Hi, everyone!

Rasanya Anne muncul telat lagi.. Selamat Hari Ibu, ya! Ada yang sudah ibu-ibu? Hehehe.. salam buat ibu dari Anne kalau yang jadi ibu kayak Anne. Kali ini Anne datang dengan chapter 8 yang juga cukup panjang. Hem.. Anne berharap sesuai perhitungan fanfic ini selesai di chapter 10. Tapi nggak tahu juga, ya. Perhitungan dan prediksi awal saja.

HyperBlack Hole: owww semoga bisa hurt, ya! Thanks, :)

Afadh: Selamat hari ibu juga, ya, salam buat ibu kamu! LIhat reaksi mereka di chapter ini sampai chapter akhir nanti, ya. Elarica memang nama asli pemeran waitress yang di film, dan memang dia model. Tahu, kan? hehehe, ayahmu juga diidolain ibu-ibu,ya! Daddy Harry, dong. Salam juga sama ayah kamu juga kalau begitu! Thanks, ya! :)

NrHikmah20: Semangat! Selamat membaca, ya! Thanks :)

Syarazeina: Han Yi An siapa itu? Maklum nggak suka nonton drama Korea :) Bener, Harry-Hermione memang aku buat horang kayah (pakek h), akan ikut diungkap juga nanti. Ikuti saja kisahnya. Selamat hari ibu juga, salam buat ibumu, ya! Thanks :)

Baiklah.. langsung saja, yuk!

Happy reading!


Setiap hari sepulang dari sekolah, James memiliki tanggung jawab baru untuk berkunjung ke rumah Harry. Tugas baru dimana ia harus menjaga Hermione yang sakit sampai Harry maupun Al kembali ke rumah. Ia selalu mendapatkan uang jajan setiap selesai menjaga Hermione di sana. Sebenarnya James sudah sering menolak, tapi Harry memaksa. Begitu juga Al. Mereka bilang uang itu adalah haknya. James memang mempermasalahkan pemberian itu. Selain ia murni ikhlas membantu tanpa mengharap imbalan, uang yang Harry berikan padanya tidaklah sedikit. Bahkan, jumlah nominal uang jajan yang diberikan terhitung 10 kali lebih banyak dari uang jajan yang diberikan ayahnya.

"Kau bekerja di sana, James. Bersyukurlah! Mereka orang kaya, uang sebanyak itu tidak ada artinya. Aku sendiri tahu, kok, di mana perusahaan percetaakan buku milik keluarga Potter itu. Besar. Seingatku mau dibuka cabang juga." Kata Elijah, sahabat James.

"Tapi mereka sudah terlalu banyak membantuku dan keluargaku. Mr. Potter yang membiayai pengobatan Mum dulu sampai mengurus segala keperluan pemakaman yang jumlahnya tidak sedikit. Aku tak enak pada mereka, El. Bahkan saat aku memiliki kesempatan membantu mereka, aku malah kembali dibantu. Mereka bahkan membelikanku sepeda agar aku tak selalu mengeluarkan uang untuk biaya transport."

Karena perhitungan biaya dan lokasi, James akhirnya dibelikan sepeda oleh Harry. Rute bis yang tidak sampai masuk ke area Lancaster Park sedikit menyusahkan James untuk bisa sampai ke rumah Harry. Ia harus rela jalan kaki kalau tidak ingin mengeluarkan uang untuk naik taksi. "Aku hanya membantu menjaga orang sakit. Itupun tidak parah. Hanya demam dan flu. Tapi mereka membayarku seperti menggaji baby sitter selama sebulan." Protesnya.

James hanya bisa berkeluh kesah tentang rejekinya yang ia terima dari keluarga Potter. Sebuah keluh kesah yang terdengar aneh di telinga teman-temannya. "Kau itu dapat uang banyak malah bingung. James.. James!" Elijah menepuk punggung sahabatnya terheran-heran.

Hari ini James memacu sepedanya sedikit lebih santai. Ia pulang lebih dulu karena menyelesaikan tes matematika lebih cepat dari teman-temannya. Sambil memanggul tas ransel kumalnya, James menikmati jajaran rumah mewah di kawasan Lancaster sambil berandai-andai.

"Kalau seandainya Dad memiliki banyak uang, hidup mewah seperti Mr. Potter, aku pasti akan memilih tinggal di rumah-rumah mewah ini. Besar.. bersih.. lu—aagh apa, sih? James.. itu hanya khayalan.. tetap semangat, kau sudah sangat bahagia dengan kehidupanmu sekarang. Jadi.. nikmati saja. Banggalah kau masih memiliki Dad yang sangat sayang, James. Ayo, semangat!" pekiknya menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Itu, lah, yang sering dilakukan James ketika melintasi rumah-rumah mewah di sana.

Sesampainya di depan rumah, James segera memarkirkan sepedanya di lahan sempit di sekitar teras. James mengunci sepedanya dan bergegas membuka gagang pintu yang bercahaya setiap tangannya ia sentuhkan. Harry sengaja memberikan mantra khusus dimana pintu rumahnya akan terkunci. Tetap bisa dibuka hanya dengan kunci manual. Jika tidak perlu kunci harus membutuhkan tangan orang-orang khusus seperti Harry, Hermione, Al, dan James saja yang mampu membukanya.

"Sihir memang hebat!" batin James kagum.

James lebih dulu menengok ke kamar Hemione. Sejak lima hari ini, Hermione selalu ia temukan di kamar sedang berbaring atau membaca buku. Tapi kali ini, kamar itu acak-acakan dan kosong. Seketika itu juga, James diserang rasa khawatir.

