Akhirnya pun pulang sekolah. Dengan anggunnya, Killua menganggukkan kepala kepada guru dengan senyum, mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi keluar dengan senyum juga. Dia sengaja berjalan lambat karena Kuroro bilang kalau kelasnya akan berakhir lebih cepat darinya, jadilah Kuroro sudah duluan di sekolah Hunter, buat mengalihkan perhatian Kurapika pastinya.
Dan sudah pasti, Kurapika mulai bentak-bentak akan hal ini.
"Ngapain kamu kesini!?" Bentak Kurapika pas ngeliat Kuroro yang lagi tebar senyuman ama cewek-cewek yang menyambut kedatangan Kuroro. Gon yang ada di belakang Kurapika pun mulai sedikit bergidik ngeri.
"Oh Kurapika. Hai" ucap Kuroro sambil senyum dan menunjukkan deretan giginya.
"Mau apa kamu kemari!?" ucap Kurapika sambil menglare Kuroro.
"Waduh, jangan kasar-kasaran lah. Muka cantikmu kan jadi gak enak diliat" ucap Kuroro.
"Biarin! Kalo gak suka ya gak usah diliat!" Teriak Kurapika dengan kesal.
Gon hanya sweatdrop aja sekarang. Merasa gak dianggap di antara kedua senpai itu dan dia pun jadi terlihat sedikit kesal. Tiba-tiba, gadis itu mulai tersenyum senang, melihat Killua muncul dan melambaikan tangan padanya dan memberi isyarat untuk mengikutinya.
Tanpa pikir panjang soal senpainya itu, Gon pun berlari kecil ke arah Killua. Keduanya menyapa satu sama lain sebelum tertawa kecil sebentar bersama sebelum pergi berlari kecil bersama juga, sementara kedua senpai itu lagi asyik ama satu sama lain.
"Hufft" Kurapika mulai menghela nafas dengan kesal. "Sudahlah, aku capek ngelayanin kamu" ucap Kurapika, sedikit ngos-ngosan.
"Oya? Padahal aku gak keberatan" ucap Kuroro dengan sedikit cengiran.
"Sudahlah! Ayo Gon, kita pergi" ucap Kurapika.
Hening
"Gon?" Kurapika menoleh ke belakang dan terkejut. Melihat Gon sekarang sudah gak ada.
"Oh, si Gon tadi ngikut cowok rambut silver yang punya seragam sama seperti dia" ucap salah satu murid cowok yang menyaksikan semuanya dan menunjuk Kuroro.
"Whats! Kuroro! Jangan bilang kalau kamu disuruh ama kouhaimu buat bisa mengalihkan perhatianku sehingga kouhaimu itu bisa membawa kouhaiku!" teriak Kurapika kecil.
Kuroro tersenyum licik "Kalo gitu aku gak bakal bilang karena kamu suruh aku gak usah bilang kan?"
"SIALAN! Kemana kouhaimu itu bawa Gon, hah!?" Bentak Kurapika dengan nada kesal, bagaikan ibu yang mendapati anaknya diculik.
"Gak tahu, palingan mereka sedang bersenang-senang berdua" ucap Kuroro sambil mengalihkan pandangan.
"Gw gak mau tahu! Bawa gw ke kouhaimu sekarang juga!" teriak Kurapika dengan super marah.
Kuroro menyeringai "Baiklah, baiklah. Kalo begitu ikut aku" ucap Kuroro sebelum pergi.
"Kalo ada apa-apa terjadi ama Gon. Aku bersumpah akan membunuh kouhaimu itu!" ucap Kurapika sambil mengikuti Kuroro dengan death glare.
Akhirnya, di sisi Killua ama Gon yang sudah berada di karaoke box.
"Oke, kita sewa tempat ini selama dua jam. Kamu mau pesan minuman dulu, Gon?" Tanya Killua saat melihat menu.
"Oh, boleh juga. Aku pesan orange juice saja" ucap Gon yang melihat menu juga.
"Oke, aku pesan lemonade kalau begitu" ucap Killua sambil berjalan ke arah telepon dan memesan minuman.
"Ah, aku suka lagu ini" ucap Gon sambil menekan tombol remote.
Aku suka, aku begitu menyukaimu~
GUBRAK!
"Halo? Halo!? Apa ada masalah?"
"Hah?" Gon pun menoleh ke belakang dan terkejut "Eh, Killua? Kenapa kamu bisa terjatuh?" Tanya Gon dengan bingung karena melihat Killua di lantai dengan telepon bergelantungan.
Tanpa menjawab pertanyaan Gon, Killua hanya mengambil kembali gagang telepon tersebut.
"Maaf, tidak ada apa-apa. Kami tunggu pesanannya" ucap Killua dengan singkat sambil meletakkan kembali gagang teleponnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Tanya Gon dengan bingung.
