Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Epilogue: Eternal Bonds

Wanita itu tampak sedang terburu-buru. Jas putih yang lupa dilepasnya ketika dia tadi terburu-buru pergi dari kliniknya berkibar di belakangnya selagi pemiliknya berjalan secepat mungkin melalui jalan yang padat. Sesekali, dia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya.

"Tiga puluh menit! Yang lain pasti sudah menunggu! Kalau saja ibu tadi tidak cerewet…" keluhnya ketika dia menyadari kalau setengah jam telah berlalu sejak waktu yang dijanjikan, dan dia bahkan belum sampai di tempat pertemuan.

Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar. Tangannya segera bergerak untuk mengangkat panggilan itu.

"Andai saja benda ini sudah ada tiga belas tahun yang lalu," pikirnya ketika dia menekan tombol jawab. "Kita tidak perlu repot-repot membuat alat transmisi yang rumit."

"Halo!" suara lembut itu segera menyapa telinganya.

"Hai, Sharon!" jawabnya. "Maaf, aku terlambat! Apa yang lain sudah sampai?"

"Huh?" suara Sharon terdengar bingung. "Bukannya kita harusnya bertemu jam tiga?"

"Sharon, kita seharusnya bertemu jam dua di sana," wanita itu memberitahu temannya dengan perlahan.

Sharon tidak menjawab selama beberapa saat. Selagi menunggu jawaban sahabatnya, wanita itu terus berjalan, berusaha agar tidak menabrak orang. Menurut perkiraannya, seharusnya dia akan sampai di tempat yang ditentukan lima menit lagi.

"Laki-laki itu!" akhirnya, geraman marah Sharon terdengar dari ponselnya. "Dia memberitahuku kalau kita akan bertemu jam tiga! Aku akan menghajarnya kalau aku bertemu dengannya lagi!"

"Bukannya kalian tinggal satu atap?" pikir wanita itu, walaupun dia tidak mengatakannya keras-keras.

"Aku akan segara ke sana sekarang!" ujar Sharon. "Sampai ketemu di kafe nanti! Salve! Jangan ambil ponsel mama!"

"Ingat Sharon! Jangan ada anak-anak!"

"Aku tahu itu, Ada!"

Ada tersenyum dan mematikan ponselnya. Dia berpikir betapa beruntungnya Sharon karena sudah memiliki anak. Bayi Echo juga baru lahir beberapa bulan yang lalu, dan Ada tidak pernah melihat Echo sebahagia itu sejak hari pernikahannya. Sepertinya menjadi orang tua itu asyik.

Dia mengelus perutnya yang sudah sedikit membesar. Well, mimpinya akan menjadi kenyataan beberapa bulan yang akan datang, walaupun dia masih merahasiakannya dari Elliot. Dia tidak sabar ingin melihat ekspresi laki-laki itu ketika mendengar berita ini.

Lamunan Ada buyar ketika tubuhnya menabrak seseorang. Wanita itu segera menundukkan kepalanya dan menggumamkan permintaan maaf. Dia baru saja akan melanjutkan langkahnya ketika dia mendengar orang yang ditabraknya memanggilnya.

"Eh, Ada?"

Ada menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Seorang wanita berambut putih kebiruan yang tampak akrab balik memandangnya.

"Echo?" gumam Ada bingung. Echo hanya tersenyum tipis kepadanya.

"Kulihat bukan hanya aku saja yang terlambat," katanya dengan nada datar khasnya. Walaupun sekarang dia sudah menjadi ibu, Echo tidak pernah benar-benar kehilangan gaya bicaranya yang khas.

"Biasa, pasien yang cerewet," kata Ada singkat sementara mereka berdua berjalan bersama menuju kafe tempat yang lain sudah menunggu.

"Oh."

.

"Dimana sih ketiga perempuan itu?" gerutu Elliot ketika Sharon, Echo dan Ada tidak kunjung datang.

"Kurasa Ada punya sedikit masalah dengan pasiennya," sahut Oz. Laki-laki itu sedang duduk dengan santainya di atas sebuah meja. Dia tidak perlu khawatir, karena kafe itu sudah disewa khusus untuk mereka selama beberapa jam ke depan. Lagipula, dialah pemilik kafe itu.

"Echo bilang dia terpaksa datang terlambat karena Esther memintanya untuk merapihkan toko," kata Reo.

"Padahal bosnya sendiri ada di sini," gumam Ann sambil menunjuk Esther yang duduk di sampingnya.

