Hi, everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter 7.. Kemalaman, nih. Semoga enggak apa-apa, ya. Bisa dibaca besok pagi, yang sekolah kan libur. Happy holiday, ya! Asiknya! Yang kuliah tetap semangat saja deh. Oke.. Anne nggak tahu mau bicara soal apa! Jadi balas review aja, deh.
Dimenstorm: Wow, thanks banget! Nggak tahu bilang apa lagi. :)
Syarazeina: oke, sorry ya keganggu dengan kalimat dan typonya. Akan aku perbaiki lagi. Chapter ini mulai panas konfliknya. Ada apa? DIbaca, ya! Thanks :)
NrHikmah20: hey, review juga walau cuma manggil. Thanks ya supportnya! :)
Afadh: Hehehe..oh ya model itu ingat, kan, di film HP yang waktu Harry di kafe terus ketemu cewek keribo yang genit? Nah, soalnya di novel adegan itu nggak ada, jadi aku pakai nama asli pemerannya (yang memang model). Tapi nama suaminya hanya karangan aku sendiri. Ya dibaut selingan lucu-lucuan, deh. Semoga terhibur, ya. Thanks :)
DiahImbarsiwi15: Wah review lagi si kakak. Lagi sibuk-sibuknya ya? Hem.. lihat apa ekspresi Harry waktu tahu chapter ini.. ups.. langsung dibaca, deh! Thanks, ya, Kak! :)
Oke, karena sudah malam Anne nulis ini besok juga Anne kuliah pagi, langsung saja, ya!
Happy reading!
"Mr. Harry Potter?"
Harry sedang sibuk bermain ponsel ketika namanya dipanggil oleh seorang wanita berseragam perawat. Ia menyapa ramah Harry dan mempersilakan masuk dalam satu ruangan berisi rak-rak tinggi tepat di sebelah meja bagian administrasi rumah sakit.
"Dokumen-dokumen medis ini atas nama Mrs. Jasmine Ruzena Stott-Murray, sir. Kami sudah menghubungi suaminya, namun tidak tersambung. Karena tertera nama anda di bagian penanggung jawab administrasi, jadi kami akhirnya menghubungi anda untuk lebih aman."
"Oh, baiklah. Nanti akan saya sampaikan pada Mr. Murray."
Hampir tiga bulan sejak Jasmine meninggal, data-data kesehatan milik Jasmine yang sempat direkap ulang oleh pihak rumah sakit akhirnya dikembalikan hari ini. Martin tidak bisa dihubungi karena sejak di kafe bersama Harry dan keluarga, ponselnya kehabisan daya. Jadilah, nama Harry yang tercatat sebagai penanggung jawab segala pembayaran rumah sakit Jasmine menjadi pihak pengganti yang dihubungi oleh pihak rumah sakit.
Setelah mengecek nama dan beberapa hal yang diketahui Harry seperti, nama suami, alamat tempat tinggal, operasi, sampai jenis penyakit terakhir yang diderita sebelum meninggal. Harry sudah membenarkan jika itu memang data milik Jasmine, tanpa membaca isinya lebih jelas lagi.
Surrey Sports Park pada area kolam renang sore ini ramai dengan teriakan para pelatih dan suara cipratan air dari beberapa anak yang berlatih. Ada tiga orang yang meluncur bersamaan di tiga jalur yang berbeda. Mereka berlomba mencapai ujung kolam. Salah satunya adalah Al. Meski badannya kecil, kecepatan tubuhnya ketika bergerak di dalam air tidak bisa dianggap remeh.
Al memacu gerakan tangan dan kakinya demi melawan dua rekannya yang di jalur kanan dan kirinya. "Ayo, boys! Percepat gerakan kalian!" teriak salah seorang pelatih pria yang terhitung masih muda.
Sendirian, Harry masuk ke dalam area satu-satunya kolam renang indoor megah yang ada di Surrey itu. Jam tangannya menunjukkan pukul 4.55 sore. Kata Hermione, Al akan selesai berlatih jam 5. Masih ada sekitar lima menit untuk menunggu, "mungkin Al masih ada di kolam. Tapi.. di mana dia, ya?" Harry lantas memperhatikan satu persatu anak yang bermain air di kolam itu. Harry melihat beberapa anak laki-laki seusia Al berkecipak di pinggiran kolam saling bermain air, namun tidak sedikitpun ia menemukan batang hitung putranya.
Dari arah kolam, ketiga anak yang saling bertanding sudah hampir menuju dinding ujung kolam. Al yang melihat kepalanya semakin dekat bersiap melakukan flip turn. Al dengan cepat memutar kepala serta badannyanya ke bawah, sedikit menekuk tubuhnya hingga kedua kakinya menyembul ke permukaan air. Di situlah, Harry akhirnya tahu di mana Al berada.
"Itu dia.. aku kenal kaki itu!" kata Harry begitu yakin. Ia lantas menuju ke kursi tunggu di tepi kolam dan duduk santai di sana.
Tubuh Al berhasil berputar arah. Badannya miring sejenak ketika kembali lurus setelah menjejakkan kedua telapak kakinya di dinding kolam. Badannya meluncur cepat akibat daya dorong dari kedua kakinya yang kecil. Lagi, Al memacu kecepatannya hingga ke finis.
"Nah, benar, kan!"
