Tik..tok..tik..tok.. Suara jarum detik terdengar begitu jelas dalam kesunyian ini. Kini aku tengah berada di sebuah bar kecil bersama sahabatku, Sasuke. Ia meneguk segelas winenya untuk mengurangi kekakuan diantara kami berdua. Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu dengannya karena ia pindah ke daerah elit bersama kedua orangtuanya,sedangkan aku hidup dengan hasil jerih payahku sendiri. Ini adalah kejadian dua tahun yang lalu, dengan kata lain, pengulangan ketiga. Apakah kali ini akan berhasil?

Aku berdeham, Sasuke tidak memiliki nyali sedikitpun dalam memulai pembicaraan kami. Padahal dia yang mengundangku ke bar ini untuk berdiskusi perihal aku sudah tahu akan jawabannya,aku tetap bertanya. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Bagaimana mengatakannya ya.. Aku jadi tidk enak padamu Naruto."

"Katakan saja kawan, jangan sungkan. Kau tahu kan kita sudah bersahabat sejak lama?" ucapku sambil menepuk pundaknya perlahan.

Ia cekikian, sepertinya keadaan sudah mulai mencair. "Banyak orang yang mengatakan bahwa kau adalah pekerja yang sangat disiplin dan tekun.."

"Lalu?"

Sasuke kembali meneguk winenya dan menatapku lekat. "Aku ingin membuat sebuah perusahaan baru. Dan aku ingin kau bergabung denganku.." ia tampak ragu, "tapi kalau kau tak mau juga tak apa, aku tahu bahwa kau merasa nyaman dengan pekerjaanmu. Jangan dipaksakan."

Jika aku menerimanya,akankah hal buruk kembali menimpa diriku? Apa sebaiknya aku menolak ajakannya untuk mencari aman saja? Tapi.. dengan menolaknya juga tak memberikan jaminan aman bagiku.

"Baiklah, aku akan keluar dari perusahaanku."

Sasuke tersenyum lebar. "Keputusan yang hebat sobat!"

Sejak hari itu, aku mulai bekerja di perusahaannya. Kami sama-sama merintis perusahaan yang bergerak di bidang furniture ini dari nol. Aku tak tahu apakah usaha kami akan berhasil atau tidak, tetapi aku selalu mendoakan yang terbaik demi perusahaan ini.

Dua tahun telah berlalu.. Bisnis kami berada di puncak kesuksesannya. Entah bagaimana dalam situasi terpurukpun Sasuke bisa mengangkat ekonomi perusahaan kami kembali seperti semula. Saat krisis uang di negara kami misalnya, banyak perusahaan lain yang bangkrut, tapi perusahaan kami tidak. Pesanan terus menerus berdatangan, banyak orang yang puas akan hasil kami.

Bisa dibilang,kehidupanku juga mulai membaik. Aku bisa membeli apartemen yang luasnya empat kali lebih besar dari rumahku, sebuah mobil mewah, sebuah villa, dan yang terpenting,aku mendapatkan sebuah jabatan penting di perusahaan.

Suatu malam, aku menyelesaikan pekerjaan di perusahaan, meninggalkan gedung,dan pergi menuju mobilku. Namun sialnya,handphoneku ketinggalan di ruang kerja. Mungkin ini faktor usia yang membuatku lupa akan segalanya. Aku kembali masuk ke dalam gedung dan seorang satpam menyapaku.

"Halo Tn. Uzumaki, ada keperluan apa lagi?"

"Ah..aku meninggalkan handphone ku di atas." Balasku singkat.

Tatapan satpam ini tidak ramah seperti biasanya. "Tidak usah diambil hari ini, lift sudah dimatikan juga, kau akan kelelahan jika naik tangga. Besok saja."

"Tidak.. banyak data penting. Sudahlah, terimakasih atas perhatiannya."

Aku mulai menaiki tangga, hawa dingin terasa menusuk kulitku..

SREKK..SREKK...

Itu terdengar seperti suara seseorang yang diseret.

SREKK SREKKK SREKK..

Suara itu semakin dekat..Apa itu?

SREKK SREKK SREKK SREKK..

"HENTIKAN SEMUA KEGILAAN INI!"

BRAKK

Ah,kepalaku terasa pusing.. Ah,apa ini? Terasa dingin sekali. Aku mulai memeriksa sekelilingku. "WTF?!" aku berada di sebuah bak mandi yang penuh dengan balok es. Aku pernah membaca ini.. Jangan bilang jika aku menjadi korban penjualan organ? Kedua mataku tidak mempercayai apa yang kualami saat ini. Tubuhku penuh dengan sayatan bekas benda tajam ,didepanku terdapat secarik kertas.

'Maafkan aku Naruto, selama ini aku sudah memperjual belikan organ tubuh manusia di pasar gelap. Tadi hampir saja pekerjaanku ketahuan olehmu. Andai saja kau mendengarkan kata satpam itu.. Selamat bersenang-senang ya. –Sasuke"

Seketika itu juga aku mulai emosi, kuremas kertas itu dan kuinjak-injak.. Kali ini aku membuat keputusan yang benar-benar salah..

Aku mulai pingsan..Lebih tepatnya,mati.

..

Lelaki misterius itu bertepuktangan..

"Naruto, penampilanmu yang barusan itu sangat memukau. Aku bangga padamu,terimakasih telah menghiburku.. Bagaimana dengan pengalaman pengulangan hidupmu itu? Apakah kau sudah puas?"

"TIDAK! Sama sekali tidak." Aku mulai berteriak bagaikan orang kehilangan akal. "Aku ingin kembali ke hidupku yang sebelumnya!"

"Uhh.. maaf tuan, permintaanmu sudah habis. Ingat kan? Batasnya hanya tiga kali pengulangan. Dan jika kau ingin kembali.. Kau harus mengorbankan salah satu anggota tubuhmu yang ku minta."

"YA! Ambil saja yang kamu mau! CEPAT."

"Khukhukhu..tentu..." ia melepas topengnya dan menatapku dengan tajam, mukanya yang hancur membuatku jijik dan lemas. "Aku minta..."

.

.

.

.

"Jantungmu.."

.

.

.

"Korban pertama sudah tumbang,perlukah aku mencari yang lain?" lelaki misterius itu hilang di balik kegelapan.

END

Yeee... akhirnya cerita ini tamat juga T.T

Makasih buat yg udah review favs dan follow untuk fic pertamaku ini. Kira kira kalian setuju gak kalo aku buat fic lagi? Tapi murni ceritaku sendiri. Mungkin gak sebagus fic yang ini, tapi bakalan lebih panjang.