Tao Pov

Seringaian licik tersungging di bibirnya, dan aku merasa bahwa posisiku benar-benar terpojok sekarang. Orang itu terus berjalan mendekatiku. Aku berusaha mundur agar memberikan jarak sejauh-jauhnya dari orang itu. Tapi, punggungku sudah mengenai dinding di belakang.

Itu artinya aku tak bisa mundur lagi, sedangkan ia masih dapat mendekatiku.

Aku tak tahu harus bagaimana sekarang. Orang itu jelas lebih kuat dariku. Terbukti dengan kekalahanku tadi. Lalu sekarang aku harus bagaimana?

"Dilihat-lihat lagi, wajahmu bahkan lebih dari lumayan." Ujarnya pelan saat ia sudah benar-benar ada di hadapanku. Lalu dengan lihainya, ia menaruh tangan kanannya di dinding tepat di sebelah kiri telingaku. "Aku tak sabar ingin mencicipinya..." tambahnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.

Risih dengan perlakuannya, kuputuskan untuk menundukan kepalaku dalam-dalam dan memejamkan mataku. Berharap semua kesialan yang menimpaku adalah murni sebuah mimpi, dan saat membuka mata, orang itu tak akan ada di hadapanku.

Tapi sebuah sentuhan kecil tiba-tiba kurasakan di area daguku. Lalu perlahan, sentuhan yang kuyakin sebuah tangan itu mengangkat daguku, dan sebuah sentuhan lain mendarat di bibirku.

Aku tahu apa yang terjadi. Tapi aku menolak untuk percaya. Aku akan tetap memejamkan mata, dan seolah hal yang dilakukannya bukanlah apa-apa. Benar! Seharusnya aku tak menganggapnya. Berpura-pura tidur saja.

"Buka matamu," perintahnya.

Aku tak membalas ataupun mematuhinya. Yang kulakukan hanya terus memejamkan mata dan diam di tempat.

"Aku hanya akan meminta dengan baik-baik selama dua kali. Jadi sebelum kau menyesal, buka matamu," perintahnya lagi dengan nada yang lebih tajam.

Akal sehatku berkata untuk mengikuti apa yang disuruh lelaki di depanku. Tapi harga diriku dan nuraniku berkata sebaliknya. Jujur saja saat ini aku cukup kebingungan. Apa yang harus kulakukan?

Tapi karena rasa bingung itu juga membuatku tetap terdiam dengan mata terpejam.

"Hoo... Kau benar-benar menantangku," serunya dingin.

Lalu tiba-tiba sebuah tonjokan keras bersarang di perutku, dan otomatis mataku terbuka karena sakit yang menjalar. "Aaaaaaaaarggh!"

Tak membuang waktu, aku langsung mengaduh dan memegangi bagian perutku yang ditonjok.

"Aaaarg... Sakit!" seruku mengaduh. Tapi belum selesai rasa sakitku, tangan kanan pria itu lalu mendarat di leherku, kemudian mendorongnya dengan kuat. Sehingga kurasakan kepalaku membentur dinding di belakang dengan cukup keras.

"Kau seharusnya tak membuatku kesal seperti ini.." serunya dengan tatapan sinis.

Tangannya masih kuat mencengkeram leherku seakan ia benar-benar ingin membunuhku. Tanpa perlu berpikir panjang, kupakai kedua tanganku untuk melepaskan cengekeramannya. Tapi hasilnya nihil. Bukannya terlepas, cengkeramannya bahkan jadi jauh lebih kuat.

Lalu kurasakan sesak menyerang dadaku. Pasokan oksigen di tubuhku menipis. Dan pandanganku mulai menggelap.

'Apakah pria ini berniat membunuhku?!' pikirku kacau.

Sesaat sebelum kuyakini akan meregang nyawa, cekikan tangannya berhenti, dan kemudian melepaskanku begitu saja. Seketika, aku langsung mencari-cari udara, dan kupikir hidupku tertolong saat itu.

"Jangan membuatku membunuh orang hari ini. Dan biarkan aku melakukan apapun yang kusuka denganmu," ucapnya dingin di telingaku. Aku yang cukup ketakutan, hanya bisa mengangguk lemah.

