Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih. Dengan chapter 4. Yang nunggu mana suaranya! Yuk, mari di simak, tapi Anne mohon maaf kalau chapter ini lebih panjang dari kemarin. Anne bingung motongnya. Dan alurnya mungkin kecepetan. Anne balas review dulu.

Afadh: Wah punya teman suka traktir, ya? Aku juga pengen, nih. Hehehe.. Anne juga pernah pulang sekolah nggak ada apa-apa di rumah. Nasib, ya! Chapter ini Hermione akhirnya ketemu James, loh. Hehehe update cepat. Tapi kali ini telat sehari lagi, ya. Sorry. Thanks, ya! :)

Guest: terenyuhhh.. thanks, ya :')

Gabby-Chann: konflik batin Hermione mulai muncul. Yuk disimak, thanks, ya! :)

Rara chan23: ihhh manis para laki-laki itu. Mione over karena ada alasannya. Baca chapter ini, ya! Thanks, ya!

Oke, langsung saja. Nyamankan posisi baca kalian.

Happy reading!


Harry bergelung nyaman di balik selimutnya sendirian. Di atas ranjangnya, Harry hanya sendiri. Tidak ada Hermione yang biasa ia tatap ketika tak sadar terbangun di tengah malam seperti ini. Malam semakin larut. Mata Harry berusaha keras mencari tahu pukul berapa sekarang. Ia mencari kacamatanya namun yang ada.. ponselnya tiba-tiba berdering.

Harry membenarkan posisinya menjadi setengah berbaring. Menggerakkan tangannya ke arah tombol lampu lantas mengayunkannya naik turun. Takk! Knop lampu tertekan dengan sendirinya dan lampu menyala. Harry sudah lama menguasai sihir tanpa tongkat. Dan ia sadar dirinya semakin malas dengan kemampuannya itu.

"Hi, Daddy!"

"Hi, buddy!"

Meski tanpa kacamata Harry masih bisa melihat dalam jarak dekat. Seperti saat ini, wajah Al muncul di layar ponselnya. Al mengajaknya untuk video call. "Al, di London sekarang tengah malam! Keras kepala sekali, sih!" teriak suara di belakang Al yang Harry kenal itu suara Hermione.

"Tapi Daddy masih bangun. Kemarilah, Mum!"

Harry menguap lebar tepat saat Hermione muncul di depan layar. Matanya melotot melihat kelakuan Harry. "Harry, kau belum tidur? Astaga, aku tahu di sana sekarang jam satu malam. Al menganggu istirahatmu—"

"Hey, bahkan kau tak menyapaku terlebih dulu, Mione sayang! Kau tak merindukanku, ya?" tanya Harry merubah raut wajahnya kesal. Hermione tertawa kecil. Al tiba-tiba menyerahkan kendalinya pada Hermione dan berteriak pada Harry agar mengajak Hermione berbicara lebih dulu.

"Aku merindukamu, sayang. Puas?"

Kini Harry yang tertawa, "begitu dong. Sayang tak ada ciumannya." Goda Harry memaju-majukan bibirnya.

"Jaga bicaramu, ada Mum di sini."

Suara seorang wanita tiba-tiba ikut terdengar semakin jelas dan muncullah seorang wanita di sisi Hermione yang sedang membawa semangkuk makanan. Ia menatap ke arah layar dan menyapa Harry ramah. "Oh, Harry. Aku juga merindukanmu, son! Hari Sabtu jadi kemari?" tanya Jean, ibu Hermione dengan senyuman lebar.

"Oh, hi, Mum. Aku juga merindukanmu. Yeah, aku akan menuyusul Sabtu nanti. Sisakan makanan itu untukku, ya!" tunjuk Harry pada sesuatu yang dibawa Jean.

"Kau datang ini sudah busuk, nak. Tenang saja, aku akan buatkan spesial untukmu."

Jean lantas meminta ijin untuk kembali memasak dan meninggalkan Hermione sendiri berbicara berdua dengan suaminya. Hermione memilih tempat duduk di ruang tamu rumah orang tuanya. Sebuah rumah di Melbourne.

"Di mana anak itu? Telpon tengah malam malah sekarang di tinggal begitu saja." tanya Harry.

