"Ting tong" suara bell terdengar setelah susah payah ia mengumpulkan semua keberaniaannya hanya untuk menekan bell rumah Si tuan muda.

"Ting tong" ditekannya bell sekali lagi karena tak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya.

"Ryu Hwa Young pabo! Harusnya kau tahu dia tak akan menerimamu sekarang, lihatlah jam berapa sekarang!" Hwa Young menggerutu sambil memukulkan kepalan tangannya dikepala. "Aishh…"

Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan lemas. Sepertinya pengorbanannya dengan datang malam-malam seperti ini sis-sia saja.

"Masuk.." tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya, matanya membulat setelah melihat pintu gerbang besar nan megah itu terbuka dengan sendirinya.

Hwa Young melangkah masuk dengan ragu. Pandangannya mengedar menyisir seluruh penjuru halaman megah yang jalannya kini tengah ia tapaki.

Bahkan halamannya lebih besar dibanding lapangan sepak bola yang ada didekat rumahku, pikirnya.

Kakinya terus melangkah hingga mencapai bibir pintu yang nampaknya sengaja dibuka oleh sang pemilik.

Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu, mungkin bisa disebut mengintip. Belum sempat ia menengadah, pandangannya sudah disambut oleh dua pasang kaki yang nampak jauh lebih panjang dan besar jika dibandingkan dengan miliknya.

Hwa Young mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang laki-laki tengah melipat tangannya didada dengan wajah yang… ah, ini seperti mimpi buruk. Wajahnya tampak sangat kesal dan marah. Sedangkan sipemilik sepasang kaki yang lainnya menatap Hwa Young dengan ramah, senyumannyapun berkembang begitu manis.

"Wasseo…"

Hwa Young segera menegakkan tubuhnya, ia tersenyum membalas senyuman Changmin yang menurutnya begitu manis dan terdengar ramah. Ahh… tanpa terasa wajah Hwa Young bersemu merah, bagaimana tidak? Dihadapannya ada seorang namja tampan yang tersenyum ramah dan menyapanya.

"Pengganggu"

Suara datar tertangkap oleh indra pendengaran Hwa Young kini pandangannya teralih pada seseorang yang nampak berdiri dengan angkuh. Wajahnya begitu dingin seperti kutub. Tak ada senyuman, tak ada sapaan ramah. Bahkan dengan seenaknya ia menyebut Hwa Young sebagai pengganggu?

Kyuhyun beranjak meninggalkan Changmin dan Hwa Young didepan pintu. Ia melangkah masuk kebagian rumah yang lebih dalam, ruang keluarga tepatnya.

Sementara Changmin sejenak menatap kepergian Kyuhyun dan lalu mengalihkan pandangannya kearah Hwa Young, ia tersenyum simpul seraya mempersilahkan Hwa Young untuk masuk.

Hwa Young mengangguk dan mulai menapaki lantai marmer yang nampak mengkilat itu. Matanya melirik kesegala arah. Dia benar-benar kaya, tapi kenapa rumahnya sepi sekali? Apa mereka hanya tinggal berdua?

Changmin mengekor dibelakang Hwa Young matanya tak lepas menatap punggung yang tertutup ransel dengan ukuran cukup besar itu.

Senyuman ramah yang tadi mengembang dibibirnya sekarang sudah tak nampak lagi, yang ada hanya pandangan sendu dengan bibir yang terkatup rapat. Semuanya sudah dimulai, ayo kita jalani skenariomu ini Kyuhyun-ah…

"Hwa Young-ssi silahkan duduk," Changmin mempersilahkan Hwa Young untuk duduk. Senyumannya yang tadi lenyap kini telah kembali, sepertinya ia sudah benar-benar siap untuk ber-akting sekarang.

Hwa Young menuruti perintah Changmin, ia duduk dikursi empuk sewarna tulang yang ada diruangan luas bercat putih dengan pernak-pernik mewah disetiap sudutnya.

Wajahnya nampak kebingungan, sejauh matanya memandang ia tak melihat Si tuan muda menyebalkan yang tak lain adalah Kyuhyun. Begitupun Changmin yang juga sama-sama mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kyuhyun, hingga Kim ahjussi datang menghampiri mereka.

"Ahjussi Kyuhyun-ie eodiya?" tanya Changmin pada Kim ahjussi.

Yang ditanya hanya tersenyum sembari menjawab "ada diruang piano, sepertinya membereskan note"

Changmin mengangguk paham lalu duduk berhadapan dengan Hwa Young yang sejak tadi hanya diam tak mengeluarkan suara apapun.

"Agasshi ingin minum apa?"

"Ye?" Hwa Young tampak tak fokus, bahkan ia sangat lambat saat menanggapi pertanyaan Kim ahjussi.

Melihat kecanggungan itu Changmin cepat menyela. "Bagaimana kalau coklat panas saja? Sepertinya cocok saat udara dingin seperti ini,"

Saat Hwa Young hendak mengangguk terdengar sebuah langkah mendekat. Mata mereka yang ada diruangan keluarga semua tertuju pada asal suara, hingga sang pemilik langkah terlihat dan berdiri diantara mereka.

"Aku ingin kopi" suaranya begitu datar dan angkuh. Ah, semua pasti tahu suara siapa itu.

"Coklat saja ahjussi, jangan buatkan dia kopi." Sergah Changmin. Kyuhyun yang sudah terduduk disamping Changmin menatap Changmin tajam.

"Kau pikir aku takut?" tantang Changmin. melihat itu Kyuhyun hanya mendengus lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.

ternyata dia bisa luluh juga…

Changmin mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun pada Kim ahjussi ia tersenyum lembut. "Buatkan kami tiga gelas coklat panas ahjussi…"

"Ye," ahjussi mengangguk lalu beranjak pergi kedapur.

Hwa Young hanya diam melihat pemandangan yang ada dihadapannya dengan pandangan yang seolah berkata. Keluarga yang aneh.

"Baiklah Hwa Young-ssi, sekarang kau ada disini. Itu berarti kau menyetujuinya bukan? ya, setidaknya kau harus berterimakasih karena aku masih dengan senang hati menerimamu walaupun ini sudah tengah malam."

Kyuhyun berkata cukup panjang dengan nada angkuhnya. Ya, khas seorang Cho Kyuhyun. Dan tak lupa penekanan yang ia lakukan di dua kata terakhir "Tengah malam". Siapa yang dapat menyangkal, apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar ini sudah tengah malam, lebih tepatnya tujuh menit sebelum tengah malam.

Pandangan tajam terlihat dari mata Hwa Young. Rasanya ingin ia maki dan pukuli orang yang kini tengah menatapnya remeh, tapi ia tak bisa, kalau sampai ia melakukannya sudah pasti keadaannya akan semakin memburuk. Ia akan dalam masalah yang jauh lebih besar lagi dibanding menjadi sopir pribadi selama dua bulan.

Sopir pribadi?

Oh, ya.. Ryu Hwa Young. Dengan kedatangannya ke kediaman Cho ini berarti sebuah persetujuan dari kesepakatan yang Kyuhyun ajukan.

Kesepakatan aneh sebenarnya…

Mana ada baju olah raga yang kotor di injak harus diganti dengan bekerja menjadi sopir selama dua bulan? Ini seperti kisah Cinderella! Hwa Young yang malang…

Ya, pemikiran itulah yang sejak kedatangan Kyuhyun siang tadi kekantor memenuhi otak Hwa Young. ini benar-benar tak masuk akal, tapi pada akhirnya Hwa Young menyetujuinya bukan?

