AN ANGEL

By: Minki ARMY

.

.

.

.

.

Memasuki bulan kedua kehamilan yoongi. melupakan masa ngidam dan morning sickness yang menyiksa. Kini bangku kuliah, teman-teman baru, kehidupan baru dan berbagai kegiatan kampus lainnya sudah menunggu.

Yoongi, Jimin, dan taehyung memasuki tahapan baru dalam kehidupan mereka, menjadi seorang mahasiswa di universitas terkemuka di seoul 'Konkuk University' yang merupakan kampus beken dimana disetiap tahunnya mencetak lulusan-lulusan terbaik plus membanggakan dengan segudang prestasi di berbagai bidang terutama di bidang seni

Serangkaian kegiatan penyambutan mahasiswa baru-pun telah di lalui ketiganya. Selama berhari-hari dan tentunya membosankan. Yoongi sampai harus berpura-pura sakit dua hari berturut-turut untuk menghindari acara yang membuang-buang waktu itu –menurutnya.

pun dengan Jimin, ia tidak tinggal diam. Mengetahui yoongi sakit ia terus memaksa selama dua hari itu untuk menemani yoongi. menjaganya seharian di rumah dan membiarkan taehyung menghadiri acara penyambutan sendirian.

kuliah perdana di mulai hari ini. Jimin dengan style kerennya. Jeans, slim fit shirt berwarna putih, sepatu converse, dan ransel hitam di salah satu pundaknya kini tengah duduk tampan di deretan meja tengah paling pinggir di ruang perkuliahan umum jurusan seni. sedikit tersenyum saat beberapa teman wanita menyapanya dengan ramah dan memberinya kedipan genit, membuatnya bergidik ngeri –Sampai dua pemuda lain datang dari arah pintu berjalan mendekatinya.

" hei bro!" berdiri berhigh-five dengan taehyung dan memberinya jalan untuk masuk ke kursi di sebelahnya.

Jimin menampakkan wajah cerahnya menyapa pemuda yang satunya lagi "selamat pagi Agi!" –bisiknya pelan di telinga yoongi yang setengah mati menahan merah di wajah pucatnya.

Melihat ekspresi itu Jimin tersenyum, membuat mata indahnya menyipit membentuk satu garis lurus yang membuat beberapa orang di ruangan itu berteriak histeris; membuat kegaduhan layaknya di gedung konser.

Yoongi memutar bola matanya. Kembali merasa moodnya di rusak pagi ini, ia kemudian berjalan menuju deretan kursi lain dengan langkah ringan, tapi tangan familiar menarik lengannya membuat pergerakannya terhenti

" Mau kemana?" menahan lengan yoongi, jimin menaikkan satu alisnya kemudian menunjuk kursi sebelah dengan matanya "masuklah! Duduk di dekatku!"

Yang di tarik menggigit bibir bawahnya, menahan diri sekuat mungkin untuk tidak melemparkan jimin kembali ke rumah lotengnya kalau saja beberapa pasang mata itu tidak sedang memperhatikan gerak-geriknya bersama pemuda egois ini

" masuklah!" jimin kembali memerintah dengan tatapan seriusnya.

Yoongi duduk tanpa berkomentar diantara Taehyung dan Jimin, dengan tampang malas dan bosan ia melayangkan pikirannya kemana saja, asalkan bukan pada jimin yang akhir-akhir ini sering membuat wajahnya memerah.

" Jimin.. bagimana? Apa kau jadi bergabung dengan klub dance ?"

Suara tehyung menginterupsi, membuat yoongi terbangun dari hayalannya. Ia berdehem kecil dan memasang pendengarannya baik-baik mengikuti sebagian dari dirinya yang tertarik dengan jawaban jimin detik berikutnya

" Tentu! Aku akan mulai aktif disana hari ini juga"

" kau yoongi? kapan kau bergabung dengan klub rapper underground itu?" –tanya taehyung lagi, memindahkan pandangannya di wajah sepupu manisnya

" setelah kelas ini"

Taehyung mengangguk dan Yoongi melirik, merasakan pergerakan jimin setelah jawaban singkatnya mengudara di antara kegaduhan ruangan yang semakin di padati oleh beberapa mahasiswa yang mulai berdatangan. Ia berharap yang disampingnya itu berkomentar namun tidak ada suara sama sekali

'mana nih, yang selalu melarangku ini dan itu?'

jimin meraih ponselnya kemudian sibuk memainkannya mengacuhkan yoongi sampai perkuliahan selesai

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" Pasta Bulgogi "

" Pasta"

" Pasta"

" Pasta"

" pasta"

" bulgogi "

"argh.. Apa ini? kenapa tidak ada bulgogi-nya?"

