Yoongi menangis, mata kecilnya enggan menatap sosok yang dihadapannya saat itu. Semuanya terasa asing entah mengapa. Jimin yang mengeluarkan kemarahannya tanpa tanggung, menggertak, memohon dengan nada menakutkan hingga membanting pintu dengan kasar membuat seluruh tubuhnya melemas, hatinya hancur, dan Air matanya tumpah tanpa henti

" aku membencimu "

lirihnya membelakangi pintu, berusaha mendustai hatinya yang terus menjerit menolak kebohongan dari bibir pucatnya barusan. Yoongi membenci jimin—dengan segala kebohongan yang ia simpan rapi sejak pemuda itu masuk dan perlahan menjadi seseorang yang berharga dikehidupannya

" aku membencimu jimin bodoh "

Terisak dan bergetar. Yoongi perlahan sadar, ia memeluk tubuhnya sambil mengingat bagaimana segala perilaku jimin selama ini telah membuatnya buta, Lupa diri akan statusnya yang bahkan hanya seorang biasa yang tidak berarti apa-apa bagi jimin, hanya pembawa darah daging yang begitu didambakan pemuda itu tanpa ada setitikpun perasaan untuk-nya yang kini justru malah jatuh begitu dalam pada Jimin

"Kenapa menyukai jimin begitu sulit?"

Lama bergelut dengan perasaannya, dihiasi jejak-jejak air mata di wajah pucatnya yoongi akhirnya jatuh tertidur. mendengkur halus dengan wajah berkerut yang begitu damai bagi jimin yang diam-diam mengendap masuk memastikan keadaannya, bahkan pemuda itu rela berlama-lama menatap wajah sendu yoongi setelah sempat membenahi posisi dan menarik selimut untuk tubuh rapuh dibawahnya hingga sebuah igauan lirih terdengar " —aku membencimu jimin"

Jimin menundukkan kepala, manik kelamnya menyorot lemah, begitu sendu dan dipenuhi rasa bersalah manakala pandangannya terhenti pada lekukan membuncit di perut yoongi yang hampir tidak kentara dibalik selimut hangatnya

" mianhae... " jimin melirih, mengulurkan sebuah tangan untuk mengusap pelan sang jabang bayi. " kupikir aku terlalu berlebihan mengetahuinya pergi bersama pemuda lain. Demi apapun aegi, aku bahkan cemburu padamu yang setiap saat bisa bersamanya. Ahh jinjja.. aku tidak tahu kalau rasanya akan seperti ini, kenapa menyukai yoongi begitu sulit? "

.

.

.

.

.

Sorry banget untuk keterlambatan update-nya.

You need to know, i'm really pleased with the good response from readers

And i hope this chapter got better response too

happy reading guys!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

AN ANGEL

Park Jimin

Min Yoongi

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Semenjak hari itu, jimin dan yoongi tidak lagi saling berbicara dengan akrab. berkata seperlunya dengan dominasi nada datar disetiap katanya. Yoongi mengingat betul bagaimana jimin yang begitu marah membentaknya kala itu, bahkan situasi dingin setelah berhari-hari kejadian tersebut berlalu masih terasa betul diantara mereka.

jimin hanya akan berbicara tentang sesuatu yang mendesak dan penting kepadanya, tidak ada nyanyian, tidak ada juga ocehan panjang saat ia berbuat berbagai kenakalan layaknya beberapa hari belakangan. Padahal yoongi sengaja membuat apapun untuk membuat jimin mengoceh padanya namun gagal, Pemuda itu (selalu) hanya akan menatapnya dengan begitu datar dan dingin tanpa berniat berbicara sedikitpun mengomentari segala tingkah konyolnya.

Hingga hari dimana ia telah berjanji untuk melupakan penampilan rapp-nya di event kampus—tiba. Yoongi yang mengeluhkan sakit pada perutnya sehari sebelum perform telah dibuat begitu patuh oleh jimin dengan satu anggukan setuju (melupakan event kampus dan hanya tinggal di rumah) menjadi kesepakatan final di antara mereka. Terkecuali Jimin, tentu saja ia tetap tampil, namun begitu usai ia harus segera pulang tidak peduli alasan apapun untuk menemani yoongi berdiam di rumah.

