Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih! Telat dua hari, ya! Maaf, seharusnya kemarin Anne update tapi tulisannya belum selesai. Nggak konsen gara-gara nonton Siti Nurhalizah di Tv, hehehe.. Baiklah, karena kemarin Anne nggak update, Anne panjangin chapter ini. Semoga nggak bosen, ya!
Dimenstorm: Hi, seperti biasa.. terima kasih atas koreksinya. Aku udah benerin. Kalau ini masih ada salah, aku mohon maaf dan kembali koreksinya. Aku nggak sempat edit. Thanks before! :)
Afadh: Hahahha.. sorry! Aku nggak tahu bola! Cuma hasil riset di Google aja! Maaf kalau salah! Untuk pembuktian jati diri James, ditunggu saja. Belum saatnya. Oke! Sabar! Thanks ya! :)
Guest: Sayangnya peta perompak nggak akan aku singgung-singgung buat cerita ini! Hehehe..! Thanks, ya! :)
Yups langsung saja!
Happy reading!
Pandangan mata James kosong selama perjalanan pulang. Hermione sesekali meliriknya dari kaca depan mobil dengan ekspresi khawatir. Ia menatap Harry yang sibuk mengemudi di sisinya. Berharap Harry melihatnya dan segera membantu James.
Harry akhirnya mengalihkan pandangannya sejenak saat lampu "Shht jangan membuat James semakin ketakutan, Mione." Bisik Harry pelan. Tangannya mulai memutar kemudinya memasuki kawasan Church road. Rumah James tinggal beberapa meter lagi.
"Kalian masuk dulu, ya!" pesan Hermione. Martin ikut masuk lebih dulu mengantarkan James yang lemas. Al mengikutinya dari belakang. Suara pintu mobil dibanting keras membuyarkan rasa takut Hermione yang sedari tadi menatap punggung James. Harry memanggilnya dari arah belakang mobil.
"Kau kenapa, sayang? Kita hanya perlu menjelaskannya pelan-pelan pada James dan juga Mr. Murray. Mereka harus tahu, kau pasti ingat bagaimana dulu profesor McGonagall mendatangi rumahmu untuk menjelaskan keadaanmu sebagai seorang penyihir? Ini sama saja. Hanya lebih cepat—"
"Bukan begitu, Harry. James penyihir. Aku semakin yakin," Hermione menahan kata-katanya, "James adalah—"
"Anak kita? Jangan lagi, Hermione! Sudah berapa kali aku katakan James di sana bukan James putra kita. James. Sudah. Meninggal."
Hermione meraih kantung belanja milik Martin dan membawanya masuk. Meninggalkan Harry tanpa sepatah kata apapun. Lama-lama Harry kesal juga terus menuruti emosi Hermione. "Aku rasa Hermione butuh ke dokter secepatnya. Akhir-akhir ini ia juga susah berkonsentrasi." Bisik Harry mulai khawatir keadaan istrinya.
Di dalam rumah, James menggenggam segelas air putih sambil menatap Al tajam. Ia baru saja mendapat penjelasan singkat tentang apa yang baru saja ia lihat di stasiun King's Cross. Melihat orang-orang membawa troli dan menembus tembok. "Aku belum tahu banyak. Mum dan Dad akan menjelaskannya." Kata Al.
Hermione meletakkan kantung belanja Martin dan duduk di samping Al. Suara cuitan dari arah mobil menandakan Harry akan segera menyusul masuk. Hermione membetulkan blazernya lantas menatap James lembut. "Kau baik-baik saja, James." Katanya membuka.
"Ta-tapi aku melihat mereka menembus tembok itu. Pada beberapa orang." James melirik Martin yang ia punggungi kembali meyakinkan, "aku bersumpah, Dad. Aku melihatnya sendiri." James benar-benar ketakutan.
"James, tenangkan dirimu!" bisik Martin.
Harry pun masuk, membuat mereka semua mengalihkan pandangannya pada Harry. "Kau hanya perlu tahu, jika itu wajar.. bagi seorang penyihir." Kata Harry singkat. James mengulang kata terakhir yang Harry ucapkan dengan pelan. Selanjutnya, ia kembali dibuat syok dengan benda yang tiba-tiba dikeluarkan Harry dari balik jaketnya.
Sebuah tongkat Harry keluarkan. Diarahkannya ujung tongkat itu pada selembar tisu di atas meja. James, Al, Martin, dan juga Hermione mengikuti gerakan tongkat Harry dan menyaksikan sendiri selembar tisu putih itu melayang perlahan dan bergerak menuju tangan James. Selesai. Harry menurunkan tongkatnya dan mengembalikannya ke balik jaketnya.
"Aku menunjukkanya karena kalian memang harus tahu. Khususnya Mr. Murray sebagai ayah James. Tidak diperbolehkan sembarangan seorang penyihir menunjukkan sihirnya di depan Muggle. Semua ada hukumnya." Tutur Harry.
Martin dan James saling pandang. "Muggle?" tanya James.
"Orang biasa tanpa sihir." Jawab Al.
Semuanya terdiam. Khususnya Martin dan James. Harry semakin sulit memulai penjelasannya. Ia berpikir, mungkin akan memulainya dengan menguji kemampuan sihir James sendiri. Ia mencari bantuan Hermione untuk ikut berbicara. "Baiklah," kata Hermione singkat. Ia mendapat anggukan pelan dari Harry.
