" jangan membencinya yoongi..!"

jimin meremas bahu yoongi dan tersenyum seolah meyakinkan dalam tatapannya yang hangat—dan kali ini yoongi harus menahan diri untuk tidak berlari masuk kedalam pelukannya saat itu juga.

Kata-kata itu keluar begitu saja, bahkan jimin sendiri tidak tahu sejak kapan ia jadi seperti ini pada yoongi. memeluknya, mencium perutnya, dan berbicara dengan lembut sudah jelas adalah penyebab pasti wajah pucat—yang selalu ia maki seperti vampir itu—berubah jadi memerah saat ini.

Jimin kembali mendekatkan tubuhnya, mengecup kening yoongi dengan pelan. Ia bisa melihat bagaimana semburat merah itu terbentuk di wajah yoongi yang segera memejamkan kedua mata kecilnya saat ia makin dekat dan berakhir menempelkan bibir di kening pucatnya

Chup ~

Yoongi membeku. Untuk saat ini ia hanya memutuskan mengikuti nalurinya untuk tetap diam menerima semua kelembutan yang diberikan jimin padanya—sampai seseorang bersuara husky berdiri di ambang pintu dan membuat dirinya salah tingkah

" YA Kalian! Bisa tidak berhenti melakukan drama romansa fluffy disana? Ibu sudah pulang"


AN ANGEL

By: Minki ARMY

.

.

.

.

.

M-PREG

YAOI !

.

.

.

.

.

.

"JIMIIIIIN...! JIMIIIIIIIIIN... !"

Teriakan nyaring itu terdengar dari kamar mandi. Taehyung dan pemuda yang baru saja di serukan namanya segera berbalik secara bersamaan ke arah sumber suara. Sudah seminggu ini keduanya selalu dikejutkan oleh teriakan nyaring seperti itu setiap paginya. Namun kali ini ada yang berbeda mengingat bagaimana suara itu biasanya hanya memanggil Taehyung, kali ini malah menyerukan nama Jimin.

"Jimiiiin...! Jimiiiin... !"

Taehyung menggeleng santai menatap jimin yang mengernyit alis "rupanya anak itu sudah mengenali mana ayahnya yang sesungguhnya" katanya di susul cengiran kotak ke arah sang sahabat yang tidak perduli dengan ucapannya

Jimin bangkit dari duduknya di samping taehyung dan berjalan menghampiri yoongi. Dari luar ia bisa melihat tubuh kecil itu menunduk di wastafel seolah mengarahkan seluruh isi perutnya yang tidak juga keluar bahkan setitik air-pun tidak ada "sudah berapa banyak yang keluar?" tanyanya ringan

Yoongi menggeleng. Ada genangan air mata di sudut kelopak sayunya seolah mengundang jimin untuk menghapusnya. Sesuatu yang tercekat di ujung tenggorokannya membuatnya tidak kuasa membalas pertanyaan yang terdengar seperti ejekan itu. sekuat tenaga ia meraih ujung kemeja jimin dan menggenggamnya erat-erat

"Ueekkk ueekk.."

Mendengarnya jimin jadi merasa bersalah sendiri. Tatapannya melembut bersamaan dengan tangannya yang perlahan meraih tengkuk yoongi memijitnya pelan kemudian menariknya ke dalam dekapannya yang hangat

"gwaenchana? Maaf membuatmu seperti ini" tanyanya selembut kapas

Tidak ada penolakan dari yoongi. pemuda manis itu hanya mengikuti tangan jimin yang merangkulnya, memberi usapan pelan dan menenangkan di bahu sempitnya. Ia menenggelamkan wajah di ceruk leher jimin yang terasa wangi; meresapi aroma khas jimin menguar disana yang entah kenapa memberi pengaruh cukup besar terbukti dengan rasa mualnya yang perlahan mengilang.

akhir-akhir ini jimin memiliki kebiasaan baru sebelum kekampusnya—yaitu menjemput yoongi setelah pemuda manis itu entah kenapa selalu mengeluh saat taehyung mendekatinya. Tidak ada yang menyangka bahkan taehyung sekalipun, ia yang paham betul bagaimana yoongi yang membenci jimin itu tiba-tiba suka merengek di panggilkan jimin dan tentu saja taehyung tertegun dengan wajah kosongnya.