Namun tentu saja semua itu hanya omong kosong, melihat bagaimana saat ini pemuda hamil itu mengendap-endap di koridor kampus yang ramai sambil menyembunyikan diri dibalik jaket besar dan hodie yang menutupi rambut hijau terangnya yang baru saja di cat oleh hair stylish khusus yang di sewa untuk mendandani anggota klub rapper.

Yoongi dengan segala kenekatannya adalah sesuatu.

Sampai pada acara inti—dimana penampilan pertama di tujukan kepada klub dance, yoongi tanpa sadar bersorak ditempat layaknya fangirl yang melihat idolanya menari, beruntung keributan membahana disekitar mampu menenggelamkan suaranya yang bisa dipastikan tidak akan terdengar oleh pemuda kesukaanya di atas panggung.

Jimin menari dengan sangat keren, tatapan mata elangnya yang dibubuhi eyeliner tebal membuatnya menyala dan terlihat begitu tajam seiring gerakan indah yang digerakkan seluruh ototnya yang begitu lancar, seolah ia dan musik bersatu dalam gerakan. Begitu indah, begitu tampan dan begitu sempurna

Sempurna merenggut nyawa para gadis yang sejak tadi berteriak memujanya dengan segala embel-embel seksi hingga akhir.

Hingga rombongan rapper menaiki panggung dan membuat sorakan tidak kalah gaduhnya disetiap sudut, jimin masih sibuk menyapu keringatnya kala itu. Bergumam terima kasih dan merendah diri saat dihadiahi sanjungan yang berlimpah tumpah dari semua teman, ia lalu menarik tasnya. Begitu bahagia juga antusias untuk menemui yoongi, berpikir ia akan mengatakan semuanya pada pemuda itu hari ini juga

Jimin akan mengatakan bahwa betapa ia menyayangi yoongi, betapa ia mencintainya, dan ingin menjadikannya satu-satunya pendamping hidup hingga akhir. Dia ingin melakukan semuanya dengan sempurna untuk yoongi, barangkali memberinya cincin, mengecup perutnya, atau mungkin mencium bibirnya namun begitu alunan musik terdengar dibalik punggungnya jimin sontak kaget. ada nada aneh yang tiba-tiba menjalari tengkuknya yang terasa berat untuk digerakkan

Yoongi

Ya, dia yoongi

Suara diseret-seret dan nafas terengah diatas panggung itu miliknya,

Berbalik dan terbelalak, segala rencana indah yang telah jimin susun pecah saat itu juga. bagaimana ia bisa dengan begitu bodoh percaya pada pemuda itu? bagaimana ia dengan begitu mudah memberinya kepercayaan untuk tetap tinggal dan menunggunya membawa cinta suci yang begitu tulus? Dan oh, bahkan ia merubah penampilannya dibelakang jimin.

Yoongi Bersolek, mewarnai rambutnya dan menggunakan lipbalm untuk membuat bibirnya lebih merekah.

Sial.

'Sebegitu bodohnya kah aku untuk ditipu semudah ini?'

'Kenapa begitu sulit untuk menjadi baik dihadapanmu?'

.

.

.

.

.

.

.

Taehyung tidak pernah faham tentang cinta. Asal mula perasaan bodoh yang memperbudak semua manusia dengan alasan klasik 'karena hati' itu—ia selalu dibuat berpikir keras apabila mengingatnya.

Kenapa jimin bisa sebegini gila hingga menyeretnya duduk disalah satu kedai soju dan menghabiskan lebih dari sepuluh botolia tidak habis pikir. Meskipun pada kenyataannya ia pernah menyukai seseorang, ia belum pernah mendapati dirinya berjuang sebegini keras untuk meredam sesuatu yang katanya sangat perih di dalam hatinya. Berbeda dengan jimin, sepertinya taehyung harus memberinya sepuluh jempol sekaligus karena kehebatan sahabatnya itu dalam urusan menyimpan kehancuran hati.

