Previous episode...
"Hey! Kau orang baru disini?" sapa Seungri dengan menepuk sebelah bahu milik Seunghyun.
Seunghyun berbalik menatap datar Sang pelaku. "Iya, sepertinya."
Seungri tersenyum dalam hati, "Kau ..sedang ada masalah, benar?" tebakan Seungri muncul dari hasil pengamatannya. Mengamati kondisi calon pelanggannya bukanlah hal yang sulit bagi Seungri.
"Tidak ada urusannya denganmu." Seunghyun kembali fokus, kemudian mengambil gelasnya yang kosong untuk dituangkan cairan vodka kedalamnya.
"Memang tidak ada urusannya denganku. Tetapi jika kau butuh sebuah pelampiasan, mungkin aku bisa membantu." Seungri mulai mengeluarkan foto-foto pekerjanya. Ia memainkan foto-foto tersebut membuat Seunghyun tampak penasaran dengan isi pada foto-foto tersebut.
"Membantu seperti apa?"
Seungri segera menempelkan satu persatu foto pekerjanya di meja bar. Ia menatap sekilas ekspresi Seunghyun—tampak penasaran, 'Satu mangsa hampir terlumpuhkan.'
"Silahkan pilihlah orang-orang ini sesukamu. Tetapi jika boleh kuberi saran. Pilihlah pria ini." Seungri menggeser letak salah satu foto menjadi lebih depan. Orang yang terdapat pada foto itu.
Seunghyun mengenalinya.
.
.
.
.
.
One Day © Mikyharu
.
.
.
.
.
Dia pernah sekali bertemu dengan pria itu. Sangat tidak menyangka pria itu ada di tempat seperti ini. Kim Jinhwan.
"Mengapa aku harus memilihnya?" Seunghyun menatap tajam iris hitam kelam yang dimiliki lawan bicaranya.
Ia sedikit kesal dengan ekspresi Seungri, Seungri pun menyadari itu. Kemudian segera memasukan foto-foto yang ia keluarkan.
"Kau lihat orang yang sedang duduk di sana?" Seungri menunjuk seseorang yang sedang duduk santai pada sebuah sofa bersama temannya yang lain.
"Rambut gold?" Seunghyun dapat melihat keberadaan Jinhwan sekarang.
"Ya, dia orang yang sedang ku tawarkan padamu." Seungri tampak tersenyum santai. Ia lalu memesan segelas bir.
"Sepertinya aku salah masuk Bar." Seunghyun bergumam namun masih bisa terdengar oleh Seungri dengan jelas.
"Gunakanlah kesempatanmu itu untuk bersenang-senang." Seungri yakin dengan pasti lawan bicaranya akan menanyakan dengan sendirinya harga dari pekerjanya yang satu ini.
"Berapa harga sewanya untuk semalam?"
Binggo. Akhirnya Seunghyun masuk dengan sempurna kedalam perangkap. Seungri tertawa dalam hati.
"Untukmu yang baru saja menjadi pelangganku. Aku beri kau sebuah bonus." tutur Seungri sambil meminum segelas Bir yang sudah tersedia.
"Bonus apa maksudmu?"
Seungri tersenyum miring. Gelasnya yang kosong disimpan kembali pada meja bar, "Kau boleh membayarnya semurah yang kau mau padaku. Tetapi jika padanya kau harus tetap membayarnya. Karena dia sangat membutuhkan uang."
Seunghyun tampak menatap sekilas ke arah Jinhwan kemudian dia mengeluarkan sebuah cek dan meminjam bolpen pada Bartender. Ia menuliskan sejumlah uang pada kertas cek tersebut dan memberikannya pada Seungri, "Bagaimana? Cukup?"
"Sudah lebih dari cukup." dengan senyum yang membingkai puas, Seungri mengambil cek tersebut dan segera menyimpannya ditempat yang aman, "Tunggu disini. Aku akan memanggilnya kemari." lanjutnya disertai tepukan ringan di bahu Seunghyun. Kemudian ia beranjak dari duduknya.
Ia menghampiri Jinhwan dan langsung duduk disebelah Jinhwan.
"Hey... Jinhwan! Ada yang ingin bertemu denganmu."
Jinhwan menatap iris hitam kelam itu, iris yang tampak bahagia milik Seungri, "Siapa hyung?" tanya Jinhwan sambil menatap penuh tanya. Seungri menarik bibirnya untuk tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Jinhwan, membisikan sesuatu. Lalu arah bola mata Seungri tertuju pada Seunghyun yang sedang berada jauh disana.
"Oh, dia orangnya?"
Seungri mengangguk mengiyakan pertanyaan Jinhwan, "Pergilah. Puaskan dia ok? Sepertinya dia memiliki cukup banyak uang."
"Baiklah hyung." Jinhwan tersenyum. Ia segera beranjak dari duduknya dan mulai melangkah menuju Seunghyun.
Sedangkan Seungri yang masih duduk di sofa tampak tersenyum puas, rencananya lagi-lagi berhasil.
Ketika itu, para pria penggoda yang semula jauh, kini mendekat pada Seungri. Seolah-olah mereka adalah benda logam yang tertarik oleh daya magnet. Seungri menatap kedua pria manis yang berada di sebelah kiri dan kanannya. Pun segera memakai kacamata hitamnya kembali lalu merangkul kedua pria manis tersebut, "Mari kita bersenang-senang, manis?"
Kedua pria itu pun tersenyum manis meng-iya-kan keinginan Seungri.
Kembali pada Jinhwan. Ia terus melangkah menghampiri pria tersebut sampai suatu ketika..
..langkahnya terhenti.
Ia sangat mengenali pria tersebut. Orang yang selalu Jinhwan nantikan kehadirannya. Kini dia datang. Hati kecilnya merasa senang berdanding terbalik dengan harga dirinya yang seketika jatuh di hadapan teman pertamanya itu.
Kedua kakinya merasa enggan untuk melangkah lebih jauh lagi. Tetapi rupanya Seunghyun sudah mengetahui keberadaan Jinhwan. Segera ia menggenggam pergelangan tangan Jinhwan. Kemudian membawanya keluar dari bar tanpa izin.
