Previous episode...

"Tuk..tuk..tuk" suara jari yang mengetuk meja dengan malas. Menunggu seseorang yang tidak jelas.
Kim Jinhwan, dia menunggu telpon dari teman khususnya Choi Seunghyun. Walaupun sebenarnya sangat tidak mungkin. Karena sudah sebulan lebih sejak perpisahannya dengan Seunghyun. Ia tidak lagi melihat kehadiran teman sekaligus pelanggannya yang sangat ia nantikan.
Jinhwan baru menyadari, ternyata hatinya benar-benar tidak bisa melupakan teman khususnya itu.
Bahkan setiap detik, setiap menit dan setiap waktu yang bergulir tidak sekali pun Jinhwan dapat melupakan sosok yang sangat ia cintai. Jinhwan benar-benar sangat merindukan Seunghyun.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Jinhwan mendapati sebuah panggilan masuk. Dari Dong Youngbae.
Sayangnya..
Tetapi Jinhwan segera mengangkat panggilan tersebut. Sekiranya ada sesuatu yang penting.

'Jinhwan. Cepat! Cepat ke rumah sakit!' terdengar suara yang tampak cemas disana.
"Rumah sakit? Memangnya ada apa hyung?"
'Adik. adikmu. Jinhwan! Adikmu dalam keadaan kritis!'

Prakk—Ponsel terjatuh seketika. Hingga berceceran dan mustahil untuk digunakan kembali.

Jinhwan tampak shock. Tanpa buang-buang waktu dia segera mengganti bajunya untuk segera berangkat ke rumah sakit tempat adiknya dirawat.

.

.

.
09.10 a.m. Hospital.

"Ada apa dengan adik saya dok?" Jinhwan bertanya setelah melihat dokter keluar dari ruang adiknya.

"Maaf. Tapi saya sudah berupaya semaksimal mungkin." dokter itu menghela napas, tampak sekali raut wajah penyesalan disana.
"Maksudnya? Dokter! Ada apa?!"
"Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkannya."
"APA? TIDAK MUNGKIN!"
Jinhwan berlari. Dia segera menghampiri tubuh kaku adiknya. Dia menggenggam tangan dingin adiknya. Cairan bening tak sanggup ia bendung. Jinhwan menangis. Ia menangis dihadapan Yongbae. Tanpa perduli apapun Jinhwan menangis di hadapan tubuh adiknya yang sudah tak berjiwa lagi.

{ Dari sekian banyak kemalangan yang kau alami. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika kau kehilangan keluargamu. Ketika mereka meninggalkanmu tanpa sepatah katapun. Meninggalkanmu tanpa kenangan yang lebih. }

.

.

.

.

.

One Day © Mikyharu

.

.

.

.

.

1 year later.

.

.

.

.

.

"Anda lulusan SMA?"
"I-iya."
"Maaf kalau begitu. Tapi di sini hanya menerima karyawan mininal S1."
"Lho, tapi tadi di—"
"Ah, soal itu. Kami lupa menggantinya. Ada kesalahan dipercetakan."
"Begitu ya, baiklah maaf mengganggu. Terima kasih."

.

.

.

"Lulusan SMA, pengalaman kerja hanya dua kali?"
"Benar. Saat itu saya bekerja sebagai pelayan."
"Hn, sebenarnya saya berat mengatakan hal ini. Tapi, maaf. Saya tidak
bisa mempekerjakan anda."
"Ah, tidak masalah. Maaf, bila saya mengganggu."

.

.

.

.

02.30 pm. Syob Yeon Dong.

"Aish, menyebalkan. Pftt..", Jinhwan menghela napas kasar. Mengingat
sudah tak terhitung lagi berapa kali lamaran kerjanya ditolak
mentah-mentah dan hampir di semua tempat kerja yang ia singgahi. Ia
tidak menyangka ternyata zaman begitu cepat berubah.
Beberapa tahun lalu, dia masih bisa bekerja dengan ijazah SMA-nya.
Tapi sekarang, hampir mustahil ada yang menerima lamaran kerja dengan
modal ijazah nya yang sekarang.
"Ada apa lagi Jinhwan?", suara Youngbae. Jaraknya semakin mendekat.
Youngbae membawa satu porsi ramyeon, dan sebotol anggur menuju meja
yang ditempati Jinhwan.
"Apa kau ditolak lagi?", sambungnya sembari menyimpan pesanan Jinhwan.
Kemudian duduk berhadapan dengan Jinhwan.
"Hahh.. Begitulah."
"Kan sudah ku bilang, bekerja disini saja. Kenapa kau repot-repot
mencari pekerjaan di tempat lain?"
Jinhwan menunduk, kembali menghela napas, "Aku tidak mau merepotkanmu hyung."
"Kau sama sekali tidak merepotkanku Jinhwan."
"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak. Dari awal adikku meninggal
kemudian aku mengundurkan diri dari pekerjaan lama ku. Kau lah yang
membantu mencarikan rumah kost yang murah untukku."
"Sudahlah. Itu hal yang wajar menurut ku."
"Bukan hanya itu! Kau pun memberi ku pekerjaan di sini. Kemudian yang
terakhir kau pernah membayar uang sewa ku. Aku merasa seperti sudah
memanfaatkanmu." tutur Jinhwan, raut wajahnya tampak sedih.
Youngbae menatap Jinhwan penuh arti, kemudian tersenyum dan berkata,
"Baiklah, jika kau masih kukuh ingin bekerja ditempat lain. Sebenarnya
tadi pagi aku menemukan satu lowongan kerja di koran", Yongbae segera
mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat tempat lowongan kerja
itu dibuat, "Ini alamatnya."
Jinhwan menatap secarik kertas itu sejenak kemudian segera
mengambilnya, "Apa syarat-syaratnya hyung?"
"Hm, tidak terlalu sulit. Hanya sebuah ijazah minimal SMA, umur
rata-rata di atas 20 tahun, dan mempunyai pengalaman kerja minimal lima
bulan."
"Be-benarkah? Hanya itu?", Jinhwan terlihat bersemangat kembali.
Matanya berbinar-binar seakan baru saja memenangkan lotre.
"Iya, aku pikir pekerjaan itu sangat cocok denganmu", Yongbae menarik
sebuah senyuman di bibirnya. Merasa bahagia ketika melihat Jinhwan,
'Semangatnya kembali seperti dulu.'
"Terima kasih hyung."
"Ya, sama-sama."