"Terkadang cinta memang rumit kawan!"

Sekiranya itulah yang bisa taehyung ucapkan untuk jimin. Bersahabat sekian lama membuatnya begitu tahu untuk jadi penguat di kerapuhan hati sang sahabat disaat-saat begini.

" Dia membohongiku, tae! Dan aku dengan bodohnya percaya bahwa senyuman dan anggukan palsu yang ia berikan itu adalah ketulusan " jimin menuangkan minuman pada gelasnya dan mendesah terlampau frustasi "ahh.. dia selalu punya cara tersendiri untuk mematahkan ketulusanku "

Ada jeda begitu lama sebelum jimin meneguk minumannya kemudian meringis menatap taehyung yang hanya tertawa di hadapannya. "tertawa saja sebelum kau merasakannya, brengsek" nadanya memperingatkan

tapi sungguh, taehyung tidak sedang menertawakanya dengan makna tertawa yang sesungguhnya 'prihatin dan salut' lebih tepatnya. Prihatin pada jimin dan salut pada yoongi.

" Kau tahu? Setiap hari keparat itu, ah ya.. Namjoon. namanya namjoon, ish..bahkan namaku lebih keren darinya. apa bagusnya dia?" jimin mencibir dengan mata sayu yang dipaksa terbuka

Sedang Taehyung tertawa kalem dihadapannya. Satu fakta yang kembali membuat pemuda tan itu makin penasaran dengan cinta adalah 'seseorang akan menjadi sangat kekanak-kanakan jika sedang jatuh cinta' dan itu terlihat lucu. mungkin, ia harus mencobanya juga.

" si keparat Namjoon itu selalu mengekor yoongi kemana-mana. Mereka bercanda dan tertawa tanpa tahu malu di depan semua orang. cih..kampungan sekali ! "

yoongi bahkan tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamaku

Oke, karena hanya lelaki yang bisa tahu perasaan laki-laki lainnya. Sempat terdiam beberapa lama Taehyung akhirnya bersuara, bermaksud menghibur dengan menambahkan sedikit suara tawa yang sayangnya terdengar hambar di akhir kalimatnya—

" Tenang saja, kau ayah dari bayinya jimin-ah.. darah mu mengalir disana. hanya tinggal menunggu waktu hingga aegi lahir dan mengatakan kepada dunia bahwa park jimin adalah appaku. Hahaha"

—dan anehnya jimin malah ikut tertawa, begitu tampan sekaligus menakutkan karena tentu saja setelahnya satu jitakan keras ia hadiahkan kepada sahabatnya

" byuntae sialan! Selain bayinya, aku juga menyayangi yoongi, bodoh! bagaimana nanti kalau yoongi hanya memberiku aegi kemudian pergi meninggalkanku?" satu decihan malas mengalun di udara hampa "aku yang keliru, kupikir dengan menggaet kakak semata wayangnya akan mempermudah pendekatanku dengan yoongi, tapi ternyata sama saja. Tidak berguna sama sekali"

" —YA! mwo? Tidak berguna?" Taehyung mendengus, menarik sudut bibirnya menyeringai lebar hanya untuk menggoda sahabat tampannya "siapa yang tidak berguna hum? Serumah, tidur diranjang yang sama tapi tidak pernah bisa menyentuhnya. Hah..aku curiga, siapa sebenarnya yang membuat perut yoongi membuncit "

" Ok. Kuanggap itu izin mulai sekarang"

" YA! YA! BERANI MENYENTUHNYA KU PATAHKAN TANGANMU PARK JIMIN!"

" aku juga mencintaimu Kim Taehyung~ "

.

.

.

.

.

AN ANGEL

.

.

.

.

