Kenangan Bersamamu

cerita oleh : Ainata Gou

Disclamer

Naruto © Masashi Kishimoto sensei

.

.

.


Cerita sebelumnya:

"E-eeh, maksud Kushina-chan?"

"Bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?"

"Hahaha, kalau soal itu aku tidak berani jamin Kushina-chan."

"Ehh, kenapa? Apa kau tidak mau kalau kita menjadi besan?"

"Bukan begitu, hanya saja aku mau Hinata yang memutuskannya sendiri, apakah ia mencintai Naruto atau tidak nantinya. Yah, biarkan semuanya mengalir saja Kushina-chan. Nah ayo sekarang kita ikut masuk, mulai dingin diluar sini."

"Ha-i ha-i, Haruko-chan, ayo kita masuk, aku juga mulai lapar."

.

.

.


*Ruang Makan*

"Heee, Naruto kemana saja kau, seenaknya saja pergi."

*pletak*

"Aaaa~ I-ittai tebayo, bu, kenapa kau kasar sekali." Sambil menggosok-gosok bagian kepalanya yang tadi kena jitak.

"Siapa suruh kau pergi begitu saja ha?"

"Sudah-sudah, yang pentingkan semua sudah berkumpul sekarang." Ucap Minato saat baru datang bersama Hiashi setelah menyelesaikan kontrak mereka ia merasa harus melerai istri dan anaknya, karena akan jadi repot kalau sampai Kushina mengamuk disini.

"Baiklah, ayo mulai makan saja, biar aku siapkan makanannya." Ucap Haruka

"Biar aku bantu okasan."

"Tidak perlu Hinata, kamu duduk saja disini, lagi pula ada bibi Ginko yang bisa bantu okasan, oke?"

"Baiklah." Kata Hinata, sambil kembali terduduk di bangkunya.

Acara makan malam itu berjalan dengan hening, yah semua juga tahu bagaimana keluarga Hyuga, sangat menjunjung tinggi adat, tradisi, sopan santun dan hal semacam itu. Setelah acara makan malam selesai mereka semua berkumpul di ruang keluarga dan mulai berbincang-bincang santai.

"Ayah, aku mendapatkan ini dari Hinata-chan, coba lihat."

"Ne, apa ini Naruto-kun? Seperti tiket kah?"

"Iya ayah, ini keren kan, jadi aku akan menggunakan tiket ini seperti kontrak perjanjian yang biasa ayah lakukan dengan rekan bisnis ayah. Jadi ayah tidak bisa lagi melanggar janji yang sudah ayah buat bersamaku."

"Wah, itu adalah hal yang biasa Hinata dan Hanabi lakukan padaku juga." Sahut Hiashi saat mendengar cerita Naruto.

"Oh, kau menggunakan cara ini huh? Hahahha, apakah salah satu cara melatih anakmu dalam perbisnis? Baiklah, aku juga tidak akan kalah. Oke kita lakukan hal itu ne Naruto-kun."

"Nah, sebagai tiket pertama aku ingin ayah mengantarku untuk mengatar keberangkatan Hinata dan keluarganya besok pagi."

"Eh, bukankah ayah berjanji untuk mengajakmu ke taman bermain Naruto-kun?"

"Yaah, tapi aku lebih ingin mengantar keberangkatan Hinata-chan besok ayah." Ucap Naruto sambil memandang Hinata malu-malu.

Minato yang melihat tingkah Naruto seperti ini hanya bisa sweetdrop, 'Masa iya anaknya sudah mengenal cinta monyetnya sedini ini. Hahahah, jadi ingat kisahnya dengan Kushina dulu.' Batin Minato.

"Hahahah, yah baiklah kita akan mengantar kepergian keluarga Hyuga besok oke? Jadi karena besok kau berangkat jam 7 pagi dengan penerbangan jam 9 aku rasa sebaiknya kita bergegas pulang agar besok tidak terlambat saat akan mengantar kepergianmu Hiashi."

"Yah, ada benarnya, tapi mengapa kau tidak menginap saja sekalian Minato? Ada cukup banyak kamar disini untuk kalian menginap kan."

"Benarkah boleh jii-san?"

"Tentu saja boleh asal ayahmu mengijinkannya Naruto."

Minato menatap istrinya meminta persetujuan. Kushina hanya mengangguk saja mendapat tatapan dari suaminya.

"Tapi apakah tidak merepotkanmu Haruka-chan? Pasti banyak hal yang harus kau persiapkan bukan?" tanya Kushina

"Tentu saja tidak Kushina-chan aku justru senang bisa memiliki waktu lebih lama denganmu sebelum keberangkatan ke Eropa, lagipula .. belum tentu juga kita bisa bertemu setelah ini kan?"

"HARUKA!" bentak Hiashi tiba-tiba

.

.

.

'Suasana menjadi tegang setelah terikannan Hiashi ojisan, meski aku masih kecil aku tahu pasti ada suatu hal besar berkaitan dengan kepergian keluarga Hyuga ke Eropa esok hari.' Kata Naruto dalam hati.

"Tidurlah, ini sudah terlalu malam, kau boleh tidur dengan Kushina kalau kau mau Haruka. Aku akan kekamar lebih dahulu. Pelayan akan menyiapkan kamar untukmu Minato, maaf kalau harus meminjam istrimu untuk menemani Haruka malam ini, mereka pasti mau menghabiskan malam bersama sebelum keberangkatan besok." Ucap Hiashi sambil berlalu.

