Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 35: For Our Future
"Apa tadi kau melihat seorang anak laki-laki?"
Sosok di depannya mengangguk pelan.
"Kemana dia pergi?"
Sosok itu mengangkat tangannya, jari pucatnya menunjuk ke arah satu jalan.
"Terimakasih."
Sosok itu tersenyum samar sebelum menghilang.
Tanpa ragu, Reo mengikuti jalan yang tadi ditunjuk oleh hantu tadi. Memiliki indra keenam pada saat-saat seperti ini cukup berguna juga.
Sudah sekitar sepuluh menit Reo membuntuti Fang. Dia tidak lagi melihat Fang sejak sepuluh menit lalu di alun-alun. Tapi, dengan menanyai hantu-hantu yang banyak berkeliaran di sana, dia bisa mengikuti jejak anak laki-laki itu tanpa kesulitan.
"Kenapa aku tidak memikirkan cara ini dari tadi, ya?" gumam Reo kepada dirinya sendiri. Dia menyiapkan pistol di tangannya. Menurut perasaannya, Fang berada cukup dekat dengannya.
Tiba-tiba, dari sudut matanya Reo melihat sebuah sosok. Mulanya Reo ingin mengabaikan sosok itu, tetapi kemudian dia melihat mulut sosok itu bergerak-gerak, seakan-akan dia ingin mengucapkan sesuatu kepada Reo. Akhirnya, Reo menghentikan langkahnya dan memusatkan perhatiannya kepada sosok itu.
"Ada apa?" tanya Reo.
Sosok itu adalah hantu seorang anak perempuan berumur sekitar tujuh tahun. Dilihat dari pakaiannya yang berlumuran darah, sepertinya dia adalah korban dari perang yang pernah berlangsung di sana. Entah kenapa gadis itu tampak ketakutan. Sekali lagi, dia berbisik dengan suara sepelan hembusan angin.
"Pergi!"
Reo terlambat menyadari arti dari peringatan itu. Sebelum Reo mengerti apa yang terjadi, sosok di depannya menghilang dan dunia meledak di sekitarnya.
"Sial!" pikir Reo.
Reo berhasil tetap berdiri di atas kedua kakinya, walaupun pandangannya berputar-putar karena ledakan itu. Ketika pandangannya kembali menjernih, dia melihat bangunan di sekitarnya mulai runtuh ke arahnya.
"Jabberwock!" seru Reo dalam hati. Dalam waktu sekejap, Jabberwock muncul dan segera melindungi kontraktornya dari runtuhan bangunan yang berjatuhan dengan sayapnya.
"Wah,wah,wah. Ada yang melangkah masuk ke perangkap rupanya," sindir Jabberwock.
"Apa itu sebuah sindiran?"
Pada saat itu, suara Ada yang terdengar panik terdengar dari transmitor Reo.
"Siapapun yang masih sadar, jawab pesan ini! Cepat!"
"Bisa dilanjutkan nanti?" tanya Reo.
Tidak ada jawaban dari Ada. Reo bertanya-tanya apakah gadis itu baik-baik saja ketika sesuatu yang berukuran kecil melesat ke arahnya dari arah bawah.
"Apa?" pikir Reo sebelum gigi-gigi kecil yang tajam menggigit lengannya.
"Ouch!" pekik Reo. Dia mengangkat lengannya dan mendapati seekor luwak bergantung di sana dengan gigi-giginya. Luwak itu menatapnya dengan sepasang mata biru dinginnya.
"Tove," kata Jabberwock dengan nada datar.
"Chain milik Fang?" tanya Reo.
"Kau pikir?"
"Kalau chainnya berada di sini, berarti kontraktornya berada tidak jauh dari sini." kata Reo.
"Kau benar."
.
Ada pernah berkata kepada Reo kalau dia nyaris mati kebosanan karena tidak memiliki pekerjaan lain selain menunggu kabar dari teman-temannya. Setelah dipikir-pikir, Ada lebih memilih mati kebosanan daripada berhadapan dengan situasi seperti ini.
"Kurasa itu sudah cukup sayang," bisik seseorang di telinga Ada. Ada membeku. Dengan perlahan, dia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.