.

yoongi tidak tahu kenapa dirinya begitu betah untuk membuka mata kala suasana sunyi dan dingin malam yang begitu mengundang untuk tertidur sebaliknya malah membuat sepasang manik kecilnya terus berpendar kemana-mana seolah mencari sesuatu yang hilang, entah apa itu

ruangan lengang dengan aroma jimin yang menguar disetiap sudutnya, juga sisa-sisa kemarahan dan canda tawa yang pernah berlalu disana,— yoongi tersenyum, begitu putus asa kala bayangan dirinya yang dulu bersama jimin terulas begitu indah disetiap sudut ruangan ini; bagaimana jimin setengah berlari saat mengejarnya menuju wastafel karena mual di awal kehamilannya; bagaimana pemuda itu bernyanyi dan berceloteh tanpa lelah untuknya saat ia terjaga; bagaimana ia mendengar jimin bernafas tepat disisi tubuhnya; bagaimana ia merasakan ketenangan atas sentuhan di setiap jengkal jemari jimin; dan bagaimana jimin untuk pertama kali menyentuh bibirnya dengan begitu pelan—penuh kehati-hatian setelah suara paraunya yang rendah melafalkan pertanyaan kecil yang menggugah hati hingga satu anggukan penuh melengkapi malamnya kala itu

Yoongi menyadari dirinya telah jatuh cinta sejak malam itu. Malam dimana dirinya dan jimin hanya saling melumat dengan segenap perasaan tulus tanpa nafsu yang berlangsung lama kemudian berakhir dengan obrolan kecil mereka bersama si bayi, jimin mengusap perutnya, menggumam dengan segenap kelembutan yang ia miliki hingga kembali diiringi canda tawa, yoongi terlelap dalam dekapan pemuda itu—bersama sebuah harapan disetiap desah nafasnya.. semoga, semoga dan semoga. Jika bahagia bersama jimin dan bayi mereka adalah satu-satunya kebahagiaan kecil yang pantas dimiliki yoongi, maka ia akan memilihnya.

Meninggalkan lamunannya, yoongi menjatuhkan pandangan pada pintu kamar yang tidak seberapa jauh darinya; berharap sang pengisi relung hatinya datang bersama setitik senyum menyenangkan disana, ia berharap

yoongi berharap

Setidaknya jimin tidak benar-benar menganggap kesalahannya tadi sebagai sesuatu yang fatal hingga nada dingin di setiap untai kata pemuda itu tidak lagi terdengar dan menyakitkan hati yoongi karena sungguh, meskipun harapan itu memudar oleh garis wajah jimin yang tidak menunjukkan cinta sama sekali, yoongi ingin tetap berharap. Ia ingin jimin melihat dirinya, melihat hatinya. Bukan sekedar melihat perut membesar hasil dosa termanis mereka berdua.

sampai pada puncak kekesalannya, yoongi membuang nafas berat dan mendesah kecil. Sudah sejauh mana ia berpikir? Sudah berapa lama ia bertahan disini? Membuka mata, menunggu layaknya seorang idiot? Sudah setinggi mana harapannya ia gantungkan ketika jimin belum juga kembali? Kenapa dia mengabaikan yoongi sebegini parah? kenapa dia tidak menyeretnya turun dari panggung saat melihatnya tadi? kenapa harus meminta taehyung untuk mengantarnya pulang? kenapa ?

rentetan pertanyaan itu memenuhi kepalanya, menari-nari layaknya nada menyebalkan yang mengalun tanpa henti di benaknya, sampai kemudian

" YOONGI...YOONGI "

sebuah panggilan menginterupsi. Yoongi mengerjap sekali sebelum mengenali suara itu sebagai suara seseorang yang sejak tadi dinantinya. Dengan gerak perlahan ia mengangkat tubuhnya dan terhenyak saat sepasang manik tajam menatapnya begitu lurus

" jimin " yoongi melirih, sepasang mutiaranya menelisik diam-diam, mencari sesuatu yang membuat teriakan jimin begitu berbeda dari biasanya. namun yang ia dapati hanya senyum remeh dari wajah yang selalu dipujanya itu

" kau disini, rupanya" tawanya terdengar hambar. Sedikit menunduk, jimin mengamati penampilan yoongi dalam balutan kaos oversize berwarna cerah yang membentang hingga ke lutut "kenapa belum tidur?" ia bertanya. Kedua bola matanya memerah dan aroma alkohol yang begitu kuat tercium dari belahan bibirnya membuat pemuda hamil dihadapannya terbelalak,

" jimin, kau mabuk ?"