.

.

.

07.25 am.

Jinhwan sudah berada tepat di depan pintu masuk CK Mart—sebuah
super market yang di rekomendasikan Youngbae kemarin.
CK Mart merupakan super market yang cukup dikenal keberadaannya dan
pengunjung di sana pun cukup banyak. Membuat rasa percaya dirinya
sedikit demi sedikit memudar, 'Super market memang besar ya? Apa benar
mereka menerima orang sepertiku? Aku rasa akan sulit.'
"Hahh...", Jinhwan putus asa, tampak tidak bersemangat seperti biasa.
Tetapi kemudian, Jinhwan terlihat menatap super market itu lekat,
'Tapi, bagaimana pun juga ini merupakan sebuah kesempatan yang tidak
boleh aku sia-siakan'
"Aku harus semangat. Hwaiting!", Jinhwan menyemangati dirinya sendiri
sambil mengangkat tangan dan mengepal penuh percaya diri.
Segera Jinhwan melangkahkan kaki dengan menenteng map yang berisi
surat-surat penting miliknya.

.

.

.
'Sebenarnya... Aku masih merasa gugup.'

.

.

.

09.46 am. House

"Hyung. Coba tebak, kenapa aku menelponmu?"
'Huh? Kenapa?'
"Masa kau tidak bisa menebak hyung?"
'Hn? suaramu terdengar riang. Apa kau baru saja memenangkan undian?'
"Ishh.. bukan!"
'Lalu apa? Ayo lah beritahu aku.'
"Aku.. Diterima bekerja hyung!"
'Apa? Kau diterima? Yang benar? Di super market yang aku tawarkan kemarin?'
"Iya, aku pun tidak menyangka sama sekali. Besok aku akan mulai bekerja di sana."
'Selamat ya.. Bekerjalah yang rajin agar kau bisa membayar biaya
sewamu sendiri. Hahaha."
"Tentu saja, aku pun tidak mau terus bergantung padamu hyung."
'Bagus. Tapi sepertinya waktuku tidak banyak, kita bicara lain waktu
saja ya? Bye..'
"Heum, aku mengerti. Bye hyung.."

"tut...tut...tut.", Sambungan telpon terputus.
Jinhwan sudah duduk di lantai sejak tadi. Dia memeluk kedua kakinya
refleks. Kemudian Jinhwan menatap layar ponsel, mulai mengenang sebuah
nomor contact yang dulu pernah tersimpan di dalam ponselnya. Orang itu
adalah Seunghyun.
Jinhwan menyayangkan dulu tidak menuliskan nomor ponsel itu dan
menyimpannya di dompet. Karena ponselnya yang dulu rusak, membuatnya
harus membeli ponsel baru sehingga nomor contact Seunghyun hilang
bersama dengan rusaknya ponsel miliknya.
Barangkali jika dia masih memiliki nomor Seunghyun, kemungkinan
bertemu kembali akan ada. Walau pun hanya 1% setidaknya ada.
Jinhwan akan menunggu dengan sabar, mengirim pesan singkat setiap
hari, menelpon setiap hari, dan apa pun akan dia lakukan jika dia
memiliki nomor ponsel Seunghyun.

.

.

.

07.00 am. CK Mart.

Hari pertama Jinhwan masuk kerja.
Ia sangat bersemangat. Semua yang dia lakukan begitu rapi dan cepat.
Dari mulai membawa barang jualan dari gudang kemudian menyimpan
barang tersebut pada tempatnya, membersihkan gudang yang kotor, hingga
menggantikan kasir ketika mereka sedang ada keperluan. Semuanya
Jinhwan lakukan dengan baik.
Sampai-sampai Jinhwan tak menyadari ada seseorang yang
memperhatikannya dari jauh. Orang itu berjas hitam. Tampak
menyunggingkan sebuah senyuman yang sarat akan makna.

