Hi, everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter 3. Lagi-lagi Anne nulisnya puanjang banget! Hehehe.. mumpung lagi semangat aja. Baiklah, walaupun masih sepi di review, Anne kaget aja kalau perhitungan yang baca banyak juga. Banyak yang malas review, nih! Huhuhu :( Tapi nggak apa, Anne udah terima kasih buat kalian semua yang mau membaca.
Afadh: Enak hidupnya keluarga Harry. Wah, iya juga aku juga pengen main the sims, hehehe.. ikuti terus kisahnya, ya. Update kilat, nih. Thanks! :)
Dimenstorm: Thanks, sudah baca, ya maaf kalau masih banyak typo. Terima kasih, sudah aku koreksi sekarang. Jawaban James wizard atau bukan ada chapternya nanti. Aku buat khusus jawaban James itu wizard atau bukan. Ikuti terus saja kisahnya. Thanks, ya! :)
Baiklah, sudah cukup. Jadi langsung saja, ya!
Happy reading!
"Ok, fine!"
Al menutup ponselnya sedikit kasar. Pesan dari Hermione berisi permintaan maaf jika ia dan Harry akan pulang malam hari ini. Al berjalan lemas dari sekolahnya menuju tempat ia biasa menunggu taksi. Sore ini ia sudah sangat lapar, ditambah ia sudah berharap ingin sekali menikmati masakan ibunya sepulang dari sekolah. Tapi kenyataannya, bahkan saat ia sampai rumahpun, tidak ada orang yang akan menyambutnya.
"Taksi!" Al menghentikan salah satu taksi dan masuk.
Taksi yang membawa Al dari sekolah sampai di depan sebuah rumah berwarna merah bata dengan aksen putih sebagai penegas bagian jendela, pintu, dan lubang udara. Memang di depan rumah tak terdapat halaman yang luas, namun rumah dengan gaya klasik itu berdiri megah di salah satu lokasi terluas di area Lancaster Park. Semua orang tahu bagaimana reputasi orang-orang yang tinggal di sana.
Al merogoh salah satu lubang di bawah pot besar di sisi pintu. Menemukan benda kecil yang akan menyelamatkannya dari rasa lelah setelah seharian berada di sekolah. "Ini dia," kunci rumah berbandul kastil ia temukan di sana. Sekali putar, pintupun terbuka.
"Selalu begini. Sepi." Batin Al.
Surrey tampak cerah sore ini. Batin Al ingin sekali jika ia dan kedua orang tuanya menghabiskan sore bersama. Sayang, itu hanya angan-angan. Al bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya.
Al menatap tiga jendela kaca besar yang berdiri di depan ranjangnya. Tangannya berusaha menarik tirai hingga tampaklah sepanjang jalan di depan rumahnya. Ia akui, rumahnya memang indah, namun ia selalu merasa kesepian. Tidak ada teman, bahkan tetangganya yang juga lebih banyak pekerja sibuk, jarang berinteraksi dengannya. Al sebenarnya memiliki sahabat dari tetangganya sendiri. Namanya Billy, satu tahun lebih muda dari Al. Namun akhir-akhir ini ia dan Billy sudah semakin jauh. Billy jarang terlihat karena aktifitasnya yang juga padat. Mereka hanya bisa bertemu jika masuk musim liburan atau akhir pekan saja.
"Seandainya aku punya saudara, aku tak akan kesepian seperti ini." batin Al.
Perutnya kembali berbunyi setelah ia menyelesaikan mandinya. Berniat untuk mencari makanan, Al rupanya tak menemukan sesuatu yang membuatnya berselera.
"Oh, Mum. Kau tak meninggalkan camilan apapun? Hanya buah? Puding? Kue? Jus? Susu? Sereal? Ah.. sore-sore makan sereal?" Al kebingungan meski makanan di rumahnya masih banyak. "Oh, ya, camilan simpanan Dad!"
Al membuka lemari atas kitchen set berusaha menemukan toples-toples berisi keripik atau kue kering yang diam-diam disimpan oleh Harry. Al tahu beberapa tempat persembunyian makanan ayahnya karena memang ia pun di ajak untuk bekerja sama, menyembunyikannya dari Hermione yang begitu melarang mereka makan makanan yang tidak sehat.