Al berhasil sampai lebih dulu. Harry tersenyum puas melihat putranya unggul dari dua temannya yang lain. Namun tampaknya tidak untuk Al. Wajahnya cemberut sambil meninju permukaan air.
"1:12.18" teriak sang pelatih, Al kecewa. "Hanya lebih cepat dua detik, Al." Lanjutnya.
"Heemm.. tapi waktu itu biasa untuk grup anak perempuan. Tapi aku, kan, laki-laki—"
"Grup perempuan untuk kejuaraan dewasa. Kau masih sembilan tahun, Al!"
"Dad?" Al langsung naik ke tepi kolam dan duduk di sana. Harry mendekatinya sambil membawa handuk kering untuk mengusap rambut hitam putranya. "Anak ini ambisius sekali. Apa ada bakat Slytherin juga tumbuh di dirinya, ya?" batin Harry.
"Oh, Mr. Potter. Tumben, biasanya Mrs. Potter yang menjemput Al?" tanya Omar, guru renang Al.
Harry berdiri dan lekas mengeringkan tangannya yang basah untuk menjabat tangan Omar. Kedua tersenyum ramah sambil meperhatikan ketika anak yang sudah bersiap untuk berganti pakaian. Badan mereka masih basah kuyup. "Mummynya sakit. Badannya panas, jadi aku yang jemput." Tutur Harry sambil membantu Al mengambil kembali pakaian keringnya.
"Dad tunggu di sini, ya!" pesan Harry ketika Al meminta ijin bersama dua temannya untuk membersihkan diri di toilet. Harry memilih duduk di bangku tunggu sambil melihat Omar kembali melatih beberapa anak yang lebih kecil dari Al. Banyak juga orang tua yang menunggu di bangku seperti Harry. Namun sayangnya mayoritas adalah ibu-ibu yang masih terbilang muda.
Bisik-bisik para ibu terdengar risi di telinga Harry. Lirikan mata wanita dewasa itu terkadang tertangkap mata Harry yang tidak sengaja melihat kesekeliling gedung itu.
"Dia menunggu anaknya?"
"Wajahnya masih muda, pasti anaknya tidak jauh beda dengan anak-anak kita."
Dan suara-suara lain yang mengomentari tentang penampilan Harry. "Keren. Tampannya—"
"Hah?" Harry kaget. Langsung ia melihat pantulan dirinya di kaca besar di sisi bangkunya. Sepulang dari Kementerian, Harry sempat berganti pakaian santai sebelum pergi menjemput Al. Bahkan Harry hanya asal mengambil pakaian tanpa memikirkan pantas tidaknya pakaian itu. Hermione yang terbaring lemas di atas kasur pun tak banyak berkomentar dengan penampilannya.
Tapi.. berbeda dengan ibu-ibu yang ada di kolam itu. Tampan, itu komentar mereka. Harry hanya memakai kaus berwarna navy blue dan celana tiga perempat berwarna coklat muda. "Apanya yang keren?" batin Harry tidak percaya.
"Dad, aku sudah selesai." Al mengangetkannya dari belakang. Harry bergegas memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengandeng tangan Al mengajak keluar.
Suara bisik-bisik itu kembali terdengar. "Putranya saja tampan. Oh, God!" dengar Harry.
"Ada apa dengan ibu-ibu itu, Dad? Mereka seperti membicarakan kita?" tanya Al kebingungan, beberapa mata ibu-ibu muda itu memperhatikannya dan ayahnya sampai keluar dari arena kolam renang.
"Mereka mengagumimu, Dad?" tanya Al masih mencuri-curi pandang ke arah para ibu.
Harry berbisik pelan di telinga Al, "jangan bilang Mummy, ya," kata Harry langsung membuat Al terbahak.
Wajah Hermione pucat di balik selimut tebalnya. Ranjang mahal itu bergerak pelan ketika Harry perlahan naik ke atas dan menyibak selimut itu dari wajah Hermione. Mata Hermione terpejam dengan air muka yang tampak kelelahan. "Ow, kita ke St. Mungo, ya? Atau ke rumah sakit? Badanmu panas, Mione—"
"Tidak, aku hanya kecapekan saja. Sebentar lagi akan baik. Aku hanya butuh tidur sebentar, pekerjaanku masih banyak yang belum selesai, Harry." Kata Hermione lemah. Menolak tangan Harry yang menempel di dahinya.
"Kau masih memikirkan pekerjaanmu?"
"Harry, aku pulang lebih awal dari Kementerian. Bahkan aku belum menyelesaikan satu dokumen, apalagi yang lain. Menyentuh semuanya saja belum."
Hari ini Hermione sedang tidak sehat. Ia pulang lebih awal setelah mendapat rekomendasi dari Kingsley agar mengambil cuti beberapa hari untuk beristirahat. Tapi ia menolak. "Aku sudah mengambil cuti beberapa minggu lalu, aku tidak bisa cuti lagi. Pekerjaanku semakin menumpuk. Tanggung jawabku adalah menyelesaikan tugas-tugas itu. Bukan hanya mengumpulkannya." Tolaknya.
"Kau sakit, sayang. Kau terlalu menguras tenagamu karena urusan pekerjaan. Kau bahkan tidak tidur semalam." Harry membenarkan posisi bantal Hermione sedikit lebih tinggi. "Dan kali ini kau memang harus cuti lagi karena alasan s-a-k-i-t. Sakit. Aku akan ijinkan langsung ke Kingsley dan bagian kantormu. Mereka akan mengerti."
