Hi, everyone!

Anne muncul lagi dengan chapter 5. Wuhho! Anne sempat bingung mau nulis apa buat pembukaan. Pikiran Anne sedikit kacau hari ini. Anne seneng banget gara-gara tadi Anne baru lihat trailernya fantastic beasts and where to find them yang rilis. Tapi di sisi lain.. anak-anak kucing Anne mati semua nggak tahu kenapa. Huhuhu.. mohon doanya untuk kucing Anne ya. Kasihan induknya, galau seharian. Anne jadi ikutan galau.

Oke, mungkin Anne langsung jawab review. Langsung!

Dimenstorm: Oh, man! Aku terima kasih sekali sama kamu. Ya, aku koreksi semua. Terima kasih sudah diingatkan dengan typo-typonya. Untuk rumah Harry, dalam cerita ini tidak dilindungi apapun. Mengingat orang tua Hermione yang Muggle, tempat tinggal mereka di perumahan Muggle, Harry punya usaha di sana, Al sekolah, dan tentu saja niat Hermione sendiri yang diam-diam berharap bertemu lagi dengan James. Begitu kira-kira alasannya. Thanks, ya! :)

Gabby-chann: em.. butuh proses untuk James dan keluarga Potter bersatu. Hubungan saudara juga akan berpengaruh. Ikuti saja kisahnya! Thanks, ya! :)

Afadh: Hermione akan mempermasalahkan pengasuhan James di chapter ini. Oh ya IG kamu di kunci, ya. Sudah aku follow, kok. Tapi ya menunggu persetujuan. Coba cek. Thanks, ya! :)

rara chan23: yuk.. reaksi kamu sendiri bagaimana, hehehe.. ikuti terus kisahnya! Thanks, ya! :)

Baiklah.. Anne langsung persilakan saja untuk membaca. Oh, ya untuk yang penasaran dengan bagaimana bentuk rumah Harry dan Hermione itu bagaimana, Anne sudah posting gambarnya di IG Anne ya (lihat profil Anne).

Happy reading!


Meja kerja Hermione penuh berkas-berkas Kementerian dan beberapa berkas lain dari perusahaan percetakan buku yang ikut ia kelola bersama Harry. Ia memilih menyendiri di dalam ruangan kerjanya sambil terus berusaha menyelesaikan satu berkas. Tapi hingga dua jam berlalu, dari lima berkas total keseluruhan yang ada, Hermione hanya mampu menyelesaikan tuntas satu map saja. Sedangkan masih ada 4 berkas lain yang salah satunya bahkan terdiri dari dua map laporan. Hermione kesulitan berpikir malam ini

Semangat menyelesaikan semua tugas itu seolah redup perlahan ketika wajah James kembali muncul di kepalanya. "Benarkah?" batin Hermione mengenang sosok anak yang baru dikenalnya itu. Ia meraih ponsel di sisinya. Mematikan musik yang ia putar samar-samar demi membantunya tenang.

Suasanya kembali hening, jam di ponselnya menunjukkan pukul 9 malam. Ia sama sekali belum mengantuk. Jemarinya bermain menggerakkan tampilan di layar ponsel. Mengeser beberapa ikon dan menyentuh satu folder yang tampak sekali baru ia buat.

"Dia, oh Tuhan.. aku merasa begitu dekat jika melihat wajahnya." Kata Hermione. Ada beberapa foto James yang sempat ia ambil dengan ponselnya ketika acara pemakaman Jasmine berlangsung beberapa hari yang lalu. Tepat di bagian wajah James, Hermione memperbesar tampilannya. Ia memfokuskan pada area mata dan hidung.