"Tinggal segini?" Al menepuk jidatnya keras-keras. Keripik kentang dan makanan ringan lainnya hanya tersisa sedikit di lima toples yang berbeda.
Cling! Suara ponsel Al berbunyi. Pesan baru dari Hermione.
"Kalau kau ingin camilan, kali ini Mum perbolehkan. Tapi jangan terlalu banyak! Kalau kripik di rumah habis atau makanan simpanan Dad juga habis (Mum sudah tahu semuanya, Daddy sudah mengaku), minta bantuan Mr. Wade untuk membelikannya untukmu. Take care! Love, Mum x"
Tulis Hermione panjang lebar. Al tersenyum geli membaca pesan ibunya yang mengetahui aksi sembunyi-sembunyi makanan bersama ayahnya di rumah. "Kalau membeli camilan saja, aku bisa. Kasihan Mr. Wade kalau harus bolak-balik ke sini. Rumahnya, kan, jauh." Batin Al.
Mr. Wade sendiri adalah pria tua yang sesekali bekerja di rumah Harry untuk membersihkan taman dua kali seminggu. Rumahnya yang berjarak cukup jauh mengingat Mr. Wade telah berumur, Al tak tega jika harus sering meminta bantuan padanya. "Aku tak mau jadi anak manja."
Al meraih dompet dan jaket di dalam kamarnya bersiap untuk pergi. Ia menghentikan taksi.
Sebuah minimarket jadi tujuan Al. Satu persatu makanan yang ia inginkan dimasukkan ke dalam keranjan belanjanya. Beberapa bungkus kerupuk, keripik kentang, segala macam coklat, kue, dan kue kering favoritnya dan ayahnya ia ambil.
"Kurang minuman.. tapi apa, ya? Nanti Mum marah—"
"Oh, uangku! Eh.. kamu, kan?"
Al memunguti uang receh yang terjatuh dari tangan orang yang ia tabrak sambil terus meminta maaf, "maafkan aku, aku tak lihat. Aku.. kau—" Al menunjuk ke anak laki-laki sebayanya yang begitu ia ingat.
"Kau anak Eleanor yang menyelamatkan aku dari bola pertandingan kemarin, kan? Thanks, ya!" katanya.
Al mengangguk. "Yeah, itu aku. Sama-sama, selamat atas kemenanganmu kemarin." Al tersenyum lantas menyalaminya.
"Namaku James. James Murray. Salam kenal."
"Aku Albus Potter. Panggil saja Al. Salam kenal juga."
Mereka lantas saling bertanya setelah Al mengembalikan uang yang ia pungut di lantai. "Maaf sudah menabrakmu, uangmu jadi kotor terkena rembesan air itu. Kau mau membeli apa?" tawar Al. "Biar aku ganti."
"Ah tak apa, semoga mereka bisa menerima uang basah ini. Toh, nanti juga kering." Kata James berusaha menolak.
"Tidak apa-apa. Aku ceroboh tak melihat ada orang. Aku jarang berbelanja."
James mengangguk-angguk paham. Tampak sekali jika Al jarang keluar, apalagi berbelanja. Penampilannya begitu rapi, pakaiannya bersih. Tampak sekali jika ia anak orang kaya. "Aku hanya ingin beli.. Oh, God. Selalu begitu. Tidak boleh tidak boleh!"
Tiba-tiba James mengeluarkan makanan kecilnya dan mengembalikannya di tempat semula. Al kebingungan dengan sikap James yang tiba-tiba mengosongi keranjang belanjanya yang hampir penuh. "Hei, kenapa? Kenapa kau kembalikan belanjamu?" tanya Al.
"Aku ke mari karena ingin membeli susu, tepung, dan obat untuk Mum. Itu saja. Tapi, aku malah mengambil makanan. Tanpa ingat kalau uang hasil membantu tadi hanya sedikit—"
"Sudah ambil saja. Masukkan lagi makanan apa saja yang tadi kau ambil, James. Kalau kau butuh yang lain, ambil saja. Aku yang bayar!" pesan Al sambil tersenyum ramah.
James terpanah dan menuruti Al yang terus memaksanya untuk menerima bantuannya.
