Because of You

Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki

Rate : T

Genre : romance, friendship, hurt(mungkin)

GJ,TYPO,OOC,dsb. DLDR `kay?!

Chapter. 5

"Njaa, ganbatte!" katanya.

Hah?

Aku menoleh kearahnya. Tetapi dia sudah masuk kedalam kelasnya.

Apa maksudnya?

.

.

.

Avaron's point of view:

Sekarang sudah memasuki jam istirahat. Kondisi lorong kelas juga agak rame. Di kelas juga rame. Yosh. Aku akan melakukannya.

"Hana-chan!" panggil ku dengan senyum ceria. Yang di panggil pun menoleh beserta antek-anteknya.

"Ara~ Avaron-chan! Ayo kita ke kantin bareng!" dia pun hendak menggenggam tanganku. Tapi-

Plak!

Aku menamparnya. Seketika anak-anak yang berada di kelas maupun di lorong melihat ke arah kami. Sedangkan perempuan itu belum sadar dengan apa yang terjadi.

"Hey b*tc*. Kenapa kamu nggak diet aja? Kalo kamu gendut gimana? Kamu pasti tidak bisa ngalahin aku kan?" ucapku sambil menatapnya tajam.

"Apa yang kamu bicarakan Avaron-chan?" tanya nya dengan lagak yang mencurigakan.

Aku hanya menghela nafas. "Kamu mau ngedapetin Kise kan?" tanyaku dengan nada dingin.

Aku mendorongnya hingga ia mundur kebelakang beberapa langkah. Kembali masuk kedalam kelas.

"Sedangkan jelas-jelas 'teman' mu ini suka sama Kise." Aku memasang raut yang menyebalkan.

"Oh! Tunggu dulu! Kita kan tidak pernah berteman! Oh iya! Aku lupa! Gomen nee Ha-na?" ucapku dengan nada yang sengaja dibuat buat.

"Tentu aja kita berteman!" ucapnya dengan wajah yang sedikit terlihat panik.

"Are? Bukannya kamu pernah bilang bahwa kamu cuma manfaatin aku doang buat ngedapetin Kise?" tanyaku dengan sengaja.

"Nggak mungkinlah! Ahahaha" jawabnya sambil tertawa.

"Kalau begitu perlukah aku memanggil saksi?" tanyaku dengan nada menantang.

"Aduh! Kamu ini ngomong apa sih Avaron-chan? Aku nggak ngerti." Katanya sambil tersenyum bingung.

"Njaa, ayo kita ke kelas nya Kise." Kataku dan langsung menarik tangannya menuju kelas Ryota-kun. Hana meronta ronta dan meminta maaf padaku. Biarlah. Aku ingin dia bersujud di hadapanku.

Aku langsung nyelonong masuk kelas orang. Ah, biar. Mungkin habis ini aku bakal dijauhi gara-gara kejadian ini.

"Kise." Panggilku. Ryota-kun pun menoleh dengan tatapan bingung. "Iya?" jawabnya.

"Nee, Kise. Apakah kau ditembak oleh dia beberapa waktu yang lalu?" aku mendorong dia yang sedari tadi hanya bersembunyi dibelakangku.

Ryota-kun melihatnya sebentar. "Hana-chan? Iya dia habis nembak aku beberapa waktu yang lalu-ssu!" jawab Ryota-kun sembari tersenyum.

"Itu nggak benar Avaron! Aku nggak mungkin ngekhianatin temenku sendiri!" bentak Hana. Gerak-gerikmu mencurigakan Hana.

Aku hanya memandangnya. Menunjukkan rasa tidak percaya ku. "Terus ngapain kamu meronta ronta sama meminta maaf padaku? Mencurigakan."

"Bagaimana bisa kau menuduhku?! Jangan-jangan kalian bersekongkol ya untuk menjatuhkanku ya?!" bentak Hana.

"a-ano! Kise-kun! Kimi no koto suki desu! Tolong jadilah pacarku dan tolong terima bento yang kubuat!"

Eh? Entah kenapa samar-samar aku mendengar ada yang lagi kokuhaku. Dan...

"a-ano! Kise-kun! Kimi no koto suki desu! Tolong jadilah pacarku dan tolong terima bento yang kubuat!"

