CHAPTER 3: Worse Scene Ever

Tao pov

Salah satu hal paling tak kusukai dalam hidup adalah, bangun pagi-pagi sekali. Tak ada alasan khusus untuk ketidak-sukaanku itu. Bahkan banyak orang bilang, alasan kenapa bagian bawah mataku hitam adalah karena kebiasaan tidurku yang tak sehat. Padahal itu tak ada hubungannya sama sekali. Bangun pagi atau siang, bagian bawah mataku ini akan selamanya hitam!

"Tao-ssi, ayo cepat bangun!" seru D.O lagi di telingaku. Dan demi Tuhan, aku benci dibangunkan pagi-pagi.

Aku mengerang tak jelas. Berusaha tak mengindahkan panggilan D.O, dan terus memejamkan mata.

"Kudengar mereka akan memberi tugas tambahan bagi tahanan yang bangun kesiangan," tambah D.O.

Sekali lagi, aku mengerang, dan kembali tertidur. Kali ini bahkan tak lupa menutupi kepalaku dengan bantal, agar suara nyaring di sebelahku tak terdengar.

Sekitar 2 menit setelahnya, baru kudengar helaan napas panjang D.O disertai langkah kakinya yang semakin menjauh. Sepertinya teman sekamarku itu sudah angkat tangan dengan kebiasaan pagiku yang buruk. Dan itu bagus. Dengan begitu aku dapat meneruskan mimpiku dengan tenang.

***
"Bangun! Dasar pemalas!" sebuah teriakan keras tiba-tiba membangunkanku dari mimpi. Tapi itu tak cukup mampu membuatku benar-benar terjaga.

Kudengar lagi teriakan-teriakan keras dan kasar itu. Namun beberapa saat kemudian, hening.

Kukira aku sudah benar-benar aman.

Lalu...

Byuur!

Kurasakan air dingin memenuhi seluruh wajahku, dan seketika aku terbangun. "Apa yang kau lakukan!" teriakku marah seraya bangun dari ranjang.

"Aku yang seharusnya berkata demikian! Kau pikir penjara tempat untuk bermalas-malasan? Hah!? Cepat bangun!" kulihat seorang sipir berteriak marah padaku.

Ada apa ini? Siapa di...

Oh! Bagaimana aku bisa lupa kalau kemarin aku baru masuk penjara?!

"Cepat bergegas dan ikuti aku!" seru sipir penjaga itu.

Walau masih pusing dan kesal, tapi mau tak mau aku langsung mengikutinya keluar dari sel.

Sipir yang tak kukenal itu membawaku turun ke lantai satu. Di lantai satu, kami berjalan ke arah barat, lalu menemukan lorong yang cukup besar di sana. Kami memasuki lorongnya, dan aku menemui beberapa orang berseragam tahanan sedang menyapu atau mengelap lantai.

"Tak usah banyak lihat! Cepat jalan!" seru sipir galak di depanku. Aku mengangguk lemah, lalu kembali mengikuti instruksinya untuk bergerak cepat.

Setelah menelusuri lorong sekitar 7 menit, sipir itu berhenti tepat di depan sebuah ruangan.

"Ini kamar mandi barat di lantai satu. Aku ingin kau membersihkan ruangan ini sampai bersih! Nanti siang aku mengecek lagi. Jika nanti kulihat tuangan ini masih kotor, kau tak akan diberi makan siang hari ini!" tanpa menunggu jawabanku, petugas sipir itu lalu melenggos pergi begitu saja.

Dengan malas, kulihat kamar mandi yang harus kubersihkan. Kuharap kondisinya cukup baik sehingga aku tak harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membersihkannya.

Tapi harapan tinggal harapan. Ruangan yang kukira sebesar ruang kamar mandi di wc umum, ternyata jauh dari bayangan. Kamar mandi ini hampir 10 kali lebih besar dari kamar mandi biasa.

Pemandangan pertama saat kau lihat kamar mandi ini adalah, jejeran pispot yang berjumlah sekitar 20-an di dinding bagian kiri, lalu di ujungnya terdapat washtafel yang juga cukup panjang. Lalu di bagian kanan, terdapat sekat-sekat tempat shower yang juga berjumlah di atas 10 buah. Juga di pojoknya, terdapat sekat kecil berupa wc tertutup.