Ia ingin menyangkal dan mengatakan Kyuhyunlah yang sebenarnya salah. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak punya bukti untuk menyatakan itu.

Sedangkan Kyuhyun?

Ia punya baju olah raga kotor dan juga saksi yang tak lain adalah teman-temannya yang melihat kejadian itu digerbang sekolah.

Dan dengan berat hati ia menyetujui semuanya. Dan disinilah ia sekarang, hanya tinggal menghitung detik hingga hari berganti dan itu berarti hari-hari di nerakanya akan segera dimulai.

Manik hitam Hwa Young mentap jarum jam yang berjalan begitu cepat baginya. Kyuhyun mengikuti arah pandang Hwa Young pada jam dinding yang bergantung manis didinding ruangan keluarga.

Sebentar lagi… semuanya akan berubah…

Gumaman batin mereka tanpa mereka ketahui berbunyi sama.

Lima…

Empat…

Tiga…

Dua…

Satu…

Suara jam berdentang menandakan waktu telah menunjukan tengah malam, bersamaan itu juga mereka bertiga terbangun dari lamunannya masing-masing. Helaan nafas terdengar begitu kentara keluar dari mulut Hwa Young.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari jam kearah Hwa Young, menatap manik bergaris tajam namun terlihat sayu itu lekat.

Begitupun Hwa Young, ia kembali menunduk dan lalu mengangguk. "gomawo telah mengijinkanku masuk padahal ini sudah tengah malam…"

Hwa Young kembali menghela nafas setelah berkata begitu lirih, bahkan Changmin menatapnya iba.

"Dan…" Hwa Young menggantung kalimat yang hendak ia katakan seraya mengangkat kepalanya perlahan.

Pandangan matanya yang tadi sayu mendadak berubah menjadi tajam. Tanpa terasa melihat itu Changmin dan Kyuhyun menelan salivanya bersamaan.

"Dan bisakah kau biarkan aku istirahat sekarang?! Kau tahu aku sangat lelah berjalan kemari apalagi ini tengah malam!" bentak Hwa Young setengah berteriak.

Changmin dan Kyuhyun hanya melongo melihat perubahan sikap Hwa Young yang begitu cepat. Dari puppy menjadi… entahlah, bahkan Hwa Young tampak jauh lebih menakutkan dibandingkan singa sekalipun.

Changmin melirik Kyuhyun yang masih termangu. Matanya berkedip lucu mencoba mencerna apa yang sebenarnya kini ada dihadapannya.

Jika Kyuhyun Evil King, maka tak salah lagi yeoja dihadapanku adalah Evil Queen! Changmin bergidik ketika memikirkan kedua orang yang kini ada didekatnya.

Seakan tersadar Kyuhyun meluruskan posisi duduknya. Matanya melotot dengan garis rahangnya yang mulai tampak mengeras.

Perang akan segera dimulai…

Changmin menatap Kyuhyun dan Hwa Young bergantian. Seperti di film kartun ia bisa melihat kilatan listrik yang keluar dari mata Kyuhyun dan Hwa Young.

Changmin menggelengkan kepalanya kuat, menepis bayangan aneh yang baru saja dilihatnya. Ia pasti sudah gila, darimana mereka punya kekuatan untuk mengeluarkan sengatan listrik dari mata mereka?

"Aishh…" Kyuhyun mendesis, dengan kasar ia bangun dari kursi. Matanya terus menatap Hwa Young tajam. "Kim Ahjuss! Tunjukan kamar pada perawan tua ini!"

Teriakan Kyuhyun menggema, Kim Ahjussi yang baru saja masuk keruangan dan menaruh tiga buah gelas coklat dimeja tersentak kaget.

"Ye, tuan muda…"

Setelah mendengar jawaban Kim Ahjussi, Kyuhyun melangkah kasar meninggalkan ruangan dan naik kelantai dua. Menuju kamarnya.

Hwa Young masih terpaku ditempat duduknya. Ia shock! Tentu saja, bagaimana tidak? Ada seorang anak berusia belasan yang berani menyebutnya perawan tua tepat didepan wajahnya sendiri?!

Tidak dapat dipercaya. Usia Hwa Young baru menginjak dua puluh tujuh tahun! Oh baiklah, sepertinya ia memang hampir masuk kedalam golongan perawan tua, lupakan.

"Agassi, mari ikut saya…"

Hwa Young mengangkat kepalanya setelah mendengar seruan lembut Kim Ahjussi, ia mengangguk lalu berdiri. Saat hendak melangkah ia baru sadar kalau ternyata Changmin masih ada disana, diruangan yang sama dengannya.

"Changmin-ssi?" panggil Hwa Young pada Changmin, entah mengapa rasanya tak sopan jika ia pergi begitu saja tanpa menyapa Changmin terlebih dahulu. Padahal jelas-jelas Changmin lebih muda darinya dan satu lagi ia ada dipihak Kyuhyun, musuhnya.

Seulas senyuman terukir dibibir Changmin, ia berdiri dari duduknya. "Ye, Hwa Young-ssi. Kau masuklah, ini sudah malam kau bilang kau butuh istirahat bukan?"

Hwa Young mengangguk, kembali pipinya bersemu merah seperti kelopak Cherry Blossom dimusim semi. Ah entahlah, apakah ini yang disebut Love at first sight?

Secepat mungkin Hwa Young mnegenyahkan pemikiran bodoh yang tiba-tiba saja berkeliaran dibenaknya.

Ingatlah Ryu Hwa Young! usianya berbeda sepuluh tahun denganmu! Kau lebih pantas menjadi eommanya!

.

.

Cicitan burung dari pohon cherry dan juga maple dipekarangan rumah kediaman keluarga Cho mengiringi aktifitas yeoja berambut hitam bergelombang yang tengah berkeliling dengan langkah kecilnya.

Ada pohon maple dan juga cherry, kenapa harus menanam keduanya? Bukankah Cherry saja cukup? Saat musim semi disini pasti sangat indah…

Hwa Young bergumam kecil. Matanya nampak berbinar tiap kali menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Bibirnya terus mengulum senyuman manis seraya bergumam dan mempertanyakan banyak hal.

Dilihat dari suasana yang masih sunyi, sudah jelas ini masih pagi buta. Tak ada seorangpun pelayan yang berkeliaran diluar rumah karena semuanya terfokus untuk mengurusi tuan mereka di pagi hari seperti ini.

Hwa Young berdecak, ia yakin kedua tuan muda dirumah ini pasti masih bergelung dalam selimut tebalnya. Apalagi pagi ini udara cukup dingin padahal ini masih pertengahan musim gugur.

Mengingat kedua tuan muda penghuni rumah mewah ini. Seakan tersadar akan yang ia pikirkan kemarin, pagi inipun Hwa Young kembali memikirkannya.

Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?

Hanya bertemankah? Atau mungkin kembar tak identik? Atau jangan jangan… mereka punya hubungan terlarang?!

Mata Hwa Young membulat, kenapa selalu dugaan aneh yang bisa ia pikirkan? Bukankah masih banyak alasan yang masih masuk akal?

Kembali ia tenggelam dalam lamunannya, memikirkan segala kemungkinan mengenai hubungan Changmin dan Kyuhyun.

