Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih. Chapter 2 sudah siap sedikit kemalaman, tapi semoga masih bisa menghibur. Oh, ya, kayaknya sepi, nih. Pada kemana, ya? Masih banyak yang UAS? Atau banyak tugas kuliah? Atau kakak-kakak lagi sibuk bikin skripsi? Oke, deh, Anne semangatin aja. Anne sebenarnya juga lagi banyak tugas, tapi berusaha sempatin nulis ini. Nggak apa-apa, deh. Anne akan tetap post sampai tamat. Oke!

Afadh: Wah.. rencananya mau menguras air mata, nih. Gimana dong? Kalau baca jangan dibuat baper, ya! Hehehe.. Chapter ini nggak ada tangis-tangisnya, kok. Tenang. Oh, ya kalau alat aborsi itu penggambarannya itu biasa kayak selang plastik yang lunak dan elastis, tapi nggak begitu panjang, cuma sekitar 15-20 cm. Salah satu ujungnya ada pompaan karet seperti yang ada di alat tensi. Kalau nama alatnya, Anne juga nggak begitu paham. Thanks, ya. Ikuti terus ceritanya.. :)

rara chan23: terima kasih, Hermione sama Harry hidup berkecukupan tapi mereka memang gila kerja. Dan dampaknya akan dirasa sama Al. Ikuti saja kisahnya, ya. Thanks!:)

Gabby-chann: Hi! Thanks, ya. Untuk Ginny Anne buat nggak ada perasaan apa-apa sama Harry, ya. Ginny mau aku pasangkan sama Dean. Thanks, ya Ikuti terus kisahnya :)

Langsung saja, yuk!

Happy reading!


Sekeliling Hermione gelap. Tidak ada sisi yang menunjukkan dinding maupun pintu keluar. Hermione terjebak. Ia tak tahu di mana. "Harry.. Harry! Albus! Di mana kalian?" panggilnya terus mencari dan memanggil suami serta putranya.

Duk! Duk! Duk!

"Siapa di sana?"

"Tolong! Panas! Tolong aku!"

Suara seseorang kesakitan tertangkap di indera pendengaran Hermione. Ia berlari mencari dari mana asal suara itu. Terus menggerakkan kakinya berharap ada petunjuk yang bisa mengantarkannya pada suara itu. "Kau di mana?" panggilnya. Beberapa kali mencoba berjalan, Hermione sontak dikejutkan dengan sebuah pintu yang berdiri sepuluh langkah di hadapannya.

Pintu. Hanya sebuah pintu besi yang memiliki lubang panjang di bagian atas dengan penutupnya. "Tolong aku.. panas.. Tolong!" teriak suara itu lagi.

"Bertahanlah.. kau siapa? Aku tak bisa membantumu. Pintunya terkunci!"

Hermione berusaha mencari benda-benda apa yang mampu membantunya membuka pintu besi itu. Tapi percuma, tak ada apapun di sana. suara minta tolong itu terus berteriak. Meminta tolong dan mengatakan jika ia kepanasan. "Kenapa kau bisa kepanasan? Hey, coba buka lubangnya.. maafkan aku, aku tak bisa membukanya. Bertahanlah—"

"Tolong.. tolong.." tidak ada kata lain selain kata 'tolong' dan 'panas'. Hermione mendekat dan mengetuk bagian lubang pengintai. Sekali lagi Hermione tak bisa melihat apapun di balik pintu itu. Ia tak tahu siapa di dalam sana. Hermione tak mengenal suara itu. Bukan Harry ataupun Albus.

Hermione menghela napas panik. Ia berusaha mengetuk pintu besi itu lebih keras dari teriakan seseorang yang terperangkap di dalam sana. "Siapapun kau, buka lubangnya. Aku—"

Dan lubang itu terbuka. Sepasang mata beriris coklat menatapnya sendu. Tergenang air mata lantas kembali bersuara. Sangat lirih memohon belas kasihan, "tolong aku!"

"Kau—"

"BANGUN, MIONE!"

Penuh keringat, Hermione terbangun. Ia masih memakai piama lengkap dengan rambut acak-acakan. Di sisinya ada Harry, menggoyangkan kedua bahunya menyadarkan jika ia masih berada di..