"Seperti yang kau lihat tadi, James. Pernahkah kau melakukan hal-hal di luar akal sehat tanpa kau sengaja?" tanya Hermione. Al ikut mengangguk.
James kemudian mulai mengingat kembali ingatannya tentang apa saja tindakan aneh yang pernah ia lakukan. Mengingat ketika di rumah, di sekolah, ataupun di tempat umum. "Ada.. ta-tapi," ia melirik Martin lagi. "Aku tidak pernah menerbangkan apapun seperti Mr. Potter tadi. Tapi, aku pernah meledakkan sesuatu. Tanpa menyentuhnya." Suara James makin mengecil. Wajahnya tertunduk ketakutan.
"Meledakkan seperti apa, James? Ceritakan!" tuntut Al.
"Di sekolah. Saat itu aku sendirian di dalam ruang penyimpanan bola. Aku sedang kesal dengan permintaan pihak sekolah yang tiba-tiba memutuskan.. untuk memilih aku sebagai wakil lomba olimpiade matematika. Tapi—"
"Bukankah itu hebat, James?" potong Al langsung mendapat tatapan tajam Harry. Al paham dan mempersilakan James melanjutkan ceritanya.
James menarik napasnya dalam-dalam lantas kembali bercerita, "mereka memintaku untuk tidak ikut dalam pertandingan basket dengan sekolah lain dan meminta agar aku fokus dengan persiapan olimpiade. Mereka mengancam jika aku tak ikut olimpiade itu, beasiswaku akan dicabut. Jadinya, aku memilih ikut olimpiade itu meski aku tak suka." James melirik sebuah piala berukuran sedang di sudut ruangan bertuliskan juara dua olimpiade matematika.
"Tepat saat hari pertandingan basket itu, aku kesal melihat teman-teman satu timku berangkat tanpa aku. Aku lari ke ruang penyimpan bola dan berteriak di sana. Tiba-tiba.. sekitar lima bola di dalam keranjang meledak bersamaan. Bahkan kaca di lemari juga pecah." Kepala James menggeleng-geleng pelan. "Aku tak tahu bagaimana itu bisa terjadi."
"Kenapa kau baru cerita, James?" tanya Martin mengelus punggung tangan James.
"Saat itu Mum sedang sakit, aku tak mau membebani pikiran kalian, Dad. Dan aku kira, itu hanya kebetulan saja bola-bola itu dan kaca pecah bersamaan. Meski tidak masuk akal."
Al tergerak untuk memeluk James. Memintanya tenang dan berkata jika mereka dalam posisi yang sama. "Kau penyihir, James. Dan aku pun. Mum dan Dad juga. Kami akan membantumu." Kata Al dengan sabar.
"Lalu, bagaimana nasib James selanjutnya—"
"Bukan begitu, Dad. Aku masih belum percaya," James menahan tangan Martin untuk tidak menghawatirkan dulu tentang nasibnya jika benar ia seorang penyihir. James menyamankan duduknya menghadap Harry. Begitu juga Harry. Ia membalas tatapan James dengan wibawa yang kuat.
"Kalian bilang, aku adalah penyihir. Tapi.. Dad hanya orang biasa. Seperti yang kalian sebut tadi, Mu Mu-Mug—"
"Muggle." Jelas Al.
"Yeah, Muggle. Mana mungkin aku bisa jadi penyihir sedangkan Dad bukan?" tanya James sontak membuat Martin tertegun. Wajahnya berubah ketakutan.
Harry melihat gelagat tak nyaman dari Martin ketika James mengutarakan kebingungannya itu. "Tidak ada yang tidak mungkin, James. Istriku—" Harry menunjuk ke arah Hermione, "dan Lily Potter, mendiang ibu kandungku adalah penyihir, tapi mereka lahir dari ayah dan ibu Muggle." Jelas Harry.
"Benar, James. Orang tuaku adalah dokter. Mereka bukan penyihir tapi," Hermione mengeluarakan tongkat sihir dari balik blazer yang dikenakannya, "kau lihat. Aku seorang penyihir juga." Tukasnya.
"Jadi, bagaimana selanjutnya. Jujur saya tidak tahu apa-apa dengan ini." Tubuh Martin sedikit membungkuk begitu menunjukkan sisi ketidakpahamannya. Tentu, ini masalah baru bagi Martin.
"Semua penyihir, ketika ia sudah berusia sebelas tahun akan mendapatkan surat resmi dari sebuah sekolah khusus. Dan seperti hari ini, setiap tanggal satu September mereka akan berangkat ke stasiun King's Cross untuk bersama menuju Hogwarts."
Harry menjelaskan terlebih dulu tanpa memberikan pengertian satu demi satu istilah-istilah itu. "Hogwarts adalah nama sekolah sihirnya. Mereka memiliki kereta khusus dan peron khusus untuk bisa masuk ke sana. James sudah melihatnya sendiri tadi—"
"Menembus tembok?" tanya James.
Hermione mengangguk. "Kau sendiri saat ini usiamu berapa?" tanyanya.
"Sepuluh. Berarti tahun depan aku akan berangkat?"
"Ya, akan ada utusan khusus dari Hogwarts untuk mengantarkan suratnya dan menjelaskan semua tentang keadaanmu jauh lebih jelas. Dulu aku seperti itu, James." Jawab Hermione. Ia melemparkan senyuman pada anak laki-laki yang ketakutan di depannya. Al memilih untuk berdiri dan duduk di sisi Harry, membiarkan Hermione lebih dekat dengan James.