"Halo? Ada? Ada apa?" terdengar suara Break dari headphonenya. Tapi Ada tidak menggubris suara itu.
Rambut merah yang diikat model ekor kuda, jas putih bersih yang dipakainya, senyum manis yang dia kenakan di wajahnya. Ada mengenali orang itu. Bukan hanya kenal, Ada mengagumi orang itu karena pengetahuannya yang luas. Tapi, besi dingin yang menempel di lehernya segera menghancurkan kekaguman itu.
"Miranda," desis Ada.
Miranda masih tersenyum. "Hati-hati!" dia memperingatkan. "Satu gerakan yang salah, kepalamu akan terpenggal!"
"Aku tidak menyangka kalau kau adalah pengkhianatnya." ujar Ada. "Pantas saja kita tidak mendapatkan petunjuk apa-apa dari darah yang kita temukan di ruang rahasia. Tidak ada yang akan menyangka kalau darah itu adalah milik pemeriksa darah itu!"
Tawa pelan meninggalkan mulut Miranda, "Kalian saja yang terlalu mempercayaiku. Padahal teman-temanku sudah sering memperingatkanku karena aku terlalu ceroboh. Darah itu misalnya. Tapi, rupanya kalian terlalu bodoh untuk menyadarinya!"
"Siapa yang kau bilang bodoh?" seru Ada. Dia mendorong kursi yang didudukinya ke belakang sekeras mungkin, menghantam dada Miranda. Miranda yang kaget karena serangan mendadak Ada menarik pisau yang dipegangnya menjauh dari leher Ada. Ada segera memanfaatkan kesempatan itu untuk membebaskan diri.
Ada berlari ke arah pintu kantor dan segera memutar kenop pintu itu sembari berharap Miranda tidak menguncinya ketika dia masuk tadi. Pintu itu terbuka dengan mudah, sepertinya Miranda cukup percaya diri dengan tidak menguncinya. Ada segera menutup pintu di belakangnya dan bergerak untuk menguncinya, kemudian mengurungkan niatnya ketika dia mengingat kalau Ann berada di dalam sana. Entah apa yang akan Miranda lakukan kepada gadis itu kalau dia menguncinya.
Ada membalikkan badannya. Dia mengerang pelan ketika dia melihat Revis, yang terikat ke sebuah kursi. Laki-laki itu menatap Ada dengan pandangan tidak berdaya, mulutnya bergerak-gerak di balik kain yang membekap mulutnya.
"Aku akan menyelamatkanmu nanti!" Ada berkata kepada Revis. Dengan terburu-buru, dia melangkah ke rak terdekat, yang dia ketahui menyimpan berbagai macam pisau bedah. Dia kembali mengerang ketika dia mendapati kalau rak itu kosong melompong.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" gumamnya.
.
Dengan sebuah jeritan, Jabberwock menghilang. Bersamaan dengan itu, rasa sakit merekah di perut Reo.
Reo menunduk dan mendapati sebuah mata pisau mencuat dari perutnya. Dia menoleh dan mendapati kalau Fang telah berdiri di belakangnya. Sementara itu, Tove yang tadi bergantung di lengan Reo melepaskan gigitannya dan melompat ke pundak Fang, tatapan kedua mata birunya tidak lepas dari Reo.
"Ledakan itu dan serangan mendadak Tove hanya pengalih perhatian rupanya," gumam Reo suram.
Fang tersenyum, "Ya, begitulah." Dia menarik kembali pisau yang tertancap di punggung Reo.
Reo terjatuh di atas kedua lututnya. Dia menekankan telapak tangannya ke luka terbuka di perutnya dan meringis ketika melihat banyaknya darah yang keluar dari luka itu.
"Aku berharap ini bukan pisau beracun," gumam Reo.
"Sayangnya, itu hanya harapan kosong," kata Fang. "Kau akan mati dalam waktu satu jam kalau kau tidak mendapatkan antidotenya, itu kalau kau tidak mati terlebih dahulu karena kehabisan darah." dia memperingatkan.
"Ada benar, sepertinya aku memang magnet kesialan," komentar Reo.
