Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 33: For Our Promise
"Siapapun yang masih sadar, jawab pesan ini! Cepat!"
Perintah Ada yang tegas tapi terdengar panik membuat Break menghentikan langkahnya. Dia mengerutkan dahinya dengan bingung. Ini pertama kalinya Ada melakukan panggilan darurat, dan apabila dia sampai melakukannya, berarti sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Yo, ada masalah?" tanyanya.
Tidak ada jawaban dari Ada selama beberapa saat setelahnya. Hal ini cukup membuat Break khawatir. Dia melirik ke depan dan melihat kalau jarak antara Rufus dan dirinya sudah semakin jauh. Kalau Ada tidak menjawab dalam waktu dekat, dia akan kehilangan jejaknya.
Akhirnya, suara statis terdengar dari alat transmisinya, disusul oleh suara Ada, yang masih terdengar panik.
"Break, pergi ke tem…" perkataan Ada terputus begitu saja di tengah jalan.
"Halo? Ada? Ada apa?" Break setengah berteriak ke alat transmisinya.
Sama sekali tidak ada jawaban dari Ada. Koneksi antara dia dan Ada telah terputus, dan Break memiliki kecurigaan kalau Ada sedang berada di dalam masalah.
"Dia menyuruhku untuk apa?" gumamnya bingung. Menyadari fakta kalau pertanyaannya tidak akan terjawab dalam waktu dekat, Break mematikan alat transmisinya dan kembali membuntuti Rufus.
"Dia mau membawaku kemana sih?" gumam Break bingung.
Sekilas, Break melihat Rufus memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Mata merahnya melebar ketika dia melihat apa yang telah diambil oleh Rufus dari sakunya itu. Granat suara.
"Dia tidak mungkin melakukan itu kan?" pikir Break panik. "Di tengah orang banyak seperti ini?"
Untuk amannya, Break memakai penyumpal telinganya yang sengaja dia kalungkan di lehernya agar lebih mudah diraih apabila dia membutuhkannya. Lagipula, alat yang berbentuk seperti headset itu mendukung penyamarannya sebagai seorang penggemar gothic.
Dari sudut matanya, dia melihat orang yang berada paling dekatnya, seorang gadis berambut pirang pendek yang memakai sebuah hoodie berwarna merah muda, berhenti berjalan secara tiba-tiba. Sebelum Break sempat bereaksi, tubuh gadis itu terjatuh ke atas tanah, tidak sadarkan diri.
Break kembali memandang ke depan dan melihat kalau Rufus telah menggunakan senjatanya. Hampir semua orang yang berada di jalan itu telah kehilangan kesadaran karena efek serangan granat suara itu, sementara yang lain segera berlari meninggalkan tempat itu ketika mereka melihat Rufus dan granat kosong yang kini dipegangnya.
Dengan perlahan, Break melepaskan penyumpal telinganya setelah dia yakin bahwa keadaan sudah aman, kalau keadaan seperti ini bisa dibilang aman. Sementara itu, Rufus membuang granat kosong yang dipegangnya.
"Sebaiknya kau meninggalkan tempat ini," Break memberitahu salah satu dari sedikit orang yang masih berada di jalan itu. Dia sedikit menyentakkan tangan kanannya dan sebuah belati meluncur ke telapak tangannya yang terbuka. "Aku hanya ingin bertukar sepatah dua patah kata dengan temanku di sana secara pribadi."
Kalau sebelumnya orang-orang tadi berniat untuk tinggal dan menonton, mereka segera berubah pikiran. Dalam waktu singkat, hanya tinggal dia dan Rufus yang berdiri di jalan itu.
"Cara yang ampuh untuk mengusir mereka, Mad Hatter," puji Rufus. "Walaupun agak kasar."
Break tersenyum dengan malas, "Cara itu jauh lebih ampuh daripada caramu, Rufus. Setidaknya," Break memandang tubuh-tubuh tidak sadarkan diri di sekelilingnya dan Rufus, total ada 17 orang. "dengan caraku, tidak akan jatuh korban-korban tak bersalah seperti ini."