"Dengan memanfaatkan nama besarmu? Tidak Harry." Hermione menunjuk gelas berisi air di sisi ranjangnya. Harry membantunya duduk dan menyodorkan air itu perlahan ke mulutnya.
Harry menggeleng-geleng melihat sikap keras istrinya dengan pekerjaan. "Aku sekarang tahu darimana sikap ambisius Al menurun—"
"Mum!"
Tiba-tiba Al muncul di balik pintu kamar yang terbuka dengan buku tulis dipeluk ke dada. Harry tersenyum melihat Al yang baru saja ia singgung. Harry lantas memanggilnya dengan memberi isyarat tangan agar Al masuk. Hermione yang melihat kehadiran Al langsung tersenyum dan meretangkan kedua tangannya demi memeluk Al.
"Aku tak melihatmu sejak sore tadi, Al," kata Hermione. Al memeluknya erat dan memberikan kecupan singkat di pipi hangatnya.
"Mum tidur sejak aku pulang dari latihan." Kata Al begitu lemah mengimbangi suara Hermione yang juga sangat pelan. Hati Al tiba-tiba gerimis, rasanya kasihan melihat ibunya begitu lemah di atas kasur. Berbeda seperti hari biasanya yang begitu kuat dan tegas. Al menempelkan dahinya ke dahi Hermione. Merasakan suhu hangat itu perlahan bergerak diserap oleh dahinya. Al memajukan bibirnya ingin menangis.
"Tidak apa-apa, Al. Mum hanya kecapekan." Bisik Harry di samping Hermione.
Al mengangguk, "aku hanya takut kehilanganmu, Mum. Seperti James kehilangan—"
"Mum akan selalu menjagamu. Mum janji. Mum akan selalu ada saat kau membutuhkan Mum." Hermione mengecup dahi Al yang kini hangat, "dan rupa-rupanya.. ada yang tidak dimengerti oleh Neptunusnya Mummy tentang pelajarannya di sekolah hari ini?" goda Hermione menunjuk buku yang dibawa Al.
Al tertawa seperti halnya Harry. "Kok, Neptunus? Memangnya aku raja laut?" protes Al.
"Kau, kan, betah di dalam air, Al. Benar dong kata Mummy?" bela Harry mencolek hidung mancung putranya.
"Atau kau bisa saja pangeran duyung, yang bisa berubah jadi ikan seperti kata Mr. Murray waktu itu?" Hermione ikut menggoda.
Al memprotes balik dan mengalihkan pembicaraan dengan kembali bertanya tentang pelajarannya. "Sudah, dong! Jangan terus dibahas! Aku ada soal matematika, Mum. Tapi Mummy, kan, sedang sakit? Kalau Mum tidak bisa, aku—"
"No, kemarilah, sayang. Biar Mum lihat."
Harry membantu Al agar duduk di sisi Hermione. Al siap menjelaskan beberapa soal matematika yang tidak ia mengerti pada sang ibu sampai tiba-tiba ia teringat dengan perlombaannya. "Mum, kejuaraan renangku minggu depan. Apa Mum akan melihatku bertanding?" tanya Al. Ia melihat ke arah Harry khawatir ibunya masih belum begitu sehat ketika ia berlomba nantinya.
"Kalau Mum sehat lagi, Mum akan melihat pertandinganmu, Al. Bukan begitu?" tanya Harry coba membesarkan hati Al. Ia berusaha mengajak Hermione agar cepat sehat dengan memberikan motivasi melihat perlombaan Al.
Hermione tersenyum simpul. "Mum akan lihat kau bertanding." Janjinya. Tapi Al tidak sepenuhnya percaya.
"Tapi Mum nggak bisa diam di rumah. Selalu memikirkan pekerjaan dan tidak mau istirahat. Mau sehat bagaimana?" Protes Al kini tak lagi berkonsentrasi dengan Prnya. Harry ikut mengangguk setuju.
"Bahkan tadi aku dengar, Mum masih mau kerja. Badan Mummy panas sekali."
Rasa takut Al kehilangan sosok ibu kembali muncul. Sejak melihat James menangis semalaman karena ibunya meninggal, Al jadi sering khawatir dan selalu bersikap manja dengan Hermione. Ia tidak mau bernasib sama seprti James. Kehilangan ibu di usia yang masih sangat muda. "Mum harus di jaga. Aku bisa tidak sekolah dan latihan renang saja sendiri. Berangkat sendiri?" Al menawarkan pilihan yang jelas akan ditolak mentah-mentah oleh Hermione maupun Harry.
"Dad tak setuju. Kau tetap sekolah, dan tetap latihan. Kau sendiri yang bilang perlombaannya satu minggu lagi. Dad akan tetap jemput kamu. Dari tempat latihanmu ke rumah itu jauh, Al. Beda dari sekolah ke sana."
Harry mengusap rambut Al dan mengacak-acaknya gemas. "Tapi Mum harus ada yang jaga. Dad kerja sampai sore, pulang sebentar langsung jemput aku. Sedangkan aku sama saja. Pulang ke rumah hampir gelap. Lalu kalau Mum sendiri di rumah, pasti ada kesempatan untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Kalau Mum tiba-tiba pingsan? Siapa yang bantu?" katanya. Al jadi lebih cerewet dari Hermione.