Pelan-pelan, Hermione menyisir surai hitam acak-acakan James dengan jemarinya. Rambut itu tetap terasa halus dan tebal, mirip rambut Al. Rasa damai perlahan masuk ke hati Hermione. Hatinya gerimis. "Aku akan membantumu, James. Apapun yang kau butuhkan, biarkan aku, kami membantumu."
Hermione menarik pundak James dan memeluknya sambil menangis. Harry mengerutkan dahinya semakin tak paham. "Hermione, kontrol emosimu!" Batin Harry protes. Namun, ia sendiri ikut terharu. "Apa-apaan ini," perasaan Harry tidak bisa berbohong.
Tempat duduk Martin berdecit ketika tubuhnya bergerak-gerak gelisah. Hermione langsung melepaskan pelukannya sedikit gerogi sembari melirik ke arah Martin. Ia cepat-cepat membalasnya dengan tatapan minta maaf. Entah minta maaf untuk apa.
"James sebelumnya tidak pernah berhubungan langsung dengan sihir. Bagaimana caranya menyesuaikan diri selama satu tahun sebelum.. dia benar-benar berangkat ke sana? Apa itu akan menyulitkan James?" tanya Martin sambil melihat Harry.
Harry bersiap membalasnya karena merasa pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya. "Tidak masalah. Saya dulu pun begitu, Mr. Murray. Saya mengetahuinya tepat di ulang tahun ke sebelas saya. Hanya butuh satu bulan." Cerita Harry seolah memutar ingatannya puluhan tahun lalu.
"Lalu? Bagaimana?" tanya James.
"Kau hanya butuh waktu untuk terbiasa. Aku yakin kau bisa nanti, James." Ujar Harry memberikan pencerahan bagi James.
Tiba-tiba Al menarik tangan Harry dan berkata padanya, "bagaimana kalau kita ajak James untuk berkunjung ke 'dunia' kita? Ke Diagon Alley mungkin? Ke toko Uncle George?"
Harry dan Hermione saling pandang. Ide bagus.
"Bukannya kau tak suka ke toko Uncle George?" tanya Harry tiba-tiba menggoda Al.
"Suka, kok, tapi.. agak sedikit jengkel juga kalau aku yang dikerjai mereka. Mungkin James akan suka di sana." Al merundukkan tubuhnya. Mendekat dan siap berbisik pada James. "Di sana banyak mainan lelucon hebat. Aku yakin kau akan suka di sana."
Tubuh Al kembali tegak. Ia menyandarkan tubuhnya ke tubuh Harry dan memohon agar ayahnya mau menuruti permintaannya mengajak James jalan-jalan. "Aku rasa itu memang ide bagus. Sekalian kita kenalkan James dengan dunia sihir kita." Ajak Harry langsung disambut bahagia oleh Al dan juga James.
Pintu depan terketuk Selasa pagi ini. Sebenarnya Harry sudah akan berangkat ke Kementerian untuk mengurus beberapa dokumen Auror. Yeah, libur musim panas tidak selamanya libur bagi Harry. Dirinya harus tetap bekerja apalagi ia adalah seorang pemimpin di divisinya. Harry urung mengambil bubuk floo dan memilih mencari tahu dulu siapa tamunya pagi ini.
"Selamat pagi, Mr. Potter!"
Martin muncul di balik pintu bersama James. Raut wajah mereka cerah dengan senyuman hangat keduanya tunjukkan kepada Harry. "Saya mengantarkan James untuk bertemu Al. Saya melarangnya ia ikut bekerja sekarang karena kejadian kemarin." Ujar Martin merujuk pada kenyataan James seorang penyihir.
"Saya takut James jadi tidak berkonsentrasi."
"Oh, tentu. Saya setuju, Mr. Murray. Usia James belum waktunya untuk bekerja. Dengan alasan apapun." Kata Harry. Di depan rumahnya terparkir sebuah sepeda dengan boncengan kecil di belakangnya. Telunjuk Harry menunjuk ragu ke sepeda itu.
"Milik anda?" tanya Harry disambut anggukan oleh Martin.
"Itu kendaraan saya. Ehh, jadi.. boleh James bermain di sini bersama Al? Saya takut dia berbuat aneh-aneh kalau saya tinggalkan dia di rumah sendirian." Martin menyindir James.
Harry menggaruk kepalanya sambil melihat ke dalam rumah. Sepi, tidak ada orang. "Boleh sekali, tapi... sayangnya Al tidak ada di rumah. Dia baru saja mendapat kabar kalau ia ditunjuk sekolahnya untuk ikut pertandingan renang. Dan sekarang Al dan ibunya berangkat untuk mengurus pendaftaran itu."
Martin dan James mendesah lemas. Kedatangan mereka terasa sia-sia karena Al tidak ada di rumah, begitu juga Hermione. Ditambah, Harry tampak berpakaian rapi seperti akan keluar rumah. "Saya juga minta maaf, belum ada waktu untuk mengajak James dan Al berlibur lagi ke dunia kami. Al sampai kecewa saya jelaskan semalam." Tutur Harry bersalah.
"Ahh begitu, tidak apa, Mr. Potter. Kelihatannya anda juga akan keluar sekarang? Kalau begitu biar James dan saya segera kembali—"
"Oh, no! Tak masalah, ya saya memang ada urusan pekerjaan di Kementerian."
"Kementerian? Bukannya dari cerita Al, anda punya perusahaan percetakan buku?" tanya James bingung.
