Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Arc 6
Chapter 27: The Seal
"Paman?"
Oz yang baru saja menginjak tahun kesebelasnya kini harus memikul tanggung jawab besar di pundaknya.
Paman Oz, Oscar Vesallius, meremas pundak Oz pelan. "Jaga dirimu dan saudaramu baik-baik, Oz," bisiknya.
"Tapi, kalau aku pergi, apa yang akan terjadi dengan paman?" tanya Oz. Air mata sudah membasahi kedua pipinya. Dia tidak ingin kehilangan pamannya.
Dengan kedua tangannya, dia mencengkram kotak yang baru saja dipercayakan oleh pamannya kepadanya. Dia membenci kotak itu. Karena kotak itulah, keluarganya diserang oleh orang-orang yang ingin menguasai kotak itu. Karena kotak itulah, sebagian besar keluarganya terbunuh. Karena kotak itulah, dia harus berpisah dengan pamannya.
Oscar hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan Oz. Dia memeluk Oz yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri dan berbisik, "Apapun yang terjadi, Oz, jangan biarkan kotak itu jatuh ke tangan Baskerville dan antek-anteknya! Jagalah kotak itu dengan nyawamu!"
"Tapi, kenapa paman mempercayakan kotak sepenting ini kepadaku?" tanya Oz, "Kenapa bukan Jack?"
Oscar melepaskan pelukannya dan tersenyum lebut kepada Oz, "Karena kau adalah keturunan Vesallius yang asl,i Oz, bukan Jack."
"Tapi…" Oz mulai memprotes.
"Oz!" panggil Jack dengan panik ketika dia melihat pintu perpustakaan digedor oleh seseorang. Sementara itu Ada berdiri di depan pintu keluar rahasia, kengerian tampak jelas di matanya.
"Kau duluan, Jack!" perintah Oscar.
"Tapi, paman!"
"Tidak ada tapi-tapian!" Oscar berkata dengan tegas. Jack mulai membuka mulutnya untuk protes, tetapi dia berpikir ulang dan menuruti perintah Oscar. Dia mengamit tangan Ada dan mereka berdua segera memasuki lorong rahasia.
"Oz?" panggil Oscar kepada anak laki-laki yang masih berdiri di depannya. "Aku punya satu permintaan lagi."
"Paman?"
"Hancurkan kotak itu ketika waktunya sudah datang."
"Kapan?"
"Ketika kontraktor salah satu dari kelima Black Wings muncul." bisik Oscar. "Sekarang, pergi!"
"Paman harus ikut dengan kami!" kata Oz dengan keras kepala.
"Aku tidak bisa,Oz," kata Oscar. "Sekarang, tugasku yang terakhir adalah memastikan kalau kau dan saudaramu bisa kabur dengan selamat."
Oscar mendorong Oz, membuat anak laki-laki itu limbung dan jatuh di atas lantai lorong rahasia.
"Jangan kecewakan aku, Oz!" pesan Oscar sebelum dia menutup pintu lorong rahasia itu.
"Tidak! Paman!"
.
Echo memang tidak pernah mengunjungi rumah sakit sebelumnya, apalagi diopname seperti sekarang. Walaupun begitu, dia tetap mengetahui satu hal. Rumah sakit, terutama bangsalnya, adalah tempat bagi pasien untuk berobat, beristirahat, dan memulihkan diri, bukan untuk mendengarkan dua orang yang sama keras kepalanya berdebat dengan sengit.
"Tidak bisa, Reo! Harus aku yang menyegel Kotak Pandora!" seru Gil. Echo memperhatikan kalau semakin lama, nada suaranya semakin meninggi.
"Tidak! Harus aku yang menjadi penyegel! Kalau saja aku langsung memberitahu mereka tentang Jabberwock dulu, semua hal ini tidak akan terjadi! Aku harus bertanggung jawab!" balas Reo, juga dengan nada yang semakin meninggi.
"Tapi aku juga harus bertanggung jawab! Karena akulah Vincent bisa menyusup ke dalam Pandora!" balas Gil dengan sengit.
"Tapi kalau aku sudah memberitahukan mereka tentang Jabberwock, kedua Kotak Pandora pasti sudah berhasil dihancurkan, Alyss dan Jack pasti masih hidup, dan tidak akan ada yang berkhianat!" balas Reo dengan keras kepala.
