Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 30: Preparations
Siapa yang tidak menyukai langit saat senja?
Gil merebahkan tubuhnya di lantai semen atap. Kedua mata emasnya mengagumi campuran warna oranye, merah dan biru yang terlukis di langit yang berada di hadapannya, menyerap keindahan yang berada di depan matanya.
Matahari sudah setengah tenggelam, dan ini adalah tempat yang tepat untuk menikmati sisa waktu yang masih diberikan takdir kepadanya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok? Kemungkinan besar, Gil tidak akan bisa melihat matahari tenggelam besok.
Ralat, dia tidak akan isa melihat matahari tenggelam besok.
Gil mendesah pelan, "Takdir itu kejam, ya?" gumamnya tidak kepada siapa-siapa.
Dua minggu terakhir berjalan dengan begitu cepat. Dua minggu yang dipenuhi oleh jadwal latihan dan rapat strategi. Kini Gil bisa menembak sasaran dengan mata tertutup. Reo sudah bisa menembakkan panah dart-nya tanpa terlalu melenceng dari sasaran. Alice sudah bisa membedakan mana granat yang palsu dan yang asli. Ada semakin mahir dalam bidang pengobatan. Strategi mereka sudah dipoles dan disempurnakan berkali-kali. Hanya ada satu cacat dalam rencana mereka.
Walaupun Revis, Ada, dan Miranda sudah berusaha semampu mereka, mereka tetap tidak bisa menyembuhkan Ann sampai hari ini. Gadis itu masih terbaring tidak sadarkan diri di klinik.
Setelah insiden apel itu, mereka semua tidak pernah menyentuh makanan yang ada sebelum Revis menyatakan kalau makanan itu aman. Mereka tidak ingin mengambil resiko kehilangan seseorang lagi sebelum pertarungan yang akan datang.
Miranda juga tidak menemukan petunjuk berarti dari sampel darah yang mereka temukan di ruang rahasia. Dia berkata sampel DNA dari darah itu tidak cocok dengan DNA dari sampel darah anggota Reinhart yang dimilikinya. Bahkan dia sudah mengecek sampel darah Gil dan teman-temannya hanya untuk memastikan.
Sekarang, hari penentuan sudah berada di depan mata mereka. Besok, baik menang ataupun kalah, seluruh perjuangan mereka selama ini akan berakhir, dan beban tanggung jawab itu berada di pundak Gil. Kemenangan maupun kekalahan Pandora ditentukan oleh keberhasilannya dalam menghancurkan kedua Kotak Pandora.
"Kau disini rupanya."
Gil terlalu tenggelam dalam lamunannya sehingga dia tidak menyadari keberadaan orang lain di sana. Sebelum dia sempat berkata apa-apa, seseorang telah duduk di sebelahnya. Alice memeluk lututnya, kedua matanya kini terpaku ke langit senja yang Gil kagumi beberapa saat yang lalu.
Menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan, Gil mendorong tubuhnya hingga ke posisi duduk. "Alice?" tanyanya bingung. "Apa yang kau lakukan?"
"Kabur dari kekacauan di bawah," jawab Alice singkat.
"Ada apa dengan rambutmu?" tanya Gil ketika dia menyadari ada yang berubah dari Alice. Dua kepangan kecil yang selalu menemaninya kini sudah dilepas. Selain itu, rambut brunettenya yang biasanya tergerai hingga pahanya kini sudah dipotong. Panjang rambutnya kini hanya satu jengkal di bawah bahunya.
"Aire dan Esther memotongnya," jawab Alice. Dia meraih rambutnya dan memilinnya dengan jarinya tanpa sadar. "Ini masih lumayan. Kau harus lihat apa yang mereka lakukan dengan Echo dan Break! Kau tidak akan mengenali mereka!"
"Apa yang mereka lakukan? Mengecat rambut mereka?"