Kali ini pemuda bersuara husky itu benar-benar harus memaksa sepupu cantiknya untuk tinggal bersama jimin berhubung ibunya akan mengambil cuti dari pekerjaan kantor dan tentu saja yoongi tidak boleh tampak didepan ibunya dengan keadaan terus-terus mual belum lagi kebiasaan barunya merengek-rengek menyuruh jimin bermalam di rumahnya yang sangat tidak wajar sekali bagi taehyung.

Yoongi tidak bersuara lagi dan jimin bisa merasakan nafas panjang pemuda itu menggelitik di kulit lehernya. yoongi sedang tertidur. dengan pelan jimin meraih tubuh mungil itu, mengangkatnya menuju kamar yang tak jauh dan membaringkannya disana

Taehyung yang menyadari tidak ada suara lagi segera menengok dua orang itu dan di dalam kamar ia memperhatikan jimin sedang membaringkan dan menyelimuti tubuh yoongi dengan telaten

" dia tertidur?"

Jimin sedikit terkesiap, menengok sebentar ke arah taehyung lalu kembali mengusap poni yoongi yang menutupi dahi berkeringatnya "sejujurnya aku tidak tahu cara menanganinya. Tapi begitu aku memeluknya dia tertidur begitu saja " jelasnya.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara, dua sahabat itu hanya diam mengamati wajah tidur yoongi yang menenangkan dan taehyung bisa melihat kedua sudut bibir sahabatnya membentuk senyum kecil diam-diam di sebelahnya

" kau menyukainya?"

" kau belum memberitahunya kan?" jimin buru-buru menimpali dengan pertanyaan berbeda. Taehyung mengangguk dengan senyum bangga. Keduanya kembali menatap yoongi sebelum pertanyaan lain kembali terdengar di dalam ruangan yang sunyi

" kukira dulu kau hanya bercanda, jimin!"

" kau pikir aku akan sebaik ini kalau dia oranglain?"

Taehyung mendelik, pandangannya mengarah pada sosok disampingnya yang tersenyum cerah "jadi, jangan bilang kau sengaja membuatnya—"

"eeyy... kau pikir aku sebejat itu?"

Keduanya tertawa, jimin merangkul bahu sang sahabat mengiringnya keluar meninggalkan yoongi beristirahat " ngomong-ngomong sepertinya kali ini kau benar-benar harus membawanya, jim"

Di atas sofa, jimin menaikkan kedua kaki menyamankan tubuh di sandaran kursi belum tertarik menjawab sebelum taehyung melanjutkan ucapannya

" eomma akan mengambil cuti dan mempertemukan mereka sepertinya akan jadi bencana saja. Aku juga tidak sanggup melihat yoongi menderita seperti itu, lagipula sekarang dia lebih membutuhkanmu" taehyung menjelaskan.

"benar" jimin menjawab singkat.

Taehyung. Sepasang kakinya melangkah menuju dapur menarik sekotak minuman bergambar strowberry dari dalam kulkas dan menandaskan isinya dalam satu tegukan mengacuhkan jimin yang berteriak seolah taehyung begitu jauh darinya "BERIKAN SATU UNTUKU!"

" YA! Apa kau gila? Ini di rumah bukan di hutan. Dasar pendek!" cela taehyung dengan nada membentak yang berlebihan membuat sahabatnya menyengir tanpa dosa di atas sofa

" Ara! Kalau begitu berikan padaku juga taehyung sayang "

" Park! Aku bukan Yoongi "

Satu seringai terbit di wajah tampannya. Jimin bangkit dan mendekati taehyung meremas bokongnya dengan gerakan menggoda "memangnya kenapa? Kau juga tidak kalah seksi"

"oh jadi mau bermain denganku bocah mesum? Baiklah, kita buktikan siapa yang lebih pantas mendominasi disini" ujar taehyung tidak kalah menggodanya, satu jarinya bermain di leher jenjang sahabatnya yang seketika itu memekik sebelum mengarahkan tendangan bebas ke bokongnya yang empuk

" brengsek! Kemari kau bocah mesum..."

" pabo! Siapa yang lebih mesum menghamili anak orang?"