.
.
.
10.47 p.m. Rainbow Hotel.
"Jadi kau selalu melayani mereka di hotel ini?" ia menatap cermin dengan ekspresi yang dingin. Pun membuka satu persatu kancing bajunya hingga terbuka seluruhnya.
"Ehm, begitulah." Jinhwan melangkah menuju ranjang dan segera duduk pada pinggirnya. Ia menundukkan kepala. Merasa malu, gugup, canggung dan perasaan tidak enak lainnya.
"Tetapi, tidak selalu di sini juga. Ada saatnya mereka ingin bercinta di tempat lain."
Tanpa diduga.
Seunghyun dengan cekatan segera mengunci tubuh Jinhwan. Ia membaringkan tubuh Jinhwan dengan kasar.
"Shhh.." Jinhwan mendesis. Kepalanya terasa pening karena dibaringkan tiba-tiba.
"Tidak ku sangka. Kita bertemu lagi dengan cara seperti ini."
Pandangan mereka saling berpapasan. Sepintas Jinhwan dapat melihat suasana hati pelanggan nya tengah kacau. Jinhwan memilih diam. Tidak berbicara apa pun. Karena ia sering terjebak dalam situasi seperti ini. Rasanya perih. Ada yang berdarah di dalam. Tetapi inilah pekerjaan dia sesungguhnya.
Seunghyun mulai melampiaskan kemarahannya pada Jinhwan. Kasar. Perlakuan nya begitu kasar. Kadang kala tanpa Seunghyun sadari air bening merembes dari pelupuk mata Jinhwan. Ia hanya berpasrah diri menahan semua kesakitan dan menekan semua keluhan dari rasa yang ia dapat. Karena Jinhwan takut. Ia sangat takut jika dia mengeluh, perlakuan Seunghyun padanya akan semakin kasar dan bringas.
"AKHHHH!" pekik Jinhwan cukup keras ketika sebuah benda bersarang pada tubuhnya. Penyatuan pun dimulai. Sanggama yang begitu panas dan menggairahkan. Tetapi hanya bagi Seunghyun.
Berbeda dengan apa yang dirasakan Jinhwan. Sedih terasa. Kesakitan yang begitu nyata. Namun entah mengapa tubuh pelacur nya merespon dengan baik. Sangat baik. Bahkan ketika tubuh itu menerima luka begitu banyak, tubuh itu masih tampak baik memanjakan tubuh pasangannya.
Kilatan amarah dari bola mata Seunghyun sangat kentara. Belum juga sirna. Jinhwan harus bisa menahan rasa sakitnya. Ia harus kuat. Karena ini adalah puncaknya.
Tetapi Jinhwan tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
"Pe- -lanh akhh.." final. Jinhwan mengeluh meminta Seunghyun untuk lebih pelan ketika melalukan penyatuan. Walau pada kenyataannya Seunghyun mengacuhkan permintaan Jinhwan. Ia seperti telah dibutakan oleh amarahnya sendiri.
.
.
.
07.56 a.m. Jinhwan's Appartement.
Semenjak pertemuan yang tidak terduga itu terjadi, jika memiliki waktu senggang, Seunghyun lebih memilih untuk berkunjung ke Bar LG Orestra bermaksud ingin bertemu Jinhwan dan melepas rindu. Namun, ia berdalih hanya ingin menyewa Jinhwan dan ingin bersanggama dengan Jinhwan.
Seperti pada malam ini, Jinhwan sama sekali tidak menolak. Dengan senang hati Jinhwan menerima keinginan Seunghyun.
Dan ternyata Seunghyun lah yang sudah bangun terlebih dahulu. Pun sudah membersihkan tubuhnya. Ia termenung di depan cermin.
Seumur hidup, Seunghyun tidak pernah menyangka akan sangat bergantung kepada orang lain. Ia selalu ingin bertemu dengan Jinhwan. Entah karena ia mulai candu terhadap tubuh Jinhwan atau tanpa sadar ia mulai menyukai Jinhwan. Bahkan Seunghyun sempat berpikir ingin membeli Jinhwan agar ia bisa memiliki Jinhwan seutuhnya.
"Hmmm, pagi hyung~"
Suara lemah itu membuyarkan lamunan Seunghyun. Rupanya Jinhwan sudah terbangun. Tanpa ragu, Seunghyun segera menghampiri Jinhwan. kemudian duduk disisi ranjang.
"Pagi sayang~ apa tidurmu nyenyak? Sayang sekali sepertinya aku harus segera pergi." tutur Seunghyun. Ia mengusap kepala Jinhwan, menatapnya penuh kasih.
"Em, pergilah. Aku tidak apa-apa."
Seunghyun tersenyum. Gemas. Melihat reaksi Jinhwan yang begitu tenang. Dengan memperlihatkan mimik jahil nya, Seunghyun memulai aksi dengan mengusap-usap kedua puting Jinhwan dengan tenang.
"Engg.. Kau mesum hyung!" pekik Jinhwan, ia segera menepis tangan itu. Menutupi dadanya dengan selimut.
Agaknya Seunghyun begitu puas dengan perbuatannya itu. Ia tertawa geli. Melihat Jinhwan yang begitu manis ketika merasa kesal.
"Baiklah, maaf. Jaga dirimu baik-baik ok?" ucap Seunghyun. Ia mengacak rambut Jinhwan semakin membuatnya berantakan.
"Kau akan kembali?"
"Tentu. Aku akan berkunjung kembali. Kau seperti tidak tahu aku saja."
Jinhwan menarik bibirnya menjadi tersenyum, "Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena kau mau menjadi temanku."
Seketika Seunghyun tersenyum kecut. Ia terlihat kecewa dengan kalimat yang Jinhwan lontarkan.
"Aku mencintaimu Jinhwan! Kau tidak dengar aku menyuarakannya tadi malam?"
keceriaan pada air muka Jinhwan memudar. Helaan napas terdengar dari bibirnya, "Aku tidak bisa hyung. Aku—"
"Sudahlah lupakan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu." suasana hati Seunghyun memburuk. Ia segera memakai topi miliknya yang tersimpan di kamar Jinhwan.
