Hi, everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter 9. Hohoho *gaya ala Santa* menemani malam natal kalian bagi yang merayakannya, Anne coba hadirkan kisah sedikit mewek-mewekan *kalau yang mewek* di chapter ini. Anne coba main emosi, nih, dari Martin, James, Al, dan tentu saja Harry. Ada apa? Anne balas review dulu.
DiahImbarsiwi15: Hehehe.. pas banget kalau gitu, habis baca udah ada lanjutannya ya, kak. Sebenraya aku juga mau buat Harry marah besar sama Hermione. Tapi.. setelah aku pikir-pikir, ada beberapa alasan Harry berusaha menahan emosinya karena keadaan dan tekanan psikologinya. Oww *kasih tisu* kalau chapter ini, aku kasih saran juga ambil tisu, ada indikasi bikin nangis juga (mungkin). Thanks, ya, Kak! :)
Syarazeina: Huaaa.. iya, nih. Soalnya fanfic ini aku buat setiap chapternya panjang-panjang. Sedangkan postingnya sekali duduk, alias selesai ngetik, edit sedikit langsung publish. Jadi edit keseluruhan udah males. Biasanya juga karena ngantuk. Updatenya kan seringan malam. Maaf, ya, kalau terganggu. Tapi sudah aku edit dan republish *aku terima Aquanya, hehehe* Di cahpter ini akan kebuka. Al mau nyusul Mr. Murray karena.. jawabannya di akhir chapter kemarin, kan. 'Al nggak mau menyesal" dan tentu saja di chapter ini. Baca saja, ya. Thanks, :)
Afadh: Yosh! Wah, rupa-rupanya sosok Al di sini hampir mirip sama kamu, ya. Jadi ikutan sedih :'( Endingnya.. Emm.. ditunggu saja, deh! Thanks, ya! :)
Oke, Anne nggak mau lama-lama. Langsung saja di baca. Sedikit lebih pendek dari yang kemarin. Tapi semoga puas.
Happy reading!
Harry mondar-mandir gelisah di depan pintu salah satu unit gawat darurat rumah sakit. Tulisan Urgent Care Centre (UCC) yang tercetak jelas di depan James duduk membuatnya kembali merinding. Lagi-lagi ia teringat ibunya. Beberapa bulan yang lalu, ia melihat sendiri tulisan itu menjadi saksi bagaimana ibunya masuk ke sana dalam kondisi kritis. James takut. Sama seperti waktu itu, malam ini James kembali merasakan ketakutan itu. Jika Harry memilih berdiri menunggu di dekat pintu, James memilih duduk. Menundukkan kepalanya sambil menggosok-gosok noda darah yang mengerik di telak tangannya.
Malam ini Queen Mary's Hospital cukup penuh dengan adanya beberapa pasien yang menunggu keluarga mereka di dalam ruangan UCC yang sama. Sibuk dengan ketakutan masing-masing, James dan Harry memilih untuk tidak ikut campur dengan beberapa keluarga pasien lain dan berkonsentrasi untuk memikirkan Hermione yang masih berada di dalam.
Harry mencoba untuk tenang. Ia melihat ada kursi kosong di sisi James. Harry perlahan mendekat. James sama sekali tak memperhatikan dirinya yang kini sudah berada di sisinya. Kepalanya masih tertunduk sambil menggosok-gosokkan tangannya yang kotor terkena darah. Harry memperhatikannya dalam diam.
"Bersihkan dulu tangan—"
"Aku sudah terlalu jauh masuk dalam keluarga anda, sir." Mulai James dengan topik pembicaraan berbeda. "Mungkin Al benar, aku seharusnya tak berhak mendapatkan semuanya dari anda." Kata James menyela. Ia masih terus menunduk dan menggosok-gosokkan tangannya.
Beberapa saat kemudian seorang dokter keluar, namun menghampiri keluarga lain yang juga menunggu hasil pasien yang ada di dalam ruang UCC. Harry hanya bisa lemas dan kembali menunggu. Lagi, ia teringat dengan penjelasan James. "Maksudmu apa, James?" tanya Harry. Duduknya sedikit miring untuk lebih menghadap James.