Setelah mendapat anggukan pasrahku, wajah orang itu lalu mendekatiku, dan bibirnya kembali menyentuh bibirku. Lama-kelamaan, bibir orang itu membuka, dan sesuatu keluar dari mulutnya. Kemudian 'sesuatu itu' mencoba membuka bibirku yang menutup. Tapi aku tetap terdiam dan berusaha kerasa agar bibirku tak bobol begitu saja.

Dalam hitungan detik, pria itu melepaskan ciumannya, lalu kembali memerintah. "Buka mulutmu."

Jujur aku enggan melakukannya. Tapi apadaya? Aku lebih tak mau mati mengenaskan di sini. Tak menunggu lama, akhirnya kubuka bibirku, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, pria itu kembali menciumku. Kali ini lebih panas, dan jauh lebih menyulitkan. Lidahnya masuk ke dalam mulutku. Seakan menjadi penguasa baru di sana, lidah itu lalu menelusuri dan membolak-balikkan milikku dengan seenaknya.

"Engh... Hmmmp... Engh.." desahan kecil keluar dari sudut bibirku.

Tak memperlambat gerakannya, pria itu malah semakin gencar menyerbu kedalaman mulutku. Terlebih, saat tiba-tiba kurasakan salah satu tangannya bergerilya masuk ke dalam celanaku, dan tangan itu memainkan milikku yang tertidur lemas.

Konsentrasiku buyar antara cumbuan panas dan pergerakan tangannya di sekitar area sensitifku.

Setelah sekian lama bercumbu dan hampir kehabisan napas lagi, barulah ia menarik bibirnya menjauh. Kuambil napas dalam-dalam, sambil tanganku mencoba melepaskan milikku dari permainan tangannya. Tapi bukannya lepas, tangan itu malah bermain lebih cepat.

"Aah... Ah.. Ugh... Ja.. Jangan.. Tolong... Le.. Aah.. Hhah.. Lepaskan..." seruku saat kuyakini milikku yang sedari tadi tertidur mulai memperlihatkan hasil dari permainan tangan orang itu.

"Jangan bercanda," ujarnya. Kemudian tangan kiri pria itu yang bebas segera menurunkan celanaku. Rasa malu tiba-tiba menyeruak di wajahku.

"Ja...ngan.. ah.. Lihat!" teriakku di sela-sela desahan.

"Jangan pelit begitu... Lagian tubuh indah seperti itu, sayang jika tidak di lihat.." serunya yang kemudian tiba-tiba membalikkan tubuhku sehingga kini aku menghadap tembok.

Tangan kanannya masih aktif mengocok milikku yang sudah sepenuhnya bangkit, dan perlahan tapi pasti, ia mempercepat gerakannya. "Aaaah... Ah... Ah.. Hentik... Kan.." seruku tak tertahankan.

Seperti biasa, pria di belakangku tak menggubris perkataanku sama sekali. Ia malah melakukan hal yang lebih aneh dari sebelumnya. Kurasakan, sesuatu mencoba masuk lewat lubang belakangku. Saat kutengok, orang itu sedang memasukan jari tengah tangan kirinya ke dalamku.

Sontak aku mengaduh dan tak percaya dibuatnya. "Ap... Apa yang coba kau lakukan!?" tanyaku cukup histeris.

"Aku harus membukanya dengan jariku, agar milikku bisa memasuki lubang terdalammu," jawabnya santai. Lalu ia memasukkan satu jari lagi, dan kedua jari itu mempermainkan bagian dalam tubuhku.

"Aaaaaargh! Ah.. Ah.. Hentikan...jangan.. Ah.. Sakit.."

Kocokkan tangan kanan dan tusukan jari tangan kirinya membuatku panas seketika. Rasanya aneh, namun entah bagaimana, aku dibuat terangsang karenannya. Lalu, saat-saat puncak itu datang. Dan aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku yang keluar karenanya.

"Aagh... Le..lebih cepat! Ahh... Argh.. Hahhh... Ah.. Keluar! Aku mau keluar... Cepat.. Ah.." seruku menggila.

"Tidak secepat itu, sayang," tiba-tiba gerakan tangan kanannya berhenti, dan malah mencengkeram milikku dengan sangat keras. Akibatnya, milikku yang sudah mencapai batasnya berhenti begitu saja, dan rasanya sangat tak enak.

