Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 34: For A Better World
"Kemana dia pergi?"
Alice bersumpah dia melihat Lacie berbelok di tikungan itu tadi. Tetapi, ketika dia sampai di tikungan itu, gadis itu sudah menghilang. Padahal jalan itu cukup panjang, tanpa ada tempat yang ideal untuk bersembunyi. Alice sama sekali tidak mengerti bagaimana Lacie bisa menghilang begitu saja.
"Cheshire, apa kau merasakan kehadiran Lacie?" bisik Alice sementara dia berjalan menyusuri jalan yang sepi.
"Tidak, nyan! Mungkin dia menggunakan chainnya untuk kabur, nyan!"
"Ini sama sekali tidak seperti dia," gumam Alice.
"Semua orang bisa berubah, nyan!"
"Aku tahu itu!"
Alice mempercepat langkahnya hingga dia hampir berlari. Selagi dia berlari, dia kembali mencoba mengontak Ada. Sejak pengabsenan terakhir yang dilakukan oleh Ada, yang entah karena alasan apa terdengar panik, lima belas menit yang lalu, Alice sama sekali tidak bisa menghubunginya.
"Sialan! Masih juga tidak bisa!" umpat Alice ketika sekali lagi dia tidak bisa menghubungi temannya.
Alice terlalu sibuk mengotak-atik alat transmisinya sehingga dia tidak memperhatikan langkahnya. Tanpa dia sadari, dia sudah sampai di persimpangan berikutnya. Tanpa berpikir panjang atau setidaknya melihat keadaan di sekitarnya, Alice berbelok ke arah kanan.
Sebuah suara tabrakan bergema di jalan itu.
"Ouch!"
"Aw!"
"Echo?"
"Alice?"
Gadis berambut biru pucat, sekarang hitam, di depan Alice bangkit berdiri dari posisi jatuhnya. Dia mengusap-ngusap bagian kanan tubuhnya yang sakit karena menabrak Alice tadi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alice bingung. "Bukannya kau tadi membuntuti Doug?"
"Tadinya," jawab Echo. "Tapi kemudian dia menyadari keberadaanku. Kami sempat berduel sebentar, tapi Zwei tetap tidak mau muncul sehingga aku tidak bisa menggunakan Doldam. Jadi aku menyingkir sebentar untuk menyusun rencana. Siapa sih yang bilang kalau dia tidak akan membawa gada?"
Alice mengerutkan keningnya, "Break, kalau aku tidak salah. Memangnya dia membawa gadanya?"
Memar-memar di tangan kanan Echo yang tidak tertutup oleh jaketnya cukup untuk menjawab pertanyaan Alice.
"Sebenarnya bukan gada, tapi pentungan, tapi sama saja. Kau sendiri?" Echo balik bertanya. "Bukannya kau tadi mengejar Lacie?"
"Nah, itu dia! Aku kehilangan dia satu menit yang lalu!" gerutu Alice. "Apa kau melihatnya?"
Echo menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak melihatnya. Tapi, tidakkah kau pikir ini aneh? Bukannya tadi Doug dan Lacie pergi ke arah yang berlawanan? Kecil kemungkinan kita bisa bertemu secara kebetulan seperti ini. Kecuali…"
Echo tidak melanjutkan kata-katanya. Walaupun Echo tidak melanjutkan perkataannya, Alice segera mengerti apa yang gadis itu maksud.
"Sial," hanya itu yang keluar dari bibir Alice.
"Apa sebaiknya kita pergi dari sini?" tanya Echo. Tetapi Alice menggelengkan kepalanya.
"Tidak, lebih baik kita berduel dengan mereka disini. Lagipula, kesempatan kita untuk menang akan lebih besar apabila kita melawan mereka berdua."
"Kau benar," respon Echo menyetujui. "Menurutmu, sekarang mereka ada…"
Sekali lagi, Echo menghentikan perkatannya di tengah-tengah. Dia mengerutkan keningnya dan menatap sesuatu di belakang Alice dengan ekspresi serius. Tentu saja kelakuan Echo ini membuat Alice waswas.
"Echo?" tanya Alice dengan nada waswas. "Apa yang kau lihat?"
Echo tidak menjawab. Sebagai gantinya, tanpa aba-aba dia mendorong tubuh Alice ke belakang sekuat tenaga, membuat gadis itu terjerembab. Sebelum Alice sempat memprotes, Echo sudah kembali mendorong tubuhnya sehingga dia berbaring telentang di atas tanah. Echo sendiri kini sedang menundukkan tubuhnya di atas tubuh Alice.
"Echo!" hardik Alice. "Apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi?"
Terdengar suara kaca pecah, diikuti dengan suara pecahan kaca yang membentur tanah.
