Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 32: For Our Home

"Ada, aku berada di dekat tempat kita menemukan Echo dulu. Lotti sedang disibukkan oleh Eques sekarang, sehingga aku bisa mempunyai waktu untuk menyusun strategi. Kalau aku tidak menghubungimu dalam waktu tiga puluh menit kedepan, itu berarti strategiku gagal dan kemungkinan besar aku kalah," suara Sharon terdengar datar dari alat transmisi Ada.

Ada mengangguk ketika mendengar kabar dari sahabatnya. Tangan kanannya sibuk meggoreskan pena miliknya di atas selembar kertas di depannya. Kertas itu berisi coretan-coretan Ada mengenai keberadaan teman-temannya sekarang dan siapa musuh mereka, sehingga Ada bisa memperkirakan pergerakan mereka.

"Roger," gumam Ada pelan. Dia bisa kembali mendengar suara statis ketika Sharon memutuskan sambungan.

Ada meletakkan penanya dan menarik nafas panjang. Permainan telah mulai memanas.

.

Sharon mematikan alat transmisinya. Dia baru saja memberitahu Ada tentang rencananya. Sekarang, setelah langkah pertama dari strateginya, yaitu memberitahu Ada, telah dia selesaikan, saatnya untuk melangkah ke langkah selanjutnya.

Gadis itu memejamkan matanya untuk memanggil Eques dan berbicara kepadanya.

"Eques, kau tidak perlu mengganggu Lotti lagi sekarang,"

"Tidak perlu menyuruhku lagi, nona! Gadis itu sudah berhasil melewatiku," Eques segera menjawab dengan suaranya yang dalam.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak ada luka yang serius, untungnya. Tapi aku tetap harus beristirahat sebentar di Abyss."

"Baguslah kalau begitu. Usahakan agar kau siap ketika aku harus memanggilmu."

"Baiklah, nona."

"Berhenti memanggil aku nona!"

Sharon sempat mendengar gelak tawa Eques yang mirip ringkikan kuda sebelum dia membuka matanya. "Geez, chain memang memiliki selera humor yang buruk!" gumam Sharon kesal.

Setelah memastikan kalau dirinya sudah siap, Sharon mulai berjalan untuk meninggalkan keamanan yang ditawarkan gedung ini kepadanya. Setelah dia menjejakkan kaki di luar gedung ini, tidak ada lagi pilihan untuk melarikan diri atau bersembunyi. Yang tersisa hanyalah permainan strategi antara dirinya dan Lotti.

Sharon meletakkan tangannya di kenop pintu, bersiap-siap untuk membukanya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan memutar kenop pintu itu untuk membukanya.

"Ke~ju~tan~"

Karena Sharon sedang memakai penyumpal telinganya, dia tidak bisa mendengar perkataan Lotti. Tapi, begitu dia melihat gadis berambut merah muda yang berdiri tepat di depan pintu, dia segera tahu kalau bagian pertama dari strateginya hancur sudah.

Insting bertempur Sharon mengalahkan rasa terkejutnya dan mengambil alih tubuhnya tepat pada waktunya. Tahu kalau Lotti akan segera menggunakan cambuknya, Sharon segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah sehingga cambuk Lotti melecut dengan tidak berbahaya di atasnya. Ketika Lotti sedang menarik cambuknya kembali, Sharon sudah kembali berdiri dan segera berlari dari tempat itu.

"Hey, pengecut! Jangan melarikan diri terus! Hadapi aku seperti seorang wanita!"

Sharon mengabaikan hinaan Lotti dan terus berlari. Sekali, dia melirik ke belakang dan melihat kalau Lotti sedang mengejarnya. Setidaknya, satu bagian dari strateginya berjalan dengan lancar. Ke depannya, Sharon harus berimprovisasi.

Dalam hati, Sharon kembali menyusun ulang strateginya. Langkah pertama, temukan Lotti. Well, langkah ini tidak berhasil dia selesaikan, karena Lotti-lah yang menemukannya,bukan sebaliknya.

