Because of You

Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki

Rate : T

Genre : romance, friendship, hurt(mungkin), a little bit humor

GJ,TYPO,OOC,dsb. Yang mau baca silahkan~~

Chapter 9.

Di antara jalanan kota yang ramai, dia berjalan dengan perasaan bahagia. "Hmm, kapan ya aku dapat coklat dari Harumicchi ya—ssu?"

.

.

.

Hari-hari pun telah berlalu. Harumi dengan komiknya, Ryota dengan latihan dan pemotretannya. Tapi, sesibuk apapun Ryota dia tetap menyempatkan untuk ke rumah Harumi. Sedangkan Kasamatsu-senpai dan Avaron juga selalu datang. Berdua. Sejak saat itu.

Yak dan H-3 Valentine, kerjaan Harumi pun akhirnya kelar. Dan hari ini dia ada pemotretan sekitar jam 6 sore. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke gym. Ngapain? Nyari bahan untuk komik nya yang selanjutnya.

"Sumimasen." Kau mengintip dari balik pintu gym dengan wajah pokermu.

"Hey, manis siapa namamu? Dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Moriyama dengan ramah.

"Etto," Harumi bingung mau ngomong apa.

"Uwoh! Ada (g)adis (c)antik dis(i)ni!" Hayakawa juga ikutan berkumpul di depan pintu gym.

"A-ano, sumimasen," Harumi semakin bingung. Dan seseorang yang menyadari tentang keributan di pintu gym pun, mendatangi kerumunan yang tidak terlalu ramai itu.

"Harumi? Nande koko ni?" Kasamatsu-senpai bertanya pada Harumi. Dia melihat wajah Harumi yang kebingungan.

"Ah! Yuki-chan!" Harumi segera berlari ke belakang punggung Kasamatsu-senpai, mencari perlindungan di belakangnya. Kasamatsu-senpai Cuma bisa menaikkan alisnya, bingung dengan kelakuan Harumi.

'Yuki-chan?! Cewek itu siapanya kapten?!' sedangkan Moriyama dan Hayakawa Cuma bisa bertanya-tanya dalam hati.

"Are? Harumicchi ngapain di sini-ssu?" tanya Ryota yang habis keluar dari ruang ganti.

"Ah. Ryota-kun." Harumi pun keluar dari tempat persembunyian nya. Dan menghadap mereka semua.

"Ano! Sumimasen! Aku mau memotret kalian saat latihan serta mewawancarai kalian!" pinta Harumi sambil membungkuk.

"Eh? Harumicchi kan bisa minta aku aja-ssu?" tanya Ryota dengan manjanya. Harumi Cuma bisa menghela nafas.

"Lebih banyak informasi lebih baik Ryota-kun." jawab Harumi enteng. Sedangkan Moriyama dan Hayakawa sudah mengiyakan permintaan Harumi.

"Eh tapi tunggu dulu Harumi-chan, sepertinya aku pernah melihatmu di sebuah majalah." Moriyama mngingat-ngingat. Sedangkan Hayakawa sudah tidak sabar untuk segera di wawancarai.

"Mungkin kau salah lihat Yoshitaka-senpai." Jawab Harumi cepat sambil tersenyum iblis.

"Ah souda!" Ryota menghampiri Harumi yang sedang mewawancarai Moriyama dan Hayakawa. "Harumicchi, 2 minggu lagi, kami ada latih tanding dengan Seirin-ssu! Harumicchi datang ya!" Ryota pun mengecup pipi Harumi.

"Ryota-kun! Jangan melakukan nya di depan umum! Hazukashi desu!" Harumi langsung mengambil langkah menjauh dari Ryota. Ryota nya malah nyengir-nyengir.

"Kalau begitu aku akan memberikan nya waktu selesai latih tandingmu dengan Seirin." Senyum jahil Harumi mengembang. Ryota yang tidak tahu apa maksud Harumi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Harumi pun sudah menyelesaikan wawancaranya dan mereka kembali berlatih.

"Ryota-kun! Yuki-chan! Minna, otsukaresama!" Harumi pun melenggang pergi dari gym, menuju gerbang sekolah. Dan, tidak berjalan menuju jalan ke arah rumahnya maupun studio pemotretannya. Dia pergi untuk membeli coklat sebagai bahan eksperimen. Yah, dia kan belum pernah buat honmei choco. Harus latihan dulu lah.