"Aku berusaha melindungimu dari itu," jawab Echo dengan nada datar khasnya. Dia kembali berdiri dan mebantu Alice kembali bangkit dari posisinya.
Mereka berdua menoleh ke arah kaca yang pecah itu, kemudian ke arah yang berlawanan.
Pada saat itulah sebuah granat meledak di dekat mereka.
Insting bertempur Alice segera mengambil alih. Dia segera melompat ke belakang untuk menghindari ledakan itu. Dia tidak cukup cepat untuk menghindari beberapa luka bakar ringan, tetapi cukup cepat untuk menghindari luka-luka yang lebih serius.
"Sialan!" umpat Alice, entah untuk yang keberapa kalinya. "Echo? Kau baik-baik saja?"
Seperti Alice, Echo juga berhasil menghindar dari ledakan itu, tetapi dia melompat dari arah yang berlawanan. Sekarang dia berada sekitar lima meter di kanan Alice. Dia mengangkat jempolnya untuk merespon pertanyaan Alice. Selain jaket hitamnya yang sedikit hangus, tampaknya dia baik-baik saja.
"Tampaknya ledakan ini dimaksudkan untuk memisahkan kita!" terka Echo.
"Kalau begitu, mereka berhasil!" gerutu Alice dalam hati.
"Ah, tampaknya Echo bisa membaca rencana kami dengan cukup baik."
Alice segera memutar tubuhnya begitu dia mendengar suara itu, suara yang sangat mirip dengannya.
Alice berani bersumpah bahwa tidak ada apapun selain udara di belakangnya lima detik sebelumnya. Sekarang, Lacie berdiri dengan santai di sana. Sepucuk pistol berperedam berada di tangan kanannya, larasnya mengarah ke kepala Alice.
"Lacie!" geram Alice. "Jadi kau akan membunuhku sekarang, eh?"
Lacie tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, jari telunjuknya menekan picu dengan lebih keras.
"Sayonara, Alice!"
.
Echo segera menoleh ke arah Alice ketika dia mendengar suara tembakan. Dia sempat melihat peluru yang ditembakkan oleh Lacie melesat ke arah Alice, meleset hanya karena gerakan refleks Alice.
"Alice! Kau baik-baik saja?" seru Echo.
Tanpa menoleh ke arahnya, Alice balas berseru, "Aku baik-baik saja! Aku bisa menangani dia! Lebih baik kau menangani urusanmu sendiri! Berusahalah untuk tetap hidup selama lima menit ke depan!"
Seakan-akan untuk membuktikan perkataan Alice, arus udara di belakang leher Echo berubah. Dari pengalaman yang didapatkannya selama setengah jam terakhir, Echo tahu kalau dia akan mengalami patah leher apabila dia tetap berdiri di situ. Echo segera menundukkan tubuhnya, membuat pentungan Doug lewat dengan tidak berbahaya di atas punggungnya.
Untuk saat ini, dia harus mempercayai Alice. Sekarang yang menjadi pertanyaan terbesar adalah bagaimana caranya Echo bisa bertahan hidup dalam beberapa menit ke depan.
Setelah serangan Doug selesai, Echo segera menegakkan tubuhnya dan berputar. Sepucuk handgun yang tadinya tersembunyi di lengan jaketnya kini sudah berada di genggamannya. Tanpa ragu, dia menembak dada Doug yang terekspos.
Dengan jarak yang sedekat ini, mustahil tembakannya meleset. Tembakannya memang tidak meleset, tetapi peluru itu hanya memantul di jaket yang dipakai Doug dan jatuh dengan tidak berbahaya ke atas tanah, nyaris tidak meninggalkan apa-apa kecuali lubang di jaketnya.
Echo hanya mengangkat alisnya ketika dia melihat kejanggalan itu. "Dia memakai rompi anti-peluru rupanya," pikirnya. "Well, itu tidak terlalu membuatku terkejut."
Doug kembali menyerang Echo menggunakan pentungannya. Dengan mudah, Echo menghindari serangan itu. Tetapi dia harus segera menghindar dari serangan lainnya. Doug sama sekali tidak memberikan celah bagi Echo untuk menyerang.
Echo berusaha memutar otaknya sementara dia menghindar dari serangan membabibuta Doug. Dia memperhatikan senjata di tangan Doug. Pentungan itu berbentuk seperti tongkat bisbol yang terbuat dari kayu. Cukup ringan sehingga bisa diayunkan dengan mudah, namun tetap saja sakit apabila terkena.
"Ah, mungkin…"
Kali ini, ketika Doug menyerang, Echo tidak menghindar. Dia melompat dan menendang pentungan yang menyasar kepalanya itu dengan sekuat tenaga. Terdengar suara krak yang keras dan pentungan itu patah.
