Chapter 2 : Pertemuan

Sangkyuu reviewnya reader2 skalian ('-')/

Jung NaeRa NoonaLu Kolor Jongin Sonia Jung kiney

Nah sakarang langsung aja kita lanjut ceritanya .. Selamat Membaca

PyP

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Kim Jongin

Genre: Drama, Romance, Family(mungkin)

Leght: Chaptered

Warning: OOC, Typo(s), Marriage Life, Absurd, Gaje. YAOI

Semua character disini ciptaan Tuhan dan milik keluarga masing-masing. Jadi, saya disini meminjam mereka untuk mengembangkan cerita.

Jika ada kesamaan alur atau cerita-pasaran saya ini- semuanya tidak disengaja. Semua ini murni buatan tangan saya. Dan bahkan beberapa menginspirasi saya dari fanfic yang dibaca.


Jongin POV

Terlihat Luhan yang mulai berdiri. Kalian pasti bisa menebaknya bukan, kalau Ia akan langsung menuju tempat Baekhyun. Benar-benar tipikal Luhan. Langkah mungil Luhan yang mulai menjauh membuat ku harus menyusul karena aku tahu dirinya akan melakukan hal sembrono.

"Mau ke tempat Baekhyun? Itu percuma." ucap ku sembari mensejajarkan langkah mungilnya. Huh, baru kusadari kenapa harus bertanya yang jawabannya sendiri sudah kuketahui. Diriku benar-benar bodoh, memalukan.

"Gak penting." Balas Luhan.

Ku hadang Luhan. Terlihat wajah kusut dan mata sembabnya. Luhan andai kau tau yang kulakukan ini untuk kebaikan mu. Sebagai sahabat dari suami mu.

Ku bungkukan sedikit badan ku agar wajah kami sejajar. Jangan kalian pikir aku seperti lelaki brengsek yang mencoba selingkuh dengan kekasih teman seperjuangnya, kalian salah. Walau sejujurnya aku tidak keberatan akan hal itu. Setidaknya mencoba mungkin akan berhasil disituasi genting begini. Stop! Otak sialan jangan membuat ku memikirkan hal bejat lainnya, rutuk ku dalam hati.

Setelah melihat tampangnya yang kusut dengan bekas air mata membuatku menghembuskan napas. Oke, aku kalah. Klu sudah seperti ini apaboleh buat sepertinya aku mesti turun tangan untuk yang satu ini.

"Aku akan mengantar mu, tidak baik sendiri disaat cuaca dingin begini. Mobil ku ada disana" tunjuk ku ke arah depan supermarket. Berduaan di cuaca begini dan tempat hangat ini-baca:mobil- bukan hal buruk. Luhan tolong maapkan perbuatan ku untuk yang satu ini.

Luhan hanya mengangguk.

Di mobil Luhan hanya memiringkan kepalanya kearah luar sesekali menarik napas berat. Satu dua kali aku akan menengok ke arahnya hanya sekedar mengecek. Mungkin ia memikirkan apa yang dilakukan si Albino satu itu, pikirku.

Sesampainya di depan kawasan apartemen Baekhyun. Aku langsung memarkirkan mobil dan membuka kan pintu untuk princ-ah tidak maksud ku Luhan, hahaha. Ku gandeng tangannya menuju ruangan yg ditempati Baekhyun.

Jongin tenangkan detak jantung abnormalmu, ini bukan waktu yang tepat lihat kondisi, dirimu hanya membantu tidak lebih jauhkan semua pikiran menyimpang. Tekanku dalam hati untuk menetapkan pendirianku. Aku juga tidak mau membuat semuanya bertambah rumit.

Setelah melewati lobi dan kantin apartemen akhirnya kami sampai di depan pintu apartemen Baekhyun. Rasanya ini hal yang buruk datang ke tempat yang sama untuk kedua kalinya dalam jangka waktu kurang dari sebulan padahal terakhir kali kesini aku sudah menetapkan diri untuk tidak datang lagi. Aku menyesal sekarang.

"tokk..tokkk..tok.."

Suara ketukan pintu yang terburu-buru dan menimbulkan suara yang keras menyadarku dari lamunan. Saat ku arahkan pandangan kesamping Luhan sudah mengetuk pintu apartemen Baekhyun. Ku usap rambut ku yang tidak membuatnya lebih baik. Aku yakin penampilanku sudah terlihat seperti sehabis dari club malam. Kejadian hari ini cukup membuat stress ku kambuh pula. Luhan aku pastikan kau akan membayarnya, tegas ku dalam hati.

Decitan kecil pintu dari arah depan kami memperlihatkan Baekhyun dengan-hmm bagaimana aku mengatannya dengan sopan-berantakan dengan sedikit bau?!- Tanpa pikir panjang dan dengan sopan santun yang tinggi Luhan langsung mendorong Baekhyun. Datang tanpa diundang saja sudah tidak sopan apalagi masuk tanpa izin. Perilaku Baekhyun yang seenak jidatnya saat menerima tamu memang cukup menjengkelkan bukan berarti aku membela Luhan. Hanya saja mereka berdua memiliki kemiripan. Tidak heran Sehun melakukan banyak hal bodoh.

"Hei, apa yang kau lakukan di apartemen ku. Keluar! Kai apa ini kekasih mu cepat keluarkan. Jangan mengganggu." Ucap Baekhyun kesal seraya mengikuti Luhan yang mulai mengacak-acak rumahnya. Aku pun masuk dan menutup pintu.