"Seperti itulah. Sekarang mereka sedang berusaha untuk memotong rambut Reo, dan kau tahu seberapa posesifnya Reo terhadap rambutnya," kata Alice sambil tertawa kecil.
"Kuharap siapapun yang memotong rambutnya selamat," gumam Gil. Terakhir kali mereka berusaha memotong rambut Reo, hanya Elliot yang bisa menghentikan amukannya. Tidak ada yang berani menyentuh rambutnya sejak saat itu.
"Oiya, mereka juga mencarimu tadi. Tampaknya Esther tidak sabar untuk mencoba meluruskan rambutmu," kata Alice.
Gil bergidik dan menyentuh rambut ikalnya, "Mungkin sebaiknya aku tidak ke bawah. Aku masih sayang dengan rambutku!"
"Aku juga tidak bisa membayangkanmu dengan rambut lurus," Alice mengakui. "Sama seperti aku tidak bisa membayangkan Oz dengan rambut keriting."
Gil kembali merebahkan tubuhnya, sementara Alice tetap duduk. Berdua, mereka menikmati hari damai terakhir yang mereka miliki sebelum entah apa yang akan mereka alami besok.
"Hey, Gil!" panggil Alice.
Gil memiringkan kepalanya ke arah Alice, "Hm?"
"Ketika kau menyegel Kotak Pandora dua minggu yang lalu, kenapa Elliot tidak bisa menghentikanmu?" tanya Alice. "Kenapa malah aku yang bisa menghentikanmu? Padahal Elliot adalah orang yang paling berharga bagimu, kan?" tambahnya dengan polos.
Kata-kata Alice menghantam Gil bagaikan palu godam. Alice belum juga mengerti, padahal Gil yakin teman-temannya yang lain mengerti, bahkan Oz. Kenapa hanya Alice yang tidak mengerti?
"Reo dan Echo tidak mau menjawab ketika aku menanyakan hal yang sama kepada mereka. Ketika aku bertanya kenapa mereka tahu kalau aku adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikanmu, mereka malah memberikan jawaban berputar-putar yang membuatku pusing. Bahkan Oz menolak memberitahuku!" kata Alice dengan nada kesal. "Makanya, aku memutuskan untuk menanyakannya langsung kepadamu, Gil!"
Alice menoleh ke arah Gil, "Jadi, ken… Sejak kapan kau ada di sini?" pekiknya kaget ketika tatapan kedua matanya beradu dengan kedua iris keemasan Gil, yang hanya berjarak beberapa senti dari miliknya.
"Kau belum mengerti juga?" tanya Gil dengan suara pelan. Tatapannya yang tajam dan tidak bisa dibaca membuat gadis di hadapannya tidak nyaman.
"Mengerti apa?" tanya gadis itu bingung.
Gil mendesah pelan. Kadang-kadang Alice bisa sepolos kelinci. Gil menggigit bibir bawahnya, mempertimbangkan tindakan yang akan diambilnya. Dia tahu dia tidak boleh melakukannya, tetapi dia tidak akan bisa mati dengan tenang kalau dia tidak melakukannya.
Ciuman itu singkat, hanya sebuah kecupan ringan, tetapi itu cukup untuk membuat Alice terpaku. Gil berharap Alice akan mengerti. Tidak, dia berharap Alice tetap tidak mengerti. Lebih baik begitu.
Ketika Alice sadar dari keterkejutannya, Gil sudah bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Posisi Gil yang memunggunginya tidak memungkinkan Alice untuk melihat wajahnya.
"Gil! Kau belum menjawab pertanyaanku!"
Gil berhenti melangkah. Tanpa menoleh, dia menjawab, "Mungkin akan lebih baik kalau kau tetap tidak mengerti."
Kemudian Gil menghilang, meninggalkan Alice yang sedang mengubur wajahnya di telapak tangannya.
"Laki-laki itu, tidak bisa memberikan jawaban yang jelas, ya?"
.
Sepertinya baru saja terjadi angin ribut di lantai satu.