Echo kembali mendarat di tanah, tetapi aksinya tadi bukan tidak memberikan efek kepadanya. Kaki kanan yang tadi dipakainya untuk menendang pentungan Doug kini tidak bisa menyangga berat tubunya, membuatnya jatuh terduduk.
"Sekarang apa?" pikirnya.
Doug menatap patahan pentungan di tangannya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Kemudian, dia mengangkat bahunya dan membuang senjata yang sekarang sudah berubah menjadi sepotong kayu tidak berguna itu. Dia merogoh ke dalam saku celananya dan mengeluarkan sepucuk pistol.
Pistol milik Echo sendiri telah terjatuh dari tangannya pada satu titik ketika dia berusaha menghindar dari serangan Doug. Echo bisa saja mengambil salah satu dari sekian banyak senjata yang ada di ranselnya, tetapi dia yakin peluru Doug akan menembus tubuhnya terlebih dahulu sebelum dia sempat meraih apapun.
Kaki Echo masih menolak untuk menurutinya, sehingga Echo tidak bisa berlindung. Dia hanya bisa menatap mata mirip kucing Doug ketika pemiliknya mengarahkan laras pistolnya ke kepala Echo.
Tidak seperti teman-temannya, Echo tidak suka bertukar kata selagi bertempur, dan sepertinya Doug juga memegang prinsip yang sama sepertinya. Lagipula, tidak seperti Alice dan Lacie, tidak ada dendam pribadi di antara Echo dan Doug. Jadi, tidak ada siapapun di antara mereka yang berbicara ketika Doug mulai menekan picu.
"Minggir!"
Tiba-tiba, Echo merasa seperti ada seseorang yang menarik bagian belakang bajunya kemudian mendorongnya ke belakang. Refleks, dia menutup matanya.
Ketika dia membuka matanya, dia tidak lagi berada di jalanan tempat dia bertempur dengan Doug. Dia berada di sebuah tempat yang familiar walaupun sudah jarang dia kunjungi. Sebuah tempat yang berada di antara khayalan dan kenyataan.
Berdiri membelakangi Echo, adalah seorang gadis yang mirip dengannya. Tanpa menoleh ke belakang, gadis itu berbicara, "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku apabila kau berada di dalam kesulitan, Echo?"
Echo membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Aku sudah berusaha memanggilmu selama empat jam terakhir! Kemana saja kau, Zwei?"
Zwei menoleh ke arah alter egonya dan mengedipkan matanya dengan bingung, "Eh? Selama itukah? Sepertinya aku ketiduran terlalu lama."
"Itu bukan ketiduran lagi namanya," gumam Echo.
"Well, setidaknya aku datang tepat waktu!" kata Zwei santai. "Keberatan kalau aku mengambil alih dari sini?"
"Silahkan!"
.
"Hei, Doldam!"
"Nona! Lama tidak bertemu! Kemana saja kau selama ini? Aku sudah berjamur di Abyss!"
"Simpan basa-basimu untuk nanti! Sekarang, datang saja!"
"Masih tidak sabaran seperti dulu, aku lihat. Baiklah."
Zwei membuka matanya begitu dia merasakan sebuah angin ribut kecil di belakangnya, tanda bahwa Doldam sudah muncul. Dengan segera, dia melihat Doug berdiri di depannya, lengkap dengan pistol yang teracung ke arah kepalanya.
Doug tampak terkejut dengan kemunculan Zwei dan Doldam yang tiba-tiba. Doldam menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Doug menggunakan benangnya. Benang-benang tipis yang mengikatnya di berbagai tempat membuatnya terlihat seperti boneka marionette, yang memang cocok dengan keadannya sekarang.
Zwei berusaha bangkit berdiri, tetapi kembali terjatuh ketika kaki kanannya menolak untuk bergerak. "Demi Tuhan, Echo!" pikir Zwei. "Apa yang kau lakukan dengan kakimu?"
"Jangan tanya! Omong-omong, ada obat bius di saku kanan ransel."
Menuruti petunjuk Echo, Zwei merogoh saku kanan ranselnya dan menarik keluar sebuah alat suntik berisi cairan kekuningan. "Lalu? Dimana aku harus menggunakannya?"
"Itu bukan untukmu! Itu untuk Doug!"
"Oh," Zwei meringis. "Doldam, kau bisa bantu aku tidak?"
Beberapa utas benang baru meluncur dari tangan Doldam, mengikat lengan Zwei, kemudian mengangkat gadis itu hingga ke posisi berdiri. Zwei meringis menahan sakit ketika pergelangan kaki kanannya berdenyut dengan menyakitkan.
Dengan perlahan, didukung oleh benang-benang milik Doldam, Zwei melangkah ke arah Doug. Mata kucing anak laki-laki itu terus mengikuti gerakan Zwei sementara gadis itu menempelkan jarum suntik itu di leher Doug, tepat di atas urat nadi.