Di hari kedua dan ketiga berjalan seperti pada umumnya, tidak ada yang
berbeda. Di hari keempat pun sama, berjalan dengan biasa, mungkin
terlalu biasa.
Jinhwan berangkat jam 06.30 pagi hingga pulang jam 06.30 malam.
Jinhwan bergegas merapikan gudang kemudian pergi ke ruang ganti untuk
mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.
Namun, selagi Jinhwan membereskan barang-barangnya, muncul dua orang
pria yang diperkirakan memiliki usia yang tidak terpaut jauh dengan
Jinhwan. Kedua pria itu semakin lama terasa semakin dekat.
"Hi! Wassup?", salah satu dari pria itu menyapa Jinhwan, ia tersenyum
membentuk matanya menjadi segaris.
"Oh? Kau menyapaku?", Jinhwan mengedipkan mata seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Hahaha, tentu saja. Kau pikir aku menyapa pada siapa? Pada orang
itu?", Pria itu melirik temannya yang sedang mengganti pakaian, "Dia
kan datang bersamaku."
"Ah, ngg.. Aku pikir.. iya, Aku baik." ucap Jinhwan kikuk, ia
segera mengalihkan padangannya dari teman si pria yang sedang berganti
pakaian.
Pria itu tersenyum ringan lalu berkata, "Perkenalkan, namaku Kim
Jiwon. Panggil saja Bobby." seraya mengulurkan tangan pada Jinhwan.
"Salam kenal Bobby. Namaku Kim Jinhwan." Jinhwan segera mengulurkan
tangan dan tersenyum ramah.
"Ck, panggil Jiwon saja. Tidak perlu Bobby." sahut pria yang telah
selesai mengganti pakaiannya.
"Diam kau Hanbin! Terserah aku mau dipanggil apa. Aku tahu kau iri."
" Iri? Modal apa yang kau punya sehingga aku iri padamu? Gigi kah?
Mata kah?." balas pria yang bernama Hanbin tidak mau kalah.
"Apa kau bilang?"
Jinhwan ngeri mendengar ucapan-ucapan sarkatis yang keluar dari kedua
bibir teman barunya, 'Harus dihentikan nih.' batin Jinhwan, ia segera
menyelipkan tubuhnya diantara kedua pria yang sedang beradu mulut—ia
takut nanti pada akhirnya mereka saling memukul.
"Sudah! Hentikan! Cepat ganti bajumu Bob." titah Jinhwan menatap iris
hitam milik Bobby, "Dan kau Hanbin? Apa kau sudah membereskan
pakaianmu?"
"Ah iya." Hanbin pergi dari tempat kejadian, ia segera mengambil
barang-barangnya dan memasukannya pada tas.
"Bobby?"
"Huh?"
"Kau tidak akan mengganti pakaianmu?"
"Iya, aku ganti."
Bobby pun menurut, dia segera menanggalkan pakaian dari tubuhnya.
Namun, rupanya tubuh Bobby dapat terlihat dengan jelas oleh Jinhwan.
Tubuh atletis dengan bahu yang kekar, perut yang terawat dengan bentuk
kotak yang jauh lebih terlihat dari Hanbin. Uh, pemandangan indah itu
benar-benar membuat pipi Jinhwan memerah. Jinhwan pun segera
membalikan tubuhnya untuk menyembunyikan rona merah yang ada pada
pipinya. Ia tidak bisa menyangkal bahwa tubuh Bobby sangatlah indah,
tapi mungkin lebih indah lagi jika Seunghyun lah yang ada di
sampingnya saat ini. Jinhwan mendengus, ia tahu tidak ada gunanya
memikirkan itu, toh Seunghyun tidak akan muncul secara ajaib di
sampingnya.
'Ayolah Jinhwan! kau harus segera membereskan pakaianmu.' suatu
pengingat dalam hatinya berbunyi. Kemudian dengan segera Jinhwan pun
lanjut membereskan pakaiannya.

Tak lama, pria yang dikenal dengan nama Hanbin—setelah membereskan
barang-barangnya—segera duduk di dekat Jinhwan.
"Hi! Salam kenal. Namaku Kim Hanbin." Hanbin mengulurkan tangannya
sembari tersenyum ramah.
"Ah iya, Salam kenal juga. Kau sudah tahu namaku bukan?" Jinhwan pun
segera membalas uluran tangan Hanbin.
"Ya, aku tahu."
Kemudian Bobby ikut menghampiri Jinhwan setelah mengganti pakaian dan
membereskan pakaiannya, "Eh, omong-omong aku lapar nih? Makan di luar
yuk?!"
"Aku pun sama. Tapi kita mau makan dimana?" timpal Hanbin.
"Bagaimana Jinhwan? Disini tempat makan yang enak itu dimana ya? Apa kau tahu?"
"Em, mungkin dikedai Syob Yeon Dong."
"Kedai Syob Yeon Dong? Sepertinya pernah dengar." Bobby bergumam seraya
mengerutkan alisnya berusaha mengingat sesuatu.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi ke sana!" seru Hanbin bersemangat.
"Ayo!"

.

.

.

07.05 pm. Syob Yeon Dong.

