sejak dia sadar dari komanya. Dua hari yang hampa.
Tidak ada lagi celutukan-celutukan yang tidak pada tempatnya. Tidak ada lagi komentar-komentar pedas terhadap apapun yang dia lakukan. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan ingin tahu. Tidak ada lagi Zwei.
Echo merindukan suara Zwei lebih dari apapun. Dia merindukan celutukannya, komentarnya, pertanyaannya, kata-katanya, semuanya.
Sejak dia sadar, Echo menghabiskan waktunya dengan memandang kosong langit-langit di atasnya. Dia sudah tidak menangis lagi, tapi sikapnya sekarang malah membuat teman-temannya semakin cemas. Setiap kali ada temannya yang bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan satu kata yang terdiri dari paling banyak dua suku kata.
Kali ini, Oz dan Alicelah yang menemaninya di kamarnya. Oz sedang berusaha mengorek informasi tentang pertempuran Echo dengan Vincent darinya. Sudah satu jam dia menanyai Echo, berusaha bersabar ketika Echo hanya menjawab pertanyaanya dengan kalimat yang terdiri dari satu kata, sementara Alice kadang-kadang menegurnya ketika dia merasa Oz menekan Echo terlalu keras.
"Jadi, apa yang Zwei lakukan kepada Vincent sebelum dia pingsan?" tanya Oz dengan sabar.
"Menciumnya."
"Maksudku, sebelum Vincent pingsan,"
"Menyerangnya."
Rasanya Oz ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Anak laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh sebelum kembali bertanya.
"Bagian tubuh mana yang diserang?" tanya Oz lagi.
"Tangan." jawab Echo singkat. Oz mendesah. Akhirnya, titik terang! pikirnya.
"Tangan mana yang dia tusuk?"
"Kiri."
"Apa pisau Zwei mengenai tato Pandora milik Vincent?"
"Ya."
"Dan, setelah Zwei menusuk lengan atas Vincent, ledakan itu terjadi?"
"Ya."
Oz nyaris saja bersorak kegirangan. Teorinya terbukti benar. Satu jam yang dia habiskan untuk menanyai Echo dengan sabar terbayar sudah. Sementara itu, Alice menatap Oz dengan bingung.
"Memangnya kenapa sih? Apa ini berhubungan dengan teorimu tentang entah apa itu?" tanyanya kepada Oz.
"Akan kuberitahu kau di rumah," Oz berjanji. Alice mengangguk dan mengisyaratkan agar Oz meninggalkan bangsal. Awalnya Oz tidak mau, tetapi setelah Alice menatapnya dengan tajam, akhirnya dia menurut.
Setelah memastikan kalau Oz benar-benar telah pergi dan bukannya menguping, Alice bangkit berdiri. Sambil tersenyum manis, dia berjalan mendekati tempat tidur Echo…
…dan menamparnya.
Echo, yang sama sekali tidak mengira kalau Alice akan melakukan hal itu, hanya bisa menatap Alice dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya sembari memegangi pipi kanannya yang mulai memerah. Alice sama sekali tidak mengacuhkan tatapan Echo. Dia mencengkram kedua bahu Echo dengan keras, mengabaikan rintihan kesakitan Echo ketika cengkraman Alice menyakiti luka jahit yang berada di sana.
"Sadarlah, Echo!" teriak Alice. "Berapa lama kau berencana untuk terus bersikap seperti ini?"
Tanpa menunggu jawaban Echo, dia melanjutkan, "Kau membuat kami semua cemas, kau tahu? Kau menolak bicara, kau menolak makan, kau bahkan tidak mau memandang kami ketika kami berbicara kepadamu! Apa kau tahu seberapa cemasnya kami?"
"Tapi," Echo mulai berbicara, tapi Alice sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk membalas.
"Kau sedang berduka untuk Zwei? Ya, aku tahu itu! Tapi berduka ada batasnya, Echo!"
"Tapi kau juga seperti ini ketika Alyss meninggal." Echo mulai membalas ketika Alice berhenti untuk menarik nafas.
Mendengar nama Alyss disebutkan, cengkraman Alice di bahu Echo semakin menguat. "Kau-Tidak-Punya-Hak-Untuk-Berbicara-Tentang-Alyss-Seperti-Itu!" geram Alice dengan penekanan di setiap katanya, sukses membuat Echo menutup mulutnya. "Dan kalau kau tahu apa yang terbaik untukmu, sebaiknya kau tetap tutup mulut!" ancamnya.