"Tenang, ini hanya obat bius, bukan racun," kata Zwei. "Kau hanya akan tertidur sebentar, dan ketika kau terbangun nanti, kau dipersilakan untuk mengikuti pesta kemenangan Pandora."
Doug menatap Zwei dengan dingin sebelum menjawab,
"Kita lihat saja nanti."
Zwei menyuntikkan obat bius itu ke leher Doug. Dalam waktu singkat, obat itu menunjukkan efeknya ketika mata Doug tertutup. Doldam melepaskan kendalinya atas Doug, menyebabkan tubuh anak laki-laki itu terjatuh begitu saja.
"Beres, Echo!"gumam Zwei.
"Terima kasih," jawab Echo. "Apa Alice baik-baik saja?"
"Eh? Alice?" tanya Zwei bingung. Dia melihat ke sekelilingnya dan baru menyadari duel lain yang terjadi di dekatnya.
Alice dan Lacie sedang berduel pisau melawan pisau. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan chain mereka. Zwei berasumsi bahwa mereka belum menggunakan chain mereka.
"Sepertinya dia baik-baik saja," kata Zwei untuk menjawab pertanyaan Echo sebelumnya. "Apa aku perlu membantu mereka?"
"Kalau dia masih baik-baik saja, sepertinya tidak perlu. Dia tidak akan suka kalau kita membantunya dalam duel, terutama kalau lawannya adalah Lacie."
"Baiklah kal… Ouch!" pekik Zwei ketika kakinya kembali berdenyut menyakitkan.
"Zwei, kau baik-baik saja?" tanya Echo dengan nada khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Sepertinya aku harus membebat kakiku," jawab Zwei.
Gadis itu merobek bagian bawah jaketnya, yang memang sudah rusak parah, dan mulai membebat kakinya tanpa membuka sepatunya. Dengan bantuan Doldam, Zwei bisa menyelesaikan pekerjaan itu dengan singkat. Dia berusaha berdiri tanpa bantuan Doldam. Kakinya memang masih sakit, tetapi setidaknya dia bisa berdiri.
Begitu dia sudah puas dengan hasilnya, dia kembali mengalihkan perhatiannya ke arah duel antara Alice dan Lacie. Apa yang dia lihat membuatnya membelalakkan mata.
Sesosok chain, yang entah kenapa berpenampilan sangat mirip dengan B-Rabbit, berdiri di belakang Lacie. Dari punggung chain itu, keluar beberapa rantai berujung tajam yang masing-masing mengikat Alice dan mengangkatnya di udara, tepat di depan Lacie.
"Ini buruk sekali," gumam Zwei ngeri.
"Apa yang buruk? Biarkan aku melihat!"
Zwei kehilangan sebagian penglihatannya ketika Echo mengambil alih mata kirinya agar dia bisa melihat apa yang terjadi. Zwei dan Echo hanya melakukan hal seperti ini apabila mereka terpaksa, karena itu membuat mereka merasa tidak nyaman. Zwei berasumsi kalau sekarang bisa dikategorikan sebagai terpaksa.
"Bagaimana? Apa aku perlu membantunya?" tanya Zwei.
"Kau pikir?"
.
Pada mulanya, duel ini berjalan baik bagi Alice.
Dia bisa menangkis semua serangan Lacie dengan mudah. Dia bahkan bisa merebut pistol Lacie dengan tangan kosong, walaupun itu membuat jari-jari tangannya melepuh karena memegang laras pistol yang masih cukup panas.
Sekarang dia dan Lacie sedang beradu pisau. Rupanya Lacie juga cukup mahir dalam memainkan pisaunya. Buktinya dia bisa menangkis sebagian besar serangan Alice, bahkan bisa menyerang balik dari waktu ke waktu. Tapi Alice juga bukan anak kemarin sore. Untuk saat ini, kedudukan mereka berimbang.
"Heh," kata Alice ketika dia menangkis pisau Lacie, "Gerakanmu cukup bagus."
Lacie tersenyum, "Kau juga. Tapi aku jauh lebih hebat!"
Alice mengangkat sebelah alisnya, "Oh ya? Ayo kita lihat!"
"Tantanganmu kuterima!" ujar Lacie sebelum dia kembali menerjang Alice. Sekali lagi, suara dentingan besi beradu besi memenuhi udara.
Lacie mengernyit ketika serangannya kembali bisa Alice tangkis. "Tidak maukah kau membiarkanku membunuhmu dengan tenang? Aku yakin Alyss sudah merindukanmu!"
"Aku tahu itu!" balas Alice tenang. "Tapi, dia tidak akan memaafkanku kalau aku mati sekarang, terutama di tangan kau!"
