Chapter 5 : The fifth month of pregnancy
'
Untuk semua yang menyerang saya di review dan PM
Ini untuk kalian!
VABshi|Hunaxx|Kyuminsimple0713 |Min Yeon hee|Anthi lee |Ami|Kim Hyerin|Callieag97|Jhxpx98|Lovehyunfamily|agustD|altree velonica|link account|riska971| |ycsupernova|sisca|lee shikuni|yoonmin03|angeliARMY97|Oreobox|Dandelion SparClouds|Jimingotyesjam|phyllindan|Guest|depitannabelle|istrinya jimin|missright38|yoonmin ships|uljangleo|mas seungcheol|saphire always for onyx
Silahkan serang saya lagi di review! ok
.
.
.
.
Pesan sebelum membaca:
Jangan baper !
Dan jangan menuntut BTS cepat comeback karena mereka sedang sibuk di FF ini
HaHaHa
.
.
.
.
.
.
.
AN ANGEL
'The fifth month of pregnancy'
.
.
.
.
.
.
.
.
Dunia rapp dan mesin pembuat lagu adalah bagian dari hidup yoongi sejak lama. Sejak Namjoon hadir dan mengaku menyukai dunia yang sama dengan yang yoongi amat gilai itu. keduanya bahkan sempat memiliki mesin pembuat lagu dari hasil tabungan mereka yang digabungkan saat masih SMA sampai akhirnya mesin itu jatuh ke tangan yoongi sebagai kenangan dari namjoon sebelum pemuda berlesung pipi itu pergi meninggalkan Daegu dan yoongi sahabat yang diam-diam dicintainya.
Yoongi bahkan Namjoon sekalipun tidak pernah memiliki pemikiran bahwa takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang amat sangat klasik layaknya kisah-kisah pemeran utama dalam film-film percintaan yang tren dimana mana —yeah, menjadi mahasiswa diperguruan yang sama kemudian bertemu tanpa sengaja seolah Tuhan merencanakan semuanya secara diam-diam dan akhirnya keduanya kembali bersama, menghabiskan waktu berdua dan mengulang kembali kenangan indah yang dulu sempat dilalui
Well, sepertinya itu terlalu jauh mengingat bagaimana yoongi yang sekarang. Yang makin indah dan makin dekat dengan pemuda lain yang tidak begitu Namjoon kenali namun cukup mirip dengan sosok pemuda yang selalu sahabatnya ceritakan.
Park Jimin
nama ini telah dimasukkan kedalam daftar orang yang harus diwaspadai oleh Namjoon sejak hari dimana ia secara sengaja mengikuti yoongi pulang bersama pemuda bermata tajam itu. bahkan keduanya belakangan diketahui tinggal berdua di sebuah rumah loteng sederhana yang entah milik siapa. Yang pasti Namjoon tidak akan tinggal diam.
Lamunan panjang pemuda berlesung pipi ini terhenti tiba-tiba tepat didepan kelopak mata sayu nan indah yang sudah sejak lama ia akui kecantikannya yang mengalihkan dunia. Yoongi! pemuda itu tengah duduk dengan dahi berkerutnya didepan wajah bodoh namjoon.
" Namjoonie~ " panggilnya pelan.
Lamunan namjoon berlanjut ke surga detik itu juga—sampai kemudian secangkir americano membawanya kembali bersama ringisan kecil di bagian paha serta tangannya karena tumpahan americano panas.
"oh.. kau terluka?! Itu sangat panas namjoon-ah !" pemuda itu memekik. Dengan segera ia mengusapkan beberapa helai tisu dibagian tangan dan celana namjoon yang kebasahan dan panas sebelum meraih gelas americano yang terjatuh di lantai studio.