"Aku sepupunya,"

Sekali hentak Hwa Young membalikkan tubuhnya kebelakang, menghadap asal suara. Disana berdiri sosok namja yang beberapa jam terakhir selalu membuat wajahnya bersemu merah. Tapi tunggu dulu, dia bilang apa tadi?

"Changmin-ssi?" entah ini pertanyaan atau bukan, yang pasti sudah jelas namja itu adalah Changmin dan Hwa Young masih bertanya?

Baiklah lupakan. Tampak kedua belah alis Hwa Young saling bertaut, pernyataan yang baru saja Changmin lontarkanlah yang membuat Hwa Young memandang takjub-atau mungkin aneh- pada seseorang dihadapannya.

Apa Changmin bisa membaca pikirannya? Bagaimana mungkin ia tahu kalau dirinya tengah mempertanyakan status hubungannya dengan Kyuhyun yang membuatnya penasaran setengah mati?

Perlahan Changmin melangkah mendekat. Bibirnya tak henti mengulum senyum, setelah jaraknya dan Hwa Young cukup dekat ia mengulurkan tangannya.

Hwa young menatap tangan itu semakin aneh, sungguh pria dihadapannya ini berbeda dengan Kyuhyun, dan satu lagi apa ia memiliki indera ke enam?

Sementara Changmin lekat menatap Hwa Young. tangannya yang sejak tadi terulur tak kunjung mendapat sambutan dari tangan Hwa Young, akhirnya Changmin menarik tangannya kembali ia menghembuskan nafasnya kuat.

Manik hitam Hwa Young mengerjap, ternyata ia baru saja sadar dari ketakjubannya pada Changmin yang ia pikir memiliki indera keenam itu.

Changmin mengalihkan pandangannya, entah mengapa melihat Hwa Young mengerjap dengan sepasang mata hitam bulatnya membuat wajah Changmin terasa panas.

Cukup manis untuk ukuran yeoja berusia dua puluh tujuh tahun…

"Changmin-ssi…" panggil Hwa Young, kali ini Changmin yang mengerjap. Ada apa dengan mereka berdua?

"Ah, ye…" Changmin tampak tersenyum kikuk, ia kembali mengulurkan tangannya.

Hwa Young menatap uluran tangan itu lagi, kepalanya ia miringkan kesebelah kanan seolah berpikir apa maksud dari uluran tangan Changmin ini.

Melihat tingkah Hwa Young terdengar kikikan kecil dari Changmin, ia tak pernah melihat seseorang yang bahkan tidak tahu apa maksud dari uluran tangan. Bukankah ini bukan sesuatu yang jarang terjadi? Semua orang normal pasti tahu apa maksud Changmin.

Karena tak juga mendapat respon, akhirnya Chagnmin menarik –sedikit paksa- tangan Hwa Young. ia menjabatnya dan menggoyangnya keatas kebawah beberapa kali. "Yoo Changmin imnida," kata Changmin antusias.

"Yoo Changmin?" ulang Hwa Young. Marga mereka berdua berbeda, jadi benar mereka hanya sepupuan saja…

Changmin mengangguk, ia kembali tersenyum. "Sekarang siapa namamu? Kita belum berkenalan secara resmi sebelumnya…"

Pentingkah berkenalan secara resmi? Sepertinya sudah cukup saling tahu nama saja bukan? Yah, Yoon Changmin benar-benar orang yang rumit.

"baiklah, Ryu Hwa Young imnida. Changmin-ssi berapa usiamu?"

Ini seperti perkenalan di dunia maya. Sungguh, apa mereka tak sadar denga usia mereka? Oh tidak, lupakan Changmin. ingat salah satu dari mereka hampir berkepala tiga!

"tujuh belas, dan usiamu dua puluh tujuh tahun? Benarkan?" baiklah Changmin mulai mengerahkan Indera keenam-nya lagi-mungkin- dan apa ia sengaja melakukannya? Ingin membuat yeoja dihadapannya kembali takjub dengan kemampun yang sebenarnya tak pernah ia miliki?

Baiklah, salahkan insting Changmin yang sangat kuat. Bahkan ia bisa menebak apa yang orang lain pikirkan hanya dengan melihat ekspresinya saja, mungkin karena sejak kecil ia selalu melatihnya?

Ya, ia selalu melatihnya. Mencoba membaca pikiran sepupunya yang selalu tertutup dan tak pernah mau mengatakan apapun yang ada dipikirannya. Itulah sebab utamanya mengapa ia memiliki kemampuan itu.

Bukan kemampuan membaca pikiran, hanya menebak apa yang ada dipikiran orang lain. Jangankan menebak pikiran seseorang yang mudah ditebak seperti Hwa Young. bahkan seseorang seperti sepupunya yang memiliki seribu topengpun bukan sesuatu yang sulit baginya.

Fajar itu mereka habiskan dengan bercakap-cakap bersama dipekarangan kediaman keluarga Cho, sementara sepasang manik sayu menatap mereka dari balik jendela dilantai dua. Wajah pucatnya nampak berseri seolah satu bebannya perlahan mulai terlepas.

"Gomawoyo Changmin-ah, kau melakukannya dengan sangat baik… bantu aku, hingga… semuanya selesai,"

.

.

Hwa Young terpekur memeluk lututnya. Setelah tadi pagi berjalan-jalan sebentar dengan Changmin di halaman belakang rumah, ia memutuskan kembali kekamarnya.

Kruyuukkk~

Ah… inilah yang sejak tadi ia tahan, cacing-cacing diperutnya mulai berdemo karena sejak kemarin malam ia belum memberi mereka makan apapun.

Semalaman ia harus mengemas barang-barangnya, belum lagi mengurus cuti di dua tempat bekerja tetapnya.

Ia semakin mengeratkan pelukannya dilutut. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus mencuri makanan? Hei, rumah ini tak sesepi yang Hwa Young duga sebelumnya, disini banyak pelayan yang berkeliaran. Kalau sampai ia memutuskan mencuri makanan bisa dipastikan ia akan langsung tertangkap basah. Ah, menyebalkan.

Pintu kamarnya terbuka perlahan sepasang manik sayu mengedarkan pandangannya hingga manik itu bertemu pandang dengan manik indah yang sejak tadi memandang gusar kesegala arah, Hwa Young yang kelaparan.

"Perawan tua," panggilan Kyuhyun terdengar menggema ditelinga Hwa Young, sungguh namja dihadapannya ini tak mempunyai sedikitpun sopan santun.

Tatapan tajam Hwa Young lemparkan tepat kearah Kyuhyun, lelaki yang sejak tadi berdiri diambang pintu kamarnya. Ia menghela nafas panjang, enyahlah rasanya hari-harinya akan benar-benar menjadi hari yang buruk dimulai sekarang atau tadi malam? Ah, entahlah. Kini Hwa Young mulai menyesali keputusannya.

Hwa Young mendelik lalu membuka mulutnya malas, "Wae?"

Tanpa mengindahkan tatapan tajam Hwa Young, Kyuhyun melangkah masuk kekamar Hwa Young. ia berdiri menghadap jendela membiarkan cahaya mentari pagi menerpanya, matanya memandang lepas kedepan, namun entah apa yang ia lihat.

Berkas sinar matahari menelusup diantara tubuh jangkung nan kurus milik Kyuhyun, bayangan tubuhnya jatuh dilantai dengan penggambaran yang amat sempurna.