"Kamar?" kata Hermione ketakutan.

"Merlin, kau mimpi buruk, sayang. Tak apa, kau aman. Aku dan Al aman. It's ok, you safe, Hermione!" Harry memeluk tubuh bergetar sang istri menenangkan.

Ini adalah mimpi buruk yang kesekian kali dialami Hermione. Mimpi yang sama tentang seseorang yang terperangkap di dalam kamar, meminta tolong dan kepanasan. Hanya sesekali tempat yang Hermione lihat berbeda-beda. Terkadang gelap, terkadang terang.

"Dia seperti meminta tolong, Harry. Tapi aku tak bisa membantunya." Ujar Hermione dalam pelukan Harry. Mengatur napasnya terus dan terus. Rasanya sesak dan lemas.

"Sudahlah.. kau sendiri tak tahu siapa dia. Itu hanya mimpi, Mione." Kata Harry sambil mengecup puncak kepala Hermione.

"Dia putra kita, Harry." Kata Hermione dalam hati.

Harry menyingkap selimut yang masih menutupi badan mereka bersiap turun, "kau hanya terlalu lelah jadi terbawa mimpi. Sekarang sudah pagi, kita bangun. Al pasti sudah bersiap-siap, kasihan kalau dia terlambat ke sekolah. Aku juga ada rapat dengan Kingsley pagi ini. Kau berangkat ke Kementerian juga, kan?"

Hermione mengangguk. "Nah, sudahlah. Tenangkan dirimu, baru keluar. Jangan sampai Al ikut khawatir melihatmu masih seperti ini."

Harry lebih dulu turun dan mengambil handuk segera masuk ke kamar mandi. Setiap paginya, Hermione lebih sering mandi setelah Harry. Ia akan lebih dulu menyiapkan sarapan sambil menunggu Harry selesai.

Setelah membiarkan James hilang dari sisinya, Hermione selalu dihantui dengan rasa bersalahnya. Semua orang menganggap Hermione hanya terlalu berduka karena kehilangan bayi yang baru dilahirkannya. Mereka tidak tahu itu bukanlah kematian. Hanya skenario busuk. Kebohongan besar dari seorang Hermione. Ia bukanlah seorang ibu yang baik.

Sadar akan kesalahannya, pada Harry, Hermione berjanji tak akan pernah mensia-siakan apa yang telah ia miliki. Salah satunya adalah anak. Satu tahun berlalu, ditengah proses training Kementerian yang telah ia lalui setengah jalan, Hermione mendapati dirinya kembali mengandung. Ingatan tentang kesalahan masa lalu itu kembali berputar.

"Tidak, aku akan menebus kesalahanku."

Meski dalam kondisi hamil, Hermione tetap sukses menjalani trainingnya hingga usai, bahkan lebih cepat dari target. Hermione berhasil mendapatkan jabatan barunya. Akibat kegiatan Kementerian yang menguras tenanganya itu, Hermione harus rela melahirkan di usia kandungan satu bulan lebih muda seperti ketika mengandung James. Di usia kandungan menginjak tujuh bulan, bayi laki-laki bermata hijau cerah lahir ke dunia. Meski prematur, bayi Hermione sehat. Menangis kencang dengan kondisi tubuh yang baik. Jauh berbeda dengan James.

"Morning, Mum!"

Albus Severus Potter, putra kedua Hermione tumbuh sehat dan bahagia. Al, begitu Harry memanggilnya, mendapatkan segalanya. Kasih sayang, perhatian penuh, pendidikan yang baik, hingga limpahan materi ia dapatkan. Sebagai ibu pekerja, Hermione tidak setiap waktu bisa menjaga Al. Rasa khawatirnya terlalu berlebihan. Ia tidak akan main-main melarang Al ini dan itu demi keselamatan putranya itu.

Hermione sangat overprotective pada Al.

"Tumben tasmu enteng, Al?" tanya Harry setelah mendapat ciuman Al di pipinya.