Tempat pertama yang James periksa adalah kamar mandi di dalam kamar itu, tapi hasilnya sama saja. "Mrs. Potter? Anda di man—"

"Aku di atas, James!"

Suara Hermione terdengar berteriak di lantai tiga. James cepat-cepat naik ke arah tangga dan mencari di mana Hermione berada. Ia sendiri belum pernah naik hingga ke lantai tiga. Hanya ada dua kamar dan satu kamar mandi di atas sama. Menurut penjelasan Al, di atas hanya ada satu kamar tamu dan satu kamar kosong yang hanya dipakai jika ada banyak keluarga yang menginap di sana. Di bagian sisi kamar tamu, James melihat partisi pintu UPVC ganda yang menampakkan bagian loteng rumah.

Pelan-pelan James menggeser pintu full kaca itu ke kanan. Angin dari lantai puncak tertinggi rumah itu langsung menerpa rambutnya sedikit brutal. Dari atas, angin terasa semakin kencang. Cepat-cepat James menggeser kembali pintu hingga tertutup kembali.

"Mrs. Potter, anda sebenarnya di mana? Jangan terlalu lelah, anda masih sakit—"

"Di sini, James. Masuklah!"

Hermione keluar dari sebuah pintu yang tampak aneh di sana. Ada sebuah ruangan kecil seukuran kamar mandi di rumahnya berdiri di sekitar tembok. Hermione mengajak James agar masuk. "Di sana akan sempit kalau aku masuk juga, Mrs. Potter. Sudah, aku di sini saja." pintanya dengan sopan.

"Tidak, James. Masuklah, kau akan tahu sendiri." Kata Hermione meyakinkan. Ia lantas membuka pintu ruangan itu semakin lebar dan mempersilakan James melihat sendiri apa isi ruangan itu. "Hah? Tidak mungkin ada rak buku besar di dalam sana? Aku tak salah lihat, kan?" tanya James kemudian mengucek matanya.

"Mungkin saja, kalau kau tak melihatnya sendiri ke dalam untuk membuktikannya."

James akhirnya mau melangkahkan kakinya ke dalam. "I-ini sihir?"

Ruangan sempit itu ternyata adalah tipuan. Di dalamnya tidak seperti yang James bayangkan sebelumnya. "Luas sekali? Bahkan ini jauh lebih luas dari kamar anda, Mrs. Potter!" kata James.

"Aku sengaja membuat laboratorium 'ramuan'ku jauh lebih luas agar mampu menampung rak-rak buku ini. Aku tak bisa mencoba membuat ramuan baru kalau tak ada buku-buku ini." kata Hermione sambil menunjuk rak buku di belakangnya.

"Ramuan?"

Samar-samar James mendengar suara letupan seperti cairan kental yang sedang mendidih. James melirik ke sebuah kuali berukuran sedang di dekat kursi duduk Hermione. Ada kuali dan api yang menyala. James menebak pasti itu ramuan. "Kau nanti akan mempelajari ini juga saat di Hogwarts." Kata Hermione sembari mengaduk cairan berwarna hijau itu dengan spatula kayu yang panjang.

"Itu ramuan apa sebenarnya, Mrs. Potter? Untuk obat anda—"

"Oh, ahh hanya untuk percobaan saja. Aku pernah membuat ramuan ini dulu, dan aku hanya ingin membuatnya lagi saja. Em.. kebetulan kau di sini.. untuk mengetahui ramuan ini berhasil atau tidak, apa aku boleh minta satu helai rambutmu, James? Satu helai saja," pinta Hermione berusaha tidak mencurigakan.

James terdiam tak paham, "rambutku? Kenapa rambutku?"

"Em.. butuh beberapa bagian dari anggota tubuh yang mengandung DNA anak kecil agar ramuan ini sukses. Rambutku.. tidak begitu kuat. Aku sudah memasukkannya tadi. Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa. Rambutmu hanya untuk merubah warna cairan ini saja. Bening jika berhasil, hitam jika gagal." Begitu yang bisa dijelaskan oleh Hermione untuk menutupi alasan sebenarnya mengapa ia meminta rambut James untuk ramuannya.

Dengan gunting yang tergeletak di atas meja, James memotong dua helai rambutnya dan menyerahkannya pada Hermione. "Hanya rambut saja, itu tidak apa-apa. Biarkan aku membantu anda. Ini, saya beri dua. Satunya bonus," gurau James sambil tertawa.

"Kau ini suka sekali bergurau." Hermione mengambil dua helai rambut James senang. Ia menyimpannya satu sementara satu helai ia masukkan ke dalam kuali. Tangan Hermione bergetar hebat ketika rambut James perlahan ia jatuhkan. Tepat saat rambut itu tenggelam dalam cairan kental di dalam kuali itu, James dan Hermione saling pandang ketika perlahan asap yang mengepul dari cairan panas tiba-tiba hilang. Rambut James dengan cepat lenyap ditelan pusara kecil yang muncul ditengah kuali.

Wuss! Berubah. "Merlin!" pekik Hermione refleks. Ia menutup wajah dengan telapak tangannya begitu emosional. Ia menangis haru. Ramuan pengujian DNA yang ia buat akhirnya berhasil. Ya, ramuan DNA.

"Mrs. Potter? Anda tak apa? Kenapa anda menang—"

"James.. James!" kata Hermione berulang kali. Kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh James. Mengelus rambut tebalnya dan berbisik pelan, "akhirnya," di belakang kepala James.