"Aku tidak akan mengizinkanmu memotong rambutku!" pekik Sharon.
Gil menyingkir tepat pada waktunya untuk menghindari Sharon yang sedang berlari dengan panik. Kurang dari satu detik setelahnya, Gil terpaksa menyingkir kembali untuk memberikan jalan kepada Aire, yang membawa-bawa gunting untuk memotong rambut.
Ternyata bukan hanya Reo yang memiliki masalah dengan rambutnya.
"Akhirnya!"
Gil belum selesai mencerna apa yang terjadi ketika dirinya ditarik paksa oleh seseorang dan didudukkan di sebuah kursi. "Jangan protes kalau kau tidak mau aku memotong lehermu!" ancam Esther sebelum Gil sempat memprotes. Gil kembali menutup mulutnya.
"Pasrah saja, Gil!" saran Break yang kebetulan lewat. Rambut putihnya yang dicat hitam membuat Gil nyaris tidak mengenalinya.
"Walaupun kau melawan, Esther tetap akan melakukan apa yang dia inginkan," tambahnya. Dia menyentuh rambut hitamnya dan meringis,"Lihat apa yang terjadi padaku? Sharon nyaris pingsan ketika dia melihatku!"
"Kau melebih-lebihkannya, Break!" kata Oz sambil memutar kedua bola matanya. "Omong-omong, boleh aku lepas lensa kontak ini, Esther? Rasanya gatal!"
Tidak ada yang berubah dengan rambut Oz. Itu bukan masalah, toh pirang bukan warna rambut yang mencolok di sini. Tetapi, dia memakai dua buah lensa kontak berwarna coklat untuk menyembunyikan iris emerald-nya yang khas.
"Kau harus tetap memakainya agar kau terbiasa besok," jawab Esther datar tanpa menatap Oz. "Warna matamu terlalu khas!"
"Siapa sih yang mau melihat ke mataku untuk memastikan warnanya hijau atau bukan?" sungit Oz.
"Memang benar. Tapi, kami tidak ingin polisi memiliki ciri-ciri asli kalian. Kalian tidak ingin jadi buronan dan dikejar-kejar polisi seumur hidup kalian, kan?"
"Itu dengan asumsi kalau kita masih hidup lusa," gumam Ada yang baru saja memasuki ruang tengah dengan muram. Karena dia tidak akan ikut bertempur, dia tidak mengubah penampilannya.
"Jangan optimis seperti itu, Ada!" gurau Elliot. "Kita beruntung kalau kita masih hidup malam besok!"
"Kalau kalian semua sudah negative thinking seperti ini, kalian sama sekali tidak punya harapan!" kata Esther sambil menggelengkan kepalanya."Nah, selesai!" katanya setelah dia menyelesaikan apapun yang dilakukannya dengan rambut Gil.
Gil meraba kepalanya dengan ragu-ragu. Untungnya, Esther tidak meluruskan rambutnya. Gadis itu hanya merapihkan rambutnya hingga tidak terlalu berantakan lagi.
"Ini!" Oz melemparkan sebuah kotak kecil ke arah Gil. Gil menangkap kotak plastik itu dan membukanya. Sepasang lensa kontak berwarna biru langit berada di dalamnya.
"Nah, kalau seperti ini, baru kelihatan kalau kau dan Elliot itu benar-benar bersaudara," decak Break setelah Gil memasang lensa kontaknya.
Gil mengedipkan matanya, berusaha membiasakan diri. Rasanya tidak terlalu nyaman.
Terdengar sebuah teriakan marah dari arah dapur. Beberapa saat kemudian, Will berlari memasuki ruangan. Dia berhenti di dekat pintu dan berdiri di sana, berusaha menenangkan nafasnya.
"Aku menyerah!" katanya setelah nafasnya kembali teratur. "Ada apa sih dengan dia dan rambutnya? Dia nyaris membunuhku ketika aku baru memotong sehelai rambutnya!"
"Salah sendiri kau melakukannya di dapur," kata Esther.