"Hyung?!" panggil Jinhwan membuat aktivitas Seunghyun terhenti, "Maaf." lanjutnya dengan nada yang pelan namun masih dapat terdengar dengan jelas.
Senyum tanpa semangat dan palsu, Seunghyun tunjukan pada Jinhwan. Minatnya untuk tetap mendengar suara dari bibir Jinhwan sangat mengecewakan. Ia pikir Jinhwan akan merubah keputusannya, tapi ternyata tidak sama sekali, "Tak apa. Aku pergi ok?" kalimat terakhir sebelum akhirnya Seunghyun sungguh pergi dari apartemen Jinhwan.
.
.
.
09.38 a.m.
Hari ini, Jinhwan memilih pergi jalan-jalan untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
Namun sebenarnya bukan hanya satu alasan itu saja, melainkan karena sebuah alasan lain yakni karena ia benar-benar merindukan Seunghyun. Sangat rindu. Sudah dua minggu ini Seunghyun tidak berkunjung lagi ke Bar LG Orestra. Jika boleh jujur, Jinhwan pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama kepada Seunghyun. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh.
Namun, karena masa lalulah yang membuatnya takut akan sebuah hubungan khusus yang didasari cinta. Ia tidak ingin terpuruk seperti saat itu.
.
.
.
.
Jam belajar, Jinhwan dan siswa-siswi lainnya masih berada di dalam kelas. Mendengarkan penjelasan guru yang terkadang tidak begitu dimengerti oleh murid-muridnya.
Mengajar, belajar dan istirahat. Aktivitas berjalan seperti biasa.
Namun, di lain pihak ketika bel masuk berbunyi, wali kelas Jinhwan mengajak Jinhwan untuk mengikutinya menuju ruang guru.
Mereka duduk bersamaan.
"Ada apa Bu? Apa aku sudah berbuat salah?" tanya Jinhwan was-was, jari-jemarinya saling meremat gelisah.
"Tidak ada. Justru kabar buruknya ada pada keluargamu Jinhwan." tutur wali kelas dengan suara yang pelan. Tatapan mata guru wali nya semakin membuat Jinhwan cemas. Firasat buruk mulai berkecamuk dalam dada.
"Kabar buruk?!"
Guru wali tersebut mengangguk kemudian ia mulai bercerita, "Ayah, Ibu dan Adikmu mengalami kecelakaan. Saat mereka dalam perjalanan ke sekolah adikmu, ayahmu bermaksud ingin menghindari mobil di depannya, sayangnya rem mobil tidak berfungsi dan menyebabkan mobil tersebut tergelincir kemudian menabrak pembatas jalan dengan cukup keras. Kedua orangtuamu meninggal ditempat sedangkan adikmu ..mengalami cedera yang parah. Sehingga harus dirawat secara intensif."
Seketika detak jantungnya terasa berhenti. Jinhwan tidak percaya. Ia tidak bisa percaya.
Kenyataan ini begitu mendadak. Sangat tidak dapat dipercaya. Sama sekali..
"Bu, tolong jangan bercanda. Tidak mungkin—"
"Tapi memang begitulah kenyataannya. Jinhwan. Kau harus kuat." guru wali nya menatap Jinhwan penuh cemas, ia memberi semangat.
"Dimana keluargaku dirawat?"
"Tenanglah. Kau ha—"
"Dimana keluargaku dirawat?!" bentak Jinhwan, pikirannya sedang kacau. Ia kemudian berdiri menantang.
"Dirumah sakit Cho San Dong. Tapi kau harus tenang dulu." ucap guru wali semakin cemas.
"Tidak! Aku harus pergi!" suara Jinhwan naik beberapa oktaf. Kemudian ia membalikan tubuh dan melangkahkan kaki.
"Kau mau kemana?"
"Aku ingin menjenguk mereka."
Jinhwan segera berlari keluar. Tanpa menghiraukan panggilan gurunya dan tanpa membawa tas nya. Ia berlari sekencang-kencangnya.
Pemikiran-pemikiran buruk mulai bermunculan dalam benaknya. Jinhwan sungguh tidak ingin keluarga yang sangat ia cintai meninggalkannya di dunia fana ini sendirian.
.
.
.
Brak!
Pintu kamar tertutup dengan kasar.
Terdapat seorang remaja disana. Kim jinhwan. Wajahnya tampak kusut. Tanpa semangat. Ia memulai langkah menuju meja belajar. Menyibukkan diri dengan setumpuk tugas sekolahnya. Ingin melupakan sejenak kesedihan yang rasanya semakin mencekik. Terlebih orang yang ia butuhkan tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Di saat ayah dan ibunya disemayamkan, orang itu sama sekali tidak ada di sana. Kekasihnya. Jinhwan sungguh kecewa. Berkali-kali ia menelpon nomor ponsel kekasihnya tetapi hasilnya nihil. Tidak ada Jawaban.
Hingga waktu bergulir terasa lambat. Begitu lambat, gelapnya malam pun masih tampak. Jinhwan tetap pada tugasnya.
Pada menit berikutnya, sebuah ponsel bergetar. Menandakan sebuah pesan masuk. Ia lekas membaca pesan tersebut. Seketika aura kepedihan terpancar. Ia menghentikan aktivitasnya. Memilih melangkah menuju jendela yang terbuka.
Di tengah hembusan angin yang menerpa gorden. Jinhwan tersenyum. Tersenyum dengan semua yang ia alami.
Tanpa diduga ponsel Jinhwan terlepas dari genggaman.
Terjatuh. Dengan layar yang masih terlihat menyala, terdapat pesan di sana.
[ From: S-BI
Honey. Aku turut berduka dengan meninggalnya orang tuamu dan kondisi adikmu saat ini.
Tapi maaf. Aku tidak bisa menemanimu.