Yoongi terus menggerakkan jari telunjuknya yang kurus di daftar menu kafe dekat kampus. Perkuliahan hari ini telah usai dan sekarang ia tengah menyalurkan obsesinya terhadap salah satu makanan yang sejak pagi tadi jadi pengganggu aktifitas belajarnya di ruangan, selain jimin tentunya.

tersisa waktu 15 menit sebelum pertemuan dengan geng rapper terkenal itu di mulai, dan yoongi makin gelisah karena menu yang sejak tadi diteriakkan perutnya tidak juga ia temukan di deretan daftar menu kafe ini.

" ahh.. bulgogi " desahnya sembari menundukkan kepala di atas meja dan membentur-benturkannya perlahan. ini sangat berbeda dengan kenginannya yang kemarin yang hanya menggilai cheese cake sampai jimin harus melesat di tengah malam menuju rumah taehyung hanya untuk membawa cheese cake untuknya.

Tentunya, setelah malam kesepakatannya akan tinggal di rumah jimin yang ia batalkan dengan seenaknya.

" Jimin ?"

Yoongi mendongak. Melihat ke arah luar dimana suara melengking seseorang terdengar begitu jelas dan familiar. Ia berpikir bahwa ia harus tetap berpura-pura menyiksa anak jimin di dalam perutnya selagi didepannya –dan menemukannya duduk disini tentu bukan ide yang bagus

" orang itu bisa Ge-er kalau menemukanku memberi anaknya makanan enak "

Memasang wajah malas, yoongi mencibir sebelum melangkah meninggalkan kafe. Jimin itu memang pengganggu yang baik sejak dulu. Ditambah lagi anaknya yang sekarang yoongi bawa, tidak ada jaminan ia bisa lepas dari pemuda egois itu dalam waktu dekat.

Di pinggiran jalan yang di lewati banyak mahasiswa yoongi berjalan lesu sambil memegangi perutnya yang kelaparan. Membesarkan volume musik yang ia dengar lewat headset yang terpasang rapih di telinganya beberapa lama sampai seseorang menghalau jalannya Membuatnya berhenti tiba-tiba dan menatap penampilan sang pelaku dari ujung sepatu sampai wajahnya

" Yoongi? kau Min Yoongi kan?"

Suara berat, seksi dan merdu dengan penampilan unik ditambah dua lesung pipi menawan di kedua sisi pipinya; tidak salah lagi

" Namjoon hyung?"

" Min Yoon-gi aah!"

Namjoon. pemuda itu menarik yoongi kedalam pelukan eratnya. Mengusap-usap rambut yoongi yang halus sambil tersenyum "aku merindukanmu" –ujarnya pelan

Yoongi tersenyum, membiarkan sepasang headset putihnya terlepas dari telinganya. ia menaikkan jemarinya mengusap bahu namjoon yang lebih tinggi darinya "nado hyung. Bogoshippeo "

" jadi, sekarang katakan apa yang kau lakukan di tempat ini? kapan kau ke seoul? Oh ya, kau sudah makan? kenapa masih suka berjalan sendirian hm? "

Mendengar rentetan pertanyaan itu, yoongi terkekeh. Rambut halusnya beterbangan oleh angin yang entah berhembus kencang saat itu. namjoon dan senyumannya adalah sesuatu yang pernah mengisi harinya, membuatnya menemukan semangat hidup sampai pemuda bersuara rapper ini harus pergi dari daegu meninggalkannya bersama perasaan yang kemudian ia kubur dalam-dalam.

" kau gemukan, yoongi!? "

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" pasta bulgogi "

Jimin merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah taehyung. mencari posisi yang nyaman untuk merenggangkan ototnya yang terasa tegang setelah sekian lama kembali melakukan gerakan dance.