"Anda dan Mrs. Potter sudah berlebihan padaku. Pada Dad." James akhirnya mengangkat wajahnya melihat ke arah Harry. Matanya begitu berkaca-kaca ketika Harry menatapnya. "Kami sudah lancang—"
"Sama sekali tidak, James." Harry menggeleng. "Dengar, kau memang layak mendapatkannya." Jawab Harry lembut. Tanganya tergerak mengelus pelan rambut acak-acakan James. Namun dengan cepat James menghindar. "Aku tak butuh dikasihani, Mr. Potter." Elaknya. "Aku hanya murni ingin membantu. Menjalin persahabatan tanpa berharap banyak dari kalian." James mendesah pelan. Ia meremas-remas tangannya kembali memperhatikan area tunggu di depan ruang UCC. Sepi, tinggal ia dan Harry saja. James tak suka harus sendiri bersama Harry di saat seperti ini. "Tapi aku tak bisa pungkiri bahwa.. bantuan kalian sangat aku butuhkan."
"James, maafkan aku. Maafkan kami." Harry tiba-tiba berjongkok tepat di depan James. Memegang tangannya yang kotor karena noda darah Hermione yang mengering lantas meniupnya pelan. Tangan James kembali bersih secepat Harry mencium punggung tangan kecil itu, lantas menatapnya lagi lebih dalam. Harry menangis.
"Untuk apa? Seharusnya aku yang minta maaf, sir. Kenapa anda harus meminta maaf padaku?" James akhirnya menangis juga. Baru kali ini ia bisa menangis seemosional ini di depan orang lain selain Martin.
Harry menggeleng, sudah saatnya ia mengatakan yang sebenarnya sekarang, "kau tidak seharusnya seperti ini, nak. Kau berhak mendapatkannya. Semuanya. Maafkan Dad, James.. Sirius Potter—"
Nama itu lagi. James menarik cepat tangannya memilih menjauh. Dadanya sesak seolah nama itu sangat tabu jika diucapkan. Mendengarnya, James tahu itu nama siapa. "Dia sudah meninggal, Mr. Potter. James sudah meninggal. Jadi tolong, jangan buat aku semakin bersalah hadir di kehidupanmu. Aku bukan siapa-siapa kalian. Aku masih punya ayah—"
"Tapi—"
"James!"
Suara berat dengan napas terengah-engah sontak membuat Harry terdiam. Cepat, ia lantas bangkit ketika mendapati Martin berlari menghampiri mereka. James menyingkirkan tangan Harry sedikit kasar dan berlari menghambur ke pelukan Martin. "Daddy!" panggil James langsung memeluk Martin erat.
Bulu kudu Harry meremang. Hati Harry seolah dicabik-cabik oleh tangannya sendiri. Panggilan itu seharusnya ditujukan untuknya. Tapi ia sendiri melihat, James memeluk pria lain di depan matanya sendiri sambil memanggilnya 'Daddy'. "Aku ayahmu, nak," batin ayah mana yang tak kecewa.
"Hey, kau tak apa, James? Bagaimana Mrs. Potter? Al menjemputku dan mengajak kemari. Mrs. Potter sakit lagi?"
Harry langsung memperhatikan sosok kecil di belakang tubuh Martin. Al rupanya ikut datang. Al melihat ayahnya dengan pandangan mengintimidasi. Harry bergumam nama Al berharap putranya mau mendekatinya. Namun rupanya, berbicara saja tidak, Al memilih memalingkan wajahnya dan menatap tembok dibandingkan melihat wajah ayahnya sendiri.
"Al," panggil James pelan. Martin melepas pelukan James lalu memperhatikan Al di belakangnya.
Al tetap diam. Tak sudi berkomentar ataupun bertanya bagaimana ibunya. Hanya Martin yang tiba-tiba saja teringat akan sesuatu. "Ah.. tadi Dad ditelepon Al saat Dad masih di gereja. Ternyata Al menjemput Dad dengan taksi dan mengajak ke rumah sakit. Kata Al, kau dan Mr. Potter ada yang ingin dibicarakan dengan Dad. Apa itu James?" tanya Martin dengan lugu. Sama sekali ia tak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. James menunduk ketika Al kembali menyorot matanya dengan pandangan tak suka.
"Ap-apa, Dad? Aku—"
"Bukan kau yang harus menjelaskannya." Potong Al dengan nada tak bersahabat, James melihatnya takut lantas kembali tertunduk. James semakin muak dengan situasi ini. "Bicaralah, Dad!" Paksa Al menaikkan nada suaranya.
Harry tergagap, "Al—"
"Atau langsung saja Mr. Murray membacanya sendiri?"
Al mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya dan menyerahkannya pada Martin. Tangannya terulur menyodorkan surat beramplop atas nama Harry. Martin menggeleng, "apa ini? Surat?" tanya Martin serba takut.
