Tao pov

"Aaaaargh!" teriakku kencang. Saat untuk kesekian kalinya ia memasukiku, dan melepaskan seluruh miliknya di dalam tubuhku. Untuk yang kesekian kalinya. Lagi.

Keringatku bercucuran, dan seluruh otot-otot tubuhku melemas.

Pria itu kemudian mengeluarkan miliknya yang sudah menyusut dariku, dan melepaskan seluruh pegangannya dari tubuhku. Jelas saja tubuhku ini langsung terjatuh di atas lantai saat itu juga. Seakan seluruh tenaga dan otot-otot di tubuhku menghilang. Sehingga aku kehilangan keseimbangan atas berat badanku sendiri.

"Kau tahu, sudah lama aku tak keluar sebanyak ini. Terlebih dengan sesama lelaki." Pria itu memulai pembicaraan sambil membuka seluruh baju yang melekat di badannya.

'Aku tak mau tahu!' jawabku dalam hati sambil mencoba mengalihkan pandanganku dari tubuhnya yang kini telanjang ke lantai kamar mandi yang basah.

"Entah kenapa, sejak pertama kali 'mengunjungi' lubangmu, aku jadi merasa ketagihan. Aku saja sampai lupa sudah berapa kali aku keluar.." Pria itu lalu menyimpan pakaiannya di penggantung pakaian yang ada di belakang pintu, lalu mulai mendekati keran shower. Tak menunggu lama, pria itu lalu memutarkan keran, dan bulir-bulir air shower berjatuhan ke atas badannya.

"Empat kali.." bisikku hampir pada diriku sendiri.

"Hah? Apa katamu?" Tanya pria itu bahkan tanpa merasa perlu memandangku.

"Sialan! Kau melakukan sampai empat kali, dan kau tak ingat!? Brengsek!" bisikku benci sambil kembali teringat berapa kali si brengsek itu mengeluarkan benih-benihnya di dalamku.

Untung atau sialnya, karena suara showernya cukup keras, ia tidak bisa mendengarkan umpatanku.

"Kesan pertamaku padamu saat ini adalah... Kau menarik dan menyenangkan. Jadi..." pria itu berjalan mendekatiku, dan berjongkok di hadapanku. "Siapa namamu?"

Aku memandangnya tajam, dan tak sedikitpun aku berniat menjawab pertanyaanya.

"Kau mengacuhkanku?"

"..."

"Baiklah, kau memang menarik. Dan orang menarik biasanya keras kepala dan bodoh. Persis seperti dirimu." Pria sialan itu perlahan mengelus rambutku, dan membelai wajahku yang pebuh dengan peluh. Tetesan air dingin yang mengalir dari rambutnya yang basah jatuh di sekitar badanku.

Semakin lama, kurasakan belaian tangannya menjadi lebih kasar, dan elusannya berubah menjadi jambakan. Rambutku ditarik keatas, dan jambakannya itu membuat kepalaku dipaksa untuk sejajar dengan pandangannya. Sehingga aku harus menahan berat tubuhku dengan kedua lenganku.

"Apa aku perlu mengajarimu lebih banyak, agar kau menjadi pintar dan menghormatiku?" tanyanya dengan nada sinis yang benar-benar menyeramkan.

Aku segera menggeleng.

"Bagus! Kalau begitu, jawab pertanyaanku. Satu, siapa namamu?"

"Tao."

"Nama lengkap?"

"Hu.. Huang Zitao..."

"Kau orang China atau Taiwan?"

"...China..."

"Hm... Baiklah. Umurmu berapa?"

"...23..."

"Dan yang terakhir. Kenapa kau bisa dipenjara?"

Aku terdiam sejenak. Rasanya akan sangat sulit untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Karena jika kulakukan, itu seperti membuka luka lama.

Melihat reaksiku yang cukup lambat, pria itu mengangkat sebelah alisnya, dan memandangku tajam. Lagi-lagi menakutkan.

"Bi... Bisakah aku tak menjawab yang itu?" tanyaku penuh harap setelah jeda beberapa menit tadi.

Laki-laki itu memandangku sekilas, lalu menganggukan kepalanya pelan.

"Well, kau tak harus mengatakannya padaku. Setidaknya aku bukan orang yang ingin tahu masalah orang lain. Jadi kau tenang saja. " Pria tinggi itu lalu melepaskan pegangannya padaku, mendekati pancuran showernya lagi, dan kembali sibuk membersihkan dirinya.