James menenggak sebotol cola dengan segar. Ia dengan lucu mengekspresikan rasa aneh yang timbul di tenggorokkannya setelah bersendawa keras. Al tertawa. "Aku selalu suka sensai sendawanya. Hangat di tenggorokan."
"Kau lucu, James." Kata Al. Mereka beriringan keluar dari minimarket. James membawa dua kantung besar berisi aneka makanan, sayuran, dan minuman. Berkali lipat dari rencana awalnya berbelanja. Bahkan semuanya gratis. Al yang membayarnya.
"Terima kasih, ya. Ini banyak sekali. Aku jadi punya persediaan makanan banyak untuk Mum dan Dad. Aku akan mengeringkan uang-uang ini supaya bisa aku tabung." Ujar James berseri-seri.
"Oh, ya. Tadi kau bilang.. kalau kau mendapat uang itu dari hasil membantu. Kau bekerja?" tanya Al langsung.
James mengangguk malu. "Mum sakit, upah Dad tidak seberapa untuk pengobatan Mum. Untuk makan, biaya sekolahku, aku harus ikut bekerja untuk menambah penghasilan. Ya, beginilah," James bercerita sambil tersenyum, "kalau aku bekerja, gaji yang aku dapat akan aku belikan obat dan makanan. Ahh—"
James berlari mengejar bus yang berlalu meninggalkan halte. Ia berteriak meminta berhenti tapi percuma. Bus itu bergerak semakin menjauh. Lagi-lagi Al menatap James heran. "Anak itu suka melakukan hal aneh tiba-tiba." Pikirnya.
"Aduh aku tak bisa menunggu lama untuk bus selanjutnya. Aku harus lari—"
"Hey, kenapa? Kau mau ke mana?" tanya Al menahan James.
"Aku harus pulang. Ibuku sendirian. Pasti dia mencariku."
Al melepaskan earphone yang menancap di telinganya agar mendengar suara James lebih jelas. "Dengan berlari? Di mana rumahmu?" tanyanya.
"Aku sudah biasa. Rumahku di Church road."
"Church road, itu jauh sekali. Tapi itu dekat dengan rumahku. Ayo ikut aku. Kita naik taksi berdua." kata Al menyakinkan sekali lagi. "Ayo!"
Keduanya naik bersama pada satu taksi yang sama. "Lancaster Park, sir." Pinta Al pada si supir. James yang mendengarnya terperanjat tak percaya.
"Ru-rumahmu di sana?" tanya James terbata.
"Ya, mangkanya kita satu arah. Nanti aku yang turun lebih dulu. Mengerti?"
James mengangguk-angguk masih syok. Ia tahu itu wilayah perumahan orang-orang kaya. Tidak ada rumah jelek di sana. Dan satu lagi, James kembali ingat jika Al adalah siswa dari Eleanor, sekolah tempat anak cerdas dari orang-orang berduit. Serta penampilan Al dan isi dompet Al yang memang mengindikasikan bahwa dia anak orang kaya.
Taksi terus berjalan menyusuri kawasan Richmond yang asri. Beberapa mil lagi mereka akan masuk ke kawasan perumahan tempat tinggal Al. "Kau tak minum? Aku lihat kau haus sekali." Tawar James mengulurkan sebotol cola yang tersisa sebagian.
"Ahh.. tidak, aku tak boleh minum cola." Jawab Al sebal. Sebenarnya ia ingin sekali meminum minuman itu.
"Apa? Ini segar sekali, Al. Tidak akan ada orang yang tahu, kecuali tuan supir. Siapa yang tidak memperbolehkanmu?"
"Mum. Bahkan itu," Al menunjuk mie instan dalam kantung belanja James, "aku hanya boleh makan satu bulan sekali saja." wajah Al berubah sendu. Ia begitu suka makan mie. Tapi lagi-lagi, ibunya melarangnya keras untuk sekedar makan atau mengicipi saja.
Di sampingnya, James menggeleng tidak habis pikir. "Aku bahkan hampir setiap hari makan mie instan, Al. Kasihan kau!" ujarnya. James lantas melirik kembali botol cola yang ia bawa.
"Minumlah, setenguk saja. Kau sungguh memprihatinkan hidup di dunia ini tanpa meminum minuman enak seperti cola ini. Hanya seteguk, tidak akan berefek apapun. Cobalah!"