"Hei! Dia sendiri yang menawarkan diri untuk merapihkannya!" protes Esther. Ann hanya mengangkat bahunya dengan lagak tidak peduli dan kembali menyesap tehnya. Saudara kembarnya hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua.

"Kurasa aku tahu kenapa Sharon sampai terlambat," gumam Alice sambil melirik Break, yang sedang asyik melahap sebuah cupcake.

"Kalian yang menyuruhku melakukannya!" Break memprotes.

"Kalau aku jadi kau, Break," kata Reo. "Aku tidak akan pernah melakukannya, tidak peduli aku dibayar setinggi apapun!"

Tiba-tiba, pintu kafe menjeblak terbuka. Otomatis, semua orang menoleh ke arah pintu. Semuanya segera terdiam ketika mereka melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.

Break nyaris tersedak cupcakenya.

"Xerxes-nii?" Sharon memanggil nama Break dengan nada manis. "Kenapa kau bilang kalau pertemuannya jam tiga?"

Break berusaha untuk bersembunyi di belakang Will, tetapi laki-laki itu segera menyingkir. Tidak ada orang waras yang mau menghalangi seorang Sharon yang sedang marah.

"Halo, Sharon," sapa Break lemah.

Sharon hanya tersenyum manis kepada suaminya, yang sudah cukup untuk membuatnya berkeringat dingin. Break sudah mempunyai cukup pengalaman dengan Sharon sehingga dia tahu kalau istrinya tersenyum seperti itu, dia berada dalam masalah yang amat sangat besar.

Tetapi, sebelum Sharon sempat membuka mulutnya kembali, tiba-tiba tubuhnya didorong ke samping secara paksa. Semua orang hanya bisa melihat sekelebatan rambut pirang sebelum pintu kamar mandi perempuan tertutup di belakangnya.

"Huh?" Sharon bergumam tidak mengerti. Break bersyukur karena sepertinya Sharon sudah melupakan kemarahannya.

"Maaf untuk tadi," tiba-tiba Echo sudah berada di dekat Sharon. "Tapi, Ada tiba-tiba merasa mual tadi, jadi dia harus buru-buru."

"Hai, Echo!" sapa Alice. Dia bangkit berdiri dari tempatnya duduk di samping Oz dan menghampiri kedua sahabatnya. "Mual katamu?"

"Dia tidak sakit, kan?" tanya Elliot cemas.

Echo hanya mengangkat bahunya dan tersenyum misterius. "Lihat saja nanti!" katanya.

"Sepertinya aku tahu apa yang kau maksud," gumam Alice. "Ah, aku iri dengan kalian bertiga! Padahal Ada kan lebih muda dariku!"

"Tenang, Alice!" ujar Sharon sambil tersenyum. "Giliranmu pasti akan datang! Kalau tidak, well, salahkan saja Oz!"

"Oi! Kalian bertiga membicarakan apa sih?"tanya Oz dengan nada sedikit kesal karena dirinya diungkit-ungkit.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Ada yang berwajah sedikit pucat melangkah keluar. Dia mengedarkan pandangan minta maaf kepada teman-temannya.

"Jadi," Alice tiba-tiba bertanya. "Sudah berapa bulan?"

Ann dan Aire bersiul-siul pelan ketika mereka melihat wajah Ada yang tadinya pucat mulai memerah. Sementara, para lelaki masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di depan mereka.

"Kira-kira, umm, satu bulan?" jawab Ada lemah, masih dengan wajah merahnya.

Reo, yang pertama kali menangkap maksud Ada, menepuk punggung Elliot, "Selamat ya, kawan!"

"Iya, selamat!" Oz yang berikutnya mengerti. "Alice, giliran kita kapan, ya?"

Perkataan terakhir Oz dihadiahi dengan sebuah jitakan di kepala. Sementara itu, Break dan Will segera menyelamati Elliot

"Tunggu, tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi?" seru Elliot frustasi karena hanya dirinya yang masih tidak mengerti.

"Jadi, perempuan atau laki-laki?" tanya Sharon penasaran.

Ada mengangkat bahunya, "Masih terlalu awal untuk tahu," jawabnya.

"Hei! Ada apa sih?" Elliot kembali berseru. Yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sudahlah, lebih baik kalau kita mulai saja acaranya!" usul Aire, yang segera disambut oleh seruan setuju dari yang lain.