Esther memberikan guntingnya kepada Echo, yang, seperti Break, rambutnya telah dicat hitam. Echo memandang gunting di tangannya dengan bingung. Sebelum gadis itu sempat memprotes, Esther mendorong Echo ke pintu dapur.
"Hanya kau yang bisa menyentuhnya, jadi, potong rambutnya untuk kami, oke?" kata Esther.
Echo menatap Esther dengan tatapan apa-kau-gila? miliknya. Esther mendesah dan berkata, "Potong saja poninya! Aku punya firasat itu yang membuat tembakannya sering meleset."
Esther menutup pintu, meredam seruan protes dari Echo. "Sebaiknya aku mengecek perkembangan Aire dengan Sharon. Kuharap dia tidak separah Reo!"
Setelah Esther dan Will pergi untuk membantu Aire, Alice bergabung dengan mereka. Dia mengedipkan matanya dengan tidak percaya ketika dia melihat penampilan teman-temannya. "Aku baru meninggalkan kalian selama kurang dari lima belas menit, dan kalian semua sudah berubah?" katanya takjub.
Alice bersikap biasa saja, seakan-akan kejadian di atap tidak pernah terjadi, tetapi dia berusaha untuk tidak memandang ke arah Gil. Gil juga berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja dan sedikit menghindari Alice. Tapi, sekilas dia melihat Oz menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Gil dan Alice menghindari satu sama lain, tetapi dia tidak berkata apa-apa.
Lima menit kemudian, pintu dapur kembali terbuka dan Echo menyeret Reo yang enggan bergerak di belakangnya ke arah mereka. Entah bagaimana, dia berhasil memotong poni Reo. Tanpa adanya poni yang menganggu, mereka bisa melihat mata Reo dengan jelas. Kecuali Elliot, dan mungkin Echo, Gil dan yang lain nyaris tidak pernah melihat mata Reo tanpa dihalangi oleh poninya, jadi ini adalah kesempatan langka.
"Jangan menatapku terus," gumam Reo sambil memalingkan wajahnya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan ingin tahu teman-temannya.
"Biarkan saja, Reo!" kata Elliot. "Jarang-jarang mereka melihatmu seperti ini. Sekarang, coba kau lepas kacamatamu itu!" sarannya.
Elliot mencoba meraih kacamata Reo untuk melepasnya, tetapi Reo menahannya. Selama beberapa saat, Elliot dan Reo bergumul sementara yang lain menonton. Akhirnya, Echo memutuskan untuk ikut campur dan dengan satu gerakan lincah, kacamata Reo sudah berada di tangannya.
"Echo! Kembalikan!" kata Reo dengan nada putus asa.
Echo menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak sekarang! Akan kukembalikan lusa, dengan asumsi kalau kita berdua masih hidup. Kau tidak rabun, dan kacamata ini hanya mengaburkan pandanganmu. Aku tidak ingin kau menembak orang tidak bersalah besok hanya karena penglihatanmu dikacaukan oleh kacamata ini!"
"Tidak akan ada bedanya, Echo!" bantah Reo. "Tembakanku tetap akan sepayah biasanya!"
"Siapa tahu?" kata Echo sambil mengangkat bahunya. Dia memasukkan kacamata itu ke sakunya, "Yang pasti, aku tidak akan mengembalikannya kepadamu dalam waktu dekat!"
"Lama sekali sih mereka berempat?" gumam Break sambil melihat ke arah tangga. "Memangnya sesusah itu memotong rambutnya?"
Seakan-akan menunggu aba-aba dari Break, suara langkah kaki seseorang yang sepertinya sedang kesal terdengar. Beberapa saat kemudian, Sharon muncul di tangga. Rupanya Aire dibantu dengan Esther dan Will berhasil melakukan tugas mereka, karena rambut Sharon kini sudah sependek Alice.
Sharon mendelik ke arah teman-temannya, "Apa lihat-lihat?" bentaknya. Yang lain segera mengalihkan pandangan mereka dari Sharon.