Langkah kedua, buat Lotti mengejarnya. Baiklah, langkah yang ini berhasil dia selesaikan dengan sangat baik.

Langkah ketiga, temukan tempat yang tertutup dan membiarkan dirinya sendiri terpojok. Ini yang sedang dia berusaha lakukan.

Sharon berbelok di sebuah tikungan dan mendapati kalau dirinya berada di sebuah gang buntu. Gang itu diapit oleh dinding-dinding bangunan setinggi kurang lebih sepuluh meter. Sekali Sharon mengetukkan jarinya ke sebidang dinding dan merasakan dinding yang kokoh, bagus untuk memantulkan suara.

Tempat ini sempurna.

Sharon menghentikan larinya dan membalikkan badannya. Kedua tangannya mencengkram kotak tiruan di tangannya seerat mungkin, seakan-akan dia sedang memegang Kotak Pandora yang sebenarnya. Beberapa meter di depannya, Lotti berdiri dan tersenyum dengan penuh kemenangan. Kedua bibirnya bergerak, tetapi Sharon tidak bisa mendengar suara apapun. Untungnya, Sharon adalah pembaca bibir yang cukup handal.

"Sepertinya kau sudah terpojok, Sharon!"

Sharon melirik ke arah tembok di belakangnya, seakan-akan sedang mencari jalan untuk keluar. Dia kembali memusatkan perhatiannya ke arah Lotti, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Ada apa? Kucing memakan lidahmu?" Lotti tertawa atas leluconnya sendiri. Dia mengulurkan tangannya ke arah Sharon.

"Sekarang, serahkan Kotak Pandora di tanganmu dan mungkin, mungkin, aku akan membiarkanmu hidup!"

Sharon menggelengkan kepalanya. Sebuah kerutan muncul di kening Lotti ketika dia melihat kekeras kepalaan Sharon.

"Ayolah, Sharon! Jangan membuat keadaan semakin sulit! Serahkan kotak itu, dan aku akan membiarkanmu hidup!"

Sekali lagi, Sharon menggelengkan kepalanya. Tangan kanannya mulai melepaskan genggamannya terhadap kotak dan mulai meraih ke belakang.

"Bukan hanya aku yang memiliki kelemahan dalam bertarung, Lotti." kata Sharon dengan nada tenang.

Kedua mata Lotti membesar karena terkejut ketika dia melihat ke arah yang dituju oleh tangan Sharon. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Kau kurang teliti,"

Jari telunjuk Sharon sudah menarik picu.

.

Break menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya ketika sebuah suara bernada tinggi dan amat sangat keras terdengar olehnya. Beberapa pejalan kaki yang berada di sekitar Break juga melakukan hal yang sama. Beberapa orang malah terlihat seperti nyaris pingsan.

"Demi Tuhan! Suara apa itu?" pikir Break. "Suaranya seperti sebuah bom yang meledak!"

Break segera melihat ke langit untuk mencari asap atau tanda-tanda ledakan yang lainnya, tetapi langit masih sebiru sebelumnya. Break membiarkan kedua tangannya jatuh kembali ke sisi tubuhnya dan mendapati kalau suara itu sudah berhenti.

"Granat suarakah?" gumamnya. Dia berharap orang yang barusan memakai granat itu berasal dari Pandora. Kalau bukan, dia berdoa agar teman-temannya selamat. Granat suara adalah senjata yang berbahaya, namun tidak mematikan.

Sebagian besar orang telah pulih dari keterkejutan mereka dan kembali melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda, walaupun Break melihat masih ada beberapa orang yang menatap langit dengan cemas. Seperti mereka, Break juga kembali memusatkan perhatiannya kepada tugasnya.

Dia menemukan orang yang diincarnya berdiri di depan sebuah toko hanya beberapa meter di hadapannya. Rambut merahnya yang sudah dipotong hingga sebahu membuat Break nyaris tidak mengenalinya. Seperti Break, dia juga menggendong sebuah ransel, tidak diragukan lagi berisi berbagai macam senjata, di punggungnya.