Echo mengerang dan berusaha memblokir kebisingan itu dengan menggunakan bantal, tapi itu tidak memberikan perubahan yang berarti, dia masih bisa mendengarkan perdebatan mereka berdua.
"Kenapa mereka berdua harus mendapatkan jam jaga yang sama, sih?" pikirnya dengan merana. "Untung saja Zwei sedang tidak ada. Kalau tidak, mereka berdua pasti sudah tidak memiliki lidah sekarang."
Dari celah antara bantal-bantal yang menutupi kepalanya, Echo bisa melihat Reo dan Gil berdiri berhadapan. Kedua pasang tangan mereka dilipat di depan dada mereka, menandakan kalau mereka tidak akan menyerah kepada yang lain. Mereka berdua sudah berada di posisi itu selama kurang lebih satu jam, membuat Echo bertanya-tanya apakah mereka tidak pegal berdiri terus.
Untung saja Break, yang bertugas untuk melihat perkembangan Reo dan Gil, datang tidak lama kemudian. Hanya perlu satu kali lirikan ke arah Reo dan Gil, yang masih berdiri dengan sikap keras kepala, serta Echo, yang masih mengintip dari bawah bantalnya, baginya untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.
Break segera menjewer telinga Reo dan Gil, yang langsung mengaduh kesakitan. "Kalian ini!" katanya dengan nada marah. "Aku jauh-jauh berjalan ke sini untuk melihat apakah kalian sudah membuat keputusan atau belum, dan apa yang kudapatkan sekarang? Kalian yang bertengkar seperti anak kecil! Bukankah tadi Oz menyuruh kalian untuk mendiskusikan masalah ini? Kutekankan lagi, men - dis - ku - si - kan! Bukannya menganggu orang sakit!"
Echo sama sekali tidak berniat untuk memperbaiki kata-kata Break, karena yang Break katakan adalah benar. Pertama, dia memang terganggu. Kedua, walaupun dia enggan mengakuinya, dia memang orang sakit.
Break menyeret Reo dan Gil keluar dari bangsal, mengabaikan protes dari kedua temannya karena kedua tangan Break belum meninggalkan telinga mereka. "Sebentar ya, Echo!" kata Break sebelum pintu menutup di belakangnya, meninggalkan Echo sendirian.
"Zwei?" bisik Echo, berharap alter egonya bersedia untuk diajak bercakap-cakap. Echo masih belum terbiasa sendiri. Sayangnya, hari ini bukan hari keberuntungannya, karena Zwei tidak menjawab.
Menarik nafas dalam, Echo meraih buku yang dibawakan Reo tadi pagi dari atas meja di samping tempat tidurnya.
.
" Jadi. Kalian. Berdua. Masih. Belum. Memutuskan?" tanya Oz dengan penekanan di setiap katanya. Semua orang bisa merasakan kemarahan yang nyaris tidak bisa ditahan di balik pertanyaan itu. Alice, Break, Elliot, dan Ada memilih untuk mundur hingga mereka mencapai jarak aman dari tempat Oz berdiri. Sayangnya, Reo dan Gil tidak memiliki kemewahan itu.
Oz tampak berdiri menjulang di hadapan Reo dan Gil, yang, kebalikannya, malah tampak menciut ketika mereka berhadapan dengan kemarahan Oz, walaupun sebenarnya itu cukup mustahil karena pada kenyataanya Gil lebih tinggi beberapa senti dari Oz. Mungkin karena faktor kemarahan Oz dan ketakutan Reo dan Gil, Oz tampak menjulang di mata teman-temannya.
"Erm, belum?" jawab Gil dengan ragu-ragu.
"Bagaimana bisa?!" Akhirnya, kemarahan Oz tidak bisa dibendung lagi. Dia benar-benar meledak kali ini.
"Kalian sudah mendiskusikan hal ini selama sebulan lebih! Bagaimana bisa kalian belum memutuskan? Apa saja yang kalian lakukan selama ini, bergosip?" bentak Oz.
"Woa! Woa! Santai Oz!" kata Break, berusaha untuk menenangkan amarah Oz. "Lagipula, itu bukan…"
"hal yang gampang untuk diputuskan," potong Oz. Dia mendelik ke arah Break, yang langsung mundur beberapa langkah. "Aku tahu itu, Break! Tapi aku kira waktu sebulan itu sudah lebih dari cukup! Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi!"