"Kita semua memang seperti itu bukan?" tanya Fang. Dia memotong tali ransel Reo dan mulai mengacak-acaknya. Dia menarik keluar Kotak Pandora palsu dari ransel Reo dan menginspeksinya. Dia mendesah pelan ketika mendapati kalau kotak di tangannya hanyalah sebuah dummy. Dia membuang kotak itu begitu saja di tanah.
"Ternyata bukan hanya DS yang berpikiran untuk menggunakan dummy," kata Fang datar.
"Kami juga punya ahli strategi, kau tahu?"
"Terserah apa katamu," balas Fang. Dia membalikkan badannya.
"Omong-omong, antidote untuk racunmu ada di setiap ransel Dark Sabrie. Kalau kau cukup beruntung, mungkin salah satu temanmu akan membawakannya untukmu."
"Kenapa repot-repot meracuniku?" tanya Reo, "Padahal kau memiliki banyak kesempatan untuk menghabisiku selama lima menit terakhir?"
Tanpa kembali menoleh ke belakang, Fang mulai berjalan pergi. Jawabannya bisa didengar oleh Reo sejelas siang hari, "Karena aku tidak suka membunuh. Setidaknya, dengan cara ini, masih ada kesempatan kalau kau akan selamat, bukan?"
.
Ada memutar kenop pintu klinik dan mengerang ketika mendapati bahwa pintu itu telah dikunci dan anak kuncinya telah diambil. Rupanya Miranda tidak seteledor yang dikiranya.
Ada mendengar suara berdesing di belakangnya. Tanpa perlu melihat ke belakang, gadis itu segera menghindar ke kanan. Sebuah pisau bedah kini menancap di pintu klinik. Ada bergidik ketika dia melihat lapisan tipis cairan kehijauan yang menyelimuti bilah pisau itu. Kalau saja dia tidak menghindar tepat waktu, Ada bisa berakhir seperti Ann, kalau tidak lebih buruk.
"Halo, Ada? Aku butuh sedikit bantuan disini…"
Ada kembali mengerang ketika suara Reo terdengar dari headphonenya. "Disaat seperti ini!" pikirnya.
"Erm, Reo? Bisa hubungi aku lagi nanti? Aku punya sedikit urusan disini." kata Ada.
"Well, kemungkinan aku akan mati dalam waktu tiga puluh menit, satu jam paling lambat. Kurasa aku bisa menunggu selama beberapa menit."
"Apa?"
Sebelum Reo sempat menjawab, headphone Ada sudah direngut dari telinganya. Ada memutar tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Miranda. Wanita itu menggenggam headphone Ada di salah satu tangannya dan sebuah pisau bedah lagi di tangan yang lain. Dia melempar alat komunikasi itu ke belakangnya, tetapi tetap mempertahankan pisaunya.
"Bukankah tadi kubilang sudah cukup?" tanya Miranda. "Kau tidak akan bisa membantu teman-temanmu lagi!"
Ada mengangkat sebelah alisnya, "Oh? Bukankah membantu orang yang memerlukan pertolongan adalah tugas seorang dokter?"
"Masalahnya, kau bukanlah seorang dokter," kata Miranda singkat.
"Mungkin aku bukanlah seorang dokter sekarang, tetapi aku yakin aku akan menjadi seorang dokter suatu hari nanti," kata Ada.
"Kepercayaan diri yang bagus," kata Miranda. "Sayangnya, kau tidak akan hidup cukup lama untuk meraihnya."
Dengan satu gerakan cepat, Miranda melemparkan pisau yang dipegangnya. Tapi Ada sudah siap, dia menarik pisau yang sebelumnya menancap di pintu klinik dan menggunakannya untuk menepis pisau yang dilemparkan Miranda.
"Setidaknya, aku punya senjata sekarang," pikir Ada. "Walaupun sepertinya satu pisau tidak akan membuat banyak perbedaan ketika melawan entah berapa banyak pisau yang dimiliki Miranda."
Miranda kembali menarik pisau lain dari saku jas dokternya dan sekali lagi melemparkannya ke arah Ada. Kali ini, Ada tidak menangkisnya. Dia hanya menghindar ke samping dan menyambar gagang aluminium pisau itu ketika pisau itu melewatinya.