Kali ini, Hermione terkena imbasnya. Al yang sering ia khawatirkan, takut ini dan itu, kini berbalik. Al jadi menakutkan segala hal pada Hermione. Bahkan untuk urusan menjaga saja, Al bisa setakut itu. "Apa ini yang dirasakan Al setiap kali aku melarangnya ini itu? Aku benar-benar sudah keterlaluan." Batin Hermione akhirnya sadar.
"Bagaimana dengan James?"
Deg! Hermione kembali diingatkan tentang James. James lagi, aku sungguh merindukannya. Hermione berubah sendu dengan tatapan Harry yang langsung mengarah padanya. Harry langsung tidak suka jika Hermione kembali mengingat James dan berubah berlebihan dengan James. "Aku mohon jangan lagi, Hermione!" bisik Harry pelan di telinganya.
"James bisa datang ke sini untuk menjaga Mummy setelah dia pulang sekolah. James sudah dilarang bekerja dengan Mr. Murray, kan. James pasti bosan di rumah. Kalau di sini, James bisa menemani Mum. Membantu memberi obat atau menyuapi makan Mum—"
Harry memotong cepat tidak setuju. "Mummy sudah besar, Al. Dan Mummy bisa makan obatnya sendiri. Dad akan siapkan semuanya sebelum berangkat kerja besok—"
"Tidak, Harry. Al, kau bisa hubungi James, ya. Sekarang, takutnya dia sudah tidur." Pinta Hermione begitu semangat.
Al bangkit dari sisi Hermione dan berlari menuju kamarnya mengambil ponsel yang tertinggal. Tinggallah Harry dan Hermione berdua di kamar. Harry masih menunjukkan rasa tak suka pada sikap Hermione yang berlebihan pada James. "Kau tak suka James?" tanya Hermione tiba-tiba.
"Kau sudah mengajukan pertanyaan itu padaku berkali-kali, Mione. Bukan begitu maksudku. Aku sayang pada James. Tapi aku tak suka dengan sikapmu yang.. berlebihan."
Harry ingat, beberapa hari lalu ketika ia akan membelikan pakaian renang baru untuk Al, bukannya membicarakan tentang ukuran dan model yang sekiranya disukai Al, Hermione malah memilih pakaian renang untuk James. Bukan untuk Al. "James pasti suka, supaya dua anak itu bisa berenang bersama kalau kita ajak ke kolam renang." Kata Hermione.
Harry mengusap hidungnya kasar. Kebiasaan jika ia siap untuk berdebat argumen dengan Hermione. "Aku takut kau jauh lebih memperhatikan James dibandingkan Al yang putramu sendiri."
"James juga putra ki—"
"Putra Mr. Murray. Hermione, perasaan anak seusia Al itu sangat sensitif. Kau terlalu memanjakannya selama ini, overprotective, memperhatikan segala yang dilakukan Al, lalu.. bisa saja suatu saat kau perlahan melupakannya dan beralih memanjakan James, dengan alasan dia adalah putra kita."
Suara langkah kaki sambil berlari semakin mendekat ke arah kamar. Al sebentar lagi akan kembali. Harry mendesah sebal sementara Hermione hanya tersenyum. Ia selalu kalah jika harus adu bicara dengan istrinya.
"Lihat," Hermione mengusap pipih Harry dengan jempol tangannya yang hangat, "siapa yang memanjakan Al? Daddy's boy?" ujarnya merasa menang dengan sendirinya.
Al masuk sambil menunjukkan ponselnya. "Dia setuju, James akan langsung ke sini setelah pulang sekolah." Kata Al setelah melompat ke atas ranjang orang tuanya lagi. Bukan masalah ranjang yang sempit yang membuat Harry tiba-tiba bangkit dari ranjangnya, tempat tidur itu berukuran sangat besar dan luas. Harry memesan ranjang king-size yang berharga cukup menguras kocek dalam-dalam demi kenyamanan dirinya dan sang istri. Itu bukan masalahnya.
Harry memilih pergi dari kamar dan mengecek segala urusan pekerjaannya di ruang kerjanya. "Dad mau mengecek pekerjaan Dad dulu, Al. Belajarlah dengan Mummy, tapi jangan lama-lama. Mum butuh istirahat. Okey!" pesan Harry langsung keluar dari kamar.
"Jika aku teruskan, akan makin besar masalah ini. Hermione sedang sakit lagi. Aagghh—" Harry frustasi. Mengacak-acak rambutnya lantas lari ke ruang kerjanya.
Dua belas tahun hidup bersama Hermione dalam satu atap membuat Harry sedikit banyak memiliki sifat dan kebiasaan yang sama. Seperti bekerja. Seringnya ia melihat Hermione begitu serius dalam menyelesaikan pekerjaannya, Harry pun ikut tertular kebiasaan itu. Ditambah dengan jabatannya sekarang sebagai pimpinan tertinggi Auror, ia bisa bersyukur jika kebiasaan Hermione sangat bermanfaat dalam menjalani ritme kerjanya yang memang sangat padat. Harus semangat dan fokus dalam bekerja.
"Oh, God! Berkasku di mana, ya?"