"Bukan hanya kau yang telah kehilangan sebagian jiwamu, Echo! Aku pernah! Ann dan Aire juga pernah! Dan kau masih jauh lebih beruntung daripada kami!"
"'Kenapa?' kau bertanya? Karena aku, Ann dan Aire tidak mungkin mendapatkan mereka kembali! Kami tidak mungkin mendapatkan Alyss dan siapapun-nama-kembaran-mereka-berdua kembali, karena mereka tidak ada lagi di dunia ini, sementara Zwei masih ada di sini!" lanjutnya sambil menunjuk kepala Echo.
"Dia bilang dia hanya akan 'tertidur', kan? Dia juga bilang dia mungkin akan muncul sesekali dan kau bisa memanggilnya kapanpun kau membutuhkannya, kan? Nah, dia tidak 'pergi' seperti yang kau katakan, dia masih ada di sini! Untuk apa kau berduka untuk seseorang yang masih hidup?"
Echo sama sekali tidak bisa membalas ceramah Alice. Dia hanya bisa terdiam dan menatap Alice dengan campuran heran dan kagum. Siapa yang mengira gadis yang biasanya sedikit barbar di hadapannya bisa menceramahi seseorang seperti ini?
"Hargai pilihannya! Dia memilih untuk mengalah dan membiarkanmu mengontrol tubuhmu sepanjang waktu, kan? Jangan membuat dia menyesali pilihannya! Menurutmu, apa yang akan Zwei katakan kalau dia melihatmu seperti ini? Apa kau pikir dia tidak akan malu?"
Alice melepaskan cengkramannya di bahu Echo, "Kau jauh lebih beruntung daripada aku, Echo. Camkan itu! Kali berikutnya aku mengunjungimu, aku ingin kau kembali menjadi Echo yang dulu." bisiknya sebelum berbalik dan melangkah meninggalkan bangsal, meninggalkan Echo yang masih terpaku.
.
"Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan di mana lelaki itu berada, mereka hanya mengatakan dia berjalan kaki mendaki hutan-hutan di pegunungan. Mereka bilang, dia sering berkelana seperti itu dan tidak kembali selama berbulan-bulan, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui jalur kesendiriannya. Beberapa orang menawarkan diri untuk mencarinya, tapi sang Raja melarang mereka dan berkata, "Dia memerintah kerajaan yang lebih besar dari kerajaanku." Kemudian dia pun meninggalkan pegunungan, menaiki kapal, dan kembali ke Havnor untuk acara penobatan."*
Reo menutup buku di pangkuannya dan menguap, "Setidaknya, akhirnya cukup memuaskan."
Echo menyangga kepalanya dengan menggunakan tangannya sementara dia berbaring menyamping menghadap Reo. Sebagian besar selang-selang di tubuhnya telah dilepas, menyisakan satu selang yang menghubungkannya ke cairan infus.
"Arren memang menjadi raja Havnor, tapi kita tidak tahu dimana Ged berada," katanya dengan suara pelan.
Reo meletakkan buku itu di atas meja di samping meja Echo. "Mungkin itu akan dibahas di buku selanjutnya?" tebaknya. "Jujur saja, ini buku dengan timeline teracak yang pernah kubaca!"
Echo tersenyum kecil untuk menanggapi perkataan Reo. Seminggu ini Echo mengalami cukup banyak perubahan, terimakasih kepada Alice. Dia sudah mau berinteraksi dengan teman-temannya dan makan sedikit. Hanya saja, kadang-kadang dia suka terdiam tiba-tiba, pandangannya kembali kosong.
"Bawakan aku buku selanjutnya besok," pinta Echo.
"Kalau aku bisa menemukannya di perpustakaan," jawab Reo. "Aku tidak tahu apakah buku selanjutnya sudah terbit atau belum. Kau pasti bosan di sini terus, ya? Biasanya kau tidak pernah membaca, baru sekarang saja kau mulai tertarik dengan buku fiksi."
"Aku memang bosan," jawab Echo. "Tidak ada yang bisa kulakukan di sini selain melamun, dan dokter bilang aku baru boleh pulang dua minggu lagi!"