" YA KIM TAEHYUNG"

.

Yoongi terbangun saat matahari bersinar di langit tertinggi. Ia mengarahkan pandangannya pada jam yang bertengger rapi di atas nakas dan dengan segera memperbaiki moodnya yang masih belum baik pasca tertidur. Untuk pertama kalinya hari ini ia harus izin dari klub rapper juga perkuliahannya karena sakit yang terasa paling parah pagi tadi.

Pukul satu siang. Tubuh kecilnya berjalan ke arah kursi dimana ia setiap hari mendapati jimin dan taehyung beringsut sambil bercanda dan sesekali bertengkar kecil , namun belum terlalu dekat ia buru-buru berlari kembali ke dalam kamar

" dia mulai lagi " taehyung berbalik dan menggeleng. Ini bukan pertama kalinya yoongi berlari seperti kucing takut anjing karena melihatnya dan sampai sekarang taehyung-pun belum tahu penyebab perubahan yoongi yang pesat itu

Dengan perlahan ia menghampiri sang adik memutuskan untuk berdiri di depan pintu dan berteriak—takut kalau ia lebih dekat, sepupunya yang galak itu akan berlari ketakutan lagi

" Yoongi.. kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban, hanya suara selimut dan tempat tidur yang beradu membuat taehyung makin mantap menyuarakkan pertanyaan beruntunnya" kenapa menghindariku? kenapa kau begitu takut pada hyungmu sendiri, eoh? Kenapa kau berubah? Kau baik-baik saja? Yoongi ah! Kau mau cheese cake? Hyung akan membelinya untukmu, sekarang juga kalau kau mau "

Diam mendengarkan suara taehyung. di atas tempat tidurnya yoongi segera menggeleng menyangkal bahwa ia tidak benar-benar membenci hyungnya itu

"hyung..." panggilnya pelan

Taehyung tersentak, pandangan sendunya berubah jadi ceria mendengar suara sang adik yang terdengar begitu manja dan menggelitik

" aku tidak membencimu, hanya saja– "

Meluruskan tubuhnya yang semula bersandar di tembok dekat pintu kamarnya, taehyung memasang pendengarannya baik-baik sengaja membiarkan yoongi yang berbicara kali ini

" hanya saja—kau bau strowberry. Aku tidak suka. Aku tidak suka tidak suka cheese cake. Aku tidak suka semua yang berbau strowberry "

Taehyung terkekeh di tempat. Membayangkan wajah imut sang adik dengan suara manja yang lucu itu membuatnya ingin berlari secepatnya memeluknya namun mencium bau strowberry yang masih terasa di mulutnya bahkan di seluruh pakaiannya karena parfum yang ia pakai-pun rasa strowberry ia mengurungkan niat.

" Hyungie " yoongi memanggil lagi dan taehyung tahu betul yang selanjutnya ini, jelas dari caranya memanggil yang terkesan merengek bukan hal biasa lagi, pasti yoongi menginginkan yang satu itu

"bisa tolong panggil Jimin?"

Taehyung tersenyum pasrah. benar saja. Permintaan itu lagi yang dilontarkan yoongi. sesaat ia terdiam lalu kemudian tersenyum, kepalanya ia munculkan di ujung pintu dan bergumam ceria "PERMINTAAN DITERIMA"

Tidak cukup beberapa menit jimin sudah kembali dari kampus, ia melewatkan klub dance-nya hari ini sengaja agar bisa membantu taehyung mengepak barang-barang yoongi yang sebenarnya tidak seberapa banyak untuk kemudian di bawa ke rumahnya—berhubung mereka sudah mengantongi izin dari ibu taehyung yang mau saja percaya dengan kebohongan anaknya yang mengatakan kalau yoongi harus memperdalam kemampuan bahasa asingnya hingga ia harus tinggal di sebuah tempat dimana semua orang diharuskan berbahasa inggris agar lebih cepat pandai. Jimin tertawa sendiri mendengarnya.