Harry membolak-balik tumpukan map di atas meja kerjanya. Mencari map penting tentang hasil rapat Kementerian yang harusnya ia pelajari malam ini. "Aku baru membawanya tadi, aku letakkan di mana, ya? Atau tertinggal?" katanya masih terus mencari.
Membuka laci di depannya, menyusuri rentetan buku di rak sudut, sampai mencari tahu di bawah kolong meja pun, rupanya berkas yang dicari Harry tak ada. Sampai Harry mengingat sesuatu. Letak dimana ia terakhir kali memegang berkas itu.
"Mobil!"
Harry meraih kunci mobilnya langsung berlari ke depan. rumah. Melalui pintu kecil menuju garasi, Harry akhirnya sampai di depan mobilnya. Menekan kunci otomatis lantas langsung masuk, mencari beberapa berkas Kementerian yang tertinggal di mobilnya. Di mobilnya, Harry menyediakan satu tas khusus tempat menyimpan segala macam ketas dan berkas-berkas penting yang sering ia bawa dari Kementerian ataupun perusahaan percetakan miliknya. Di dalam tas itu banyak terisi kertas, gulungan perkamen, surat tagihan, sampai map-map aneh yang terkadang Harry lupa jika pernah menyimpannya.
"Map rumah sakit?"
Harry menemukan map platik dengan ring di dalamnya. Map itu bertuliskan nama salah satu rumah sakit. Di dalamnya berisi lembar-lembar kertas berkopkan rumah sakit dan nama laboratorium. "Jasmine Ruzena Stott-Murray?" bacanya.
"Ini, kan, dokumen Mrs. Murray yang.. Merlin aku lupa memberikannya pada Mr. Murray!" Harry menepuk jidatnya keras-keras. Ia meletakkan kembali berkas Kementrian yang sudah ditemukannya di atas dashboard. "Semoga tidak ada yang hilang isinya.. seingatku ada sekitar lima belas lembar di sini."
Satu persatu lembar dokumen milik Jasmine Harry periksa. Satu persatu Harry membaca keterangan di setiap lembarnya. Hanya bergumam pelan, Harry seolah nyaman untuk membacanya meski di dalam mobil. "Jasmine Ruzena.. kanker ovarium stadium dua.. cuci darah pada tanggal 26 Januari 2002.. iya, benar lalu lembar yang ini.. cek rutin dan kemoterapi tahap pertama, dua, tiga, empat," baca Harry satu persatu. Pada bagian lembar ke tujuh, kertasnya telah berganti kop. Nama rumah sakitnya berbeda meski masih di Surrey. Harrry kembali membaca lembar demi lembarnya.
"Jasmine Ruzena Stott-Murray.. benar.. usia dua puluh tiga tahun.. kanker ovarium stadium tiga.. oh, God, sudah naik," Harry terkejut, "rawat inap tanggal 2 Agustus 2003.. rawat inap ke dua 11 September.. operasi kista, pengangkatan indung telur sebelah kanan, 19 September 2003.. operasi pengangkatan rahim tanggal 28 Desember 2003—"
Harry merasa ada yang salah ketika ia membaca rincian biaya operasi, nama dokter, dan surat persetujuan operasi yang tertanda nama Martin sebagai suami. Namun bukan nama Martin yang menjadi masalah bagi Harry. Namun waktu pelaksanaan operasi itu.
"Desember 2003? Tapi kata James?" Harry mengingat kata-kata James ketika mereka bersama mengunjungi pemakaman.
Mungkin, jika ia masih ada pasti sebesar aku, Mr. Potter. Lihat, tanggal meninggalnya sama seperti tanggal kelahiranku. Bahkan tahunnya, 2004. Sama seperti tahun lahirku. Begitu kebetulan sekali.
"Tidak mungkin kalau.. James memiliki kesamaan tanggal lahir dengan James putraku.. Lalu.. itu tidak mungkin?" Harry menutup dokumennya. Memikirkan sesuatu yang takut untuk ia ucapkan.
"Hallo.. selamat siang—"
Bukannya jawaban selamat sore yang James dapatkan, melainkan suara menjijikkan yang membuat perutnya mual tiba-tiba. "Suara siapa itu?" James bingung.
James ingin mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara seperti seseorang memuntahkan sesuatu dari mulutnya itu. Tapi James tetaplah anak yang diajarkan sopan santun jika masuk ke dalam rumah orang lain.
"Jangan sembarangan masuk apalagi jika pemilik rumah tidak ada atapun tidak membalas panggilanmu!" kata-kata Martin terngiang di telinga James begitu ia sampai di ruang tamu. James mendengar lagi suara muntahan dari lantai atas. Ia semakin takut jika terjadi apa-apa, terutama pada Hermione.
"Al bilang, ibunya sakit. Apa mungkin itu—Mrs. Potter?"
James berlari menaiki tangga menuju kamar Hermione yang sudah ia ketahui. "Maafkan aku!" pekik James merasa menyalahi pesan ayahnya.
Benar saja, James melihat Hermione terduduk lemas di depan kloset dan menundukkan kepalanya hingga sebagian wajahnya masuk. "Mrs. Potter, anda tak apa?" tanya James bernada khawatir.