Reo melirik jam yang berada di dinding dan mengerang, "Gil kemana, sih? Dia bilang dia hanya ingin mencari makan siang!" keluhnya.
Echo menggumamkan persetujuannya. Gil memang pergi sekitar setengah jam yang lalu untuk mencari makan siang untuknya dan Reo, tetapi dia belum juga kembali.
"Mungkin aku harus mencarinya," gumam Reo. "Sebentar ya, Echo!" pamitnya sebelum dia bangkit berdiri dan mulai melangkah pergi.
Tetapi langkahnya terhenti ketika Echo mencengkram tangannya.
"Eh? Echo, ada apa?" tanya Reo bingung.
Sejujurnya, Echo juga tidak tahu kenapa dia menahan Reo. Tangannya bergerak tanpa perintahnya untuk menahan Reo.
"Jangan pergi," bisiknya. "Terlalu sepi…"
"Sepi?" tanya Reo yang masih bingung. Echo mengangguk pelan.
Sebuah senyum usil kini berada di wajah Reo, "Jangan bilang kalau kau takut!" godanya.
"Bukan itu maksudku!" pekik Echo, kedua pipinya kini sudah mulai memerah. "Hanya saja, aku tidak terbiasa sendirian. Selalu ada Zwei yang bersamaku. Sekarang, setelah dia tidak ada, setiap kali aku sendirian di bangsal ini, rasanya… aneh. Sepi. Tidak ada yang mengajakku mengobrol, tidak ada yang bercelutuk tiba-tiba, tidak ada yang bernyanyi tiba-tiba!"
"Memangnya Zwei suka menyanyi?" tanya Reo, lagi.
"Percaya atau tidak, dia sering melakukannya di sini," kata Echo sambil menunjuk kepalanya. "Seringnya sih kalau kami sedang berada di kamar mandi."
"Oh," Reo tidak bisa berkomentar apa-apa ketika dia mengetahui salah satu hobi Zwei.
"Jadi, jangan pergi, oke?" pinta Echo lagi. "Aku belum terbiasa sendiri."
"Baiklah, baiklah." Reo mengalah. Dia kembali duduk di kursinya dan menopang dagunya.
Echo tersenyum dan memutuskan untuk kembali berbaring, mengerang pelan ketika dia melakukannya. Duduk sebentar saja bisa membuat punggungnya sakit. Dia bertanya-tanya apakah tubuhnya akan kembali normal seperti dulu.
"Punggungmu masih sakit?" tanya Reo cemas.
"Sedikit," jawab Echo. "Terimakasih sudah bertanya, tetapi aku baik-baik saja."
Setelah memastikan kalau Echo baik-baik saja, Reo kembali rileks dan memilih untuk membaca ulang buku yang dibawanya tadi sambil sesekali melirik ke arah Echo. Echo, yang agak tidak nyaman karena dilirik terus menerus, mengubah posisi tubuhnya hingga kini dia berbaring memunggungi Reo.
"Aku ini kenapa?" batinnya.
"Masih tidak mau mengakui perasaanmu sendiri, Echo?" sindir seseorang.
Kalau saja dia berada di dalam kondisi prima, Echo pasti sudah melonjak terkejut. Dia kembali merubah posisi tubuhnya hingga dia kini berada dalam posisi telentang. Kedua iris abu-abunya mencari pemilik suara itu di sepenjuru ruangan.
"Echo? Ada yang salah?" tanya Reo khawatir.
Echo tidak mengindahkan pertanyaan Reo dan terus mencari pemilik suara itu, hingga suara yang sama kembali mengagetkannya.
"Aku berada tepat di dalam kepalamu, Echoku sayang!"
"Zwei?" bisik Echo dengan tidak percaya.
"Siapa lagi yang bisa berbicara di dalam pikiranmu, hah? Hantu?"
"Erm, Echo?" tanya Reo sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Echo. Yang membuat Reo panik adalah, Echo sama sekali tidak mengedip.
"Zwei!" batin Echo gembira. "Tapi… tapi…"
"Kau pasti mau bilang 'Tapi kau bilang kau tidak akan muncul lagi!', kan? Nah, aku memang bilang aku tidak akan muncul lagi, tetapi aku tidak bilang kalau aku akan berhenti berbicara denganmu, kan?" kata Zwei dengan nada puas. Echo memejamkan matanya dan dalam sekejap dia sudah berada di tempat spesial miliknya dan Zwei.