" ah..sudahlah, sepertinya kita harus menunda semuanya sore ini. aku tidak mungkin berkonsentrasi dengan keadaan seperti ini. bisa-bisa inspirasiku merembes ke arah lain" namjoon menjelaskan. Didepannya Yoongi terlihat tertawa lepas dan kali ini namjoon memutuskan untuk tidak menatapnya karena tidak mau hal buruk lain menimpanya lebih dari ketumpahan americano.
" benar, kita masih punya banyak waktu sebelum acara itu. lagipula ini hanya tinggal 30 %! aku sangat percaya kalau kau bisa menyelesaikannya dengan baik"
Namjoon menggeleng sambil tertawa "kau selalu pandai membuat semuanya jadi mudah, yoongi! itu keahlianmu! "
Pemuda itu melebarkan senyum manis, membuat namjoon lagi-lagi harus memalingkan pandangan ke arah lain; terlalu takut untuk melihat senyum mematikan itu
" a-aku harus pulang. kau tidak pulang?" tanya namjoon mengalihkan suasana. Entah kenapa atmosfir berbeda menyelimuti studio yang biasanya terasa nyaman dan santai itu.
" aniyo.. aku akan tinggal disini beberapa menit lagi sampai kelas dance selesai. Pulanglah lebih dulu! Kurasa itu sangat tidak nyaman—menggunakan celana basah"
Namjoon terlihat berpikir saat menaikkan ransel di bahu kanannya. Ia cukup tahu tentang kelas dance yang dimaksudkan yoongi, pemuda bermata tajam itu 'park Jimin' bukankah yoongi terlalu lugu untuk mengatakannya secara tidak langsung bahwa mereka memang tinggal bersama?
Sekali lagi Namjoon berusaha senormal mungkin. Pikiran bodohnya ia buang jauh-jauh untuk memikirkan sebuah ide untuk mengembalikan kenangan manisnya bersama yoongi seperti dulu
" bagaimana kalau menemaniku sambil menunggu klub dance selesai? Tidak akan lama, hanya membeli beberapa perlengkapan rumah. Aku tidak mungkin masuk kedalam supermarket dengan keadaan seperti ini" ajaknya lengkap dengan senyum lebar dan kedua alis terangkat
" kau kan bisa membelinya nanti setelah berganti pakaian?"
" aku kehabisan perlengkapan mandi. sumpah bau kopi ini sungguh mengganggu. Dan lagi, kudengar di area tempat tinggalku akhir-akhir ini sedang merebak om-om pedofilia yang suka menyerang anak-anak muda tampan seperti aku. Ditambah lagi dengan penampilan basah menggodaku ini.. kau mungkin tidak akan melihat sahabatmu ini utuh lagi, yoongi"
Yoongi tertawa renyah dan satu anggukan melengkapi kebahagiaan namjoon saat itu. tidak tunggu lama keduanya segera bergegas menuju flat dimana pemuda berlesung pipi itu tinggal sendirian yang beberapa blok dari bangunannya terdapat sebuah supermarket.
" Yoongi-ah.. jangan coba-coba membeli perlengkapan dengan rasa stroberi. Ara? " ledek namjoon sambil menyodorkan sebuah kartu kredit pada yoongi sebelum pemuda manis itu turun dari mobil.
" arasseo sajangnim! " yoongi menjawab disertai cibiran kecil sebelum melesat ke dalam supermarket dengan langkah ceria. meskipun sempat mual karena bau stoberi di barisan sabun mandi perempuan, pemuda mungil itu segera tersenyum dengan mata berbinar saat pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan deretan daging yang berjejer rapi seolah mengundangnya untuk membeli
" aku harus ikut dengan jimin ke supermarket sekali-sekali. dia harus melihat ini semua " gumamnya ceria. troli di kedua tangan kecilnya segera ia dorong menuju meja kasir untuk mengakhiri shopping kilat yang cukup menyenangkan baginya ini
.
.