Setelah selesai membeli bahan-bahan yang diperlukan, ia menuju studio tempat pemotretannya. Karena masih ada waktu sebentar, ia memutuskan untuk mampir sebentar di toko buku. Setelah membeli novel, ia akhirnya pergi ke studio. Dan di tengah jalan ia bertemu dengan Avaron.

"Avaron!" yang dipanggil pun menoleh. "Harumi-chan." Avaron pun menghentikan langkahnya, menunggu sahabatnya menjajari dia. "Ayo sama-sama ke studio!" Harumi menggamit lengan Avaron yang lebih tinggi darinya.

"Nee, Harumi," Avaron melihat kantong plastik yang dibawa oleh Harumi. "Kamu mau membuat honmei choco?" wajah Harumi langsung memerah. "Maa ne." Senyum jahil tercetak di wajah Avaron. "Buat Kise ya?" Harumi hanya menganguk. "Cie, yang lagi seneng-seneng nya." Bibir Harumi mengerucut. "Mou Avaron!" Avaron nya senyum-senyum, puas menjahili sohibnya ini.

"Njaa, Harumi-chan. Gimana kalau kita bertukar coklat?" tawar Avaron. "Bertukar coklat? Semacam coklat persahabatan gitu?" mata Harumi berbinar-binar. Tanda bahwa dia tertarik dengan ide Avaron. Avaron mengangguk sambil menahan senyumnya. Mata Harumi tambah berbinar. "Ayo! Ayo!"

Dan mereka berbincang-bincang hingga tidak terasa sudah sampai studio.

Ryota sudah datang sebelum Harumi dan Avaron datang. Dia sudah mengenakan jas hitam yang dasinya agak dilonggarkan.

"Kok aku selalu dapet baju yang terkesan anak anak sih?" omel Harumi. Dia menggunakan dress hitam 5 cm di atas paha, dengan bagian bawah dress yang menggembung. Pita mungil berwarna nude pink dengan gliter, menghiasi perpotongan pinggang yang berada di bawah dadanya. Cardigan lengan panjang berwarna baby pink yang sengaja di buat longgar, menghiasi lengannya. Untuk sepatunya, dia menggunakan high heels dengan tinggi heels 3 cm dipadukan dengan deker longgar belang-belang berwarna nude pink-black. Bener-bener kayak anak kecil.

"Karna kamu emang pendek kan? Kayak anak kecil." Avaron juga sudah berganti pakaian. Little black dress ia kenakan. High heels scarlet menghiasi kaki panjangnya. Rambutnya ia gelung, meninggalkan beberapa helai rambut yang jatuh dengan bebas di sebelah leher jenjangnya.

Harumi hanya mendengus kesal.

"Harumicchi manis kok-ssu!" Ryota memeluk Harumi dengan –sangat erat. "Ngomong-ngomong, pemotretan hari ini temanya tentang baju buat ke club malam ya?" tanya Harumi setelah menarik hidung Ryota. "Yup. Jadi ceritanya Ryota pergi ke club malam, terus ketemu sama aku dan Harumi. Kita tertarik sama dia terus rebutan gitu ceritanya." Jelas Avaron.

"Hooo.. naruhodo.." mereka berdua bersungut-sungut mendengar penjelasan Avaron.

"Sudah siap semua?" Fumiko-oneesan langsung menarik mereka bertiga, entah bagaimana caranya. "Yosh ayo kita mulai!"

Ryota's point of view:

Dan pengambilan gambar pun dimulai.

Bisa dibilang aku beruntung? Karena Harumi dan aku berpose dengan pose yang tidak bisa dilakukan setiap hari kata Harumicchi.

"Boleh." Harumicchi tiba-tiba menyahut. Aku tercengang sekaligus senang. "Setiap hari seperti ini-ssu?!" mukanya tiba-tiba memerah. "Bu-bukan itu maksudku!" dan pukulan bertubi-tubi diterima olehku.

Sudah kubilangkan, kalau posisi kami tidak bisa kami lakukan setiap hari. Hmm.. Aku duduk di kursi beludru merah dengan memasang seringai di wajahku. Harumi duduk di bawah, dengan menaruh tangan dan kepalanya di atas pahaku. Hehehe~~

Pose selanjutnya tidak jauh berbeda. Tetapi, ada Shimizucchi dibelakangku. Ia duduk di punggung kursi sambil memegang bahuku. Dan pose kami yang terakhir, hanya aku dan Shimizucchi dengan posisi seperti itu.