"Hahaha.. Al sedang bersama Dad, mereka memberi makan Karma. Harry dengar, jangan kau turuti seandainya Al tiba-tiba meminta anjing padamu. Kalau kucing, baru boleh." Kata Hermione sedikit berbisik.

Al sangat senang bersama Karma, anjing peliharaan ayah Hermione yang begitu penurut. Berbeda dengan Al, Hermione tak begitu suka jika harus mengurusi seekor anjing. Ia lebih senang dengan kucing.

Tiba-tiba Al berlari dan merebut kembali ponselnya dari tangan Hermione kasar, "Dad, belikan aku anjing, ya. Seperti Karma. Aku mau—"

"No!" potong Harry cepat-cepat. Di belakang Al tampak Hermione mengacungkan jempolnya.

Al terdiam. "Pasti Mum yang menyuruh Dad tidak membelikan anjing untukku. Please!"

"Tidak Al, Mum dan Dad tidak selalu di rumah. Kalau kau sekolah, kasihan anjingnya. Tidak ada yang mengurus. Kalau dia kelaparan, dia bisa mengobrak-abrik isi rumah. Siapa yang susah?" rayu Harry mendapat dukungan sekali lagi dari Hermione.

Al kembali kesal dan tak mau berbicara dengan ayahnya, sampai Harry kembali memanggilnya dan menunjukkan sesuatu padanya. "Al, coba lihat ini—" layar Harry bergerak-gerak sesaat. Kemudian kembali tenang dimana Harry telah memakai kacamata dan membawa sebuah benda persegi berwarna biru.

"Dad menemukannya? Dad meminta bantuan teman-teman Auror Dad untuk mencarinya?" Al tersenyum bahagia music playernya kembali ditemukan.

Hermione ikut bertanya bingung, "di mana kau menemukannya, Harry?"

"Ini diantarkan langsung oleh yang menemukannya ke rumah. Bahkan dengan jalan kaki." Jelas Harry, "Al, dengarkan Dad. Kalau mau apa-apa, turun dari kendaraan jangan sampai ceroboh. Apalagi kendaraan umum. Kau meninggalkan ini di taksi. Untung James menemukannya dan mengantarkannya ke rumah. Dan kau tahu, dia jalan kaki! Kau tak kasihan dengannya?"

Deg! James. Hermione terkejut saat Harry menyebut nama itu. Ia hanya bisa mendengar percakapan Harry dan Al yang langsung membicarakan sosok James. Sesekali terdengar Harry menasihati Al agar tak ceroboh.

"Meski suka bergurau, ia anak yang baik, kan, Dad." Kata Al pada Hermione yang sempat tak percaya pada James.

"Benar, Dad bahkan bertemu dengan kedua orang tuanya," kata Harry. Dada Hermione berdetak tak karuan. James, tapi anak itu memiliki orang tua, batin Hermione.

"Kau mendatangi rumahnya?" tanya Hermione.

Harry mengangguk. "Yeah, aku tak tega dia harus kembali jalan kaki ke rumahnya malam-malam. Dia juga membawa obat untuk ibunya. Ibu James seperti sedang sakit keras. Mereka tinggal serba kekurangan. Jadi, Dad rasa keputusannmu kemarin membelanjakan James sudah sangat tepat, son. Keluarganya sungguh sangat butuh dibantu." Cerita Harry dengan sangat bijaksana.

"Ahh.. nanti kalau kita akan pulang, kita belikan oleh-oleh untuk James, ya, Mum, Dad. Terus kita ke rumahnya. Dad tahu, kan, rumahnya?" tanya Al bersemangat.

Harry ikut bersemangat dan mengiyakan permintaan Al agar membawakan beberapa oleh-oleh dari Australia untuk sahabat barunya itu.

Sedangkan Hermione, ia hanya bisa diam tak bisa banyak berkomentar. Dikepalanya hanya terus terbayang-bayang dengan sosok James. Sosok putranya. Mungkinkah?


Harry menyusul lebih awal. Ia sampai di Australia di Jumat malam. Harry pun telah memikirkan jika ia juga ingin liburan. Paling tidak ia memiliki waktu beristirahat di hari Sabtu sebelum Minggu kembali mengajak Hermione dan Al pulang ke London.