Dan disanalah Zwei berada, duduk bersila dengan wajah puas. Seringai khas miliknya masih berada di atas wajahnya.
"Atau kau akan lebih senang kalau aku tidak berbicara denganmu lagi?" tanya Zwei sambil menaikkan sebelah alisnya.
Echo menggeleng kuat-kuat. Sebuah senyuman lebar yang tidak biasanya dia tampilkan kini berada di wajahnya. Dia menerjang Zwei dan memeluknya erat-erat.
"Zwei! Kemana saja kau sembilan hari ini, bodoh?" isaknya.
"Eh? Sudah sembilan hari, ya? Aku kira baru sehari atau dua hari!" Zwei mengakui. "Pantas saja kau sehisteris ini ketika melihatku!"
"Bodoh! Apa yang kau maksud dalam percakapan terakhir kita, hah? Kenapa kau menghilang seperti itu? Kau tidak tahu seberapa sedihnya aku!"
"Itu hanya visual effect, kok!" kata Zwei santai. "Tempat ini terbentuk dari imajinasi kita, kan? Jadi, kita berdua bisa melakukan apapun di sini! Kalau mau, aku bisa saja terbang sekarang!" lanjutnya.
"Tapi tidak usah sedramatis itu kan bisa!" kata Echo sambil meninju Zwei pelan.
"Maaf! Aku hanya ingin mengerjaimu sesekali," kata Zwei sambil tertawa-tawa, Echo juga ikut tertawa. Tetapi, ekspresi Zwei mulai berubah menjadi serius kembali.
"Tapi, aku memang tidak akan muncul ke permukaan lagi. Well, mungkin aku akan muncul dalam keadaan yang benar-benar terdesak. Tapi, selama aku bisa menghindarinya, aku tidak akan muncul." Zwei menjelaskan. "Dan mungkin aku tidak bisa berbicara denganmu sesering dulu."
"Tapi, kau tetap akan berbicara kepadaku, kan?" tanya Echo.
"Tentu saja!" jawab Zwei.
Echo mulai menangis kembali, tapi kali ini tangis bahagia.
"Hei, hei. Jangan menangis!" Sebuah sapu tangan tiba-tiba muncul di tangan Zwei. Dia memakainya untuk menghapus air mata Echo. "Geez, sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini?"
Echo tersenyum dan kembali memeluk Zwei.
"Omong-omong, taruhan itu masih berlaku, lho!" kata Zwei dengan santainya.
Echo melepaskan pelukannya dan menatap Zwei dengan ekspresi terkejut. "Eh? Masih berlaku?"
Zwei menguap dan berkata, "Tentu saja masih! Jadi, cepatlah mumpung dia masih ada di sini dan tidak ada orang lain, atau kau lebih senang melakukannya di hadapan yang lain?"
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian." kata Zwei tegas. "Jangan jadi pengecut, ah!"
"Aku bukan pengecut!" tukas Echo.
"Kalau begitu, buktikan!" Zwei mendorong Echo pelan, mengisyaratkan agar dia kembali ke tubuhnya.
Dengan berat hati, Echo membuka kedua matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Reo yang baru saja akan menekan bel untuk memanggil suster saking paniknya. Kalau saja dia tidak melihat ke arah Echo sebelum menekan bel, mungkin dia sudah menekannya sekarang.
"Echo!" pekik Reo lega ketika dia melihat Echo sudah membuka kedua matanya. "Yokatta! Aku kira ada apa-apa yang terjadi denganmu!"
Echo hanya bisa diam saja. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Zwei akan mengejeknya habis-habisan kalau dia tidak melakukannya. Tetapi, di lain pihak, Echo juga malu kalau dia harus melakukannya. Tanpa dia sadari, wajahnya mulai memerah.
"Echo? Kau tidak apa-apa?" tanya Reo, khawatir karena wajah Echo tiba-tiba memerah. "Kau tidak demam, kan?" tanyanya lagi. Anak laki-laki itu meraba dahi Echo untuk memastikan apakah Echo demam atau tidak.
"Lakukan sekarang!" perintah Zwei dengan bersemangat.
"Tapi…" Echo mulai memprotes.
"Ayolah! Untukku?" pinta Zwei dengan nada memelas.