Dan yang membuatku ingin mati saat ini juga adalah... Kondisi ruangan yang sangat kotor!

Banyak puntung rokok bertaburan di lantai yang basah. Lantai yang kotor, tulisan-tulisan di dinding dengan bahasa kotor yang akan menyakiti mata yang melihatnya, dan yang paling parah... Saat kutengok sekat berupa wc tertutup di pojok, ku temukan sesuatu yang sangat jorok di lubang wc-nya. Sebenarnya aku malas dan tak sanggup mengatakannya. Tapi, sesuai dengan apa yang kalian pikirkan. Itu kotoran manusia. Dan tolong jangan minta kudefinisikan bentuk juga hawa sekat itu. Aku tak akan sanggup.

Lebih baik aku mati. Itulah kalimat yang sedari tadi terbayangkan dibenakku.

Bagaimana aku dapat menyelesaikan tugas si sipir sialan itu sampai siang? Ini super tak mungkin mengingat kondisi kamar mandi yang begitu mengenaskan.

Hah... Tau begini, aku seharusnya mendengarkan D.O untuk bangun tidak kesiangan. Hah.. Aku harus bagaimana sekarang? Demi Tuhan, tak mungkin aku dapat membersihkan ruangan terkutuk ini sendirian! Sekali lagi, tak mungkin!

"Ini perlengkapan yang kau butuhkan untuk membersihkan kamar mandi! Cepat laksanakan!" seru sipir sialan itu seraya meletakkan ember, lap pel, dan alat lainnya di lantai.

Kulirik perlatan-alatan nista itu dengan tajam.

Sekali lagi, aku berpikir kalau mati saat ini lebih baik daripada mengerjakan pekerjaan tak mungkin seperti ini.
"Apa ini tidak keterlaluan? Mana mungkin aku bisa menyelesaikan semuanya sendirian?" ujarku lemah.

"Itu masalahmu. Aku tak mau tahu. Lagipula, sejak awal ini memang hukuman bagi yang kesiangan. Kau tahu maksud hukuman kan? Agar membuatmu jera! Tak usah banyak pikir! Cepat lakukan!" teriaknya marah. Dan setelah itu, seperti biasa sipir sialan itu langsung pergi meninggalkanku seorang diri.

Aku meratapi nasibku. Rasanya, sejak memasuki jeruji besi, sudah terlalu banyak nasib sial menimpaku.

Malas-malas, kuhampiri peralatan kebersihan itu, lalu memulai hukumanku dengan berat hati.

Sekitar 2 jam setelah aku memulai hukuman, kurasakan sebagian besar kamar mandi sudah membaik dan cukup kinclong. Aku tentu bangga dengan hasil kerja kerasku. Tinggal setengahnya lagi, lalu aku bisa istirahat. Aaah..
Ternyata jika sudah dijalankan, tidak sesulit yang ku pikirkan.

Saat sedang senang-senangnya kupandangi lantai kinclong hasil jerih payah, tiba-tiba sepasang kaki bersepatu kotor datang, dan membuat si kinclong ternodai.

Kulihat siapa pemilik kaki sialan dengan sepatu sialannya itu. Seorang pria muda jangkung berwajah kalem, yang entah kenapa kurasakan aura mengancam darinya.

Jujur aku lumayan takut dengannya. Tapi... Si sialan itu tiba-tiba mendatangi salah satu pispot yang sudah kubersihkan, lalu mengangkat sepatunya di mulut pispot, dan kembali mengotorinya. Selesai dengan itu, ia lalu menurunkan kakinya, lalu, ia membuka seleting celananya, dan... Kau tahulah apa...

Setelah melaksanakan tujuannya, ia hendak keluar langsung keluar dari ruangan. Tapi sebelum itu terjadi, aku menyegahnya dengan memegang bahunya dari belakang.

"Sialan! Jangan datang terus mengotori pekerjaanku begitu saja! Kau harus tanggung jawab!" seruku padanya sambil membalikkan tubuhnya, agar menghadap padaku. Saat itu bagru aku sadar sesuatu. Si songong ini ternyata sangat tinggi. Padahal aku sendiri cukup tinggi, tapi pria dihadapanku bahkan lebih tinggi dariku.