"Nah, disini tempatnya." ucap Jinhwan setelah mereka memasuki Kedai
yang mereka bicarakan ketika ditempat kerja.
"Kalau kedai ini sih, sepertinya.. Di tempat tinggal kami juga ada."
sahut Bobby sambil mengamati keseluruhan isi kedai yang menurutnya
interior kedai ini hampir sama dengan salah satu kedai yang ada
ditempat kelahirannya.
"Benarkah?" Jinhwan segera duduk di tempat yang sudah di sediakan
dengan diikuti kedua temannya. Mereka duduk berhadapan dengan Jinhwan.
"Iya, kedai ini sangat digemari di sana. Karena masakannya yang enak.
Apa di sini juga begitu?" tutur Hanbin dengan penuh suka cita.
Jinhwan hanya membalasnya dengan senyuman kemudian ia memanggil
pelayan dan langsung memesan untuk 3 orang.
Kedua pria itu hanya dapat ber-bengong-ria melihat Jinhwan memesan
tanpa bertanya kepada mereka terlebih dahulu.
"Eh? Kau! Pesan apa tadi?" tanya Bobby yang disusul dengan anggukan
pembenaran dari Hanbin.
"Ah, aku hanya pesan bulgogi untuk kita bertiga." Jinhwan bicara
dengan santai sembari memunculkan senyum ringan di bibirnya.
"Ta—"
"Pokoknya coba saja dulu. Pasti kalian akan suka."
"Hn, Baiklah." Bobby menganggukkan kepalanya mengerti, "Dengan anggurkan?"
"Iya."
Sementara itu, Hanbin tampak fokus pada layar ponselnya sampai pesanan
akhirnya datang.
"Wah, pesanan sudah datang!" seru Bobby, pandangan matanya tak pernah
lepas sedikit pun dari daging-daging yang sudah terpotong-potong
dengan warna merah yang masih segar dan menggiurkan.
"Jangan dipandangi seperti itu. Nanti matamu lepas." Jinhwan terkekeh
melihat pola perilaku Bobby.
"Mana bisa aku berpaling dari daging-daging segar ini, mereka terlihat
lebih seksi ketimbang wanita yang memakai bikini." perumpamaan Bobby
yang sangat hiperbola, ada pun sedikit gombalan dalam isi kalimatnya.
Entah untuk siapa. Mungkin untuk daging?
"Kau ini, mana ada yang seperti itu." Jinhwan menggelengkan kepala
sembari menahan tawa, tidak menyangka pria yang ada di hadapannya
sekarang—Bobby—ternyata memiliki selera humor yang cukup baik berbeda
sekali ketika pertama kali bertemu, Bobby terlihat seperti seorang
pria garang?
Jinhwan tertawa dalam hati mengingat spekulasinya yang sangat jauh
melenceng 180 derajat dari kenyataan, ckck.
Tanpa buang-buang waktu Bobby dan jinhwan segera memanggang
daging-daging tersebut. Mulai menikmati hidangan.
"Hn, Suhyun tidak bisa datang ya." Hanbin bergumam sembari menatap
ponselnya dengan tatapan super kecewa.
Melihat ekspresi Hanbin, Bobby terlihat mencondongkan tubuhnya mencoba
mengintip dengan sumpit yang masih bertengger dimulutnya.
Hanbin menoleh, "Apa lihat-lihat?!" ia menjauhkan ponselnya segera.
"Ck, katanya tadi kau lapar."
"Benar, kau tidak makan? Ada masalah apa memangnya?" tanya Jinhwan
mengangkat sebelah alis, sejenak menghentikan kegiatan makannya.
'Eh, kedengaran ya?' Hanbin membatin.
"Anu.. Itu.. Sebenarnya aku mengajak temanku untuk datang kesini. Tapi
dia bilang tidak bisa."
"Pasti mengajak Suhyun." tebak Bobby dengan nada sarkatis.
Namun..

PLETAK!—sebuah jitakan telak sukses mendarat dengan mulus di kepala Bobby.

"YAK!" pekik Bobby, ia memegangi kepalanya sembari menatap Hanbin sengit.
"APA?" Hanbin pun menatap balik Bobby dengan tidak kalah sengitnya.
"Sakit tahu!"
"Salahmu sendiri."
"Dasar Suhyun! "
"Diam!"

'Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kalian. Tapi
melihat kalian seperti ini, aku jadi tidak ingin mengganggu.' Jinhwan
membatin, ia menarik sebuah senyum simpul dibibirnya. Menikmati
pemandangan yang lumayan menghibur pada waktu istirahat seperti ini,
cukup bagus untuk menghilangkan stres, haha.

Tetapi di sudut lain, lebih tepatnya di luar kedai. Ada sebuah mobil dan
pria di dalamnya. Ia sedang mengamati ketiga pria yang ada di sana,
terlebih pada pria yang posisi duduknya sendirian—Jinhwan. Ia
menampakkan sebuah senyuman ringan, menunjukan bahwa dia bukanlah orang
jahat. Dan sepertinya dia adalah seorang pria yang sama dengan pria yang ada di
super market tempat Jinhwan bekerja. Siapa kira-kira? Wajahnya tidak
terlalu jelas terlihat, karena terhalang oleh kaca mobil-hitam-mewah
miliknya.

.

.

.

04.55 am.

Keesokan harinya, Jinhwan bangun pagi-pagi bersiap untuk bekerja
seperti hari-hari sebelumnya.
Namun, ada sedikit perbedaan, karena pagi ini Jinhwan ditemani oleh
Youngbae—memasak sarapan pagi. Pada awal kedatangannya, Jinhwan merasa
malu karena pagi-pagi sekali Youngbae sudah ada di depan pintunya dan
tiba-tiba menawarkan untuk memasak sarapan, Jelas Jinhwan menolak
keinginan Youngbae—rasanya jadi seperti memanfaatkan kebaikan
seseorang jika dibiarkan. Tetapi karena Youngbae memaksakan
kehendaknya, akhirnya Jinhwan pun menyerah dan membiarkan Youngbae
memasak di rumah kecilnya.

"Hyung, ku bantu ya?" tawar Jinhwan diambang pintu dapur.
"Tidak, terima kasih. Sebentar lagi selesai." ucap Youngbae tanpa
menoleh karena sedang terfokus pada masakannya.
"Tapi hyung—"
"Tidak apa Jinhwan, lagi pula dapurmu cukup sempit, akan sulit
bergerak jika kau ikut membantu."
"Um, baiklah. Maaf, aku sering merepotkanmu hyung."
"Sudahlah, lagi pula aku yang menginginkannya sendiri." Youngbae lekas
memindahkan masakannya yang sudah matang pada dua piring yang sudah
tersedia, kemudian ia membawa dua piring dan dua sendok menuju
Jinhwan, "Bawa ini, simpan dimeja. Aku akan membuat Jusnya dulu."
Jinhwan mengangguk menatap sarapan yang di buat Youngbae, ia tersenyum
melihatnya, 'Omelet ya? Ternyata kau masih mengingat makanan
kesukaanku.'
Jinhwan bergegas menyimpan dua piring dan sendok tersebut di meja,
kemudian duduk dengan tenang beralaskan lantai, menunggu Youngbae
datang membawa Jus.