"Sedikit suara yang terlalu keras tidak akan membunuh mereka," kata Rufus santai. Dia berlutut di samping salah satu korbannya dan meletakkan tangannya di lehernya. "Setidaknya, mereka masih bernafas."
"Sebenarnya, apa yang akan kau lakukan dengan mereka?" tanya Break. "Kau ingin kita berduel di antara mereka sehingga aku tidak bisa menggunakan senjata jarak jauh karena takut akan melukai mereka?"
Rufus menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak sekejam itu."
"Cih! Katakan itu kepada Alyss dan Jack!"
Dengan perlahan, Rufus bangkit berdiri. Dia mengarahkan tatapannya ke arah Break dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Bagaimana dengan kau, Mad Hatter?" tanyanya pelan. "Berapa orang yang telah kau bunuh untuk bertahan hidup, Break? Ah, bukan. Kevin?"
Genggaman Break terhadap pisaunya mengencang. "Lima tahun sudah aku tidak mendengar orang memanggilku dengan nama itu. Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya, berusaha agar suaranya terdengar tenang.
Rufus hanya tersenyum misterius untuk menanggapi pertanyaan Break, "Aku punya banyak koneksi," jawabnya singkat. "Tidak terlalu sulit untuk mencari berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak, terutama yang bermata merah."
"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Break pelan. "Bukankah kita berdua sama? Kita berdua sama-sama anak pembawa sial, anak yang sebaiknya tidak dilahirkan ke dunia ini. Sudah berapa banyak yang kau bunuh?"
Rufus menyandarkan tubuhnya dan mengamati kuku-kuku jarinya, "Aku tidak tahu, aku berhenti menghitung sejak yang kelima."
Break menyipitkan matanya, "Rupanya kau lebih parah dari aku. Seingatku, jumlahku tidak sebanyak itu."
"Ah, walaupun nilai kita berbeda, tapi kita berdua tetap sama. Kita berdua sama-sama telah ternodai. Dan sampai kapanpun, pembunuh tidak akan pernah diterima oleh masyarakat."
"Aku tahu itu," Break tertawa ganjil. "Tapi Pandora tidak bisa dibilang anggota masyarakat biasa, ya kan?"
"Begitu juga dengan Dark Sabrie," Rufus menyetujui. "Kami bukanlah orang biasa, dan kami tidak pernah berniat untuk menjadi orang biasa. Jadi, kurasa menambahkan namamu dalam daftarku tidak akan memberikan efek apa-apa."
"Oh ya? Apa kau yakin?" tanya Break. "Membunuhku bukan pekerjaan yang mudah, kau tahu? Sudah banyak yang mencoba untuk melakukannya, dan aku masih berdiri di sini, kan?"
"Aku tahu itu," balas Rufus dengan tenang. "Tapi sekarang aku akan menghapus kepercayaan dirimu itu."
Break merasakan kedatangannya pada detik-detik terakhir. Tanpa repot-repot menoleh ke belakang, anak laki-laki itu segera tiarap. Satu set cakar setajam silet menyambar udara tempat Break berdiri sebelumnya.
"Kau curang, Rufus!" keluh Break. "Seharusnya kau menyimpan Dodo untuk nanti! Dalam duel, seharusnya kita tidak mengeluarkan chain kecuali terpaksa!"
"Kadang-kadang merusak tradisi tidak apa-apa, kan?" kata Rufus datar.
"Kalau kau sudah merusak tradisi," Break berkata. Dia menjetikkan jemari tangannya dan Mad Hatter, yang sedari tadi menunggu aba-aba dari Break, muncul di belakangnya, "Tidak apa-apa kalau aku juga menggunakan Mad Hatter, kan?"
Rufus menyeringai, "Sepertinya lumayan adil,"
.
Duel di antara mereka berdua tidak berjalan dengan cukup baik.
Break tidak bisa menyerang Rufus secara langsung karena takut serangannya akan melukai orang-orang tidak bersalah yang dipingsankan oleh Rufus pada awal duel mereka. Sisi positifnya, Rufus juga tidak bisa melancarkan serangan mematikan menggunakan Dodo atau senjata-senjata lain. Jadi, posisi mereka berimbang.