"Apa, Mrs. Potter? Ada apa?" James menuntun Hermione keluar dari ruangan dan membantunya kembali ke kamar. "Biar saya buatkan bubur untuk anda, ya. Istirahatlah dulu."

James meninggalkan Hermione yang tertawa sekaligus menangis sendirian di dalam kamarnya. James tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Hermione, tentang ramuan itu. Ia sama sekali tidak paham. Ia hanya merasakan kehangat ketika Hermione memeluknya sambil menangis. "Aku seperti merasakan pelukan Mummy. Oh, Tuhan.. seandainya Mum masih ada bersamaku, memelukku seperti Mrs. Potter. Mummy.. aku merindukanmu." James terduduk di lantai dapur. Menangis sendirian, berharap ia kembali menemukan sosok ibu yang masih ingin dimilikinya.

Hermione masih diliputi dengan rasa bahagia yang tidak terkira. Ia bahkan sampai tidak mampu berdiri. Dipikirannya hanya ada James.. anak laki-laki yang selama ini bersahabat dengan Al dan merawatnya berhari-hari sejak dirinya sakit adalah putra kandungnya sendiri. Ia ingat, jika Harry juga telah melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa James adalah anak mereka. Dan hari inilah hasil itu keluar.


Sejak Harry tahu semuanya, Hermione meminta Harry agar melakukan tes DNA dengan James ke esokan harinya. Beralasan untuk mengajak James membeli sepeda, Martin membiarkan putranya untuk ikut Harry membeli sepeda sebelum menjemput Al di tempat latihan renangnya. Di tengah perjalanan, Harry sempat mampir ke rumah sakit dan mengajak James untuk masuk ke poli mata. Harry ingin memeriksakan matanya dan memaksa James agar ikut. Tepat saat melewati laboratorium, Harry menawarkan sesuatu pada James.

"Kau sudah tahu golongan darahmu, James?" tanya Harry sambil melirik ke arah pintu pusat uji laboratorium. James mengangguk, "A. Dulu saat Mum tes golongan darah untuk operasi, aku juga penasaran dan akhirnya aku ikut. Jadi sekarang akhirnya aku tahu kalau golongan darahku A." Jawab James sambil tersenyum.

Harry menggerutkan dahinya, "sama denganku. Tapi itu belum tentu juga." Batinnya.

"Em, aku mau masuk ke sana. Ada tes kesehatan rutin yang sering aku lakukan setiap bulannya. Nah, kebetulan masih banyak waktu sebelum kita jemput Al, mau kau menemaniku? Mumpung di rumah sakit. Atau munkin kau bisa mencoba tes juga di sana. Ini penting untuk kesehatan, James. Supaya kau tahu kau punya penyakit atau tidak agar bisa ditangani lebih cepat." Jelas Harry berharap James bisa terpengaruh untuk mau melakukan tes.

James melirik sebentar ke arah pintu besar di belakangnya lantas kembali menghadap Harry. "Bolehkah?" tanya James lagi. Harry mengganguk, "tentu!" balas Harry.

"Agar jika kau sakit seperti Mum, kau bisa menjaga kesehatanmu mulai dari sekarang. Mencegah lebih baik bukan daripada mengobati?" kata Harry begitu meyakinkan.

Dan akhirnya, mereka berdua pun masuk. Harry lebih dulu menemui salah satu profesor dan menyerahkan sebuah surat berkopkan rumah sakit dan laboratorium. "Semua persyaratan sudah dipenuh, jadi kita bisa mencoba melakukan pengujian DNA paternitas atas nama James Martin Murray. Apakah sudah benar, sir?" tanya seorang dokter yang ditemui Harry. Ia membaca berkas-berkas persyaratan uji DNA yang telah dilengkapi oleh Harry.

Harry mengangguk membenarkan. Ia melirik James yang sudah melakukan pengambilan sample darah di ruangan berbeda. "Dan untuk sampel parentalnya? Dari DNA siapa? Apakah anda sudah menyiapkannya, sir?"

"Sudah." Harry membawa beberapa helai rambut yang ia masukkan dalam kantung plastik keci. Rambut Hermione.

"Dari sampel ibu." Kata dokter menerima kantung berisi rambut dari Harry, "untuk ayah?" tanyanya lagi.

Dengan tegas Harry menjawab, "saya sendiri." Sang dokter langsung mengangguk dan bersiap mengambil sampel darah Harry di tempat khusus seperti ruangan James.

Menjelang pukul 5, Harry bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Ia menuju pusat laboratorium rumah sakit dan keluar beberapa menit kemudian.. dengan membawa satu amplop berisikan hasil uji DNAnya dengan James.

"Dad, kita langsung pulang? James ada di rumah?" Al masuk dalam mobil sampainya Harry di depan gerbang area olahraga. Al rupanya telah menunggunya sejak beberapa menit lalu.

"Maafkan Dad ya, Al. Dad ada urusan sebentar. Ya, kita langsung pulang. Kasihan Mum dan James di rumah." Kata Harry dengan dada berdebar tidak teratur. Ia telah membaca isi surat itu di area parkir rumah sakit. Dan semuanya.. berubah hangat ketika matanya membaca sendiri tulisan cetak tebal yang tertera di sana.

"James positif putra kandungku." Batin Harry semakin tak karuan. Tanpa disadari Harry, Al menaruh curiga dengan sikap ayahnya yang tak biasa melamun dan salah tingkah ketika ia ajak berbicara.