Aku ingin hubungan kita cukup sampai disini. ]
Entah ia harus bersedih atau marah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Hatinya sudah benar-benar hancur. Tiada yang dapat di perbaiki. Ia sudah kehilangan semua orang.
Ayah dan ibu yang telah tiada. kekasihnya yang mencampakkan nya begitu saja dengan cara yang menyakitkan pula. Tanpa alasan yang jelas.
Terakhir, adiknya yang koma.
Tentu Jinhwan akan melindungi adiknya dengan cara apa pun yang dapat ia lakukan. Untuk adiknya. Semua akan dia berikan. Untuk kesembuhan adiknya. Tanpa ragu.
.
.
.
.
Langkah kakinya menuntun Jinhwan pada sebuah Kedai tanpa sadar. Ia menatap papan nama Kedai yang tergantung besar di sana. Papan itu bertuliskan beberapa kata "Syob Yeon Dong". hatinya berkata dia pernah berkunjung ke Kedai yang memiliki nama seperti ini. Tapi dimana? Jinhwan sama sekali tidak ingat.
"Kim Jinhwan?!" suara itu rasanya tak asing. Terdengar pula langkah cepat menuju Jinhwan. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria yang sangat ia kenal.
"Yongbae hyung?!"
Dong Yongbae lebih tepatnya. Dia adalah kakak kelas nya sewaktu masih SMA sekaligus kakak dari mantan kekasihnya.
"Ya, ini aku." pria itu tersenyum, kemudian segera merangkul Jinhwan dan berucap, "Ayo masuk. Kita bicara di dalam saja." Jinhwan menurut dan segera mengikuti langkah Yongbae memasuki Kedai.
Mereka duduk berhadapan.
"Apakah ini Kedai milikmu?" Jinhwan bertanya sembari menatap keseluruhan isi Kedai.
"Bisa dibilang begitu bisa juga tidak. Karena dulu kedai ini adalah sebagian kecil dari aset yang dimiliki ayahku. Dia memberikannya padaku."
Jinhwan mengangguk mengerti. Pantas saja ia seperti mengenal kata-kata dari papan nama tersebut.
"Apa kabar dengan Shinbi? Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, dia baik. Bahkan dia sudah menikah."
"Eh? Menikah?" Jinhwan menatap Yongbae, seolah menuntut penjelasan dari kalimatnya itu.
"Ya, hahaha, kalau aku belum. Dia melangkahiku." tutur Yongbae sambil tertawa, jari telunjuknya menggaruk pipi menandakan bahwa Yongbae sedang merasa malu.
"Kenapa kau belum menikah?" Jinhwan tersenyum jahil. Ailsnya terangkat sebelah menanti jawaban.
"Belum ada yang cocok. Tidak ada mungkin."
"Maksud dari tidak ada?"
"Sudah. Lupakan saja. Oh ya, apa kau tidak ingin memesan sesuatu?" Yongbae mengalihkan pembicaraan. Jinhwan hanya dapat tersenyum mengerti, kemudian mengangguk,"Ah, aku lupa. Pesan satu porsi bulgogi ya hyung."
"Baiklah. Tunggu sebentar ya?" Yongbae tersenyum, ia lekas beranjak dari duduknya dan segera pergi ke belakang.
Jinhwan tersenyum menanggapi, ia menunggu kehadiran pesanannya dengan sabar.
Beberapa menit kemudian ada sebuah pesan masuk pada ponselnya. Segera ia ambil ponselnya dari kantung celana. Tetapi Yongbae sudah terlanjur datang membawa satu porsi bulgogi lengkap dengan alat masak dan satu botol anggur putih menuju ke tempat Jinhwan berada. Membuat Jinhwan belum sempat melihat pesan itu yang rupanya si pengirim adalah Choi Seunghyun orang yang Jinhwan rindukan. Ponselnya tidak sengaja ia nonaktifkan.
"Nah, pesanan sudah datang!" seru Yongbae dengan tersenyum ramah dan menyimpan pesanan Jinhwan, "Kau pernah minumkan?"
"Tentu saja. Kau pikir aku masih Jinhwan yang dulu? Kau sangat keliru hyung." ucap Jinhwan sengit.
"Karena wajah mu tampak tidak berubah. Jadi ku pikir—"
"Sudah. Aku akan menunjukannya padamu hyung." Jinhwan segera membuka tutup botol anggur itu lalu menuangkan isinya ke dalam gelas sampai penuh, "Lihat baik-baik hyung." titah Jinhwan dengan tatapan menantang. Yongbae mengangguk sambil tersenyum, sebenarnya lebih ke menahan tawa. Ternyata Jinhwan tidak terlalu banyak berubah. Ia masih sama seperti dulu.
Sibuk dengan lamunannya, Yongbae tidak menyadari bahwa orang yang ada didepannya itu sudah menghabiskan sebotol penuh anggur. Tanpa memakan yang lain.
"Lihat! Aku sudah meminum semuanya hyung." Jinhwan tersenyum puas, ia yakin. Pasti Yongbae tidak akan lagi mengejeknya.
Tersadar dengan suara Jinhwan, Yongbae tampak begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Pasalnya Jinhwan meminum anggur tanpa dibarengi dengan makanan lain, "Jinhwan, apa kau sudah makan tadi pagi?"
"Belum hyung." pipi Jinhwan mulai merona merah, anggur itu mulai bereaksi. Yongbae semakin khawatir melihat keadaan Jinhwan sekarang ini.
Ia mendekati Jinhwan dan langsung memegang kedua lengannya agar tidak ambruk, "Kau harus pulang Jinhwan."
"Di apartemen." Jinhwan bergumam. Kepalanya semakin berat.
"Apartemen yang mana? Ayo aku antar kau pulang." Yongbae mengalungkan tangan Jinhwan pada pundaknya kemudian segera memapah Jinhwan menuju ke luar sesudah ia menitipkan kedainya pada pegawai disana.
Yongbae membawa Jinhwan menuju taksi dan menyandarkan Jinhwan di dalam taksi. Tidak lupa Yongbae ikut masuk kedalam taksi.