Oz berdeham, "Kurasa kita harus istirahat sekarang!"
"Tapi, Oz!" protes Elliot. Dia melirik ke arah jam dinding, "Sekarang baru jam tujuh! Terlalu awal untuk tidur!"
"Aku tahu!" jawab Oz tenang. "Tapi, kita membutuhkan setiap istirahat yang bisa kita dapatkan. Aku punya firasat kalau besok akan menjadi hari yang sangat panjang."
"Itu bukan firasat lagi, kak!" desah Ada. "Itu kenyataan!"
.
Sharon kembali mengubah posisi berbaringnya entah untuk yang keberapa kalinya. Gadis itu tidak bisa tidur, mengantuk saja tidak. Sharon tahu dia harus tidur, tetapi tubuhnya tidak mau menuruti perintahnya.
"Sharon? Kau masih bangun?" bisikan halus Ada nyaris membuat Sharon terlonjak kaget. Dia mengira teman sekamarnya sudah tidur, karena dia tidak mendengar suara apapun dari arah tempat tidurnya.
"Masih," jawab Sharon. "Aku sama sekali tidak bisa tidur."
"Aku juga," sahut Ada. Selimut yang menyembunyikan tubuh Ada dari pandangan Sharon tersingkap ketika pemiliknya bangkit. "Boleh aku ke tempat tidurmu?"
"Silahkan," kata Sharon mengizinkan.
Beberapa saat kemudian, Ada sudah berbaring di samping Sharon. Ketika Sharon sedang merapihkan selimut yang menyelimuti tubuhnya dan Ada, gadis di sampingnya bertanya, "Aku ingin tahu apakah yang lain juga tidak bisa tidur seperti ini?"
"Sepertinya iya," jawab Sharon. "Aneh kalau mereka bisa tidur dengan tenang sekarang." Ada tertawa kecil untuk merespon komentar Sharon.
"Sharon, apa kau takut?" tanya Ada lagi setelah mereka berdua terdiam selama beberapa saat.
"Jujur atau bohong?"
Ada berpikir sebentar sebelum menjawab, "Bohong,"
"Tidak," jawab Sharon. "Aku tidak takut dengan apapun yang akan terjadi besok! Aku tidak takut hal yang buruk terjadi pada kita dan strategi kita hancur berantakan. Kau?"
"Aku juga tidak takut," jawab Ada.
"Apa yang harus kau tidak takuti?" tanya Sharon. "Kau perlu bertempur, kan?"
"Memang, tetapi aku tidak takut melihat kalian segar bugar pagi harinya dan melihat kalian sekarat pada siang harinya. Aku tidak ingin melihat kalian mati!"
"Yang tadi itu, jujur atau bohong?"
"Jujur."
Sharon membenamkan wajahnya di bantalnya, "Begitu banyak yang bisa terjadi besok," gumamnya. "Besok, kita bisa menang mutlak atau kalah telak. Aku bisa mati, kau bisa mati, Break bisa mati, semua anggota Pandora dan Reinhart bisa mati, seluruh penduduk kota bisa mati karena ulah kita!"
"Semua orang juga akan mati pada akhirnya, Sharon!" balas Ada. "Kita juga akan mati, entah itu besok, minggu depan, tahun depan, atau satu dekade lagi. Well, kemungkinan terbesar sih kita akan mati besok."
"Kau tenang sekali, Ada!" puji Sharon.
"Keluarga Vesallius, termasuk aku, Oz dan Jack, telah didoktrin untuk siap mati sejak kami kecil," perkataan Ada teredam oleh bantal. Itu sebabnya Jack bisa menerima kematiannya dengan tenang. Tapi, ada satu kekurangan dari ajaran itu, kami tidak dipersiapkan untuk menghadapi rasa kehilangan setelah orang yang kami sayangi meninggal. Itu sebabnya aku dan kakak tidak bisa menerima kematian Jack. Aku siap mati, tetapi aku tidak siap melihat teman-temanku mati!"