Hermione menangis. "Tatapannya. Dia memilikinya. Dia seperti James. Putraku. Tapi.. dia memiliki orang tua—"

Jari Hermione cepat-cepat mengubah foto James yang diperbesar menjadi ke ukuran semula. Foto James yang dipeluk oleh Martin membuat hati Hermione memanas. Ia membandingkan wajah James dengan sosok Martin yang sedang bersama. Jika diperhatikan memang berbeda. Pria yang beberapa tahun lebih tua dari Harry itu tidak setampan James. Jika melihat Martin, Hermione seolah mengingatkan ia dengan wajah Neville ketika masih anak-anak dengan bagian gigi atas menonjol. Jauh dari sosok James yang memiliki bentuk wajah tampan dan manis khas anak-anak.

"James hanya memiliki rambut hitam Mr. Murray. Tapi, itu tampak berbeda. Rambut James acak-acakan dan sedikit berombak berbeda dengan rambut Martin yang lurus, tidak terlalu lebat."

Pelan-pelan Hermione menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya, berusaha tenang sambil terus menganalisis hasil fotonya. Dipijatnya pelipis kanannya pelan-pelan. "Kalau tidak salah, rambut Mrs. Murray pun lurus. Apa bisa gen mereka mempengaruhi James.. oh, astaga—"

Jari Hermione tak sengaja menggeser foto hingga menampilkan foto lain, dimana foto selanjutnya menampilkan James yang menangis di salah satu bangku dengan Harry berada di depannya sedang berjongkong merendahkan tubuhnya agar sama dengan James. Tampak Harry mengelus pipi James seperti sedang membicarakan sesuatu.

"Mereka berdua—" Hermione kembali memperjelas gambar dengan memperbesar tepat di wajah Harry dan James. Dari sisi yang sama, mereka seolah dalam satu jiwa. Mata Hermione melihat dua sosok laki-laki yang begitu mirip dalam postur tubuh yang berbeda. Mulai dari sudut bibir, bentuk hidung, dan rahang, James memilikinya seperti Harry. Kecuali bentuk mata dan proporsi tubuh. Jika mengingat masa kecil Harry, James lebih jangkung. "Mungkinkah?" batinnya terus bertanya. Mengajak turut serta tetes demi tetes airmata keluar dari ujung matanya.

"Oh, James—"

"Hermione!"

Harry muncul dengan kekhawatiran memuncak. Ia melihat Hermione menangis di tengah remang cahaya kantornya tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Harry mengelus pundak istrinya penuh kelembutan. "Ada apa, Mione?" tanyanya. Pandangan Harry kini beralih pada tumpukan dokumen di atas meja yang berserakan tak teratur. Bukan tipe Hermione yang bekerja seperti itu. Acak-acakan.

"Berhentilah. Kerjakan besok. Kalau kau tak mampu, untuk laporan perusahaan besok aku serahkan Duran agar menyelesaikannya. Kau butuh istirahat, sayang." Ujar Harry penuh perhatian.

Hermione menggeleng sambil menahan tangan Harry yang mengangkat ponselnya. Harry hanya ingin mengambil kertas yang berada di bawah ponsel itu untuk ia tumpuk dengan kertas yang lain, namun tiba-tiba Hermione menolak. Seolah tidak suka ponselnya di sentuh oleh Harry. "Ada apa?" Harry penasaran.

Harry menekan tombol lingkaran di bagian bawah ponsel Hermione dan melihat sendiri apa yang sedang disembunyikan. "James? Kau menangisi James?" tanya Harry mendapati foto James tertera di layar ponsel itu.

Hermione diam, menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan muka. Menangis terisak. Harry terus menatapnya sementara dirinya tak kuasa untuk sekadar menatap atau menjawab pertanyaan suaminya itu. "James. Lagi.. Oh, Hermione—"

Keduanya saling pandang meski masih dalam diam. Harry kembali berdiri dan menyandarkan dagunya di atas pundak Hermione. Mengecup belakang lehernya lantas berbisik, "Mrs. Murray menitipkan James padamu karena ia tahu kau ibu yang baik. Dan itu benar. Lalu James—"

"Dia putra kita." Kata Hermione bergetar. "Dia James, Harry!"