Supir taksi menanyakan arah tujuan mereka. Barang tentu Yongbae tidak tahu dimana Jinhwan tinggal. Yongbae memutar otaknya, mencari ide.
"Jinhwan. Maaf." Yongbae segera meraba tubuh Jinhwan mencari dompet atau secarik kertas berisi alamat yang mungkin ada pada tubuh Jinhwan. Dan tepat, Yongbae menemukan dompet milik Jinhwan dan ada selembar kertas berisi alamat—seperti yang sudah Yongbae perkirakan.
Yongbae tersenyum dalam hati. Pujaan hatinya ini masih belum berubah. Masih saja menyimpan alamat tempat tinggalnya pada sebuah kertas.
Kemudian Yongbae langsung memberikan kertas tersebut pada supir taksi. Mereka segera melaju menuju tempat yang dituju.
Tapi tunggu. Pujaan hati? Yah begitulah. Yongbae sudah memiliki perasaan yang spesial kepada Jinhwan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.
Sebenarnya pada saat hari kelulusan, Yongbae ingin mengungkapkan perasaannya pada Jinhwan dan memberikan sedikit donasi untuk adiknya yang masih terbaring di rumah sakit.
Tetapi Yongbae tidak menemukan Jinhwan. Dia sudah terlambat. Rumah orang yang ia cintai sudah dijual. Jinhwan pun sudah tidak ada disana.
Yongbae sudah mencari-cari Jinhwan kemana-mana tetapi hasilnya nihil. Tidak ada. Satu-satunya kenangan dari Jinhwan yang dahulu ia miliki adalah kertas yang berisi salam perpisahan dari Jinhwan.
.
.
.
03.50 p.m. Incheon Airport
Seunghyun, GD beserta manajernya baru saja tiba di Bandara Incheon. Telah menyelesaikan Tur Konsernya di berbagai negara. Kemudian mereka segera masuk kedalam Limosin yang sudah menunggu mereka.
Limosin itu langsung melaju ke tempat pesta untuk merayakan kesuksesan konser GDTOP.
Sejak akan berangkat sampai saat ini, tampaknya Seunghyun selalu terfokus pada ponselnya. Bahkan keliatannya sejak terbangun dari tidur pun, kegiatannya tidak pernah lepas dari ponsel.
"Hyung! Kau sejak pagi selalu memainkan ponselmu? Ada apa?" GD yang memperhatikan perilaku Seunghyun yang tidak biasa, memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menghubungi temanku." ucap Seunghyun, ia menempelkan ponselnya ke telinga dengan gelisah. Menghubungi seseorang. Tetapi tidak ada hasil.
"Aish.." desah Seunghyun frustasi. Ia mengacak rambutnya sendiri hingga berantakan.
"Hyung. Kau kenapa? Aku khawatir melihatmu begitu."
"Aku sepertinya tidak bisa hadir."
"Kenapa?"
"Aku harus pergi ke tempat temanku." Seunghyun langsung memakai topi dan maskernya tidak lupa memakai jas yang berbeda.
"Baiklah. Hati-hati hyung. Jangan sampai sasaeng fans mengikutimu." GD menepuk pundak Seunghyun memberi nasehat.
"Aku mengerti. Apa pergi dulu."
Jisun yang melihat dan mendengar percakapan itu, ia meminta supir untuk berhenti di tempat yang cukup sepi, "Hati-hati Seunghyung."
"Iya hyung. Terima kasih."
Seunghyun kemudian keluar dari limosin tersebut. Memilih untuk berjalan beberapa kilometer, kemudian menyetop taksi menuju ke apartemen Jinhwan. Ia melakukan hal itu untuk mengelabui para sasaeng fans jika saja mereka mengikutinya.
.
.
.
04.38 p.m. Jinhwan's Appartement.
Seunghyun bersama dengan Yongbae berada di kamar apartemen milik Jinhwan. Mereka menemai Jinhwan yang tertidur karena pengaruh anggur putih yang diminumnya.
Pada awalnya Seunghyun menganggap Yongbae adalah salah satu dari pelanggan Jinhwan ketika pertama kali melihatnya. Namun setelah dijelaskan akhirnya Seunghyun mengerti. Dan membiarkan Yongbae menemani Jinhwan bersamanya.
"Siapa kau? Ada hubungan apa kau dengan Jinhwan?" Seunghyun bertanya pada Yongbae tanpa menatap. Matanya terfokus pada sesosok pria mungil yang sangat ia rindukan. Tangannya menggenggam erat jari-jemari Jinhwan.
"Aku teman sekolahnya. Oh ya, jika dia terbangun. Aku sudah menyiapkan bubur untuknya. Dan—"
"Lebih baik kau pulang saja." potong Seunghyun dingin. Ia sangat tidak suka dengan adanya Yongbae. Melihat begitu baiknya Yongbae pada Jinhwan. Membuatnya teramat sangat cemburu. Seunghyun merasa Yongbae memiliki perasaan yang sama sepertinya—yang mencintai Jinhwan.
"Tidak bisa. Aku merasa bersalah padanya. Aku akan menunggu sampai—"
"Sudah ku bilang. Pulanglah." Seunghyun mulai geram. Rahannya mengeras.
"Tapi—"
"Dia kekasihku. Jadi aku bisa menjaganya. Kau tak perlu khawatir." Seunghyun berdusta. Saat ini, ia hanya ingin berdua dengan Jinhwan. Hanya itu. Melepas rasa rindunya.
Yongbae. Merasa sesak. Kini ia harus kehilangan Jinhwan lagi. Lagi. Jinhwan membuat luka itu kembali. Menggalinya lebih dalam. Lebih dalam lagi. Rasanya ia ingin mati.
"Ah, baiklah. Katakan padanya aku meminta maaf. Dan jaga dia dengan baik." pesan terakhir Yongbae sebelum ia benar-benar pergi. Keluar. Membawa luka hati yang entah kapan akan terobati.
Seunghyun menghela nafas lega. Akhirnya Yongbae keluar meninggalkan mereka berdua di kamar.