"Apa peduliku. Bersihkan lagi saja," jawabnya santai.

"Tentu saja kau harus peduli! Aku sudah capek-capek memberaihkannya, dan dalam sekejap saja kau mengotorinya! Kau harus bertanggung jawab! Bersihkan lagi!" aku berteriak frustasi.

Bukannya minta maaf atau mengakui kesalahannya, pria di depanku malah tersenyum sinis, dan malah mempertanyakan sesuatu yang tidak penting padaku.
"Apa kau baru masuk penjara kemarin?"

"Hah?"

"Kau berani berbicara kasar begitu padaku. Itu artinya kau tak tahu aku, dan kau anak baru. Benar begitu, kan?" tanyany lagi dengan nada menyelidik.

Oh-owh! Sepertinya aku berurusan dengan orang yang cukup sulit sekarang. Tapi, bukankah kemarin Kai mengatakan bahwa hanya 2 orang yang betul-betul harus kujauhi. Kalau tak salah, namanya Kris dan Park Channyeol. Dan... Bukankah kalau di film-film, pemimpin penjara biasanya orang tua berotot dan berwajah galak?

Jadi intinya... Anak muda seperti orang di depanku itu tak mungkin salah satu dari dua oorang paling berbahaya dan berpengaruh di penjara ini. So, aku tak perlu merasa takut dengannya.

"Aku tak butuh tahu siapa dirimu! Yang penting, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada hasil kerja kerasku! Kalau tidak, aku tak akan segan-segan memperlihatkan kehebatan kungfuku!" bentakku padanya.

Lalu, senyum sinis itu tersungging lagi di bibirnya.
"Hooo jadi kau menantangku?" tanyanya penuh penekanan.

Aku mengangguk yakin. "Terserah kalau kau berpikir begitu. Tapi kuingatkan, aku benar-benar kuat!"

"Benarkah? Kebetulan sudah lama aku menunggu orang kuat menantangku."

Aku melakukan kuda-kuda, lalu dengan cepat ku hantamkan pukulanku ke arah dadanya. Namun sebelum tinjuku mengenainya, tiba-tiba kulihat tubuhnya mengelak dengan cepat. Dan entah bagaimana caranya, ia tiba-tiba berada di belakang tubuhku.

Tangan orang itu lalu mengunci tanganku dari belakang, dan mendorong tubuhku ke dinding.

"Aargh!" aku mengaduh kesakitan saat tembok mengenai pipi kananku dengan keras. Kurasakan tanganku masih terkunci dengan tangannya, dan tubuhku tak bisa bergerak karena tergencet tembok dan tubuh orang itu.

"Wow! Kupikir kau lumayan lucu saat berteriak keaakitan seperti itu.." bisiknya tepat di telingaku.

"Lepaskan aku, sialan!" teriakku sambil meronta.

"Dan wajahmu juga lumayan. Kau tahu, dari pada menghajar tubuhmu dari depan, aku lebih suka melakukannya dari sini." selepas mengatakan hal itu, kuarasakan tiba-tiba lututnya bergerak di antara kakiku, dan berhenti tepat di selangkanganku.

"Kau! Apa yang kau lakukan! Itu menjijikan!" seruku keras.

"Kau tak akan tahu jika tak mencobanya. Mungkin saja kau akan menyukainya, bukan?" ucapnya dengan nada suara yang entah mengapa kuartikan sebagai desahan.

"Ka.. Kau tahu ini salah kan? Sebelum kau kelepasan, ayo lepaskan aku!" ujarku histeris.

"Begitukah? Tapi aku tak masalah jika kelepasan."

"Tapi aku tak mau!" teriakku akhirnya.

"Aku tak memberi pilihan, sayang." dan setelah kata-kata menjijikan itu, ia tiba-tiba menarik tubuhku, lalu mendorongku masuk ke salah satu bilik shower, lalu pintu hikik dikunci dari luar.

"Apa yang kau lakukan!"

"Bersenang-senang denganmu."

Tbc.

P.S : Karena aku baru nulis cerita yaoi, aku minta pendapat kalain. Untuk next chap, kalian lebih milih aku nulis bagian 'itu' taoris walau gak jamin bagus, apa aku skip aja? di tunggu jawabannya...