Min Yoongi 18 (30-12-1995)
Park Jimin 18 (13-10-1995)
Kim Taehyung 18 (10-03-1995)
AN ANGEL
By: Minki ARMY
.
.
.
Seluruh isi cerita dari kulit-kulit sampai ke dalam-dalamnya adalah hasil karya saya sendiri. Pure from my sexy brain –and, yeah Yoonmin Is Mine :D
Rated M (antisipasi)
M-PREG
Typo(s) everywhere
Dont plagiarys
.
.
.
.
.
Yoongi terbangun, mengusap pelan kedua kelopak mata sayunya secara bergantian; menerawang keseluruh sudut kamar mencari taehyung masih dengan posisi berbaringnya. Setelah semua kesadaran terkumpul, ia bangkit dan memasang pendengarannya baik-baik menunggu suara ribut dari Televisi yang mungkin dinyalakan sang sepupu dari arah luar atau suara nyanyian rap taehyung yang terkesan aneh namun tetap enak untuk di dengarkan dari dalam kamar mandi. namun nihil. Sosok yang lebih tua beberapa bulan itu tidak menyimpan tanda-tanda kehadirannya di manapun.
" taehyung...hyung!" –panggilnya dengan suara rendah khas bangun tidur sembari berjalan menuju ruang tengah.
"tae –hyung!" mengerutkan dahi, yoongi berdiri di depan TV yang tidak menyala seperti dugaannya, lalu berjalan ke arah dapur dengan langkah lesu. Keduan mata sipitnya menelisik seluruh peralatan yang tersusun rapih disana, mencari kekurangan atau mungkin sesuatu yang bisa ia kerjakan. Sadar dirinya bukan seorang pembersih yoongi tetap melakukan pekerjaan rumah semampunya. menyapu, membersihkan, dan memasak saat ibu taehyung tidak di rumah. –hingga kedua pandangannya berhenti pada pisau dapur sepanjang 15 senti yang tergeletak tak jauh dari kakinya.
Yoongi menunduk meraih pisau tersebut dan merasakan mual pada saat bersamaan setelah bau tajam dari makanan yang entah berasal dari mana hinggap di penciumannya. Segera ia berlari menuju kamar mandi dengan sebelah tangan menahan mulut yang rasanya akan menumpahkan seluruh isi perutnya
UEK~
UEK~
Tidak ada sedikit-pun makanan yang keluar, hanya cairan bening dan rasa mual yang makin menjadi-jadi mencekik leher yoongi. perlahan pelipisnya kembali mengeluarkan keringat dan bibir kecil yang biasanya berwarna merah berubah jadi pucat persis seperti warna kulitnya. ia meringis, memegang perutnya, tanpa sadar kedua matanya mengeluarkan cairan hangat. tubuh kecilnya ter-duduk penuh di lantai kamar mandi dan menunduk didepan kloset mengarahkan isi perut yang dikiranya akan keluar dari mulut kecilnya saat itu juga.
" eomma.. ampuni aku –hiks "
Yoongi menangis. Menyandarkan bahu bergetarnya di dinding kamar mandi masih dengan jemari menggenggam erat pisau di tangannya. cairan hangat itu terus keluar dan semakin banyak membasahi pipinya, hingga kedua mata sayunya membengkak dengan cepat.
" eomma.. mianhae –hiks " mengeraskan isakannya. Yoongi memukul-mukul perut datar yang bersembunyi di balik kaosnya Seolah menyalahkan semuanya pada sesuatu yang tinggal disana. bagaimanapun ia masih-tidak bisa menerima semuanya. tubuh lemah layaknya wanita yang ia bawa dan penyesalan telah bertemu jimin membuatnya 'sekali lagi' menyesali kehadirannya di dunia ini 'setelah' kejadian masa kecilnya dimana ia jadi korban kekerasan teman-teman mesum yang suka menyiksa tubuhnya; membuatnya mengutuk hidupnya sendiri Sampai seseorang datang membawanya keluar dari dunia kejam itu.
Yoongi melirik pisau dapur yang digenggamannya. Tersenyum miris mengingat seluruh penderitaan yang didapatnya sejak kecil sampai saat ini yang rasanya tidak berujung. 'Tidak lagi' ia sudah tidak sanggup! hidup tanpa penyemangat sama saja mati dan itu jalan satu-satunya untuk mengakhiri semua. Yoongi sudah bertekad.