Seunghyun tidak sedetik pun bergerak dari posisi duduknya. Ia bertekad akan terus menemani Jinhwan untuk beberapa hari kedepan. Ia sudah sangat rindu.
Sedangkan untuk mengisi kebosanan yang mulai merangkak naik, Seunghyun lebih memilih memandangi wajah Jinhwan. Tampak terlihat tenang bak seorang malaikat yang dikutuk menjadi iblis. Begitulah kiranya perumpamaan dari seorang Choi Seunghyun untuk menggambarkan orang yang sangat ia cintai. Entah hal apa yang mendasari perumpamaan itu dan mengapa Seunghyun bisa jatuh hati pada Jinhwan jika Jinhwan merupakan perwujudan dari iblis? Ia sendiri sama sekali tidak tahu kenapa hatinya bisa jatuh menetap pada Jinhwan. Karena perasaan itu tumbuh tanpa Seunghyun sadari. Tetapi ketika ia tersadar akan perasaannya. Jinhwan tampak biasa saja. Dan mungkin hanya menganggap Seunghyun sebagai teman. Barangkali karena permainan kasar saat itu, sehingga Jinhwan benar-benar sangat terluka.
Oh ayolah, salahkan amarahnya, salahkan mantan kekasihnya yang membuat dia menjadi seseorang yang berbeda. Karena ia sungguh tidak dapat mengontrol amarahnya yang sudah meluap-luap.
Seunghyun menarik bibirnya untuk tersenyum. Paksa.
Namun tiba-tiba..
Ada sebuah pergerakan.
Kelopak mata Jinhwan bergerak perlahan membuka. Menatap langit-langit yang tak asing.
"Jinhwan? Akhirnya kau tersadar." Seunghyun tersenyum begitu bahagia.
Tanpa disangka-sangka, Jinhwan segera mendekap tubuh Seunghyun. Menyalurkan perasaannya yang selama ini ia tekan.
"Aku sangat merindukanmu! Kau kemana saja?!"
Seunghyun membatu. Tampak bingung. Pun ia sedikit menoleh kesamping. Menatap raut wajah Jinhwan. Terlihat bahagia.
Perlahan tapi pasti Seunghyun menepuk-nepuk punggung Jinhwan. Dengan harapan agar Jinhwan bisa lebih tenang.
"Maaf, aku tidak memberi tahukanmu sebelumnya."
"Memberi tahu apa?" Jinhwan menengadah menatap iris kecoklatan itu.
Kemudian dibalas senyuman yang begitu tulus oleh Seunghyun. Senyuman yang dapat menghangatkan hati pasangan, "Aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Pekerjaan."
Sadar ataupun tidak Jinhwan tampak mengerucutkan bibirnya. Mempertontonkan wajah kesal yang terlihat begitu manis dimata Seunghyun.
"Hey, mengapa ekspresimu berubah?"
Jinhwan menggeleng tanpa berbicara. Serta menundukan kepalanya.
Rupanya Jinhwan teringat kembali dengan kejadikan hari itu. Hari terakhirnya ketika bersanggama dengan Seunghyun. Ketika itu, Seunghyun pergi dengan perasaan yang mungkin sangat terluka.
"Ada apa Jinhwan?"
Suara dari Seunghyun menyadarkan Jinhwan dari lamunan. Tetapi ia hanya menggeleng. Masih terselip rasa bersalah dalam dadanya.
Namun, beberapa detik kemudian, Seunghyun segera mengangkat dagu Jinhwan. Menatap lekat manik kecoklatan milik Jinhwan.
"Jawab pertanyaanku Jinhwan." ucapnya dengan penuh penekanan dan menuntut.
"Hyung. Aku minta maaf, aku—"
Cup.
Sebuah bibir mendarat tepat pada bibir ranum milik Jinhwan. Dengan tanpa sebuah lumatan-lumatan yang memabukan. Hanya diam membisu.
Tanpa Jinhwan sadari, ia mulai menggerakan bibirnya. Perlahan menyalurkan semua perasaan gelisah pada sebuah ciuman itu.
Seunghyun segera menyudahi. Kemudian menatap Jinhwan posesif, "Kau tidak mau menjadi kekasihku bukan?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Sulit untuk dijelaskan. Tetapi aku memiliki ingatan yang buruk tentang hubungan khusus seperti itu." Jinhwan menggeleng. Jari-jemarinya saling meremat satu sama lain.
"Baiklah. Cukup berteman saja."
Jinhwan menatap kembali manik kecoklatan itu, mempertanyakan 'Apa tidak masalah?' melalui batinnya.
"Tenang saja .." Seunghyun berucap sembari memeluk dengan penuh kehangatan pada Jinhwan, "..aku akan selalu menjagamu .." kemudian membaringkan tubuh pada ranjang bersamaan dengan Jinhwan, "..sebagai teman dan seorang kekasih, walau pun kau tidak menganggapku lebih."
"Ma-maaf."
"Tidak masalah, asalkan denganmu aku sudah sangat bahagia."
.
.
.
08.30 a.m. GDTOP's Dorm.
BREAKING NEWS:
Dikabarkan seorang bintang idol tengah berada disebuah apartemen bersama dengan pria yang tidak dikenal. Yang sangat mengejutkan adalah bintang idol tersebut merupakan seorang pria. Dalam foto amatir yang diambil oleh seorang fans dua hari lalu, diperlihatkan seorang bintang idol pria itu mengecup kening pria yang tinggal bersamanya. Sayangnya foto tersebut tidak terlalu jelas hingga sulit mengenalinya.
Tetapi kemungkinan bintang idol tersebut adalah T.O.P seorang rapper dari duo grup GDTOP...
Jiyong bungkam. Ia hanya terdiam melihat berita keparat itu. Sungguh tidak masuk akal. Mana mungkin hyungnya—Choi Seunghyun—merupakan seorang gay. Bukankah hyungnya masih menjalin hubungan dengan Lee Hye Sun?
"Jiyong! Jiyong! Mana Seunghyun!" Jisun memasuki dorm GDTOP dengan terburu-buru. Ia berteriak tidak jelas mencari-cari keberadaan si pemilik dorm.