"Sepertinya posisi kita tidak menguntungkan, eh?" tanya Break kepada Mad Hatter.
Begitu juga dengan mereka, chain itu menjawab. Akan lebih baik kalau kita bisa memindahkan arena duel kita. Omong-omong, laki-laki yang berada di sebelah kananmu hampir sadar.
Break menolehkan kepalanya dan melihat laki-laki berambut hitam yang memakai jaket merah di sebelahnya sudah membuka matanya. Dia mengedipkan sepasang iris hitam legamnya dan menatap Break dengan bingung. Kedua iris itu melebar ketika dia menatap pisau di tangan Break dan Mad Hatter yang melayang di belakangnya.
"Apa yang terjadi?"
Sebelum laki-laki itu sempat berbicara lebih lanjut, Break sudah memukul bagian belakang lehernya menggunakan gagang pisaunya, mengirim laki-laki itu kembali ke alam bawah sadar. Dia menatap ke sekelilingnya dan melihat kalau beberapa orang yang lain sudah mulai terbangun.
"Oi, Rufus!" serunya kepada Rufus, yang sepertinya juga sudah mulai sibuk menangani saksi-saksi mata yang mulai bangun. "Bagaimana kalau kita pindah? Aku yakin kau tidak ingin ini semua dimuat di koran edisi besok!"
"Baiklah," sahut Rufus. Dia mengeluarkan dua buah benda dari saku jaketnya, yang segera Break kenali sebagai bom asap. "Sampai bertemu lagi, Kevin!"
Rufus segera melemparkan bom-bom asap itu, dan dalam waktu kurang dari satu detik, jalan itu sudah dipenuhi oleh asap yang mengaburkan pandangan Break. Asap itu membuatnya terbatuk-batuk. Dia menutup hidung dan mulutnya menggunakan telapak tangannya untuk memblokir asap memasuki saluran pernapasannya lebih jauh.
"Hatter, cari dimana Rufus dan Dodo berada!" perintahnya.
Roger!
Menggunakan insting yang sudah diasahnya selama bertahun-tahun, Break segera berlari meninggalkan tempat itu. Dia membiarkan kedua kakinya membawanya kemanapun mereka mau. Dalam waktu singkat, asap telah menipis dan Break bisa melihat dengan jelas kembali. Break menurunkan tangannya kembali ke sisi tubuhnya. Dia menghirup dalam-dalam udara segar yang terbebas dari asap untuk mengisi paru-parunya yang kosong.
Dia masih berada di daerah pertokoan, tetapi dia tidak melihat ada satupun orang yang berkeliaran di jalan. Mungkin polisi telah mensterilkan area itu karena kekacauan yang telah dia dia dan Rufus buat tadi. Break menyandarkan punggungnya di dinding sebuah toko. "Kau sudah menemukan dia, Hatter?"
Dalam sekejap, Mad Hatter kembali menampakkan dirinya di samping Break. Dia mengedipkan mata raksasanya, Mereka ada di…
Mad Hatter tidak pernah bisa menyelesaikan kata-katanya, karena tiba-tiba Dodo muncul di atasnya dan menerkamnya.
Gelombang rasa sakit menghantam tubuh Break ketika cakar-cakar setajam silet milik Dodo menyayat tubuh chainnya. Rasanya seakan-akan dirinya sendiri yang dicakar oleh Dodo, bukan Mad Hatter. Break menutup matanya, berusaha menahan rasa sakit dan berusaha untuk tidak menjerit. Dia tidak ingin memberikan Rufus kepuasan karena jeritannya.
Ketika rasa sakit itu sudah mereda, Break membuka matanya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Dodo, Mad Hatterm, maupun tanda-tanda kehidupan lain di sekelilingnya.
"Hatter, kau baik-baik saja?" gumam Break.