Ku istirahakan tubuh ku di atas sofa sambil mengeluarkan sebatang coklat dari saku bajuku. Kata orang coklat bisa membuat harimu menjadi lebih ringan. Apa kalian pikir aku jahat? Kalian salah, buktinya aku telah membuat Luhan mengeluarkan semua kekesalannya.

Ku gigit batang coklat sambil tetap mengawasi Baekhyun maupun Luhan. Hanya untuk jaga-jaga agar hal buruk tidak terjadi. Bukan berarti yang sekarang terjadi tidak buruk hanya saja menurut pandanganku masih ditaraf normal.

Tidak berselang lama ku lihat Baekhyun sudah dapat menggaet tangan Luhan. Luhan terus berontak di pegangan Baekhyun karena tidak terima ditarik-tarik dengan kasarnya untuk dikeluarkan dari apartemen.

"Sialan. Jalang sudah ku katakan untuk keluar." Keluar sudah ucapan pedas Baekhyun. Aku yakin sebentar lagi akan ada perang dunia kesekian-aku tak terlalu peduli untuk keberapa kalinya karena tak penting- .

Luhan menyerah saja kau tak akan menang melawan Baekhyun karena dulu dia pernah ikut karate. Jangan sampai babakbelur. Tapi tenang saja Lu pangeran Jongin ada disini yang nantinya bakal membantu mu. Yah walau 'nanti' itu aku tak tau kapan tepatnya.

"Baekhyun biarkan saja, nantinya dia akan pulang jika sudah menemukan yang dicarinya" Ucap Jongin santai. Satu kalimat yang sukses membuat Baekhyun men-deathglare ku hingga melemahkan pertahanannya. Cukup untuk membuat Luhan langsung menuju kamar terakhir yang belum diperiksanya.

Jongin POV END

"Sehun!" Lirih Luhan saat pintu sudah terbuka.

Jatuh. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan Luhan saat ini. Terlihat Laki-laki yang ditunggunya baru saja selesai mandi lengkap dengan boxer nya. Kedua kaki Luhan sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya. Air mata merembes dengan derasnya dan suara isakan kecil mulai terdengar.

Kai yang sadar Baekhyun sudah menghilang dari jarak pandang segera menyusulnya dan juga ada rasa khawatir di tiap langkah yang dijejakkan. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang, pikir Jongin.

Jongin melihatnya, melihat Luhan yang rapuh. Otomatis tangan Jongin mencoba merengkuh Luhan untuk menenangkannya –yang barusan hanyalah keinginan Jongin, kenyataannya adalah- Sehun yang benar-benar melakukannya.

Tangan Sehun mulai mengelus surai Luhan. Mencoba menenangkan kekasih –ah lebih tepatnya istri.

"Hitam, kunci mobil." Kata Sehun setelah selesai memakai pakaiannya dengan asal. Tak lupa tangan kiri menggaet Luhan untuk mengikutinya. Lemparan yang pas diberikan Jongin setelah tersadar dari keterkejutan.

"Hunnie, mau kemana? Apalagi dengan jalang itu." Baekhyun yang sudah tersadar akan kejadian di depan matanya langsung meneriaki Sehun yang mulai berjalan pergi. Dengan kekuatan kaki yang sering dilatihnya tiap karate membuatnya cepat menyusul Sehun di parkiran. Tanpa pikir panjang langsung diketuk dengan terburu-buru kaca mobil Sehun.

"Aku pulang Baek" ucap Sehun sambil tersenyum. Sepertinya hal itu belum bisa membuat Baekhyun rela ditinggal akhirnya satu kecupan lolos diberikan dikening. Sehun pun langsung melajukan mobil ke rumah.

Saat semua adegan di parkiran berlangsung Jongin masih di dalam apartemen Baekhyun. Dirinya yang sebelumnya masih kaget di depan pintu kamar Baekhyun mulai pindah ke ruang tamu. Tadi saat Sehun memberikan kuncinya Jongin hanya mengambil dan melemparnya begitu saja.

"Huh, sepertinya aku bakal menginap malam ini disini." Keluh Jongin sambil merebahkan badan di sofa dan menutup mata dengan tangan sebelah kanannya.

OTHER SIDE

"Seharusnya aku tak mencarimu, seharusnya aku menunggu, seharusnya aku percaya, seharusnya ...hiks. Kenapa?" sesal Luhan.

Sehun bingung ya sangat bingung. Apa yang harus dilakukannya mengatakan yang sebenarnya atau membohongi Luhan. Tapi yang pasti jika Ia mengatakan pilihan kedua sudah dipastikan akhirnya nanti akan melukai satu dari mereka berdua bukan berarti pilihan pertama lebih baik.

"Sakit, sakit sekali rasanya." Lirih Luhan. Mungkin saat ini kalian membayangkan kalau Luhan menangis dengan mengeluarkan airmata yang deras, namun sesungguhnya tak ada satu pun air mata yang menetes. Lihatlah baik-baik mata Luhan sudah bengkak apa kalian ingin menyiksanya.

"Katakan sesuatu" ucap Luhan.

"Luhan..aku..." balas Sehun.

-TBC-

p.s. maapkan author yg update nya kelamaan ;-;" kena writer blok T-T

p.s.s. sepertinya bakalan tinggal 1 chapter lagi kelar/gak janji/? Padahal rencanya pen bikin oneshot awalnya gak tau kenapa malah menyimpang gini :"] maap author memang gak bisa diandelin.

p.s.s.s. kalau ada saran dan kritik mangga dipersilahkan/? .. akan author pikirkan jikalau nanti ada saran kalaupun ada kritik author akan menerimanya dengan lapang dada ..

sekian makasih..sudah membacanya yow ;)