Sabtu pagi, orang tua Hermione mengajak mereka untuk piknik di sebuah taman. Membawa beberapa bekal dan tikar sebagai alas. Al, Hermione, dan Jean asik bermain di bawah bukit sementara Harry dan William menikmati udara segar berdua di atas tikar.

"Dad tak berkeinginan untuk kembali ke London lagi?" tawar Harry.

William menggeleng, "sejak ingatan itu dihilangkan Hermione, aku seperti terpanggil di negeri ini. Dan saat ingatan itu kembali, bahkan melihat Hermione telah hidup bersamamu dan Al, aku dan Jean masih belum begitu rela meninggalkan tempat ini, Harry."

Harry mengangguk paham. Ia tahu bagaimana perasaan mertuanya yang terlanjut nyaman dengan Australia. "Kalau sudah menemukan kenyamanan, rasanya susah sekali untuk meninggalkan." Kata Harry.

"Seperti pasangan hidup. Bahkan sampai mati pun, kalau bisa tak ingin berpisah."

"Aku paham, Dad." Harry menatap William takzim. Ia menemukan sosok ayah yang tak pernah ia dapatkan dari ayah Hermione. Meski hanya ayah mertua, ia begitu menyayangi William seperti menyayangi mendiang ayahnya sendiri, James Potter.

Harry tersenyum ketika Al begitu dekat dengan Jean. "Aku jadi tak tega mengajak Al dan Hermione pulang besok. Mereka begitu dekat dengan kalian. Apalagi Al, dia tak pernah merasa kesepian kalau bersama kalian." Ujar Harry tak tega.

"Mangkanya, mumpung kalian masih muda, apa tak mau tambah anggota keluarga? Apa nasib Al juga akan jadi anak tunggal seperti kalian berdua?" cecar William menggoda Harry.

"Aduhh, kalau aku sebenarnya.. mau, Dad. Jadi anak tunggal rasanya sepi. Tapi.. masalahnya pada Hermione. Sejak kehilangan James, dia seolah merutuki kesalahannya setiap hari. Dampaknya pada Al. Ia terlalu overprotective. Khawatir ini itu. Bahkan, jika ada waktu luang, Hermione tak segan-segan untuk mengawasi Al setiap detik."

Hermione seperti menutup untuk berkeinginan menambah momongan. Ia ingin fokus untuk mengurus Al, karena ia takut niat buruknya untuk mencelakai kembali muncul. Seperti dulu. "Jujur, aku juga merasa sangat kehilangan James. Bahkan beberapa hari kemarin aku dan Jean saling berbicara berandai-anda jika James masih hidup. Pasti keluarga kalian semakin ramai. Harry, keputusan itu ada di tangan kalian. Yang penting, kau dan Hermione harus selalu memberikan kasih sayang untuk putra kalian. Jangan sampai Al tak nyaman dengan orang tuanya sendiri."


Harry, Hermione, dan Al pulang ke London Minggu siang. Perjalanan yang panjang membuat mereka kelelahan. Beberapa oleh-oleh untuk diberikan James dan keluarganya sudah Al siapkan. Mulai dari makanan sampai kaus-kaus bertuliskan nama-nama ikon negeri kanguru tersebut. Mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah James di sore harinya.

"Ayah James pulang kerja sore, jadi kita bisa bertemu mereka kalau berangkat nanti." kata Harry menyarankan pada Al untuk bersabar.

Di sisi lain, Hermione pun ikut tak sabar. Sejak Harry menyebut nama James, Hermione terus memikirkan apakah itu adalah putranya. Ia kembali mengingat surat yang ia dapat di acara pemakaman Madam Sheehan.

"Mrs. Potter," panggil seorang wanita muda. Karina, putri Madam Sheehan, menghampirinya.

Hermione terkejut, ia menatap kebingungan Karina yang ia tahu juga sedang merintis karir sebagai seorang healer. "Sebelum Mum meninggal, ia menuliskan ini dan meminta saya untuk memberikannya pada anda. Tulisannya sedikit tak jelas, tapi saya rasa masih bisa dibaca. Silakan."

Dan kini, Hermione masih terus mengenggam potongan kertas itu lagi. Membacanya berulang kali dan membayangkan satu titik terang tentang keberadaan putranya.