Beberapa luka sayatan, bukan sesuatu yang tidak bisa aku hadapi, terdengar jawaban Mad Hatter, walaupun suara chain itu terdengar letih. Aku butuh waktu untuk memulihkan diri. Jadi, well, kau sendirian selama sekitar lima belas menit ke depan. Maaf…
"Tidak perlu meminta maaf," Break kembali menggumam. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Istirahatlah! Aku akan berusaha untuk tetap hidup selama lima belas menit ke depan. Lagipula, aku sudah berjanji pada Sharon kalau aku akan tetap hidup."
Break sempat mendengar suara desiran jubah sebelum koneksi antara dirinya dan Mad Hatter terputus. Anak laki-laki itu menghela nafas. Berduel dengan Rufus tanpa Mad Hatter, terutama apabila lawannya memiliki chain sekuat Dodo, Break tidak yakin dia bisa menang. Tapi, selalu ada kemungkinan kalau Dodo juga ikut terluka pada saat serangan tadi.
Sekali lagi, Break berusaha mengontak Ada. Dia sempat mendengar suara nafas memburu milik Ada dan suara besi beradu dengan besi sebelum koneksinya kembali terputus.
"Apa yang terjadi di markas?" pikir Break khawatir. Dia memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengusir kekhawatiran itu dari pikirannya. Ada bukan seorang gadis yang lemah, Break yakin dia pasti bisa mengatasi apapun yang sedang terjadi di markas dengan baik. Lagipula, dia tidak akan bisa membantunya kalau dia sendiri belum bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
"Dimana Rufus sialan itu bersembunyi sih?" Break mengutuk pelan. Dia kembali membuka matanya dan melihat ke kanan kirinya untuk menginspeksi lingkungan tempat dia berada.
Keadaan masih sama seperti sebelumnya, belum ada satu manusia pun yang melewati daerah itu. Break menganggap itu semua masih berada dalam batas kewajaran. Tidak akan ada satu orang waras pun yang mau berkeliaran di sana setelah semua hal yang baru saja terjadi.
Tapi tetap saja ada sesuatu yang terasa aneh. Break mengernyitkan dahinya, berusaha mencari apa yang dirasakannya aneh. Beberapa saat kemudian, dia menyadari apa yang salah.
Daerah itu terlalu sepi. Walaupun tidak ada orang di sana, seharusnya tempat ini tidak sehening ini. Seharusnya ada suara keributan di kejauhan, atau kepak sayap burung yang terbang di angkasa, atau suara air yang mengalir di saluran air. Bahkan udara pun terdiam. Aneh.
"Apa yang terjadi?" pikir Break bingung.
Dia meluruskan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan daerah itu. Dia mengintip melalui jendela sebuah toko dan mendapati kalau toko itu tidak berpenghuni. Mungkin pemiliknya sudah mengungsikan dirinya dan keluarganya.
Break kembali berjalan hingga dia sampai di pusat pertokoan, tempat tiga buah jalan besar bertemu. Dia berdiri di tengah-tengah pertigaan itu, tidak yakin apa yang harus dia lakukan.
"Break!"
Kedua telinga Break menegak ketika dia mendengar suara itu, suara yang sangat dia kenal dengan baik. Reflek, dia membalikkan tubuhnya. Matanya melebar terkejut ketika dia melihat Sharon di mulut salah satu dari ketiga jalan.
Dia tampak baik-baik saja, tetapi ada sesuatu yang salah dari caranya berjalan. Menggunakan dinding di sisi kanannya sebagai dukungan, dia menyeret kaki kanannya sementara kaki krinya terus melangkah dengan normal. Dia telah kehilangan ranselnya, dan bajunya robek di beberapa tempat.
Dia menatap Break dengan iris sewarna mawarnya, "Break, tolong aku…"
Tidak ada hal lain yang diinginkan oleh Break selain berlari menuju Sharon dan membantunya, tetapi instingnya terus berteriak kalau ada sesuatu yang salah dengan semua ini. Kakinya menolak untuk bergerak mengikuti kata hatinya.
"Sharon…" hanya itu yang berhasil Break ucapkan.