Ragu, Al berusaha menolak tawaran menggoda James itu. Ia membenarkan posisi duduknya, menarik jaketnya yang terselip di dudukannya sampai melepas pemutar musiknya.
"Hanya seteguk," ulang James meyakinkan.
"Hanya seteguk," ulang Al. Ia meminumnya. "Enak," jawab Al senang. Bertahun-tahun ia ingin meminum cola, akhirnya ia bisa merasakan kenikmatan minuman itu juga.
Taksi perlahan berhenti akibat perintah Al. Mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang, Al mengambil belanjaannya dan bergegas turun. "Oh, ya, sir. Nanti antarkan teman saya ke rumahnya di Church road, biar dia yang menunjukkan letaknya. Kalau kurang datang kembali kemari, ya."
"Terima kasih, nak. Ini sudah cukup." Jawab si supir taksi.
Al melambaikan tangannya pada James yang ternganga melihat rumah Al begitu besar. "Wow, dia memang orang kaya!" batin James masih mengamati Al yang mulai masuk ke dalam rumah besar itu.
"Kau membelanjakannya makanan juga?"
"Ibunya sakit, Mum. Bahkan dia harus bekerja untuk membantu mencari uang ayahnya."
Al beradu argumen dengan Hermione yang memarahinya telah bertindak terlalu baik pada anak yang baru dikenal. Harry melerai keduanya dengan menarik Al menjauhi ibunya menuju ruang keluarga. "Dia anak baik, Mum."
"Baik kalau di depanmu. Siapa tahu dia hanya beralasan ibunya sakit, dia bekerja, untuk memanfaatkanmu. Kalian baru bertemu dengan tidak sengaja. Kau belum mengenal siapa anak itu. Kau harus hati-hati, Al." Sanggah Hermione.
Sepulang dari berkunjung ke rumah Madam Sheehan, Harry dan Hermione mendapati Al menghabiskan banyak cemilan di depan TV. Al mengaku jika ia membeli sendiri ke minimarket dengan uangnya serta menceritakan pertemuannya dengan James. Hermione tak suka jika Al bersikap terlalu baik pada anak yang baru dikenalnya.
Kemarahan Hermione memuncak saat Al mengatakan jika music playernya yang seharga hampir mencapai 250 pound hilang sepulang dari minimarket. "Kau mencurigai teman baru Al itu yang mengambilnya?" tanya Harry.
"Al bilang jika anak itu bekerja demi membantu mencari uang ayahnya, bisa jadi dia mencuri music player Al dan menjualnya. Oh, Al, untung kau tak diapa-apakan anak itu." kata Hermione menarik Al dalam pelukannya sambil meminta maaf.
"Mum khawatir, sayang." Kata Hermione begitu lembut. Diusapnya rambut tebal Al penuh kasih sayang. Harry lantas meredakan suasana dengan menjanjikan Al membelikan yang baru.
Keesokan paginya masalah pertemuan Al dengan James telah berakhir. Kamis ini sekolah Al libur dan baru kembali masuk di hari Senin. Ada waktu libur panjang untuk berlibur. Hermione menawari Al untuk mengunjungi orang tuanya di Australia. Al pun setuju. Mereka sepakat untuk berangkat namun tidak untuk Harry.
"Aku akan menyusul kalian hari Sabtu. Aku tak bisa meninggalkan rapat ini, sayang." Kata Harry mengantarkan istri dan putranya di bandara.
Al tampak sedih ketika ia hanya berdua dengan sang ibu berangkat menengok kakek dan neneknya di Australia. Namun bagaimana lagi, sudah kewajiban Harry sebagai kepala Auror untuk memimpin beberapa rapat penting di minggu ini. Tapi Harry telah berjanji, jika ia akan menyusul keduanya di hari Sabtu mendatang.
Selepas dari Kementerian, Harry sedikit melepas penat dengan menikmati acara TV rumahnya yang besar, terkadang Harry merindukan sosok lain di keluarganya. Putra pertamanya yang ia tahu telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Tiba-tiba Harry menitikkan air matanya.
"Seandainya saja dia masih hidup, pasti dia akan menemaniku sekarang—"
Ting tong!
Harry cepat-cepat menghapus air matanya mendengar ada yang membunyikan bel di luar. Ada tamu, batinnya. Harry memelankan suara Tvnya lantas mencari tahu siapa tamunya malam ini. "Iya sebentar!" terianya.