Dan kali ini Yoongi sendiri menerimanya, menurutnya ia benar-benar tidak bisa bertemu lebih lama dengan ibu taehyung dengan kondisinya yang kian aneh dan lagi ini jimin, ayah kandung dari janin dalam perutnya. Jadi tidak mungkin ia akan dicelakai oleh pemuda itu mengingat bagaimana perhatiannya selama hampir tiga bulan ini

" ingat Jim, jangan me-nyen-tuh-nya"

Jimin tertawa renyah mendengar sahabatnya memperingatkan. Ini sudah yang kesekian kalinya mahluk luar angkasa itu menggumamkan hal yang sama padanya setiap kali mereka bertemu pandang disela-sela kesibukan taehyung mengemasi beberapa pakaian yoongi-dan tentu saja jimin tidak akan melewatkan moment ini untuk tidak mengerjai sahabatnya itu.

" aku tidak janji, kawan!"

"mwo?"

" AH HYUNG! BISA TIDAK TIDAK BANYAK GERAK DISANA? BAUMU TERBANG SAMPAI KESINI"

kini yoongi dengan muka datarnya sudah berdiri di samping motor sport milik jimin; memperhatikan taehyung dari jarak beberapa meter karena bau strowberry yang melekat abadi di tubuhnya

" tenang saja, aku akan datang setiap hari melihatmu " seru taehyung dari pintu depan. Senyum hangatnya tidak pernah lepas seolah memberi kekuatan bagi yoongi untuk ikut berbahagia meskipun terlihat jelas bagaimana pemuda manis itu menahan rasa mualnya karena bau taehyung yang disambar angin sampai ke indera penciumannya

" berhenti melakukan drama lucu didepanku. Kami tidak pergi selamanya Tae, kalian bisa bertemu dikampus bahkan di rumahku "

Yoongi dan taehyung memutar bola matanya. Kemudian di interupsi kembali oleh suara dingin pemuda bermotor itu " naiklah yoongi ! "

Jimin menyalakan mesin motornya lalu menarik tangan yoongi untuk merangkul perutnya. Mata sipit yang bisa taehyung lihat dari balik helm itu tersenyum menang saat yoongi melakukan semua perkataannya dengan mudah tanpa penolakan termasuk memeluk perut yang begitu terasa jajaran sixpack sexy-nya

.

.

.

Wangi jimin menguar di seluruh ruangan kala sepasang kaki kecil yoongi melangkah masuk dan memutuskan merebahkan badan di atas sofa rumah loteng itu. mulut kecil merah mudanya sempat menganga saat pandangannya mendapati sepasang boneka kecil yang dijuluki Kunamon duduk rapih di atas kursi lain yang tak jauh darinya.

" kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku"

Pemuda manis itu mengangguk. Kedua maniknya tanpa sengaja bertemu tatap dengan pandangan tajam nan teduh milik jimin yang entah kenapa selalu membuat perutnya serasa tergelitik

"wae? Ada apa? " jimin bertanya dengan raut penasaran. Pandangannya tidak berpindah dari mata kecil yoongi yang seolah merengek meminta sesuatu padanya " kau lapar?" sambungnya bertanya

Yoongi menggeleng pelan "aku mengantuk"

Di kursinya jimin terkekeh kecil, menghadapi pemuda manis ini entah kenapa rasanya seperti menghadapi gadis tomboy yang manja saja. Dengan nada santai ia kemudian menjawab " kau boleh menggunakan kamarku selama disini "

"bukan itu"

Kerutan samar terihat di pelipis pemuda tampan itu. alis tegasnya hampir menyatu dan rautnya berubah bertanya " lalu? "

Yoongi menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya dengan wajah malas sekaligus mengantuk dan bergumam sangat kecil namun masih bisa didengar oleh jimin "aku mau tidur dipangkuanmu"

Suara nafas teratur terdengar setelah sekian detik jimin merelakan pahanya di tiduri oleh yoongi. satu tangannya bergerak perlahan mengusap surai halusnya yang berkilau bersamaan nyanyian lirihnya yang begitu merdu membuat yoongi makin menyamankan tubuhnya memeluk pinggang jimin

Di bulan ketiga ini memang belum terlihat perubahan yang terlalu signifikan di tubuh pemuda manis itu dari sejak mereka bertemu pertama kali dalam keadaan mabuk. Namun sifatnya yang kian manja pada jimin bahkan hampir setiap saat selalu ingin bersama membuat jimin berdecak kagum atas hasil karya besarnya itu.