Sharon berhenti berjalan ketika dia mendenga suara Break. "Break, kenapa kau hanya diam saja di situ?" air mata mulai memenuhi mata gadis itu.
Hati Break terasa sakit ketika dia melihat air mata Sharon. Dia baru saja mulai melangkah menghapiri Sharon ketika ranselnya menggesek dinding.
"Tunggu, dinding?" batin Break bingung. "Tidak mungkin ada dinding di belakangku! Aku berdiri di tengah jalan!"
Untuk memastikan, tangan Break menggapai ke belakang. Ujung jemarinya meraba permukaan kasar sebuah dinding bata.
Kemudian satu fakta lain menghantamnya. Sharon tidak pernah memanggilnya Break lagi.
"Ini semua ilusi!" pikir Break. Dia memejamkan matanya dan benar saja, dia tidak bisa merasakan kehadiran Sharon ataupun orang lain di depannya.
Tetapi, ada seseorang yang mendekatinya dari sisi kanannya, dengan cepat. Begitu dekat sehingga seharusnya Break sudah merasakan aura keberadaannya sedari tadi, tetapi tidak dia rasakan karena dia terlalu sibuk dengan ilusi yang memerangkapnya.
Break segera menghunjamkan tangan kanannya, yang sedang memegang pisau, ke arah orang yang berada di sampingnya. Suara desis kesakitan dan keterkejutan terdengar oleh telinga Break. Dia membuka matanya dan melihat ilusi di sekelilingnya buyar dan dia kembali berada di tempat perkelahian Dodo dan Mad Hatter, masih bersandar pada dinding yang sama.
Break melepaskan pegangannya terhadap pisaunya. "Kuakui kalau ilusi yang kau buat cukup bagus, Rufus. Bahkan aku, yang sudah tidak bergantung pada penglihatanku lagi, tertipu cukup lama olehnya. Apa ini salah satu kekuatan Dodo?"
Dia menoleh ke samping dan melihat Rufus tergeletak tidak sadarkan diri di sampingnya, pisau Break mencuat dari perutnya. Rupanya racun yang dilumurkan di pisau itu bekerja lebih cepat dari yang Break perkirakan.
Anak laki-laki itu berlutut dan mencabut pisaunya dari tubuh Rufus. Dia mengecek denyut nadi lawannya dan dengan lega mendapati kalau dia masih hidup. Dia tidak mau menambah panjang daftar korbannya, walaupun dia adalah musuhnya. Lagipula, Sharon akan tidak akan senang kalau dia tahu Break telah membunuh orang.
Break meringis. Dia sudah membunuh cukup banyak orang pada masa-masa awal hidupnya, dan Sharon tidak mengetahui hal itu. Itu adalah salah satu rahasia yang Break simpan rapat-rapat. Dia tidak akan sanggup menghadapi penolakan Sharon apabila gadis itu mengetahui kalau kedua tangannya telah ternoda.
"Break!"
Break menoleh dan melihat Elliot berlari ke arahnya. Kecuali bagian tangan jaketnya yang robek, sepertinya dia baik-baik saja. Dia berhenti di belakang Break.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Break mengangguk. Dia mulai membuka tas yang dibawa oleh Rufus ketika Elliot berkata, "Tidak usah!"
Break menatap anak laki-laki yang lebih muda darinya itu dengan bingung. "Kenapa? Bisa saja dia membawa yang asli?"
Elliot menggelengkan kepalanya, "Yang asli berada di tangan Glen, dan dia sedang berduel dengan Gil sekarang."
"Kenapa aku tidak heran, ya?" tanya Break. Elliot mengangkat bahunya.
Terdengar suara 'bip' kecil dari alat transmitor milik Break, disusul oleh suara Ada,
"Kalian baik-baik saja?"
"Sepertinya masalah di markas juga telah terselesaikan," Break memberitahu Elliot.
"Sebaik-baiknya orang yang baru saja terkena ilusi bisa," jawab Break. "Kemana saja kau setengah jam terakhir?"
"Aku ada sedikit, er, masalah. Tapi bukan itu yang ingin aku informasikan!"
"Lalu apa?"