" apa? Pasta bulgogi? Tumben?" Taehyung mengerutkan dahi melirik bungkusan yang dibawa sahabatnya. Dengan pakaian rumahan santainya ia mengambil posisi di kursi sebelah dan menyalakan TV

" entahlah! Tiba-tiba Ingin saja " –jawab jimin, masih mencari posisi yang nyaman sambil memejamkan mata

" lalu? Kenapa tidak dimakan?"

" mana Yoongi?"

Taehyung mendengus, aneh dengan pertanyaan balik yang jauh dari topik awal perbincangan mereka yang jelas-jelas membicarakan soal makanan "di kampus! Katanya sudah di jalan pulang" –jawabnya terpaksa

"OH"

.

" Jimin..?"

.

"Hm?"

.

" Apa kau sedang 'ngidam' ?" Dengan tanpa rasa bersalah dan ragu sama sekali taehyung berujar dengan kerasnya, membuat jimin berbalik lalu mendeathglare dengan mata sipit lelahnya Diikuti suara pekikan tidak terima yang tidak kalah kerasnya dari suara taehyung "Yak.. neo! " dan sukses melayangkan jitakan di kepala sang sahabat

Plak

" aww!" taehyung meringis, mengusap kepalanya lalu menyengir tidak jelas "hehe"

" dasar alien gila!" –makinya mengabaikan taehyung, jimin kembali dengan mode sebelumnya. Bersandar dan menyorot pintu depan rumah taehyung dengan tatapan tajam namun sendu.

Menit terakhir di jam kedua ia menunggu yoongi, jimin mulai gelisah. duduk menghitung detik jam yang bergerak di samping TV, sesekali melirik ponsel dan bertanya 'dimana dia?' berkali-kali sampai taehyung jengah.

Berlebihan memang, tapi jimin tidak menyadari itu sama sekali. yang ia tahu ia hanya ingin melihat yoongi baik-baik saja sebelum ia meninggalkan rumah taehyung –setiap hari

" tuh kan! " –Taehyung bersuara lagi, sepaket dengan cengiran kotak mengejeknya ke arah jimin

" hentikan pikiran bodohmu, kim!"

.

.

.

.

.

.

.

" kau tahu, kawan? Kata Ibuku, dulu saat aku didalam kandungannya, ayahku yang dingin tiba-tiba jadi lebih manja. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan ibuku dibandingkan pekerjaannya. Kalaupun harus bekerja, ia akan pulang cepat dan menemui ibuku...belum lagi keinginan makan ini dan itunya yang aneh, jinjjaa hahaha~ "

Jimin mendelik, memindahkan fokusnya saat yang berkisah tertawa di akhir ceritanya. "terus? apa itu terdengar lucu?"

Tehyung menggeleng "bukan cuma itu sih " kemudian tersenyum

"lalu?"

"sebenarnya melihat tingkahmu yang tidak jauh dengan ayahku dulu. Hahaha... sumpah itu lebih lucu dari apapun!"

.

.

–dan Sepiring cheese cake-pun mendarat di wajah taehyung dengan tidak elitnya mengenai seluruh wajah sampai bajunya

.

.

.

.

" YAKKK... KUE-KU?!"

Dua orang itu berbalik ke sumber suara. Menemukan sesosok mahluk manis yang tengah berdiri dengan wajah merah nan lesu "kue-ku" –gumamnya sembari berjalan menghampiri si kue malang

Taehyung bergidik. mengambil ancang-ancang sesegera mungkin dari atas sofa. Ia memasang sendal rumah dengan perlahan dan berlari sekuatnya menghindari amukan yoongi yang akhir-akhir ini makin galak menandingi ibu-ibu hamil tetangga sebelah 'menurutnya'

Sementara itu jimin memasang wajah polos. Duduk memandangi yoongi yang menyesal melihat kue kesukaannya bertumpahan sia-sia di pinggiran kursi sampai lantai

" Hei! Yoongi"

Yang di panggil berbalik. Menampakkan tatapan menantangnya yang selurus sinar laser

" bisa tolong pindahkan pasta bulgogiku ? aku lapar" berucap tanpa beban, jimin menyodorkan bungkusannya memaksa yoongi menggenggamnya "kau juga pasti lapar,kan?" bujuknya pura-pura