Flat luas dengan berbagai perlengkapan musik dan baju-baju berserakan dimana-mana cukup menjelaskan siapa pemilik tempat ini. yoongi sampai menggeleng heran saat sepasang tungkainya melewati ruang tamu flat namjoon yang tidak beraturan itu.
" kau tidak berubah Namjoonie.. bagaimana bisa rapper tampan sepertimu bertahan hidup didalam tempat berantakan ini? kau masih malas mencuci? Dan—oh jangan katakan kalau kau masih menyingkirkan barang-barang dengan kakimu? "
Tawa renyah pemuda berlesung pipi itu menggema di dalam ruangan. Gerlingan matanya menguatkan prasangka yoongi yang kilat. 'Namjoon yang malas belum berubah'. Tapi perasaan nyaman dan hangat saat lesung pipi dikedua pipi pemuda itu tercetak masih sama, masih membuat yoongi bahagia.
" duduklah! Aku harus menyelesaikan urusanku dulu" seru namjoon didepan pintu kamar mandi lengkap dengan senyum hangatnya "buatlah apapun didapur! Ada banyak makanan disana, aku tidak ingin dituntut karena membiarkan anak orang kelaparan dan anggap saja rumah sendiri ok?"
Yoongi mengangguk paham di atas sofa. Tangan kecilnya menarik beberapa potong pakaian yang berserakan disekitar sana kemudian ia letakkan di dalam kamar Namjoon. ini adalah kamar satu-satunya di dalam sini dan yoongi tidak menemukan barang-barang yang berkaitan dengan perempuan, namun sebuah benda dalam bungkusan kecil berbentuk bundar membuat yoongi sempat berpikiran aneh.
Sebuah kondom. Benda yang juga dimiliki taehyung itu tergeletak persis di atas nakas kamar Namjoon—membuat beragam pemikiran datang menghantam kepala yoongi yang terasa pening tiba-tiba hingga akhirnya tubuh kecilnya tumbang tak jauh dari tempat tidur kamar Namjoon
.
Berbalut handuk putih yang melingkar di pinggangnya, rambut basah dan tubuh lembab, namjoon keluar dari kamar mandi. kaki beralas sendal rumahan tipisnya melangkah bersama pandangannya yang beredar keseluruh sudut dimana Yoongi tidak terlihat dimana-mana.
" Yoongi! " Pemuda itu panik, memanggil-manggil nama yoongi hingga pintu kamar terbuka jadi jawabannya. Sahabat manis sekaligus cinta diam-diamnya tergeletak disana. dengan langkah seribu namjoon menerjang semua yang menghalangi langkahnya untuk meraih tubuh kecil dan membaringkannya di atas tempat tidur empuk miliknya
" Yoongi-ah.. gwaenchana? Ada apa denganmu? Eodi appo?" pertanyaan itu berulangkali dilontarkan oleh namjoon sambil menyeka keringat yang hampir membasahi seluruh tubuh pemuda manis dihadapannya
Wajah cantik itu berkerut dahi sambil memegangi bagian perutnya, ringisan super kecilpun bisa terdengar oleh namjoon yang panik luar biasa saat itu. berbuat apapun untuk pemuda lemah ini rasanya percuma saja, ia tetap kesakitan —sampai sebuah nama terdengar dari mulut kecilnya yang membawa sejuta pertanyaan muncul dikepala Namjoon
" Jimin... Jiminn.." suara lirih yoongi terdengar. Tubuhnya yang dingin terus dipenuhi keringat yang entah kenapa begitu banyak hingga membasahi kemeja kebesarannya.
Dan Namjoon tidak terlalu asing untuk menandai setiap inci tubuh yoongi yang sudah ia hafal betul lekukannya meskipun tahun berlalu ada beberapa yang begitu aneh ditubuh cinta terpendamnya ini.
Bagian perut! namjoon dengan ragu dan keringat mulai keluar di pelipisnya karena gugup memberanikan diri untuk menyikap helaian kain yang menutupi perut mulus pemuda yang masih meringis dihadapannya—dan saat itu juga tangan hangatnya bergerak pelan di permukaan perut yoongi yang mulai membesar.