"Oi, Rakuen no Music!" seru Reo kepada Elliot dan Ada. "Sepertinya sudah cukup lama kita hiatus. Bagaimana dengan beberapa lagu untuk hari ini?"

Ada tersenyum, "Ayo!"

.

"Tiga belas tahun, huh?" gumam Oz kepada dirinya sendiri ketika dia dan teman-temannya berjalan menyusuri kota setelah perayaan di kafe. Jam yang melingkar di tangannya memberitahunya kalau sekarang sudah jam lima sore.

Alice, yang berjalan di samping Oz, mendengarnya. "Kota ini sudah banyak berubah," komentarnya.

Oz tersenyum untuk menanggapi komentar Alice. Alice benar, kota ini sudah banyak berubah. Tempat-tempat pertempuran mereka dulu, kini sudah diubah menjadi perumahan atau pertokoan. Gang-gang yang dulu menjadi dunia mereka, kini sudah berganti menjadi jalan-jalan yang ramai.

Tetapi kenangan-kenangan itu masih ada di sana, walaupun penampilan Kota Sabrie sudah berubah. Oz selalu teringat tentang duelnya dengan Zai ketika dia melewati gedung perkantoran di alun-alun. Echo selalu berhenti setiap kali dia melewati perumahan tempat dia nyaris kehilangan nyawanya. Break dan Sharon selalu tersenyum ketika mereka melewati sebuah jalan.

Sekarang, mereka semua berhenti di depan sebuah rumah sakit yang baru dibangun beberapa tahun lalu. Oz mengenang semua memori yang telah dia dan teman-temannya lalui di sana dulu, di sebuah bangunan terbengkalai yang mereka jadikan rumah.

"Aku senang tempat ini dijadikan rumah sakit," gumam Sharon. Yang lain menganggukkan kepala mereka setuju.

"Kita harus cepat kalau tidak mau kemalaman" kata Elliot ketika dia melihat matahari yang sudah condong ke arah barat.

.

Lima batu nisan menyambut mereka ketika mereka sampai.

Tanpa berkata apa-apa, Oz, Elliot, Reo, Break dan Will mulai membersihkan makam-makam itu, sementara Echo, Alice, Sharon, Ada, Ann, Aire dan Esther meletakkan buket bunga yang mereka bawa di atas makam-makam itu.

"Tiga belas tahun," gumam Oz ketika dia membersihkan makam kakaknya. "Tahu tidak? Sebentar lagi kau akan punya keponakan, Kak!"

"Nii-chan!" seru Ada ketika dia tidak sengaja mendengar perkataan Oz. Oz hanya tersenyum tipis untuk menanggapi seruan adiknya.

"Gil juga akan punya keponakan," sahut Sharon. Dia hendak meletakkan sebuah buket di atas makam Gil ketika dia melihat kalau sudah ada buket di sana.

"Dari siapa ini?" gumamnya bingung. "Kita hanya membawa lima buket, kan?"

Elliot melirik ke arah makam kakaknya. "Mungkin Vincent?" tanyanya. Sharon mengangkat bahunya dan meletakkan buketnya di sebelah buket itu.

Lima belas menit kemudian, kelima laki-laki dewasa itu telah selesai membersihkan makam-makam sahabat mereka. Oz bangkit berdiri dan menarik nafas dalam.

"Langitnya indah hari ini," Oz mendengar gumaman Alice. Oz menolehkan kepalanya ke arah barat. Alice benar, langit senja pada saat itu benar-benar indah.

"Pasti Gil suka," lanjut Alice. Oz mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ya, Gil pasti menyukai pemandangan ini. Juga Jack, Alyss, Reim dan Lily.

"Kalau ingatanku tidak salah, tiga belas tahun yang lalu, suasananya juga seperti ini, kan?" tiba-tiba Reo berkata.

"Kau benar," timpal Break. "Aku masih mengingatnya dengan jelas. Langitnya memang seindah sekarang,"

"Hari ketika semuanya berakhir," gumam Echo.

Oz merangkul Alice, yang segera memprotes. Tapi dia mengabaikan protes istrinya itu, dan akhirnya Alice menyerah. Mau tidak mau, Oz jadi teringat pesan terakhir Gil yang disampaikan Reo kepadanya.

"Jaga Alice untukku, oke?"

"Tidak kau suruh pun tetap akan kulakukan, Gil," batin Oz. "Dan bukan hanya Alice, tetapi juga Ada, Elliot, semuanya!"