ada rasa puas juga melihat pemuda yang sebelumnya selalu bertingkah jutek kini malah berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu, Namun rasa puas itu tidak bertahan lama karena sejak kepindahan yoongi di rumahnya, yoongi selalu meminta hal-hal aneh yang tak jarang membuatnya tersiksa karena kurang tidur seperti malam ini saat hujan sangat deras di luar sana, yoongi yang kelaparan menghampiri jimin yang tertidur di lantai

" YA! Jimin, aku ingin sup lobak daging hangat buatanmu. Yang dagingnya banyak" perintahnya sambil menggoncangkan tubuh pemuda yang tengah tertidur itu

Jimin duduk terpaksa dengan wajah mengantuknya, rambut hitamnya acak-acakan dan kedua matanya masih setengah terpejam namun ia paksa untuk terbuka melihat sosok yoongi yang tiba-tiba berada disampingnya duduk dalam gelap menarik-narik lengannya

" Astaga yoongi ini sudah tengah malam. aku mengantuk. Besok. aku janji akan membuatkanmu besok pagi sebelum kita kekampus" —bujuknya setelah menggaruk kepalanya frustasi kemudian jatuh terbaring lagi

Pemuda manis itu tidak menyerah menarik-narik jimin sampai guntur keras terdengar mengguncangkan tanah dan membuatnya berlari masuk ke dalam pelukan jimin

"jimin...!"

Jimin terkesiap dan refleks memeluk tubuh yoongi dengan erat sampai beberapa lama dan pemuda manis itu kembali melayangkan permintaannya yang segera di angguki pasrah "baiklah aku akan membuatnya"

Yoongi duduk di kursi meja makan dengan jimin didepannya, hidangan sup lobak daging hangat permintaannya sudah tertata rapi setelah hampir satu jam lamanya jimin bergelut di atas kompor melewatkan jam tidurnya hanya untuk membuat hidangan ringan itu

" sekarang makanlah!" jimin berucap antusias, ia masih setengah mati melawan kantuknya dengan mengarahkan fokus pada yoongi yang segera menyantap masakannya dengan mata berbinar seolah mendapat harta karun "bagaimana rasanya?"

" Lumayan, daripada sup buatan taehyung hyung yang tanpa rasa. Kosong seperti wajahnya" jawab Yoongi sambil memasukkan sendok demi sendok sup ke dalam mulutnya yang sudah dipenuhi daging

" hey..pelan-pelan saja!" seru jimin sambil terkekeh memperhatikan wajah manis itu mengembung lucu "anakku akan sehat kalau ibunya serakus ini"

Yoongi hanya mencibir malas tanpa memperdulikan jimin sampai seluruh makanannya habis tanpa sisa dan beralih kembali ke kamarnya diikuti jimin mengekor dibelakangnya. Yoongi tidur di kasur dan jimin tidur di lantai diselimuti keheningan dan gelap diantara suara hujan yang mulai mereda namun masih terdengar rintiknya

Suara pergerakan kecil dari atas tempat tidur sempat terdengar saat jimin mulai memejamkan mata mencoba tertidur kembali namun ia acuhkan mengingat rasa kantuk yang sudah mengambil sebagian kesadarannya.

Di kesadarannya yang hanya tersisa 20% suara pemuda manis itu kembali terdengar "Appoo...ah..appo" ringis yoongi pelan. Sambil memegangi perut dan mulutnya, Ia memiringkan tubuhnya menghadap jimin yang terkesiap seketika dibawah sana.

" ueekkk...uekk.."