"Benar, dia James. James putra Mr. dan Mrs. Murray. Putra kita sudah meninggal, Hermione."

Inilah puncaknya bagi Hermione. Harry mengatakan juga jika James, putra mereka, telah meninggal. Karena memang itu fakta yang banyak orang tahu. Bahkan berbagai media di dunia sihir pun menjadikan berita kematian putra pertama Harry sebagai headline kala itu. "James kita telah lama meninggal, Hermione. Bahkan makamnya masih ada."

Tetap, Hermione menggeleng.

"Dia masih memiliki ayah dan itu artinya kita tidak bisa mengadopsinya. Bukan berarti Mrs. Murray menitipkannya padamu artinya James adalah milikmu. Ingat, James masih memiliki Mr. Murray. Ayahnya!"

"Tapi James—"

Cup! Harry menekan bibirnya di permukaan bibir kering Hermione. Istrinya terlampau jauh berlebihan memikirkan masalah James. "Sadarlah jika James telah pergi. Mengertilah, sayang! Kasihan James, di sana dia telah tenang. Kasihanilah mereka yang masih hidup, Mione. Aku! Al! Dirimu sendiri! James! Karena ibunya telah menitipkannya padamu. Mrs. Murray menitipkan 'nyawa' yang harus kau jaga. Kita jaga."

Sebelum kematian Jasmine, Hermione menceritakan pesan terakhir itu pada Harry dan mengungkapkan bahwa ia akan senang hati ikut merawat James seperti anaknya sendiri. Rasa cinta seorang ibu itu dengan mudahnya muncul ketika ia dihadapkan pada James. Seperti ia dengan Al. Ia mengasihi James seolah dirinya menemukan putra yang lama ia buang bertahun-tahun lalu. Menyisakan penyesalan dan penebusan dosa di mata lugu James.

"Kuat, Hermione! Perjalanan hidup kita masih panjang. Anak kita, Al, James.. Begitu juga Mr. Murray, ia harus bertahan untuk dirinya. James membutuhkan kasih sayang." Bisik Harry pelan.

Hermione mengangguk pasrah. Ya, mungkin belum saatnya, ia harus menemukan semua bukti kebenarannya untuk Harry. Tidak mungkin ia hanya mengandalkan insting seorang ibu di dirinya dan.. sihir.

Mulut Hermion mengeluarkan suara berbeda, dari isakan hingga kini berseling desahan pelan. Harry memeluknya begitu nyaman. Merasakan hangatnya napas sang suami di sekitar lehernya. Beban-beban di kepalanya perlaham mereda. Hanya dengan Harry lah ia akan menemukan kenyamanan itu.

Tidak hanya pada Harry, Hermione pun terkadang merasa dirinya semakin malas dengan kemampuan sihir tanpa tongkatnya. Ia sedang berusaha membiasakan untuk melakukan pekerjaan dengan kemampuannya sendiri tanpa terus mengandalkan sihir. Apalagi hal sepele seperti menutup pintu, seperti saat ini.

"Harry—" panggil Hermione susah payah. Ia tak bisa berkutik.

Entah sejak kapan Harry berhasil menguasai tubuh Hermione, mengangkatnya hingga saat ini wanita itu terduduk di atas meja dan bersandar kasar di tepian rak buku. Beberapa berkas terjatuh dan yang selanjutnya Hermione ingat hanya ada Harry yang merapalkan mantara peredam suara dan menyingkap sesuatu yang ia tutupi.. di bawah sana.


Al menyuapkan potong demi potong roti bakarnya ke mulut. Menyesap susu dan kembali memakan rotinya. Kebiasaan Al setiap memakan apapun, minuman jangan sampai jauh dari dirinya. Liburan musim panas ini sebagian besar dihabiskan Al di rumah saja. Hari ini rencananya, Hermione memilih untuk berisitirahat di rumah dan memilih menemani Al, sementara Harry tetap bekerja. Ia telah mendapatkan ijin libur dari Kementerian untuk satu minggu mendatang. Atas saran Harry, akhirnya Hermione mau untuk mengistirahatkan otaknya dan bersantai di rumah.