"Selamat ma—"
"Hah hah.. Malam, sir... hah hah—"
James, muncul tepat di hadapan Harry yang terpanah melihat kedatangan anak laki-laki itu di rumahnya. Harry seperti melihat Al berdiri di sana. Sekilas, anak itu mirip sekali dengan Al.. dan tentu saja juga dirinya. "Kau—"
"Sir? Sorry menganggu anda, huh huh—" suaranya terbata-bata sembari mengatur napasnya. Ia terengah-engah dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Harry tergagap sadar. "Saya mau mencari.. ah, God, aku lupa namanya."
"Kau mencari siapa, nak?" tanya Harry sama bingungnya. Jika dilihat, Harry menebak usia anak di hadapannya sebaya dengan Al. "Mungkin teman Al," batinya.
"Al?" pancing Harry menyebut nama putranya.
Mata James terbelalak cerah. "Yahh, Albus. Nama itu jarang jadi aku lupa. Anda kenal Albus? Dia tinggal di sini, sir?" kata James belum terfokus melihat Harry. Napasnya tidak beraturan saking lelahnya.
"Dia putraku, tapi sayang dia ada di Australia dengan ibunya sekarang. Ayo masuk dulu—"
"Anda ayah Al? Mr. Potter? Tidak tidak. Saya hanya," James merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan benda mengkilap warna biru bertali plastik. Tertancap pula kabel panjang berwarna putih di ujungnya. "Mengembalikan ini. Al melupakan saat di dalam taksi."
"Oh, ya. Dia kehilangan ini sejak kemarin. Terima kasih—"
"James. Namaku James, sir."
"James. Oh—" Harry semakin tersentuh dengan anak laki-laki itu. Ditambah namanya, Harry kembali teringat dengan putra pertamanya yang ia beri nama James.
"Maaf, saya harus pulang. Mum pasti menunggu obatnya—"
"Hey, tunggu dulu. Kau naik apa? Di mana rumahmu?"
James menjelaskan jika ia baru saja naik bus dari rumahnya menuju apotik di dekat perumahan tempat tinggal Harry. Ia yang menemukan music player Al teringat jika ia harus mengembalikan itu secepatnya takut jika Al mencari. Karena dekat, James memilih mengembalikannya sepulangnya ia dari apotik. Tapi malang nasibnya, uangnya tak cukup untuk kembali naik bus akibat harga obat yang naik.
"Kamu kemari dengan jalan kaki?" tanya Harry menyadari James begiru kelelahan dengan napas terengah-engah.
"Lebih tepatnya berlari, sir." Jawab James nyengir menggoda.
Harry tertawa bersama James. "Kau lucu, James. Kau tahu.. itu jauh sekali. Dan aku tahu kau membutuhkan apa. Aku punya air dan jus segar untukmu. Aku tak menerima penolakan!" Harry membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilakan James masuk.
"Haus, nak?" tanya Harry terkejut melihat James minum begitu bersemangat. Ia menghabiskan satu botol kecil air putih dan segelas jus jeruk dingin yang dibawakan Harry.
Aahh.. James mendesah lega. Ia mengusap mulutnya dengan punggung tangannya. Menatap Harry penuh rasa syukur. "Terima kasih, Mr. Potter. Ini luar biasa nikmat. Tapi saya harus segera pulang, Mum pasti sudah menunggu obatnya."
"Sekarang? Lalu kau mau naik apa? Katanya uangmu tak cukup?"
"Jalan kaki, lah. Dan berlari tentunya. Hitung-hitung olahraga."
Tiba-tiba Harry berlari menuju lantai dua meninggalkan James di meja bar counter dapur. Sesaat kemudian, Harry kembali dengan jaket hangat dan kunci mobil di tangannya. "Aku tak akan biarkan anak seusiamu jalan sendirian malam-malam. Ayo!"
Harry mengapit pundak James dan mengajaknya keluar, "ta-tapi.. terima kasih, Mr. Potter. Maaf saya merepotkan." Kata James tidak enak.
Sepanjang jalan, Harry terus bertanya-tanya tentang keluarga James. Al memang sudah bercerita sedikit tentang James, tapi Harry ingin mengetahuinya sendiri dari mulut James dan meyakinkan dirinya jika anak itu tidak berbohong seperti yang dituduhkan Hermione.