"mianhae eomma..!" katanya tersedu-sedu, nafasnya berat dan lehernya serasa tercekik. Pisau dapur dengan ujung tajam nan mengkilat itu perlahan ia dekatkan hingga tepat menyentuh kulit pergelangan tangannya; membuatnya mengeluarkan darah karena tekanan yang semakin kuat
"eomma-ya, taehyung-ah mianhae. Aku mencintai kalian!" –dan sukses merobek kulit yoongi
.
BLAM!
" YOONGIIIIIIII ! "
Teriakan taehyung terdengar sebelum yoongi memejamkan kedua mata sembabnya, dengan kesadaran yang kian menipis ia tersenyum menemukan bayangan samar taehyung bersama seseorang berlari ke arahnya meraih tubuhnya yang rapuh; memeluknya erat sebelum terjatuh bersama banjiran darah di pergelangan tangannya.
" YOONGI !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" tolong selamatkan dia !"
" ada sesuatu di perutnya. Selamatkan mereka !"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua pemuda tinggi itu duduk di deretan kursi panjang di depan ruang IGD. Salah satunya duduk menopang dahi dengan kedua tangannya, sesekali mengusap-usap wajahnya kasar. Kedua kakinya tidak berhenti bergerak gelisah di atas lantai berwarna putih dibawah sana.
Sedangkan pemuda yang satunya menyandarkan bahu di tembok sambil membentur-benturkan kepalanya. terlihat jelas raut cemas di wajahnya. Bahkan untuk berbicara sedikit-pun ia tidak sanggup. Pening, sakit perut, sakit leher, dan lainnya bercampur jadi satu membuat pemuda bertubuh atletis ini hanya diam selama mungkin.
Taehyung melirik sahabatnya yang kian menit kian memperkuat benturan kepalanya di dinding ruangan. Aktifitas berpikir kerasnya ia sudahi melihat penampilan berantakan jimin dengan darah di bagian depan bajunya. Ia bahkan baru menyadari seseorang yang disebelahnya ini ternyata turut merasakan kecemasannya sejak tadi.
" jimin-ah.. berhenti membenturkan kepalamu!" taehyung bersuara rendah menunggu sang sahabat berhenti dari aktifitasnya meskipun tidak berpengaruh. Jimin tidak merespon sedikitpun. Mata sipit tajamnya menerawang kelangit-langit ruangan terlihat berpikir
Selanjutnya Taehyung menyikut lengan jimin berharap orang idiot itu terkejut dan cepat menyudahi kegiatan bodohnya bersama tembok tanpa dosa dibelakangnya "Ya pabo! Kau bisa amnesia. Ingat! Aku tidak ingin menjaga dua orang sekaligus di rumah sakit ini !"
Yang di senggol mengerjap sebelum kedua maniknya kembali seperti semula. Ia memalingkan pandangannya ke arah sang sahabat. " oh! " jawabnya singkat membuat taehyung gemas ingin mencium bibirnya dengan sendal galang.
" taehyung ah– apa sesakit itu? kenapa dia sampai berpikir sangat jauh? "
" apa karena aku? karena bayi-nya?"
" aku akan mengutuk diriku sendiri kalau sesuatu terjadi padanya"
Taehyung tidak bergeming. Pandangannya lurus kedepan dengan wajah blank khasnya. Kedua bibirnya terkatup rapat enggan merespon sedikitpun. membuat Jimin kembali dengan pemikirannya dan mulai membentur-benturkan kepalanya sampai pintu ruang IGD yan tak jauh dari mereka terbuka, menampakkan seorang dokter paruh baya berjas lengkap ditemani dua perawat cantik.
Taehyung berdiri, menelan saliva bersiap mendengarkan penuturan sang dokter sedang jimin dengan wajah harap-harap cemas mencoba berdiri sesantai mungkin begitu sang dokter telah tepat berada di hadapannya.
"bagaimana keadaan adik saya dokter?" itu taehyung menggigit ujung kukunya. Menatap penuh harap pada sang dokter.
" adik anda selamat! "
Taehyung bersorak. "yess" memundurkan langkahnya ke belakang dengan kedua tangan mengusap wajahnya lega. Sedangkan jimin masih memasang raut tanda tanya besar di wajah tirusnya. Masih ada satu hal yang harus ia pastikan untuk melengkapi rasa syukurnya.
"bayi-nya ?"