"Sebentar lagi liburanku selesai. Aku ingin jalan-jalan lagi, Dad!" rajuk Al pada Harry.

Harry tersedak roti bakarnya. "Minggu lalu, kan, kita sudah ke Manchester? Kau lupa, seharian kau dan Mum tak mau kembali dari John Rylands Library? Padahal hari itu ada tiga tempat yang harusnya kita datangi."

Hermione dan Al saling pandang. Mereka mengingat bagaimana Harry harus sabar menemani dua orang yang sama-sama gila dengan buku dan segala yang berhubungan dengan benda berlembar-lembar itu. Sejak pukul 11 siang mereka sampai di sana, Harry berhasil membujuk Hermione dan Al untuk kembali ke hotel setelah hampir lima jam mereka nyaman berjalan-jalan di sana.

"Berada di sana mengingatkan aku seperti di Hogwarts, sayang." Ujar Hermione ikut memprotes. Ia sendiri sangat betah berada di perpustakaan itu.

Di sisinya Al terbahak mengingat bagaimana ia dan ibunya harus pintar-pintar merayu Harry agar mau menemani mereka. Harry berubah cemberut mengingatkan kejadian itu. "Untung saja ada hotel yang kosong di liburan seperti itu. Kalau mau rencana menginap, apalagi di musim liburan, harus diperhitungkan dulu." Saran Harry mengintruksi Al sekaligus Hermione. Keduanya hanya bisa menunduk sambil menahan tawanya di depan Harry. "Nah, kali ini kau mau liburan ke mana lagi, Al?" tanya Harry lagi.

"Terserah! Ke Manchester lagi juga tak apa, Dad. Kan, belum sempat ke musium-musium di sana kemarin. Boleh, ya. Janji, deh! Nggak lama-lama. Tapi—"

Al membenarkan posisi duduknya, melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Harry penuh persetujuan. "Kita ajak James dan Mr. Murray juga. James suka sekali dengan bola, kita bisa mengunjungi musium sepak bola di sana. Mereka butuh hiburan, Dad. Kasihan kalau terus berduka. Kita bisa ikut hibur mereka. Boleh, ya. Please! Aku mohon!"

Telapak tangan Al tertangkup di depan wajahnya. Memohon Harry dan tentu saja Hermione menyetujui permintaannya. Ah, pasti mereka mengabulkan, batin Al. "Ayolah!"

Hermione menoleh ke arah Harry. "Bagaimana?" tanya Hermione. Dalam hatinya berkata, boleh, lah, Harry! Ajak James juga!

"Boleh juga. Kita buat perjalanan seperti yang lalu?" tawar Harry. Wajah Hermione berubah cerah. Begitu juga Al.

Al menelan cepat-cepat roti di mulutnya sambil melambaikan tangan pada Harry. "No, kita buat perjalannya berbeda. Jangan naik pesawat." Tolak Al. Ia mengusap mulutnya dengan serbet kecil di samping piringnya.

"Lalu?" Hermione penasaran.

"Naik kereta. Di King's Cross!" Sebut Al pada salah satu stasiun kereta tersibuk di Inggris itu.

Harry mengerutkan dahinya. "Dari King's Cross? Kenapa tidak naik mobil saja. Langsung."

"Supaya dapat banyak sensasi, Dad." Al meraih ponselnya dan mencari kontak James. Siap mengirim pesan ajakan berlibur. "Dari sini kita naik mobil. Terus ke stasiun naik kereta. Nggak makan waktu lama, kan?"

Hermione memikirkan perhitungan cepat tentang lama perjalanan mereka nantinya. "Kalau dari sini ke King's Cross mungkin hanya satu setengah jam. Lalu naik kereta ke Manchester mungkin dua sampai tiga jam lebih. Kalau kita berangkat pagi jam enam, bisa saja kita sampai Manchester tidak sampai siang. Itu kalau lancar." Tutur Hermione.