Hwa Young menatapnya tanpa berkedip. Lelaki berperawakan jangkung dihadapannya kini nampak sempurna meski hanya berbalut celana panjang putih dipadukan dengan kaos tebal panjang sewarna biru langit.

Kulitnya yang putih pucat terlihat bersinar, begitupun rambutnya yang kecoklatan. Cho Kyuhyun…

"Sudah puas menatapku?"

Hwa Young segera tersadar, cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya sebelum Kyuhyun menangkap basah dirinya yang tengah menatapnya lekat. Ya, walaupun pada nyatanya Kyuhyun sudah tahu mengenai itu.

"Menatapmua?" Hwa Young mengarahkan jari telunjuknya kedepan hidung. Matanya terbelalak mendengar penuturan Kyuhyun yang amat percaya diri itu. "Aku? Kau bercanda, haha…" sangkal Hwa Young diiringa dengan tawanya yang terdengar garing.

Tubuh tinggi itu kini berbalik membelakangi jendela dan menghadap lurus kearah Hwa Young yang tengah menekuk lutut diatas tempat tidur. "terserahlah, aku tahu aku memang tampan,"

Seringaian berkembang ddibir pucat Kyuhyun, sipat aslinya yang memang jahil mulai keluar dan sepertinya sukses menghancurkan pagi 'indah' milik Hwa Young.

Hwa Young hanya mendengus dan memutar bola matanya malas. Sementara Kyuhyun ia nampak tersenyum kecil melihat tingkah yeoja dihadapannya. Childish.

"Perawan tua, kau tidak lapar?" tanya Kyuhyun pada akhirnya, sebenarnya inilah alasan utama kenapa ia datang kekamar Hwa Young pagi ini.

"Tidak!" jawab Hwa Young cepat, selapar apapun ia tak mau harga dirinya jatuh kali ini.

"Sungguh?"

"Aku bilang aku Tidak-"

Kruyukkkk~

Hwa Young mengernyit, ia merutuki cacing-cacing peliharaannya yang tak mau diajak kompromi. Dan sekarang terlambat, harga dirinya yang ia junjung tinggi-tinggi telah jatuh kedasar jurang paling dalam dan gelap. Bahkan Hwa Young tidak tahu lagi harus diibaratkan dengan apa harga dirinya itu sekarang.

Senyuman kembali berkembang dibibir Kyuhyun tatkala ia mendengar suara 'alam' yang berasal dari perut Hwa Young. Jika ia tak melihat wajah Hwa Young yang menahan malu, sudah bisa dipastikan ia akan langsung tertawa terbahak-bahak saat itu juga. Tapi nampaknya ia masih punya nurani.

"Aku tunggu dimeja makan!" Kyuhyun berjalan pergi sambil menahan tawa, sedikit lebih lama saja ia berada disana, tawanya pasti akan segera pecah.

Ryu Hwa Young bodoh!

.

.

Hari berganti, pertengkaran setiap hari sudah tak bisa dielakkan lagi. Baik itu pertengkaran antara Kyuhyun dengan Hwa Young, atau Kyuhyun dengan Changmin, dan bahkan Kyuhyun yang harus bertengkar melawan Changmin dan Hwa Young yang sering kali berada dalam satu kubu.

Rumah mewah yang dulu sepi dan terkadang hanya terdengar dentingan piano ataupun suara game saja kini berubah menjadi ramai, auranya yang dulu dingin perlahan mulai menghangat.

Setiap hari selalu ada tawa dan senyuman. Hwa Young yang ternyata hobi merawat tanaman kini punya tugas baru selain menjadi sopir, ia menjaga toko bunga milik keluarga Cho. Kata Kyuhyun dulu toko bunga itu dikelola oleh orang lain dan karena sekarang ia punya 'pesuruh' baru jadi ia melimpahkannya pada Hwa Young.

Awalnya Hwa Young menganggap itu musibah, tapi setelah ia menjalaninya. Ia sadar kalau ia menyukai hidupnya yang sekarang. Hidup bersama dua orang pemuda yang sama sekali tak memiliki pertalian darah dengannya. Namun terkadang ia tak mau mengakuinya. Apalagi kalau harus sampai beramah tamah dengan si tuan setan. Cih.

"Kyuhyun-ah, hari ini aku akan pulang kerumah dulu,"

"Imo… dia ingin bertemu denganmu?" tanya Kyuhyun ragu tanpa mengalihkan pandangannya dari makan siangnya yang masih utuh.

Changmin mengangguk, ia mulai memasukkan makanan yang ada dihadapannya kedalam mulutnya hingga mulutnya penuh. "Mmm.." Chagmin bergumam tak jelas ditengah aktivitasnya yang sibuk mengunyah makan siangnya.

Tangan Kyuhyun menyentuh sendok dan mulai mengaduk makanannya."Kapan kau akan pulang?" tanyanya.

Alis Changmin sebelah kanan terangkat dan lalu saling bertaut, nampaknya ia tengah berpikir. "Entahlah, tapi sepertinya aku hanya akan tidur dirumah malam ini saja…" setelah menjawab ia kembali memasukkan sendok yang telah terisi penuh kedalam mulutnya.

Kyuhyun tak memberi tanggapan, ia terus mengaduk makanannya malas. Harinya akan sangat membosankan jika tak ada Changmin bersamanya.

Bell tanda pelajaran berakhir telah berbunyi, semua siswa sibuk membereskan peralatan belajar mereka dan memasukkannya kedalam tas lalu berburu menuju pintu.

Begitupun Changmin yang juga membereskan peralatan belajar namun tidak dengan Kyuhyun. Ia masih duduk bersandar dengan malas dikursinya, matanya terus menatap pergerakan Changmin yang masih sibuk menata isi ranselnya.

"Kyuhyun-ah, cepatlah pulang. Mungkin noona sudah menunggumu didepan.." Noona, begitulah panggilan Changmin pada Hwa Young sekarang, jangan tanya bagaimana Kyuhyun menggilnya. Sepertinya Perawan Tua dan Si cerewet merupakan panggilan yang paling cocok untuk Hwa Young bagi Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat bahunya malas, ia bergumam pelan.

"Apa katamu?"

"Aku sudah memberitahunya untuk menjemputku nanti, aku masih mau mengerjakan ini.." tangannya terangkat menunjukkan buku tugasnya yang masih kosong.

Changmin mengangkat ranselnya dan menyampirkannya dikedua bahu tegapnya. Ia merapikan seragamnya sebentar. "Jangan terlalu lama, kalau sudah selesai segeralah pulang. Atau kau akan mendengar amukan ahjussi lagi… "

Kyuhyun tersenyum, ia mengangguk lemah. "Arra, cepatlah keluar atau kau juga akan mendengar amukan Samchon yang sangat dahsyat itu.."

"Hahahaha.. kau benar, aku pergi dulu." Kakinya melangkah meninggalkan Kyuhyun, lalu melambai dari balik kaca setelah ia berada di luar kelas.

Setelah kepergian Changmin suasana kelas menjadi sunyi, tak ada seorangpun diruangan itu. Hampir semua siswa sudah pulang dan hanya ada beberapa yang masih berlalu-lalang dilorong sekolah.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya kuat, seolah-olah dengan begitu semua bebannya akan terhempas bersamaan dengan nafasnya. Ia mengedarkan pandangannya lalu berhenti pada satu bagian ruangan yang tak lain adalah jendela yang tepat berada disampingnya.

