"Changmin-ah?" Kyuhyun mengeluarkan suaranya, menatap orang yang duduk membelakanginya.

Orang yang ia panggil menolehkan kepalanya, mulutnya penuh dengan makannan. "Wae?" tanyanya singkat.

"kau?" Kyuhyun berkata seolah tak percaya dengan penglihatannya,

Changmin menelan makanan yang ada dimulutnya sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun. "benar, ini aku. Wae?"

"Sedang apa kau disini? Sepagi ini?" terdengar penekanan pada dua kata terakhir yang Kyuhyun ucapkan, seolah meyakinkan dirinya bahwa ini masih pagi buta dan ia tak salah.

"Ya! Duduklah! tahan dulu semua pertanyaanmu itu, tidak bisakan kau lihat aku sedang makan?" Changmin mendelik melihat Kyuhyun yang masih mematung dengan kebingungan dibelakangnya.

Perlahan Kyuhyun melangkahkan kakinya ragu menuju meja makan, mengambil satu posisi dan duduk berhadapan dengan Changmin. Ia menatap Changmin yang terus memasukan makanan kedalam mulutnya. Kyuhyun berpikir, bahkan dalam keadaan selapar apapun ia tak akan pernah makan sebanyak itu. Dasar Monster.

Kyuhyun memutar pandangannya, entah apa yang ia ia tak menemukan apapun yang dianggapnya asing ia kembali memandang Changmin yang masih sibuk bergelut dengan makanannya.

"Changmin-ah..." panggil Kyuhyun,

Yang dipanggil hanya bergumam pelan tanpa melirik kyuhyun sedikitpun.

"kau sendiri?"

Changmin menghentikan acara makannya, ia mengangkat kepala lalu di ambilnya kain yang sejak tadi tersampir diatas kakinya. Ia mengelap sisa makanan dimulutnya hingga bersih.

"Ya, aku sendiri. Aku tahu apa yang kau maksud dengan bertanya seperti itu Cho kyuhyun." Jawab Changmin dengan nada serius.

Changmin hafal betul kemana arah pembicaraan Kyuhyun. Jung Haneul. Eommanya lah yang Kyuhyun maksud dan cari sejak tadi.

Kyuhyun tak membalas perkataan Changmin. Ia mengalihkan pandangannya kearah meja makan untuk menghindari tatapan Changmin. Kenapa kau harus punya tatapan yang sama dengan yang samchon miliki Changmin-ah...

Diambilnya sepasang sumpit yang terletak disamping magkuk nasinya. Kyuhyun menjumput makanan sedikit demi sedikit tanpa menghiraukan Changmin yang terus menatapnya.

Kyuhyun makan dengan tenang. Tak ada obrolan sedikitpun diantara mereka, membuat keheningan merasuki suasana disana sampai sebuah suara memecah keheningan yang mereka cipatakan.

"Tuan muda, kau sudah bangun," Lee ahjussi datang dengan membawa sebuah tas ditangannya juga satu buah koper berukuran cukup besar.

Kyuhyun melihat semua barang yang ahjussi bawa dengan alis yang saling bertaut, "ahjussi, milik siapa itu? Apa milikmu?" tanya Kyuhyun.

Ahjussi melempar pandangannya kearah Changmin, melihat itu Changmin mengerti jika ahjussi membutuhkan bantuannya untuk menjelaskan itu pada Kyuhyun.

"semua itu milikku." Ujar Changmin santai,

Kaki Changmin melangkah perlahan menuju tempat Lee ahjussi berdiri, ia menarik koper dari tangan ahjussi.

"milikmu? Kenapa kau membawa barang sebanyak itu kemari?" tanya kyuhyun cemas,

Sebelum Kyuhyun mendapat jawaban dari Changmin, terdengar suara langkah lain yang berjalan mendekati mereka, semua mata tertuju pada orang itu.

"Annyeonghaseo.." sapa orang tersebut sambil membungkuk dalam. Ia membawa satu stel baju ditangannya.

"ah ye, apa itu bajuku?" tanya Changmin pada orang tersebut yang ternyata adalah sopir dikediaman Kyuhyun.