Tampaknya dia juga baru pulih dari keterkejutannya. Ini bisa dilihat dari kedua tangannya yang masih setengah terangkat seakan-akan menanti serangan suara selanjutnya. Kepalanya kini menoleh ke kanan dan kiri seakan-akan mencari seseorang.

Beberapa detik kemudian, tatapan matanya mendarat di Break. Break melambaikan tangannya dengan santai seakan-akan dia baru saja bertemu dengan kawan lama. Sebuah senyum yang lebih mirip seringai terbentuk di wajah anak laki-laki itu. Kemudian dia membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi.

"Sepertinya penyamaran ini tidak terlalu berguna, Esther," gumam Break sebelum dia mulai mengikuti anak laki-laki itu.

.

Penyumpal telinga ciptaan Esther menyelamatkan nyawa Sharon.

Bahkan dengan kedua telinga tersumpal, Sharon masih bisa merasakan efek dari ledakan itu. Sharon memejamkan matanya ketika efek ledakan suara itu membuat tubuhnya terhuyung beberapa meter ke belakang dan telinganya berdenging menyakitkan. Gema yang dihasilkan oleh dinding di sekelilingnya semakin memperburuk keadaan. Setelah suasana tenang kembali, Sharon membuka kedua matanya.

Ledakan tadi meninggalkan efek yang lebih parah pada Lotti. Gadis itu tergeletak tidak sadarkan diri beberapa meter di hadapan Sharon. Kedua cambuknya terjatuh ketika Lotti berusaha untuk memblokir serangan itu dan sekarang senjata-senjata itu bergulir begitu saja di atas tanah.

Tahu kalau Lotti bisa siuman kapan saja, Sharon segera beraksi. Dia menyambar kedua cambuk Lotti dan, karena dia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan cambuk, memutuskan tali kulitnya menggunakan pisau agar Lotti tidak bisa menggunakannya lagi. Kemudian, dia melucuti ransel Lotti dan mulai membongkarnya. Selalu ada kemungkinan kalau Lotti membawa Kotak Pandora yang asli.

"Dia tidak membawa terlalu banyak senjata, ya?" gumam Sharon ketika dia melihat minimnya persediaan senjata di ransel Lotti. Lawannya itu hanya membawa sepuluh belati cadangan dan dua pistol. Sepertinya Lotti benar-benar mempercayai kemampuannya bermain cambuk sehingga dia tidak mau membawa senjata banyak-banyak.

Sharon memasukkan tangan kanannya ke dalam ransel dan, dengan seruan penuh kemenangan, mengeluarkan sebuah kotak kayu seukuran Kotak Pandora.

Tidak seperti Kotak Pandora mereka, kotak yang ini dilapisi dengan cat keemasan. Selain itu, bentuk kotak di tangannya sama persis dengan kotak tiruan yang dibawanya. Sharon menelusuri guratan-guratan di permukaan kayu kotak itu dengan hati-hati. Dia belum pernah melihat Kotak Pandora milik Dark Sabrie sebelumnya, jadi dia tidak tahu apakah ini kotak yang asli atau yang bukan.

"Eques?" bisik Sharon.

Butuh beberapa saat bagi Eques untuk muncul di samping Sharon. Chain itu langsung menundukkan kepalanya dan mengendus-ngendus kotak itu dengan tertarik.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Sharon. Eques menginspeksi kotak itu beberapa saat sebelum mendengus ala kuda.

"Ini sebuah dummy. Jelas-jelas dummy!"

"Benarkah?" tanya Sharon kecewa. "Sepertinya aku tidak beruntung hari ini."

Sharon melemparkan kotak palsu itu ke udara. Sebuah bola api hitam terbentuk dan melesat dari tanduk Eques ke arah kotak yang masih melayang itu. Bola api hitam itu melahap kotak itu sepenuhnya dan beberapa detik kemudian, yang tersisa dari kotak itu hanyalah setumpuk abu di atas tanah.

"Kalau dipikir-pikir, rasanya tidak mungkin Dark Sabrie akan mempercayakan kotak itu pada Lotti," ucap Sharon.