"Benarkah? Kalau begitu, sepertinya kau terpaksa membuat dia kecewa!"
Alice terlambat menyadari apa yang terjadi. Sebelum dia mengetahuinya, sesuatu membelit kedua tangan dan lehernya, membuat gadis itu tercekik. Kemudian, sesuatu itu mengangkatnya ke udara, tepat di hadapan Lacie.
"Cih," umpat Alice.
Di belakang Lacie, berdiri sebuah chain yang berpenampilan mirip dengan B-Rabbit, chain Oz. Chain itulah yang mengikat Alice menggunakan rantai-rantai berujung tajam yang keluar dari punggungnya.
"B-Rabbit, huh?" tanya Alice ketika dia melihat wujud chain Alice.
Lacie menggelengkan kepalanya, kemudian tertawa. "Bukan, dia bukan B-Rabbit, walaupun penampilannya memang mirip. Sama seperti manusia, ada juga chain yang berpenampilan mirip. Masa kau tidak tahu?"
"Tidak, aku tidak tahu," Alice mengakui. "Lagipula, walaupun aku mengetahuinya, tidak ada gunanya sekarang, kan?"
"Memang," balas Lacie. Dia menjentikkan jarinya dan sebuah rantai lain keluar dari punggung chainnya. Rantai itu bergerak seakan-akan memiliki kesadaran sendiri, mengarahkan ujungnya yang tajam ke arah Alice. Satu perintah dari Lacie, dan rantai itu akan menembus tubuh Alice semudah menusukkan jarum ke boneka kain.
Alice mengernyit ketika dia melihat rantai yang sekarang melayang mengancam di hadapannya. "Kau benar-benar berniat membunuhku, Lacie?"
"Tentu saja," jawab Lacie. "Kau pikir aku sedang bermain-main?"
"Tidak, aku hanya bertanya-tanya." Tanpa memedulikan ancaman di depannya, Alice mendongakkan kepalanya, menatap langit biru di atasnya. "Kenapa kau begitu membenciku dan Alyss? Kenapa kau bergabung dengan Dark Sabrie? Kenapa kau membunuh Alyss?"
Alice kembali menurunkan pandangannya dan menatap gadis di depannya dengan kedua iris violetnya. "Kenapa?"
"Perlukah aku menjawabnya?" tanya Lacie. "Mungkin perlu. Tidak ada ruginya untukku. Lagipula, sebentar lagi kau akan mati."
"Kenapa aku membenci kalian? Sebenarnya aku tidak membencimu maupun Alyss, malah aku menyangi kalian! Walau bagaimanapun juga, kalian berdua tetaplah darah dagingku, walau hanya secara genetik." Lacie berkata tanpa sedikitpun sarkasme.
Alice menggertakkan giginya, "Kalau begitu, kenapa kau membunuh Alyss?" teriaknya marah.
Lacie mendongak ke atas seperti yang dilakukan Alice satu menit sebelumnya, kemudian dia menjawab dengan suara pelan, "Itu demi kebaikannya sendiri."
"Kebaikannya sendiri?" Alice meludah. "Kau membunuhnya, Lacie! Membunuhnya! Dan sekarang kau bilang itu demi kebaikannya sendiri?"
"Kau tidak mengerti," balas Lacie tenang. "Kau dan Alyss adalah manusia hasil kloning pertama yang ada di dunia, kembar pula! Cepat atau lambat, orang-orang akan mengetahuinya. Kau dan Alyss akan kembali berakhir sebagai kelinci percobaan seperti dulu. Sebelum itu terjadi, akan lebih baik kalau aku membunuh kalian terlebih dahulu. Aku itu baik, kan?"
"Entah kenapa, mati di tanganmu rasanya lebih buruk daripada menjadi kelinci percobaan," komentar Alice.
"Asal kau tahu saja, kau dan Alyss adalah salah satu dari sedikit kelinci percobaan yang beruntung," Lacie melanjutkan seakan-akan tidak mendengar perkataan Alice. "Kau dan Alyss tidak pernah merasakan apa yang kurasakan pada saat itu. Kalian adalah manusia kloning pertama yang berhasil mereka ciptakan. Mereka tidak berani bereksperimen yang macam-macam terhadap kalian karena itu, tidak sebelum mereka berhasil menciptakan lebih banyak manusia kloningan. Tapi entah kenapa mereka tidak bisa membuat yang sesempurna kalian. Kelinci percobaan yang lain, termasuk aku, tidak seberuntung kalian."
"Tetap saja eksperimen yang mereka lakukan terhadapku dan Alyss mengerikan," gumam Alice.
"Kalau kau bilang eksperimenmu mengerikan, Alice, yang lain merasa seperti ada di dalam neraka!" tanpa sadar Lacie menyentuh matanya, yang berubah warna menjadi merah empat tahun yang lalu karena sebuah eksperimen.