Aku tempatkan dia tak jauh dari anda. Dia bahagia. Tapi.. tolong dia.

"Tak jauh, tapi di mana—"

"Hermione?"

Suara Harry membuyarkan lamunannya. "Ayo kita berangkat sekarang. Al sudah tak sabar bertemu James. Yuk!"

Sepanjang perjalanan, perasaan Hermione campur aduk. Ia begitu penasaran dengan sosok James. Ia ingin mengetahui apa benar itu putranya, tapi.. ia teringat jika James memiliki orang tua. Ia takut jika James yang akan ia temui bukan James darah dagingnya sendiri.

"Kita sudah sampai," kata Harry sambil menunjuk ke arah sebuah rumah.

Al menatapnya tanpa berkedip, begitu juga Hermione. "Kau yakin itu rumahnya, Harry?" bisik Hermione.

"Aku sudah bilang, kan, kalau aku bahkan sudah masuk ke sana. Dan seingatku kalian pasti ingat apa yang sudah sempat aku gambarkan tentang keluarga James." Tutur Harry mematikan mesin mobilnya dan bergegas turun.

Al membawa bungkusan oleh-olehnya tak yakin ingin masuk. Rumah itu berantakan dari luar. Seperti rumah-rumah tak terawat. Harry menepuk pundak Al dan meyakinkan agar mereka segera masuk.

Tok tok tok! Harry mengawali mengetuk pintu namun tak ada balasan dari dalam. Mereka hanya mendengar suara isakan tangis sambil memanggil-manggil 'Mum' beberapa kali. "Itu seperti suara James, Dad?" Al menguping dari balik lubang kunci. Al tak sengaja mendorong pintu itu hingga terbuka.

"Ups, kita masuk? James seperti menangis!"

Harry masuk lebih dulu diikuti Al yang memegang lengan ayahnya erat. "James! Kau di mana? James?" panggil Harry pelan. Ia sendiri takut karena tak sopan masuk ke rumah orang lain tanpa ijin.

"James?" panggil Al.

"Mr. Potter? Al?"

Suara James menyadarkan Hermione jika suara itu bersumber pada salah satu kamar di belakangnya. Hermione berbalik tepat saat pintu kamar itu terbuka. James muncul dan refleks memeluk tubuh Hermione erat sembari berkata, "tolong Mummy, sir. Mum kesakitan dan berdarah—"

James menyadari jika ia memeluk tubuh ramping. Tubuh seorang wanita. Mata James beradu pandang dengan Hermione lantas menjauhkan pelukannya. "Maaf—"

"Kau—" Hermione berdiri tergagap.

"James, ada apa, nak? Di mana ayahmu?" tanya Harry panik.

James mengalihkan perhatiannya pada Harry, "Dad belum pulang. Mummy kesakitan. Katanya perutnya sakit. Dan.. ada darah keluar di—" tangan James menggerakkan tangannya di area selangkangan menuju ujung kaki.

"Astaga, Dad!" Teriak Al yang lebih dulu melihat ke dalam kamar ibu James.

"Kau tenang dulu, James. Hermione!" Panggil Harry menyadarkan keterkejutan Hermione. Ia meminta agar ibu James diperiksa.

James meronta di pelukan Harry sambil terus menangis ketika Hermione mulai memeriksa Jasmine. "Tenang, James. Mum pernah belajar ilmu kesehatan. Jadi jangan takut." Bisik Al menenangkan.

Beberapa saat kemudian, Martin datang dengan wajah kelelahan. Ia terkejut bukan main menyaksikan istrinya berdarah-darah dengan James menangis di pelukan Harry. Ia mendekat ke sisi ranjang dan bertanya pada Hermione yang mengecek keadaan Jasmine.

"Bagaimana istri saya?" tanya Martin.

"Istri anda mengalami pendarahan dalam, sir. Kita harus membawanya ke rumah sakit segera!" kata Hermione sama paniknya.

"Rumah sakit? Tapi—"

"Sudah tidak ada waktu, sir. Anda tenang saja, kami akan bantu!" kata Harry. Ia berlari keluar dan menyiapkan mobilnya agar mendekat ke depan gerbang. Mereka siap membawa Jasmine ke rumah sakit.