Dilihatnya Changmin yang tengah melangkah lebar menuju gerbang sekolah, disana terparkir Sedan berwarna putih milik Yoo Sonsaengnim, Samchonnya.

Ia menatap pemandangan itu lekat hingga Changmin masuk kedalam mobil, dan benda beroda itu berlalu meninggalkan pelataran sekolah.

Kyuhyun tersenyum kecut. Angannya menerawang, membayangkan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.

Pulang sekolah bersama appa.

Harapannya tak muluk-muluk bukan? ingin sekali ia merasakannya walau hanya sekali seumur hidup.

Membicarakan banyak hal pada appa, membanggakan diri karena nilainya yang selalu sempurna, saling berbagi bagaiman cara menaklukkan wanita.

Ck. Hanya itu, Kyuhyun tak pernah meminta sebuah perusahaan, rumah, atau saham-saham yang tertanam dibanyak perusahaan besar. Ia tak pernah sekalipun memintanya.

Tapi Tuhan tampaknya tak mendengar harapannya, atau mungkin belum saatnya harapan itu terkabul?

Usianya yang kini baru menginjak tujuh belas tahun. Kyuhyun telah memiliki sebuah perusahaan besar walaupun bukan ia yang mengelola melainkan orang-orang kepercayaan ayahnya, belum lagi saham-saham diberbagai perusahaan yang appanya beli atas nama Kyuhyun.

Kyuhyun telah menerima semua itu sekarang, bukan berarti ia tak pernah menolaknya. Tentu saja dulu ia menolaknya mentah-mentah.

Tapi apa yang Tuan Cho Young Hwan yang terhormat katakan?

"semua itu untuk bekal hidupmu, aku tak mau lagi ikut campur dengan kehidupanmu. Jangan ganggu aku suatu saat nanti dengan alasan kau membutuhkan uang."

Seperti busur panah yang menancap tepat didada Kyuhyun, sakit. Itu benar-benar menyakitkan. Sebegitu bencinya kah appa pada dirinya? Bahkan ia tega mengatakan sesuatu yang menyakitkan seperti itu pada anak yang bahkan usianya baru saja menginjak empat belas tahun?

Kyuhyun terbatuk tiba-tiba, ia meremas dadanya lalu merogoh kantung dalam blazernya. Kini tangannya menggenggam botol bening berisi pil berwarna putih.

Ia sempat tersenyum ditengah ringisannya hingga akhirnya ia meneggak dua buah pil dari botol yang ada ditangannya.

Lucu, hidupnya benar-benar lucu. Bagaimana bisa ia hidup tergantung pada benda-benda berukuran kecil itu? Kadang ingin sekali ia melewati batasnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa sakit yang menyiksa.

Tapi ia tak bisa, masih banyak yang belum ia selesaikan. Ini bukan saat yang tepat untuk menyerah, ia harus bertahan sesulit apapun itu.

Bertahan untuk orang-orang yang menyayanginya. Bertahan untuk seseorang yang baru-baru ini menjadi salah satu sumber semangat hidupnya.

Salahkan ia yang mudah tergantung pada orang lain, salahkan dirinya yang mudah menyayangi siapapun yang ada disekitarnya.

Sejak beberapa hari terakhir, jantungnya mulai seringkali berdetak tak normal tapi tak menimbulkan rasa sakit seperti biasanya. Dan ini hanya terjadi jika ia tengah bersama yeoja yang kini hidup satu atap dengannya. Ryu Hwa Young Si perawan tua.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat. Pikirannya mulai melantur lagi, meracuni semua sel dalam tubuhnya hingga terkadang ia tersenyum-senyum sendiri.

Secepat mungkin ia beranjak, menyambar ranselnya yang ada diatas meja. Dan berlalu meninggalkan kelas. Ia tak boleh diam terlalu lama atau otaknya yang cerdas akan rusak karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak masuk akal-baginya-.

Kakinya kini melangkah dijalanan setapak yang ada ditaman kota. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana, telinganya tersumpal sebuah benda yang mengalunkan melody indah.

Langkahnya mengayun ringan, mengiringi tiupan angin lembut dimusim gugur, bersamaan itupula dedaunan sewarna coklat diatas kepalanya berjatuhan menghujani tubuh kurusnya yang nampak tersembunyi dibalik blazer hitam sekolah.

Menikmati hidup ala Cho Kyuhyun, sederhana. Beginilah Cho Kyuhyun yang sebenarnya, namja sederhana yang tak mempunyai sedikitpun obsesi pada benda bernama uang yang banyak orang agungkan.

Beberapa siswi yang berpapasan dengannya saling berbisik dan melempar senyum termanisnya. Ia tak tahu mereka dari sekolah mana, yang pasti bukan hanya dari satu sekolah, terbukti dengan seragam mereka yang beragam.

Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman simpul, Donghae hyung pernah berkata, tersenyumlah apaun yang yang terjadi. Mungkin karena itu ia tersenyum sekarang.

Maafkan aku hyung, aku tak pernah melakukannya … maafkan aku…

Kini kakinya melangkah disepanjang trotoar, hari ini ia benar-benar menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan.

Matanya yang sejak tadi terus menelusuri etalase-etalase toko yang menjual berbagai jenis barang, berhenti pada sebuah kaca besar yang menampilkan sebuah foto berukuran cukup besar.

Kyuhyun berdiri mematung disana, wajahnya yang datar menatap lurus benda yang terpisah kaca berukuran besar dari dirnya. Sebuah foto keluarga berisi empat orang.

Mungkin dua orang yang duduk itu adalah eomma dan appa mereka, lalu dua orang laki-laki yang berdiri dibelakang merupakan anak anak-anaknya. Senyuman orang-orang dalam foto itu terlihat bahagia, namja yang nampaknya berusia paling muda merangkul bahu ibunya yang duduk didepannya, sementara namja yang satunya lagi tersenyum ramah.

Aku tak punya satupun foto keluarga…

Setelah berdiri beberapa saat disana hingga menimbulkan tatapan aneh dari orang-orang yang berlalu-lalang, Kyuhyun memutuskan untuk pergi. Ia kembali melangkahkan kakinya, sudah berapakali ia mengasihani dirinya sendiri hari ini? Sungguh hidupnya menyedihkan.

Ia melirik arloji yang melingkar sempurna ditangannya, ternyata sudah jam tujuh malam. Sepertinya ia harus segera pulang atau Ahjussi akan mengamuk setibanya ia dirumah. Lagipula, hujan nampaknya akan segera turun. Sejak tadi sore memang cuaca sedikit mendung.

.

.

"Agassi kau sudah pulang?"

"Ye ahjussi," Hwa Young menjawab seraya tersenyum, lelaki paruh baya dihadapannya merupakan orang paling ramah dirumah ini selain Yoo Changmin tentunya.

Hwa Young melangkah hendak kekamarnya, namun langkahnya terhenti ketika langkah Lee ahjussi terdengar terburu-buru menuju kearahnya.

"Agassi, apa kau pulang sendiri?" nada suara Lee ahjussi terdengar cemas, Hwa Young menautkan alisnya tanda tak mengerti.

"Ne ahjussi, waeyo?"