"Hal-hal yang ilmuwan-ilmuwan itu lakukan… Membedah tubuh orang-orang, menukar organ mereka, mengotak-atik gen mereka dengan hewan, hal-hal yang mereka lakukan kepadaku agar bisa membuat kloning seperti kau," Lacie bergidik sebentar ketika dia mengatakan beberapa kata terakhir. "Banyak dari percobaan itu yang tidak menggunakan anastesi sebagaimana mestinya. Aku bisa mendengar jeritan mereka sepanjang hari dari selku. Ajaib aku tidak menjadi gila!"
"Aku membenci ilmuwan-ilmuwan itu setengah mati! Aku membenci percobaan-percobaan mereka, aku membenci cara mereka memperlakukan kita seakan-akan kita hanyalah boneka yang bisa diganti kapan saja, aku membenci mereka semua! Makanya, ketika tempat itu terbakar, dan tidak sengaja bertemu dengan Glen ketika aku sedang sekarat, aku segera bergabung dengan mereka tanpa ragu. Dengan kekuatan Kotak Pandora, aku bisa membalas ilmuwan-ilmuwan itu dengan balasan yang setimpal, dan aku bisa memastikan apa yang terjadi pada kita tidak terulang kembali."
"Karena alasan itukah kau bergabung dengan Dark Sabrie?" tanya Alice dengan nada tidak percaya.
"Sebenarnya, aku ingin mengajak kalian bergabung dengan DS ketika aku bertemu kalian, tetapi kalian berdua menolak mentah-mentah. Kalian berdua malah bergabung dengan Pandora, yang memiliki tujuan yang jelas-jelas berlawanan dengan DS!"
"Itu karena tujuan kalian salah!" teriak Alice. "Mari kita asumsikan Pandora kalah dan kalian menguasai kedua Kotak Pandora, bagaimana caranya kalian bisa melawan pemerintah yang sah? Ada lebih dari seratus orang yang duduk di bangku pemerintahan, belum ditambah dengan tentara, sementara kalian hanya beranggotakan delapan orang! Kau akan berakhir sebagai kelinci percobaan lagi, Lacie!"
"Jumlah tidak masalah. Orang-orang akan berebut untuk menjadi anggota DS begitu mereka tahu kekuatan Kotak Pandora yang sebenarnya. Lagipula, pemerintah sudah rapuh. Hanya perlu satu sentilan pelan untuk membuatnya untuh. Kami tidak akan kalah!"
"Cih, kau terlalu percaya diri!" desis Alice.
Lacie menatap Alice, "Sekarang, aku sudah menjawab semua pertanyaanmu Alice. Sebenarnya, aku ingin memberimu kesempatan terakhir untuk bergabung dengan kami. Tetapi, dilihat dari reaksimu barusan, sepertinya kau tetap akan menolak walaupun aku memohon-mohon, dan aku tidak ingin melihatmu kembali berada di dalam sel kaca. Jadi,"
Lacie mengankat tangannya. Mengikuti gerakan tangan Lacie, rantai yang berada di depan Lacie mundur sekitar satu meter, seakan-akan mengambil ancang-ancang untuk menusuk tubuh Alice.
"lebih baik kalau kau mati disini!"
Lacie menghentakkan tangan kanannya ke depan. Selaras dengan gerakan Lacie, rantai berujung tajam milik chain Lacie, yang belum sempat Alice ketahui namanya, melesat turun. Ujung tajamnya mengarah tepat ke jantung Alice.
Dengan rantai yang mengikatnya, Alice sama sekali tidak bisa bergerak untuk menghindari serangan itu. Alice memejamkan kedua matanya rapat-rapat, bersiap-siap menerima akhir hidupnya.
Sesuatu membelit pinggang Alice, membuat Alice terkejut. Sesuatu itu menarik tubuhnya ke samping, menjauh dari bahaya. Dia bisa merasakan belitan rantai di kedua tangannya dan lehernya mengendur dan membiarkannya lolos dengan mudah. Dia juga bisa mendengar suara rantai yang tadinya akan membunuh Alice menabrak tembok sebuah rumah di belakangnya. Dia berdoa semoga tidak ada orang di rumah itu.
Sesuatu di pinggangnya kembali menarik tubuhnya yang sudah bebas, kali ini dengan lebih kuat. Tiba-tiba, dia dijatuhkan begitu saja di atas tanah, membuatnya mengaduh pelan. Dia membuka matanya dan menunduk untuk melihat apa yang membelit pinggangnya.
Seutas benang transparan tipis yang terlihat amat rapuh sehingga Alice bertanya-tanya bagaimana caranya benang itu tidak putus tadi melilit pinggangnya. Ketika Alice masih bertanya-tanya darimana asal benang itu, sebuah suara mencapai telinganya.