"Aku disini hyung. Aku disini!" seru Jiyong malas, kemudian membetulkan duduknya.
Jisun segera menghampiri Jiyong dengan napas yang masih terengah-engah..
"Seunghyun.. Hahh hahh dimana.. Seunghyun..?"
"Oh itu. Bukankah dia sedang berkujung kerumah temannya?"
"Empat hari lalu, dia masih belum pulang?" Jisun mulai panik.
"Maksudmu apa Jisun Hyung?"
"Begini. Mungkin saja berita itu benar soal Seunghyun. Kau sudah melihat beritanya? Disitu disebutkan bahwa foto yang diambil sekitar dua hari lalu dan sekarang Seunghyun pergi sudah empat hari!" tutur Jisun memjelaskan dengan napas yang masih terputus-putus.
"Ah sial! Kenapa aku tidak terpikir hal itu! Bagaimana ini hyung?!" Jiyong berubah panik, ia segera mencari nomor ponsel Seunghyun kemudian segera menghubunginya.
Tetapi tidak di angkat sama sekali.
Jiyong semakin panik, ia kemudian berdiri meminta ponsel Jisun yang digunakan untuk menelpon Seunghyun. Tetapi hasilnya sama saja.
"Hyung, bagaimana?!"
"Aku pun tidak tahu!" Jisun mengacak rambutnya frustasi. Adiknya itu benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia ya. Seharusnya sebagai seorang artis yang sudah berpengalaman dia bisa mensiasati agar tidak ketahuan. Mengapa begitu saja tidak bisa.
"Kita harus mengadakan Jumpa Pers."
Suara itu. Suara dari CEO agensy yang menaungi Duo grup GDTOP. Yang Hyun Suk. CEO YJ Entertainment.
Tiba-tiba dia sudah berada di depan pintu.
"Sa-sajangnim? Ke-kenapa bisa anda kemari?" Jisun menunduk. Seketika saja tubuhnya terasa kaku.
"Aku sudah mengetahui semuanya Jisun. Apa kau setuju?"
"Iya. Aku sangat setuju, tapi dimana—"
"Tenang saja. Seunghyun pasti akan kembali, kemudian tentukan tanggal tepatnya agar Jumpa Pers itu tidak sia-sia."
"Baik Sajangnim!" Jisun mengangguk sopan menyetujui ucapan pria paruh baya itu.
"Dan kau Jiyong. Jangan bertingkah. Mengerti?"
"Yah.. Baiklah. Tenang saja Ahjussi." ucap Jiyong santai mungkin sangat santai. Tidak ada kesopanan sedikitpun pada CEO-nya itu. Tetapi Hyun Suk sama sekali tidak menghiraukannya.
.
.
.
08.58 a.m. Jinhwan's Appartement.
"Kau akan pergi hyung?"
"Iya." Seunghyun tersenyum, tangannya mengelus pucuk kepala Jinhwan.
Tanpa peringatan, Jinhwan segera memeluk Seunghyun dengan erat. Entah mengapa firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi.
"Cepat kembali. Aku akan merindukanmu."
"Tentu saja." Seunghyun tersenyum. Tangannya otomatis mengelus punggung Jinhwan.
Jinhwan mengangguk. Ia menangis. Firasatnya semakin kuat. Membuat perpisahan ini terasa semakin menyakitkan.
"Ada apa Jinhwan?"
Jinhwan hanya menggeleng. Ia segera menghapus air matanya. Mengulas sebuah senyum penuh arti.
"Bagaimanapun caranya kau harus kembali."
"Tentu. Aku akan kembali. Percayalah." Seunghyun mengecup kening Jinhwan penuh kasih.
"Aku menunggu."
Mereka saling melempar senyum. Sampai akhirnya Seunghyun tidak tampak lagi kehadirannya.
.
.
.
10.29 a.m. CEO's Room.
"Seunghyun. Duduklah."
"Iya Ahjussi."
Hyun Suk menatap Seunghyun penuh intimidasi. Menciptakan ketegangan yang sangat mengerikan bila dirasa. Bahkan Seunghyun memalingkan pandangannya agar tidak bertemu pandang dengan CEO-nya tersebut.
"Apa kau sudah tau gosip yang beredar sekarang?"
"Tidak, memangnya gosip apa Ahjussi?"
Hyun Suk terdiam sejenak sembari menatap gerak-gesik artisnya mencari kebohongan.
"Kau benar-benar tidak tahu gosip yang sedang hangat-hangatnya sekarang? Kau tidak berbohong?"
"Aku benar-benar tidak tahu Ahjussi!"
Hyun Suk segera memunculkan ponselnya. Kemudian segera ia simpan ponsel itu tepat di depan mata Seunghyun.
[ T.O.P Terlihat Mengecup Kening Seorang Pria?! Kenapa?! ]
Seunghyun tercekat. Suaranya seperti menghilang. Kenapa? Dari sekian banyak artis. Kenapa harus rahasianya yang terbongkar. Kenapa? Rasanya Seunghyun ingin menghilang. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia sama sekali tidak tahu.
"Seunghyun. Apa itu benar?"
"Itu .."
"Aku tahu, kau tipe orang yang tidak suka berbohong."
Seunghyun mengangguk setelah beberapa saat terdiam. Dia akhirnya bicara, "Gosip itu benar. Tetapi aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu. Hanya teman dekat."
"Baiklah kalau begitu. Jelaskan semuanya saat Jumpa Pers nanti."
"Baik Ahjussi."
Jumpa Pers. Akan ada Jumpa Pers. Tentu. Pasti hari itu akan muncul.
Apa yang harus Seunghyun katakan? Apakah ia harus berbohong? Ataukah jujur?
Sangat bingung.
Seunghyun tidak tahu harus bagaimana.
Yang sekarang terlintas dipikirannya hanyalah Jinhwan. Bagaimana dengannya nanti? Apa dia tahu? Apa Jinhwan akan baik-baik saja? Apa dia akan bertemu lagi dengan Jinhwan ketika Jumpa Pers sudah terlaksana?