"Anda tak akan terkejut dengan hasilnya jika anda memang tahu semuanya, sir." Jelas Al penuh tanda tanya. Al tidak berniat menjelaskannya sendiri karena menurutnya ia tidak punya hak untuk menjelaskan apa isi surat itu. Bahkan ia sendiri menunggu adanya penjelasan.
Pelan-pelan, Martin membuka lebaran surat di tangannya dan membaca satu persatu penjelasan rinci dalam tabel bertuliskan kode-kode medis yang tidak ia pahami. Nama-nama unsur anatomi, organ dalam, perhitungan dalam bentuk persentase, huruf, dan penjelasan-penjelasan ilmiah lain yang.. tidak begitu ia pahami. Ada nama James di sana.. nama Hermione.. dan nama Harry dalam satu kolom yang menjelaskan tentang hubungan ketiganya. Anak pada nama James, ibu pada nama Hermione. Dan satu keterangan lagi yang membuat Martin mulai sesak ketika matanya menangkap keterangan di samping nama Harry.
"Alleged father?" bacanya.
Harry memejamkan matanya mengontrol segala luapan emosi yang hampir meledak. Martin kembali membaca namun langsung menuju pada kolom terakhir tabel.
Probability of Paternity : 99.999999%
"Mr. Murray," Harry sudah tak kuat.
"Bukan saya." Ujar Martin cepat. Badannya bergetar hebat di depan James yang langsung mundur satu langkah. "Bukan saya yang mengambil James." Kata Martin terisak. Air matanya jatuh tepat di atas cetak nama James pada surat hasil uji DNA yang baru saja dibacanya.
James terkejut. Al mengeratkan rahangnya sama terkejutnya.
Bak diguyur hujan setelah kemarau panjang, badan Harry terasa dingin hingga ke ubun-ubun. Di depannya, Martin menangis sambil meremas kedua tangannya ketakutan. Suratnya terjatuh dan berhenti di depan kaki James. Sambil menahan napasnya, James memungut surat itu dan mencari tahu mengapa ayahnya tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti tadi.
"Jasmine menemukannya di depan pintu rumah kami," kata Martin langsung melangkahkan kakinya mendekati Harry. James terus menggeleng berharap itu hanya omong kosong ayahnya.
"No.. no, Dad! Kau bohong, kan? Katakan kalau kau bohong dan surat ini salah." Paksa James terus memohon meski Martin kembali melanjutkan ceritanya."Pagi itu, kami terkejut karena suara tangisan bayi, Mr. Potter. Jasmine begitu yakin ia mendengar suara bayi yang.. seolah meminta pertolongan. Saya pun mendengarnya juga, namun saya berusaha kuat untuk beranggapan itu hanya perasaan kami saja yang baru kehilangan calon buah hati kami. Tapi istri saya tetap yakin jika itu adalah suara bayi sungguhan. Bukan bayangan di kepala kami. Dan—" Martin berhenti. Berbalik menatap James yang terus berkata, "no.. no, Dad! No, no!"
"James tergeletak di depan pintu rumah kami sambil menangis dalam keadaan kedinginan." Lanjut Martin mengingat segala detail kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Harry mendengarnya secara seksama dan mempersilakan Martin kembali melanjutkan kisahnya. "Badan James kuning dengan jari-jari tangan dan kaki serta bibirnya membiru. Pusarnya masih basah sehingga kami mengira James baru saja dilahirkan lalu diletakkan di rumah kami. Kami seolah mendapatkan berkah pagi itu. Setelah kehilangan semua harapan untuk memiliki seorang anak, kami tiba-tiba mendapatkan James tergeletak di depan rumah kami."
James mendekati Martin dan menarik tangannya, "Dad, jangan lagi. Aku mohon jangan buat dirimu semakin tak ada artinya. Aku anakmu, Dad!"
"Maafkan aku, James! Maafkan istriku!" Martin menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi anak laki-laki itu. Wajah James menghangat karena menangis.
"No.. no, Dad! No..!"
Harry menghembuskan napasnya berusaha tenang, "dulu kami memiliki masalah besar hingga.. istri saya melakukan kesalahan besar pada putra kami yang baru lahir." Tutur Harry menjelaskan sedikit tentang apa yang ia ketahui tentang kelahiran James dulu. "Jadi anda tidak bersalah.. kami sudah tahu yang sebenarnya. Hermione menjelaskannya sendiri pada saya. Anda tidak bersalah." Suara Harry begitu memelas. Ada rasa tak tega di diri Harry karena menuntut Martin menjelaskan semuanya dengan cara yang tidak tepat.