"Tepatnya, kau tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ralat Elliot, yang langsung dihadiahi dengan delikan lain dari Oz.
"Hei! Aku mengatakan kebenaran, kan?" protes Elliot.
"Erm, Elliot?" kata Ada dengan gugup. "Kusarankan kau menutup mulutmu sekarang. Percayalah, kau tidak mau membuat kakak lebih marah lagi!"
Setelah memastikan kalau tidak ada orang yang akan menginterupsinya lagi, Oz kembali memusatkan perhatiannya kepada Reo dan Gil, yang telah mengambil beberapa langkah mundur. Siapa yang mengira kalau Oz bisa seseram ini kalau sedang marah?
"Kalau kalian belum juga memutuskan dalam waktu satu jam," ancamnya, "aku akan…"
"Hem, apa yang sedang terjadi di sini, ya?"
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu ruang tamu ketika mereka mendengar suara itu, bahkan Oz melupakan kemarahannya sejenak. Seseorang sedang bersandar di ambang pintu sambil memainkan sebilah pisau di tangannya dengan santai. Sepertinya dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres di ruang tamu, dan memutuskan untuk bersiap-siap sebelum dia masuk.
"Ann?" tanya Oz bingung. "Kenapa kau ada disini?"
"Aku sedang membaca di perpustakaan ketika aku mendengar suara seseorang berteriak. Aku buru-buru turun ke bawah untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja, dan ternyata suara yang kudengar tadi adalah suaramu, Oz!" jawab Ann dengan santai. Dia kembali menyelipkan pisaunya ke lengan baju panjangnya.
"Jadi, ada apa? Omong-omong Oz, bisa pelankan suaramu sedikit? Kau bisa membongkar semua rencana kita kalau kau terus berteriak seperti itu, karena aku yakin suaramu tadi bisa terdengar oleh tetangga depan!"
"Maaf," gumam Oz dengan agak malu karena disindir oleh Ann.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Ann.
Alice, yang berada paling dekat dengan Ann, segera menceritakan semuanya secara ringkas. Ann mengangguk mengerti ketika Alice selesai bercerita. Perbedaan pendapat di Reinhart bukanlah hal yang jarang terjadi, jadi dia sudah terbiasa.
"Jadi, kalian berdua sama-sama ingin menyegel Kotak Pandora," kata Ann. Reo dan Gil tidak menjawab, karena itu adalah pernyataan bukan pertanyaan.
"Boleh kutahu alasan kalian masing-masing?" pinta Ann kepada kedua anak laki-laki itu.
"Aku merasa bertanggung jawab karena aku tidak memberitahu kalian tentang Jabberwock sejak awal," gumam Reo. "Kalau saja aku memberitahu kalian, pasti semua ini tidak akan terjadi. Jadi, aku merasa berkewajiban untuk menyegel Kotak Pandora."
"Aku merasa berkewajiban untuk menyegel Kotak Pandora sebab karena akulah Vincent bisa menyusup ke tubuh Pandora," jawab Gil. "Kalau saja aku tidak datang ke kota ini dulu, pasti semua ini tidak akan terjadi!"
"Jadi, kalian berdua merasa berkewajiban untuk menyegel Kotak Pandora karena kalian ingin menebus kesalahan kalian di masa lalu," Ann menyimpulkan, yang segera diikuti oleh anggukan Reo dan Gil.
"Agak pelik, ya?" kata Ann kepada dirinya sendiri. Dia menutup matanya sebentar untuk berpikir.
Sedetik kemudian, Ann kembali membuka matanya dan menjentikkan jarinya. "Kenapa kalian tidak melakukan…"
.
"Eh? Janken?" seru Sharon terkejut. "Aku tidak salah dengar, kan?
Echo menajamkan pendengarannya. Sudah sekitar lima menit Sharon berbicara kepada Break melalui telepon yang ada di bangsalnya untuk memantau keadaan di rumah.
"Oh. Baiklah. Sampai bertemu nanti malam!" kata Sharon sebelum dia mengembalikan telepon itu ke tempatnya. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Echo, yang sudah duduk tegak, menunggu penjelasan dengan tidak sabar.
"Kau tidak akan percaya ini!" seru Sharon.