"Sihir. Kementerian sihir, James." Harry mengajak keduanya untuk masuk ke rumah agar tak ada yang mendengar percakapan itu. "Sebenarnya pekerjaan utama saya adalah di Kementerian. Istri saya pun begitu. Tapi kami di bidang yang berbeda walaupun dalam naungan Departemen yang sama. Hukum Sihir."
Mulut James ternganga tak percaya. Terdengar 'wow' ketika Harry menjelaskan tentang pekerjaan aslinya yang berhubungan langsung dengan pemerintahan di dunia sihir. Sama dengan James, Martin pun ikut terperangah.
"Sihir juga ada sistem pemerintahannya?" tanya Martin.
Harry mengangguk, kembali menjelaskan. "Sama saja seperti di Inggris. Namun semuanya disesuaikan dengan keadaan di sana. Tentu saja dengan sihir." Tutur Harry.
"Lalu, anda sendiri bekerja sebagai apa? Menteri?" James kembali bertanya.
"Auror." Jawab Harry singkat.
Lagi-lagi, James dan Martin kebungan dengan penjelasan Harry. Setelah Muggle, kini Auror? "Emm bagaimana, ya. Auror bekerja sebagai tim keamanan dari penyihir-penyihir gelap."
"Polisi?" Sambung Martin menebak.
"Seperti itu. Lebih khusus lagi." Kata Harry kesulitan menjelaskan semuanya. Ia berusaha cepat mengalihkan pembicaraan dengan pekerjaan Martin. "Anda sendiri, Mr. Murray? Di mana anda bekerja?"
"Saya bekerja di pengepakkan koran di dekat gereja St. Matthias, Mr. Potter. Mulai dari mengumpulkan sampai mendata semua jumlah koran yang keluar setiap harinya. Dari koran pagi dan sore. Hanya seperti itu." jelas Martin.
Harry sempat berpikir tentang lokasi tempat kerja Martin itu. Ia ingat dengan tempat pengepakan koran di sana. "Itu jauh, Mr. Murray. Dari rumah anda ke sana, dengan sepeda? Setiap hari?" Harry meninggikan nada suaranya.
"Itung-itung olah raga. Ah, saya harus segera berangkat. Toh, anda juga akan berangkat, kan? Saya akan ajak James kembali kalau begitu—"
"Jangan! Tak apa, saya hanya sebentar ke Kementerian. James bisa ikut saya, bisa untuk penyesuaian awal bagi James. Tenang saja, saya yang akan menjaganya.
Martin pun akhirnya berangkat ke tempat kerjanya sambil mengayuh sepeda tua itu. James melambaikan tangannya ke arah perginya Martin didampingi oleh Harry yang berdiri di belakangnya. Mereka lantas bergegas kembali masuk. Harry mengunci pintu dari dalam dan menggerakkan tongkatnya ke udara tepat ke seluruh jendela. Gorden-gorden tertarik dengan sendirinya sampai semua jendela menutup. James masih terlalu syok jika melihat sihir seperti itu. Ya, belum terbiasa.
"Kalau semuanya dikunci, bagaimana bisa kita berangkat?" tanya James bingung. Tidak ada pintu apalagi jendela yang terbuka.
"Lalu naik apa? Mobil? Mobilnya di bawa ibu Al untuk mengantarkannya mendaftar lomba, kan?" Harry memakai jas hitam untuk menutupi kemeja yang ia pakai. Selain untuk memberikan kesan formal, Harry juga memakainya untuk menghargai semua penyihir yang ada di Kemnetrian. Walaupun demikian, Harry masih terlihat kasual dengan celana jins yang ia pakai.
Tangan Harry menangkup bubuk yang ia keluarkan dari dalam sebuah guci kecil yang ia keluarkan dari laci meja di sisi perapian. James memperhatikan bagaimana Harry mengambil bubuk itu dan menggenggamnya di tangan kanan. "Ayo masuk, James?" pinta Harry meminta James untuk segera masuk ke lubang besar di sana.
"Perapian?"
"Ya, kita pakai jalur floo saja. Jalurnya sudah bagus. Ayo, cepat!"
Harry tahu, James tampak ketakutan ketika ia diminta Harry untuk masuk ke tempat pembakaran kayu itu. "Tidak apa, jangan takut. Kita tidak akan terbakar. Pengang tanganku jika kau tegang."
Selanjutnya James menggenggam erat lengan kiri Harry. Secepat bubuk yang Harry jatuhkan dengan keras, jilatan seperti api berwarna hijau mengakhiri nama tempat yang disebut Harry dengan suara lantang. "Ministry of Magic!"
Dus! Harry dan James sampai di tempat yang begitu luas. James sudah berubah posisi menjadi memeluk Harry. Beberapa pegawai Kementerian yang kebetulan berada di sana, memandang Harry dan James penuh tanda tanya. Berpelukan di jalur floo.
"Kita sampai, James!" panggil menyadarkan James yang sejak menyadari dirinya menghilang langsung menutup matanya.
Dengan digandeng oleh Harry pada salah satu tangannya, James mengikuti kemana dirinya terus melangkah mengikuti Harry di tengah padatnya orang-orang yang berpakaian aneh di sana. James benar-benar baru tahu jika dunia sihir pun memiliki sistem pemerintahan seperti manusia biasa. "Keren, mereka seperti orang biasa. Apa yang mereka sebut.. Muggle? Ya, Muggle!" James berbicara sendiri dalam hati.