"Kyuhyun, anni maksudku tuan muda Kyuhyun…"

"Kyuhyun? Dia belum pulang ahjussi?"

"Belum, aku pikir karena agassi belum pulang ia ada bersamamu.." ahjussi semakin khawatir, tidak biasanya tuannya pulang larut walaupun ini baru jam tujuh malam.

Hwa Young mengerutkan dahinya. Jelas-jelas tadi Kyuhyun mengiriminya pesan dan menyuruhnya untuk tidak menjemput, apa ia tak mengatakan itu pada ahjussi?

"Kyuhyun menyuruhku untuk tidak menjemputnya hari ini, karena itu seharian ini aku berada di toko bunga, Kyuhyun tidak mengatakan itu padamu ahjussi?"

Ahjussi menggeleng, kekhawatirannya semakin memuncak, apa yang harus ia lakukan? Kemana ia harus mencari Kyuhyun? Jangan dulu menghubungi Yoo Joon Sang atau semuanya akan semakin kacau karena pria itu akan jauh lebih cemas dibanding dirinya.

"Ah, ye… kalau begitu, agassi pasti belum makan malam.. aku sudah menyiapkannya di meja makan,"

Hwa Young mengangguk, ahjussi pamit pergi setelah menyuruhnya untuk segera makan malam. Ditatapnya punggung lelaki paruh baya itu yang kini mulai menjauh.

Hwa Young masih mengerutkan dahinya, otaknya mulai berputar. Kenapa ahjussi harus cemas seperti itu? Ini baru jam tujuh malam, lagipula Kyuhyun itu namja! Oh, satu lagi. kemana Changmin? apa ia juga bersama Kyuhyun? Kenapa ahjussi tidak bertanya soal Changmin?

Makanan yang ada di meja makan besar itu hanya ada satu porsi, satu mangkuk nasi, satu pasang sumpit dan juga sendok. Kursi yang ada diujung kosong, itu tempat duduk Kyuhyun. Kursi yang ada didepan Hwa Young juga kosong, itu kursi milik Changmin. Kyuhyun masih belum pulang dan Changmin pulang kerumah orang tuanya itulah yang Lee ahjussi katakan.

Hwa Young mengaduk makanannya malas, makan sendiri rasanya sepi sekali. Meski disini banyak pelayan, tapi hanya mereka bertiga yang selalu makan di meja makan besar itu. Ya, setidaknya Hwa Young sadar ia masih dianggap sebagai tamu dan tentunya sedikit dihormati dirumah ini, dengan di ijinkannya ia makan satu meja dengan sang tuan rumah.

Sejak kapan seorang Ryu Hwa Young tidak nyaman makan sendiri? Hanya dalam waktu dua minggu kebiasaannya perlahan mulai berubah. Padahal sepuluh tahun ia lalui seorang diri, melakukan segala hal sendiri. Dan sekarang ia mengeluh hanya karena harus makan sendiri?

Apa makanan enak disini telah mencuci otaknya? Sebelum ia tinggal dirumah ini, sebelum tidur ia selalu menangis karena merindukan kedua orang tuanya dan juga Hyun Hwa. Tapi sekarang? Ya, setidaknya ia tak menangis sebanyak dulu.

Makanan enak… makan malamnya malam ini juga enak, tapi nafsu makan Hwa Young telah menguap entah kemana. Ia sungguh tak bernafsu kali ini.

Hwa Young beranjak meninggalkan meja makan, nasi dimangkuknya hanya berkurang tak sampai seperempatnya. Ia harus menghubungi Kyuhyun sepertinya, ternyata tanpa disadarinya ia juga ikut mengkhawatirkan Kyuhyun apalagi diluar hujan cukup deras.

Jemari lentik miliknya menari diatas layar handphone berwarna putih, ia mengetik pesan dan lalu mengirimkannya pada Kyuhyun.

"Halte Bus? Kenapa tidak naik taksi saja.."

Itu suara Lee ahjussi, Hwa Young berjalan mendekati asal suara. Sepertinya ia tengah berbicara dengan seseorang.

Oh, Lee ahjussi sedang menerima telepon ternyata.

"tunggulah disana, aku kesana sekarang.."

Ahjussi menaruh gagang telepon ditempatnya. Ia menyambar kunci mobil dilaci nakas lalu bergegas menuju pintu depan hendak keluar, namun sebuah tangan mencekalnya. Ternyata itu tangan milik Hwa Young.

"Ahjussi mau kemana?"

"Oh, agassi… aku mau pergi ke halte bus.." ahjussi tampak terburu-buru menggunakan sepatunya.

"menjemput Kyuhyun?" tebak Hwa Young, ahjussi tersenyum seraya mengangguk.

Hwa Young tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia kembali mencekal lengan Lee ahjussi yang hampir menyentuh gagang pintu. "Ahjussi biar aku saja yang menjemput Kyuhyun.."

"Tidak perlu agassi, ini sudah malam. Lagipula berbahaya menyetir ditengah hujan seperti ini.. "

Hwa Young memutar otaknya, memikirkan alasan apa yang harus ia katakan agar Lee ahjussi menyetujui keinginannya untuk menjemput Kyuhyun.

"Aku mau ke mini market didepan sana, lagipula halte bus kan dekat jadi tidak perlu menggunakan mobil," Hwa Young bersikeras, rasanya sudah menjadi kewajiban baginya menjemput Kyuhyun walaupun sposisinya bukan sebagai sopir kali ini.

Melihat keteguhan Hwa Young, akhirnya ahjussi mengangguk. Dan ia tahu tuannya akan lebih senang jika Hwa Young yang menjemput, bukan dirinya. Ahjussi tahu benar bagaimana perasaan Kyuhyun pada Hwa Young meski seringkali Kyuhyun menyangkal dan tak pernah mau mengaku.

"Gomawo ahjussi," sergah Hwa Young sambil tersenyum lebar, ia segera berlari menuju pintu kamarnya dan keluar dengan menggunakan hoodie berwarna coklat yang telah membungkus tubuhnya.

Hwa Young berpamitan dan lalu keluar dengan menggunakan payung, dan tentunya satu buah payung lagi ditangannya. Tidak lucu jika harus menggunakan satu payung dengan Kyuhyun. Sudah bisa dipastikan saat sampai dirumah salah satu dari mereka pasti dalam keadaan basah kuyup.

Langkahnya sedikit lebih cepat, ia tak mau membuat Kyuhyun harus menunggu lama. Dan akhirnya ia hampir sampai di halte bus.

Kyuhyun ada disana, ia tengah menulis sesuatu dibuku bersampul hitam polos tanpa pernik apapun. Hwa Young menghentikan langkahnya, ditatapnya segala kegiatan Kyuhyun hingga Kyuhyun membalikkan tubuhnya kearah kanan hendak memasukkan buku tadi kedalam tasnya.

Mereka bertemu pandang, sadarlah Kyuhyun kalau tak jauh dari tempatnya, seseorang tengah berdiri mematung dengan payung transparan yang ia gunakan.

Hwa Young melanjutkan langkahnya setelah ia ketahuan menatap pemuda itu ditengah hujan.

"kau menjemputku?" tanya Kyuhyun setelah Hwa Young berdiri disampingnya, di halte bus.

"Menurutmu?" disodorkannya payung yang sejak tadi ia genggam pada Kyuhyun.