Al menarik salah satu kursi dan mendudukinya. "Masih ada perlombaan di sekolah, Dad. Jadi ada beberapa mata pelajaran yang dipotong." Kata Al. Gelasnya telah penuh dengan susu dan semangkuk sereal di depannya.

"Nah, sekali-kali begitu. Kadang Dad kasihan sama kamu lihat isi tas banyak sekali buku pelajaran. Kamu tak simpan di loker sekolah?" tanya Harry disambut tawa Hermione.

"Simpan, kok, Dad. Buku-buku yang biasa aku bawa pulang itu untuk belajar materi esoknya. Kalau memang banyak, itu buku perpustakaan yang aku pinjam."

"Itu baru putraku!" seru Hermione bangga. Putranya sama kutu bukunya seperti dirinya.

Meski Al lebih mirip dengan Harry dari segi wajah, penampilan, dan sikap tenangnya, otak Al adalah warisan Hermione. Menurut Ron, Al adalah komposisi sempurna dari sisi baik kedua orang tuanya.

"Kau masih ikut lomba hari ini, sayang?" tanya Hermione di bangku depan. Sementara Harry sibuk mengemudikan mobilnya menuju sekolah Al.

"No, kemarin sudah final untuk cabang renang. Mangkanya aku sedikit—"

"Juara dua juga sudah baik, Al." Potong Harry cepat-cepat. "Yang penting kau sudah berusaha. Suatu saat nanti kau pasti bisa juara satu. Asalkan terus berlatih. Oke!"

Al turun dari mobil setelah memberi salam kepada ayah dan ibunya. "Ingat, Al. Kalau pulang lebih awal, hati-hati naik taksinya. Tetap kirim pesan ke Mummy atau Daddy. Kunci rumah ada di tempat biasa. Jangan makan sembarangan. Kalau kau bosan, main ke rumah Aunt Lavender atau rumah Aunt Ginny. Have a nice day, honey!"

Panjang lebar Hermione berpesan, Al hanya menanggapinya dengan anggukan pelan.

"Bye, Mum, Dad!" Al berlari menjauhi mobil orang tuanya bergegas masuk ke halaman sekolah. Beberapa anak berseragam sama tampak mendekatinya dan berjalan beriringan. Harry masih menahan tawanya seiring berlalunya Al.

Bruk! Harry mengerang sakit ketika lemparan tisu Hermione tepat mengenai dahinya. "Kau menertawai Al atau—"

"Kau, sayangku." Harry mengecup bibir Hermione singkat, "kau sudah seperti alarm buat Al." Goda Harry menyindir tentang terlalu khawatirnya Hermione pada putra mereka.

"Itu untuk kepentingan Al juga, kan, Harry!" protes Hermione tak mau kalah. "Tidak sampai 24 jam kita bisa menjaganya. Kalau Al tidak bisa menjaga diri, yang susah kita juga, kan?" Hermione membenarkan rambut Harry yang memang susah di tata.

"Untungnya, Al anak yang penurut." Balas Harry.

Al sudah semakin hilang dari pandangan kedua orang tuanya terhalang beberapa siswa lain yang satu persatu berdatangan. Hermione masih berusaha mencari sosok putranya di tengah kerumunan siswa lain di sekolah itu. Dan dapat, Hermione masih melihat Al sedang bercengkrama bersama teman-temannya di salah satu bangku taman.

"Al itu mirip kau waktu kecil. Aku yakin nanti kalau dia sudah dewasa, akan semakin mirip denganmu, Harry. Tapi cara berpikirnya mungkin seperti diriku." Kata Hermione.

Harry tertawa girang, "tentu saja, kita membuatnya bersama, kan?"

Cupp! Harry menyapu seluruh permukaan bibir Hermione dengan bibir dan lidahnya. Lipstik Hermione sebagian ikut menempel pada bibir Harry ketika mereka semakin dalam memainkan bibir mereka. Ciuman itu berlangsung semakin dalam sampai Hermione memaksa Harry melepasnya sedikit kasar.

"Oh my God, tutup jendelanya, Harry!"

Hermione panik mendapati aksi saling cium mereka tertangkap basa oleh sepasang mata seorang gadis berseragam di balik kaca mobil sisi Harry yang masih terbuka. Mata anak itu terbuka lebar menatap Hermione. Wajahnya seperti orang linglung.