"Tidak mungkin apa?" desis seseorang dengan nada mematikan.

Detik berikutnya, tiruan kotak Pandora milik Sharon direngut dari pangkuannya dan tubuh pemiliknya terlempar ke belakang hingga punggungnya membentur dinding. Rupanya perhatian Sharon terlalu terfokus kepada kotak yang baru saja dihancurkannya sehingga dia tidak memperhatikan gadis yang telah dia pingsankan tadi.

Di tempat Sharon berada tadi, Lotti berdiri dengan angkuh. Cara berdirinya yang agak goyah memberitahu Sharon kalau gadis itu belum sepenuhnya pulih dari efek serangan tadi. Kotak Pandora palsu itu kini berada di tangannya.

"Kuakui kalau strategimu cerdik juga, Sharon!" decak Lotti. Ujung sepatu bootnya menyentuh potongan tali yang tadinya adalah cambuknya, ekspresi tidak suka terlihat jelas di wajahnya.

"Merusak cambukku, eh? Sayang, padahal ini cambuk kesayanganku!" ucap Lotti dengan penuh penyesalan. Tapi senyum penuh penyesalannya segera berubah menjadi senyum kemenangan. Dia mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan kotak yang dipegangnya kepada Sharon.

"Masa bodoh dengan cambuk itu! Yang penting aku mendapatkan kotak ini!" serunya.

Eques mengeluarkan sebuah ringkikan marah ketika udara di samping Lotti bergetar dan Leon muncul. Mengabaikan ringkikan Eques, Chain berbentuk singa bersayap itu mengendus-ngendus kotak di tangan Lotti. Beberapa saat kemudian, Leon menggelengkan kepalanya, surainya berkibar ketika dia melakukannya.

Lotti mendecakkan lidahnya, "Ternyata bukan hanya kami yang terpikir untuk memakai dummy!"

Seperti yang dilakukan Sharon sebelumnya, Lotti melemparkan kotak palsu itu tinggi ke udara. Leon melompat dan menyambar kotak itu di udara dengan cakarnya, dengan efektif membelah kotak itu menjadi lima bagian.

"Kau cukup kuno juga, ya?" komentar Sharon ketika dia melihat cara Lotti menghancurkan kotak itu. Dia menekankan telapak tangannya ke dinding dan menggunakannya untuk membangkitkan tubuhnya hingga dia berada di posisi berdiri.

Lotti tersenyum ketika mendengar komentar Sharon, "Dibandingkan dengan caramu tadi, mungkin ini memang sedikit kuno. Tapi, aku ingin Leon menghemat tenaganya."

"Kenapa?" tanya Sharon sambil sedikit memiringkan kepalanya. "Kukira pertempuran kita sudah berakhir? Tidak ada satupun di antara kita yang membawa Kotak Pandora, kan? Tidak bisakah kita pulang ke rumah masing-masing dengan damai?"

Mendengar pertanyaan Sharon, Lotti tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, Sharon!" serunya di antara tawanya. "Kau tidak benar-benar mengira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah semua ini, kan? Kau itu naif atau apa?"

"Aku tidak naif! Aku hanya memilih untuk berpikiran positif, itu saja!" bantah Sharon.

"Pikiran positif tidak akan membawamu ke mana-mana kalau kenyataan berkata sebaliknya," balas Lotti. "Lagipula, kita berdua tidak punya rumah untuk tempat kita kembali. Lebih baik kau mati saja disini!"

Lotti melemparkan sebilah belati ke arah Sharon. Terlalu terkejut untuk menghindar, Sharon hanya bisa menatap pisau itu melayang ke arahnya sementara pikirannya masih mencerna apa yang telah terjadi.

Pada detik terakhir, Eques melesat ke sisi Sharon. Sharon segera sadar dari keterkejutannya dan dia segera mencengkram surai hitam Eques untuk menghela tubuhnya ke atas chain itu sementara Eques terus berlari. Pisau yang dilemparkan oleh Lotti kini menancap di dinding tempat kepala Sharon berada satu detik sebelumnya.