Banyak orang silih berganti memanggil nama Harry dengan penuh rasa hormat. Begitu juga mereka yang berada di dalam lift ketika Harry lebih dulu menyapa semua penyihir itu. "Selamat pagi, Mr. Potter." Seru beberapa orang yang mendengar sapaan Harry.
"Ini Albus?" tanya seorang pria sambil menunjuk James.
"Tampan sekali meski masih kecil. Mirip seperti ayahnya, ya, hanya matanya seperti Mrs. Potter aku rasa." Bisik seseorang di belakang pria yang bertanya tentang James.
"Oh, bukan. Ini James dia—"
"James? Bukannya putra pertama anda sudah mening—"
Jegrek! Lift berhenti kasar dan pintu pun terbuka. Gerutu dari beberapa penumpang lift kembali bersahutan terdengar di sana. Mengeluhkan lift yang berjalan tidak mulus. "Putra pertama?" batin James. Ia jelas mendengar penyihir-penyihir itu berkata tentang putra pertama Harry.
"Ayo, James, kita keluar. Aku harus segera mengurus beberapa dokumen. Kau aku antar dulu ke ruanganku, ya. Duduklah di sana. Aku keluar hanya sebentar. Okey!"
James menurut saja dan mengikuti Harry menuju sebuah ruangan di bagian area Kementerian yang penuh dengan bilik-bilik meja kerja. Di sana tertuliskan Auror Department. Sampai mata James kembali membaca sebuah tulisan ketika Harry membuka sebuah pintu besar berwarna coklat mengkilat. Di tembok keterangan ruangan, James membaca, "Head of the Auror Office. Harry J. Potter."
James tidak sempat melihat wajah Harry ketika punggungnya didorong pelan masuk oleh Harry. Ia akhirnya tahu, mengapa banyak sekali orang yang menyapa Harry begitu sopan di luar sana. "Kau di sini dulu, James. Aku tak akan lama—"
"Mr. Potter!" Potong James ketika Harry siap keluar dari ruangannya. Harry melihatnya cepat, takut James merasa takut ia tinggalkan. James mengulum senyum lantas berkata, "Al sangat bangga memiliki ayah seperti dirimu, Mr. Potter." Kata James, ia melirik lencana emas bertuliskan nama Harry sebagai kepala Auror yang mengantung di tembok ruangan itu.
"Begitu juga kau harus bangga dengan ayahmu, James. Dia sangat luar biasa." sahut Harry dengan nada penuh kebanggaan.
James mengangguk bersemangat. "Tentu!"
Harry selesai dengan urusannya namun bingung harus apa sekarang. "Mumpung kita ada di dunia sihir. Kita bisa jalan-jalan dulu, aku tak tahu Al dan ibunya di mana. Di sini sinyal ponsel tak masuk." Harry sementara mengajak James untuk menuju kursi di dekat air mancur Kementerian. Mereka duduk bersama sambil memperhatikan beberapa pegawai Kementerian yang masih tetap masuk.
"Oh, ya, Mr. Potter. Boleh aku bertanya?" tanya James memecah kesunyiaan di atanra mereka berdua.
"Kalau aku bisa menjawab, aku jawab. Apa itu, James?" tanya Harry balik.
James menatap Harry sendu, lantas bertanya tentang hal yang ia dengar sendiri dari beberapa orang yang menyapa Harry sejak tadi. "Banyak dari mereka sempat kebingungan ketika melihatku yang mereka kira Al.. padahal bukan. Apalagi ketika Mr. Potter memperkenalkan namaku. Aku mendengar mereka menyebut putra pertama anda. Al punya kakak? Oh maaf—"
"Yeah. Sebelum Al lahir, aku memang memiliki seorang putra. Tapi dia meninggal ketika baru lahir. Dan aku menamainya dengan nama ayahku dan ayah baptisku. Kau tahu, kan, siapa nama ayahku, James? Kau sudah membacanya sendiri dari kartu mengemudiku saat kita pertama kali bertemu dulu." Harry menjelaskannya dengan wajah yang dipaksa tersenyum. Harry menahan rasa sedih itu.
"James."
Harry mengangguk lemas. Tiba-tiba, ia menemukan ide bagus untuk acara jalan-jalan berduanya dengan James kali ini. "Ayo ikut aku, James."
James lantas ikut berdiri dan menyusul Harry menuju perapian Kementerian. Beberapa saat kemudian, Harry dan James sampai di sebuah pemakaman yang tertata rapi. James tentu ketakutan, mengapa Harry mengajaknya ke tempat seperti itu. Bukannya ke tempat yang sempat diceritakan Al dengan penuh mainan lelucon itu.
"Aku sudah lama tak mengunjunginya." Kata Harry lirih. James masih bisa mendengarnya lantas mengikuti Harry masuk.
Langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah nisan besar bertuliskan, in loving memory of our dearest son. James Sirius Potter. "Ini makam putra anda, sir?" tanya James.
Ia membaca tulisan yang tercetak di batu nisan itu dengan tenang. Harry mengangguk sangat pelan. "Mungkin, jika ia masih ada pasti sebesar aku, Mr. Potter. Lihat, tanggal meninggalnya sama seperti tanggal kelahiranku. Bahkan tahunnya, 2004. Sama seperti tahun lahirku. Begitu kebetulan sekali."
Harry sontak langsung menoleh ke arah James yang masih terpaku pada nisan itu. "Be-benarkah?" tanya Harry tergagap.