Sang dokter tersenyum, membawa pandangannya pada jimin "janinnya sangat kuat. Namun kehilangan banyak darah sempat membuatnya melemah, beruntung anda membawanya lebih cepat " –tutur sang dokter
"Huuufhhhh~ " segera menghembuskan nafas leganya. Jimin menjabat tangan sang dokter pertanda terima kasihnya sebelum dokter itu pergi dari sana. taehyung yang melihatnya tersenyum lepas " yeah mereka selamat Jimin! "
Keduanya tertawa. Menghela nafas lega sebelum membuang tubuhnya di atas kursi panas yang sejak tadi jadi teman setianya. Seperti kehilangan beban beribu-ribu ton di pundaknya, jimin mulai memejamkan matanya berharap mendapat sedikit istrahat dari kegiatan menguras pikiran dan tenaga hari ini.
"sepertinya kau harus pulang berganti pakaian chingu ! Itu!"
Jimin mengerutkan dahi, membuka mata mengikuti arah pandang taehyung lurus di baju bagian depannya. "Oh God !" jimin yang stylish dan sangat memperhatikan fasion itu bahkan lupa tentang penampilannya sekarang. ia menepuk dahinya. Berusaha berdiri dengan santai memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana "bahkan dengan gaya seperti ini tidak akan mengurangi ketampananku didepan perawat-perawat cantik itu kawan! "
Taehyung mencibir. Refleks menjitak kepala sahabatnya dengan keras " Aigo..seseorang sedang berjuang mempertahankan anakmu di dalam sana bodoh!"
Anak?
Jimin membatu. Tidak seperti ia yang biasanya yang akan membalas jitakan sahabatnya telak, hanya kembali bergelut dengan pikirannya tentang 'anak' yang sudah sejak tadi berputar-putar di kepalanya, jimin masih terlalu bingung untuk mengambil tindakan.
" kenapa?" taehyung menyenggol sahabatnya lagi. membuat yang membatu itu kembali tersadar dan segera menarik diri dari situasi yang bisa menurutnya bisa membuat berat badannya turun secara cuma-cuma
" aku akan pulang dulu, mandi dan berganti pakaian"
"hm" Taehyung mengangguk paham. Membiarkan sahabatnya pergi menenangkan pikirannya, mungkin. Karena setelah ini ia tahu bahwa jimin akan melalui masa sulit. Masa dimana ia harus menanggung hidup oranglain selain dirinya sendiri. Menjadi seorang ayah di usia muda. Uh..taehyung mengedikkan bahu
...\^^/...
Jimin kembali dari rumahnya. Membawa beberapa kantong berisi buah-buahan dan makanan untuk Taehyung dan Yoongi–juga sebuah tas berisi pakaian ganti untuk Taehyung. setelah di beritahu lewat sambungan telepon tentang yoongi yang telah di pindahkan ke ruang perawatan sejam lalu, ia melesat pergi dan sekarang berada disini.
" kau kembali? Cepat sekali?"
teriak Taehyung melihat sang sahabat membuka dan menutup pintu ruangan perlahan. Senyum kecilnya menyapa ramah yang tengah berjalan dengan penampilan sempurnanya, seperti biasa. Jimin yang selalu memperhatikan penampilannya tidak pernah terlihat gagal sekali-pun dalam berpenampilan, sampai taehyung sendiri harus mengakui-dengan-terpaksa bahwa 'sahabatku memang keren'
" Aku tidak lelet sepertimu !" jawab jimin mengejek.
Taehyung mencibir, memperhatikan sahabatnya meletakkan bungkusan demi bungkusan yang di bawanya di atas meja yang tak jauh darinya. "kau memang yang terbaik Jiminie"
"Tutup mulutmu! Cepat mandi dan ganti pakaianmu!" melemparkan tas berisi pakaian ke arah sahabatnya. Jimin tersenyum kecil mendudukkan dirinya di samping taehyung.
" Yoongi-ah kau tidur?" panggil taehyung sambil melongo menunggu respon. namun Yang di panggil tidak bersuara sedikitpun bahkan menutup matanya rapat-rapat. Lebih rapat dari sebelumnya saat jimin berjalan masuk dan mendongak melihatnya.
" mungkin dia lelah" –ujar taehyung lagi dengan rectangle smilenya dan dibalas cengiran garing oleh jimin sebelum memalingkan wajah ke arah TV yang menempel di dinding.