Hermione menggeleng lemah, dan kembali muntah. "Jangan mendekat, James! Tidak apa—"
"Sudah, keluarkan saja!" James memijat tengkuk Hermione pelan hingga cairan-cairan dari mulutnya keluar. Hampir dua menit, Hermione berusaha mengelurakan makan paginya dengan bantuan James. Setelah merasa baik, Hermione menahan tangan James agar berhenti memijit. Ia sudah selesai dan merasakan perutnya kosong.
"Terima kasih, James!" ucap Hermione lemas. "Maaf kalau kau jijik," sambungnya. Hermione menekan tombol kecil di bagian sisi kiri ketika berusaha berdiri. Suara siraman air otomatis keluar dari dalam kloset membuat James tertegun sebentar. Dalam hatinya berkata, "bahkan kloset itu bisa menyiram sendiri? Hebat!"
"Tidak masalah, Mrs. Potter. Saya sudah biasa, dulu Mum juga sering muntah setelah dari rumah sakit. Aku sudah handal mengurusi orang sakit. Mari, aku antar ke ranjang!"
Hermione menerima uluran tangan James yang menuntunnya perlahan menuju ranjang di sebelah kamar mandi kamarnya. James memperbaiki selimut yang tampak acak-acakan di atas sana. Hermione menyibaknya kasar ketika merasa mual untuk segera ke kamar mandi. Setelah Hermione kembali berbaring, James meminta Hermione agar berbaring miring.
"Coba miring ke kanan, lambung anda mungkin bermasalah, Mrs. Potter. Biar saya buatkan bubur, ya. Perut anda pasti kosong. Anda tidak boleh makan sembarangan. Aku sudah biasa membuat bubur dulu. Tunggu, ya!"
James berlari keluar setelah Hermione mengangguk padanya. James tersenyum lega dan bersiap untuk menuju dapur. Namun, dua menit kemudian James tampak kembali ke kamar sambil membawa ember kecil.
"Anda mungkin akan sangat membutuhkan ini." kata James. Ember kecil itu lantas di letakkan di lantai tepat disisi Hermione. "Anda tak perlu jauh-jauh ke kamar mandi untuk muntah. Aku akan memasak sebentar. Tenang, aku tak akan meledakkan dapurmu. Aku koki yang handal, walaupun.. dapur anda membuat aku bingung. Terlalu canggih, hehe," gurau James sebelum kembali keluar.
Hermione hanya tersenyum lemah mengamati James begitu perhatian.
Harry dan Al kembali beberapa jam kemudian. Al berteriak mengabarkan dirinya sudah pulang. Harry mengikutinya dari belakang sambil membawa pakaian kotor Al. "Mummy, aku pul—"
"Shuuttt! Jangan teriak! Ibumu baru saja bisa tidur, Al."
James keluar dari kamar Hermione sambil membawa nampan berisi mangkuk kotor dan segelas air yang tersisa sebagian. Harry melihatnya sampai tak berkedip. James keluar dari kamarnya dengan kain lap tersampir di pundak, sambil membawa nampan berisi piring dan gelas kotor. "Selamat sore, Mr. Potter. Saya permisi membersihkan mangkuk ini dulu. Tapi.. oh, ya, apa Dad menghubungi Mr. Potter? Aku dijemput sebentar lagi, kan? Ponselku mati." Kata James sambil meringis.
Harry masih diam sampai James kembali memanggilnya, "ah, iya, James. Tadi ayahmu meneleponku, katanya akan pulang terlambat. Pekerjaannya belum selesai."
"Oh, begitu. Baiklah, saya bisa pulang sendiri—"
"Ahh, no. Aku antar kau, ya! Kau harus berjalan sampai ujung perumahan baru bisa menemukan bus. Tapi.. kau sendiri tadi naik apa kemari?" tanya Harry. Ia masuk ke kamar sambil mengecek keadaan Hermione. Ia terkejut mendapati gelas di meja terisi penuh, obat-obatan yang sudah disiapkan dan ember kecil di sisi ranjang. "Dia melakukannya dengan baik," batin Harry sambil melirik ke arah James.
"Mrs. Potter sempat muntah, jadi saya siapkan ember kecil di bawah ranjang agar tak naik turun ranjang untuk ke kamar mandi. Permisi, aku ke dapur dulu, ya, Al! Mr. Potter!"
James pun berlalu. Meninggalkan Al dan Harry yang tersenyum senang Hermione mendapatkan perawatan yang baik dari James.
Tengah malam, Hermione terbangun dengan rasa mual yang menyerangnya lagi. Ia bangkit dan meraih ember kecil di sisinya, memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kalinya. Harry akhirnya terbangun dengan suara muntahan Hermione yang cukup keras.
"Harry—"
"Sudah?"
Hermione mengangguk dan meletakkan kembali ember itu di lantai. Ia melihat ke sekeliling kamar, lantas menatap Harry penuh tanya. "Di mana James?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Hermione.
"James sudah pulang!" seru Harry.
"Pulang? Kenapa kau biarkan dia pulang? James! James! James—"
"Hermione!"
Tubuh lemas Hermione kalah di pelukan Harry. Hermione tidak bisa berkutik melawan kekuatan Harry yang biasa membekap penyihir-penyihir hitam. "Hey, kau kenapa?" tanya Harry berusaha menahan pergerakan Hermione yang terus meronta. Istrinya terus memanggil nama James dengan suara yang keras.