Sementara itu, tubuhku belum bisa digerakan, dan rasanya semakin lama semakin fokus pandanganku menggelap. Hingga pada batas ... kesadaranku menghilang.

###

Hal pertama yang kusadari saat membuka mata adalah, terdapat sebuah tangan kokoh yang melingkari pinggangku. Kulihat siapa pemilik tangan itu. Disampingku tidur seorang pria berwajah tampan. Tanpa perlu menerka-nerka siapa dirinya, aku langsung tahu dan ingat wajahnya.

Si mesum di kamar mandi!

"Kau bangun..." tiba-tiba kudapati matanya sedang menatapku lekat.

"Ehm... Ya aku bangun. Aku sudah bangun. Jadi... Aku tak harus... Tidur di sini lagi.." Dengan buru-buru kulepaskan tangannya yang melingkari pinggangku, dan mencoba turun dari ranjang.

Namun sebelum itu terjadi, tangannya kembali melingkari pinggangku, dan memelukku erat-erat.

"Ap.. Apa yang kau lakukan? Ini tidak benar.." seruku risih.

"Tidak ada yang benar di penjara, kau tahu." Balasnya sambil beberapa kali menciumi wajahku seakan aku adalah miliknya.

"Tapi, laki-laki dengan laki-laki... Ini tidak benar. Bahkan di dalam penjara pun kau harusnya bisa membedakan yang benar dan salah." jawabku tak mau kalah sambil berusaha menghindar dari setiap ciumannya.

Pria itu berhenti menciumiku, lalu memandangku lekat-lekat. Kupikir ia akan marah dengan pernyataanku itu. Tapi tidak. Ia hanya memandangku biasa.
"Sudah berapa lama kau di penjara?" tanyanya santai.

"Satu.. Satu hari. Aku sampai kemarin sore..."

"Kalau begitu tak aneh. Kau masih berpandangan bahwa dunia yang kita jalani di belakang penjara ini masih sesuci kehidupan di luar sana. Tapi kuyakinkan, dalam beberapa hari kau tak akan mempermasalahkan salah dan benar yang kau katakan barusan. Percayalah."

"Ya apapun itu, lepaskan aku!" erangku masih mencoba melepaskan pelukannya.

"Tidak akan. Kau milikku sekarang." tolaknya mentah-mentah. Dan apa katanya tadi?

"Siapa... Siapa yang milikmu?" tanyaku ragu.

"Tentu saja kau."

"Hah? Se..sejak kapan?"

"Sejak aku mengatakannya." jawabnya kalem. Tunggu! Kalau sejak ia mengatakannya berarti... Hanya beberapa detik yang lalu?

"Tapi aku tak mau!" bantahku tak setuju.

"Diam! Kau tak punya hak untuk memutuskan! Yang harus kau lakukan hanya menurutiku!" Tiba-tiba dengan kasar ia mencengkeram daguku, dan meninggikan nada suaranya.
"Mengerti!?" tanyanya tajam. Dan jelas menyeramkan.

Tahu kalau pria yang tengah kendekapku ini tak menerima tolakkan, aku segera menurut dengan menganggukkan kepala. Tanda aku setuju. Walau sebenarnya aku sungguh tak mau.

"Bagus. Sekarang bangun, dan kita akan makan. Kau belum makan kan?" tanyanya sambil membangkitkan tubuh kami berdua.

"Belum..." jawabku jujur. "Dan... Ehm..." kucuri pandang pria di sebelahku dengan pandangan bingung.

"Apa?"

"Gege, ini jam berapa?" tanyaku pelan. Oh ya, karena aku belum tahu siapa namanya, maka kupanggil saja dengan sebutan kakak dalam bahasa china.

"Jam 9 malam. Sel baru saja dikunci."

"Eh? Sudah jam 9 malam!?" seruku histeris. Bagaimana bisa aku tertidur sampai jam 9 malam, dan bahkan sampai terkunci di sel milik orang lain.

"Ya. Kau belum makan dari pagi kan, jadi sudah ku ambilkan bagianmu."

"Tapi... Bagaimana dengan teman sekamar sel gege kalau aku disini?"

"Tak perlu khawatir. Sejak tiga bulan lalu aku tidur sendiri di sini." Dengan mudah ia menjawab.

"Hah? Memang kemana orang yang dulu se-sel denganmu?"

"Mati."

Tuhan, selamatkan aku.

Tbc