.
Break dan Elliot berlari seperti dikejar setan. Berita yang disampaikan oleh Ada kepada mereka berdua sama sekali bukan berita bagus, dan sekarang mereka sedang berpacu dengan waktu.
"Sampai bertemu lagi nanti, Elliot!" teriak Break ketika mereka berdua sampai di tempat mereka harus berpisah. Elliot hanya mengangguk dan segera membelokkan arah larinya ke kanan, sementara Break tetap berlari ke depan.
"Tuhan, aku tidak tahu apakah kau mau mendengar doa dari seorang pembunuh seperti diriku, tetapi, aku mohon, jangan ambil Sharon!" doa Break dalam hati.
Dalam waktu singkat, dia telah sampai di tempat tujuannya. Dia sempat tertegun sejenak ketika melihat daerah kehancuran yang disebabkan oleh Vincent semakin meluas, tetapi dia segera melupakannya ketika dia melihat sosok-sosok yang berada di tengah kehancuran.
Seorang pemuda yang tidak Break kenal berdiri di tengah kawah. Tubuh Lotti yang tidak sadarkan diri disampirkan di pundaknya. Sepucuk pistol berada di tangannya, larasnya mengarah ke tubuh tidak sadarkan diri lainnya yang terbaring di atas tanah.
Sharon.
Menjerit murka, Break segera menembakkan pistol yang sedang digenggamnya ke arah pemuda itu. Tembakannya memang meleset, tapi itu cukup untuk mengagetkan pemuda itu. Refleks, dia menoleh ke arah tembakan itu berasal. Kedua matanya melebar ketika melihat Break berdiri dalam jarak kurang dari 10 meter darinya.
"Aku akan membunuhmu kalau kau tidak pergi dari sini sekarang juga!" geram Break dengan nada mengancam.
Pemuda itu tahu kalau tidak ada gunanya tinggal di sana lebih lama lagi, jadi dia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.
Break segera bergegas menghampiri Sharon. Dengan lembut, dia mengangkat tubuh gadis itu dari tanah. Dia mengernyit ketika melihat sayatan yang cukup dalam di lengan kiri atas Sharon. Tato rantai yang dimiliki setiap anggota Pandora kini sudah tidak ada lagi disitu.
"Pemutusan, eh?" gumam Break suram. "Dilihat dari kerusakan yang ada, sepertinya Lotti juga bernasib sama. Sayang aku tidak bisa melakukan hal yang sama kepada Rufus."
Break menyalakan alat transmisinya, "Ada? Aku sudah menemukan Sharon. Kau benar, dia ada disini. Aku akan membawanya ke markas sekarang juga!"
"Tidak perlu," terdengar jawaban Ada. "Aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Lakukan apapun yang kau bisa untuk merawat lukanya, oke?"
"Roger!"
Setelah koneksi antara dirinya dan Ada terputus, Break segera merawat luka Sharon. Dia merobek bagian lengan jaketnya untuk dijadikan perban. Kain hitam menjadi semakin hitam saja ketika darah Sharon membasahinya.
"Aku harap Ada bisa menjahit luka," gumam Break. Dia segera memeriksa bagian tubuh Sharon yang lain dan dengan lega mendapati kalau Sharon tidak mendenrita luka serius lain.
"Maaf karena aku tidak bisa melindungimu tadi, Sharon…"
TBC
A/N:
Aire: Ohayou/konnichiwa/konbawa, minna-san!
Ann: Berhubung Aoife-chan masih kecapean karena dua minggu terakhir, kami, Reinhart Twins yang akan cuap-cuap di sini!
Aire: Aoife-chan bilang dia minta maaf sebesar-besarnya karena update yang amat sangat telat ini. Writerblock plus kegalakan kakak-kakak kelas plus tugas-tugas sekolah berhasil membuat Aoife gak punya waktu untuk nulis fanfic.
Ann: Anehnya, dia masih punya waktu untuk internetan sama nonton anime.
Aire: Aoife juga bilang kalau dia mungkin gak bisa update lagi sampe US beres. Jadi, mata nee!