"Yah, bukan masalah Hiashi, bahkan kalau kau mau meminjamku untuk menemanimu malam inipun tidak masalah." Jawab Minato yang hanya dapat tatapan horor dari Hiashi.

"Biar aku mintakan pelayan untuk menyiapkan 3 kamar untuk kita, Minato-san dan Naruto-kun, tunggu sebentar."

"Eh, biar Naruto tidur dengan ku saja." Ucap Minato.

"Eeeehh, kenapa ayah? Apa kau takut untuk tidur sendirian?"

"Enak saja, tentu saja bukan karena itu, hanya agar pelayan tidak repot harus menyiapkan banyak kamar tentu saja."

"Eh, daripada tidur dengan ayah, aku memilih tidur dengan Hinata-chan saja."

"Eh! Apa-apaan kau Naruto, tentu saja tidak boleh." Jawab Kushina, sedangkan Hinata yang menjadi topik pembicaraan hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah mulai memerah.

"Tentu saja tidak boleh, karena Hinata ne-sama akan tidur denganku!" jawab Hanabi yang ikut angkat bicara.

"Haahh, baiklah terserah saja." Jawab Naruto tidak mau berdebat dengan adik Hinata ini, karena terlihat sekali ia orang yang keras kepala.

.

.

.


*Skip time di dalam kamar Kushina dan Haruka*

"Eh, jadi itu alasan kau tiba-tiba saja harus ke Eropa besok Haruka-chan? Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini? Hiks.. hiks.." teriak Kushina sambil mulai terisak setelah mendengar penjelasan Haruka, itupun setelah dipaksa cerita, karena Kushina yakin ada suatu masalah yang disembunyikan Haruka setelah mendengar Hiashi membentaknya tadi.

"Maafkan aku Kushina, hanya saja aku tidak mau membuatmu kepikiran."

"Tapi sekarang aku tetap saja jadi kepikiran, kamu tidak seharusnya menyembunyikan masalah ini, kita bersahabat sejak kecil kau ingat."

"Iya, mana mungkin aku lupa kalau kita bersahabat sejak kecil meski sempat lama tak bertemu dan kembali bertemu karena ternyata suami kita juga saling mengenal. Hanya saja Kushina-chan ada banyak masalah yang tidak perlu kita ceritakan bukan?"

"Kenapa? Karena kau tidak percaya padaku kah?"

"Tentu saja bukan karena itu, aku sangat percaya padamu, oleh sebab itu aku memutuskan untuk minta tolong padamu Kushina-chan. Kalau seandainya sesuatu terjadi padaku, tolong rawat Hinata dan Hanabi, mereka pasti akan membutuhkan kelembutan seorang wanita, kau tahu sendiri betapa kerasnya Hiashi. Terutama Hanabi, ia masih terlalu kecil dan dia keras kepala sepeti ayahnya."

"Haruka! Kenapa malah berbicara seperti itu? Aku tidak mau dengar, kau pasti akan bisa kembali ke Eropa dan merawat kedua anakmu sendiri. Bahkan kita pasti bisa menjadi besan Haruka-chan."

"Hehehe, jadi kau serius untuk menjodohkan Hinata dengan Naruto-kun? Aku harap semua bisa berjalan dengan lancar Kushina-chan. Aku tentu yang paling tahu bagaimana keadaanku sendiri, aku hanya merasa tidak akan ada .."

"Cukup! Aku tidak mau dengar, aku yakin kau pasti bisa Haruka, kau harus percaya diri."

"Ya ya, baiklah aku akan berusaha, tapi kau harus berjanji untuk merawat Hinata dan Hanabi bila terjadi sesuatu."

"Tanpa kau mintapun aku akan merawat mereka bukan. Pokoknya aku tidak mau dengar lagi kalau kau pesimis."

"Baiklah. Arigato ne Kushina-chan."

"Tentu saja, kau bukan hanya sahabatku Haruka, kau sudah seperti saudara, dan kita akan menjadi besan suatu saat nanti."

"Hahahah, kamu serius tentang hal itu ternyata Kushina-chan aku juga berharap bisa seperti itu. Tapi lebih baik kita tidur dulu sekarang, oke?"

"Baiklah, ayo kita tidur."

.

.

.

(TBC)


Ainata Gou's Note:

Holla minna-san, Ai kembali lagi meneruskan kisah "Kenangan bersamamu"

Entah kenapa Ai merasa kecewa dengan fic ini, karena rasanya feelnya kurang dapat dan penggambaran untuk karakter awal ini terasa berjalan sangat lama. Sedikit sedih dan kecewa sama diri sendiri, tapi juga berjanji untuk menyelesaikan fic ini terlebih dahulu sebelum mulai menulis cerita baru, atau akan semakin berantakan. Heheheh..

Para pembaca sekalian terimakasih buat semua yang sudah follow, fav dan terutama yang udah review semua reviewer bikin Ai jadi semangat buat nerusin fic ini, walau ide untuk konflik utamanya malah gak sampai-sampai karena Ai terlalu bertele-tele dalam perkenalan karakter ini. huhuhu..

Ngomong-ngomong, Ai tidak mau dipanggil author, rasanya terlalu dewa banget kalau dipanggil author, tapi semua kembali ke pembaca sekalian hehehe. Sekian note dari Ai, ngomong-ngomong lagi, ada yang tahu cara bikin main pairing di fiction kita bisa tampil didalam kurung dua?

.

.

.

REVIEW