"Apa yang terjadi di rumah?" tanya Echo. Mereka semua mulai menggunakan kata 'rumah' untuk menyebut tempat mereka tinggal sekarang. Entah kenapa, sebutan 'markas' terasa kurang tepat.
"Mereka memutuskan untuk memakai janken untuk menentukan siapa yang akan menyegel Kotak Pandora," Sharon menceritakan sambil menggelengkan kepalanya. "Demi Tuhan, janken? Kenapa bukan catur atau permainan lain?"
Echo bisa memahami kebingungan dan kegusaran Sharon. Menurutnya, bermain janken untuk menentukan siapa yang akan menyegel Kotak Pandora adalah langkah yang terlalu drastis. Memang dengan menggunakan cara itu mereka bisa menghindari perdebatan-perdebatan yang tidak diperlukan, karena Reo dan Gil masing-masing mempunyai kesempatan 33,33% untuk menang. Tapi, cara yang sesedarhana itu untuk memutuskan sesuatu yang rumit? Echo meragukannya.
"Siapa yang memberikan ide itu?" tanya Echo, penasaran ingin mengetahui siapa yang menggagas ini semua.
"Ann," jawab Sharon singkat.
"Oh," hanya itu tanggapan yang diberikan oleh Echo. "Kapan mereka akan melakukannya?"
"Segera setelah kau pulang, yang berarti dua hari lagi," jawab Sharon. Echo kembali ber-oh ria.
"Tahu tidak?" tanya Sharon. "Kurasa aku tidak akan memilih mafia sebagai pekerjaanku nanti."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin menggantungkan hidupku kepada janken!"
.
"Ann?" tanya Alice dengan gugup. "Kau yakin cara ini akan bekerja?"
"Tentu saja!" jawab Ann dengan yakin. "Kami sering menggunakan janken kalau kami tidak bisa mencapai titik terang dalam sebuah perdebatan. Kalau kau tidak percaya, tanya saja Aire!"
"Memang benar," sahut Aire. Dia dan kembarannya sedang duduk bersila di atas lantai putih Ruang Pandora, ruangan tempat mereka menyimpan Kotak Pandora. Mereka semua akan melihat siapa yang terpilih untuk menjadi si Penyegel hari ini.
Reo dan Gil berdiri di tengah ruangan persis di depan Kotak Pandora sementara teman-temannya duduk mengelilingi mereka. Mereka akan berperan sebagai saksi sekaligus juri sehingga Reo dan Gil tidak bisa mencurangi hasil yang akan keluar nanti.
"Kalian sudah siap?" tanya Oz kepada Reo dan Gil. Selain mereka berdua, Oz adalah satu-satunya orang yang berdiri di ruangan itu. Reo dan Gil mengangguk. Apapun hasil dari permainan konyol ini, mereka akan menerimanya.
"Baiklah kalau begitu. Satu, dua," Oz mulai memberikan aba-aba sementara Gildan Reo mulai mengangkat tangan kanan mereka, "Janken!" pekik mereka bertiga.
Yang lain memajukan tubuh mereka agar mereka bisa melihat lebih jelas dan mendesah kecewa ketika mereka melihat hasilnya. Reo mengeluarkan kertas, sementara Gil juga mengeluarkan kertas.
"Draw," kata Echo dengan tenang. Dia baru saja pulang dari rumah sakit satu jam yang lalu.
Reo dan Gil menatap satu sama lain dengan kesal, "Kenapa kau mengeluarkan kertas juga?"
"Ulangi!" perintah Oz. Reo dan Gil tidak menunggu aba-aba dari Oz lagi dan langsung melakukan janken.
Hasilnya masih sama, kertas dan kertas.
"Draw," kata Ada.
"Kalian berdua tidak kreatif, ya?" kata Break dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana.
Ronde ketiga dimulai. Mengira kalau lawan mereka akan mengeluarkan kertas lagi, kini mereka berdua sama-sama mengeluarkan gunting.
"Ulangi!" perintah Oz lagi.
Ronde keempat dimulai. Kali ini, Reo dan Gil sama-sama mengeluarkan batu.
"Kalian berdua sama-sama bisa membaca pikiran lawan, ya?" komentar Elliot. Gil dan Reo mendelik sebentar ke arahnya sebelum memulai ronde kelima. Ronde demi ronde telah mereka lakukan, tetapi hasilnya tetap sama.