James dan Al makan malam dalam satu meja bersama Harry. Hari ini James diminta untuk menginap oleh Hermione dan Al karena esok sekolah mereka libur, ditambah kejuaraan renang Al berlangsung esok. Harry telah mengantungi ijin dari Martin agar James bisa menginap dirumahnya untuk menemani Al sebelum ia berlomba. Rencananya Harry akan mengajak James agar bisa menemani Hermione menonton sementara ia sibuk membantu Al yang akan bertanding.

Al melihat Harry tampak berbeda ketika mereka bertiga menghabiskan makan malam bersama. Tatapan Harry tak bisa lepas dari mata James sepanjang acara makan malam. Meski mengajak bicara dirinya, sang ayah tidak sempat sedikitpun melirik ke arahnya. Hanya pada James. "Dad?" panggil Al tiba-tiba.

Akhirnya, Harry mengalihkan pandangannya dan beralih pada Al. "Aku mau tambah juga seperti James!" minta Al mencari alasan.

"Habiskan dulu yang ada di piringmu, Al. Jangan sampai kau membuang makanan gara-gara menuruti rakus. Kau tidak biasa makan banyak, kan? James saja menghabiskan dulu makanannya baru minta tambah." Tolak Harry sambil menaikkan nada suaranya.

Al menelan ludahnya cepat. Tidak biasa ayahnya sendiri menolaknya dengan cara seperti itu. Dan satu hal lagi, "Dad membela James?" batin Al. Ia sadar, lama-lama James semakin dimanja oleh orang tuanya.

"Harry! Harry! Harry!"

"Itu Mum?" tanya Al tepat saat mereka bertiga mendengar panggilan Hermione dari lantai dua. Harry lebih dulu bangkit dan menahan James untuk tetap duduk dan menghabiskan makannya. "Biar aku saja. Lanjutkan makan malam kalian," minta Harry. Ia bergegas naik dan menemui Hermione yang terus memanggil-manggil namanya dengan nada panik.

Harry membuka pintu kamarnya dan mendapati Hermione terduduk di atas ranjang telah membaca surat yang ia ambil dari rumah sakit. Wajah pucat Hermione berbalut senyuman indah begitu ia melihat Harry muncul dan mendekatinya perlahan, "jadi benar.. James adalah—"

"Benar, Hermione. Bahkan hasil medis Muggle pun mengatakan kebenaran hasil ramuanmu." Kata Harry langsung memeluk tubuh lemas Hermione dan mencium bibirnya lama. "Ya.. iya.. ya, benar," bisik Hermione di sela-sela Harry menciuminya. Mereka hanya butuh waktu, untuk menjelaskan semuanya kepada.. dua anak lelaki mereka.

"Aku sudah tak tahan untuk memeluknya lagi, Harry. Oh.. James—" kata Hermione begitu lembut. Ia balik mencium Harry menyalurkan rasa bahagianya.

Harry hanya bisa terus mengangguk dan mengelus rambut lepek Hermione. "Ya, kita akan jelaskan.. tapi besok.. kau harus istirahat sekarang." Lagi, Harry dan Hermione saling menyalurkan rasa bahagia itu dengan pelukan dan wajah berurai air mata haru. Kebahagiaan itu akan mereka ungkap perlahan tanpa membuat hati lain tersakiti. Mereka hanya berharap esok.. semua akan baik-baik saja.

Al, James, dan Harry menghabiskan malam mereka dengan bermain games di ruang keluarga. Hanya ada dua stik yang mereka punya membuat salah satu dari mereka harus mengalah dan rela untuk jadi penonton. Permainan duel kekuatan satu lawan satu jadi pilihan ketiganya. Peraturannya adalah, jika salah satu kalah dalam duel itu, ia harus keluar dan digantikan dengan yang sedang tidak bermain. Begitu seterusnya.

Saat giliran James melawan Al, hasil akhir pertandingan itu membuat James harus rela mundur dan digantikan Harry karena dirinya kalah. Al berteriak senang karena dua kali ia tidak bisa disingkirkan. "Ayo, Al.. Dad akan kalahkan kamu—" kata Harry tiba-tiba terpotong.

"Hey—"

Hermione muncul dari arah tangga sambil memegang perutnya. Kehadirannya membuat James melirik dan bangkit untuk cepat menghampiri. "Mrs. Potter!" panggil James.

"Hermione, kau tak apa?" tanya Harry panik.

Hermione melihat James sambil tersenyum senang. James masih ada di rumahnya. "Aku hanya ingin makan, aku lapar." Katanya pelan.

"Tak apa, Mr. Potter. Biar aku yang buatkan bubur. Anda main lagi saja dengan Al. Kan, sudah giliran anda. Ayo, Mrs. Potter, aku antar kau ke kamar dulu."

James memapah Hermione kembali naik. Di sisi lain, Al menatapnya semakin tak suka. "Apa, sih, maksud perhatian James itu? Agar diperhatikan Mum dan Dad?" batinnya.

"Al.. ayo, kita main! Dad sudah tak sabar. Akan Dad kalahkan kamu." Harry meraih stiknya dan siap memulai permainan. Tapi Al masih memperhatikan James yang kini telah sampai di lantai atas.

"Al! Pilih jagoanmu dulu. Dad sudah siap, tuh!" tunjuk Harry ke layar TV.

Konsentrasi Al terganggu dengan sikap-sikap aneh ayah dan ibunya sejak sore. Perlawanan Harry kali ini membuat Al kalang kabut. Ia kalah poin dalam duel melawan ayahnya. Secepat pergerakan jari Harry menekan kombinasi tombol di stik yang ia kendalikan, Harry menang. Al membanting stiknya tak terima.