Tetapi dari pada memikirkan keadaannya lebih baik Seunghyun pergi sekarang juga. Dia harus pergi. Dia harus bertemu dengan Jinhwan.
Namun kelihatannya orang2 disekitar tidak mengizinkan Seunghyun untuk pergi.
Orang-orang terdekatnya. Melarang. Melarannya untuk pergi menemui Jinhwan.
.
.
.
11.29 a.m. SBStv Live
"Anda Choi Seunghyun. Saya memiliki banyak sekali pertanyaan untuk anda."
"Silahkan tanyakan."
"Saya ingin mempertanyakan sebuah gosip yang beredar akhir-akhir ini di media massa, tentang Anda. Apakah anda yang berada dalam foto tersebut?"
"Iya. Yang berada dalam foto itu memang saya."
"Wah, Jadi pria yang terdapat pada foto tersebut. Merupakan kekasih anda?"
"Bukan. Dia hanya teman dekat saya."
"Teman? Teman yang memiliki orientasi menyimpang maksudnya?"
"Sebenarnya.. Saya dan Teman saya adalah pria yang sudah mengganti orientasi sebagai seorang homoseksual."
Pada akhirnya Jinhwan mengetahui identitas asli seorang Choi Seunghyun. Ternyata Seunghyun adalah seorang bintang. Dan sekarang, karena dia, nasib perjalanan karir Seunghyun berada diujung tanduk.
'Kenapa kau tidak mengatakan itu sebelumnya hyung?' batinnya berbicara.
Jinhwan merasa bersalah. Ia pun sekarang mengerti dengan firasatnya tempo hari. Ternyata inilah yang dimaksud.
Sejak saat Jumpa Pers itupun. Seunghyun tidak tampak lagi kehadirannya di layar kaya. Bahkan Jiyongpun mengikuti hyungnya. Duo grup GDTOP tiba-tiba menghilang. Tanpa jejak.
Dikabarkan pula, duo grup itu telah mengakhiri kontraknya. Dan memilih untuk pensiun di dunia hiburan.
.
.
.
.
"Aku mencintaimu Jinhwan! Kau tidak dengar aku menyuarakannya tadi malam?"
"Aku tidak bisa hyung. Aku—"
"Sudahlah lupakan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu."
"Kau tidak mau menjadi kekasihku bukan?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Sulit untuk dijelaskan. Tetapi aku memiliki ingatan yang buruk tentang hubungan khusus seperti itu."
"Baiklah. Cukup berteman saja."
"Kau akan pergi hyung?"
"Iya."
"Cepat kembali. Aku akan merindukanmu."
"Tentu saja."
"Bagaimanapun caranya kau harus kembali."
"Tentu. Aku akan kembali. Percayalah."
"Aku menunggu."
.
.
.
.
"Tuk..tuk..tuk" suara jari yang mengetuk meja dengan malas. Menunggu seseorang yang tidak jelas.
Kim Jinhwan, dia menunggu telpon dari teman khususnya Choi Seunghyun. Walaupun sebenarnya sangat tidak mungkin. Karena sudah sebulan lebih sejak perpisahannya dengan Seunghyun. Ia tidak lagi melihat kehadiran teman sekaligus pelanggannya yang sangat ia nantikan.
Jinhwan baru menyadari, ternyata hatinya benar-benar tidak bisa melupakan teman khususnya itu.
Bahkan setiap detik, setiap menit dan setiap waktu yang bergulir tidak sekali pun Jinhwan dapat melupakan sosok yang sangat ia cintai. Jinhwan benar-benar sangat merindukan Seunghyun.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Jinhwan mendapati sebuah panggilan masuk. Dari Dong Yongbae.
Sayangnya..
Tetapi Jinhwan segera mengangkat panggilan tersebut. Sekiranya ada sesuatu yang penting.
'Jinhwan. Cepat! Cepat ke rumah sakit!' terdengar suara yang tampak cemas disana.
"Rumah sakit? Memangnya ada apa hyung?"
'Adik. adikmu. Jinhwan! Adikmu dalam keadaan kritis!'
Prakk—Ponsel terjatuh seketika. Hingga berceceran dan mustahil untuk digunakan kembali.
Jinhwan tampak shock. Tanpa buang-buang waktu dia segera mengganti bajunya untuk segera berangkat ke rumah sakit tempat adiknya dirawat.
.
.
.
09.10 a.m. Hospital.
"Ada apa dengan adik saya dok?" Jinhwan bertanya setelah melihat dokter keluar dari ruang adiknya.
"Maaf. Tapi saya sudah berupaya semaksimal mungkin." dokter itu menghela napas, tampak sekali raut wajah penyesalan disana.
"Maksudnya? Dokter! Ada apa?!"
"Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkannya."
"APA? TIDAK MUNGKIN!"
Jinhwan berlari. Dia segera menghampiri tubuh kaku adiknya. Dia menggenggam tangan dingin adiknya. Cairan bening tak sanggup ia bendung. Jinhwan menangis. Ia menangis dihadapan Yongbae. Tanpa perduli apapun Jinhwan menangis di hadapan tubuh adiknya yang sudah tak berjiwa lagi.
{ Dari sekian banyak kemalangan yang kau alami. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika kau kehilangan keluargamu. Ketika mereka meninggalkanmu tanpa sepatah katapun. Meninggalkanmu tanpa kenangan yang lebih. }
.
.
.
.
.
To Be Continued...
Hiyaaa.. akhirnya selesai.. gaje ya gaje? muehehehe maklumlah pemula.. :v
btw buat kelanjutan fanfic Mission Complete! nanti di lanjut setelah fanfic ini ya ok? xD
habisnya udah ngetik capek2 tuh chapnya, eh malah kehapus filenya T.T *curhat
harus ngetik dari awal lagi, udah gak ada mood -.- *ngengg
pokoknya pasti di lanjut deh, tapi lama #plak xD
ok, silahkan kasih review nya, di tunggu ^^
ps: eh iya, btw ini masih author yg sama cuma ganti penname doang x))