"Sebenarnya…" ucap Killua terputus.
Ku menyukaimu, lebih dari siapapun
BLUSH!
"Bi- Bisa tolong matikan lagunya?" ucap Killua dengan muka yang sangat merah.
"Kenapa Killua? Kamu demam?" Tanya Gon sambil mendekati Killua.
"E- B-Bukan! A-Aku tidak a- apa-apa" Sontak, Killua pun berjalan mundur
Jantung Killua mulai berdegup kencang, apalagi sekarang punggungnya sudah menempel ama tembok. Gak bisa lagi lah dia pergi secara perlahan-lahan, Gon pun sekarang berada di depan Killua dan di jarak yang sangat dekat, benar-benar dekat.
"T- Tunggu, Gon" Killua mulai panik sekarang.
Perlahan-lahan, Gon pun mulai meletakkan telapak tangannya ke kening Killua.
"U-uhh, i-ini" ucapan Killua pun mulai terbata-bata, secara dia mulai overheat kembali.
Kukatakan suka, begitu sukanya aku padamu
`Sialan! Ini semua gara-gara lagu itu! Kenapa Gon harus suka lagu ini sih!? Liriknya sekarang menyesatkan!' Pikir Killua sambil memejamkan matanya erat-erat. Degupan jantungnya sekarang sudah lebih keras dan kencang sekarang. Nafasnya pun mulai memburu.
"Ngg~ Kamu rasanya agak panas. Apa sedikit demam? Coba aku cek sekali lagi" ucap Gon
`EH? Tunggu! Kan ini sudah dicek! Mau ngecek gimana lagi!?' Pikir Killua dengan bingung dan panik.
Tangan Gon yang di dahi Killua pun mulai turun ke bahu Killua, yang akhirnya ke belakang lehernya dan perlahan-lahan, membuat Killua menundukkan kepalanya dan perlahan-lahan Gon pun mulai mendekat.
Pikiran Killua saat ini gak bisa berpikir jernih, melihat Gon perlahan-lahan mulai mendekat, apalagi bibirnya ke arahnya. Membuat Killua teringat akan insiden ciuman mereka yang disangka CPR. Gara-Gara gak fokus, lagu yang diputar pun sekarang udah gak masuk ke otaknya, bahkan dia gak bisa dengar apa-apa kecuali detak jantungnya itu.
`Ma-masa kita bakal ciuman? Gak mungkin kan!? Anak ini aja gak tahu soal ciuman! Gak mungkin! Pasti hal itu gak mungkin terjadi!' Pikir Killua dengan paniknya.
Tuk
Killua mulai diam, merasakan dahi Gon dan miliknya bersentuhan. Saat ini, Killua hanya bisa mencoba mengatur detak jantungnya dan juga napasnya yang tak beraturan melihat Gon yang memejamkan matanya. Seakan-akan, dalam posisi ini. Gon meminta Killua untuk menciumnya.
"Hmm, emang sedikit panas. Tapi sepertinya bukan panas demam, jadi tidak ada masalah. Mungkin kamu hanya sedikit kecapekan Killua" ucap Gon, membuka matanya sambil di posisi yang sama.
`Sudah kuduga' Pikir Killua yang gak tahu musti kecewa dia atau musti merasa depresi. Perasaan, dua-duanya bukan pilihan yang menarik.
"Kenapa kamu terengah-engah begitu Killua? Kamu kecapekan yah?" Tanya Gon dengan nada khawatir. Lagi, mereka masih di posisi sama.
"Ti-Tidak. Tidak apa-apa, hanya sedikit sesak nafas saja!" Bohong Killua dengan cepat tanpa mikir konsekuensinya.
"Eh!? Jangan-jangan, Killua ada asthma!?" Teriak Gon kaget dengan kecil.
"Ha? A-Aku- Mpf!"
Mata Killua membelak tak percaya, tak disangka Gon sekarang menciumnya. Bahkan Gon yang mulai pula! Sekarang Killua pun tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya bisa bengong saat Gon melumat bibirnya dan menghisap bibir bawahnya yang reflex, membuat Killua membuka mulutnya yang disambut oleh Gon memasukkan lidahnya ke mulutnya.
`A- Bukannya Gon itu gak tahu soal ciuman!? Gimana caranya dia bisa tahu tekniknya(?) Bahkan pikiran gw jadi blank seka-rang'
Pikiran Killua benar-benar sudah blank, membiarkan Gon menciumnya dan mendominasinya. Hampir lima menit, Gon pun melepaskan ciumannya. Napas mereka berdua pun menjadi terengah-engah saat ini.