Kurang dari 5 menit, Youngbae sudah hadir membawa dua buah gelas
berisikan Jus, ia menyimpan keduanya di samping masing-masing
piring.
"Kau tidak makan duluan, kan Jinhwan?" tanya Youngbae dengan menatap jahil.
"Tentu tidak, tapi karena sekarang Hyung sudah ada disini, jadi tidak
masalah aku makan sekarang", Jinhwan tersenyum, "Selamat makan!",
mengawali dengan berdoa kemudian Jinhwan segera mengambil sendok dan
menyuapkan satu suapan pertama.
Youngbae hanya tersenyum melihatnya, memandang tingkah laku Jinhwan
yang seperti ini, membuat hatinya terasa hangat. Walau pada
kenyataannya Jinhwan tidak bisa ia miliki, tapi Youngbae cukup
beruntung bisa bersama lagi dengan Jinhwan walau hanya sebagai teman
atau sahabatnya.

,,

,,

,,

,,

,,

,,

,,,

,,,,

,,,,,

—SUMMER—

,,,,,

,,,,

,,,

,,

,,

,,

,,

,,

,,

10.47 am. CK Mart.

Jinhwan sedang menata kaleng-kaleng susu di bagian atas rak dengan
berpijak pada kursi yang sebelumnya ia bawa. Selama itu, tiba-tiba
saja ada yang datang, Bobby yang sedang membawa beberapa kardus mie
instan. Ia berhenti tepat di samping Jinhwan, menatap ke atas, "
Jinhwan, bisa kau turun? Aku ingin memberitahukanmu sesuatu."
"Ok, tunggu sebentar." Jinhwan menyimpan kaleng susu terakhir kemudian
segera turun dari kursi pijakan,"Ada apa?"
"Liburan nanti, kau tidak sedang disibukan oleh kegiatan lain, kan?"
Jinhwan menatap sebentar manusia yang ada di hadapannya lantas melipat
tangan, "Ya, tidak ada. Kenapa memangnya?"
Bobby tersenyum, "Kebetulan sekali, aku ingin mengajakmu ke Water
Park, apa kau mau?"
"Tapi aku ti—"
"Tenang saja Jinhwan, soal biaya masuk biar aku yang urus, kau tinggal
mengajak satu teman saja dan aku akan mengajak Hanbin", tutur Bobby
menjelaskan.
"Oh begitu, tidak mengajak wanita?"
Sadar dengan pertanyaan Jinhwan, Bobby tampak mencondongkan tubuhnya
seraya berbisik, "Tidak perlu, di sana pasti banyak wanita-wanita
seksi."
"Ah...", Jinhwan mengangguk membenarkan, wajahnya pun mulai tampak
garis-garis merah—bagaimana pun juga Jinhwan tetaplah seorang lelaki.
"Sudah dulu ya, jangan lupa tetap stand by di dekat ponselmu Jinhwan.
Jangan sampai aku telpon kau malah tidak mengangkatnya", ucap Bobby
sembari berjalan dan menenteng kardus menjauh menuju gudang
penyimpanan.
"Ah i-iya", Jinhwan tersenyum kemudian mulai terpikir sesuatu.
'Apa aku ajak Youngbae hyung saja ya? dia kan teman luar satu-satunya
yang aku miliki.'

.

.

.

07.32 pm.

Jinhwan duduk bersila di sebuah lantai sederhana, ia menunggu sebuah
pesan masuk dari sahabatnya, Youngbae.
Drett..Drett..Drett—akhirnya Youngbae membalas pesan, Jinhwan tampak
tersenyum kemudian segera menyambar ponselnya untuk segera melihat isi
pesan.


From: Dong Young-Bae
Iya, aku ada dirumah. Kenapa?

Jinhwan segera membalas pesan.

For: Dong Young-Bae
Besok lusa, ada waktu senggang atau tidak?

From: Dong Young-Bae
Besok lusa ya.
Karena libur, jadi mau berkunjung ke Busan, memangnya kenapa Jinhwan?

For: Dong Young-Bae
Sebenarnya..
Aku ingin mengajakmu liburan hyung.

From: Dong Young-Bae
Maaf, aku tidak bisa menemanimu. :(

Jinhwan tampak sedikit kecewa, kemudian..

For: Dong Young-Bae
Tidak apa-apa~
Aku bisa mengajak orang lain.
Selamat berlibur hyung ^^

From: Dong Young-Bae
Iya, kau juga ^^


Setelah selesai saling mengirim pesan, Jinhwan lantas memasangkan
ponselnya pada charger—mengisi daya baterai untuk besok.
Selepas itu, Jinhwan segera membaringkan tubuhnya di kasur, terlentang
sembari melatap langit-langit, pikirannya mulai melayang.

'Mungkin tidak perlu mengajak teman, lagi pula tiga orang saja tidak
masalah, kan? Menyenangkan atau tidaknya itu urusan nanti.'

'Seandainya Seunghyun hyung...'

Kesadarannya mulai menguap dengan memejamkan mata, langkah awal untuk
menyebrang dari alam nyata menuju alam mimpi yang tak terbatas.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tok..Tok..Tok—suara ketukan pintu berhasil membawa Jinhwan kembali ke
alam sadarnya. Ia berdecak kesal, memaki-maki seseorang yang ada di
luar sana kemudian segera bangkit dari kasurnya.

"Ya, tunggu sebentar", ia berjalan dengan malas-malasan menuju pintu
kemudian membuka pintu dengan mata yang masih tampak mengantuk.

"Siapa ya?", Jinhwan memicingkan mata seraya menggosok matanya agar
dapat melihat jelas sosok di hadapannya.

"Ini aku."

"SEUNG?", Jinhwan terperanjat kaget, matanya membulat sempurna
ketika mendapati sesosok makhluk yang tengah ia rindukan tertangkap
oleh penglihatannya.

'Orang yang berada di hadapanku ini, benar Seunghyun?'

'Aku tidak bermimpikan?'

'Oh ayolah, jika ini hanya mimpi. Tolong siapa saja, jangan bangunkan aku!'

