Part II

"Dasar laki-laki sialan. Kerjamu hanyalah bermain wanita saja, kau pikir aku tak tahu? Sudah berpuluh-puluh tahun aku menikah denganmu dan yang kudapatkan hanyalah sakit hati."

Ayah masih saja bersantai di sofa kesayangannya sambil menghisap cerutu. Ia sesekali mendengus kesal karena ocehan ibu,namun ayah lebih memilih untuk diam daripada beradu argumen dengannya.

Ibu kembali mendesak, ia mengucapkan setiap kesalahan ayah dengan detail. "Kau juga jangan tidur Naruto. Kemasi barang-barangmu,kita akan keluar dari rumah ini. Aku tak butuh kehidupan mewah lagi."

Ah, jadi ini kejadian lima tahun yang lalu, dan aku harus mengulangi kembali semua ini karena permintaan bodohku. Semangatku kini sudah turun hampir separuhnya karena hal tadi ,pikiranku masih kosong. Tetapi setidaknya, pertunjukan ini harus tetap berlanjut.

Ayah tampak geram, ia berdiri hendak menghalangi ibu. "Terserah kau ingin menyebutku apa, sudah cukup selama ini kau mengatur hidupku,menuntut ini –itu semaumu. Setiap orang juga butuh batas kesabaran. Lagipula mana ada lelaki yang tahan hidup dengan wanita yang seegois dirimu," lanjutnya, "dan jangan memaksa Naruto untuk ikut denganmu. Biarkan dia yang memilih."

Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin hidupku susah seperti yang lalu. Dulu aku sangat menderita karena hidup dengan ibu, aku harus belajar dan membantunya tanpa istirahat. Selain itu aku juga tak bisa menikmati permainan dan pergaulan anak muda seperti yang lainnya.

"Aku ingin ikut dengan ayah, tolong hargai keputusanku bu."

Tampak ekspresi kekecewaan dibalik matanya itu, setetes air mata turun. Aku agak tidak tega membuat keputusan seperti itu, tapi tak ada yang bisa kulakukan. Banyak yang berkata bahwa kita harus membuat pilihan yang bijak untuk membuat hidup yang lebih baik bukan? Ibu langsung berlari ke arah kamarnya, mengambil beberapa helai baju, dan pergi. Tak ada yang menahannya karena kami tidak perduli.

Keputusan ini membawaku ke hidup yang lebih cukup bangga dengan apa yang kuraih sekarang. Hari-hariku diisi dengan permainan,aku tak usah belajar, aku bisa bergaul dengan banyak orang dan apapun yang kuinginkan selalu aku dapatkan. Mungkin kalian berpikir aku manja, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Aku hanya terlalu bahagia. Selain itu, ada satu hal yang berubah. Ibu kembali menikah dengan seorang pria yang baik. Di posisi sekarang ini, kami sama-sama imbang, ibu,ayah ,dan aku sama-sama bahagia.

Perlahan namun pasti, aku menginjak usia 35 tahun. Kehidupanku begitu sempurna, meski tak ada perempuan yang bisa mengisi hatiku. Ya, aku tak butuh perempuan juga,menurutku perempuan akan mengacaukan kehidupanku,seperti kehidupan ayah yang dikacaukan oleh ibu.

Hari demi hari kujalani dengan ketakutan dan pikiran buruk yang terus menghantuiku. Banyak pertanyaan yang timbul di benakku. Bagaimana jika laki-laki misterius itu kembali muncul di hadapanku? Apa yang akan terjadi jika ia membunuh ayah atau diriku? Apa dia akan merampas semua harta kekayaan,atau bahkan teman-temanku? Tidak bisa ,aku tak mau membayangkan dan memikirkan itu terus menerus. Aku hanya perlu menelpon teman-temanku dan mengajak mereka bermain playstation untuk meredakan stres ini.

BRAKK

Pintu kamarku dibuka dengan keras oleh sekelompok polisi.

"Hah,ada apa ini?" aku panik, tak ada kesalahan yang kuperbuat selama ini kecuali bermain game.

Seorang polisi maju dan menyodorkan selembar kertas ke hadapanku. "Ayahmu, Tn. Minato terbukti melakukan korupsi selama 10 tahun. Dan ia selalu mengirimkan hasil korupsinya kedalam rekeningmu. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."

Aku menggeleng, "tidak.. kau bercanda. Ayahku bukan orang seperti itu, kau salah orang."

"Tangkap dia!"

Sudah 6 hari aku dan ayahku ditetapkan sebagai tersangka. Kami menunggu keputusan hakim dalam hukuman yang akan kami terima.

"Tn. Minato dan Tn. Naruto, Kalian dijatuhi hukuman..."

Jatungku berdetak kencang ketika mendengarkan keputusan hakim.

"MATI!"

Rasanya aku mau pingsan. Dua jam lagi kami akan dihukum dengan cara ditembak mati. Aku membuat keputusan bodoh yang membuatku jatuh kedalam kesusahan. Jika saja aku memilih hidup dengan ibuku...

Kami ditempatkan di tengah lapangan luas, banyak orang-orang yang memegang senapan yang mengarah ke tubuh kami.

"Nak...Ayah mau mengatakan sesuatu sebelum kita berdua meninggal disini."

"Apa itu ayah?"

Dia menunduk, "maafkan aku karena..."

Ayah belum selesai mengucapkan kata-katanya,dan suara tembakan sudah terdengar. Lima buah peluru menembus tubuh ayahku.

"D-dasar..lelaki brengsek.." ucapku ketika melihat laki-laki misterius itu menertawakan kematian ayahku.

DUAR ...

Semuanya menjadi gelap.

"Ini perbuatanku lagi ,kau tidak memberikan pujian padaku?"

Aku menggertak, sudah cukup bagiku melihat kematian orang-orang yang kusayangi. "Mari kita sudahi semua ini!"

"Tidak.. Kau harus melakukan semua ini sampai genap tiga kali. Itulah perjanjian kita, sekarang... Selamat melanjutkan pengulangan yang ketiga. Dan tentu saja, aku akan menonton kisahmu. Suguhkan aku kisah yang bagus ya..."

DUAKK...

TBC

Bagi yang sudah mereview dan membaca fanfiction ini, saya ucaokan ucapkan terima kasih banyak. Sungguh saya senang sekali membaca review kalian. Oh iya, fic ini akan tamat pada chp 3. Dan setelah itu mungkin saya akan membuat fanfiction baru yang murni buatan saya. Mohon dukungannya ya! :)