"Gerakan bagus," puji Miranda.
"Aku dibesarkan sebagai anggota keluarga Vesallius bukan tanpa hasil," balas Ada. "Duel semacam ini sudah menjadi makanan sehari-hariku!"
"Kalau begitu," Miranda menyibakkan jubah dokternya. Kedua iris Ada melebar ketika dia melihat senapan rifles yang tersembunyi di balik jubah putih itu. Dia hanya pernah melihat senjata itu beberapa kali ketika dia mengunjungi gudang senjata bersama Esther, tetapi Esther selalu memperingatkannya agar tidak menyentuhnya.
Dengan gerakan terlatih, Miranda mengokang senapan itu dan mengarahkan larasnya ke arah Ada.
"Makan ini!"
Ada tahu dia tidak akan memiliki waktu untuk menghindar dari serangan semacam itu, tidak dengan jarak sedekat ini. Bahkan kalaupun dia menghindar, Miranda hanya akan menembak lagi. Jadi, dia hanya menggertakkan giginya ketika jari Miranda menekan picu.
Seseorang mencengkram lengan Ada dan menariknya menjauh dari jalur bahaya. Peluru timah yang tadi mengincar tubuh Ada kini menghantam pintu klinik yang terbuat dari aluminium, menghasilkan bunyi berdentang keras yang tidak mengenakkan telinga.
Ada mendongak dan menatap wajah penyelamatnya, "Revis?"
"Maaf kalau aku agak terlambat," kata lelaki berambut putih itu. "Butuh waktu lebih lama daripada dugaanku untuk membebaskan diri dari tali-tali sialan itu."
"Kau tidak berkomplot dengan wanita itu, kan?" tanya Ada curiga.
"Bisa-bisanya kau curiga kepadaku setelah aku menyelamatkan nyawamu barusan?" tukas Revis kesal. "Aku juga menjadi korban, tahu!"
"Yah, pengkhianat itu pintar berakting."
"Aku bukan pengkhianat!" seru Revis frustasi.
"Sudah cukup mengobrolnya?" tanya Miranda dengan nada bosan. Baik Ada maupun Revi sudah hampir melupakan keberadaan Miranda di ruangan ini karena pertengkaran kecil mereka.
Revis menoleh dan menatap Miranda dengan tajam, "Miranda, sejak kapan kau bekerja untuk Clockwork?"
Miranda mengangkat bahunya, "Entahlah. Tiga tahun? Empat? Sejak awal, aku memang tidak pernah bekerja untuk Reinhart."
"Dan aku percaya kepadamu begitu saja," gumam Revis dengan nada datar. "Pantas saja selalu ada barang penting yang hilang dari klinik, begitu juga dengan rencana-rencana Reinhart yang selalu bocor. Pantas saja Reihart tidak pernah menemukan siapa pelakunya. Tidak akan ada yang mencurigai seorang dokter!"
Miranda mengangguk, "Kau benar! Itulah sebabnya Mary menyuruhku untuk menjadi mata-mata di Reinhart."
"Mary?" tanya Ada bingung.
"Pemimpin Clockwork," jawab Revis singkat.
"Aku mendekatimu yang memang sudah bekerja di sini," Miranda melanjutkan ceritanya tanpa terganggu oleh pertanyaan Ada. "Terimakasih atas rekomendasimu, aku bisa bekerja sebagai dokter di sini. Dengan posisiku, aku bisa mendapatkan informasi dengan mudah."
"Tentu saja," ucap Revis. "Kau bisa meracuni buah-buahan yang meracuni Ann dengan mudah. Dan kaulah yang bertanggung jawab untuk melacak pemilik darah yang kita temukan di ruang rahasia. Siapa yang akan mengira kalau darah itu berasal dari pemeriksa itu sendiri?"
"Betul sekali," puji Miranda. "Sayang kau tidak menyadari itu semua lebih awal, Revis! Kalau saja kau menyadarinya lebih awal, mungkin nyawa Ann bisa diselamatkan."
"Apa maksudmu?" ujar Ada tajam.