"Ow.. kau harus menerima kekalahan Al. Jangan egois." Ledek Harry. Ia mengacak-acak rambut putranya itu sampai Al geram ikut membalas menggelitik Harry.

"Ampun.. ampun, Dad!" teriak Al tak tahan mendapatkan gelitikan balik dari Harry. "Aku capek!"

"Nah," Harry akhirnya melepaskan tangannya dari perut Al dan membantu putranya untuk bangkit. Al memilih duduk dan bersandar lemas di dada Harry. "Ini sudah malam, Al. Kau besok harus lomba. Jangan sampe kau besok bangun bilang capek ini itu.. ok, sekarang tidur!"

Harry menarik tangan Al agar bangun dan mengajaknya ke kamar. Namun Al menahannya, "tapi besok Mum bisa ikut menontonku, kan, Dad?" tanya Al.

"Ya, bukannya tadi Mum sudah bilang? Mangkanya James boleh menginap di sini. Sudah, sekarang kau cepat istirahat saja. Semangat, besok kau harus bisa, Al!"

"Hem, tentu. Aku akan mendapatkan juara pertama untukmu dan Mum. Sekarang aku mau tidur." Al berlari lebih dulu naik ke atas dan berteriak mencari James, "katanya dia mau tidur sekamar denganku? Di mana dia, ya?"

Namun, harapan Al ternyata harus pupus ketika ia mendapati James, tertidur di ranjang orang tuanya. James tidur pulas sambil dipeluk oleh Hermione yang juga tertidur di sisinya. Posisi mereke berhadapan, seperti saling memeluk. Satu tangan James bertumpu di sekitar pinggang Hermione sedangkan satu tangan Hermione berada di atas kepala James. Jemarinya masuk ke sela-sela rambut hitam itu. Di mata Al, keduanya tampak begitu damai.

"Mum—"

Harry melihatnya sendiri wajah kecewa putranya ketika mendapati dua sosok yang sedang berselimut nyaman di atas ranjang sana. Al kecewa. Bahkan ia sendiri sudah lama tak tidur berdua sedekat itu dengan ibunya lagi. Al iri.

"Kita tidur berdua, yuk, Al. Sudah lama Dad tak tidur denganmu lagi." Bisik Harry di belakangnya. Harry mengecup belakang kepala Al lantas menariknya keluar, menutup pintu dan menggiringnya ke kamar. Harry harus berusaha membuat Al tidak terpengaruh dengan hal-hal buruk yang bisa saja mempengaruhi konsentrasinya esok.


"Tempatnya jauh, Mr. Potter?" tanya James sambil memapah Hermione masuk ke mobil.

"Kurang lebih 20 mil dari sini. Satu jam setengah kalau tidak macet." Jawab Harry dari depan kemudi. Al sudah siap duduk berdampingan dengan James di bangku tengah.

Kejuaraan renang antar Primary School kali ini di adakan di Westcroft Leisure Centre, tempat yang sama di mana Al pernah kalah satu tahun yang lalu. "Semangat, Al. Kata ayahmu kau semakin cepat. Semoga kau menang kali ini!" bisik James tampak bersemangat.

Al hanya terduduk diam latas mengangguk kecil. Ia masih teringat bagaimana James begitu dekat dengan ibunya. Sementara James tampak biasa saja. Seolah tidak pernah melakukan apa-apa serta tidak merasa bersalah sama sekali telah merebut perhatian orang tuanya.

Sesuai skema pertandingan yang terpampang jelas di salah satu tembok besar arena kolam renang. Beberapa nama peserta secara digital muncul dari papan, salah satunya adalah nama Al. Sebelum bergegas ke balok start nomor urutannya, Al lebih dulu menghampiri ibunya dan meminta semangat.

"Aku akan menang kali ini, Mum. Aku janji!" bisik Al lantas mencium pipi Hermione.

"Ya, Mum akan dukung kamu, Al." Hermione merundukkan tubuhnya menyamakan tinggi kepalanya dengan kepala Al. "Good luck, Albus!"

Al menggangguk tegas, namun sebelum berlari ke arah Harry yang memanggilnya, Al kembali berbalik pada Hermione, "Mum—" panggilnya lagi.

"Mum akan melihatku sampai akhir, kan?" tanya Al memastikan. Ia takut jika Hermione tak ada di dekatnya ketika berlangungnya perlombaan itu.

Hermione tersenyum kecil, "sampai kau mendapatkan medalimu, Al!"

"Semangat, Al!" teriak James ikut menyemangati Al yang sudah siap di posisi balok startnya.

Al berdiri di posisi 6. Bunyi tembakan start mengiringi sorakan dan teriakan semangat dari para penonton. Al melompat menuju permukaan air dengan cantik. Tubuhnya tengelam semakin dalam mengikuti berat dan tekanan dari lompatannya. Perlahan, badan Al melayang naik. Meliuk-liuk sampai muncul di permukaan air lantas dengan cepat menyingkronkan gerakan tangan dan kakinya. Al hanya mampu di posisi dua hingga finis.

Setelah istirahat, Al kembali bermain untuk memperebutkan ke babak final. "Aku pasti bisa," ia melihat sosok Hermione yang duduk bersama James di bangku penonton. Sorakan mereka sempat mengurangi rasa gugupnya beberapa saat sampai panggilan panitia kembali membuatnya gugup. Al berdiri di atas balok nomor lima. Aba-aba meminta mereka untuk bersiap dan suara pistol kembali terdengar. Byur! Al melompat lagi. Bergerak maksimal sampai akhirnya Al berada di posisi pertama. "Berhasil!" sorak Al senang. Akhirnya ia masuk final.