Air liur pun menetes sedikit di sudut bibir Killua, perlahan-lahan, matanya yang kabur pun mulai fokos setelah sadar.
"G- Gon, kamu- apa yang-" ucapan Killua mulai terbata-bata, akibat kedahsyatan dan kepanikan (?) akibat ciuman mendadak yang diberikan Gon tadi.
"Eh? Aku hanya memberimu oksigen. Masih sesak nafas lagi, Killua?" Tanya Gon dengan muka polosnya.
"HA!? Yang benar tuh kamu malah memberiku karbon dioksida! Mana mungkin asthma itu bisa sembuh dengan cara seperti itu!" Bentak Killua dengan penuh kekecewaan. Meskipun dia sangat menikmati ciuman itu.
"Ah, gak bisa yah" ucap Gon dengan suara pelan dan sedikit serak.
"Err, itu" Killua mulai panik, takut-takut Gon akan menangis.
"Jadi… Killua bakal mati!?" ucap Gon dengan horror sambil sedikit menangis.
"HAH!?" Ucap Killua dengan kagetnya.
"Jadi… pertolongan pertama tadi itu, sia-sia saja?" ucap Gon, sedikit meringis dengan beberapa bulir air mata kembali mengalir.
"Eh, tunggu dulu! Gw ini masih sehat walafiat. Gw gak ada penyakit asthma. Terus, pertolongan pertama tadi, gak- sia-sia" ucap Killua dengan suara tinggi sebelum menjadi rendah di kalimat terakhir.
"Benarkah, apa buktinya?" tanya Gon.
"Eh? Bukti? Gw gak apa-apa sekarang" ucap Killua agar meyakinkan dirinya baik-baik saja. Yah, emang nyatanya dia baik-baik saja. Meskipun dia emang punya penyakit, yaitu penyakit cinta ama Gon.
"Gak percaya" ucap Gon sambil melihat Killua.
`Ugh! Apa yang harus kuperbuat biar dia percaya!?' Pikir Killua dengan bingung. Saking bingungnya, dia pun rasanya bisa menggaruk kepala dan menarik rambutnya akibat stress soal ini.
Detik-detik pun berlalu. Killua hanya bisa melihat Gon dengan pandangan bingung sementara Gon hanya melihat Killua dengan pandangan cute. Killua bisa melihat sedikit air liur di sudut bibir milik Gon, mengingat pertolongan pertama tadi, membuat Killua menelan ludah akan memori itu.
`Celaka, gw jadi pengen cium dia sekarang. Bibirnya emang lembut, apalagi lidahnya yang menari di mulutku tadi. Tunggu, gw gak berhak melakukan itu! Sadar! Woi ! Sadar! Oi!'
"Killu- ahh!"
Dengan gerakan cepat, Killua menarik Gon ke pelukannya. Menatap Gon dengan pandangan intens selama beberapa saat sebelum menciumnya. Melumat bibir milik Gon dengan lembut sebelum akhirnya menghisap bibir bawahnya agar Gon membuka mulutnya dan memasukkan lidahnya agar menari dengan satu sama lain. Bersamaan dengan tangannya sedikit bermain dengan rambut halusnya Gon.
Lebih dari lima menit berlalu sebelum akhirnya Killua melepas ciumannya yang kemudian melihat Gon sedikit ngos-ngosan dengan muka merah yang mempunyai tampang memelas dan cute. Tergoda sekali dia untuk melakukannya lagi dan dia pun melakukannya kembali yang kemudian mulai menikmatinya sampai saat –saat itu berakhir.
"Gon" ucap Killua sambil menatap Gon dengan intens dan serius.
Gon mulai sedikit terkejut, melihat pandangan Killua yang diberikan padanya.
"Gon, sebenarnya, aku-
" Pesanan anda sudah datang, lemonade dan orange juice" Ucap sang pelayan yang tiba-tiba masuk.
GLARE
Langsunglah Killua menatap pelayan itu dengan tatapan membunuh, yang membuat pelayan itu meletakkan pesanan minuman mereka dengan gugup dan cepat-cepat pergi.
Hening.
BLUSH!
Blushing Killua pun kembali lagi. Kali ini, dia pun melepaskan Gon dan duduk di sofa mengambil lemonade miliknya dan menutup mukanya yang benar-benar merah.
"Killua? Kamu sebenarnya, apa? Apa yang kamu ingin bicarakan tadi?" Tanya Gon dengan bingung.
"Ti- Tidak apa-apa. Lupakan saja, aku mungkin lagi sedikit capek. Lebih baik minum dulu, kamu juga minum dulu sebelum kita nyanyi" ucap Killua.
"Oh, baiklah" ucap Gon sambil duduk di sebelah Killua dan meminum orange juicenya.