"Well, sudah dua minggu berlalu sejak dia memakan apel itu, kan? Seharusnya, racun itu sudah membunuhnya beberapa hari yang lalu. Aku sendiri terkejut karena dia bisa bertahan selama ini. Sepertinya metabolisme seorang Reinhart memang tidak boleh dianggap remeh," jawab Miranda santai.
Wanita itu kembali merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. "Kau lihat ini?" Dia menggoyang-goyangkan botol itu beserta isinya di depannya.
Revis mengerutkan keningnya, "Apa yang istimewa dari botol itu?"
Miranda tertawa, "Bukan botolnya yang ingin kutunjukkan, tapi isinya. Ini antidote dari racun yang ada di tubuh Ann. Kalian masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya kalau kalian memberikannya antidote ini."
Ada melangkah maju, tangannya bergerak untuk menyambar antidote itu dari tangan Miranda. Tapi Miranda segera menjauhkan botol itu menjauh dari sambaran Ada.
"Berikan antidote itu!" geram Ada, membuat Miranda terkekeh geli.
"Kau kira aku akan memberikannya kepadamu dengan semudah itu?" tanya Miranda.
"Berikan antidote itu, SEKARANG!"
Ada kembali menyambar botol itu, tapi Miranda bisa menghindar kembali dengan mudahnya. "Hati-hati!" dia memperingatkan. "Aku akan menjatuhkannya kalau kau tetap keras kepala seperti itu! Omong-omong, ini satu-satunya botol yang kumiliki."
Ada menghentikan serangannya. Dia tidak bisa mengambil resiko kehilangan antidote itu. Apabila antidote itu hilang, nyawa Ann yang menjadi taruhannya. Ada tidak akan bisa memaafkan dirinya apabila gadis yang telah berbaik hati memberikan dia dan teman-temannya tempat tinggal itu kehilangan nyawa karena kesalahan Ada.
"Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan antidote itu?" tanya Ada dengan enggan.
"Ada, jangan!" kata Revis tajam.
Miranda tersenyum, "Apa kau pernah mendengar satu nyawa untuk satu nyawa?" dia bertanya.
"Tentu saja."
"Nah, aku akan memberikan antidote ini kepada Ann," Miranda meletakkan botol di tangannya di atas meja praktik, kemudian dia menatap Ada dengan ekspresi dingin, "tetapi kau harus membunuh dirimu sendiri di sini!"
"Miranda!" seru Revis. "Itu terlalu ekstrem!"
"Diam!" teriak Miranda. Dia mengarahkan laras pistolnya ke arah Revi, yang segera terdiam.
Ada mendelik ke arah Miranda, "Apa kau serius tentang ini?"
"Tentu saja aku serius," tukas Miranda. "Apa kau tidak mempercayaiku?"
"Tentu saja tidak!" jawab Ada. "Mana ada orang waras yang mau mempercayai seorang pengkhianat?"
"Begitu," bisik Miranda. Kemudian, sebelum Ada atau Revis sempat bereaksi, Miranda sudah berada di depan Revis. Laras senapannya berada di depan dahi Revis, jari telunjuknya sudah berada di atas picu, siap menembakkanya kapan saja.
Ada membalikkan badannya dan berteriak, "Apa yang kau lakukan?"
"Kalau menurutmu satu nyawa untuk satu nyawa itu terlalu berat," ucap Miranda santai. "Bagaimana dengan satu nyawa ditukar dengan dua nyawa?"
"Kau gila, Miranda!" gumam Revis.
Miranda hanya mengedikkan bahunya dengan tidak peduli, "Bukannya dulu kau sama gilanya dengan aku? Berusaha menghindar tidak ada gunanya, omong-omong." tambahnya ketika Revis berusaha bergerak menjauh dari Miranda. "Dengan jarak sedekat ini, mustahil tembakanku melesat. Dan kalau tembakan pertamaku tidak berhasil membunuhmu, aku bisa menembakmu lagi."
"Jadi bagaimana?" Miranda menoleh ke arah Ada yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa kau mau menerima tawaranku? Kalau kau setuju, aku akan membiarkan Revis dan Ann hidup. Kalau kau menolak dan berusaha membunuhku, aku akan membunuh Revis dan menembak antidote itu, kemudian aku akan membunuhmu juga. Kau punya waktu lima hitungan untuk memutuskan!"