"Hei... Ah.. Kau ... Kenapa berhenti... Begitu.. Ah .. Saja?" tanyaku sambil menengok ke belakang.

"Tak akan kubiarkan kau keluar mendahuluiku." dengan cepat dan keras, jari jempol miliknya ia taruh di puncak milikku yang sudah tegang, dan menutupi jalan keluar spermaku. Satu hal yang kutasakan saat ini. Tersiksa.

"Akh... Lepaskan! Kumohon!"

"Tunggu sebentar..." tangan kanan pria itu masih menahan milikku, tapi tabgan kirinya yabg sedari tadi memasykan jaribya pada lubangku, seketika berhenti bergerak, dan malah mengeluarkannya dari lubang terdalamku.

Awalnya aku tak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi saat kudengar suara resleting celananya terbuka, dan sesuatu yang keras juga besar menyentuh selangkanganku. Aku terkesiap saat mengetahui apa yang bakal dilakukannya.

"Ka..kau.. Kau tidak berniat melakukannya.. Kan?" tanyaku berharap apa yang kupikirkan sebelumnya tak akan terjadi.

"Ini akan lumayan sakit. Tahanlah..."

"Tu... Tu... Tunggu! Tunggu! Ja.. Ukh.. Aaaaaaaaaaaaargh!"

Tiba-tiba pria itu mencoba memasukan kejantanannya yang keras ke area lubang belakangku yang sebelumnya ia permainkan dengan jari. Kalau saat jarinya masuk hanya terasa sedikit sakit dan malu, maka saat kejantanannya yang lebih besar dan lebih keras ia coba masukkan, rasanya benar-benar sakit!

"Aaagrh! Hentikan! Itu tak akan muat! Hentikan! Aaarg!" teriakku histeris.

"Tentu saja ini akan masuk!" setelah mengatakan itu, lelaki dibelakangku tiba-tiba mendorong tubuhku dengan lebih keras, dan itu menyebabkan setengah batang miliknya mampu menerobos lubangku dengan paksa.

"Aaaaaaaaaaaaaaaarg! Sakit! Itu... Sakit sekali! Aaaargh! Sakit... Tolong hentikan!"

"Wow, rasanya menyenangkan sekali berada di dalammu. Padahal baru setengah milikku berada di sana.." gumam pria itu.

Lalu kembali tanpa ancang-ancang, pria itu menekan bagian miliknya agar menerobos lubangku lebih jauh. Dan hasilnya, dalam sekejab miliknya sepenuhnya berada di dalamku.

"Aaaaaaaaaarggg!" dan aku kembali berteriak kesakitan.

"Apa ini sakit?" tanyanya enteng.

"Sakit sekali... To..long.. Kumohon keluarkan. Aku... Aku mohon... Maafkan aku... Tolong... Ah..." jawabku dengan air mata yang keluar dengan derasnya.

"Hm... Tentu saja kau akan kesakitan, darah yang keluar cukup banyak juga..." serunya dengan berbisik padaku.

Darah?
Kutengok bagian bawah tubuhku, dan seperti yang ia katakan. Cairan berwarna merah terlihat mengalir di pangkal pahaku, hingga terjatuh dilantai.

"Kenapa bisa..."

Kalimatku tergantung, namun dalam setelahnya pria itu menjawab. "Anggap saja seperti gadis yang pertama kali kehilangan keperwanannya.."

"Hentikan..." ringisku saat melihat darahku sedikit demi sedikit mengalir dari area terdalamku.

"Tenang saja. Sedikit luka tak akan membunuhmu."

Setelah pembicaraan kami yang sangat singkat itu, ia memulai kembali apa yang sudah ia lakukan beberapa menit kebelakang. Dan rasa sakit itu semakin terasa tatkala pergerakannya berubah semakin kencang dari menit ke menit sehingga rasanya badanku tak kuasa menahannya.

HIngga pada batasan, aku tak kuat menahan luapan rasa sakit dan kenikmatan, dan cairan itu...

"AAAH!"

TBC

P.S: maaf lama banget nge postnya. Dan maaf juga kalo dikit banget. Ragu sih apa aku bisa nyeritain adegan itu dengan benar...