Hermione belum bisa melepaskan tatapannya dari James yang masih menangis di pelukan Martin. Sudah hampir lima belas menit Jasmine diperiksa namun belum ada dokter yang keluar menemui mereka.

"Sebenarnya Mrs. Murray sakit apa?" tanya Harry pada Martin.

"Jasmine.. dia sakit kanker ovarium."

Semua yang mendengarnya ternganga tak percaya, kecuali Martin dan James. Mereka telah lama paham bagaimana keadaan Jasmine selama ini. James semakin mengeratkan pelukannya pada Martin sambil menangis ketakutan. "Mummy bagaimana, Dad? Bagaimana?" erang James begitu mengkhawatirkan nasib ibunya.

"Keluarga pasien Jasmine Murray?" panggil seorang perawat wanita.

Martin berdiri lebih dulu. "Saya suaminya," katanya.

"Dokter memanggil anda masuk, sir. Silakan. Untuk yang lain kami mohon untuk tetap tunggu di sini." Suster mempersilakan Martin masuk namun menahan James. Martin meyakinkan agar James tetap berada di luar bersama keluarga Harry.

Badan James bergetar ketika Hermione coba meraih pundak anak laki-laki itu dari belakang. James menolak untuk diajak duduk kembali. Ia memunggungi Hermione tanpa sedikitpun melihatnya.

"Aku takut—" kata James. Suaranya sangat pelan, ia terpaku menatap pintu ruang periksa ibunya tanpa berkedip.

"James, tenanglah, nak. Berdoalah semoga Mum tidak apa-apa, ya. Mummy adalah orang yang kuat, aku melihatnya sendiri ia wanita yang kuat, James."

Suara Harry membuat James akhirnya luluh. Ia berbalik dan mendekati Harry lantas memeluknya. "Semua akan baik-baik saja, James. Kami akan bersamamu. Ok?" bisik Harry mencium puncak kepala James. Al ikut memeluknya.

Hati Hermione tersentuh perlahan. Ia menatap James seolah ia ikut merasakan rasa takut itu. Tangis James begitu menyayat perasaannya. Beberapa menit kemudian, Martin tampak keluar bersama brankar yang berisikan Jasmine tertidur di atasnya. Sebagian tubuhnya tertutup selimut dengan beberapa selang-selang menancap di tangan dan dadanya. James berontak dan berusaha mendekat.

"Mau di bawa kemana Mummy?" teriak James mengejar ibunya yang dibawa menuju ke suatu ruangan.

Martin tampak kebingungan ketika Harry memanggilnya. "Bagaimana?" tanya Harry.

Namun belum sempat Martin menjawab, seorang dokter kembali memanggil Martin lantas berkata, "tolong dipikirkan. Kita tak bunya banyak waktu lagi, Mr. Murray." Katanya.

Jasmine ditempatkan pada sebuah kamar sederhana sebelum Harry kembali memaksa Martin untuk menjelaskannya. "Jasmine harus dioperasi kembali. Kankernya muncul lagi dan kini sudah menyebar." Kata Martin lantas menangis.

"Oh, God! Tapi kenapa Mrs. Murray di bawa ke ruangan ini?" tanya Harry.

"Saya tak mampu—"

"Tapi ini menyangkut nyawa istri Anda, sir. Wanita yang anda cintai!" Harry melirik sekilas ke dalam ruang rawat Jasmine. James menangis terisak di sisi ranjang ibunya ditemani Al dan Hermione. Matanya tanpa senagaja melihat secarik kertas yang dipegang Martin sambil bergetar. "Bisa saya lihat?" pinta Harry.

Martin menolak tegas. Ia berusaha menutupi isi surat yang ia terima dari dokter yang menangani Jasmine. "Please!" pinta Harry sekali lagi.

Dengan terpaksa Martin menyerahkan surat berwarna putih berlogokan rumah sakit pada Harry. Penuh kejelian Harry membaca satu demi satu kalimat yang tertulis di sana. Rincian biaya operasi hingga ruang rawat yang ditawarkan rumah sakit untuk tempat perawatan Jasmine. Itu angka yang sangat besar, di mata Martin.

"Mari kita ke bagian administrasi sekarang, sir." Ajak Harry. Martin tertegun.