"Miranda! Jangan bercanda!" geram Revis.
"Bercanda katamu?" gumam Miranda. Dia sedikit menekankan senapannya ke dahi Revis dan tersenyum dingin, "Apa aku kelihatan seperti sedang bercanda? Lima!"
Ada menggertakkan giginya. Dia hanya punya dua pilihan, dan keduanya berujung pada kematiannya, walaupun dia masih punya kesempatan untuk selamat pada pilihan kedua.
"Empat!"
"Tapi, apabila aku memilih pilihan kedua, aku tidak akan bisa menyelamatkan Revis atau Ann. Memang ada kemungkinan aku bisa menyelamatkan antidote itu sebelum Miranda sempat menembaknya, tetapi aku tidak mungkin bisa menyelamatkan Revis, dan ada kemungkinan yang sangat besar kalau aku akan gagal. Mungkin lebih baik kalau aku menyerah saja."
"Tiga!"
"Tapi apa yang akan dikatakan oleh yang lain kalau aku bunuh diri? Apa yang akan dipikirkan oleh Oz-nii? Elliot? Reo? Sharon? Semuanya? Apa yang akan aku katakan kepada Jack-nii dan Alyss kalau aku bertemu mereka nanti? Oh, well. Mereka pasti mengerti. Lagipula, aku tidak punya pilihan lain. Akan lebih banyak nyawa yang akan selamat kalau aku mati disini."
"Dua!"
Ada mengangkat pisau yang digenggamnya dan mengarahkan bagian yang tajam ke lehernya.
"Ada! Jangan!" pekik Revis ketika dia melihat gerakan Ada. "Jangan lakukan itu!"
Miranda tersenyum, "Sepertinya kau sudah memutuskan, Ada. Baguslah kalau begitu!"
Ada kembali mendelik ke arah Miranda, "Pegang janjimu, Miranda! Kalau tidak, aku akan menghantuimu seumur hidupmu!"
"Tenang saja," balas Miranda. "Aku memegang teguh janjiku!"
"Ada! Jangan acuhkan aku! Ambil saja antidote itu dan selamatkan dirimu sendiri!" teriak Revis, tetapi Miranda kembali menyodokkan senapannya ke dahi Revis dan berkata, "Diam!"
"Bilang ke yang lain kalau aku minta maaf, Revis!" kata Ada. Dia menggertakkan giginya dan menempelkan pisau itu ke lehernya. Dia menghela nafas, yang kemungkinan besar adalah nafas terakhirnya, dan mulai menekan pisau itu.
Setitik darah jatuh jatuh dari luka yang dibuat Ada, menodai jas putihnya. Revis menatap gadis itu dengan tidak berdaya, sementara seringai Miranda semakin melebar.
Sesuatu yang mengkilap berkelebat di sudut mata Ada. Ada mengira itu hanya imajinasinya saja sebelum dia mendengar suara tercekat Miranda. Ada menurunkan pisaunya. Luka di lehernya terasa perih ketika dia menggerakkan kepalanya, tetapi dia segera melupakannya ketika dia melihat apa yang terjadi di depannya.
Sebuah pisau bedah menancap di punggung Miranda, noda merah mulai menyebar di kain putin yang berada di sekitar pisau itu. Senjata itu menusuk tepat di mana jantung semestinya berada. Siapapun yang melempar pisau itu, dia adalah seseorang yang ahli.
Ada kembali melihat sesuatu berkelebat di sampingnya. Kali ini, Ada bisa melihat pisau yang melesat kemudian menancap di leher Miranda. Pisau ketiga segera menyusul, kali ini menusuk kepala wanita itu.
Terdengar suara dentangan ketika senapan yang dipegang Miranda terjatuh ke lantai. Revis segera melangkah mundur dari Miranda, yang mulai sempoyongan.
"A… apa…" bisiknya.
Pisau keempat menancap di punggungnya, di atas paru-paru.
Tubuh Miranda ambruk, mencipratkan darah kemana-mana ketika tubuhnya membentur lantai.
Ada dan Revis menatap tubuh Miranda yang berlumuran darah dengan bingung. Kemudian Ada membalikkan badannya ke arah serbuan pisau itu berasal.