"Ye, tuan."

Changmin ambil baju yang orang tersebut ulurkan padanya.

Sementara Kyuhyun memandang kejadian didepannya dengan tatapan bingung. Ya, tentu saja ia bingung, koper? Ransel? Dan seragam yang, oh. Itu nampak serupa dengan miliknya. Ia coba menyatukan semua puzzle dari apa yang ia lihat. Mencari dugaan yang paling tepat tentang apa yang terjadi, dan sepertinya ia menemukan satu. Ia berharap semoga dugaannya salah.

"Changmin-ah... kau, kau tidak berpikiran untuk tinggal disini dan pindah kesekolahku bukan?" nada suara Kyuhyun terdengar ragu, ia berharap semoga apa yang ia pikirkan tidak akan benar-benar terjadi, tapi...

"Bingo! Ternyata kau masih tetap cerdas Cho Kyuhyun," jawab Changmin riang, melihat mata Kyuhyun yang membulat ia menyeringai bak setan yang berhasil menggoda manusia. Ah lupakan ini ungkapan yang terlalu kasar sepertinya.

Changmin membalikkan tubuhnya, ia berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih shock mendengar pernyataan Changmin.

"Ahjussi, kamarku disebelah sini bukan?" tanya Changmin sambil berlalu, mulutnya terus mengulum senyum. Rasanya menyenangkan melihat ekspresi bodohmu itu Cho Kyuhyun, hahaha...

.

.

Dua pasang kaki jenjang melangkah santai memasuki pelataran Paran Senior High School. Salah satu dari kedua pasang kaki itu berjalan dengan sedikit angkuh, sedangkan yang lainnya terlihat tak sabar dan antusias.

Mereka adalah Kyuhyun dan Changmin. Kyuhyun masih seperti biasa, alunan music yang berdebum dikedua telinganya selalu mengiringi langkahnya, ia berjalan tanpa memperdulikan sekitar, hanya berjalan lurus dan seolah menganggap tak ada siapapun disana.

Berbeda dengan Changmin. Ia menebar senyumnya pada siapapun, bahkan para yeoja terlihat tak berkutik ketika Changmin melambaikan tangannya. Sudah bisa dipastikan, belum sampai sepuluh menit Changmin menginjakan kakinya disekolah ini, pasti sekarang ia sudah punya banyak fans disekolah barunya itu.

Mata Kyuhyun sekilas melirik Changmin yang berjalan sedikit dibelakangnya, melihat tingkah Changmin Kyuhyun hanya menggelengkan kepala. Bukan hanya monster makanan, ternyata dia juga monster penebar pesona, ck.

Akhirnya mereka sampai didepan sebuah kelas, kelas Kyuhyun dan kelas baru Changmin.

Changmin hendak masuk mengikuti langkah Kyuhyun tapi baru mencapai mulut pintu Kyuhyun mendorong Changmin keluar dari kelasnya.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" Sungut Changmin setelah Kyuhyun medorongnya hingga beberapa langkah didepan pintu kelas.

"Seharusnya kau menemui wali kelas dulu, setelah itu masuklah bersamanya."

"Untuk apa menemui wali kelas dulu, lagipula dia appaku."

"Kau ini bodoh atau apa, eoh? Walaupun Yoo sonsaengnim appamu, tapi tetap saja sangat tidak etis kalau kau masuk kekelas begitu saja tanpa didampingi," sanggah Kyuhyun tak mau kalah.

"Aishh, kenapa mau masuk kelas saja sulit sekali." Changmin mempoutkan bibirnya sedemikian rupa, terdengar ia menggerutu walaupun akhirnya ia menuruti perkataan Kyuhyun dan berlalu mencari ruang guru untuk menemui appanya.

Kyuhyun melihat bayangan Changmin yang semakin menjauh hingga menghilang dibelokan ujung lorong. Perlahan bibir pucatnya tertarik hingga membentuk sebuah lengkungan kecil. Seperti oasis ditengah gurun, menyegarkan dan terlihat manis. Senyuman seorang Cho Kyuhyun yang terkenal angkuh dan selalu bersikap dingin.