Derai tawa seketika itu mengalun dari kerongkongan jimin. begitu dingin dengan intonasi sendu yang tersembunyi dibalik suaranya yang merdu. dan yoongi tidak habis pikir untuk itu, bagaimana seorang pemuda seperti jimin bisa hadir didunia ini? Garis rahang tegasnya yang mengeras, tatapan tajam menikam, serta gelak tawanya yang menakutkan, kenapa semuanya begitu sempurna dimatanya?

Masih dengan suara tawa dan pahatan wajahnya yang sempurna, jimin—pemuda tampan itu menatap yoongi, mengarahkan manik kembarnya mengoyak seluruh ketulusan didalam mata yoongi, Dia menyempurnakan ketakutan pemuda hamilnya dengan satu bisikan kecil yang menyeramkan

" wae~ huh? " jemarinya bergerak ke sisi tubuh yoongi, menyentuh setiap jengkal kulitnya tanpa perantara sembari ia mendekatkan bibir tepat didepan wajah yoongi yang bersemu tipis

"J-jimin-ah..ireojima " Yoongi setengah merengek. Berusaha menjauh namun pemuda itu menangkapnya lebih cepat dari pikirannya.

Jimin tersenyum menang dengan tatapan gelapnya yang menyela tajam "kau takut?" dia tertawa hambar "takut sesuatu seperti enam bulan yang lalu terulang lagi? takut aku menidurimu lagi?" seringai jahat terbit diwajahnya manakala ia mengeliminasi jarak diantara mereka, sedikit demi sedikit hingga yoongi seakan meregang nyawa ditempat saat itu juga; nafasnya tercekat dan udara didalam paru-parunya terasa kosong begitu saja saat jimin meraup bibirnya dengan sangat rakus; menjajalkan lidah sedalam mungkin dan menarik ciumannya lebih dalam dengan kedua tangan mengapit pipi tembem yoongi

Terlalu mendadak, egois, dan terlalu kasar. Yoongi bisa merasakan setitik harapan kecil dari setiap belain jimin yang terkesan memaksa itu, namun mengingat bagaimana dirinya dikungkung begitu kejam, dihisap dengan kasar dan ditutup akses pernapasannya membuat seluruh prasangka baik yang ia punya gugur satu persatu

Apa yang jimin lakukan padanya? ada apa sebenarnya dengan berandalan sialan yang meraup segala energinya lewat ciuman gila ini? dia terlampau kuat untuk menjadi lawan yoongi, terlampau lihai mengunci segala pergerakan pemuda hamilnya hingga bulir-bulir air mata mulai jatuh dari sepasang mata sayu itu

Yoongi menangis

Dan saat ciuman lepas kontrol itu berlanjut di atas ranjang, jimin melepaskan tautan bibirnya dengan nafas terengah yang mengalun putus-putus. Dia membiarkan yoongi meraup udara sebanyak-banyaknya sembari dirinya mengecupi setiap jengkal perpotongan lehernya, menyesalkan isak tangis memilukan dan tubuh bergetar yoongi dalam kungkungannya

hiks

Dengusan kasar terdengar dari jimin. kepalanya yang awalnya menunduk menggelayuti inchi demi inchi kulit halus yoongi—perlahan terangkat, ia menyangga tubuh dengan lengannya dan menatap yoongi dengan mata elang yang berkilat marah sebelum berdiri dari tempat itu

"pakai bajumu dan tidur!" katanya datar tanpa menoleh.