"Maaf saja, Lotti!" seru Sharon sementara Eques membawanya semakin jauh dari anggota Dark Sabrie itu. "Seperti aku bilang tadi, aku tidak berniat untuk mati!"

"Jangan melamun seperti tadi lagi, nona!" tegur Eques ketika mereka sudah berada cukup jauh dari Lotti.

"Lain kali tidak akan terjadi lagi!" janji Sharon.

Eques mendengus, "Sepertinya tidak akan ada lain kali, nona!"

"Berhenti memanggil aku nona!"

Sharon menolehkan kepalanya sedikit dan melihat kalau Lotti sedang mengejarnya dengan menunggangi Leon dari sudut matanya. Dia bisa melihat gadis itu mengangkat tangannya dan mengarahkan benda yang dipegangnya ke arah Sharon.

"Pistol!" kata Sharon dengan nada tercekat. "Apa kau tidak bisa berlari lebih cepat, Eques?"

"Akan kuusahakan,"

"Seharusnya aku mengambil senjatanya tadi," gumam Sharon dengan nada penuh penyesalan.

Sharon melepaskan salah satu tali ranselnya dan mengayunkannya sehingga ransel itu kini berada di depannya. Sembari menyerukan arah kepada Eques, Sharon membuka ranselnya dan mengeluarkan beberapa senjatanya. Dia menyelipkan sebilah belati di lengan bajunya dan mengambil sebuah pistol lagi.

"Eques, bawa aku ke tempat awal tadi!"

"Eh?" balas Eques dengan nada terkejut. "Kenapa tidak ke tempat yang lain berada?"

"Aku harus melawannya di sini! Aku tidak ingin mengambil resiko membahayakan orang lain atau membuat yang lain semakin repot!" jawab Sharon. Rambut peachnya berkibar dengan liar di belakangnya saking cepatnya Eques berlari.

"Terserah kau, nona!" respon Eques sebelum dia mengubah arah larinya.

Terdengar suara letusan pistol dari belakangnya dan secara refleks Sharon menundukkan tubuhnya hingga ujung hidungnya menyentuh surai Eques. Surai Eques membuat hidungnya terasa geli sehingga Sharon cepat-cepat menegakkan tubuhnya kembali.

Sharon kembali melirik ke belakang dan melihat kalau Lotti sudah bersiap-siap untuk melepaskan tembakan selanjutnya. "Lebih cepat, Eques!"

"Hey! Aku juga punya batas, kau tahu?"

"Pertama, aku tidak tahu. Kedua, aku tidak peduli! Cepat bawa aku ke sana!"

"Sebentar lagi!"

Setelah mengembalikan fokusnya ke depan, Sharon bisa melihat area tempat Echo membatalkan kontrak Vincent dengan Dormouse secara paksa. Kalau rencana Sharon berhasil, mungkin hal yang sama juga akan terjadi di sini.

"Eques, mungkin ini terakhir kalinya kita berkomunikasi," kata Sharon dalam hati.

"Apa kau berniat untuk membatalkan kontrak kita?" tanya Eques penasaran.

"Selalu ada kemungkinan kalau itu akan terjadi, dengan maupun tanpa kemauanku. Aku hanya ingin berterima kasih atas bantuan dan kekuatan yang telah kau pinjamkan kepadaku dan Pandora!"

Eques meringkik pelan dan berkata, "Tidak perlu berterima kasih, Sharon! Lagipula, berada di duniamu jauh lebih menyenangkan daripada di Abyss!"

"Apa kau tidak keberatan kembali ke Abyss lagi?"

"Nah, manusia itu makhluk aneh yang penuh dengan rasa ingin tahu. Pada akhirnya gerbang diantara kedua dunia akan terbuka lagi. Aku tidak keberatan menunggu seribu tahun. Lagipula, waktu tidak memiliki arti di Abyss."

"Aku berharap hal itu baru akan terjadi beberapa generasi lagi!"