Kadangkala ada sesuatu yang aku inginkan namun aku tak dapat mengatakannya. Aku tak mau menjadi egois dan menyakiti orang lain lagi, aku tak mau... Gomawoyo Changmin-ah, kau telah mengerti aku lebih dari siapapun.

Bell itanda istirahat berdering, semua siswa berhambur menuju kantin sekolah, begitupun Changmin yang mulai ditarik oleh teman-teman barunya. Ya mereka semua yeoja tentu saja.

Sedangkan Kyuhyun tak beranjak sedikitpun, ia masih setia duduk dikursinya. Matanya menerawang melihat awan yang hilir mudik dibalik jendela disamping kirinya. Melihat itu, dengan ramah Changmin menolak ajakan teman-teman barunya, ia berbalik kembali kebangkunya yang berada disamping Kyuhyun.

"kau tidak lapar?" tanya Changmin, ia menatap kyuhyun lekat.

"tidak," jawab Kyuhyun singkat tanpa mengalihkan pandangannya. rasanya pemandangan diluar sana jauh lebih indah dari pada melihat wajah Changmin pikirnya.

"tadi pagi kau juga makan sedikit," kata Changmin lagi, kali ini ia menelusuri wajah Kyuhyun dengan tatapannya. Wajah pucat dan pipi tirus yang amat kentara. Pantas saja kau begitu kurus.

"aku akan kekantin nanti setelah kantin sepi," ujar Kyuhyun pelan.

Mendengar pernyataan Kyuhyun akhirnya Changmin menyerah, ia duduk dibangkunya. Sebenarnya ia sudah sangat lapar tapi ia tak mau jika harus meninggalkan Kyuhyun sendirian.

Kyuhyun melirik Changmin dari ekor matanya. Changmin duduk bersandar pada punggung kursi dengan tangan yang ia elus-eluskan diperutnya. Kyuhyun hampir tertawa ketika melihat itu. Ia sadar kalau Changmin si monster makanan sedang kelaparan sekarang.

Kyuhyun beranjak dari posisi duduknya, dengan gaya cool ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. "Ahh.. tidak biasanya aku lapar secepat ini,"

Mendengar itu Changmin berdiri dengan cepat. "Kau bilang kau lapar? Jadi sekarang kita kekantin?" tanya Changmin beruntun.

Kyuhyun tak menjawab, ia hanya melangkah meninggalkan Changmin. Melihat kyuhyun yang mulai meninggalkannya, secepat mungkin Changmin mengejar Kyuhyun dan mengekori langkah Kyuhyun sambil tersenyum lebar.

.

Mobil sedan berwarna hitam metalic berhenti didepan sebuah bangunan sederhana dengan deretan motor dihalamannya. Kedua belah pintu belakang terbuka hampir bersamaan, dan dua pasang kaki berbalut celana hitam panjang serta sepatu kets keluar dari dalam mobil.

Salah satu dari mereka masih bertahan didepan pintu mobil dengan keadaan pintu yang masih terbuka, sedangkan yang lainnya sudah menutup pintu dan berdiri menghadap bangunan yang nampak seperti kantor.

"Untuk apa datang kesini?" tanya salah satu dari mereka yang masih berdiri didepan pintu mobil yang masih terbuka.

Yang ditanya tak memberi jawaban, matanya masih menatap lurus kearah bangunan. Terlihat sesekali ia menelan salipanya, terpancar kegelisahan dari sorot matanya yang sendu itu. Seolah mengatakan kalau hatinya tengah ia teguhkan.

"... hyun-ah... Kyuhyun-ah..." panggil orang itu lagi entah keberapa kalinya.

Kali ini Kyuhyun memutar kepalanya, ia menjawab pelan. "Wae?"

"Untuk apa kita kesini?" katanya lagi mengulang pertanyaan yang tadi tak kunjung Kyuhyun jawab.