Al menatapnya dengan penuh rasa haru. Ia melihat bagaimana James begitu menyayangi Martin yang sebenarnya bukanlah ayah kandungnya. James adalah kakaknya. Kakak yang selama ini ia tahu telah meninggal. Kakak yang begitu ia harapkan kehadirannya di dalam rumah. Kakak yang baik, kakak yang penuh tanggung jawab.. seperti James.
"Setiap harinya, kami berusaha membuat James bahagia tinggal bersama kami. Membuatnya merasakan sosok orang tua yang kami sendiri tidak tahu siapa. Bersamanya kami kuat. James membuat hidup kami kembali memiliki cahaya. James membuat kami berjanji, menjadi orang tua yang baik untuknya.
James kami didik menjadi anak yang bertanggung jawab, menyimpan cinta di dirinya. Membangun kasih dan membuang rasa dendam dalam hatinya. Karena kami percaya, suatu saat nanti James pasti mendapatkan kebahagiaannya tanpa perlu membesarkan rasa benci. Meskipun kami selalu merasa bersalah karena membuat hidupnya serba kekurangan. Membiarkan dia bekerja dan memahami artinya usaha di usia yang begitu kecil. Namun kami tahu, itu salah satu pendidikan untuknya. Kami bangga bisa memiliki James, dan saya pastikan pada anda, Mr. Potter—"
Martin meraih pundah James dan mencium dahinya sedikit lama. Memeluknya seolah ia sebentar lagi akan melepasnya pergi. "Akhirnya kau berhasil menemukan kebahagiaanmu, James." Bisik Martin lantas kembali mengecup dahinya.
"Anda," kata Martin kembali pada Harry, "tak akan pernah menyesal memiliki James sebagai darah daging anda." Ujarnya sambil berusaha tersenyum.
Pintu besar di sisi Harry terbuka. Seorang dokter wanita keluar dengan wajah kelelahan. Dahinya berkerut ketika bertanya tentang keluarga Hermione.
"Saya suaminya, dokter. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Harry sangat khawatir. Segala pikiran buruk kini ada di kepalanya saling serang.
Sang dokter menatap Harry dan menjelaskan tentang keadaan Hermione yang sudah diperiksa sejak satu jam yang lalu. "Janinnya keluar dengan sendirinya hingga terjadi pendarahan hebat. Kondisi Mrs. Potter sendiri saat ini tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Jika pendarahannya sudah berhenti total, kami akan melakukan kuret tentu saja setelah mendapatkan persetujuan dari keluarga." Jelas dokter.
Harry tidak bisa mencerna penjelasan yang begitu cepat dari dokter yang menangani Hermione itu. "Sebentar, anda mengatakan.. janin?" tanya Harry menyadari sesuatu yang aneh. "Janinnya keluar? Jadi istri saya—"
"Mrs. Potter sedang mengandung, dan jika melihat kondisi rahimnya.. janinnya berusia sekitar sepuluh minggu." Tutur dokter kandungan yang memiliki nama Mary Krane.
"Ta-tapi.. Hermione tidak pernah—astaga! Lalu bagaimana sekarang, dokter?" tanya Harry.
"Kami masih memantau pendarahannya dan berusaha untuk menghentikannya sekarang. Ini bahaya, Mr. Potter. Rahim istri anda sangat lemah. Kami harus berbuat sesuatu untuk menjaga kondisi rahimnya agar tak berpengaruh luas pada kesehatan Mrs. Potter nanti. Harus segera dilakukan tindakan kuret untuk membersihkan rahimnya."
Hermione mengandung janin usia dua bulan lebih dan Harry tidak mengetahu itu. Dan sekarang, ia harus merelakan calon buah hatinya kembali pergi dan mengancam nyawa istrinya. "Kuret? Jika itu cara yang terbaik, tolong lakukanlah, dok. Selamatkan istri saya." Pinta Harry.
"Tapi, kami membutuhkan donor darah untuk Mrs. Potter. Beliau kehilangan banyak darah sekarang dan itu bisa berbahaya ketika kami melakukan pembersihkan rahimnya nanti. Namun, rumah sakit sedang kehabisan stok darah O negatif. Apakah ada yang bisa mendonorkan darahnya untuk istri anda, sir? Sangat dibutuhkan segera golongan darah O negatif—"
Harry tersentak hebat. Ia tidak bisa membantu karena golongan darahnya adalah AB. Sedangkan golongan darah O negatif adalah Al. Tapi itu tidak mungkin, usia Al belum bisa mendonorkan darah untuk membantu ibunya.