" ini aneh.. Yoongi-ah! Jawab aku! Ada apa sebenarnya denganmu?" suaranya lemah dan parau. Bahkan berkali-kali asumsi bodohnya ia buang, kembali keadaan yoongi begitu sulit membuatnya untuk tidak berpikir keras.
Namjoon menggeleng tidak percaya. Cintanya yang dalam membuatnya lemah "Tahun boleh berganti, beberapa pemuda juga boleh hadir dihidupmu, tapi aku—cintaku tidak akan pernah berkurang sedikitpun untukmu, yoongi! aku mencintaimu.. dan aku tidak akan menyerah hanya karena pemuda asing yang baru kau temui itu "
Kelopak mata sayu yoongi terbuka perlahan. sorot mata lemahnya seakan tembus di dada namjoon yang berdesir halus bersamaan dengan senyum lemah dari bibir tipis pemuda manis itu
" kau sudah sadar? Yoongi-ah.. mana yang sakit? Kenapa tidak bilang kalau kau sakit? Kau membuat jantungku melompat tahu! Aku bahkan bisa berakhir disini kalau saja kau tidak segera membuka matamu "
Tubuh semi telanjang dilengkapi abs menggoda,—memang dalam urusan seperti ini Jimin masih jadi nomor satu dimata Yoongi. namun mengingat ini Namjoon, pemuda yang masih disukai Yoongi, desiran halus jelas terasa didadanya. Ditambah lagi aroma maskulin yang menguar dari tubuh tingginya membuat yoongi berpikir dua kali untuk meninggalkan kamar ini.
" wae? Kenapa menatapku seperti itu? pipimu merah. Apa seseorang menamparmu dalam mimpi?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" kurang dari sebulan, sunbae ketua klub dance akan kembali dari Gwangju setelah kompetisi disana usai. Jadi kalian bersiaplah! "
Jimin tidak lagi perduli dengan arahan singkat dari pelatihnya saat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 7 malam. sepasang tungkainya bergerak cepat sambil mengenakan hoodie hitam dan ransel dipundaknya berjalan cepat menuju gedung lain tempat dimana ruangan klub rapper berada
Dalam pikirannya hanya ada yoongi. pemuda itu sudah pasti masih menunggunya disana dan jimin tidak mau mendapatkan pukulan gratis atau hukuman kejam lain seperti beberapa hari belakangan saat ia terlambat menjemput yoongi di studionya.
" Yoongi...!" panggilannya memantul didalam ruangan yang sunyi. Memutuskan berjalan masuk, jimin tidak menemukan sosok mungil yang dicarinya yang biasanya berdiri dengan wajah malas tak jauh dari pintu sejak panggilan pertamanya mengudara.
Bahkan saat ditelusuri lebih dalam lagi, ternyata tidak seorangpun di ruangan luas itu. tanda-tanda keberadaan yoongi juga seolah lenyap disapu angin malam yang dingin.
Jimin berjalan keluar disertai desahan panjangnya. Pertanyaan tentang keberadaan yoongi terus mengganggu fokusnya sampai kemudian ia melirik ponselnya dan berpikir untuk menghubungi taehyung yang mungkin tahu kemana pemuda yang perutnya kian membuncit itu pergi
Bisa jadi taehyung membawanya kabur—namun bahkan setelah sambungan dengan taehyung berakhir-pun belum ada kepastian tentang dimana yoongi. taehyung tidak bersamanya, tidak membawanya kabur juga tidak menyembunyikannya, terbukti dari suara pemuda lain yang tengah bersama manusia alien itu
" kau dimana Yoongi..?" jimin membatin sambil berlari kesemua tempat yang selalu didatangi yoongi saat berada dikampus namun tetap sama. Pemuda hamil itu tidak terlihat dimanapun—dan perasaan tidak nyaman mulai mengganggu Jimin. ia kalut, seperti orang bodoh.. ia terus berlari kesemua tempat sambil menggumamkan nama Yoongi tanpa perduli dengan kakinya yang bahkan tersandung
" Yoongi ! Yoongi ! Yoongi.. kau dimana?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pukul 09.00
Seolah langit turut memaki kebodohan Jimin. hujan deras diluar sana tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dan pemuda bermata tajam itu hanya diam di atas kursi makannya. Kantuk yang biasanya datang dengan cepat-pun menghilang ditelan oleh perasaan khawatir karena keberadaan yoongi yang belum jelas.