`SIALAN! Mikir apa gw tadi! Mencium dia seenak jidat ketika kita gak berpacaran! Bahkan aku hampir saja menyatakan cinta gw juga tadi! Mesti bilang apa gw ke Gon, gw lagi praktek nafas buatan!? Ngaco banget itu! Apa yang harus gw lakukan kalau begitu! Kalau senpai nya Gon tahu, gw pasti udah dibunuh!'
Pikiran Killua pun membuat Killua sadar, apa yang Kuroro senpai saat ini sedang lakukan dengan Kurapika senpai? Masih bersama kah mereka? Atau si Kurapika ntu lagi nyariin mereka?
Ya Tuhan, lindungilah hambamu ini.
Tak disangka, saat ini Kurapika lagi ngikut Kuroro ke shopping street. Dimana di jalan-jalan terdapat berbagai stand kecil berderet yang menjual berbagai macam barang. Kuroro berjalan ke depan sementara Kurapika dengan dongkol mengikuti dari belakang.
"Oi Kuroro! Kamu yakin si Gon ama kouhai elu ada di sekitar sini?" Tanya Kurapika dengan sorot mata tajam.
"Hmm~" Gumam Kuroro.
"Kalo kouhai elu berani macam-macam, gw gak segan-segan bunuh dia. Camkan itu, Kuroro!" Ancam Kurapika yang benar-benar gak bergurau akan hal itu.
"Hmm~" Gumam Kuroro lagi.
"Ngapain elu jawabnya gitu, bisa ngomong gak? Elu ngerti kan!?" Bentak Kurapika.
"Hmm~" Gumam Kuroro kembali.
"Sudahlah, pokoknya bawa saja gw ke kouhai elu jadi gw bisa nyelametin Gon." Desah Kurapika dengan kesal.
Saking seriusnya Kurapika dengan pikiran untuk menyelamatkan kouhainya, Kurapika pun gak melihat senyuman misteriusnya Kuroro yang terpasang di wajahnya itu.
"Serius sekali yah, kamu dengan kouhaimu" ucap Kuroro.
"Hah!? Tentu saja. Gon itu sahabat terbaik gw!" ucap Kurapika.
"Benarkah? Alasanmu mau menyelamatkan kouhaimu itu karena dia sahabatmu, atau karena tantangan yang kuberikan untukmu?" tanya Kuroro sambil berhenti dan menoleh ke Kurapika.
Sesaat Kurapika terlihat shock, sebelum rupa itu digantikan dengan tatapan tegas.
"Cih, tentu saja karena dia sahabatku" Bentak Kurapika.
"Oh maaf, kukira karena tantangan milikku, karena tak kusangka kalau kamu mempertaruhkan sahabatmu sendiri dalam tantangan yang kuberikan ini" ucap Kuroro dengan seringai.
Kurapika menjadi diam, dia mulai menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Oh, apakah aku benar?" Tanya Kuroro dengan seringai yang lebih lebar.
"Diam! Pokoknya antarkan saja aku ke kouhaiku. Lagipula, apapun yang kamu katakan, tidak akan mengubah apa-apa. Yang pasti, aku yang akan memenangkan tantangan ini!" ucap Kurapika dengan tatapan yang kejam.
"Ya,ya. Tapi kamu tahu konsekuensinya kalau kamu kalah kan?" ucap Kuroro sambil membalikkan badan.
"Aku tahu. Aku tidak mungkin membuat pertaruhan yang sudah pasti aku akan kalah. Bisa dipastikan kalau aku akan menang" ucap Kurapika.
"Hm, selamat berjuang" ucap Kuroro sebelum berjalan pergi.
Kurapika mengikutinya dengan kesal, tatapan kesalnya masih terpasang dari awal dia mengikuti Kuroro. Dia pun melototi punggung Kuroro selagi mereka berjalan.
(Kau meremehkanku Kuroro. Akan kutunjukkan kalau aku pasti menang dan kamu akan kalah dalam permainan milikmu sendiri. Karena tantangan ini melibatkanku dan Gon. Aku tidak akan kalah!)
Review
karin Ashiya (chapter 5) Betul sekali soal perjuangan Killua. Lalu, jangan-jangan apa? Wah, no spoiler lah. Kalo gitu kan ceritanya jadi gak menarik. Akhirnya perjuangan ngetik chapter ini terbayar juga. Terima kasih banyak atas support anda
mari (chapter 5) Itu rahasia, no spoiler pastinya. Ikuti saja terus ceritanya dan berharap bisa terus-terusan update.
Ailasca-chan (chapter 5) Iya, emang sembah sujud syukur soal sudah update. Author emang terus-terusan sibuk, tapi bahagia banget bisa update. Terima kasih sudah lama menunggu dan terus-terusan menunggu.