"Dad—"

"Okey, Al. Tenangkan pikiranmu tetap fokus. Kau berada di lintasan berapa nanti?" tanya Harry di bangku pelatih. "Ehh 3, Dad. Ada yang lebih cepat dariku sebelumnya." Jawab Al. Oman membantunya agar mengatur strategi dan mengkoreksi segala kesalahan selama babak penyisihan dan semi final.

Al sesekali mengangguk dan menujuk ke arah lintasan ketika berbicara dengan Oman. Begitu yang dilihat Hermione dari bangku penonton. "Aaaggh—"

"Mrs. Potter? Kau kenapa?" James kaget mendengar erangan kesakitan dari Hermione.

Hermione hanya menggeleng pelan. "Perutmu rasanya melilit, James. Tapi.. su-sudah tak apa. Sebentar lagi Al bertanding, kan?" katanya.

"Baiklah, kalau memang tak kuat, bilang saja, Mrs. Potter." Tawar James penuh perhatian.

Dua menit lagi pertandingan final segera berlangsung.

Para peserta telah berdiri di masing-masing posisi. Menghadap lintasan dan memeriksa kacamata renang dan penutup kepala apakah sudah terpasang. Peluit pertama dibunyikan. Hermione tiba-tiba kembali mengerang, namun tidak sekeras sebelumnya. James rupanya tak menyadari itu. Hermione kembali mengatur napasnya dan memperhatikan Al dari jarah jauh.

"Take your marks!" Suara seorang pria terdengar mengomando ke delapan finalis. Al membungkukkan badannya dengan kepala merunduk. Lututnya ditekuk dengan posisi pas. Peringatan terakhir mulai terdengar beberapa detik kemudian. Bergerak semakin cepat, Al masih ada di posisi ketiga ketika ia hampir mencapai dinding. Bersiap berputar, Al memposisikan tangannya berhenti agar memudahkan kepalanya berputar ke bawah. Putaran yang sempurnya membuat Al semakin kuat menjejakkan kakinya pada dinding kolam. Wuss, Al berbalik arah dengan posisi miring sampai akhirnya kembali lurus. Al melesat semakin cepat.

"Mrs. Potter, kau berkeringat. Kau kuat—"

"Aku rasa.. aku butuh berbaring sekarang, James." Jawab Hermione cepat.

James memperhatikan jalannya pertandingan. Al sudah berada di posisi terdepan. "Kita pulang sekarang?" tawar James. Hermione mengiyakan dan bergegas bangkit dari bangku penonton.

"Kita naik taksi, Al. Aku tak kuat." Seru Hermione masih memegangi perutnya. Suara pengumuman pemenang dan catatan waktu yang diperoleh akhirnya diumumkan. Tepat saat Hermione dan James keluar dari arena kolam, mereka mendengar nama Al disebut sebagai juara pertama.

James bersorak saking gembiranya lantas memeluk Hermione. "Al menang. Al juara pertama!" seru James. Mereka mendapat satu taksi dan segera masuk. James ingat, mereka pergi berdua saja.

"Bagaimana dengan Mr. Potter dan Al?" James bertanya panik.

Hermione mengeluarkan ponselnya untuk James, "hubungi ayahnya, Al pasti meninggalkan ponselnya di tas." Pesan Hermione lantas segera dilaksanakan oleh James.

Masih menggunakan pakaian renang, hanya dengan jaket tebal yang dipakainya Al beristirahat sambil menunggu sesi penyerahan pedali. Bersama Oman dan dua anak lain yang mewakili sekolahnya, Al melihat sekeliling kolam tempat di mana ibunya dan James duduk untuk melihatnya. Tapi, sampai ke masing-masing bangku, Al tak menemukan ibunya. Begitu juga James.

Harry baru sampai ke tempat istirahat Al dengan membawa kantung makanan yang baru ia beli. "Dad, Mum dan James—"

"Ehh," Harry menyerahkan makanan itu pada Al, "tadi James menelepon, katanya mereka pulang lebih dulu."

"Pulang?"

Al bangkit dari bangkunya menghampiri Harry. Berharap apa yang dikatakan ayahnya tadi hanya gurauan saja. "Mum mengeluh perutnya sakit dan badannya lemas, Al. Jadi James mengantar Mum untuk pulang duluan dengan taksi." Jelas Harry langsung memeluk Al.

"Tapi, Mum sudah janji kalau akan melihatku sampai mendapat medalinya. Berarti Mum tidak melihatku tadi?" wajah Al berubah sangat kecewa.

"Ow, lihat, Al. Bahkan ia tahu kalau kau mendapat juara pertama. Ia menitipkan pesan selamat untuk keberhasilanmu." Harry merundukkan badannya agar lebih nyaman berbicara dengan Al.

Al menyerahkan kantung makan itu kembali ke Harry dengan kasar. "Aku tak butuh makan. Aku hanya butuh Mum!" Al marah. Ia berlari ke ruang ganti dan memilih menyendiri hingga waktu penyerahan medali tiba.

"Mum tega padaku!" isak Al dalam hati. "Kenapa James lagi!"


Keluar dari mobil, Al langsung berlari dengan langkah besar-besar menuju rumah. Harry mengejarnya cepat-cepat takut jika Al meluapkan emosinya pada Hermione ataupun mungkin pada James. James mendengar suara langkah kaki semakin mendekat ke arah dapur. Ia baru saja membersihkan piring makan malam Hermione di sana. "Al.. kau sudah pul—"

"James! Kau—"

"ALBUS!"