Tukk..tukk..
Jimin menggasak rambut hitamnya kasar, Seberapa kuatpun ia menolak untuk tidak perduli seluruh perhatiannya malah tersita oleh bayangan pemuda itu. bahkan ketukan keras oleh hujan di atap rumahnya tidak mampu menandingi hantaman keras didadanya yang terasa begitu berat dan menyesakkan.
Tidak cukup dengan sumpah serapah untuk dirinya, jimin memutuskan untuk melanjutkan pencarian. Ia berencana menerobos hujan (masih dengan pakaian saat dikampus) namun suara pintu terbuka membuat langkah gusarnya terhenti
" Jimin?—" suara berat itu terpotong oleh tatapan tajam nan sadis yang mengarah lurus padanya. yoongi mengerut alis heran sekaligus takut, bibirnya terkatup rapat.
Sedang Jimin menghela nafas lega diam-diam. Fakta bahwa pemuda ini pulang dengan selamat tanpa kurang satupun bahkan tidak basah sedikitpun setidaknya mengurangi kemarahan besarnya Namun tetap saja belum cukup untuk menghilangkan kilatan emosi dan kekecewaan di mata tajamnya.
Masih dengan rahang mengeras dan ekpresi dipenuhi emosi, jimin berbalik dan melangkah menuju kamarnya. ia memilih diam daripada meluapkan kemarahannya sampai lampu dimatikan dan yoongi sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.
" Jimin kau marah padaku?"
Terdengar ketukan hujan yang kian deras diatas sana. pemuda manis itu menggigit bibir bawahnya menyembunyikan kegugupan karena sikap dingin jimin yang begitu asing baginya
" Mian, tapi aku hanya—"
BLAM
Pintu kamar dibanting keras dan yoongi bisa melihat bayangan jimin dengan bantal dikedua tangannya menghilang dibalik pintu polos itu. bahkan setelah beberapa menit berlalu, jimin tidak merubah pendirian dan yoongi belum bisa menerima perlakuan yang menurutnya kekanak-kanakan itu. Tidak ada yang salah. Ia hanya mencoba menghibur diri sebelum beberapa minggu kedepan harus mengurung diri didalam rumah karena perut membesarnya dan seharusnya jimin tahu itu.
Dimenit berikutnya sebuah bantal mendarat di tubuh jimin. pemuda yang berpura-pura memejamkan mata saat melihat yoongi menuruni anak tangga itu memalingkan pandangan dan menghembuskan nafas kasar masih tidak tertarik menanggapi sikap sensitif pemuda hamil yang tengah menatapnya tajam.
" YA! ibabo-ya! Siapa yang menyuruhmu tidur disini eoh?"
Jimin menegakkan bahunya diatas sofa. Salah satu tangannya menarik remote TV bermaksud mengacuhkan sampai kemudian remote yang berhasil diraihnya itu ditarik secara paksa dan dilemparkan seenaknya oleh yoongi hingga bunyi keras membuat jimin tersentak—namun lagi-lagi ia harus menahan emosinya
" tidurlah! " ujarnya berusaha sepelan mungkin.