Seseorang yang ternyata Seunghyun itu, menarik sebuah senyum di
bibirnya. Menatap teduh sosok yang sedang terpaku, ia mulai berbicara,
"Sudah bengongnya? Tidak mau memelukku?"

Singg—Jinhwan tersadar, ia lekas menghambur dalam dekapan sang pujaan
hati, menyalurkan ke rinduan yang membuncah dalam hatinya. Bahagia.
Sangat.

"Jahat! kau meninggalkanku hyung!"

"Maaf, aku baru bisa menemuimu sekarang."

"I-iya, jangan ulangi lagi."

"Hn, aku janji."

.

.

.

.

.
One Day © Mikyharu

.

.

.

.

.

10.05 am. Water Park

Tepat pada hari yang di janjikan, Bobby, Hanbin, dan Jinhwan plus
seseorang yang tiba-tiba muncul kembali—Seunghyun, mereka semua pergi
berlibur ke Water Park. Tetapi lain dengan niat awal sebelumnya, Bobby
tidak perlu lagi membayar tiket masuk untuk Jinhwan dan Seunghyun
karena dengan senang hati Seunghyun—yang ternyata bos besar di tempat
kerjanya—menawarkan diri untuk membayar tiket masuk Jinhwan dan
dirinya, jelaslah Bobby tidak akan melarang keinginan bosnya karena
hal itu sangat menguntungkan Bobby.

.

.

Outdoor Pool

Sekarang ini, Bobby dan Jinhwan sedang rehat dari kegiatan berenang,
mereka duduk bersantai di pinggiran kolam.
"Bagaimana hyung? Ide ku untuk ke tempat ini tidak salah bukan?", ucap
Bobby memulai pembicaraan seraya menggerak-gerakan alisnya nakal.
"Ya, lumayan... menyenangkan", Jinhwan mengangguk-angguk mengiyakan
ucapan Bobby, "Eh tapi, tumben kau memanggilku hyung?", Jinhwan
mengangkat alisnya menyelidik.
"Oh? Hahaha itu, aku baru tahu kemarin ternyata kau lebih tua dariku hyung."
Jinhwan hanya menanggapinya dengan anggukkan lagi.
Namun tiba-tiba saja Hanbin muncul dari dalam permukaan air, ia berenang menepi
akan bergabung dengan Bobby dan Jinhwan.
"Kalian sedang apa? Sedang menggosipkanku ya?".
Jinhwan memutar bola matanya bosan, "Kau terlalu percaya diri Hanbin."
"Percaya diri itu penting hyung, hahaha."
"Iya iya iya, terserah kau saja Hanbin."
Disela-sela percakapan mereka, Bobby tampak mencondongkan tubuhnya,
membisikan sesuatu pada Jinhwan, "Kenapa temanmu diam saja hyung?"
"Emm, dia sedang sibuk mungkin", ucap Jinhwan sembari menoleh
kebelakang menatap sesaat Seunghyun yang tengah sibuk dengar
ponselnya, "Ya, begitulah."
Jinhwan tersenyum kecut, jika saja ia tahu akan begini jadinya ia
tidak akan mengajak Seunghyun dengan harapan akan terasa menyenangkan
jika bersamanya, namun semua itu mungkin hanya lah sebuah
angang-angang saja.
"Pftt..", Jinhwan menghembuskan napasnya kasar, pikirannya melayang
entah kemana hingga ia tidak menyadari dua makhluk yang ada
disampingnya kini sudah menghilang.
"Hyung, aku dan Hanbin pergi dulu ya. Bye~", Bobby merangkul bahu
Hanbin, mereka berjalan bersama menuju keluar.
"Kalian mau kemana?"
"Bersenang-senang hyung", kali ini Hanbin yang menjawab, dia pun
melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Merasa bosan karena di tinggal kedua temannya keluar Jinhwan
memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Ia melangkah menhampiri
sesosok pria yang tengah sibuk dengan ponselnya, dia Seunghyun.
Kemudian Jinhwan duduk disamping Seunghyun dengan gelagat yang tampak
canggung. Namun pada akhirnya Jinhwan mulai membuka percakapan.
"Hyung, kenapa kau diam saja?", mendengar suara tanya, Seunghyun
lantas menghentikan aktivitasnya setelah mengirim sebuah data penting
melalui email pada karyawannya.
Kemudian ai menatap Jinhwan,"Tidak apa, hanya ada sedikit urusan yang
belum terselesaikan. Apa kau merasa bosen?"
"Emm, iya. Hanbin dan Bobby sudah keluar untuk bersenang-senang
katanya", Jinhwan menundukan kepala, terpancar aura kesedihan di
dalamnya.
"Lalu?", tetapi rupanya Seunghyun sama sekali tidak peka.
"Ck, ayo kita bersenang-senang juga hyung", tutur Jinhwan sembari
menyerucutkan bibirnya.
"Baiklah, kau mau aku bagaimana?", Seunghyun mengusap rambut Jinhwan
yang basah, ia tersenyum sesaat.
"Temani aku berenang atau apa saja."
"Baiklah, dimana ruang gantinya?"
"Disana, ayo hyung!", tanpa persetujuan, Jinhwan segera menarik tangan
Seunhyun untuk menuntunnya menuju ruang ganti dengan tas yang otomatis
Seunghyun ambil, karena celana renang miliknya terdapat didalam tas
tersebut.