"Jadi kau benar bekerja?" tanya Harry.
James mengangguk. "Saya hanya ingin membantu keuangan keluarga saya, sir. Mum sedang sakit dan butuh biaya besar. Jadi saya harus membantu Dad mencari tambahan uang untuk makan dan biaya sekolah saya."
"Tapi kau tahu, kan, usiamu masih kecil. Kau tak boleh bekerja, James!"
"Saya tahu tapi—"
Kryuuukk! "Ups—"
"Mungkin kita harus menepi dulu di restoran itu, nak. Sekali lagi aku tahu apa yang kau butuhkan sekarang. Aku juga sejak tadi ingin makan."
James menunduk malu sembari memukul perutnya pelan. "Dasar perut!" makinya. Harry tersenyum.
Selesai membelikan makanan untuk James, orang tuanya dan dirinya sendiri, Harry kembali menjalankan mobilnya menuju rumah James. Sepanjang jalan, James memakan burger pesanannya yang belum habis ketika menunggu pesanan makanannya jadi. "Ini enak sekali, sir. Belum tentu dalam setahun aku makan burger seenak ini." kata James sedikit tak jelas. Mulutnya penuh.
"Lebih baik uangmu ditabung daripada membeli ini, kan?" jawab Harry santai.
"Tapi anda tetap membelikan saya burger ini. Seharusnya uangnya ditabung saja." canda James sampai tersedak. Tepat di pertigaan menuju jalan rumah James, beberapa polisi sedang melakukan pemeriksaan rutin. Mobil Harry ikut di hentikan. Raut wajah James berubah panik.
Harry memperingatkan agar James tetap tenang. "Selamat malam, sir! Driving licence?" pinta salah seorang polisi lalu lintas. Harry merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu bertuliskan UK di ujung kiri atasnya. James melihatnya dengan jelas.
"Terima kasih. Kami hanya melakukan pengecekan rutin. Selamat malam!"
Belum sempat Harry mengembalikan kartu mengemudinya, mobil Harry diminta untuk langsung bergerak agar mobil lain dapat segera menggantikannya.
"Harry James Potter. Wah, nama anda juga James?" James membaca kartu lisensi mengemudi Harry yang diletakkan di atas dashboard mobil.
Harry tersenyum simpul lantas menatap James sebentar-sebentar. Ia harus tetap fokus mengemudikan mobilnya. "James adalah nama ayahku. Kebiasaan orang-orang suka menamai nama tengah putranya dengan nama tengah dirinya. Kalau kau? Juga nama ayahmu?"
James mengangguk pelan. "Ya, namaku James Martin Murray. Martin nama ayahku, sir."
Sebuah rumah berpagar kayu, halamannya kotor penuh daun kering. Cat temboknya terkelupas di mana-mana. Terlihat sekali jika tak pernah di rawat. "Itu rumahku, Mr. Potter. Maaf, jelek."
"Rumahku juga jelek, James. Ayo, kau pasti sudah ditunggu ayah dan ibumu."
"Mum, Dad, aku pulang." Teriak James dari depan pintu.
Harry menatapnya iba. Jauh dari kesan indah seperti rumahnya. Tempat tinggal itu sungguh sederhana. Hanya ada beberapa kursi dan satu meja. Di dindingnya kosong, tak ada hiasan. Barang elektronik hanya ada lemari pendingin. Itupun sudah terlihat sangat usang dan berkarat.
James mendekati seorang wanita yang duduk bersandar di atas sebuah sofa paling nyaman di rumah itu. Wajahnya pucat dengan rambut pendek kusut. Lehernya mengalung syal tebal yang dililit melingkar. Sang wanita lantas menoleh menatap Harry di depan pintu.
"Masuk, Mr. Potter. Maaf berantakan." Kata si wanita. Parasnya masih muda, Harry menaksi usianya tak jauh beda dengan Hermione. Tapi wajah pucatnya membuat ibu James tampak lebih tua.
"Terima kasih, Mrs. Murray." Harry pelan-pelan masuk dan mendekati kursi tempat James dan ibunya. Harry mendengar James begitu semangat menceritakan tentang pengalamannya bersama Harry di rumahnya.