"Jangan banyak tanya, kau ikut saja,"

Kyuhyun melangkah menuju pintu masuk dan meninggalkan Changmin. Sebelum langkah Kyuhyun semakin menjauh Changmin segera mengejarnya dan berjalan mengekor dibelakang Kyuhyun, ia tak berbicara sepatah katapun. Ia tahu Kyuhyun tak suka jika ada orang yang banyak bertanya padanya.

"Annyeonghaseo, ada yang bisa kami bantu?" sapa seseorang disana setelah Kyuhyun dan Changmin menginjakkan kakinya didalam bangunan.

Changmin melihat setiap bagian bangunan, ini kantor pengiriman barang ternyata.

"ye, aku mencari seseorang bernama Hwa Young, Ryu Hwa Young," kata Kyuhyun langsung.

Mereka disana saling menatap satu sama lain, begitupun Changmin yang nampak menautkan kedua alisnya.

"kau mencari Hwa Young?" tanya salah satu dari orang disana yang sepertinya salah satu pegawai.

Belum sempat Kyuhyun menjawab, sebuah suara menginterupsi. "Ada urusan apa kau dengan Hwa Young?"

Ternyata itu suara Boss. Boss menatap Kyuhyun dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu beralih kearah Changmin dan akhirnya berhenti pada sebuah mobil yang terparkir didepan kantor perusahaannya. 'Dia bukan haksaeng biasa' gumamnya dalam hati.

"Itu bukan urusanmu ahjussi, aku hanya perlu bertemu dengan Ryu Hwa Young," kata Kyuhyun dingin.

"Aku atasannya, dan kau datang kekantorku, jadi aku perlu tahu apa tujuanmu mencari Hwa Young," sanggah Boss tak mau kalah.

"ahjussi, kau tahu apa itu privasi?" balas Kyuhyun tajam.

Boss mengatupkan mulutnya, rahangnya mengeras tampak ia tengah menahan marah. "tentu aku tahu anak muda,"

"Kalau kau tahu tentu-"

"Kyuhyun-ah!" potong Changmin sedikit berteriak. Jika Kyuhyun dibiarkan ini akan menjadi masalah yang panjang, Changmin tahu benar watak Kyuhyun yang keras dan tak pernah mau kalah.

Kyuhyun mendelik menatap Changmin yang tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Sedangkan yang ditatap malah tersenyum semakin lebar atau meringis, mungkin.

"Geumanhae," gumam Changmin pelan sambil menarik lengan blazer Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus dan menghentakkan genggaman Changmin dilengan bajunya. Dalam sekali hentakkan pegangan Changminpun terlepas.

"ah, maaf sebelumnya. Apa disini benar tempat Hwa Young-ssi bekerja?" tanya Changmin sopan dan lalu sedikit mendorong posisi Kyuhyun kebelakangnya.

"Ye" jawab Boss ketus.

"Lalu dimana Hwa Young-ssi sekarang?"

"tentu saja bekerja."

"Apa aku bisa-"

"Boss! Aku pulang!" sebuah teriakan membuat semua mata tertuju kearah suara berasal.

"Neo?!" kembali suara itu berteriak dengan jari telunjuknya yang menunjuk tepat kearah Kyuhyun.

.

.

Melody indah mengalun, mengisi setiap penjuru rumah itu. Dentingannya terasa mengalir lembut seiring dengan tarian sepasang jemari kurus diatas deretan tuts piano yang usianya hampir sama dengan sang pemilik jemari.

Sementara itu sepasang mata menatap dari balik punggung sang pianis. Tangannya melipat didepan dada, senyumannya terlihat begitu ringan namun pancaran matanya berbanding terbalik dengan apa yang ia perlihatkan dari bibirnya.

Perlahan tanpa disadarinya, suasana menggiringnya pada sebuah keterpurukan. Tess... sungai kecil mengalir dari manik kelamnya. Sadarlah ia kalau pertahanannya mulai melemah.

Sebelum pemilik punggung itu berbalik, cepat-cepat ia mengusap pipinya yang basah. Dia tak boleh tahu kalau aku seperti ini.