"Tapi," Sharon berkata, "hanya karena semuanya sudah berakhir, tidak berarti persahabatan kita terputus begitu saja, kan?"

"Tentu saja tidak," balas Ada. "Tali persahabatan kita tidak akan pernah hilang, sampai kapan pun!"

Sebuah senyum mengembang wajah Oz. "Ada benar. Bagaimanapun juga, Kotak Pandoralah yang telah menyatukan kita, dan walaupun kotak itu telah hancur, tidak berarti persahabatan kita hancur bersamanya!"

Walaupun semuanya telah berakhir, tali persahabatan kami akan tetap ada!

OWARI

A/N:

Dua tahun empat bulan telah berlalu, dan akhirnya Aoife bisa menulis kata owari di sini! Hontou ni yokatta!

Jujur aja, ini cerita terpanjang yang pernah Aoife tulis, sekitar 130.000 kata, dan sekali-kalinya Aoife bisa tetap konsisten menyelesaikan satu projek yang cukup panjang tanpa putus di tengah-tengah jalan a.k.a discontinue.

Curhat time! Silahkan skip kalau mau!

Jadi, Aoife mendapat ide untuk menulis PSC beberapa hari setelah membuka akun di sini. Alasannya adalah:

Karena Aoife sejak dulu suka menghayal gimana rasanya menjadi anak jalanan yang punya kekuatan sihir.

Aoife lagi tergila-gila sama yang namanya Pandora Hearts, padahal dulu Aoife gak suka sama itu manga.

Campur kedua alasan itu dan, POOF, jadilah fanfic ini! Dan, chapter pertama yang Aoife tulis, sumpah itu hancur sangat! Bagi siapapun yang baca chapter-chapter pertama sebelum Aoife edit pasti tahu bagaimana hancurnya tulisan Aoife pada saat itu…

Akhirnya, setelah menyelesaikan chapter-chapter hancur tersebut, Aoife menemui rintangan pertama, yaitu…

AOIFE GAK TAHU HARUS NULIS APA SETELAH BAB GIL DAN VINCENT MELAKUKAN KONTRAK!

Jadi, Aoife memulai fic ini tanpa memikirkan plot dan endingnya. Aoife cuma dapet ide untuk bikin awalnya dan, that's it!

Akhirnya, setelah depresi beberapa saat, akhirnya Aoife memutuskan untuk menulis arc untuk Break dan Sharon, dan pada saat itulah Aoife punya ide untuk membuat beberapa arc, dengan karakter utama yang berbeda untuk setiap arcnya.

Arc 1: Gil dan Vincent. Arc 2: Sharon dan Break. Arc 3: Alyss, Alice, Jack, Oz. Arc 4: Reo, Elliot, Ada. Arc 5: Echo dan Zwei. Arc 6: Semuanya!

Dan sampai poin ini, Aoife masih belum mikirin bagaimana endingnya… Ending, termasuk pengkhianatan Vincent, baru Aoife putuskan pada akhir arc 2…

Yap, dan rintangan-rintangan yang dihadapi oleh Aoife selanjutnya adalah wb, sekolah, dan mencoba agar fic ini tidak terlalu bernuansa romance…

Dan akhirnya, setelah dua tahun, fic ini selesai!

Special thanks to:

Levana-chan, yang telah mengenalkan sebuah situs bernama kepada Aoife.

Zaa-chan, yang telah membuat Aoife menjadi seorang otaku, dan yang mengenalkan Aoife kepada PH. Cepet sembuh, ya!

Otouto tercinta, yang selalu membaca setiap chapter yang Aoife tulis sebelum di publish. (Walaupun komentarnya suka gak jelas)

Readers, baik yang menjadi silent readers ataupun reviewers, yang selalu buat Aoife semangat untuk nulis.

Karena kalianlah Aoife bisa menulis dan menyelesaikan cerita ini!

Untuk para readers, Aoife kemungkinan akan hiatus dari fanfiction, jadi PSC kemungkinan adalah cerita multichapter terakhir Aoife di sini, walaupun Aoife punya rencana untuk menulis beberapa side story. Aoife ingin fokus ke sekolah dan original project Aoife. Jadi, yah, kemungkinan besar Aoife gak akan nulis lagi di sini. Maaf ya :')

Yap, berakhirlah author note yang panjang ini! Terima kasih untuk semua yang sudah membaca cerita ini sampai akhir!

Sayonara!