"Tidak, Mr. Potter. Saya tak bisa—"

"Dan membiarkan James melihat ibunya seperti ini? Mr. Murray saya tahu posisi anda sekarang, tapi tolong dengarkan saya. Ini menyangkut nyawa istri anda. Pribadi saya tidak pernah mau main-main jika melihat kondisi seperti ini." Harry menunjukkan surat yang ia pinjam pada Martin, "saya akan bantu melunasi semuanya. Mr. Murray hanya perlu menandatangani surat persetujuan operasinya saja. Kita sudah tak punya waktu banyak, sir."

"Tapi—"

"Bukankah saya pernah berkata sebelumnya, kalau saya bisa membantu saya akan membantu. Sekali lagi saya mohon, mari sekarang kita ke bagian administrasi. Mr. Murray!"

Harry memeluk tubuh Martin erat dan melangkah bersama.


Malam itu juga, Jasmine kembali menjalani operasi. Kankernya kembali muncul setelah beberapa tahun divonis dokter telah terbebas dari kanker ovarium sejak operasi pertama. Jasmine bersikeras untuk tidak memeriksakan kondisi tubuhnya kembali dengan alasan ia tak lagi mengidap kanker. Hingga bertahun-tahun Jasmine bertahan hanya dengan obat-obatan seadanya, kini tubuh Jasmine tak lagi kuat untuk menahannya lebih lama lagi.

Dua jam operasi berlangsung. James dan Martin tampak setia menunggu di sisi ranjang Jasmine. Selain membiayai operasinya, Harry juga memilihkan ruang rawat terbaik untuk tempat Jasmine beristirahat. Semua biaya ditanggung oleh Harry tanpa terkecuali.

"Saya merasa gagal menjadi pemimpin keluarga, Mr. Potter." Tutur Martin saat waktu menginjak tengah malam. James dan Al tertidur lelap ditemani Hermione yang masih terjaga. Ranjang tambahan itu hanya cukup untuk tidur Al dan James, sehingga Hermione memilih untuk berbaring miring sambil mengelus pelan kepala James dan Al bergantian.

Suara Harry terdengar berat di telinga Hermione ketika menjawab beberapa kata yang dikatakan Martin. "Mengapa anda bicara seperti itu? James bahkan begitu bangga menceritakan tentang anda pada saya." Kata Harry. Hermione mendengar segala pembicaraan Martin bersama Harry di sofa sisi ranjang.

"Saya hanyalah seorang ayah yang membuat hidup putranya dalam ketidakberdayaan. Saya tidak pernah membahagiakan James seperti ayah-ayah yang lain. Saya tidak mampu membelikan apa yang James inginkan." Cerita Martin membuat Hermione tersentuh. Ia terisak pelan dalam posisinya memeluk James yang tidur paling dekat dengannya.

"Semua tidak harus dibeli, sir. Anda memiliki apa yang dibutuhkan banyak anak dari sosok seorang ayah. Cinta." Jawab Harry.

Martin mendesah pelan sembari menatap Jasmine yang masih tak sadarkan diri.

"Saya dan Jasmine begitu beruntung memiliki James. Dia segalanya bagi kami. Dia merubah hidup kami, Mr. Potter. James, memberikan cinta pada keluarga kami. Saya dan Jasmine bertekat akan berusaha sekuat tenaga agar James hidup bahagia sepanjang hidupnya. Berusaha menjadi pelindung James dari siapapun yang ingin mencelakainya." Martin mengusap air matanya dengan tisu pemberian Harry. "Saya akan terus berusaha menjadi kuat untuk James dan istri saya, Mr. Potter."

Harry mengangguk paham. "Semua ayah pasti akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya, Mr. Murray. Menjadi kuat untuk istri dan anaknya. Itu pasti." Tutur Harry membuat Martin tersenyum.


James membuka matanya lebar-lebar. Ia mendapati seragam sekolah, tas, telah siap di sisi bantalnya. James mencari keberadaan Al yang sudah menghilang di sisinya. Harry dan Hermionelah yang pertama dilihat James.

"Selamat pagi, James. Setelah Al, kau langsung mandi, ya. Nanti kita terlambat ke sekolah." Kata Harry menyiapkan tas Al.