"Hehehe," tawa Harry sambil menekan tombol kaca jendelanya. "Mungkin gadis kecil itu tidak pernah melihat orang tuanya berciuman, Mione."

Keduanya lantas terbahak tak tahan.


Al sibuk dengan dua buku teknologi yang bersamaan ia buka di atas mejanya. Tangannya sibuk membaca dan menulis kalimat demi kalimat yang bersumber dari dua buku tersebut.

"Aliran listrik masuk pada panel satu—"

"Hey, Al. Kau tak mau lihat keluar?"

Kim, sahabatnya yang juga kutu buku baru kembali dari arah jendela kelas. Mereka sedang berada di lantai tiga gedung sekolah yang menghadap langsung ke lapangan olahraga, dan apa yang baru ditanyakan oleh Kim adalah hasil pengamatannya setelah melihat ke arah luar jendela.

Kepala Al mendongak tak paham, "apa?"

"Pertandingan basket final sudah dimulai. Di luar ramai sekali. Pertandingan kali ini digadang-gadang sebagai pertandingan balas dendam, Al. Tim sekolah kita adu final dengan tim dari Langham." Jelas Kim bersemangat.

Ya, Al tahu. Untuk urusan basket, sekolahnya sering kali kalah jika melawan dari tim sekolah Langham. Dan pertandingan kali ini tim sekolahnya bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya itu. Lebih parahnya lagi, pertandingan final kali ini berlangsung di sekolahnya. Akan dua kali lebih malu jika harus kembali kalah di kandang sendiri.

"Kalau kapten basket Langham yang itu ikut bertanding, ahh aku harap tim sekolah kita sudah siap mental, lah. Walaupun Langham hanya sekolah public biasa, kualitas anak-anak di sana patut diacungi jempol. Apalagi basketnya. Mereka sudah sering juara."

Al hanya bisa mengangguk-angguk. Beberapa buku telah ia kemasi. Al mulai tertarik untuk ikut menonton. Suara-suara teriakan di luar sana membuatnya semakin penasaran. "Bagaimana?" tawar Kim lagi.

"Let's go!"


Pertandingan final cabang basket dalam rangka peringatan tahunan pekan olahraga untuk tingkat primary school kali ini digelar di Eleanor Primary School, salah satu sekolah elit yang memiliki fasilitas lapangan basket terbaik se Inggris.

Beberapa pertandingan lain telah di gelar di beberapa sekolah yang memiliki fasilitas olahraga memadai. Seperti kemarin, Al mengikuti final renang di Shelley Primary School dan mendapatkan peringkat kedua. Dan kali ini, giliran sekolahnya mendapat jatah menerima tim sekolah lain untuk berlomba di sana.

Kim menarik tangan Al mendekat di barisan terdepan di sisi kiri tiang ring tim sekolah lawan. Al bertepuk tangan riang seperti para penonton lain melihat pergerakan para pemain yang begitu lincah.

Skor menunjukkan tim dari sekolahnya unggul sementara beberapa poin dari tim lawan. Al tersenyum puas akhirnya sekolahnya memiliki peluang untuk bisa mendapatkan juara tahun ini. Sesekali Al memfoto jalannya pertandingan dari atas bangku penonton. Tepat saat ia ingin memfoto salah satu tim dari sekolahnya akan melempar bola, Al terkejut melihat ada seorang pemain tim lawan yang berlari mendekati ring arah lempar bola.

Berdasarkan perhitungan Al, jika bola itu tetap dilempar, bola itu akan tepat mengenai kepala dari pemain tim lawan tersebut. "Hey, awas!"

Suara Al yang dekat dengan arah ring membuat pemain itu menoleh dan segera menghindar dan cepat menghalau bola yang siap masuk ke dalam ring.

Duk! Suara sorakan dari pendukung sekolah Al menggema kecewa. Bola berhasil ditepis. Anak laki-laki itu menatap Al senang, "terima kasih!" ucapkanya pelan. Permainan terus berlanjut hingga skor berbalik.