"Doldam! Lebih lembut sedikit, bisa?"
Alice mendongakkan kepalanya dan kaget ketika dia melihat Zwei dengan Doldam di belakangnya. Benang Doldam-lah yang melilit pinggangnya.
"Zwei?" tanya Alice dengan nada tidak percaya.
"Hai, Alice!" sapa Zwei. "Lama tidak bertemu!"
"Sepertinya aku berutang satu kepadamu," kata Alice ketika Zwei membantunya berdiri.
"Tidak usah dipikirkan," kata Zwei sebelum meringis. "Aku sudah cukup membuat kalian semua repot beberapa bulan belakangan ini. Kurasa aku harus membalas budi kalian!"
Alice menoleh ke arah Lacie dan chainnya dan melihat kalau benang-benang Doldam juga sudah membelit tubuh mereka berdua. Walaupun terlihat rapuh, tetap saja benang-benang Doldam memiliki kekuatan yang menakutkan.
"Jadi, kau masih mau berduel dengan dia?" tanya Zwei sambil menunjuk Lacie, yang memberi mereka berdua tatapan mematikan.
Alice mengangguk. "Lepaskan dia, Zwei! Masih banyak yang harus kuselesaikan dengannya!"
"Baiklah kalau itu maumu." kata Zwei, kemudian dia terdiam sebentar. Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Ada apa Zwei?" tanya Alice heran.
"Doldam baru saja bilang kalau ada sekelompok orang yang menuju ke sini, dan aku tidak yakin mereka memiliki niat yang baik. Aku akan mengecek mereka dan mengalihkan perhatian mereka kalau perlu. Kau selesaikan saja urusanmu di sini!"
"Dengan senang hati!"
Zwei menepuk punggung Alice sebelum menyuruh Doldam kembali ke Abyss. Kemudian, dia berjalan dengan langkah agak pincang menuju mulut jalan.
Alice melihat kepergian sahabatnya sebentar sebelum berpaling ke arah Lacie, yang sudah terbebas dari benang Doldam.
"Cheshire?" bisik Alice. "Bisa kesini sekarang?"
"Akhirnya, nyan! Cheshire sudah menunggu panggilan Alice lama sekali, nyan!"
Udara di samping Alice berdenyar dan Cheshire pun muncul. Dia memiringkan kepalanya dan memandang Alice dengan mata merahnya, "Perintah untuk Cheshire, nyan?"
"Alihkan perhatian chain Lacie. Pengontraknya juga kalau bisa."
"Baiklah, nyan!"
Tanpa ragu, Cheshire menerjang ke arah Lacie dan chainnya. Cakar-cakar setajam silet miliknya bertemu dengan sabit milik chain Lacie, menimbulkan suara dentangan keras. Serangan Cheshire yang tiba-tiba mengalihkan perhatian Lacie dan chainnya dari Alice dengan efektif.
Alice tidak buang-buang waktu lagi. Selagi perhatian Lacie dan chainnya teralih, dia melepaskan ranselnya dan mulai mencari.
"Granat asap, granat asap. Dimana Esther bilang dia menyimpannya? Ah, ini dia!"
Alice menarik dua buah granat asap dari ranselnya, kemudian dia memakai ranselnya kembali. Alice menatap kedua senjata di tangannya dan meringis. Dia benci menggunakan senjata macam ini, terutama karena dia sekarang tidak bisa mengingat sedikitpun pelajaran yang pernah Esther berikan tentang membedakan mana yang asli dan mana yang tidak. Berharap granat di tangannya bukanlah dummy, Alice melemparkan kedua granat itu ke arah Lacie.
Sepertinya dewi keberuntungan sedang tersenyum kepada Alice.
Dalam kurun waktu beberapa detik tempat itu sudah diselimuti oleh asap yang sangat tebal. Bahkan Alice yang berdiri cukup jauh dari Lacie, tidak bisa melihat apa-apa. Alice kembali merogoh ranselnya dan mengeluarkan suntikan berisi obat bius.
"Cheshire!" batin Alice. "Bantu aku menemukan Lacie!"
Dalam waktu singkat, Alice bisa merasakan tangan Cheshire, kalau itu bisa disebut tangan, mencengkram pergelangan tangannya. Alice meringis sedikit ketika cakar-cakar milik Cheshire mengiris kulitnya. Dia berharap Esther memasukkan peralatan P3K di ranselnya.
Cheshire menarik Alice menembus kabut. Beberapa saat kemudian, Alice bisa melihat sosok Lacie dari balik asap. Tampaknya Lacie masih belum menyadari keberadaannya, begitu pula dengan chainnya.