Hermione menghampirinya dan menyerahkan sekotak makanan untuknya. "Sandwich gandum dengan daging asap, keju, dan sayuran. Semoga kau suka, sayang. Makan, ya." Kata Hermione.

"Ta-tapi.. aku tak bisa sekolah. Mummy—"

"Berangkatlah, nak."

"Mum?" James bergegas turun dari ranjang dan menghambur ke pelukan Jasmine. "Kau sudah sadar?" tanyanya lagi.

Jasmine mengangguk lemas. "Berangkatlah dengan keluarga Mr. Potter. Mum baik-baik saja. Ada Dad yang menjaga Mum. Belajar yang benar. Nanti sepulang sekolah kau bisa kemari lagi." Kata Jasmine meyakinkan James agar mau bersekolah.

Akhirnya, James pun mau untuk berangkat sekolah bersama Harry dan Hermione. Saat waktu pulang sekolahpun, James kembali di jemput. Tepat saat ia akan masuk ke dalam bus, suara teriakan Al terdengar dari kejauhan. Sebuah mobil mendekat dan memintanya untuk masuk.

Hermione dan Al berada di bangku depan menyapanya dengan senyuman lebar. Mereka lantas bergerak menuju rumah sakit. Hanya ada Martin, Jasmine, Hermione, Al, dan James di sana hingga malam. Harry menyampaikan permohonan maafnya ketika sampai di rumah sakit menjelang malam.

"Tidak apa-apa, Mr. Potter. Anda juga kan bekerja. Bahkan saya merasa tidak enak kepada Mrs. Potter telah menjemput James juga dari sekolah." Kata Jasmine mengulum senyumnya manis. Wajahnya masih tampak pucat.

Hermione tersenyum sambil mengelus punggung tangan Jasmine. "Ini sudah kewajiban kita semua saling membantu. Kami sudah menganggap James seperti anak kami juga." Kata Hermione seolah menyentak perasaan Jasmine.

"Yeah.. saya sungguh berterima kasih. Dan—" Jasmine melihat keakraban James, Al, Martin bersama Harry begitu asik bermain monopoli yang baru dibeli Harry sepulang dari Kementerian. "Saya merasa tenang."

Hermione terdiam tak bisa berkomentar. Dadanya mulai gerimis. "Saya sangat menyanyangi James. Selama ini saya berat untuk jauh dengan James. Tapi, saya sadar waktu saya tidak banyak lagi." Jasmine menatap Hermione lekat. Matanya berkaca-kaca.

"Saya titip James, Mrs. Potter. Ia membutuhkan ibu yang lebih baik, dan saya yakin.. anda bisa. James telah banyak menderita hidup bersama ibu seperti saya. Dia patut mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, Mrs. Potter. Saya ingin James tak lagi disia-siakan. Ia anak yang baik. Saya pastikan pada anda bahwa James adalah anak yang baik. Jadi tolonglah James, mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan."

Hermione tak mengerti apa maksud pesan Jasmine itu padanya. Ia hanya mengangguk berusaha membuat Jasmine tenang. "Saya sungguh berterima kasih. Terima kasih."


James harus berkali-kali diyakinkan Jasmine agar beristirahat di rumah Harry karena alasan James harus belajar untuk sekolahnya esok. "Kau harus istirahat juga, James. Lihat! Kasihan Al, ia juga harus istirahat. Mr. Potter dan Mrs. Potter juga harus bekerja besok. Kalau ikut mereka, kau bisa dijaga dan beristirahat nyaman. Mum di sini bersama Dad. Besok kau bisa kemari lagi." Pesan Jasmine sambil memeluk tubuh James.

"Tapi—"

"Mum sangat menyayangimu, James. Always. Jadi maukan, kau ikut pulang bersama Mr. Potter? Mum tak mau kau ikut sakit, sayang," rayu Jasmine sekali lagi.

Hermione berbisik pada James agar mau diajaknya pulang. Sekali dua kali, James masih menolak, namun dengan perintah ayahnya James akhirnya bersedia.