"Tidak ada yang siap melihat temannya mati, Ada." bisik Sharon. "Aku pun tidak!"
Ada tersenyum kecil dan menelentangkan tubuhnya, "Aku tidak peduli besok kita akan menang atau kalah. Aku hanya ingin kita semua hidup lusa."
.
Elliot memasang alat komunikasi berbentuk anting jepit itu di telinganya. Aire bilang sinyalnya bisa mencapai radius lima kilometer, sehingga mereka tidak perlu takut sinyal mereka terputus karena mereka berada terlalu jauh dari markas. Kekurangan alat komunikasi itu adalah, mereka tidak bisa menghubungi satu sama lain melalui alat itu. Hanya Ada yang bisa mengontak mereka semua.
"Kau yakin alat ini bisa berfungsi?" tanyanya ragu.
Seakan untuk menjawab pertanyaan Elliot, suara Ada terdengar dari alat komunikasi itu, "Halo? Kalian bisa mendengar suaraku?"
"Sejelas siang hari," jawab Oz dengan nada santai.
"Oke! Aku juga bisa mendengar suaramu dari sini. Berarti alat ini berfungsi," jawab Ada. Gadis itu sedang berada di klinik yang sekarang merangkap sebagai ruang komando untuk mengetes alat komunikasi itu.
Echo menyelipkan sebilah pisau di sepatu boots hitamnya. Pisau-pisau serupa juga telah disembunyikan di berbagai tempat di tubuhnya dan di dalam tas ransel hitam miliknya. Tas ransel itu juga menyimpan beberapa senjata lain yang dipercaya akan berguna nanti dan sebuah 'pengalih perhatian.'
"Jangan menyimpan terlalu banyak senjata di tubuh dan pakaianmu seperti itu, Echo!" kata Sharon khawatir. "Kau bisa melukai dirimu sendiri!"
"Aku tahu!" kata Echo datar. "Tapi aku malas mengacak-acak isi ranselku untuk mencari senjata yang kubutuhkan nanti," tambahnya ketika dia mengikatkan sebuah kantung kulit berisi handgun di lengan kanannya.
Ada bergabung dengan mereka. Sebuah headset berwarna hitam lengkap dengan miknya bertengger di kepalanya sementara jas dokter berwarna putih yang dikenakannya berkibar di belakangnya, "Semua siap?" tanyanya.
"Sesiap yang kita bisa," jawab Alice. Dia menyampirkan ranselnya di bahunya dan mengerang pelan, "Esther! Apa saja sih yang kau masukkan ke ranselku? Berat benda ini hampir satu ton!"
"Aku hanya memasukkan senjata-senjata yang kita setujui saja, kok!" jawab Esther. "Aku tidak memasukkan barang lain!"
Ada menghampiri Elliot dan merapihkan tudung jaket warna hitam yang dipakainya. Bayangan yang dihasilkan oleh tudung itu menyembunyikan sebagian besar wajah Elliot.
"Nah, seperti ini baru benar!" kata Ada puas setelah wajah Elliot tertutup seluruhnya oleh bayangan tudungnya.
"Terimakasih," kata Elliot. "Tetapi aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas kalau seperti ini!" lanjutnya sambil menarik tudungnya sedikit ke belakang.
Oz melirik jam tangan, yang juga berfungsi sebagai detenator, yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Pertempuran dimulai jam sepuluh. Kita punya waktu sekitar satu jam lagi untuk bersiap-siap dan pergi menuju garis start kita masing-masing."
"Kalau begitu, sebaiknya kalian berangkat sekarang," kata Aire. "Kalian semua sudah siap, kan?"