Cling! Al meletakkan kembali ponselnya di atas meja dengan senyum mengembang indah di wajahnya. "James setuju! Mr. Murray juga! Tapi katanya kalau Mr. Murray belum begitu tahu tinggal kapan kita berangkat, Mr. Murray butuh mengatur hari kerjanya."

"Kau menghubungi James?" tanya Hermione syok.

Al mengangguk sambil menunjukkan ponselnya. "Astaga! Itu artinya aku memang harus mencari waktu untuk liburan lagi."

Sontak Al melompat kegirangan sambil menggoyang-goyang tubuh Harry dan memeluknya erat. "Terima kasih. Thank you, Daddy! OMG! I love you, Dad!" Al mengecup pipi Harry saking bahagianya.

"Mummy tak mau cium Dad juga? Di sini!" pinta Harry melirik ke arah Hermione. Jarinya menujuk ke arah bibirnya. Al cepat-cepat menutup matanya lantas berkata, "silakan. Aku sudah tutup mata."

Dan pagi itu menjadi pembuka hari yang sangat menyenangkan.


Meski bersekolah di tempat yang berbeda, waktu liburan James dan Al hampir sama. Untuk James, sekolahnya mulai kembali masuk di minggu pertama, tepatnya hari Senin tanggal 8 September mendatang. Sementara sekolah Al, baru masuk satu minggu setelahnya. Sesuai yang dijanjikan Harry, liburan ke Manchester untuk yang kedua kalinya dalam musim ini berbeda dari liburan sebelumnya.

Harry beserta Hermione dan Al berangkat dari rumah pukul 6 pagi. Mereka langsung menuju ke rumah James untuk menjemput keduanya. Mr. Murray tampak bersiap dengan membawa ransel seperti James. Begitu juga Al dan Harry. Untuk Hermione masih sama seperti liburan yang lalu, membawa tas tangan yang cukup besar berisi keperluannya selama perjalanan.

Mereka sampai di Manchester tidak sampai pukul 11 siang. Perjalanan darat mereka mulus tanpa ada gangguan apapun. Sejak dari rumah, Hermione dan Harry telah mempersiakan tempat mana saja yang akan mereka kunjungi.

Tujuan pertama mereka adalah dua musium sekaligus. Yang pertama adalah People's History Museum yang telah lama ingin Hermione kunjungi. Selanjutnya mereka langsung menuju ke musium teknologi dan industri paling terkenal di Manchester. Al dan James diharapkan tidak hanya berlibur mencari hiburan melainkan mereka juga menambah pengetahuan dari kunjungan itu. Mereka melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta menuju tujuan wisata selanjutnya.

Salah satu witasa yang mereka pilih adalah perkebunan indah di kawasan Didsbury, Fletcher Moss Botanical Garden. Harry dan Hermione menyempatkan untuk banyak mengambil foto di taman itu. Karena lokasi yang cukup jauh, mereka memutuskan untuk cepat bergerak kembali ke pusat kota untuk mengunjungi National Football Museum. Salah satu tempat yang begitu idam-idamkan James untuk dikunjungi.

Salah satu fakta baru mereka ketahui bahwa selain basket, James menyukai juga olahraga sepak bola. Sama seperti Martin. Bahkan setelah mereka puas dengan musium sepak bola itu, Al memohon untuk sebentar mengunjungi stadion kandang dari tim kebesaran di sana. City of Manchester Stadium.

"Kita ke stadion klub Manchester City? Benarkah?" tanya Martin bersemangat. Apalagi mendengar tim sepak bola favoritnya disebut-sebut.

Harry tersenyum girang. "Pasti ini akan jadi kenangan terhebat anda, sir. Kalau beruntung, kita cari pemainnya juga. Foto bersama!" goda Harry meningkatkan semangat Martin.