Alunan indah itupun berakhir manis. Ia kembali melipat kedua tangannya didepan dada dan mengukir senyumnya, menghilangkan jejak-jejak kesedihan dari dirinya yang tadi nampak kentara.

"River flows in you..." gumamnya memecah keheningan.

Sipemilik punggung akhirnya berbalik, menampakkan wajah tirus namun tak terlihat garis rahang yang tegas disana.

"kau tahu?"

"Ey, kau merendahkan pengetahuanku." bibirnya menerucut imut.

Melihat itu lawan bicaranya hanya bergidik, bagaimana mungkin tubuh tinggi setinggi tiang listrik dan juga punya perut sixpack bisa beraegyo macam itu?

Ia melangkah mendekati kursi yang ditempati pianis amatir pavoritnya. Duduk dan menggeser paksa orang yang menempatinya terlebih dahulu.

"Aishh, Changmin-ah apa yang kau lakukan?! Aku hampir jatuh!" seru Kyuhyun sambil mempertahankan dirinya yang hampir terjerembab dilantai.

"Ehehe.. Mian," jawab Changmin diiringi kekehan garingnya.

"Karena kau sudah duduk disini, dan menyeredku, sebagai hukumannya kau harus memainkan sebuah lagu untukku."

Changmin menatap orang yang ada disampingnya lalu pandangannya beralih pada piano yang ada dihadapannya. "Dengan ini?" tanyanya meyakinkan.

"Tentu saja. Cha! Palli! Mainkan sebuah lagu untukku" kata lawan bicaranya dengan nada semangat.

"Kyuhyun-ah.. tapi aku.."

"Tidak ada tapi-tapian mainkan sebuah lagu untukku!" paksa Kyuhyun pada sepupunya itu.

Akhirnya Changmin mengalah. Ia menghadapkan kepalanya kearah deretan tuts piano. Terdengar nafasnya sekali berhembus kasar, jemarinya saling bertaut dan sedikit ia remas.

"Baiklah.." gumamnya pelan.

Tangannya mulai terangkat dan mendarat diatas deretan tuts piano. Perlahan, jemari Changmin mulai menari, nada-nada berbeda terangkai membentuk sebuah lagu merdu.

Lengkungan bibir Kyuhyun tercipta diantara lantunan melody yang Changmin mainkan. Kepalanya mengangguk mengiringi tempo lagu yang memang lambat namun begitu indah, ia menikmatinya.

Namun lantunan itu berhenti tiba-tiba ditengah lagu.

Kyuhyun menautkan kedua alisnya lalu lekat menatap Changmin yang duduk disampingnya.

"Changmin-ah.."

Mendengar panggilan Kyuhyun Changmin segera berbalik membelakangi Kyuhyun, kepalanya menunduk dalam hingga Kyuhyun hanya bisa melihat tengkuknya saja.

Kyuhyun meletakkan tangannya dipunggung Changmin, ia mengusapnya pelan.

Dibiarkannya Changmin dalam posisi yang sama, sementara tangan Kyuhyun masih setia mengelus punggung Changmin.

Beberepa saat mereka sama-sama tenggelam dalam hening, hingga akhirnya Kyuhyun buka suara memecah keheningan disana. "Waeyo?" ucapnya,

Changmin tak kunjung berbalik, mata Kyuhyun menangkap sebuah getaran dipunggung Changmin, hingga sebuah isakan terdengar sayup menembus telinganya. Mata Kyuhyun membulat dengan alisnya yang bertaut.

Ia menarik punggung Changmin paksa hingga menghadapnya. "Waegeuraeyo?" tanyanya sedikit tak sabar.

Changmin yang kini telah duduk menghadap Kyuhyun perlahan mengangkat kepalanya. Pergerakannya begitu lambat, terlihat seperti robot yang rusak.

Hingga akhirnya wajah Changmin telah terangkat sempurna, menampilkan mata sembab serta jejak air mata dipipinya, tak lupa hidungnya yang juga mulai memerah.

Kyuhyun mengerjap melihat saudaranya. Mulutnya terbuka hendak berkata namun belum sempat ia bicara suaranya terbekap cepat oleh sambaran suara Changmin pada indera pendengarannya.