James tersenyum. "James seumuran denganku. Anda bilang, ia meninggal ketika lahir. Jadi aku dan James sama. Kami bisa jadi kembar kalau memang dia masih hidup. Ah.. maaf—" James baru sadar jika Harry menangis sambil melihatnya.
"Tidak apa," Harry menghapus air matanya cepat-cepat, "aku hanya mengingat bagaimana dulu aku menggendongnya untuk pertama kalinya.. dalam kondisi telah meninggal. Yeah, mungkin dia akan sebesar kau sekarang. Itulah mengapa, kami begitu dekat ketika bersamamu, James. Aku, Al, Hermione, kami merasa seperti James putra kami kembali hidup."
Harry memeluk James sambil kembali menangis. "Yeah, dan.. anda harus tahu, sir. Kata Dad saat Mum meninggal, orang yang sudah meninggal akan jauh lebih tenang di sana. Karena mereka sudah bebas. Tanpa sakit, tanpa beban. Mereka bahagia. Bahkan, mereka bisa saja terus mengawasi kita di sini. Mereka akan selalu ada, di sini—" James menyentuh telunjukknya di dada Harry. Harry tersenyum getir. James melakukannya seperti apa yang dilakukan Sirius padanya dulu.
"Ya, kau benar, nak. Kita harus semangat sekarang. Yang harus kita pikirkan sekarang orang-orang yang masih hidup, yang selalu sayang dengan kita." Kata Harry. Mereka seolah menemukan cara tersendiri mengenang orang yang mereka kasihi. Dengan mengingatnya dan menjadi tegar di sisi orang yang masih hidup. Orang-orang yang menyayangi mereka.
Harry mendapati ponselnya berdering ketika ia dan James telah keluar dari dunia sihir. Hermione menelepon untuk mengabarkan jika ia dan Al sedang bersama Al di sebuah kafe. "Di Surbiton? Di kafe biasa?" tanya Harry sebelum ia kembali menjawab, 'iya' dan 'baiklah' lantas memutus sambungan itu.
James menunggu sampai akhirnya Harry mengajaknya untuk menghentikan taksi karena mereka tidak membawa mobil. Salah satu taksi akhirnya berhenti dan membawa Harry serta James ke sebuah kafe keluarga di salah satu sudut ramai yang masih berada di Surrey.
"Dad! James! Di sini!"
Suara Al langsung terdengar ketika Harry dan James masuk ke dalam kafe. Satu meja dengan dikelilingi lima kursi telah dipilih Hermione untuk mereka. Martin tampak tersenyum ketika Harry menyalaminya hangat. James memilih duduk di samping Martin.
"Aku bertemu Mr. Murray di pinggir jalan dekat gereja. Ban sepedanya bocor, jadi aku ajak saja ke kafe ini daripada menunggu sepedanya beres. Aku tadi menghubungimu susah, aku lupa kalau kau di Kementerian, Harry. Lalu Mr. Murray bilang kalau kau juga mengajak James. Pas kalau kita bisa makan bersama." Cerita Hermione sambil membolak-balik buku menu. Harry dan yang lainnya ikut tertawa menyadari mereka semua memiliki kesempatan lagi untuk kembali berkumpul bersama.
Al menjadi pusat perhatian selanjutnya. Tentang ceritanya yang lolos dalam seleksi perlombaan renang antar sekolah yang akan dilaksanakan di awal tahun ajaran baru nanti. "Kira-kira satu bulan lagi lombanya. Jadi sisa liburanku mungkin akan terus di dalam air." Cerita Al.
"Kalau kau terus di dalam air, bisa-bisa kau jadi ikan, Al." Gurau Martin diikuti tawa dari Harry dan yang lainnya.
Sambil menunggu pesanan mereka diantarkan, Al dan James saling bercerita tentang pengalaman pertama mereka bertemu. Tentang insiden Al menyelamatkan James dari bola yang berakhir dengan sekolah Al kalah. Perbincangan mereka semakin seru sampai konsentrasi bercerita James tiba-tiba terganggu ketika ia melihat seseorang yang membuatnya syok. "Dia, kan?" tanya James, menunjuk ke arah belakang bangku Harry.
Semuanya menengok dan melihat seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan rambut keriting mengembang sibuk mengurus seorang bayi perempuan yang sama keritingnya. Seorang perempuan berpakaian pelayan tampak berusaha menenangkan tangis bayi itu dari pelukannya.
"Elarica—" kata James.
"Kylie!" sambung Al.
Harry langsung menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Ia seperti mengenal wanita itu. Hermione sama terkejutnya sampai menegur dua anak laki-laki itu. "Kalian mengenal wanita itu?" Suara Hermione meninggi. Ia tidak habis pikir anak laki-laki seusia mereka bisa mengenal wanita yang bisa dikatakan.. sangat seksi.
Si wanita seolah mendengar namanya dipanggil lantas menoleh. Ia tak melihat James ataupun Al yang menyebutkan namanya. Melainkan melihat Harry. Tiba-tiba ia mendekat setelah wanita yang membawa bayi itu masuk dalam sebuah ruangan. "Kau kan—"
"Hi, kau mengingatku?" tanya Harry dengan wajah berubah sumringah. Hermione melihatnya tidak suka.
Dengan gaya menggoda, wanita itu menarik Harry yang masih dalam posisi duduk langsung membawanya kepelukannya. Harry terkejut. Hermione melotot. Martin memuji nama Tuhan. Al dan James.. menganga sambil tersenyum iri.
"Oke oke—" paksa Harry agar melepaskan pelukan wanita itu.