Sepertinya aku mengenal suara ini.

"a-ano! Kise-kun! Kimi no koto suki desu! Tolong jadilah pacarku dan tolong terima bento yang kubuat!"

Ini suara Hana. Dia menyatakan perasaannya. Dia pernah menyatakan perasaannya.

Hana pun memucat. Dia pun segera meninggalkan kelasnya Ryota-kun. Pergi entah kemana. Yang jelas aku yang menang dalam perdebatan ini.

Orang-orang yang dari tadi berkerumun melihat pertengkaran kami pun mulai pergi meninggalkan TKP. Aku pun mencari orang yang memutarkan rekaman itu.

Dan aku menemukannya,

Orang itu.

Aku segera meninggalkan kelas Ryota-kun tanpa mengucap apapun.

Mungkin aku akan berterima kasih pada orang itu.

Kaneko Harumi.

.

.

.

Aku sedang berada di dekat kolam renang. Bersama Harumi.

"Ano, ada apa ya?" tanya nya sopan.

"Aku mau berterima kasih karena telah menolongku tadi." Ucapku.

"Dan apa maksudmu dengan ucapanmu tadi pagi?" tanyaku dengan menatapnya dengan tatapan menyelidik.

"Hm, menurutku itu wajarkan." Dia berkata begitu dengan santainya.

"Kita rivalkan," dia melihatku dengan tatapan yang tidak menyembunyikan apa pun. Tidak ada unsur kebohongan dalam matanya. "Jadi sudah wajar dong, Avaron-chan?"

Ha? HA?!

"Iya kita emang rival! Tapi, masak sesama rival, saling bantu?" tanyaku dengan nada yang agak ketus.

"Lho, menurutku rival adalah orang yang paling bisa membuat kita berkembang. Jadi secara tidak langsung, kita sudah tolong menolong." Jawabnya dengan wajah keheranan.

"Maksudmu?" tanyaku.

"Jadi, rival itu ngambil peran dihidupku sebagai saingan dan juga sebagai teman. Jadi wajar dong kalo aku ngebantuin rivalku." Katanya sambil mendekat padaku.

"Lagian itu berarti, kamu udah kuanggap sebagai temanku." Katanya sambil memelukku.

Eh? Ngapain dia meluk aku?! Hmm, nyaman juga sih. Dia lebih pendek 10 cm dari ku. Entah kenapa kerongkonganku terasa sakit dan mataku menjadi berkaca-kaca.

Ternyata aku mulai menangis di pelukan Harumi, rivalku.

"Pasti berat bagimu karena ditusuk dari belakang." Kata Harumi sambil mengelus surai ku.

"Menangislah. Ini sudah jam pulang, jadi tidak akan ada siapapun disini. Tidak akan ada yang melihatmu menangis. Keluarkan semua air matamu Avaron, agar besok saat kau bertemu dengannya, kau bisa berjalan melewatinya dengan percaya diri. Tidak ada rasa penyesalan dan bebanmu sudah hilang. Masalahmu sudah selesai Avaron. Kau bisa bernafas lega sekarang." Dia berkata begitu.

Padahal aku berbuat sesuatu yang buruk terhadapnya. Kenapa dia masih mau berhubungan denganku?

Oh iya. Katanya aku ini adalah rivalnya. Dan Harumi beranggapan bahwa rival itu adalah saingan dan juga seorang teman.

Teman ya..

Mungkin aku bisa mencoba untuk berteman dengan Harumi.

Hal itu nggak ada salahnya kan?

.

.

.

Jadi setelah selesai adegan menangis di tepi kolam renang, akhirnya kami bertiga- Ryota-kun, Harumi-chan, dan aku, berangkat bersama ke studio. Untuk pengambilan gambar.

Harumi berada diantara Ryota-kun dan aku. Dia menggenggam tanganku dengan erat. Dalam hati aku tersenyum senang.

Tadi, kami secara resmi (?) telah berteman. Saat aku menangis, aku pun menceritakan masa laluku. Kemudian dia bertanya. "Kalau begitu, apakah kau mau menjadi temanku?" tanyanya dengan wajah nya yang teduh.