Oz, Ada, Elliot, Reo, Gil, Sharon, Break dan Alice mengangguk. Mereka semua sudah mengenakan penyamaran mereka masing-masing. Elliot, Reo dan Gil dengan jaket bertudung mereka. Oz, Alice dan Sharon dengan pakaian kasual. Echo dan Break dengan penampilan emo mereka. Di balik pakaian mereka, mereka memakai sebuah rompi anti peluru dan menyembunyikan berbagai jenis senjata. Ransel di punggung mereka juga berisi senjata-senjata yang bisa melumpuhkan lawan, karena mereka tidak ingin membunuh orang lain.
"Alice, kau sudah bisa membedakan mana granat yang asli dan dummy, kan?" tanya Esther untuk memastikan.
"Aku sudah tahu, Esther! Tidak usah menanyaiku terus!" jawab Alice ketus. Sejak sebuah insiden yang melibatkan Alice dan sebuah granat dummy yang ternyata asli, mereka tidak mengizinkan Alice dekat-dekat dengan senjata itu lagi.
"Sebaiknya kalian berangkat sekarang," saran Esther. "Aku dan Aire akan mengecek Ann terlebih dahulu sebelum menyusul anggota Reinhart yang lain."
"Menang atau kalah, semuanya akan berakhir hari ini," gumam Oz. Setelah membetulkan posisi ranselnya, dia menatap teman-temannya satu-persatu.
"Ingat, Break! Tidak ada The Last Effort!" kata Oz mengingatkan.
"Aw! Kenapa?" tanya Break kecewa.
"Karena kau sudah pernah melakukannya! Dan kurasa Sharon tidak akan suka kalau kau memiliki tato di wajahmu," jawabnya. "Kalian siap?"
"Kalau kau sudah siap, kami juga siap," jawab Reo.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" perintah Oz.
"Semoga beruntung!" seru Ada ketika mereka mulai meninggalkan rumah kos.
"Trims, Ada!" kata Elliot. "Kita membutuhkan banyak keberuntungan hari ini!"
.
Oz menyandarkan punggungnya ke dinding bata sebuah toko. Ransel hitamnya kini beristirahat di dekat kakinya. Sekilas, orang-orang akan mengira kalau Oz hanyalah seorang anak yang baru pulang dari sekolah, atau dalam kasus ini, karena hari masih pagi, kabur dari sekolah. Tidak akan ada yang mengira kalau apa yang akan dilakukan olehnya dan teman-temannya akan membuat geger kota Sabrie.
Dengan gerakan santai, Oz melihat jam tangannya. Pukul 09.58. Dua menit sebelum waktu yang disepakati.
"Ada?" bisiknya.
Terdengar suara statis selama beberapa saat sebelum suara Ada terdengar, "Ya, kak?"
"Yang lain sudah berada di tempat mereka masing-masing?"
"Semua sudah kecuali Echo. Dia bilang sebentar lagi dia akan sampai. Garis startnya memang yang paling jauh, sih…"
"Kabari aku kalau semua sudah siap!"
"Roger!"
Oz kembali melirik jam tangannya. Pukul 09.59. Oz mengambil tas ranselnya dan memakainya, mengernyit sedikit ketika berat tas itu membebani bahunya. Alice benar, tas itu memang berat.
Kembali terdengar suara statis di telinga kanan Oz, disusul oleh laporan Ada, "Semua orang sudah siap, kak!"
"Bagus," gumam Oz. "Waktu kita tinggal 20 detik lagi!"
Oz menunggu dengan sabar sementara 20 detik yang lambat itu berlalu. Untuk yang entah keberapa kalinya, dia kembali melihat jam tangannya. Lima detik lagi.
"Lima…" suara Ada yang menghitung mundur terdengar tegang. "Empat… Tiga… Ingat, selalu serang sisi kanan mereka untuk membatalkan kontrak mereka! Dua…"
"Satu…" gumam Oz. Dia memasukkan tangannya ke dalam sakunya, jemarinya menggenggam gagang sebuah pisau yang ada di sana, senjata yang paling mudah untuk diraih.
"Nol…" Oz menegakkan tubuhnya.
"Permainan dimulai!"
TBC