Harry langsung merapal mantra peredam di kamarnya untuk mengantisipasi. Takut, jika Al mendengar teriakan itu dan takut. Badan Hermione kembali panas. "Harry, James di mana? Di mana putraku!" kata Hermione.
"Hermione!"
"Harry!"
Harry melepas pelukannya dari tubuh Hermione. Membiarkan istrinya bersandar lemas di headboard ranjang sambil mengatur napasnya yang naik turun. Mengontrol emosi tubuhnya sangat susah dilakukan Hermione. Badannya bergetar. "Di mana putraku. James! Di mana James!" racau Hermione tak jelas. Pandangannya kosong.
"Hermione, dengar aku!" Harry mengubah posisinya lebih menghadap Hermione, "selama ini kau selalu menyebut James sebagai.. putramu."
"Putra kita, Harry!" sanggah Hermione cepat tanpa menghadap Harry sedikitpun.
"Ini dia," Harry menarik pundak Hermione sedikit kasar. Kali ini Harry sudah tak tahan dengan igauan Hermione tentang James. "Putra kita? Kau gila, Hermione!" olok Harry lepas.
"Hah?" Hermione berhenti terisak. Matanya sembab dengan lingkar hitam terlukis di sekitar matanya. "Kau bilang aku gila? Ya, aku memang gila! Ibu yang gila!"
Tangan Hermione meremas-remas kuat guling di pangkuannya. Kepalanya semakin pusing menahan segala emosi yang telah naik ke ubun-ubun. Hermione tiba-tiba tertawa terbahak, "oh, Harry.. kenapa kau tak mengencani model itu saja dulu? Kau malah pergi dengan Profesor Dumbledore, lalu bertemu denganku lagi.. dan menikahiku? Seorang wanita dan ibu yang gila. Ahh terlalu baik aku bisa disebut seorang ibu, Harry." kata Hermione lantas menepuk pelan dada Harry.
"Kau bicara apa, sih?" protes Harry.
"Elarica.. ya, Elarica memang wanita yang sempurna. Cantik, sukses, dan.. seorang ibu yang baik.. dia tidak gila, kau ingat waktu itu ia berkata, tentu.. aku tak mau. Tak mungkin aku membunuh anakku sendiri. Aku bukan ibu yang gila rela membunuh anaknya sendiri demi karir!, kau ingat, Harry? Ya, dia benar. Aku ibu gila yang rela membunuh anaknya sendiri demi karir. Tapi.. aku tidak berhasil. Lalu apakah.. ibu yang membuang anaknya sendiri juga bisa disebut ibu yang gila?"
Harry tertegun. Semakin tidak mengerti. Gila.. ibu yang gila.. demi karir? Harry menyambung satu persatu kata itu sampai ia kembali mengingat kejadian kurang lebih sebelas tahun yang lalu. Hermione pernah akan menggugurkan kandungannya demi karir.
"James? Kau memainkan peran seperti apa sebenarnya, Hermione? Ibu? Atau pembunuh? Kau benar membunuhnya?" Harry akhirnya paham. Ini tentang James, putranya.
Hermione kembali melemparkan pandangannya ke arah lantai. Tidak berani menatap mata Harry yang sudah memerah. "Bukannya aku sudah bilang kalau aku tak berhasil, dan—"
"Membuangnya? Lalu yang ada di makam itu siapa, Hermione? JAWAB!"
Kepala Hermione menengok ke sisi belakang. Mencari Harry yang siap meledak kapan saja. "Yang kau kuburkan di sana hanya handuk dengan sentuhan sihir dari Madam Sheehan."
"Ja—jadi.. James masih hidup?"
Secarik kertas kecil Hermione keluarkan dari laci di sisi ranjang. Kertas usang itu ia serahkan dengan tangan bergetar. Harry menerimanya lantas membaca, "aku tempatkan dia tak jauh dari anda. Dia bahagia. Tapi.. tolong dia. Iya, tapi di mana?" Harry meremas tangannya erat. Ia ingin marah. Memaki istrinya sampai puas.
Hermione menangis sekencang-kencangnya. Memukul dahinya berkali-kali dengan tangannya sendiri hingga mengeluarkan suara hantaman yang keras. "Aku menyiksanya dengan ramuan. Membuatnya terbakar di dalam rahimku. Membuat tubuhnya lumpuh dan memaksanya keluar di waktu yang tidak tepat."
"Lalu?" tanya Harry ketus. Ia siap mendengar segala pengakuan itu.
"Siap melihatnya lahir tanpa nyawa. Tapi James adalah putramu.. ia kuat sepertimu, Harry. Ia bertahan. James masih hidup dan aku meminta Madam Sheehan untuk menjauhkannya dari kita. Hanya Madam Sheehan yang tahu di mana James sekarang. Tapi beliau meninggal sebelum aku sempat bertanya James di mana. Maafkan aku—"
Harry berusaha melunakkan hatinya dan menerima segala pengakuan itu. Watak istrinya memang keras, tapi ada kalanya Hermione hanyalah seorang wanita biasa. Ia rapuh. Ia lemah. Ya, untuk masalah seperti ini wajar jika Harry harus marah. Ia baru saja tahu setelah belasan tahun dibohongi tentang nasib putra pertamanya. Ia dibutakan dengan kematian yang dibuat-buat oleh istrinya sendiri. Lantas kini, ia tidak tahu putranya di mana.