"Terima kasih, Cheshire!" bisik Alice ketika Cheshire melepaskan tangannya.
"Bukan masalah, nyan!"
Tanpa ragu, Alice menerjang ke arah Lacie dan menghajar bagian belakang lehernya menggunakan tangannya. Tubuh Lacie menegang sejenak. Dia memutar kepalanya dan menatap Alice dengan pandangan kaget bercampur kagum. Kemudian tubuhnya terjatuh ke tanah.
Asap mulai menipis. Alice menatap tubuh Lacie yang terbaring di atas tanah di depannya. Gadis itu masih sadar, tetapi tidak bisa bergerak selama beberapa saat.
"Apa kau akan membunuhku sekarang, eh, Alice?" tanya Lacie.
Alice berlutut di depan Lacie. Dia menyingkirkan rambut brunette milik gadis itu ke samping, menampakkan lehernya yang putih. Dia menempelkan jarum suntiknya di sana.
"Jangan kira aku berbaik hati atau apa! Sebenarnya, aku benar-benar ingin membunuhmu! Tapi, kalau aku membunuhmu, aku akan sama buruknya denganmu!"
Alice menyuntikkan obat bius itu ke pembuluh darah Lacie. Lacie tersenyum kecil kepada Alice sebelum dia kehilangan kesadarannya. Setelah obat itu habis, Alice kembali menarik alat suntiknya dan membuanya sebelum bangkit.
"Lagipula, tidak peduli seberapa bencinya aku kepadamu, kau tetaplah ibuku."
.
Ada menghubinginya ketika Alice sedang mencari Zwei.
"Alice! Kau baik-baik saja?"
"Yeah, aku baik-baik saja." jawab Alice. "Apa yang terjadi di markas? Baik aku dan Echo tidak bisa menghubungimu selama sekitar satu jam terakhir!"
"Cerita nanti saja!" kata Ada. "Apa Echo bersamamu?"
"Tadinya. Aku sedang mencarinya sekarang. Oh ya! Lacie dan Doug sudah kami bereskan. Tidak ada satupun dari mereka yang membawa kotak yang asli."
"Tentu saja. Kotak yang asli ada di Glen!"
"Tidak mengejutkan, eh?" kata Alice. Kemudian dia mendengar baku tembak, yang sepertinya berasal tidak jauh darinya.
"Sepertinya Zwei sedang berada di dalam masalah. Aku akan menghubungimu lagi nanti!"
"Oke." Alice segera menyiapkan pistolnya dan berlari ke sumber keributan.
Setelah berlari selama satu menit, Alice berbelok ke sebuah gang buntu. Ada empat orang laki-laki berdiri memungginya. Mereka tampak sedang menembaki sesuatu, seseorang lebih tepatnya.
Tanpa pikir panjang, Alice segera menembakkan pistolnya empat kali, masing-masing peluru bersarang di salah satu tubuh laki-laki tersebut. Dalam waktu singkat, keempat laki-laki itu sudah terjatuh tidak sadarkan diri ketika obat bius di peluru itu mulai bekerja.
Dengan santai, Alice melangkahi tubuh mereka. Dia mengulurkan tangannya ke arah anak perempuan berambut hitam yang berlutut di ujung gang.
"Butuh bantuan, eh?" tanya Alice sambil menyeringai.
Zwei tersenyum kecil dan mengambil tangan Alice. "Kau lama!" protesnya.
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Benar kan?"
TBC
A/N:
Tadaima!
Akhirnya, setelah sekian lama hiatus, Aoife balik lagi. Gomen ya kalao updatenya makin lama dan ceritanya makin garing (_ _). Maaf juga kalau duel Echo vs Doug-nya kurang greget. Pertama, Aoife gak tau chain Doug itu siapa. Dua, Aoife gak mau bikin mereka terlalu OOC. Tiga, Aoife males ^^v #plaak. Duel Alice dan Echo juga Aoife satuin karena faktor kemalesan juga, hehe (._.") Rencananya sih cerita ini akan beres 3-4 chapter lagi. Semoga aja bisa beres pas liburan.
Omong-omong (tarik nafas)…
OI, FPHI! PENGHUNINYA PADA KEMANA?! KOK SEPI SIH?! LOYAL, OI, LOYAL! #abaikan kalimat yang terakhir, kebawa senior…
Tapi, jujur. FPHI jadi makin sepi :'( Kayaknya dulu rame banget, setiap hari ada aja yang update. Bahkan dulu Aoife pernah ngalamin lima cerita update dalam satu hari T_T #sendirinyajarangmuncul
Oke, gomen kalau A/N nya kepanjangan. RnR guys?
P.S. Hari Jum'at nanti Aoife bagi raport. WML guys Ganbatte juga buat yang bagi raport akhir minggu ini!