Al berhenti memarahi James meski dirinya sudah semakin geram ingin melakukan sesuatu pada anak laki-laki di depannya ini. Harry mengambil posisi berada di tengah keduanya dan menahan tangan Al yang seperti siap memukul. "Kalau kau marah, marahlah. Tapi jangan pakai kekeresan!" tolak Harry dengan suara meninggi. James yang tak tahu apa-apa hanya bisa mengerutkan dahi sambil melepaskan apron dari tubuhnya.

Al berbalik menatap Harry sama murkanya. Antara Al dan Harry, seolah dalam situasi psikologi yang sama namun di tubuh yang berbeda. "Oh, sekarang, Dad sudah terang-terangan membelanya?" Kata Al langsung menujuk ke arah James.

"Dad hanya membela mereka yang tidak bersalah. James tidak tahu apa-apa lalu kau tiba-tiba datang dan mau memukulnya? Sekarang, siapa yang salah?" Harry meminta James untuk mundur dan tidak ikut campur melawan Al.

"James, selama ini aku sudah baik menjadi sahabatmu. Entah hal bodoh apa yang tiba-tiba muncul dipikiranku saat itu. Aku menyelamatkanmu dipertandingan itu dan merelakan sekolahku kembali kalah. Bertemu denganmu dan mengenalkanmu dengan Mum dan Dad. Mengajakmu jalan-jalan, membelikan apapun yang kau butuhkan.. tapi.. kau masih belum puas, hah?"

Wajah Al semakin memerah menahan emosi. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Rambutnya yang belum begitu kering terlihat lepek dan kaku. James akhirnya berani menatap Al. "Maafkan aku jika—"

"Diam, James!" larang Harry pelan.

"Biarkan, Dad! Dia punya mulut untuk bicara." Lawan Al.

James bergerak ke sisi tubuh Harry dan berdiri tegak di sana. Menatap lekat manik hijau Al lantas berkata, "aku tak mengharapkan apapun darimu, Al." James semakin mendekati Al dan meminta Harry untuk tidak menghalanginya, "semiskin apapun aku dan ayahku, aku tak pernah diajarkan untuk mengemis belas kasihan orang lain. Aku lebih baik mati kelaparan daripada meminta-minta. Aku tak akan menunjukkan isi mulutku meski di sana tak ada apa-apa yang bisa aku kunyah. Aku sudah terbiasa hidup seperti itu, Al. Dan hanya dengan membantu merawat ibumulah.. aku rasa aku bisa sedikit membalas jasamu yang aku pun sadar.. aku tak akan pernah bisa membalasnya."

"Bohong!" Al berteriak. "Kau punya peluang besar, kan? Keluar masuk rumah ini, satu persatu barang kau punya. Sekarang, perutmu bahkan tak pernah kelaparan.. dan kemarin.. kau tidur nyenyak bersama Mum. Kau memanfaatkan semuanya agar kau berhasil mendapatkan semua yang aku punya."

"Apa maksudmu, Al?" James protes. "Semua ini, aku dapatkan karena orang tuamu memberikannya padaku. Ingat, aku tak berniat untuk membawa Mum ke rumah sakit sampai ayahmu memaksaku dan Dad untuk membawanya ke sana. Kau tak tahu Al bagaimana posisi kami? Kau kira semua pemberianmu ini membuatnya senang karena tak terbebani biaya yang begitu besar? Ayahku malu, Al. MALU."

Kedua tangan Al terlipat di depan dadanya, semakin kesal dengan segala pengakuan itu. Di mata Al apapun yang diucapkan James hanyalah drama.

"Tapi sayangnya kau yang tak punya malu, James. Sudah puas mendapatkan hartanya, sekarang kau mau mendapatkan kasih sayangnya dan melupakan ayahmu sendirian di luar sana. Apa nanti kau akan menendangku keluar setelah kau dapatkan kasih sayang orang tuaku sepenuhnya?" Al sempurna dibutakan oleh rasa cemburu.

"Cukup, Al. Kau butuh pelajaran tatakrama sekarang juga—" Harry siap menarik tangan Al namun cepat ditepis dengan kuat. Tiga kali berenang sejauh tiga ratus meter membuat tenaga Al semakin kuat melawan serangan ayahnya.

"Ajari dia dulu, Dad." Al semakin kesal hingga tak lagi menggunakan nama James sebagai sebutan, telunjukkanya mengarah tepat kewajah James murka, "dia jauh lebih membutuhkan pelajaran tatakrama, bahkan dari yang paling dasar—"

Plakk! Tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri Al. Panas seketika menyebar akibat tamparan itu. Pipinya langsung kembang kempis dengan ruam merah tercetak jelas di sana. "Mum?" pekik Al menyadari ibunya telah berdiri di depannya. Tanganya masih setengah terangkat akibat tamparan itu.

"Hermione!" Harry berlari menahan tubuh Hermione untuk tidak ikut campur.

Napas Hermione naik turun merasakan panas yang ikut menjalar di sekitar telapak tangannya. Baru kali ini, ia menampar putranya sendiri. "Kau sudah lupa apa yang sudah ku ajarkan tentang menghargai orang lain, nak?" suara Hermione bergetar hebat.