"Cepat ganti pakaianmu hyung", titah Jinhwan sembari melipat tangannya
di dada dengan tampang polos.
"Sekarang?"
"Tentu saja."
"Baiklah" tampak tersenyum aneh, Seunghyun berjalan menuju pintu
kemudian mengunci pintu tersebut, memunculkan tatapan heran pada sorot
mata Jinhwan.
"Kenapa di kunci? Nanti orang lain tidak bisa masuk kesini Hyung."
"Memang itu yang ku inginkan."
Seunghyun kemudian melangkah mendekat pada Jinhwan, semakin dekat
serta semakin mendesak Jinhwan untuk melangkah mundur hingga
punggungnya berbenturan dengan dinding.
"Ka-kau mau apa hyung?", Jinhwan gelagapan menanggapi tingkah
Seunghyun yang tiba-tiba agresif.
Seunghyun tampak menyeringai, menatap Jinhwan layaknya seekor mangsa
yang siap diterkam. Ia kemudian menopang tubuhnya dengan satu tangan
menyentuh dinding semakin mempertipis jarak diantaran mereka.
Setiap detik, semakin dekat, deru napas Jinhwan yang tampak tidak
teratur bisa terdengar sangat jelas oleh Seunghyun.
Kemudian ia membisikan sesuatu, "Aku akan menemanimu apa saja. Tapi
ada satu syarat yang harus kau penuhi."
"A-apa it-tu?"
"Tubuhmu."
Glek—Jinhwan meneguk ludahnya dengan susah payah, ia mati-matian untuk
tidak menampilkan ekspresi gugup dan rona merah pada wajahnya, namun
ternyata sia-sia saja. Tubuhnya tidak bisa berbohong.
Seunghyun menampakan senyum kemenangan atas apa yang ia perbuat, ia
pun masih menunggu jawaban dari Jinhwan yang masih tidak menunjukan
respon.
Seunghyun tidak mau tinggal diam, maka dari itu ia mencoba
membangkitkan gairah seksual pasangannya dengan cara menghembuskan
napas di sekitar tengkuk Jinhwan yang sensitif.
"Engg.." sebuah lenguhan berhasil lolos begitu saja dari bibir Jinhwan
tanpa sengaja, menandakan bahwa ia begitu sensitif dan menikmati
perlakuan Seunghyun.
"Aku butuh jawabanmu Jinhwan. Bukan desahanmu." Seunghyun tersenyum
menatap ekspresi Jinhwan, sudah lama sekali semenjak mereka berpisah.
Jinhwan semakin terlihat.. Ughh, menggiurkan.
Jinhwan hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan Seunghyun nya,
karena dirinya sibuk menahan desahan dengan menggigit bibir akibat
kedua putingnya sedari tadi sedang dimainkan oleh tangan jahil
Seunghyun.
Tersenyum puas, Seunghyun segera melahap tubuh Jinhwan, ia hisap kedua
puting Jinhwan bergantian hingga memerah dan terlihat sedikit bengkak.
"Hngg.. Hyungg... Jan ngan.. Memuat.. Nahh da.. Euhh."
"Apa emm?", Seunghyun beralih pada perut Jinhwan, ia mengecupnya berkali-kali.
"Shh.. Tandaa jangannn.." Seunghyun menghentikan kegiatan, kemudian
menatap lekat pria mungil yang terjebak diantara dia dan dinding.
Dengan sekejap, Seunghyun segera melumat bibir ranum milik Jinhwan,
menghisapnya penuh nafsu hingga persediaan oksigen dalam paru-paru
mereka menipis.
Jinhwan mendorong cukup keras, hingga tautan mereka pun terlepas
menciptakan benang-benang halus yang memisahkan mereka. Ia tak
menyia-nyiakan hal itu, segera Jinhwan mengambil oksigen
sebanyak-banyaknya di udara untuk mengisi kembali tangki oksigen dalam
paru-parunya, menciptakan gerakan tak teratur pada dadanya.
Dan ughh, tampaknya benda kebanggaan Seunghyun semakin menegang
dibawah sana akibat pemandangan indah dihadapannya.
Seunghyun kembali menerjang Jinhwan, meraih kedalam kungkungannya
seraya menjelajahi leher putih nan mulus milik Jinhwan dengan daging
tak bertulang miliknya. Namun, ia sama sekali tidak memberi satupun
tanda pada kulit putih sang uke sesuai permintaan.
"Boleh aku membuat tanda dibawah pantatmu?", Seunghyun berbisik
dengan suara berat khasnya namun kali ini terdengar begitu menggoda.
Membuat hati sang uke terasa berdesir dan lemas.. kakinya pun terasa
melemah dan mati rasa.
"Hhhh hh lakukanlahh.."
Setelah mendapat izin dari Jinhwan, Seunghyun segera memangku Jinhwan
dan menidurkannya dilantai beralaskan sebuah handuk yang cukup besar.
Pun ia segera menanggalkan pakaiannya dan Jinhwan tanpa peduli dengan
posisinya sekarang yang berada di tempat umum.
Sekali lagi, Seunghyun merangkak di atas Jinhwan dan meminta izin,
"Aku ingin melakukannya sekarang, tak apa?", Mendengarnya Jinhwan
tersenyum seraya mengangguk dan menarik tengkuk Seunghyun mengawalinya
dengan sebuah ciuman ringan pertanda bahwa sekarang ia sudah
benar-benar mengizinkan apapun yang akan dilakukan Seunghyun pada
tubuhnya—dengan pengecualian tidak boleh membuat tanda dibagian tubuh
atasnya.
Seunghyun tersenyum senang lantas berpindah kebawah, membuka sebuah
jalan pada titik awalnya menuju kenikmat.
Dengan dagingnya yang tidak bertulung, Seunghyun terus menjamah,
membuat tanda dan memanjakan benda yang bernama penis milik ukenya.
Sampai Jinhwan mencapai batas akhirnya.
"Ahh mhhh", lenguhan nikmat itu terhambat oleh sebuah ciuman tanpa
lumatan untuk mengantisipasi terdengarnya suara sampai keluar.
Seunghyun melepas ciumannya kemudian menunggu beberapa saat, memberi
Jinhwan waktu untuk mengumpulkan staminanya kembali.
Setelah merasa cukup, Seunghyun mulai mengangkat pinggul
Jinhwan—posisi disimpan di paha Seunghyun—beserta kedua kakinya di
buat menekuk.
"Hyung.. Tung—arghhh.." terlambat, Seunghyun sudah memasukan sebagian miliknya.
"hmm?" Seunghyun kembali melanjutkan mendorong miliknya dengan
perlahan hingga bersarang dengan sempurna.
"euhh... Shhh.. Ah ahh", desah Jinhwan, ketika ia mulai digagahi oleh Seunghyun.
Napas mereka saling bersahutan tanpa henti bak alunan melodi yang
terdengar indah.
Alunan indah itu kemudian digantikan oleh sebuah kenikmatan tanpa batas.