Eques berderap ke tengah kehancuran dan berhenti, mengizinkan Sharon untuk melompat turun dari punggungnya. Sharon berbalik dan membelai leher Eques sementara chain itu menundukkan wajahnya dan menyentuh puncak kepala Sharon menggunakan moncongnya.

Sharon menatap kedua mata hitam Eques, "Terima kasih untuk segalanya!" bisiknya.

Wujud Eques berdenyar di bawah tangan Sharon. Sharon menarik tangannya dari sosok Eques yang semakin memudar dan tersenyum. Eques memberikan sebuah ringkikan selamat tinggal yang terakhir sebelum wujudnya menghilang sebelumnya.

Sharon membalikkan tubuhnya ke arah tempat dia masuk. Sekarang, Lotti berdiri di pinggir area berbentuk lingkaran itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Leon. Lotti menaikkan sebelah alisnya ketika dia melihat Eques menghilang.

"Jadi? Duel terakhir?" tantang gadis itu.

Sharon tersenyum dan mengarahkan pistolnya ke kepala Lotti, "Tidak ada chain, tidak ada tipuan. Hanya kemampuan masing-masing, bagaimana?"

Lotti menimbang-nimbang persyaratan Sharon selama beberapa saat sebelum dia berkata, "Setuju!"

Tidak mau membuang-buang waktu lagi, Sharon segera menembakkan pistolnya. Sharon adalah penembak yang cukup ahli, tapi Lotti juga bukan anak kemarin sore. Dia hanya bergeser ke kanan satu langkah untuk menghindari peluru yang ditembakkan Sharon.

"Hanya itu yang bisa kau lakukan, Sharon?" ejek Lotti.

"Memangnya kau bisa melakukan yang lebih baik?" balas Sharon.

Lotti menggeram dan menyerbu Sharon. Sharon mempersiapkan diri untuk menembak lagi, tetapi sebelum dia sempat melakukannya, Lotti sudah menembaknya. Sharon segera merunduk untuk menghindari peluru yang menyasar kepalanya, tetapi tindakannya membuat gadis itu kehilangan kesempatannya untuk menembak.

Sebelum Sharon sempat berdiri tegak, Lotti sudah menabrak tubuh gadis yang lebih kecil itu. Sebelum gadis itu menyadarinya, Lotti sudah memitingnya di tanah. Lotti merengut pistol di tangan Sharon dengan paksa dan menempelkan laras pistol itu di kening Sharon.

Lotti menguap dengan bosan, "Belum satu menit berlalu, dan kau sudah kalah, Sharon! Membosankan!"

"Benarkah?" kata Sharon sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kurasa aku tidak sepenuhnya kalah. Maksudku, lihat! Aku masih hidup, kan?"

Lotti mengamati gadis dibawahnya, "Ya, kau masih hidup. Apa kau mau aku membunuhmu sekarang?" dia menawarkan.

"Tidak, terimakasih! Aku lebih memilih untuk hidup!" tolak Sharon.

"Sayang sekali, aku tidak bisa membiarkanmu hidup," kata Lotti. "Kecuali…"

"Kecuali apa?" tanya Sharon penasaran.

"Kecuali kalau kau mau bergabung dengan Dark Sabrie," jawab Lotti kalem. "Apabila kau mau bergabung dengan kami, kami akan membiarkanmu tetap hidup. Selain itu, kau juga kontraktor chain yang kuat. Aku yakin kami bisa menggunakan kekuatanmu!"

"Dan membiarkan diriku menjadi boneka kalian? Tidak, terimakasih!" Sharon langsung menolak mentah-mentah. "Lebih baik aku mati daripada bergabung dengan kalian!"

Lotti kembali menyodokkan pistol di tangannya dengan keras di kening Sharon, menyebabkan gadis itu mengaduh sebentar. "Kau tidak mengerti, Sharon," katanya. "Kau bisa menjadi pemimpin dunia apabila kau mau! Bukankah itu yang setiap orang dambakan?"