Ruangan bernuansa soft tea dengan kursi sofa panjang berwarna putih di sudut ruangan dekat jendela, dua meja hitam yang di rapatkan ke dinding, satu nakas disamping ranjang pasien dan televisi berwarna hitam yang menyala dengan volume kecil; sangat pass membuat jimin mengantuk. Ditambah semilir angin yang bertiup dari penghangat ruangan dan senyap kamar setelah taehyung beranjak ke kamar mandi membuat rasa kantuknya makin menjadi-jadi.
Jimin merentangkan Kedua kakinya di atas sofa, menyamankan posisi dengan menyangga kepalanya menggunakan salah satu lengan dan bantal sofa kecil di salah satu sudut kursi. ia berbalik beberapa sekon melihat punggung yoongi yang bergerak teratur kemudian memejamkan matanya, ikut terlelap setelah prediksi taehyung tentang yoongi yang tertidur di benarkan oleh kedua matanya.
Selang beberapa lama, Taehyung sudah rapi dengan pakaian baru yang dibawa jimin untuknya. Ia keluar dari kamar mandi dan menemukan Yoongi dan Jimin tertidur dengan posisi yang sama; seperti tidur seorang bayi dalam kandungan.
" sepertinya aku harus menikahkan mereka" –ujarnya dengan santai. Senyum kecil terbit di bibirnya sembari berjalan mendekati buah-buahan yang diletakkan jimin di atas meja.
Taehyung mengambil setangkai anggur dan melahapnya satu persatu di samping jimin; mendominasi ruangan dengan suara kecipan buah dalam mulutnya 'seribut mungkin' hingga dua orang tengah tertidur pulas di tempat yang berbeda itu terbangun paksa. menggeliat sebelum membawa pandangan mereka pada sumber suara-kurang-ajar-Taehyung.
Jimin menatap malas sang pelaku yang masih memasang wajah tanpa dosa duduk di dekatnya. Tidak terlalu tertarik untuk menegurnya, ia hanya memperbaiki posisi kembali menonton acara televisi yang tidak kalah kurang ajarnya dengan taehyung. yaitu acara musik yang menampilkan video clip seksi dari girlband yang entah siapa mereka yang berpakaian hampir telanjang dengan raut muka menggoda.
Err..
.
.
" Yoongi..kata dokter kamu bisa pulang besok pagi" Menarik setangkai anggur kembali, taehyung mengunyah buahnya menunggu yang di panggilnya memberi respon.
" bagaimana dengan ibumu tae? Dia akan mencari kita"
" kita bisa bilang kalau kita bermalam di rumah jimin" –jawab taehyung disusul anggukan bangga dari jimin (salut dengan keahlian sahabatnya dalam hal-hal semacam ini 'penipuan dan pembohongan' )
" Tae-hyungie..tidak bisakah kita pulang malam ini juga? aku tidak suka berada disini" yoongi merengek. Menampakkan puppy eyesnya yang begitu cantik untuk pertama kalinya, dan ingatkan jimin untuk bernafas. Sumpah demi apapun, jantungnya memberontak menyaksikan salah satu keajaiban dunia di depannya.
'sial! Dia merayuku!'
" kau harus beristirahat total yoongi! itu kata dokter"
Menghembuskan nafasnya pasrah. yoongi membenamkan tubuhnya kembali ke dalam selimut tanpa bersuara sedikitpun. Sedangkan taehyung yang melihatnya terkekeh gemas sembari berjalan ke arah pintu
"aku akan kembali! Jimin kutitip yoongi"
.
.
.
.
.
.
10 menit berlalu
.
15 menit,
.
20 menit,
.
.
" –Khem"
Jimin berdehem keras; Berdiri di samping ranjang yoongi. Kali ini ia sedang berusaha menarik perhatian pemuda bening yang tidak pernah sekalipun mau menengok ke arahnya barang sebentar.
" Yoongi.. kurasa kita perlu membicarakan ini " suara tegangnya menggema. Membuat yang mendengarkan merasa muak, ingin melemparnya dengan bantal guling.
" aku ingin mengatakan sesuatu!"
Lagi, Yoongi merasa telinganya akan pecah mendengar suara itu. ia ingin mengakhiri semuanya secepat mungkin Tapi tidak tahu caranya. Pemuda menyebalkan ini terlalu murah untuk mendapatkan tendangan dari kaki seksinya.
Berpikir sebentar, akhirnya ia memutuskan menuruti kemauan jimin agar manusia super menyebalkan ini cepat-cepat enyah dari hadapannya. Yoongi menurunkan selimutnya, dengan pelan menyandarkan bahu di dinding ranjang, " apa maumu?"