Sesudahnya yoongi tidak perduli lagi dengan apa yang dikatakan jimin. ia hanya terpaku pada nama makanan yang sejak tadi diinginkan-nya lalu berjalan menuju dapur

" wahhhh...pasta bulgogi"

berdesah panjang saat aroma bulgogi menyapa penciumannya. yoongi tersenyum sambil memindahkan pastanya ke sebuah mangkuk, sesekali bergumam riang dan mengusap bibirnya dengan lidah basah tanda tergiur, sampai sebuah lengan melingkar tubuhnya; memeluknya dari belakang

" hanya sebentar. tetaplah seperti ini!"

Kedua tangan yoongi beku seketika, wajahnya merah dan entah kenapa jantungnya berdegub sangat cepat. Ia sempat berpikir tentang Sihir macam apa yang dimiliki orang ini hingga membuat kekuatan-nya menghilang secara tiba-tiba, bahkan untuk sekedar menyingkirkan jemari berisi itu dari perutnya ia tidak bisa.

Jimin menyandarkan dagunya di bahu yoongi dan menghembuskan nafas teratur yang merdu ditelinga yang lebih pendek darinya. Dengan sangat pelan ia mengusap perut yoongi yang ditutupi kemeja berbahan halus

"annyeong Agi ! ini appa. Kau sedang apa di dalam hum? "

Wajah yoongi memerah. Pergerakannya terkunci dan suaranya hilang entah kemana. Ia ingin menolak namun ada sebagian dari dirinya yang menginginkan sentuhan jimin ini.

Ia bahkan lupa bernafas, terus mengutuk jantung gila yang berbuat gaduh sengaja memperdengarkan iramanya yang kacau pada pemuda hangat yang tengah mendekap tubuhnya dengan mesra.

" ah.. apa di sana benar-benar sesak? " semakin mendekatkan tubuhnya. Sejenak, jimin melirik ekspresi yoongi yang hanya bisa berdiri dengan kaku dipelukannya

" hanya beberapa bulan lagi, tunggulah! Dan kita akan bermain saat kau keluar dari sana. keke"

Lagi, Yoongi tenggelam oleh suara kekehan merdu itu, membuatnya lupa diri dan ingin tinggal lebih lama bersama jimin. ucapan menggelitik jimin membuat berjuta kupu-kupu beterbangan dalam perut nya. Sumpah demi apapun, ia tidak ingin terjerumus sejauh ini dalam pesona jimin

" jadi, baik-baiklah di dalam sana hm? "

Jimin menjauhkan wajahnya, meraih bahu yoongi kemudian memutarnya berhadapan persis dengan matanya. Memberi eyesmile menawan yang memabukkan sebelum bersimpuh sejajar dengan perut yoongi, kemudian memasukkan tangan hangatnya menyentuh perut dingin itu tanpa perantara.

" appa menyayangimu " –jimin berbisik sebelum mendaratkan kecupan lembut di perut yoongi yang telanjang.

Dan kehangatan itu, yoongi menyukainya. Ditatapnya jimin yang tengah bermain dengan perutnya, ia gemas sendiri. Merasa seperti dimiliki seutuhnya, namun kembali itu semua palsu. Ia harus terbiasa menerima perlakuan hangat jimin untuk anaknya, hanya melalui dirinya dan bukan untuknya.

" Jimin..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" jangan membencinya, yoongi..!"

ToBeContinue–

.

.

.

.

.

Note :

Konkuk University : salah satu kampus besar dan terkenal di seoul, tempatnya banyak artis kpop, para aktor dan model melanjutkan pendidikannya contohnya Minho shinee, hyuna 4minute, lee minho dan gue sendiri (?) –_– /nggak.

.

.

.

Ayo siapa yang kemaren mengira mereka bakal serumah? Hahaha.. batal batal batal! Main rumah-rumahannya di pending. wkwk

Terima kasih untuk semua respon! Review, follow, favorit, dan semua-semuanya. mudah-mudahan chapter ini tidak mengecewakan bagi yang sudah menunggu /amirrr...

Amin!

–say something about this fanfiction juseyo–