Setelah menggunakan ranselnya, Kyuhyun menyambut uluran payung dari Hwa Young. Tapi tak sedikitpun ia berniat untuk membukanya. Ia malah menarik bahu Hwa Young dan berjalan bersama menembus hujan dengan hanya satu payung yang mereka gunakan.

Hwa Young tersentak mendapat perlakuan seperti itu dari Kyuhyun."Ya! Apa yang kau lakukan?! Kau punya payung sendiri tuan muda!"

Tapi Kyuhyun hanya terkikik, ia melonggarkan rangkulannya pada tubuh Hwa Young. "Tidak mau!"

"Wae?! Cepat buka payungmu! Atau kau ingin kita pulang dalam keadaan basah kuyup?"

"Tidak dan tidak mau!" Kyuhyun tak mau kalah, ia tetap pada pendiriannya.

"Aishh, terserah! Keras kepala!" gerutuan Hwa Young membuat Kyuhyun ingin tertawa, benarkah gadis disampingnya ini berusia dua puluh tujuh tahun? Tidak dapat dipercaya.

Mereka berjalan bersama menembus hujan, bahu mereka mulai basah karena tidak terlindung sepenuhnya oleh payung yang mereka gunakan. Hwa Young berjalan menunduk, melihat percikan air yang mengenai sepatu putihnya.

Ia ingin menanyakan sesuatu pada Kyuhyun, tapi bagaimana jika kyuhyun tak suka ia menanyakan soal itu? Itu privasi, ia mengerti. Tapi tetap saja ia penasaran.

Kyuhyun menyimpan tangannya diatas kepala Hwa Young lalu menarik kepala Hwa Young hingga posisinya tidak menunduk lagi.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" sembur Hwa Young saat kepalanya terangkat.

"Kenapa kau berjalan menunduk seperti itu? Kau tidak takut menabrak sesuatu?"

Tidak, karena kau ada disini, disampingku.

"Aishh, turunkan tanganmu!" Hwa Young menggelengkan kepalanya kuat, mencoba menjatuhkan tangan kyuhyun yang ada diatas kepalanya.

Kyuhyun menurunkan tangannya, mereka kembali dilanda kesunyian.

"Kyuhyun-ssi," akhirnya Hwa Young buka suara, memecahkan keheningan diantara mereka.

"Hmm.." jawab Kyuhyun dengan gumaman pelan.

Kali ini Hwa Young menolehkan kepalanya pada Kyuhyun. "boleh aku bertanya sesuatu?"

Kyuhyun masih menatap lurus kedepan, tak dihiraukannya Hwa Young yang kini menatapnya. "katakan," ujarnya singkat.

"Begini, mm… sudah hampir dua minggu aku tinggal dirumahmu, dan… aku tak pernah bertemu anggota keluargamu selain Changmin, dan juga aku tak menemukan satupun foto keluarga dirumahmu," Hwa Young menghela nafas, melirik Kyuhyun yang berjalan disampingnya. "aku ingin tahu… dimana orang tuamu?" lanjut Hwa Young.

Kyuhyun tak lekas menjawab, ia menghela nafas beberapa kali. Bibirnya terasa kelu sekarang.

"Tak perlu dijawab kalau kau tidak mau…" kedua tangan Hwa Young bergerak kekanan dan kiri tanda bahwa tak apa jika Kyuhyun tak mau menjawab.

Pemuda itu kembali menghela nafas, tak apa kalau hanya memberitahukan keberadaan mereka. Tapi tidak kalau untuk memberitahukan masa lalunya. "Gwenchana, akan aku jawab…"

Tangan Hwa Young yang tadi terangkat perlahan mulai turun, ia menatap wajah Kyuhyun. Jelas terpancar keraguan diwajah pucat itu.

"Appa…" Kyuhyun mulai membuka mulutnya, "… dia ada di Amerika," lanjut Kyuhyun setenang mungkin, mencoba menahan perasaannya yang selalu tak karuan tiap kali mengingat appanya.

"sedangkan eomma… dia meninggal ketika melahirkanku,"

Hwa Young tersentak, bukan ini yang ingin ia dengar. Jika ia tahu kenyataannya seperti ini, ia bersumpah takkan pernah menanyakannya pada Kyuhyun. Takkan pernah.

"maaf, aku tak bermaksud…" serasa tercekat, suara Hwa Young hilang ditelan derasnya hujan. Bayangan keluarganya mulai berseliweran dibenaknya.

"Gwenchana," Kyuhyun tersenyum, ia hanya bisa tersenyum ketika mengingat semuanya.

"Jadi kau anak tunggal?" entah kesimpulan ini Hwa Young ambil darimana. Setelah sekuat mungkin ia menekan perasaannya, rasa penasaran kembali menderanya.

Kembali Kyuhyun menghela nafas. Ia tahu Hwa Young bukan tipe orang yang suka menyimpan apa yang ada dipikirannya, ia sudah bersiap jikalau Hwa Young bertanya mengenai ini. Dan ternyata ia benar-benar menanyakannya.

"Anni, aku punya seorang hyung… dia sebaya denganmu.."

Seperti mendapat udara segar, Hwa Young tersenyum mendengar penuturan Kyuhyun. "Lalu dimana dia sekarang?" tanya Hwa Young semangat.

"Dia…" perkataan Kyuhyun menggantung begitu saja, membuat Hwa Young menebak-nebak keberadaan hyungnya Kyuhyun yang sebaya dengannya. Jika melihat wajah Kyuhyun, ia yakin hyungnya Kyuhyun juga pasti tampan. Ya, Hwa Young akui, anak keras kepala disampingnya ini memang tampan.

"Dia sudah meninggal sepuluh tahun lalu, karena… kecelakaan,"

Udara serasa membeku, lagi Hwa Young menemukan kesamaan antara dirinya dengan Kyuhyun. Malang, kata itulah yang pertama kali terbersit dalam pikirannya mengenai keadaan keluarga Kyuhyun yang hampir sama persis dengannya, hanya saja bedanya Kyuhyun masih mempunyai appa sedangkan ia tidak.

Entah apa yang harus Hwa Young katakan sekarang, Hwa Young yang cerewet bisa juga kehilangan kata-kata. Air matanya hampir menetes andai saja ia tak memikirkan bagaimana perasaan Kyuhyun kalau melihatnya.

"nasib kita hampir sama Cho Kyuhyun," Hwa Young tertawa getir, ia menghela nafas pelan lalu melanjutkan kalimatnya. "Tapi kau lebih beruntung dariku, setidaknya kau masih punya seorang appa disampingmu.."

Appa? Disampingku? Ya, aku masih bisa melihat raga milik appa yang jauh disana… namun jiwanya? Aku tidak tahu…

Hujan semakin deras, lagi-lagi mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing. Hingga sebuah mobil melaju cukup kencang mengakibatkan genangan air yang ada dijalan terciprat hingga membuat tubuh Kyuhyun yang berjalan disebelah jalanan basah kuyup.

"Ya! Kalau menyetir hati-hati!" teriakan Hwa Young terdengar amat kencang, ia menukar posisinya dengan Kyuhyun. Dan sekarang ialah yang berdiri di sebelah jalanan.

"kau baik-baik saja?" Hwa Young tampak cemas melihat keadaan Kyuhyun yang basah kuyup, tapi tak lama setelah itu ia tertawa cukup kencang. Baginya Kyuhyun yang dalam keadaan basah seperti ini terlihat seperti anak anjing yang baru saja dimandikan.