"Otsukare!" dan pengambilan hari ini pun sele-

"Pak produser butuh satu gambar lagi!" tiba-tiba managercchi datang. Kami pun kembali bersiap-siap untuk pengambilan satu gambar lagi. Dan dipilihlah aku dengan Harumi.

Aku menjebak dia dengan satu tangan diantara tubuhku dan tembok. Aku berekspresi sadis dan terkesan seksi. Sedangkan Harumicchi memasang mata yang kosong, seakan dia sudah tersihir oleh pesonaku. Jujur aku sangat menyukai posisi kami saat ini.

Begitulah, setelah pengambilan gambar itu selesai kami ganti baju dan pulang. Harumicchi mau mampir dulu ke suatu tempat, jadi dia menyuruhku untuk pulang duluan. Hmm, Harumicchi mau kemana ya-ssu? Aku pun melihat ke langit. Sudah gelap rupanya. Yosh! Kalau begitu aku akan mengikuti Harumicchi!

Harumi's/ reader's point of view:

Hari ini pose untuk pemotretannya membuatku harus menahan rona diwajahku. (author: jadi kamu sudah mengakui kalo kamu tundere? Harumi/readers: ngeblush sama tsundere tidak ada hubungannya dalam hal ini -_-")

Dan tidak kusangka, Ryota-kun bisa membuat ekspresi seperti itu. Tatapannya di pose terakhir kami membuatku merinding.

Hari ini aku tidak pulang bersamanya. Aku mau membeli bahan untuk membuat coklat. Lagi. Yah, karena orang yang akan ku beri cokelat bertambah. Jadi kuputuskan untuk membuat chocolate truffle dan segera pergi ke toko yang menjual bahan dan perlatan untuk membuat kue. Ternyata harganya lumayan juga. Gak papa lah, habis gajian. Hehehe.

Dan setelah selesai membeli bahan-bahan yang diperlukan, aku memutuskan untuk membeli makanan di supermarket saja. Hari ini rasanya aku malas sekali untuk memasak. Dan akhirnya, setelah kegiatan belanja-belanja selesai, aku pun melangkahkan kakiku ke arah apartemenku tercinta.

Pats

Aku merasa ada yang mengikutiku. Aku pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengecek apakah ada orang yang mengikutiku atau mungkin.. ah sudahlah Harumi. Jangan dipikirkan. Pasti itu hanya perasaanmu saja. Aku pun melanjutkan perjalanan dan kembali ku rasakan ada yang mengawasiku.

Aku mempercepat jalanku, bingung harus berbuat apa. Kalau aku ke rumah, aku takut dia bakal tahu rumahku. Apa yang harus kulaku-

Grap

Ada yang menggenggam tanganku. Aku segera berbalik sambil memukulkan tasku. Dia melepas tanganku dan mundur beberapa langkah ke belakang akibat dari pukulanku. Karena cahayanya yang remang-remang dan karena dia memakai topi, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

"Tenang, tenang Kaneko. Ini aku, Hideo." Orang itu melepas topinya. Oh, ternyata itu benar Hideo-kun.

"Gomen Hideo-kun. Aku tidak bermaksud untuk memukulmu." Aku pun berjalan mendekatinya. Dia tersenyum. "Aku tidak apa-apa kok Kaneko. Lalu, apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Hideo-kun. Aku agak kaget mendengar pertanyaannya. Aduh, harus ku jawab apa? "Oh, aku habis pulang dari les dan mampir sebentar untuk membeli bahan membuat coklat dan makan malam." aku tidak boleh panik. Dan aku bersyukur dapat menjawab pertanyaannya dengan lancar.

"Oh, begitu ya?" dia menyeringai dan itu membuatku bergidik ngeri. "Ngomong-ngomong, aku tidak suka orang yang berbohong lho Kaneko-chan." Dia menghilangkan seringainya dan menggantinya dengan senyum nya yang manis menurut perempuan di kelasku. Akan ku jelaskan tentang Hideo-kun. Nama lengkapnya Sato Hideo. Di sekolah dipanggil dengan nama kecilnya, Hideo. Orang yang famous di sekolah. Banyak orang yang menyukainya karena dia ramah, pintar, dan juga tampan.