"Hermione. Aku tak tahu.. kenapa kau bisa seperti ini. Hah? James adalah darah dagingmu sendiri. Kau mengandungnya, di rahimmu. Seharusnya kau jauh lebih dekat dengannya. Kenapa kau malah membuangnya?!"
"Aku menyelamatkannya, Harry! Aku takut dia tak memiliki kasih sayang dari kita. Aku dan kau sibuk.. dia akan terlantar. Aku tak mau sepertu itu. Dan.. aku berpikir kalau putra kita memang lebih baik tak bernyawa dibandingkan ia hidup dalam kesendirian."
"Lalu Al?" Harry menunjuk ke arah pintu kamarnya refleks, "kau tak lihat dia setiap hari? Kau bisa mendidikanya. Kau bisa melindunginya. Kau memberikan pendidikan yang cukup padanya dan kau bisa lihat dia berprestasi berkat apa? Dukunganmu!"
Tubuh Hermione melorot hingga kembali berbaring. Melesakkan mukanya ke permukaan bantal dan menangis sekuat-kuatnya. Pelan-pelan, Harry ikut merasakan rasa sakit yang diderita istrinya itu. "Maafkan aku.. maafkan aku.. aku menyesal!" rintih Hermione.
"CUKUP, Mione. Dengarkan aku.. aku memang marah.. aku tak tahu harus bagaimana untuk menghukummu.. tapi aku tahu, kau sendiri telah tersiksa bertahun-tahun karena memendamnya sendirian. Aku hanya ingin tahu.. apa yang sudah kau lakukan untuk mencarinya lagi?"
Hermione menatap wajah Harry yang kini begitu dekat dengannya. Mereka sama-sama berbaring saling berhadapan. Tangan Harry perlahan mengusap air mata dari pipi Hermione. "Yah, tapi aku.. yakin pada satu orang, tapi belum begitu memiliki bukti—"
"Untuk James? Putra Mr. Murray?"
Hermione mengganguk pelan. "Sejak aku melihatnya.. aku merasa ada ikatan saat aku tatap matanya. Mata itu seperti milik James ketika pertama kali ia membuka mata setelah aku lahirkan. James memilikinya, Harry. Instingku berkata kalau James adalah.. putra kita. Tapi, Mr. Murray?"
"Kita bisa tanya tentang keabsahan James sebagai putra kandungnya sekarang."
Kali ini Harry yang siap menunjukkan sesuatu. "Ma-maksudnya? Kau selama ini tidak mau tahu jika aku bilang—"
"James adalah putra kita? Mungkin setelah kau jelaskan, aku bisa percaya." Harry bangkit dari ranjang dan mengambil sesuatu di dalam laci mejanya. "Bacalah!"
Harry membimbing tubuh Hermione duduk agar mampu membaca satu demi satu lembar dokumen medis milik Jasmine. "Beberapa hari lalu saat aku mengajak James ke Kementerian, aku juga mengajaknya ke pemakaman. James melihat sendiri makam itu dan membaca apa yang tertulis di sana. Dan itu ada hubungannya dengan data di dokumen itu."
Hermione sampai pada rekap data operasi milik Jasmine. "Kau tahu, James bilang kalau ia lahir di hari yang sama dengan kematian putra kita. Selanjutnya kau bisa melihat sendiri apa maksudku."
Belum memahaminya, Hermione memilih untuk membaca keras tanggal operasi Jasmine. "28 Desember 2003. Dan.. jika mereka sama, artinya James lahir tanggal 12 Maret.. 2004."
"Apa mungkin seorang bayi lahir.. tanpa rahim?" kesimpulan singkat akhirnya dikatakan oleh Harry.
"Tiga bulan.. itu tidak mungkin. Jadi.. James benar—"
Harry membekap mulut Hermione dengan ciuman. Menghentikannya sementara tanpa perlu emosi. "Jangan mengambil kesimpulan dulu, sayang. Kita harus membuktikannya. Okey.. Aku tahu kalau kau sudah merasakan James begitu dekat denganmu, tapi kita tidak bisa mengandalkan instigmu saja. Kita butuh bukti ilmiah, kita bisa tes DNA atau melakukan tes secara sihir. Kita harus menjaga perasaan Mr. Murray." Harry dan Hermione saling berpelukan. Tidak ada pertengkaran di antara keduanya, karena mereka sudah semakin dewasa. James, akan mereka temukan.
"Aku akan melakukan yang terbaik untuk membawa putra kita kembali. Aku janji!" bisik Harry begitu lembut. Di kepala Hermione kembali terlintas pesan Jasmine yang pernah disampaikannya.
...Dia patut mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, Mrs. Potter. Saya ingin James tak lagi disia-siakan. Ia anak yang baik. Saya pastikan pada anda bahwa James adalah anak yang baik. Jadi tolonglah James, mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan...
Itulah maksud pesannya. Hermione semakin yakin.. Tapi ia butuh bukti. Ya, James harus bertemu dengan kedua orang tua kandungnya.
- TBC -
#
Hey, semoga besok bisa update, ya! Biar pas momennya hari ibu. Aaagghh.. semoga terhibur. Maaf kalau masih ada kalimat nggak nyambung, typo dan sebagainya. Anne tunggu review kalian! Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne xoxo