"Tunggu apa lagi? Ayo!" Seru Hermione mendapatkan sorakan keras dari James dan Al bersamaan.


"Sorry, Mr. Potter. Ini juga salah saya."

Martin ikut menunduk bersama Al dan James yang terlebih dulu menunduk ketakutan di depan Harry. Hermione ikut kesal mengingat waktu menunjukkan pukul 7 petang. Sudah jauh dari batas waktu mereka berkeliling yaitu pukul 5.

Martin bersama Al dan James luar biasa bahagia ketika kaki mereka menginjakkan kaki di stadion sepak bola itu. mereka sampai berteriak-teriak untuk meluapkan rasa gembira mereka. Sempat mendengar informasi jika ada beberapa pemain Manchester City yang berada di stadion itu, Al memaksa untuk mengajak Martin yang begitu ingin bertemu dan mengambil gambarnya. Sebenranya Martin pun sudah sempat menolak, tapi berkat bujuk rayu James, ia akhirnya mau dan jadilah.. mereka kembali dengan tatapan mematikan dari Harry. Hermione menolak ikut campur meski dirinya juga kebingungan harus bagaimana.

Mereka tidak mungkin pulang. Tidak ada kereta tujuan London hingga tengah malam.

"Maaf!" seru James dan Al bersamaan.

"Kalau sudah begini? Mau bagaimana lagi?" ujar Harry bernada keras. Ekspresi wajahnya berubah menakutkan. Al tahu itu pertanda kemarahan ayahnya mulai keluar.

"Kita menginap di hotel yang waktu itu?" tanya Al coba memberi saran masih dengan takut-takut.

Hermione melotot, "benar. Bagaimana dengan hotel itu, Harry?"

Harry langsung menggeleng. "Sudah penuh. Bahan sejak satu minggu yang lalu." Kata Harry tegas. Ia kembali memperhatikan dua anak laki-laki di hadapannya yang begitu ketakutan.

"Da-dari mana kau tahu, Harry?" tanya Hermione.

Tiba-tiba Harry merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan dua lembar print out bertuliskan rincian transaksi pemesanan hotel di kawasan tepian sungai Irwell. Nama hotel itu cukup dikenal oleh Al, James, Martin, begitu juga Hermione.

"Hotel Manchester Marriott Victoria & Albert? Itu, kan, hotel yang besar di dekat People's History Museum? Kau ingat?"

"Itu hotel bintang empat, Mr. Potter?" tanya Martin.

Harry mengangguk. "Hanya dapat di sana. Itupun hanya dua kamar. Kamar terakhir. Aku memesannya satu minggu yang lalu. Entahlah, jika kita mencarinya sekarang. Mungkin kita benar-benar harus tidur di pinggir jalan." Tutur Harry mendapat tatapan kebingungan dari mereka semua.

"Ok, aku sudah mempersiapkan ini. Yeah, belajar dari liburan yang lalu." Kata Harry sambil tersenyum kaku.

"Apa itu?" tanya Martin. Ia memperbaiki tas ranselnya yang sempat melorot akibat tarikan James mengajak menghadap Harry tadi.

Harry berdehem sambil menatap Al dan James sadis. "Pelajaran yang aku dapat adalah.. Jika berlibur hingga ke luar kota bersama anak-anak, jangan harap selesai dalam satu hari. Inilah.. mungkin bisa menjadi solusi?" tunjuknya pada bukti pemesanan kamar hotelnya.

"Ayo, cepat! Aku sudah ingin mandi!" Teriak Harry mengomando para anak, Martin, dan Hermione segera bergerak mencari taksi menuju hotel. Martin mengikuti James dan Al yang lebih dulu berlari di depan meninggalkan Hermione dan Harry yang berjalan santai di belakang.

Cup! Hermione mengecup cepat pipi Harry dari sisinya. "Wow!" Harry tergelitik untuk mulai menggoda Hermione akibat ciuman itu. "Jangan menggoda, sayang. Aku hanya pesan dua kamar, kita akan tidur dengan Al." Kata Harry bernada manis menggelitik.