"Kau sendiri Hideo-kun? Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?" aku balas bertanya pada Hideo-kun. "Oh, aku habis jalan-jalan." Dia menjawab sambil tetap tersenyum. Senyum yang mencurigakan menurutku.

"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang Kaneko?" hm, tidak masalah sih. Lagipula ini sudah malam. "Baiklah Hideo-kun. Terima ka-" ketika aku hendak mendekat ke Hideo-kun, tubuhku tertarik ke belakang. Ada yang memelukku. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini dengan Sato, Harumicchi?"

Hanya ada 1 orang yang ku kenal, yang memanggilku dengan 'Harumicchi'.

Ryota.

"Ryota-kun, lepaskan. Malu dilihat Hideo-kun." Ryota-kun memelukku dengan tubuhnya yang lebih besar dari ku itu. Bisa kurasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku. Dan wajahku pun ikut memerah.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Harumicchi." entah kenapa, aku merasakan ada sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang ganjil itu terdengar seperti.. cemburu?

Dia pun melepaskan pelukannya dan menatapku. Benar dugaanku. Ketika kulihat matanya, terdapat sebersit api cemburu di matanya. Dan entah kenapa, ada sedikit perasaan senang yang menghinggapi hatiku.

"Hem, ada Ryota. Kulihat kau seperti cemburu saat melihat aku dengan Kaneko." Hideo-kun tampak berpikir. "Apa jangan-jangan kalian pacaran?! Wah tidak ku sangka! Ck ck ck. Aku kalah cepat." Mendengar perkataan Hideo-kun, Ryota-kun menutupi ku dengan tubuhnya, sehingga aku tidak dapat melihat Hideo-kun. "Iya kami pacaran." Suara Ryota-kun menjadi dingin.

"Kalau begitu mari kita pulang sama-sa-" ucapan Hideo-kun dipotong oleh Ryota-kun. "Biar ku antarkan dia sendiri." Tanganku langsung ditarik oleh Ryota-kun. "Njaa nee Hideo-kun!" aku pun berpamitan dengan terburu-buru.

Setelah sudah melewati beberapa tikungan, aku membuka percakapan diantar kami.

"Ryota-kun?" dia tidak menjawab panggilanku. "Doustano?" Ryota-kun tetap tidak menjawab pertanyaanku.

"Harumicchi, kau tahu." Dia tidak menatapku. "Aku cemburu lho." Aku meneguk ludah. Ryota-kun marah.

"Go-gomen Ryota-kun." dia tetap diam. Dan akhirnya kami sampai di depan apartemenku. "Ryota-kun, arigatou udah dianterin pulang. Gomen, aku tidak bermaksud membuat mu cemburu." Aku menunduk, tidak berani menatap matanya.

"Kalau begitu, aku mau kau menuruti apa kataku, sampai aku benar-benar memaafkanmu." Dia mengangkat dagu ku sehingga aku dapat melihat wajahnya. Senyum jahil terpampang di wajahnya yang tampan itu. Mendengar hal itu, reflek aku membulatkan mataku. "Hah?"

"Harumicchi mau dimaafin nggak?" aku mengangguk kan kepalaku. "Nah kalau begitu cium aku dong." Kurasakan pipiku memanas. "Sampai kapan aku menurutimu?" tanyaku lirih. Dia tersenyum. "Sampai aku bilang aku memaafkanmu."

Sepertinya tidak ada pilihan lain. Aku mendekatkan bibirku. Mengeliminasi jarak diantara kami. Dan bibirku pun menyentuh..

Pipinya.

Aku segera menarik bibirku. Panas menjalar keseluruh wajahku.

"Hm? Padahal aku maunya di bibir-ssu." Jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh bekas ciuman ku tadi, kemudian menempelkan jarinya di bibirnya.

"Godd night my queen." Dan dia pun melenggang pergi, meninggalkanku yang masih bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

.

.

TBC

Nyahoo~~ ketemu lagi sama Hikarin~~

Maaf atas keterlambatan updatenya.. Author masih bingung, gimana dapet caranya agar dapet feelnya. Jadilah chapter 9 seperti ini.. maafkan Author yang satu ini... T^T

Buat yang udah baca, review, say hi, fav & follow, makashi banyak yaa! Arigatou gozaimasu!

Then,

See you in next chapter.

HikarinRin23