.

.

.

.

One Day © Mikyharu

.

.

.

.

.

Jinhwan segera keluar dari ruang ganti dan menutup pintu. Ia
menggambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dalam satu
hembusan. Mencoba menenangkan kembali pikiran dan jantungnya yang
bergejolak karena aktifitas menggairahkan tadi.
Namun tak lama, Hanbin dan Bobby tampak melangkah menuju Jinhwan.
"Hyung, kau sedang apa?", sebuah suara dari belakang, Jinhwan
tersentak dibuatnya. Lantas ia membalikkan tubuhnya pada sumber suara.
Ternyata suara tersebut berasal dari Hanbin yang di temani oleh Bobby.
"Eh, kalian? Engg.. Tidak apa.. Hanya—", belum selesai Jinhwan
melanjutkan kalimatnya, Seunghyun tiba-tiba keluar dari ruang ganti
lengkap dengan celana renangnya kemudian menoleh pada Jinhwan, dapat
terlihat jelas rona merah itu muncul kembali pada wajah Jinhwan.
"Kau kenapa Jinhwan?"
"Mungkin dia demam Hyung", ucap Bobby spontan.
"Hee? Ti-tidak, aku tidak demam.", sahut Jinhwan membantah, "Oh ya,
kita keluar yuk? Pasti lebih menyenangkan", lanjutnya mengalihkan
pembicaraan. Kakinya mulai melangkah mendahului teman-temannya.
"Hyung, kau mau kemana?", tanya hanbin membuat langkah Jinhwan terhenti.
Jinhwan menoleh, "Keluar, kalian tidak mau ikut keluar lagi?", ucap
Jinhwan mengajak dengan gerak matanya.
"Maaf hyung, kami sudah—"
"Aku saja. Aku ikut!", Seunghyun mulai melangkahkan kakinya
menghampiri Jinhwan seraya tersenyum setelah sampai.
"Baiklah, aku dan Seunghyun Hyung pergi dulu, nanti kita bertemu lagi disini."
"Ok."

.

.

.

10.04 pm.

Cup—Seunghyun mencium kening Jinhwan cukup lama, kemudian melepaskan
-beralih mencium hidung, kedua pipi dan yang terakhir pada bibir ranum
Jinhwan.
"Kau yakin tidak ingin tinggal bersamaku?" Seunghyun berucap setelah
ciumannya terlepas, ia menatap Jinhwan dengan serius.
"Iya, aku ingin mandiri. Aku tidak ingin menggantungkan hidup pada
bossku sendiri."
"Tapi kan—"
"Hyung?"
"Hmm?"
"Aku sudah lebih kuat sekarang", tutur Jinhwan seraya memperlihatkan
senyumnya untuk meyakinkan.
Seunghyun pun ikut menyunggingkan sebuah senyuman, sebenarnya agak
kecewa tapi ia sangat bangga dengan pemikiran Jinhwan yang semakin
dewasa.
"Baiklah, aku hargai keputusanmu." tangannya bergerak menuju kepala
Jinhwan, mengacaknya pelan,"Tapi, jika kau membutuhkan sesuatu. Hubungi aku."
"Iya hyung, terima kasih sudah mencemaskanku."
Seunghyun bisa bernapas lega, ia sudah tidak khawatir lagi, "Ya, lebih
baik aku pamit pulang saja. Dan kau harus cepat tidur. Hari sudah
malam", Seunghyun memberi petuah lalu membuka pintu mobil dan segera
mendudukan tubuhnya pada Jok kemudian menutup pintu mobilnya.
"Sip Boss! Hehe.. Selamat malam!", seru Jinhwan seraya membungkuk
dengan gaya memberi hormat pada Seunghyun dan diakhiri oleh cengiran
khasnya.
Seunghyun hanya tersenyum menanggapinya kemudian ia menutup kaca mobil
dan bergegas menyalakan mobil lalu melajukan mobilnya. Meninggalkan
Jinhwan.
'Hah.. Hari yang menyenangkan. Aku dan Seunghyun hyung akhirnya bisa
bersenang-senang bersama bahkan tidak hanya di Water Park saja. Dan
disana aku bersama Hyung..' batinnya terhenti.
"Ughh.. Aku malu!", Jinhwan langsung saja menutupi wajahnya yang
menampilkan semburat kemerahan pada pipinya karena teringat kembali
dengan aktivitas yang ia lakukan bersama Seunghyun diruang ganti. Ia
lantas berlari menuju rumah dan segera menutup pintu.

.

.

.

.

.
'Aku sudah lama tidak melakukannya.'

.

.

.

.

.

To Be Continued...

Heuhhh.. maaf ya baru bisa up sekarang :'v belum di edit lagi, males hngg -_-

lagi sibuk sekolah soalnya. maklum kelas 3 SMA -_-

oh ya, btw ff Mission Complete! nya susah di buat lagi, karena harus mulai dari awai jadi males :'v

gak tau mau di lanjut apa enggak #ditimpuk readers

maaf banget T.T

ditunggu review nya ;3