"Stop!" perintah Aire ketika Reo dan Gil hendak memasuki ronde kelimabelas. Reo dan Gil segera menghentikan permainan mereka.
"Alice, kau gantikan Gil! Ada, kau gantikan Reo!" perintahnya lagi.
"Eh?" kata Alice dan Ada terkejut.
"Kalian tahu apa maksudku," kata Ann. Tahu kalau mereka tidak punya pilihan lain, Alice dan Ada berdiri dan melangkah ke tengah ruangan. Gil dan Reo segera menyingkir untuk memberi mereka ruang. Kini takdir kedua anak laki-laki itu berada di tangan Alice dan Ada.
"Siap?" bisik Alice kepada Ada.
"Lakukan saja," Ada balas berbisik.
"Baiklah…"
"Janken!" seru mereka berdua sebelum mengeluarkan pilihan masing-masing.
Kali ini, hasilnya langsung terlihat. Alice mengeluarkan gunting, sementara Ada memiliki kertas. Dengan itu, jelaslah kalau Gil yang harus menyegel Kotak Pandora.
"Gomennasai," bisik Ada kepada Reo ketika dia dan Alice melewati anak laki-laki itu untuk kembali ke tempat mereka sebelumnya. Reo mengangguk singkat. Ini sama sekali bukan kesalahan Ada, karena gadis itu hanya melakukan tugasnya.
"Good luck," bisik Reo kepada Gil sebelum dia menyingkir. Gil mengangguk pelan, tanda bahwa dia mendengarkan.
"Apa kau tahu apa yang harus kau lakukan, Gil?" tanya Oz kepada Gil. "Karena, jujur saja, aku tidak mengetahui prosedur penyegelan. Keluargaku keburu diserang oleh Baskerville sebelum paman sempat mengajarkannya kepadaku."
"Tentu saja aku tahu," jawab Gil dengan tenang. "Aku harus mengetahui secara pasti apa yang akan aku lakukan, kan?"
"Seratus untukmu! Kalau begitu, semoga beruntung!" kata Oz sebelum dia juga menyingkir.
Gil menarik nafas panjang. "Inilah saatnya," pikirnya.
.
Gil memejamkan matanya dan memanggil Raven. Ketika dia sudah merasakan kehadiran Raven di benaknya, dia bertanya, "Raven, kau siap?"
"Sesiap kau siap, tuan."
Gil kembali membuka matanya dan menatap teman-temannya. "Ada yang punya pisau?" tanyanya.
"Ini!" Echo mengeluarkan sebilah pisau dari lengan bajunya dan memberikannya kepada Gil. Gil meraba sisi tajam pisau itu untuk mengukur ketajaman pisau itu. Bercak-bercak darah dengan cepat menodai buku-buku jarinya.
"Bagus," pikirnya. "Pisau ini tajam!"
"Gil? Kau tidak berniat untuk bunuh diri, kan?" tanya Elliot dengan khawatir ketika dia melihat darah di telapak tangan Gil.
"Aku tidak apa-apa, Elliot," kata Gil untuk menenangkan adiknya.
Oz menoleh ke arah Ann, Aire dan Will. "Sebelum Gil melakukan penyegelan, apa kalian yakin kalian tidak ingin menjadi kontraktor? Kita tidak bisa melakukan pengikatan kontrak lagi begitu Kotak Pandora disegel, setidaknya sampai segel itu dilepas, atau si Penyegel mati.
Will menggelengkan kepalanya, "Terima kasih, tapi kami bertiga masih ingin menjadi manusia normal."
"Kalau menjadi mafia bisa dibilang normal," tambah Aire. "Sudah banyak hal tidak normal yang terjadi pada kami, tidak perlu ditambah lagi!"
"Baiklah," kata Oz. Dia kembali menoleh ke arah Gil dan memberi isyarat kalau anak laki-laki itu sudah bisa melanjutkan.
"Kusarankan agar kalian mundur sedikit," saran Gil. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."
"Maksudmu?" tanya Ada bingung.
"Tanya saja Reo, dia mengerti apa yang akan kulakukan," jawab Gil sambil melirik ke arah Reo.
"Kemungkinan besar, dia, atau Raven lebih tepatnya, akan mengamuk." Reo menjelaskan. "Elliot, kusarankan agar kau bersiap-siap."
"Eh? Kenapa?" tanya Elliot.