"Tapi kan kita rival?" aku juga ingin menjadi temanmu Harumi-chan.

"Kan sudah kubilang tadi," dia melihatku dengan matanya yang tertutup setengah. "Rival itu ngambil peran dihidupku sebagai saingan dan juga sebagai teman." Ucapnya seraya menyeka air mataku yang terus mengalir.

"Ayo kita beli coklat Avaron! Siapa tahu itu bisa membuat mood mu lebih baik! Soalnya kata orang, makan coklat bisa membuat mood kita lebih baik." Dia pun menarikku keluar dari area kolam renang. Saat aku melihat pantulan wajahku di jendela, aku tidak melihat mataku yang seharusnya terlihat sembab akibat menangis.

"Nee, Harumi." Aku mengeratkan genggamanku. "Arigatou."

Aku melihat pantulan bayangannya di jendela. Dia tersenyum. Senyum yang tulus menurutku.

.

.

.

Author's point of view:

"Harumi! Hayaku!" Avaron menarik narik lengan Harumi. "Matte! Avaron-chan!" akhirnya harumi pun tertarik oleh Avaron. "Ayo Ryota-kun." ajak Harumi kemudian menggandeng tangan Ryota. Yang digenggam hanya menurut. Masih tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi padanya.

Sebenarnya mereka mau kemana sih? Author yang baik hati ini akan memberitahu kalian.(#dihajar massa).

Sebenernya mereka mau pergi kesebuah toko penjual coklat. Beli coklat buat Avaron. Dia kan moodnya lagi drop. -_-

Di toko coklat~

"Ayo kita gak bisa lama-lama. 1 jam lagi kita ada pemotretan." Kata Avaron. Sedetik kemudian dia sudah menghilang, melihat, dan memborong coklat. Harumi dan Ryota cuma bisa sweatdrop.

"Nee, Harumicchi. Sudah memutuskan siapa yang akan kau berikan coklat-ssu?" tanya Ryota. "Coklat?" tanya Harumi balik. Dia berpikir sambil melihat-lihat coklat. "Oh iya. Bentar lagi valentine kan ya?" kata Harumi yang baru sadar akan event yang sebentar lagi datang.

"Correct-ssu!" Ryota merendahkan tubuhnya sehingga tubuh mereka sama tinggi. "Harumicchi. Aku mau coklat-ssu." Kata Ryota sambil memasang senyum yang paling manis yang dia punya. "Ya udah beli aja sendiri Ryota-kun. Aku belum gajian." Kata Harumi masih asyik memotret jejeran coklat, etalase, bungkus coklat, toko coklatnya, bahkan sampe si penjulnya pun diajak selfie! Wow!

(seperti biasa, author agak gak lancar nulisnya. Dan moga-moga ini bisa mbuat readers sekalian ketawa. Kalo nggak gitu pasti bosenin.)

"Bukan itu Harumicchi." Ryota mendekatkan wajahnya ke Harumi. Dekat sekali. Yang dideketin malah mundur. Aku maunya dari Harumicchi-ssu." Kata Ryota dengan nada yang seduktif. Mata Harumi membulat. Tapi kembali normal selang beberapa detik.

"Kalo aku inget, gak bokek, dan gak sibuk ya Ryota-kun." jawab Harumi tak terlalu peduli. "Eehh, kok gitu sih Harumicchi? Harumicchi hidoi-ssu." Rengek Ryota. Harumi hanya bisa menghela nafas. "Baiklah jika kamu segitunya pingin dapet coklat dariku." Harumi menatap manik Ryota. "Tapi ada syaratnya." Kata Harumi sambil menyeringai.

.

.

.

TBC

Nyahoo~ bertemu lagi dengan Author~ ada yang menunggu update an because of you kah?

Kalo ada, author seneng banget! *peluk reader sekalian.

Kalo nggak ada, author patah semangat. Potek. Lelah. Sedih. Kratak kratak.

Oke sekian dulu buat chap 5 ini~

Jangan lupa review sama say hi doang juga boleh kok! Dan follow sama favnya makasih~

Buat yang udah baca, review, say hi, fav & follow, makashi banyak yaa! Arigatou gozaimasu!

Then,

See you in next chapter.

HikarinRin23