James berbisik pada sang ibu, "rumahnya besar sekali. Bagus, Mum. Ada televisi yang lebar sekali. Lantainya bersih, Mum." Suara James pelan namun masih jelas terdengar di telinga Harry.
"Oh ada tamu," seru seorang pria dengan bagian gigi atas menonjol di balik bibirnya keluar menggenakan apron dari balik partisi. Wajahnya menegang ketika melihat wajah Harry.
"Ini Mr. Potter, Dad. Ayah dari anak yang memiliki music player itu." kata James.
"Oh, anda, sir.. maaf jika putra saya merepotkan. Ini—"
"Tidak apa, Mr. Murray, bahkan saya berterima kasih pada James sudah mau mengembalikannya. Saya tak tahu jika bukan James, pasti sudah dijual atau diambil. Ini saya dan James tadi sempat membeli makan malam." Harry menyodorkan satu kantung besar berisi makanan yang ia beli lebih untuk keluarga James.
James menyiapkan obat yang baru ia beli tapi James urung, "kenapa Mum tak makan dulu? Kan masih ada mie instan di lemari?"
"Kalau Mum makan, besok kau sarapan apa sebelum berangkat sekolah?"
"Kalau begitu, makan yang dibelikan Mr. Potter saja."
Harry meminta ijin pada Martin untuk kembali ke mobilnya, sejenak kemudian ia kembali sambil membawa bungkusan yang sama seperti bungkusan makanan James, walaupun lebih kecil. "Ini, makan yang ini saja. Lebih baik anda makan krim sup jagung ini. Lebih bergizi. Mengenyangkan, jadi bisa langsung minum obat." Tawar Harry.
"Tapi itu, kan, makan malam anda, sir?" tanya James bingung.
"Mrs. Murray membutuhkan makanan yang bergizi. Ini lebih sehat, saya bisa membeli lagi nanti. Kalau masih sisa, disimpan saja. Besok bisa dihangatkan untuk kembali dimakan." Kata Harry.
Setelah mendapat persetujuan dari Harry, James langsung menyuapkannya pada sang ibu. Harry berpamitan pada Martin untuk kembali pulang. "Sungguh, saya sangat berterima kasih pada keluarga anda, Mr. Potter. Kemarin putra anda sudah membelikan banyak sekali makanan dan obat untuk keluarga kami. Sampaikan salam saya untuk putra anda dan Mrs. Potter."
"Sama-sama, kalau saya bisa membantu saya akan bantu. Saya senang, Al, putra saya memiliki sahabat baru seperti James. Al bisa belajar banyak dari putra anda, Mrs. Murray."
Kedua ayah itu saling bersalaman dan berpelukan. Hubungan baik kedua keluarga itu kini semakin dekat. Harry semakin yakin, jika James memang anak yang baik. Harry menuju mobilnya dan melambai ke arah James yang menuntun ibunya mengantarkan ia kembali pulang.
"Kenapa, ya, aku merasa begitu nyaman dengan James. Anak itu menyenangkan sekali. Dan namanya—"
Harry menjalankan mobilnya perlahan menuju rumahnya kembali dengan perasaan penuh kebahagiaan. Ia seperti menemukan keluarga baru yang nyaman seperti ketika Harry mengenal The Burrow sebagai keluarga yang harmonis.
"Meski mereka serba kekurangan, mereka kaya akan rasa kasih dan sayang." Batin Harry terenyuh.
- TBC -
#
Hai, bagaimana? kepanjangan? Heheh maaf, untuk jalan rumah dan nama perumahannya, Anne coba hubung-hubungkan ya. Anne coba riset dari Google Map di wilayah Surrey. Jadi memang jalan itu ada, dan berdekatan antara wilayah rumah Harry dan rumah James. Bahkan penggambaran rumah Harry, Anne dapat di salah satu website properti yang menjual rumah-rumah di Inggris. Bagus banget rumahnya.
Harry sudah bertemu dengan James, nih. Tinggal Hermione. Bagaimana jadinya jika Hermione bertemu dengan James? Apakah keluarga James dan Al semakin dekat? Nantikan chapter 4nya, ya!
Anne tunggu reviewnya. Maaf kalau masih banyak typo.
Thanks,
Anne xox