"Ini sudah hampir 16 tahun lebih.. dan kau baru muncul lagi sekarang? Kau tahu, aku menunggumu sampai tengah malam saat itu di stasiun. Hanya untuk mendengar cerita tentang.. Ha—"
"Dad, kau mengenalnya?" potong Al sudah tak tahan melihat semuanya.
"Model terkenal sekelas Elarica Kylie? Oh my God!" sambung James tak kalah hebohnya. Mata keduanya seperti baru saja melihat makanan lezat yang begitu menggoda.
Harry kembali mengalihkan pandangannya pada wanita bernama Elarica itu. "Kau model?" tanya Harry.
"Dulu aku memang pelayan kafe. Tapi sekarang aku.. lihat sendiri. Bahkan kedua putramu tahu aku siapa. Tapi—" Elarica membenarkan tali pengikat pakaiannya lantas kembali berbicara, "namaku bukan Elarica Kylie lagi, ya, nak. Tapi nama asliku, Elarica Gallacher!"
Suara sorakan 'wow' dari Al dan James membuat Hermione dan Martin segera menahan dua anak laki-laki itu untuk bersikap sopan. "Elarica Gallacher, itu namamu. Oh, bahkan waktu itu aku belum tahu namamu." Canda Harry membuat Elarica, Al, dan James tertawa bersamaan.
"Hush!" tegur Hermione.
"Yeah.. aku sendiri tak tahu namamu siapa. Bahkan sampai berhari-hari aku memikirkanmu, apakah akan kembali. Sampai-sampai aku iseng menyebutmu sebagai Harry Potter. Orang tidak penting yang kau bilang dari koranmu waktu itu. Kau sendiri janji, kan, akan menjelaskan siapa dia malam itu juga? Aku menunggumu tahu!" sahut Elarica genit sambil mencolek hidung Harry.
Kepala Hermione makin memanas. Seenaknya saja wanita itu menggoda suaminya tepat di depan wajahnya. "Ah—ah iya, sorry. Aku waktu itu ada urusan—"
"Orang tidak penting? Kau menyebut dirimu sendiri orang tidak penting, Dad?" suara Al kembali membuat Elarica meliriknya. Al deg-degan.
"Jadi—Harry Potter itu, kau sendiri?"
Harry tersenyum sambil mengangguk. Dari arah bangku James, anak itu berbisik pada Martin, "so sweet sekali pertemuan mereka ya, Dad. Setelah bertahun-tahun berpisah akhirnya bertemu lagi. Oh—"
"James, jaga bicaramu!" Tegur Martin. Ia tidak enak melihat ke arah Hermione yang kini wajahnya memerah. Ia tahu pasti Hermione sangat cemburu melihat suaminya sendiri digoda wanita seperti Elarica.
Dalam hatinya, Hermione pun seolah telah digambarkan dari ekspresi wajahnya. "Dasar kau Potter!"
"Tapi kau sendiri, mengapa mengubah nama menjadi nama asli?" tanya Harry semakin akrab.
"Aku sudah bercerai." Jawabnya singkat. Elarica menarik salah satu bangku dan duduk di antara mereka semua. "Pria brengsek itu memilih menceraikan aku karena takut aku tak akan laku lagi karena aku hamil."
Deg! Hermione langsung menoleh. "Apa-apan bahasa wanita ini? Tak tahu ada anak-anak di depannya?" batin Hermione geram.
"Ma-maksudmu?" tanya Harry. Ia coba mengalihkan pandangan ke arah Al dan James yang menggelang tidak paham.
"Mantan suamiku adalah managerku dulu. Aku menikah dengannya berlandaskan komitmen bersama. Selain saling mencintai satu sama lain, kami sempat berjanji untuk menunda memiliki anak karena pekerjaanku sebagai model. Tahu sendiri, apa yang dijual oleh model selain tampang yang cantik. Badan, Harry! Badan yang langsing dan seksi!" tutur Elarica. Wajahnya menyiratkan rasa kesal ketika menceritakan mantan suaminya itu.
Hermione seperti disindir pelan-pelan. Urusan anak lagi. "Sampai akhirnya.. dua tahun lalu, aku hamil. Dan dia memintaku untuk menggugurkannya sebelum badanku semakin besar. Tentu.. aku tak mau. Tak mungkin aku membunuh anakku sendiri. Aku bukan ibu yang gila rela membunuh anaknya sendiri demi karir!"
Lagi-lagi Hermione seperti terkena sambaran petir. Bagaimana kisah wanita itu bisa hampir seperti dirinya. Tidak, bahkan hati Elarica jauh lebih tulus dibandingkan dirinya. "Kau bisa lihat, bayi tadi.. itu putriku. Namanya Ruth. Seperti nama ibuku. Aku ingin nanti putriku bisa kuat seperti ibuku yang rela mendidikku meski ia sendiri tanpa suami. Akupun begitu. Aku tetap mempertahankannya dan melepaskan pria brengsek itu untuk pergi. Sekarang, pasti dia nangis darah karena melihatku tetap laris menjadi model. Seperti yang dibilang putra-putramu ini. Bahkan aku bisa mengelola kafe ini."
Elarica menarik tangan Harry lantas memeluknya lagi. Ia kembali berdiri, "bersyukurlah kau memiliki keluarga yang utuh, Harry. Maafkan aku, Mrs. Potter. Bukan bermaksud apa-apa. Meski aku janda, aku masih punya hati dengan suami orang. Aku hanya terlalu emosional dengan pria ini." katanya pada Hermione yang mengangguk pelan. Ia tak lagi sebenci tadi ketika melihat Elarica. Wanita itu memiliki jiwa seorang ibu yang begitu baik.