"Kenapa kau harus melakukannya?!" teriak Changmin parau dengan sedikit bergetar.

Kyuhyun terdiam sejenak, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab, "Ini janjiku sejak sepuluh tahun lalu, kau tahu itu Changmin-ah..."

Mata Changmin yang berkaca-kaca menatap Kyuhyun intens. Ada pancaran rasa tak ingin percaya keluar dari matanya.

"Aku tahu, tapi bukan begini caranya" suara Changmin kian bergetar dengan lelehan air mata yang tak mampu ia tahan.

"Tak ada cara lain, aku harus membuatnya terbiasa dulu sebelum semuanya terlambat," kata Kyuhyun seraya menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan pandangannya yang mulai berkabut dari Changmin.

Rahang Changmin tampak mengeras, tangannya terkepal kuat.

"Terlambat? Terlambat apanya Cho Kyuhyun!" Bentak Changmin akhirnya.

Kyuhyun diam. Tengkuknya terasa panas karena menahan tangisnya agar tak pecah.

"Lihat?! Inilah yang aku benci darimu sejak dulu!" Bentak Changmin lagi, kali ini Kyuhyun mendongak, menatap Changmin yang mulai beranjak dari posisinya.

Kaki Changmin hendak melangkah namun harus tertahan karena tangan Kyuhyun menyambar dan mencengkeram pergelangan tangannya kuat.

"Mianhaeyo Changmin-ah..."

"Aku tak akan pernah memaafkanmu kalau kau masih tetap berpikiran seperti itu Kyuhyun-ah.."

Kyuhyun beranjak dari duduknya, berdiri menghadap Changmin yang tingginya beberapa senti diatasnya.

"Bukan keinginanku menjadi seperti ini, aku... aku hanya mencoba bersiap-siap jika sampai apa yang aku takutkan terjadi dalam waktu dekat," ucap Kyuhyun terbata-bata tanpa menatap Changmin yang berdiri dihadapannya.

"Kau bilang kau takut?" tanya Changmin sarkatis. "Baiklah kalau begitu jangan pernah memikirkannya lagi. Anggap kau baik-baik saja." Lanjut Changmin.

Kyuhyun mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Maniknya lurus menatap Changmin. "Tidak bisa Changmin-ah, kau tahu aku selalu takut setiap kali tertidur, bahkan berkedippun rasanya aku tak mau. Aku merasa mereka semakin dekat..."

"Berhenti Cho Kyuhyun!" Teriakan Changmin menggema disepenjuru ruangan besar nan megah itu. "Berhenti berpikiran kalau kau akan segera pergi!"

Teriak Changmin histeris hingga mengundang beberapa pelayan datang berlari untuk memeriksa bagaimana keadaan tuannya. Namun tak ada satupun dari mereka yang datang mendekat, mereka hanya mencuri pandang dari celah pintu dan jendela yang ada di ruangan tersebut.

Mendengar teriakan Changmin secepat mungkin Kyuhyun merengkuh tubuh tinggi Changmin kedalam pelukannya. Kali ini ia tak dapat menahan tangisnya, air matanya mengalir tanpa diiringi suara isakan.

Begitupun Changmin, tangisannya terdengar semakin keras dalam pelukkan Kyuhyun. Ia belum siap jika harus kehilangan Kyuhyun, ia belum siap jika harus berhenti mendengar alunan piano yang Kyuhyun mainkan. Ia belum siap...

.

.

Sepasang manik hitam memandang gerbang tinggi menjulang dihadapannya, beberapakali ia menelan salivanya paksa. Sebelah tangannya menggenggam tali ransel yang tersampir dibahunya, sementara tangannya yang lain menggenggam atau lebih tepatnya meremas Handphone berwarana merah muda.

Ia menghembuskan nafasnya kasar seolah meyakinkan diri kalau yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang salah.

Ia menyered dirinya mendekati gerbang, tangannya terangkat ragu menyentuh bel yang ada disudut kiri gerbang.

Haruskah aku menekannya? Atau tidak?

TBC