Seorang gadis dengan rambut coklat acak-acakan yang panjangnya mencapai pertengahan punggungnya menyandarkan sisi tubuhnya ke kusen pintu kantor yang terbuka. Dia tampak bisa ambruk begitu saja, tetapi dia tersenyum kepada Ada dan Revis.
"Ann?" bisik Ada tidak percaya.
Ann tersenyum dan memberi hormat dengan menyentuh pelipisnya menggunakan jari telunjuk dan tengahnya sebelum ambruk.
.
"Aku tidak percaya dia bisa bergerak dalam pengaruh racun seperti tadi," gumam Revis ketika dia menyuntikkan antidote ke lengan Ann. Revis telah memindahkan Ann kembali ke tempat tidurnya setelah dia dan Ada pulih dari shock mereka.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Ada khawatir.
"Dia akan baik-baik saja," jawab Revis. "Aku akan memperbanyak antidotenya nanti. Omong-omong, jangan lakukan hal seperti tadi lagi!"
"Hey! Aku tidak punya pilihan!" protes Ada.
"Selalu ada pilihan," kata Revis. "Kalau Ann tidak menolong kita tadi, kau pasti sudah mati!"
"Tapi, kalau aku menolak, kau dan Ann akan kehilangan nyawa kalian!"
"Memang. Tetapi, kalau kau kehilangan nyawamu, persentase kemenangan teman-temanmu yang sedang bertarung di luar sana akan menurun drastis," sanggah Revis kalem.
Perkataan Revis kembali mengingatkan Ada tentang pesan yang akan disampaikannya sebelum Miranda datang, dan pesan yang diterimanya ketika dia sedang menghindar dari serangan wanita itu.
"Sial!" Ada memaki dirinya sendiri. "Bagaimana aku bisa lupa?"
Gadis itu buru-buru bangkit dan berlari kembali ke klinik, "Aku meninggalkan Ann dalam perawatanmu!"
"Tenang saja!" Ada bisa mendengar balasan Revis ketika dia memasuki klinik. "Urusi saja teman-temanmu."
Dengan hati-hati, Ada mengitari tubuh Miranda, yang masih tergeletak di tengah ruangan. Diamenyambar headphone yang tadi dilemparkan Miranda begitu saja dan mengeceknya. Untung saja tidak ada kerusakan yang terlalu serius, hanya beberapa goresan.
Ada segera memakai alat itu dan menyalakannya. "Reo, kau baik-baik saja?"
Tidak terdengar jawaban selama beberapa saat. Ada mulai khawatir kalau dia terlambat ketika dia mendengar suara kesal Reo.
"Kau lama sekali! Aku nyaris mati disini, kau tahu?"
"Bisa simpan keluhannya untuk nanti dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Ada.
"Fang berhasil menjebakku. Dia menusukku dengan pisau beracun. Dia bilang kalau setiap anggota DS membawa antidotenya."
"Kau berada di mana?"
"Di suatu tempat di utara alun-alun."
"Bisa lebih spesifik lagi?"
"Fang meledakkan tempat ini. Kurasa kalian akan bisa menemukan tempat ini dengan mudah."
Ada menghela nafas, "Baiklah, aku akan menghubungi seseorang untuk menolongmu. Tunggu di sana, dan berusahalah untuk tetap sadar."
"Bisa bilang kepada siapapun yang akan menyelamatkanku untuk cepat-cepat? Kurasa aku tidak akan bertahan lama."
"Akan kucoba. Omong-omong, aku tidak akan memafkanmu kalau kau mati, oke?"
Ada segera memutuskan hubungannya dengan Reo dan menekan tombol yang akan menghubungkannya ke semua temannya yang sedang bertarung di luar sana.
"Kalian baik-baik saja?"
TBC
A/N:
Pertanyaan selama ngetik chapter ini: Kenapa setiap kali Aoife ngetik nama Revis, Rnya selalu kecil ==a
Oke, abaikan yang di atas.
Karena Aoife sedang ngga mood ngomong banyak-banyak, jadi langsung ke inti aja. Selamat membaca, semoga suka, dan review kalo sempet