"Lagipula, apabila kau tetap tidak mau bergabung dan oleh karena sesuatu hal aku membiarkanmu tetap hidup, kemana kau akan pergi? Di akhir hari ini, Dark Sabrie akan berhasil merebut kotak milik kalian dan menggunakannya. Pandora akan kalah, dan kau tidak akan punya rumah lagi. Kau tidak akan memiliki tujuan hidup lagi dan pada akhirnya kau akan mati juga. Kenapa menyia-nyiakan bakat yang kau miliki? Kenapa tidak bergabung dengan kami?"

Sharon tertawa kecil ketika dia mendengar bujukan-bujukan Lotti. Gadis di atasnya mengerutkan dahinya dengan bingung, "Apa yang lucu?" tuntutnya.

"Apa kau benar-benar mengira kalau rumah adalah tempat kita tinggal, Lotti?" tanya Sharon dengan tenang. Gadis itu sama sekali tidak mempedulikan posisinya yang tidak menguntungkan dan pistol yang menempel di keningnya.

Sebelum Lotti sempat menjawab, Sharon sudah kembali berbicara, "Menurutku, tidak semua tempat yang kita tinggali bisa disebut rumah. Apa gunanya rumah mewah, apabila kau tidak merasa diterima di sana? Apabila kau diabaikan? Tidak!"

"Rumah adalah tempat kita merasa diterima dan nyaman. Rumah tidak selalu berarti tempat. Bahkan, kita bisa menyebut seseorang rumah kita. Selama ini, Pandora adalah rumahku. Tapi, walaupun kalian mengalahkan Pandora, aku masih memiliki rumah-rumah yang lain. Xerxes-nii, Alice, Ada, Oz, Echo, Gil, Elliot, Reo, mereka semualah alasan aku masih hidup sampai hari ini. Merekalah rumahku!"

Dengan sekuat tenaga, Sharon berusaha untuk mendorong tubuh Lotti. Sayangnya, Lotti jauh lebih kuat darinya. Gadis itu hanya perlu mengeluarkan sedikit lebih banyak tenaga untuk membuat usaha Sharon tidak berarti. Dalam waktu kurang dari satu menit, Sharon sudah berhenti berusaha untuk membebaskan diri.

"Itukah definisi rumah milikmu?" tanya Lotti dengan suara pelan. Laras pistol yang dipegangnya masih belum meninggalkan kening Sharon. "Lucu, karena definisiku hampir sama dengan milikmu."

"Dark Sabrie adalah rumahku. Merekalah orang-orang pertama yang menerimaku sebagai siapa aku sebenarnya. Mungkin kau mengira kalau kami semua adalah orang jahat yang berusaha untuk menguasai dunia, sama seperti kami mengira kalau kami adalah orang jahat penghancur mimpi orang lain. Tetapi, kami bukanlah orang jahat."

"Sama seperti kau, dulu aku juga tidak punya tujuan hidup. Aku hanya bangun untuk menjalani hari demi hari. Dark Sabrielah yang memberiku tujuan hidup. Dan aku tidak akan pernah mengizinkan orang lain untuk merebut tujuan hidupku maupun rumahku, karena itu sama saja dengan mereka membunuhku. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sama sekali tidak berniat untuk mati."

Lotti membuang pistol yang dipegangnya dan menggantinya dengan sebilah pisau, "Kurasa menggunakan pisau akan jauh lebih asyik daripada menggunakan pistol," Lotti menyeringai ketika melihat ekspresi kebingungan Sharon.

Dia menempelkan mata pisau itu di lengan kiri Sharon, tepat diatas tato milik Sharon. "Jangan bingung seperti itu. Bukan hanya Pandora yang mengetahui tentang pembatalan paksa. Kami juga belajar dari pengalaman, kau tahu?"

"Kalau kalian bisa belajar dari pengalaman," Sharon berkata pelan, "kami juga bisa!"

Tanpa Lotti sadari, mata pisau milik Sharon juga sudah menempel di lengan kanannya. Rupanya, ketika mereka sedang sibuk berbicara tadi, Sharon memakai kesempatan yang ada untuk mengeluarkan pisaunya.