Jimin buru-buru mengusap bahu pemuda yang tau-tau sudah berdiri di depan wastafel itu. masih terlalu gelap untuk menganggap morning sickness yoongi kambuh hingga pendapat lain mulai diyakini olehnya

" sepertinya kau terlalu banyak makan, yoongi. bersihkan wajahmu lalu kembali kekamar! Akan kubuatkan secangkir teh hangat untuk meredakan mualmu" titahnya

Yoongi masih memegangi perutnya, mata sayunya sudah benar-benar basah oleh air mata yang turun secepat kilat saat ia berusaha memuntahkan isi perutnya. Ia memutar tubuhnya berlawanan arah dengan jimin kemudian berjalan menuju sofa membaringkan badan disana "buat cepat!" katanya ketus namun terdengar lemah

Jimin hanya menggeleng ringan sebelum menyeduh teh hangat seadanya yang sempat sang ibu sisipkan diantara beberapa perlengkapan lain di lemari dapur. Sang ibu yang selalu berkunjung setiap sekali dalam satu semester itu memang selalu menyiapkan semua perlengkapan anak sulungnya setiap kali beliau ke seoul

Tidak ada suara leguhan atau pergerakan yang beberapa detik lalu masih terdengar saat jimin sudah siap dengan secangkir teh hangatnya yang wangi. Langkahnya terhenti diiringi kerutan samar dan gelengan geli saat dilihatnya pemuda manis itu sudah terbaring dengan nafas panjang teratur di atas sofa

" CK! Dasar! " decihnya sambil tertawa. Secangkir teh buatannya ia letakkan di atas meja sebelum meraih tubuh yoongi dan memindahkannya di ke dalam kamar

...\^^/...

Dua pemuda itu terlihat tampan dengan setelan kerennya masing-masing di koridor kampus sesaat sebelum memasuki kelas perkuliahan pertama. Pemandangan yang baru setelah beberapa menit sebelumnya berakhir di atas wastafel karena morning sickness yang seolah sudah jadi rutinitas bagi keduanya

" kau kenapa, Jim?" pemuda lain muncul secara tiba-tiba dari arah belakang jimin dan yoongi yang berjalan beriringan. Senyum regtangle dan cengiran bahagia tanpa bebannya sempat membuat yang disapa tertegun iri

" aku kenapa?" jawabnya ketus.

" wajahmu, hampir setiap pagi kau memperlihatkan wajah memprihatinkan itu di kampus. Kau sengaja ya?"

Jimin menaikkan sebelah alisnya lalu menatap wajahnya dari layar ponsel. sedang yoongi hanya berjalan malas tanpa perduli dengan percakapan kedua sahabat itu.

"ahh igeo..." desahnya kemudian. jimin benar-benar tidak sempat memperhatikan lingkaran hitam samar di kedua matanya itu karena kesibukan menenangkan yoongi didepan wastafel pagi tadi. dengan senyum pasrahnya ia berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik lain

" tumben yoongi bisa berdekatan denganmu? Kau tidak pakai parfum kewanita-wanitaanmu itu ya? Atau tidak minum susu kefeminiman-mu?" ledeknya pada taehyung

Pemuda manis disebelah mereka terkekeh sedangkan yang diledek mendelik konyol ke arah sumber suara "setidaknya kau tidak masuk ke kelas bahasa, sobat! Kalau iya, kujamin kau tidak akan lulus meski bertahun-tahun lamanya. Oh Tuhan, aku belum pernah mendengar kata susu kefeminiman sama sekali selama hidupku"

Tawa renyah terdengar disela-sela ucapan taehyung itu. jimin bahkan tidak menyangka kalau kalimat asalnya barusan begitu berkesan bagi yoongi yang masih setengah mati tertawa saat langkah mereka memasuki ruangan kelas.

" well.. aku sengaja tidak memakai apapun dan tidak meminum apapun pagi ini, spesial untuk sepupuku tersayang" lanjut taehyung bangga. Sebelah lengannya sudah merengkuh bahu sempit yoongi dari samping yang kemudian di balas kekehan geli karena taehyung meniup-niup bagian lehernya dan berbisik seduktif di telinganya

"saranghae~ "

Jimin berkekspresi tidak suka di sebelah mereka. Dengan gerakan cepat ia menarik lengan yoongi dan membawanya kedalam pelukannya "jangan terlalu dekat dengannya, aku tidak ingin anakku kelak berkelakuan seperti alien juga"

" seperti kau baik saja, Park!"

.

.

ToBeContinue


eotte? apakah cerita ini membosankan? tidak jelas ? atau makin aneh ? kalau iya saya stop disini *hiks

mampir ke Twoshoot saya "NOT GIFT FOR JIMIN "

#HappyParkJiminDay

I love you yeorobun-deul !

Say something juseyo!