"Karena hanya kaulah satu-satunya keluarga Gil sekarang, jadi kurasa kau bisa menenangkannya nanti," jawab Reo.
"Jadi, aku bertugas sebagai penenangnya, begitu?" kata Elliot dengan tidak senang.
"Kurasa begitu," kata Break.
Setelah memastikan kalau teman-temannya sudah berada di dalam jarak aman, Gil merentangkan tangan kirinya di atas Kotak Pandora. "Ingat, jangan menginterupsi sebelum Reo bilang aku sudah selesai. Kalau tidak, aku harus mengulang seluruh prosesnya dari awal lagi. Percayalah, kalian tidak akan mau aku mengulang untuk kedua kalinya!" anak laki-laki itu memperingatkan.
"Kami tidak akan menganggumu," Oz berjanji.
Gil menarik nafas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri. Setelah dia merasa siap, dia meletakkan sisi tajam pisaunya di atas pergelangan tangan kirinya, mengundang tarikan nafas terkejut dari teman-temannya.
"Dia tidak akan benar-benar mengiris pergelangan tangannya, kan?" tanya Ann. "Maksudku, dia bisa saja memotong urat nadi utamanya!"
"Masalahnya, itu yang harus dia lakukan," jawab Reo. "Aku harap Revis memiliki benang jahit kali ini."
Sekali lagi, Gil menutup kedua bola matanya. Lebih mudah melakukannya dengan mata tertutup, pikirnya. Setidaknya, dia tidak perlu melihat dirinya memutilasi dirinya sendiri.
"Sekaranglah waktunya, Raven!" batin Gil. "Kapan kau akan mengambil alih tubuhku?"
Segera setelah kau mengucapkan kata-kata itu.
"Oke, usahakan agar kau tidak menimbulkan kerusakan yang terlalu parah!"
Aku tidak bisa menjanjikan itu, tuan!
Mengatupkan geliginya, Gil mengiris pergelangan tangannya.
Darah langsung mengucur dengan deras dari luka menganga di pergelangan tangan Gil. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka itu cukup untuk membuat Gil limbung sesaat, tetapi dia segera berdiri tegak kembali. Dibiarkannya darahnya mengucur ke atas Kotak Pandora, menodai permukaan putih kotak itu dengan warna merah.
"Sejak kecil, aku selalu diberitahu kalau Kotak Pandora pantang untuk dinodai," gumam Oz ketika dia melihat apa yang dilakukan oleh Gil.
"Tapi rupanya itu yang harus kita lakukan," sambung Ada yang berdiri di sebelah kakaknya.
Gil membuka matanya dan melihat kalau darahnya kini sudah membasahi seluruh permukaan kotak Pandora. Bagus! Sekarang, dia harus mengucapkan kata-kata yang diajarkan oleh Raven kepadanya. Dengan tangan kirinya yang bergetar, Gil membuka tutup Kotak Pandora, menampakkan bagian dalamnya yang kosong. Kemudian, dia melanjutkan ritual itu.
"Aku, Gilbert, suku Nightray, ras manusia, kontraktor dari Raven, salah satu dari kelima Black Wings," ucapnya dengan penuh keyakinan. "dengan darahku ini, aku menyatakan kalau Kotak Pandora Alpha tersegel sejak hari ini!"
Kemudian, tubuhnya diambil alih sepenuhnya oleh Raven.
.
"Sekarang Raven berada di dalam tubuhnya," gumam Reo. Sebagai calon penyegel, tentu saja dia mengetahui seluruh tata cara ritual ini.
"Lalu, apa yang akan dilakukan Raven dengan tubuh Gil?" tanya Oz penasaran.
Reo tertawa hampa, "Apa yang akan dilakukannya? Aku tidak tahu! Wocky tidak mau membocorkan bagian ini kepadaku."
"Kalau begitu, bagaimana caranya kita mengetahui kalau dia sudah selesai?" tanya Alice.
"Wocky akan memberitahuku kalau Raven sudah selesai melakukan bagiannya. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi sebelumnya." Reo menerangkan.
.
Sejak pamannya mempercayakan Kotak Pandora ke tangannya, Oz selalu menunggu-nuggu datangnya hari ini. Akhirnya, penantiannya membuahkan hasil. Kotak Pandora yang telah dijaganya selama beberapa tahun terakhir, akhirnya akan tersegel.