Di rumah keluarga Potter, Al mengajaknya naik ke lantai dua menuju kamar yang disiapkan untuk James. "Kau tidur di kamar ini saja, ya. Sebenarnya kamar tamu ada di atas. Walaupun lebih sempit, kau tidur di sini saja. Biar kita berdekatan. Kamarku di sebelah. Itu!" tunjuk Al pada kamarnya di sebelah kiri kamar yang disiapkan untuk James.

"Ahh, kalau itu?" tunjuk James pada sebuah kamar dimana pintunya sedikit terbuka. Ia seolah dipanggil menuju kamar itu. James berjalan mendekat dan mengintip sekilas isi kamar terluas di matanya.

James tertegun. "Itu kamar Mum dan Dad. Kamarmu di sana, James. Memangnya kenapa dengan kamar Mum dan Dad?"

Aku seperti tak asing dengan kamar ini, Al, batin James. Tapi ia hanya bisa menggelang dan mengikuti Al menuju kamar yang disiapkan untuknya. Kamar Dan tepat saat Al berkata, "semoga kau nyaman," pada James, Al langsung terlonjak ketika James tiba-tiba terduduk lemas sambil mulut ternganga.

"Ini kamar? Besar sekali!" kata James tak percaya.


"Aaaagghhh!"

"Hey, James. Tenanglah! Tak apa-apa. Kau aman. Ini aku. Hermione!"

Hermione mendengar James berteriak ketika ia terbangun untuk mengambil minum. Tubuh James bergetar di pelukan Hermione. "Kau bermimpi apa, nak? Kau aman di sini."

"Aku.. aku seperti sedang digandeng oleh seorang wanita. Aku tak tahu siapa. Tapi.. tiba-tiba aku ditinggal sendirian. Aku memanggilnya tapi dia semakin jauh pergi meninggalkanku. Lalu.. tanganku seperti ditarik kasar masuk ke dalam sebuah ruangan gelap, aku takut!"

Hermione berpikir, itu adalah sebuah pertanda. Tapi ia tak mau mengambil kesimpulan itu pada James. "Kembalilah tidur, aku akan menamanimu di sini. Ya!" pinta Hermione ikut berbaring di sisi James.

Sempat mata mereka saling adu, Hermione merasa ia begitu mengenal mata itu. Bahkan James, tergerak untuk mengusap air yang membasahi bagian pipi Hermione akibat minum yang tergesah-gesah. Memori itu terulang kembali.

Tangan kecil putra yang baru Hermione lahirkan seolah menggerakkan tangannya mengusap peluh di di pipinya. Hermione sangat mengingat usapan itu.

"James." Panggil Hermione sesaat setelah James kembali lelap dalam tidurnya.

Keesokan paginya, masih sangat pagi, James kembali terbangun. ia tidak bisa tidur nyenyak akibat memikirkan ibunya di rumah sakit. James membuka pintu kamarnya dan mendapati suara berisik di dalam kamar Harry dan Hermione yang terbuka. Di sisi kamarnya, Al ikut keluar dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

Keduanya lantas bersama menuju kamar Harry dan Hermione. Melihat Hermione menangis di atas ranjang sedangkan Harry sibuk menelepon dengan wajah memucat. Keduanya masih memakai piama.

"Mum?" panggil Al.

Harry lebih dulu menoleh dengan tangan masih menempelkan ponsel di telinga. Hermione mengusap airmatanya segera mendekati kedua anak laki-laki itu. "Hari ini kalian tidak perlu ke sekolah dulu, karena—"

"Apa?" James semakin ketakutan melihat Harry yang kini telah selesai berbicara melalui teleponnya.

"Bersiaplah, kita ke rumah sakit sekarang. James Al, kalian—" kata Harry.

"Ada apa, Mr. Potter? Mrs. Potter? Katakan!" paksa James sambil menangis.

Hermione menunduk kembali menangis. Ia berusaha kuat kembali tegak. Berusaha untuk tidak lagi menangis, sembari ia menatap James lekat lantas berkata, "Mummy meninggal, James."

- TBC -


#

Hai, bagaimana, bosen? Kepanjangan? Semoga masih bisa menikmati, ya. Maaf kalau masih ada typo. Anne minta maaf.

Bagaimana nasib James setelah Jasmine meninggal? Tunggu kisahnya di chapter 5, ya! Anne tunggu review kalian! :)

Thanks,

Anne xoxo