Sudah pasti, dalam keadaan seperti ini jimin akan lebih memilih tidur di sofa daripada di samping yoongi

Sampai derap langkah dingin itu terdengar, yoongi masih menangis. Mengutuk aroma alkohol yang bercampur begitu memabukkan dengan aroma jimin sampai ke ubun-ubunnya. Sesungguhnya, kalau saja jimin melakukannya dengan sedikit lebih tenang, tanpa pengaruh alkohol dan tanpa kekerasan, yoongi akan rela, memasrahkan segenap jiwa dan raganya untuk disetubuhi dengan penuh kelembutan yang menghanyutkan layaknya kepribadian jimin jauh sebelum pertengkaran tak berujung ini ada.

" Tinggal beberapa bulan.. "

Yoongi tersentak dari lamunan dan menepikan tubuhnya yang ringkih. Ia hanya memberikan punggung sempitnya kala suara itu menginterupsi dengan nada dingin yang menyesakkan dada.

" —Setelahnya kau akan bebas. pergi kemanapun kau mau, tidak perlu bersembunyi untuk datang ke acara kampus, Tidak perlu mendengarkanku, dan terbebas dari sini "

Entah dimana pikiran yoongi terhenti kala untaian kalimat memuakkan itu keluar dari belahan bibir beraroma alkohol si pemuda mabuk. Dia mengangkat pandangannya, menyentak jimin dengan segala keberaniannya yang membumbung tinggi jauh di atas kepalanya, rasa sesak ini, sakit dan perih ini, yoongi ingin menuntaskannya hingga tak tersisa apapun untuk ia pendam dari balik senyumnya

" Pada akhirnya kita memang akan berakhir kan?" ia menghela nafas sejenak "Kau dan aku, Tidak ada cinta diantara kita. dan anak ini.. aku hanya terlalu sial untuk mendapatkan keajaiban mengandung, terlebih lagi mengandung anak dari seseorang yang bahkan tidak memiliki rasa sedikitpun padaku—"

Terlalu perih, jimin mengepal tangannya begitu kuat disamping tubuhnya hingga buku buku jarinya memutih, Ada air mata di pelupuk matanya yang berkedut nyeri dan siap untuk jatuh kapan saja jika ia berkedip.

'Kenapa kau bisa mengatakan hal sekejam itu dengan begitu mudah?'

Batin Jimin berteriak. Ia tidak pernah berpikir kalau semuanya akan serumit ini setelah tadinya kebahagiaan yang begitu nyata sudah terpampang dekat didepan matanya.

"—kau bahkan tidak pernah menyentuhku, kecuali jika minuman sialan itu mengambil alih kesadaranmu" yoongi menjeda dengan senyum di sudut bibirnya yang tampak menyakitkan "aku tidak tahu kalau kau sebegitu pengecutnya mengandalkan kekuatan minuman memuakkan itu untuk menghadapiku "

Dan Jimin hanya bisa membeku di tempat. Pandangan matanya yang berkabut menangkap jelas gurat kekecewaan di wajah yoongi. ia tidak pernah sebegini salah dihadapan siapapun selama hidupnya sebelum pemuda ini, ia tidak pernah sekacau ini

Dengan gerak perlahan ia menyela pemuda hamil itu "kau benar, aku tidak pernah merasa sepengecut ini menghadapi seseorang. ku pikir semua akan berjalan mudah karena kau bersamaku setiap saat tapi aku selalu kehilangan kepercayaan diri itu setiap kali melihat matamu yang begitu tulus. Kau terlalu berharga untuk iblis jahat yang bersembunyi di dalam diriku—"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

" —dan aku terlalu bodoh untuk menunggumu menjadi peka terhadap perasaanku "

TBC


Minki lagi patah hati gengzz.. jadi wajar kalo hasilnya jadi kyak gini. sori banget udah update lama trus sekalinya update malah kek gini /update-nya malam minggu pula/ Yah itung-itunglah..penggambaran Yoonmin di mata aku emang selalu kek gini, maju mundur *cantik

Trus kapan mereka peka?

Jawabannya di chapter depan. ok?


REVIEW?

(Yang kemaren nagih-nagih awas kalo nggak review!)

jadilah reader yang bertanggung jawab!

karena satu review akan menyenangkan hati author