Oz menunggu dengan tidak sabar sementara dia menyaksikan Gil membuka kedua matanya, yang untungnya masih berwarna emas. Dia memperhatikan ketika Raven yang berada di dalam tubuh Gil mencolek luka di pergelangan tangan kirinya.
Raven membuat tubuh Gil berlutut, kemudian dia mulai menggambar beberapa buah rune dengan menggunakan darah Gil di lantai, mengelilingi meja tempat Kotak Pandora di simpan. Total ada delapan buah rune yang Raven gambar, masing-masing rune menunjuk ke arah mata angin yang berbeda.
Oz memperhatikan rune-rune itu dengan ingin tahu. Sebagai pewaris Kotak Pandora yang sah, Oz belum sempat mempelajari rune-rune sebelum keluarganya diserang, dan dia menyesalinya sekarang. Dia ingin mengatahui arti dari rune-rune itu.
"Air, udara, api, tanah," gumam Reo sambil menunjuk ke arah empat rune yang paling dekat dengan mereka secara bergantian.
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku saja tidak mengetahui arti dari rune-rune itu!" tanya Oz terkejut.
"Wocky," jawab Reo singkat. Dia lebih suka menyebut chainnya dengan panggilan Wocky daripada Jabberwock.
"Bagaimana dengan keempat rune yang tersisa?"
Reo menunjuk ke arah salah satu dari keempat rune yang tersisa, "Itu cahaya dan gelap. Di sebelahnya, makhluk hidup, termasuk manusia. Yang itu adalah energi sihir. Aku tidak bisa melihat rune terakhir, tapi Wocky memberitahuku kalau itu adalah simbol chain."
"Delapan energi yang membentuk dunia ini," gumam Ada.
Gil kembali berdiri. Dia menutup Kotak Pandora kembali dan menggambar sebuar rune di atas tutupnya.
"Itu simbol yang melambangkan penyegelan," Oz bisa mendengar Reo berbisik.
Gil, yang masih dikendalikan oleh Raven, meletakkan kedua tangannya di atas Kotak Pandora. Dengan suara berat, yang sama sekali tidak mirip dengan suara Gil, dia berkata,
"Dengan darah kontraktorku dan delapan rune penciptaan, aku, Raven, salah satu dari kelima Black Wings, menyegel Gerbang Abyss di dalam Kotak Pandora Alpha hingga kontraktorku mencabut segelnya, atau meninggal. Demi kedamaian Bumi dan Abyss, aku, dengan segala hakku sebagai Black Wings, memerintahanmu, Gerbang Abyss, untuk tertutup sementara! Tersegellah!"
Cahaya putih yang menyilaukan terpancar dari Kotak Pandora, membuat Oz terpaksa menutup kedua matanya apabila dia tidak ingin matanya mengalami kerusakan permanen. Ketika dia merasa kalau intensitas cahaya sudah menurun, dia kembali membuka matanya.
Gil masih berada di posisi yang sama, hanya saja matanya kini tertutup. Kotak Pandora berlumuran darah yang berada di bawah tangannya kini sudah tidak mengeluarkan sinar lagi.
"Jadi, ritual ini sudah selesai?" tanya Sharon.
"Seharusnya sih sudah," jawab Reo. "tapi lebih baik kalau kita tunggu sebentar lagi, untuk jaga-jaga."
Tiba-tiba, Gil membuka kedua matanya. Oz dan teman-temannya menarik nafas terkejut ketika mereka melihat mata Gil.
Mata Gil sudah tidak berwarna emas lagi. Kini, kedua bola mata itu berwarna merah, semerah darah.
"Ritual sudah selesai," Reo mengumumkan.
"Walaupun ritual penyegelan sudah selesai, tapi kurasa kita punya masalah baru," gumam Break.
Pada saat itu juga, Gil mengamuk.
TBC
A/N:
Yay! Libur telah tiba! Saatnya ngenet sepuasnya! xD #sadar tugas woy! sadar!
Dan bagi siapapun yang nebak kalau Gil yang akan menjadi penyegelnya, omodetou! Kalian benar! xD Dan untuk pertanyaan Mugi-pyon, arc ini tidak dikhususkan untuk beberapa karakter, tetapi semuanya! Everyone are the stars now!
Akhir kata, RnR?