Lotti menunduk dan melihat mata pisau itu. Senyumnya segera memudar ketika dia melihat pisau di lengan kanannya. "Kurasa kita seri, eh?" tanyanya suram.

"Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah," gumam Sharon sebelum dia menghunjamkan pisaunya ke lengan Lotti. Pada saat yang sama, Lotti juga menghunjamkan pisaunya ke lengan atas Sharon.

Ledakan rasa sakit segera menerpa Sharon. Rasanya seperti seseorang telah mencabut jantung gadis itu dan mengembalikannya lagi. Eques sudah menjadi bagian penting dari dirinya, sehingga ketika hubungannya dengan chainnya terputus, rasanya sangat menyakitkan. Tidak heran Vincent sampai pingsan selama dua minggu.

Tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang dideritanya, Sharon menjerit sekuat tenaga. Lotti juga ikut menjerit. Gadis di atasnya menjatuhkan diri dari atas Sharon dan bergelung di tanah, kedua tangannya memegangi kepalanya erat-erat, berusaha menahan rasa sakit yang amat sangat itu. Sharon melakukan hal yang sama.

Sebelum kesadaran Sharon ditelan oleh kegelapan, dia bersumpah dia bisa mendengar suara ringkikan kuda.

.

Oz masih berada di alun-alun ketika dia merasakannya.

Oz tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Rasanya seperti ada yang salah. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Rasanya seperti salah satu benang yang menghubungkannya dengan teman-temannya terputus.

Oz hanya pernah merasakan hal ini sekali. Dan apabila pengalamannya bisa diandalkan, ini sama sekali bukan berita baik.

Dia segera menyalakan alat transmisinya dan berkata, "Ada! Salah seorang dari kita telah memutuskan, atau diputuskan, hubungannya dengan chainnya! Cari tahu siapa itu! Dan kirimkan salah seorang dari kita untuk ke tempatnya!"

"Siap, kak!" Oz bisa mendengar jawaban sigap adiknya.

"Ini sama sekali bukan berita baik," gumam Oz sebelum dia kembali melangkah.

.

Ada menekan sebuah tombol di headsetnya yang memungkinkan semua anggota Pandora untuk mendengar suaranya, walaupun alat mereka dimatikan.

"Siapapun yang masih sadar, jawab pesan ini! Cepat!" perintahnya.

Beberapa detik kemudian, jawaban dari teman-temannya mulai datang.

"Ada! Jangan bikin kaget!" Nah, itu pasti Alice.

"Erm, Ada? Aku sedang sedikit… sibuk!" Elliot, cek.

"Ada apa?" Kedengarannya Echo masih sehat-sehat saja.

"Bisa dilanjutkan nanti?" Sepertinya Reo sedang kewalahan.

"Yo, ada masalah?" Ada menceklis nama Break dari daftarnya.

"Sepertinya ada sesuatu yang salah," suara Gil terdengar beberapa saat kemudian.

Ini hanya menyisakan satu orang di daftar milik Ada.

"Sharon? Kau bisa dengar aku?" tanya Ada sekadar untuk memastikan. Tidak ada jawaban. Ini semakin menegaskan ketakutan Ada.

Sharon telah keluar dari permainan.

Ada segera meraih kertas-kertas di depannya dan mencoba untuk mencari salah satu dari temannya yang berada paling dekat dengan tempat Sharon terakhir kali diketahui keberadaannya. Ini cukup sulit, karena selain mendaftar pergerakan teman-temannya, Ada juga memantau pergerakan anggota Reinhart. Tak heran ada banyak sekali kertas di mejanya sekarang.

Akhirnya, setelah sekitar satu menit mencari, Ada menemukan orang yang tepat. Dia segera memberikan perintah, "Break, pergi ke tem…"

Ada tercekat di tengah-tengah kalimatnya ketika dia merasakan sesuatu yang dingin di lehernya.

"Kurasa itu sudah cukup, sayang," bisik seseorang di telinganya.

TBC