Mata Al kini berlinangan air mata, ia sempurna merasakan sakit yang paling sakit. Tidak hanya batinnya, bahkan ia mendapatkan tamparan itu. Tamparan dari ibunya sendiri. Tidak pernah Al merasakan sakit yang begitu menyiksa seperti ini. Tidak ada sakit sesakit bentuk kemarahan orang tuanya sendiri. Ia tersenyum sambil tetap menangis terisak, "menghargai dengan cara menamparnya? Belum, Mum." Jawabnya ketus.

Al mundur selangkah mendekati anak tangga. "Beraninya kau berkata seperti itu di depan ayahmu sendiri dan—"

"Siapa? Kalau Dad memang, Dad adalah ayahku, tapi dia? Sopan padanya?" lagi-lagi Al tak segan menujuk-nunjuk muka James begitu angkuh, "dia bukan siapa-siapa, Mum—"

"Dia kakakmu, Albus!" potong Hermione cepat-cepat. Badannya kembali sakit seperti ketika di area kolam renang. "Kakakmu-sendiri-James." Lanjutnya terbata.

"Apa?" pekik Al tak percaya. Begitu juga James. Ia semakin tak paham dengan pertengkaran ini.

Harry menutupi pandangan Hermione dengan punggungnya dan berbisik pelan, "bukan seperti ini, Hermione. Kita bicara pada mereka pelan-pelan," kata Harry berusaha menenangkan.

Al menatap James dan mengamatinya dari atas ke bawah. "Kakak? Dia kakakku?" tanya Al. Harry dan Hermione kembali memperhatikan kedua anak lelaki di hadapan mereka. "Kakakku.. sudah.. MATI!" Al mengeja kata-katanya untuk mempertegas pengertian secara khusus. Tepat di depan wajah Hermione, Al menyampaikan pesan yang ingin ia katakan ketika berhasil mendapatkan medalinya.

"I love you, Mum!"

Al langsung bergegas naik menuju kamarnya setelah melempar tatapan tajam pada James yang kini terduduk lemas tidak percaya. James menangis kencang sebelum suara teriakan kesakitan Hermione membuyarkan lamunannya.

"Hermione, kau tak apa?" Harry panik.

"Aagghh—" Hermione terduduk dilantai sambil mengerang kesakitan. Tangannya melingkar kuat di area perut sambil terus berteriak kesakitan.

James pun tak kalah paniknya ketika melihat Harry memapah tubuh lemas Hermione perlahan agar duduk di atas kursi. Namun, sesuatu yang mengerikan tertangkap di mata kecilnya, merah. "Da-darah!"

Rembesan darah merah kehitaman mengalir deras menuruni paha hingga betis Hermione. Banyak dan tidak kunjung berhenti. "Oh, God! Kau berdarah, sayang. James—"

Berganti posisi, James membantu Hermione untuk duduk di atas kursi sambil menunggu Harry mempersiapkan mobil untuk membawa Hermione ke rumah sakit. Mereka tidak mungkin berApparate ke St. Munggo. Kondisi Hermione semakin lemah.

"Ja.. jam-mes—"

"Iya, Mrs. Potter? Bertahanlah.. kita ke rumah sakit sekarang, ya. Maaf aku tak bisa merawatmu dengan baik." James menangis sambil terus memeluk tubuh Hermione erat. Sebagian pakaiannya terkena darah namun tak dihiraukannya.

"Puraa-traku—"

Suara mobil di luar menandakan mereka siap berangkat. Harry muncul sambil berlari untuk cepat menggendong Hermione menuju mobil. "James, ambil selimut di dalam kamar. Di dalam lemari!" perintah Harry.

James bergegas lari ke kamar Harry dan mengambil selimut bersih di dalam lemari. Saat akan turun, James melihat ke arah pintu kamar Al. Ia berusaha menyampingkan emosinya dan berteriak ke arah kamar Al, "aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Maafkan aku jika kau tak suka, aku bisa pergi jauh setelah ini. Aku janji. Tapi aku hanya meminta padamu satu hal, jika kau memang menyayangi ibumu, keluarlah! Jemput kami di rumah sakit tempat Mum pernah dirawat dulu. Jangan sampai kau menyesal, Al. Aku tahu kau anak yang baik. "

Di balik pintu kamarnya, Al duduk meringkuk sendirian sambil menangis sekuat tenaga. Memukul ubin kamarnya marah. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang. Sebagai anak, ia malah bersembunyi di kamar sementara ibunya sekarat. Mempertahankan emosi dan membiarkan orang lain merawat ibunya. Itu jahat.

Tangan Al meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur, mencari kontak seseorang dan menekan tombol panggil. Beberapa detik menunggu, sebuah suara berat pria terdengar menyapa. "Mr. Murray, anda di mana?" tanya Al.

"Sebentar lagi aku ke sana. Tolong tunggu aku," pesan Al selanjutnya menutup sambungan teleponnya.

Al menutup ponselnya lantas kembali menekan kombinasi angka yang sudah sering ia gunakan jika ada masalah penting di rumah. "Tolong minta satu taksi ke rumah saya, sir. Lancaster Park no. 12"

Ya, yang James bilang, Al hanya tak ingin menyesal.

- TBC -


#

Hoh.. Anne cukupkan di sini supaya kalianbisa lanjut ke chapter 9 dengan membawa penasaran. Baiklah.. sekali lagi Anne ucapkan SELAMAT HARI IBU, untuk ibu Anne dan semua ibu dan calon ibu di manapaun kalian berada. Anne tunggu reviewnya, ya! Maaf kalau masih ada typo, mohon pembetulannya! :)

Thanks,

Anne xoxo