Tim lawan kembali juara.


Makan malam berjalan seru dengan cerita Al yang terus-terusan merasa bersalah karena ulahnya menyelamatkan pemain tim lawan yang mengantarkan sekolahnya kembali kalah. "Apa itu salah, Dad?" tanya Al lemas.

Harry sampai terbatuk-batuk menahan tawanya, "menurut Dad kau memang sudah benar. Kau menyelamatkan nyawa seseorang, son." Jawab Harry.

"Tapi sekolahku kalah lagi." Protes Al tak suka. Ia sungguh merasa bersalah pada sekolahnya, ya walaupun tidak banya orang yang menyadari aksinya berteriak tadi apalagi menyalahkannya. Al berdiri di kerumunan supporter tim lawan, jadilah Al tidak begitu dihiraukan oleh supporter dari tim sekolahnya.

"Dengarkan, Mum, Al. Sebuah kompetisi pasti ada yang menang, ada pula yang kalah. Itu wajar. Karena itu tujuan kompetisi. Ada tidaknya insiden tadi, mereka sedang bermain. Coba bayangkan, kalau saja pemain lawan itu terkena bola. Dia jatuh, dan tidak bisa bermain. Si pelempar bisa saja juga tidak bisa bermain karena dijatuhi hukuman pelanggaran. Citra sekolahmu akan buruk juga. Ya, entahlah bagaimana peraturan basket Mum tidak begitu paham. Itu artinya sama saja. Kalau sekolahmu kalah.. lagi, itu berarti mereka belum bisa menandingi tim lawan. Jangan di sesali, kau sudah memilih keputusan yang tepat."

Hermione mencolek ujung hidung Al menggoda. "Kau itu mirip Daddy, mudah sekali merasa bersalah pada orang lain." kata Hermione melirik ke arah Harry yang membantu membereskan beberapa piring kotor.

"My boy!" bisik Harry saat melintas di belakang Al. Ciumannya mendarat di pipi kiri putranya.

Harry kembali dari dapur sambil mengajak Al untuk menonton TV bersama sementara Hermione mencuci piring. Tiba-tiba Harry teringat akan sesuatu. "Mione—" panggil Harry sedikit berteriak.

"Besok kau dari Kementerian jam berapa?" tanya Harry.

"Seperti biasa, jam empat. Ada apa?" jawab Hermione ikut mengeraskan suaranya.

Al bersandar santai di dada Harry sambil menikmati acara TV yang menayangkan talkshow bintang-bintang terkenal. Anak sembilan tahun itu akan menunjukkan sisi manjanya dengan sang ayah dibandingkan pada ibunya. Mungkin karena keduanya memiliki selera yang sama, Al lebih nyaman jika berdekatan dengan Harry.

"Madam Sheehan, aku mendapat kabar jika beliau meninggal tadi pagi. Besok setelah dari Kementerian, kita berkunjung ke rumahnya, Mione."

Deg! Hermione seperti baru saja dicekik hingga tak bisa bernapas.

"Madam Sheehan itu siapa, Dad?" tanya Al pada Harry.

"Madam Sheehan itu healer yang membantu Mummy saat melahirkanmu dulu. Jadi orang pertama yang menggendongmu setelah lahir adalah Madam Sheehan. Beliau adalah orang berjasa atas proses kelahiranmu, Al. Beliau yang ikut menyelamatkan nyawamu dan Mummy."

Suara Harry terdengar pelan hingga dapur. Ya, Madam Sheehan adalah healer yang membantu Hermione melahirkan Al.. dan juga James. Serta satu-satunya orang atau penyihir yang mengetahui di mana James dititipkan.

"Kalau Madam Sheehan meninggal, aku harus bertanya pada siapa lagi? Di mana Madam meninggalkan James? Oh, God!" Hermione menangis ketakutan.

Seseorang yang ingin sekali ia temui untuk mencari tahu keberadaan putranya kini telah tiada.

- TBC -


#

Siapa pemain lawan yang diselamatkan Al? Akan tahu jawabannya di chapter selanjutnya. Anne tunggu reviewnya!

Thanks,

Anne xoxo