"Ya! Kenapa kau tertawa?!" Kyuhyun menggerutu sembari menepuk-nepuk seragamnya yang sudah terlanjur basah dan kotor.

Hwa Young masih tetap tertawa, namja dihapannya ini ternyata bisa juga terlihat lucu. "Hahaha.. mian.. mian, kau baik-baik saja?"

"Baik apanya? Aku basah sekarang! Lagipula kenapa kau tertawa?!" Kyuhyun mengomel mengenai keadaannya, sedangkan Hwa Young mencoba menghentikan tawanya yang masih belum mau berhenti juga.

"Kau terlihat seperti anak anjing, hahaha…"

"Mworago?! Anak anjing?! Kau menyebutku anak anjing?!"

.

.

Hwa Young berjalan menuju meja makan , tapi ia tak menemukan siapapun disana. Bahkan disana juga hanya ada satu mangkuk sama seperti tadi malam. Dimana Kyuhun?

"Chogiyo, Yoon Hee-ssi," panggil Hwa Young pada salah satu pelayan. Dia Kim Yoon Hee salah satu pelayan tetap dirumah ini.

Yoon Hee berlari kecil menghampiri Hwa Young yang berdiri disamping meja makan. "Ne, ada yang bisa aku bantu?"

"kemana Kyuhyun? Kenapa hanya ada satu porsi sarapan di atas meja?"

"Tuan muda demam sejak tadi malam…"

"Demam?"

Kyuhyun demam?

Setelah mendengar penuturan Yoon Hee, ia berjalan atau lebih tepatnya setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Lantai tempat kamar Kyuhyun berada.

Kakinya menapak dianak tangga terakhir, sepasang kakinya yang tadi berjalan cepat kini melangkah ragu. Haruskah ia menemui Kyuhyun sekarang? Kenapa ia harus secemas ini?

Ketika ia hampir mencapai daun pintu kamar Kyuhyun, ia hanya diam berdiri diasana, menatap pintu itu seolah tengah mempertimbangkan sesuatu.

Ketuk…

Tidak…

Ketuk…

Tidak…

Ketuk…

Tiba-tiba saja pintu dihadapannya berdecit dan terbuka perlahan. Mata Hwa Young terbelalak dan reflek ia membalikkan tubuh dan berlari kearah tangga.

"Perawan tua!"

Suara parau dan sedikit serak namun tetap terdengar berat. Hwa Young kenal betul suara siapa itu. Oh, dan satu lagi. Siapa yang selalu memanggilnya perawan tua dirumah ini? ini bukan tebakkan yang sulit, bahkan orang paling bodohpun pasti tahu siapa itu.

Cho Kyuhyun.

Hwa Young membalik tubuhnya yang tengah berdiri dianak tangga kedua dari atas. Ia tersenyum kikuk dan salah tingkah karena ketahuan berdiri di depan kamar Kyuhyun oleh sang pemilik.

Apa yang harus aku lakukan? Bodoh! Bodoh!

"Ehehehe…" tawa Hwa Young terdengar hambar, entah untuk apa ia tertawa. Mungkin menutupi kegugupannya.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, tangannya terlipat didada. "Kenapa tersenyum? Ada yang lucu?"

"Obseoh! Ehehe…"

"Kau aneh Ryu Hwa Young, untuk apa kau berdiri didepan pintu kamarku tadi?" selidik Kyuhyun. Menyenangkan baginya membuat Hwa Young salah tingkah dan tersudut, seperti hiburan tersendiri dipaginya yang cukup buruk ini.

Oh ya, ini hari yang buruk. Semalaman ia tak bisa tidur karena tubuhnya menggigil dan terasa sakit, tapi penderitaannya berakhir pukul tiga lewat lima belas menit tadi, tepat saat Choi Siwon dokter pribadinya datang dan membuatnya bisa tertidur pulas.

Tapi bukan berarti semuanya membaik secepat membalikkan telapak tangan. Ketika bangun ia merasa tubuhnya melayang, seperti kehilangan kendali, kedua tangan dan kakinya tak bisa diangkat. Karena itu pula ia sarapan dikamarnya pagi ini, tapi ia rasa sekarang sudah lebih baik.

Tanpa sadar Kyuhyun menghela nafas, matanya menerawang entah apa yang ia lihat.

"…Kyuhyun-ssi…" panggil Hwa Young entah yang keberapa kalinya. Ketika ia menjelaskan berbagai macam alasan mengapa ia bisa berada didepan kamar Kyuhyun dimulai dari berolah raga sampai mengejar tikus. Dan setelah lelah mengarang bebas, ia sadar Cho Kyuhyun tidak mendengarkannya.

Malangnya Hwa Young, usahanya untuk berbohong benar-benar tak mendapat tanggapan. Ia menemukan Cho Kyuhyun melempar pandangan kosong kearah lain. Pandangan sedu yang kerap kali Hwa Young lihat diraut pucat itu.

Seakan tenggelam dalam manik hitam Kyuhyun. Hwa Young ikut terdiam, namun tangannya terangkat tanpa ia sadari. Menyentuh lembut lengan Kyuhyun yang terjuntai bebas disamping tubuhnya.

Kyuhyun terperangah. Apa arti sentuhan ini? matanya membulat sempurna namun ia sama sekali tak menolak sentuhan jemari Hwa Young dilengannya. Sentuhan lembut itu begitu hangat dan ia rindukan. Apa sentuhan eomma sehangat ini dulu?

"bahkan tanganmu terasa panas…"

Tiba-tiba Hwa Young bersuara. Jemari lentiknya sedikit memijat tangan Kyuhyun yang kini ada digenggamannya. Rasa hangat menjalar di sekujur telapak tangannya, ia sadar Kyuhyun benar-benar tengah sakit sekarang.

Mata Hwa Young terasa memanas. Tiba-tiba angannya melayang, ia teringat Hyun Hwa-nya. Jika Hyun Hwa masih ada sekarang, ia pasti sudah sebesar Kyuhyun. Hyun Hwa-nya yang tampan, warna kulitnya hampir sama dengan Kyuhyun hanya saja lebih merona tidak pucat seperti namja dihadapannya ini.

Ia juga pasti tumbuh setinggi Kyuhyun. Kemampuannya bermain piano dan juga biola, Hwa Young yakin sudah mencapai tingkat mahir sekarang. Hyun Hwa-nya yang tampan. Andai ia masih bersamanya sekarang…

Air mata mengalir di pipi Hwa Young, ia terlalu dalam tenggelam dalam lamunannya. Secepat mungkin ia hapus air matanya dengan tangannya yang bebas, sementara tangannya yang tadi menggenggam tangan Kyuhyun ia lepas setelah tersadar ia terlalu lama menggenggam tangan pucat itu.

Mereka tampak canggung satu sama lain, sementara Kyuhyun lekat menatap Hwa Young yang tiba-tiba saja meneteskan air mata setelah terdiam cukup lama. "Gwenchana?" jelas terdengar nada cemas disana.

Hwa Young tampak mengusap kedua tangannya, Kyuhyun pasti menganggapnya aneh karena tiba-tiba menangis dihadapannya. "Gwenchana.." senyuman berkembang di bibir Hwa Young seraya menjawab. "Tunggu dulu, harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kau baik-baik saja?"

TBC