" Tidak mau!" yoongi membentak. Bantal lainnya ia lemparkan kewajah jimin hingga pemuda yang sudah dipenuhi emosi itu sengaja bangkit dan menyeret yoongi menuju kamarnya dengan kasar
" tidur dengan baik dan berhenti membuat oranglain mencemaskanmu" –katanya tajam.
Genangan air muncul tiba-tiba di mata kecil yoongi, bahkan isakan tak tertahankan terdengar jelas ditelinga jimin yang baru saja berniat melangkahkan kaki dari sana
"Dimana letak kesalahannya, Jimin? hanya berteman, dan mencoba menikmati dunia yang selama ini sudah membuatku seperti di neraka. Malhaejwoyo! Katakan padaku! apa aku memang tidak pantas untuk bahagia?"
Jimin tersentak. Untuk kesekian kali hatinya kembali serasa dihantam benda berat nan tajam. Demi Tuhan, ia hanya butuh waktu untuk meredam kemarahannya agar tidak berimbas pada yoongi dan kandungannya yang sudah menginjak usia 5 bulan
" kau sama sekali tidak berhak untuk membuatku seperti ini Park Jimin! kau tidak berhak marah padaku! kau—"
" —AKU BERHAK!" jimin memotong. Sepasang maniknya menatap tajam kearah dimana gundukan kian membesar itu berada
" Kau membawa anakku ! jadi, katakan bagaimana aku tidak berhak marah dan khawatir disaat orang yang sedang mengandung anakku menghilang dan tidak kutemukan disemua tempat yang selalu ia datangi?—Bagaimana aku bisa tidak semarah ini mengetahui pemuda ceroboh sepertimu berkeliaran dengan perut buncitnya diluar sana yang bahkan setiap saat mampu membahayakan nyawamu dan bayi kita?"
" —Tapi ini hanya masalah kecil! Aku hanya lupa mengabarimu. lagipula aku pulang dengan selamat tidak terluka sedikitpun dan anakmu masih baik-baik saja"
" Yah aku harus bersyukur atas itu. tapi kau harus mengingat ini Yoongi; kau adalah tanggung jawabku. Kau dan kandunganmu! Anakku! Dan sekali saja kalian lepas dari pengawasanku kemudian terluka, maka akulah yang bersalah atas semuanya. jadi kumohon.. tidak bisakah kau membuatku sedikit lebih tenang? kau membuatku gelisah. Aku bahkan berlari seperti orang bodoh kesemua tempat untuk mencarimu tapi kau tidak kutemukan. ah...Kupir aku sudah gila "
Terpuruk, menangis dan bergetar, pemuda bertubuh mungil itu mematung ditempat. Pandangan sayu yang melekat di seprei putih setelah untaian kalimat tajam yang dilayangkan jimin membuatnya terluka dan merasa bersalah, Sungguh ini semua di luar dugaan
" M-mianh... " suara yoongi bergetar dan lirih. Kedua mata sayunya membengkak dan basah karena air mata yang masih membanjiri wajahnya
" —Hiks Mianhae..." ia mengulangi. Seolah mengucapkan sebuah mantra yang mampu mengembalikan kehangatan pemuda bermata tajam itu padanya, namun sia-sia. Jimin melangkah pergi dan lagi hanya bayangannya yang perlahan menghilang tepat didepan mata yoongi; membuat tangisannya makin menjadi-jadi
" Jimiiinn.... ;'( "
.
.
.
.
.
.
—ToBeContinue—
TT_TT Ngetik ini sebenarnya ngalir aja :'( huwee
Tolong katakan apakah usaha saya untuk membuat Yoongi ternistakan disini berhasil atau tidak?
Dan yang kemaren menuntut saya untuk mempercepat kelanjutan ff ini. bagaimana tanggapan kalian? Bagaimana feelnya? Masih mau dilanjut ?
Jungkook—Hoseok udah gatel pengen muncul, tapi katanya nunggu review banyak dulu. HaHa
Ok review lagi jangan lupa!
Saranghae yeorobun-deul~