"Jangan mikir aneh-aneh. Malu sama Mr. Murray." Wajah Hermione bersemu merah. Ia lantas meraih lengan Harry dan mengapitnya erat. Rasa hangat merasuk perlahan ke hati Hermione.

Ke esokan harinya mereka check out lebih awal. Mereka bergegas lebih cepat untuk mengejar kereta pertama menuju London pagi ini. Setelah menunggu beberapa saat, Harry siap dengan lima tiket kereta untuk mereka semua. Kereta menuju stasiun King's Cross segera berangkat beberapa menit lagi.

Mereka sampai London tepat saat Harry menengok jam tangannya yang menunjukkan pukul 9.30 pagi. Satu persatu anak-anak lebih dulu turun kemudian diikuti Hermione. Harry dan Martin saling bantu menurunkan barang-barang belanja mereka dari atas kereta. Al yang lebih dulu turun tertarik pada beberapa pengunjung di King's Cross yang berdatangan dengan troli, koper, dan sangkar-sangkar burung di atasnya.

"Ini tanggal berapa?" tanya Al pada James yang turut membantu ayahnya menurunkan satu tas besar oleh-oleh dari Manchester.

"Satu September, Al." Jawab James tanpa menatap Al. Hermione tak sengaja ikut mendengarnya dan berbalik melihat apa yang sejak tadi dipandangi Al. Satu persatu orang menembus tembok peron 9 ¾ yang ternyata berada di samping mereka.

Hermione tersenyum sadar, "dua tahun lagi, Al. Kau sendiri nanti yang mendorong trolimu ke sana—"

"Aagghh apa itu!"

James berteriak tepat saat Al melihat seorang anak perempuan mendorong trolinya menembus tembok dan menghilang. Harry yang pertama tahu apa yang dilihat James di depan mereka. Martin khawatir lantas memeluk James erat.

"Orang-orang itu menembus te-tembok, Dad!" kata James. Harry lantas berlari menghampiri dan menatap James kebingungan.

Harry menepuk pundak James pelan. "James? Kau—"

"Aku tak bermimpi, kan, Mr. Potter? Dad! Aku melihat itu!" tunjuk James tepat ke arah tembok. Martin tampak kebingungan. Ia tak melihat apapun di sana. Hanya tembok.

Al menarik Hermione ikut menatap James tajam. "Jadi ternyata kau pe—"

"Kita jelaskan di rumahmu, James." Hermione cepat membekap mulut Al agar berhenti melanjutkan kalimatnya. "Itu semua ada jawabannya, nak."

"Anda melihatnya juga, Mrs. Potter?"

"Bahkan Al dan aku pun juga. Kami melihatnya. Dan ini.. akan kami jelaskan sesampainya kita di rumah. Kau tenanglah. Ini akan baik-baik saja."

Harry menenangkan James sambil memeluknya ke dada. Membisikkan kata-kata menenangkan jika apa yang sudah dilihat James adalah wajar.. bagi seorang penyihir.

- TBC -


#

Oke, mungkin ada selingan yang bagaimana gitu ya.. Ya, paling enggak Anne udah masukkan fic ini di rate T. Hehehe.. sebagai info, beberpa objek wisata itu memang ada. Tapi kalau lokasinya dekat mana-mananya Anne nggak tahu jelas. Kalau Hotel tempat menginap itu.. memang ada di dekat musium yang dikunjungi. Huhohoho... Anne nggak tahu bola! Maaf banget kalau salah.. Kalau masih salah mohon koreksinya.

James mulai terkuak jati diri penyihirnya. Bagaimana cara Harry dan Hermione menjelaskan semuanya? Tunggu chapter selanjutnya. Maaf untuk typo yang masih luput dari mata Anne. Mohon maaf.. Anne tunggu reviewnya!

Thanks,

Anne xoxo