Sekuat mungkin jimin menahan emosi; tidak ingin mengambil resiko yang bisa merubah pikiran si pemuda galak ini untuk menyetujui ajakannya bernegosiasi. Mengulum bibir, ia menyorot setiap inchi wajah yoongi; tanpa melewatkan sedikitpun, bahkan pori-pori terkecil di wajah pucatnya.
" aku memiliki tanggung jawab atas anak itu– dan untuk memastikannya aman, aku sudah berbicara pada taehyung untuk membawamu tinggal di rumahku "
DEG
Yoongi berdebar cepat. Menyembunyikan rona pipinya dengan membuat ekspresi datar; masih enggan melihat ke arah lawan bicaranya.
" aku tidak ingin kau merepotkan oranglain karenaku. Setidaknya sampai bayinya lahir kau hanya boleh merepotkanku. Bukan taehyung atau siapapun! " –jelas jimin. Saat itu juga ia bisa melihat perubahan raut wajah dan kemarahan yang tergambar jelas di kedua mata sayu yoongi. 'yang benar saja, jimin hanya menginginkan bayinya'
" Benar, ini anakmu! Kau bisa mengambilnya saat dia lahir! tapi Aku tidak akan pernah mau tinggal denganmu meskipun anak ini masih berada dalam tubuhku!"
jimin berkacak pinggang 'Demi Tuhan, orang ini benar-benar keras kepala' –kemudian memandang yoongi dengan tajam "meskipun perutmu mulai membesar dan ibu taehyung kecewa padamu?" –seringainya sukses membuat yoongi menelan saliva bulat-bulat.
Ini pemikiran yang sama sekali belum pernah datang di kepalanya. tentang perutnya yang akan membesar dan kekecewaan ibu taehyung padanya. Jimin benar! –dan ia harus memikirkan itu semua mulai sekarang.
" baiklah kalau kau begitu membenciku. Kau bisa tinggal denganku saat perubahannya sudah tidak memungkinkanmu bertemu dengan ibu taehyung! bagaimana?"
Yoongi memutar otak. Berpikir tentang 'kehamilan' se–tau otak sempitnya.
Perut seorang yang hamil tidak akan terlihat dengan cepat, benar! mungkin di bulan-bulan ke lima atau ke enam, atau mungkin ke tujuh. Argh! Terserah! Yang pasti ia hanya akan tinggal dengan jimin mungkin hanya sekitar 3 atau 4 bulan saja. Dan itu lebih baik daripada 9 bulan.
" Bagaimana?" jimin masih menunggu. Mengetuk-ngetukkan sepatu converse-nya di permukaan lantai. Sedang Yoongi mengigit bibir bawahnya; menutup mata sebelum mengutarakan persetujuan finalnya usai berdebat dengan ego-nya sendiri.
.
.
" Aku akan tinggal di rumahmu..."
.
.
.
.
.
–ToBeContinue–
Annyeong Yeorobun!
Big thanks untuk semua yang sudah membaca, mereview, memfollow, memfavoritkan, dan setia menunggu kelanjutan FF ini. benar-benar respon yang memuaskan. Jeongmal gumawo !
Pastinya kita semua punya harapan yang sama untuk Yoonmin yang belakangan makin lengket *Wkwk
Mari doakan mereka supaya cepat go public /amin/
FOTO BTS DI MAJALAH STAR1 TADI PAGI KESEBAR DAN DISITU ENTAH KENAPA DI SALAH SATU FOTO YOONGI KELIHATAN MIRIP BANGET SAMA coretBAEKHYUNcoret. SUMPAH ITU coretBAEKHYUNcoret! Dan saya galau T_T kenapa si uke cabe (mantan saya) itu bisa ada di BTS? MAKIN LIAT MAKIN MIRIP DAN TERNYATA OH TERNYATA DIA YOONGI ! HOREEE... BIKIN MAKIN YAKIN DENGAN KE-UKE-ANNYA! HAHAHAHAHA~ /ABAIKAN JUSEYO/
Setelah membaca, harus review oke? /maksa/ pokoknya harus! Katakan apapun! /maksa banget/
Mau curhat atau punya keluhan setelah melihat Yoonmin moment yang makin menjamur. Hayuk! Buat tante ini tersenyum *wink
Disini aja–di kolom review:D
–say something about this fanfiction juseyo–