"Sia.. Sia.." teriak Elarica pada seorang pelayan, "tolong untuk meja Mr. Potter yang ini, gratis! Mereka temanku!" serunya.
Seorang wanita sambil membawa bayi mendekati Elarica dan menyerahkan bayi itu padanya. "Maaf semua. Aku harus pergi." Elarica menyapa Harry lagi, "ini putriku, Ruth. Kalau sudah besar, bolehlah.. kita jodohkan dari salah satu putramu itu, Harry. Mereka tampan-tampan sekali, mirip denganmu waktu muda dulu."
Harry ingin memprotes dengan perkataan Elarica tadi. "Tapi.. aku hanya bercanda. Senangnya punya dua putra yang mirip dengan ayahnya. Sama-sama tampan." Elarica melirik James. "Hi—" sapanya genit.
"Tapi dia—"
"Ahh maaf aku hanya bercanda. Mereka akan tumbuh seperti dirimu. Kalau yang matanya sepertimu mungkin akan kecil juga sepertimu, Harry. tapi yang matanya mirip Mrs. Potter kelihatannya akan tumbuh sedikit tinggi. Oh, anak-anakmu tampan sekali, Harry!" Tunjuk Elarica pada James lagi.
Martin tertunduk seolah tak dianggap. Hermione sempat melihatnya ikut merasa tak enak. Sama seperti Harry. Elarica segera pergi sambil membawa bayinya. Harry kembali terduduk, wajahnya bersalah menatap Martin. "Maafkan saya, Mr. Murray. Saya tidak bisa menjelaskan kalau Jamse—"
"Tidak apa. Itu sudah biasa. James tampan, sedangkan saya.. sudah banyak orang yang mengira bahwa James—"
"Dad!" potong James menahan Martin terus merendahkan dirinya.
Harry meminta Hermione untuk membantunya, tapi istrinya tetap diam. "Saya mohon maaf."
"Dad!"
James membanting tasnya ke atas sofa rumah setelah Harry mengantarkan mereka kembali. "Kau marah, James?" tanya Martin. Ia menarik James agar mau menghadapnya dan menjelaskan semuanya.
"Kau tak lihat, Mr. Potter sangat merasa bersalah pada Dad tadi? Kenapa kau selalu merendahkan dirimu, Dad?" James kesal. Ayahnya selalu tidak mempermasalahkan jika orang-orang lain tidak menganggap dirinya sendiri sebagai ayah James karena wajah mereka berbeda.
Martin mengelus wajah James yang tampak kelelahan. "Kau sangat tampan, James. Sedangkan aku, semua orang tahu aku jelak. Dan lihat Mr. Potter. Beliau sangat tampan. Wajar jika orang lain menganggapmu putranya—"
James langsung memeluk Martin erat. "Aku mohon. Jangan katakan lagi." James melepas pelukannya dan mengusap peluh Martin dengan ujung lengan bajunya. "Kau adalah ayahku, bukan Mr. Potter. Dan kau tahu.. aku sangat bangga padamu, Dad. Aku bangga memiliki ayah sepertimu!"
Inilah yang membuat Martin bersyukur memiliki James. "Kau memang malaikat yang diberikan Tuhan untukku dan ibumu, James. Terima kasih!" ungkap Martin berurai air mata.
Harry menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Hermione urung turun dari mobil ketika mendengar suara ponsel Harry berbunyi. Hermione menatapnya curiga. "Angkat saja. Pasti model cantik itu kangen denganmu," kata Hermione mencibir.
"Jangan cemburu dulu, dong. Biar aku angkat. Mungkn ini telepon penting."
"Iya, penting untuk melepas rasa kangen."
Harry tersenyum langsung menekan ponselnya. "Halo?" suara Harry memulai sambungan telepon itu. Hermione mendengarnya ingin tahu. Tidak ada kata yang mencurigakan dari Harry. Ia hanya mendengar Harry berkata 'saya sendiri', 'benar', dan 'baiklah'.
"Benar ponselnya tadi sempat mati. Baiklah saya akan segera ke sana." Harry menutup sambungannya kembali memutar kunci mobilnya.
"Siapa? Wanita itu lagi?" tanya Hermione masih bernada tak suka.
Harry tersenyum geli. "Kau benar-benar cemburu. Ohh lucu sekali. Bukan, sayang. Itu tadi dari rumah sakit. Mereka menghubungiku karena mereka kesulitan menghubungi Mr. Murray. Ada berkas-berkas mendiang Mrs. Murray yang masih tertinggal di pihak administrasi rumah sakit. Aku harus mengambilnya sekarang."
"Oh, syukurlah!" Hermione keluar dari mobil dan membanting pintunya sangat keras. "Asal kau kembali ke rumah masih berstatus suami dari Hermione Jean Granger-Potter."
Harry pun hanya bisa terbahak melihat sikap super cemburu istrinya lantas melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit.
- TBC -
#
Baiklah.. kepanjangan, ya! Nggak apa ya, bisa dibaca dua hari. Maaf sekali lagi sempat terlambat. Chapter selanjutnya akan ada kejutan baru tentang jati diri James. Apa itu? Maaf jika ada typo dan kesalahan nama tempat. Anne orang Indonesia bukan orang Inggris. Hehehe. Anne tunggu reviewnya!
Thanks,
Anne xoxo