"Saya!" Martin menyela pembicaraan Harry dan dokter Krane tiba-tiba. "Golongan darah saya O negatif. Saya akan mendonorkan darah saya untuk Mrs. Potter."
"Mr. Murray, anda—" Harry menyela namun Martin menggeleng pelan.
"Biarkan saya membantu anda, Mr. Potter. Anda sudah banyak membantu kami. Anda dan Mrs. Potter telah membantu istri saya begitu banyak. Keluarga saya. Jadi.. saya mohon, saya ingin menyelamatkan Mrs. Potter untuk menyampaikan rasa terima kasih Jasmine dan saya pada keluarga anda."
James memegang tangan Martin begitu erat. Menariknya kecil-kecil untuk memberikan semangat pada Martin. Di lubuk hati James paling dalam, ia pun tak ingin kehilangan ibu kandungannya meski telah mencampakkanya bertahun-tahun.
"Saya tidak mau.. James kehilangan ibunya untuk kedua kalinya." Martin terisak.
Harry memeluk tubuh Martin dan berbisik kata-kata syukur dan terima kasih berulang kali di telinganya. Martin tersenyum haru meski airmatanya semakin deras mengalir. Di sisi lain, Al dan James kembali berpandangan. Mereka saling tatap meski James langsung kembali menunduk tidak berani membalas tatapan Al yang jauh lebih lunak dari sebelumnya.
"James," panggil Al.
James tetap menunduk sampai akhirnya sebuah telapak tangan menyentuh pipinya. Martin sudah diajak masuk ke ruangan UCC kembali bersama dokter Krane sementara Harry berjalan dengan seorang petugas pria yang membawanya ke bagian administrasi. Tinggallah James dan Al berdua di bangku tunggu.
"Lihat aku, James." Panggil Al lagi.
James perlahan menaikkan pandangannya lantas menatap Al sayu. "Ma—"
"Aku yang harusnya minta maaf. Jadi berhentilah merasa bersalah." Ujar Al. Keduanya saling pandang dan memperhatikan bentuk wajah yang ada di hadapan masing-masing.
"Kau memiliki mata Mum. Rambutmu lebih hitam dariku meski sama acak-acakan." Tutur Al mendeskripsikan diri James. Mereka lantas tertawa bersama.
James tersenyum lantas menjawab, "Rambutmu juga acak-acakan, meski warnaya lebih coklat. Dan matamu.. hijau cerah, sama seperti.. Dad—"
"Iya?" tanya Harry seolah menjawab panggilan James. Al dan James sama-sama melihat kedatangan Harry yang sudah kembali dengan kertas persetujuan kuret dan pelunasan administrasi perawatan Hermione.
James tersenyum simpul menatap Harry. Al mendorongnya pelan agar lebih mendekat pada Harry. "Da-daddy!" panggil James pelan. Ia langsung memeluk tubuh Harry dan menangis haru di dadanya. Harry pun tak kalah emosionalnya dengan menciumi puncak kepala James hingga ke wajah.
Harry kini berlutut agar bisa menyamakan tingginya dengan tinggi James. Bahkan, ia bisa lebih leluasa memperhatikan James dan melihat sendiri kebenaran hasil pengambaran Al tentang diri James. "Oh, Al—" Harry teringat dengan putranya yang lain.
Al tersenyum kepadanya dari jarak setengah meter. "Kemarilah, nak!" pinta Harry meminta Al ikut memeluknya. Sungguh, Harry sangat bahagia akhirnya kembali berkumpul dengan dua putranya sekaligus. Menciumi kedua anak laki-laki itu dengan penuh rasa haru.
Sama seperti sosok pria yang terbaring di balik pintu ruang pendonoran darah di belakang mereka. Martin melihatnya ikut tersentuh. Ia lantas melihat langit-langit ruangannya sambil membayangkan sosok Jasmine yang terseyum puas padanya. "Kau tak perlu khawatir lagi, sayang. James telah menemukan kebahagiaannya." Batin Martin, ia menangis terharu.
- TBC -
#
Huahh.. *tarik napas* Bagaimana? Anne mau tanya, nih. Rencananya chapter 10 nanti sudah di ending. Tapi.. bagaiman enaknya? Mau lebih atau cukup di chapter 10? Tambah Epilog? Atau bagaimana? Jawab di review, ya! Ehh iya, masih ada typo? Kalau masih, mohon maaf. Bisa dikoreksi, nanti Anne benarkan (edit ulang).
Oh, ya, Selamat Natal ya buat teman-teman yang merayakannya! Anne undur diri. Tunggu chapter selanjutnya sebagai jawaban! Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne xoxo