Echo mendesah pelan, sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain. Sambil berusaha menelan rasa malunya, Echo mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya di leher Reo, membuat anak laki-laki itu terkejut setengah mati.
Echo menelan ludahnya ketika dia melihat wajah Reo yang sekarang sudah semerah miliknya. "Lebih baik aku cepat-cepat menyelesaikan urusan ini!" tekadnya.
Gadis itu mengangkat tubuhnya hingga dia berada di posisi setengah duduk, kemudian Echo mencium bibir Reo dengan lembut.
Pada saat itulah Gil memutuskan untuk datang.
Suara pintu bangsal yang dibuka mengagetkan Echo dan Reo hingga mereka cepat-cepat melepaskan diri.
"Aku datang!" Gil mengumumkan. Tetapi, ketika dia melihat wajah merah Reo dan Echo, dia segera meralat ucapannya, "Atau mungkin tidak." Gil segera keluar dari bangsal dan menutup pintu kembali.
Echo cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di bawah selimutnya. Sementara itu, Reo hanya berdiri mematung, masih berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi kepadanya. Dengan perlahan, dia menyentuh bibirnya, masih belum mempercayai apa yang baru saja terjadi.
"Tolong jangan berpikir yang aneh-aneh," gumam Echo dari balik selimutnya. "Aku hanya melakukannya karena aku kalah taruhan dengan Zwei."
"Benarkah itu?" Reo langsung menggoda Echo begitu dia sadar dari shocknya. "Jadi, itu bukan jawaban dari pertanyaanku dulu?"
Echo memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Reo. Reo menyibak selimut yang menyembunyikan Echo, mengabaikan protes dari gadis itu. "Jawab pertanyaanku, Echo!" desaknya.
"Erm, umur kita jauh berbeda. Aku sudah empat belas, sementara kau masih dua belas tahun." jawab Echo dengan sedikit salah tingkah.
"Hei! Aku sudah tiga belas tahun sekarang!" protes Reo.
"Memangnya kapan ulang tahunmu?"
"…Aku tidak tahu. Tapi Break dan Sharon juga berbeda dua tahun, tapi mereka tidak peduli!"
"Aneh kelihatannya kalau perempuan yang lebih tua," gumam Echo pelan.
"Aha! Jadi sebenarnya kau mau?" tanya Reo jahil.
"Aha! Jadi sebenarnya kau mau?" pekik Zwei dengan penuh kemenangan.
"Kenapa mereka berdua bisa mengatakan hal yang sama?" pikir Echo bingung.
"Bukan itu maksudku!" bantah Echo, tapi baik Reo mau Zwei tampaknya tidak mendengarkan, mereka malah semakin gencar menggodanya. Akhirnya, Reo menghentikan rangkaian bantahan Echo menggunakan bibirnya.
Echo berusaha untuk mendorong Reo menjauh pada awalnya, tetapi anak laki-laki itu keras kepala, dia sama sekali tidak bergeming. Akhirnya, Echo menyerah dan membiarkan Reo menciumnya, bahkan dia membalasnya.
"Apa kubilang?" kata Zwei puas.
"Diam," gumam Echo.
Tapi mungkin, mungkin, dia memang menyukai Reo.
.
Sementara itu, Gil mengintip melalui lubang kunci. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. "Akhirnya! Lama sekali sih mereka menyadarinya?" gumamnya puas.
Gil meregangkan tubuhnya yang pegal karena terus menerus menunduk. Jujur saja, dia agak iri dengan Reo dan Echo. "Andai aku bisa melakukan itu dengan Alice," bisiknya dengan penuh harap.
Senyumnya langsung menghilang. Gil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak, dia tidak boleh melakukannya. Bukan hanya karena Alice milik Oz sekarang, tetapi takdir yang menanti Gil tidak mengizinkannya melakukan itu. Dia tidak ingin menyakiti Alice.
Sambil mendesah panjang, Gil melangkah menuju taman rumah sakit untuk berpikir. Dia tidak boleh membiarkan Reo menjadi penyegel Kotak Pandora. Gil-lah yang harus menjadi si Penyegel.
End of Arc 5
TBC
A/N:
*Dikutip dari seri Earth Cycle buku tiga, The Farthest Shore
Yei! Akhirnya Arc 5 selesai!
Question of The Chapter: Masih sama kayak dulu, siapa yang akan menyegel Kotak Pandora?
RnR?
