Cast :
Shim Changmin
Jung (Cho) Kyuhyun
Lee Yeon Hee
Choi Siwon
Other Cast :
Jung Yunho-Jung (Kim) Jaejoong
Shim (Tan) Hangeng-Shim (Kim) Heechul
Shim Soo Yeon
Shim Ji Yeon
Genre : Romance, Friendship, Family
NB : setting lokasi FF ini ada di Busan, Korea Selatan.
.
.
Fanfic ini saya persembahkan untuk Pangeran Shim yang akan enlist military sebentar lagi.
This is for you Prince Shim.
"Karena kesempurnaan bukanlah yang membuatmu bahagia. Tetapi saling melengkapilah yang menciptakan kesempurnaan untuk membuatmu bahagia."
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 2
.
.
Pagi yang cukup tenang di hari Sabtu dan Jaejoong sangat menikmati hal tersebut. Dia masih berkutat di meja makan menyiapkan sarapan untuk kelurganya. Sesekali dia menerima masakan yang dibawa para pelayan dari dapur untuk kemudian dihidangkannya bersama sajian yang telah siap.
Langkah kaki yang sedikit malas-malasan terdengar dari tangga kediaman keluarga Jung. Jaejoong mendongakkan kepalanya lalu tersenyum melihat anaknya yang masih menguap dan mengucek-ngucek matanya. Itu tandanya bahwa anaknya itu belum merasa cukup menikmati tidur semalaman. Jaejoong masih tersenyum sembari melanjutkan aktivitasnya.
"Apa hari ini kau ikut ke kantor, Kyu-ie?" tanya Jaejoong setelah anaknya duduk dengan nyaman di kursi.
Kyuhyun merebahkan kepalanya dengan mata yang masih berat untuk terbuka, sesekali matanya melihat kegiatan Ummanya.
"Mmh, aku sedang malas. Mood-ku juga sedang buruk, Umma. Aku ingin melakukan suatu hal yang menyenangkan saja,"
Jaejoong mengerutkan dahinya sebentar. Tetapi mengerti kebiasaan anaknya itu dia hanya mengedikkan bahunya ringan.
"Ya, sudah. Segeralah sarapan,"
Kyuhyun mengangguk semangat, setelah itu menegakkan tubuhnya kembali. Baru saja dia ingin mengambil beberapa menu sarapan paginya, terdengar bel pintu rumah yang ditekan beberapa kali. Namja manis itu menengok ke arah sumber suara, tetapi tidak berminat untuk beranjak.
"Kyu, tolong buka pintunya," kata Jaejoong melihat anaknya yang tidak bergerak.
"Umma…" rajuk Kyuhyun tak mau beranjak.
Jaejoong memberikan pandangan mengancam pada Kyuhyun. Namja manis itu mendengus sebal lalu meniup poninya jengkel. Tetapi akhirnya dia beranjak untuk membuka pintu rumahnya.
"Pagi, sayang!" kata seseorang lalu dengan cepat memeluk Kyuhyun.
Namja manis itu tersentak mundur ke belakang. Mengetahui siapa yang memeluknya, dia memutar bola mata caramelnya malas lalu mendesah jengkel.
"Lepaskan aku! Aku sedang marah padamu, hyung!"
Kyuhyun memekik kesal lalu berusaha melepaskan pelukan seseorang yang tak lain adalah Siwon.
Siwon mengendurkan pelukannya, lalu menatap kekasihnya yang sedang merajuk itu. Keningnya berkerut tak mengerti. Tetapi sedetik kemudian dia paham kenapa Kyuhyun marah.
"Ayolah, sayang… Aku minta maaf. Kemarin aku benar-benar harus menghadiri jamuan makan malam kolegaku. Itu penting untuk memudahkan proses tender yang sedang aku incar. Jangan marah, ya?" bujuk Siwon lalu mengeluarkan ekspresi memelas.
Kyuhyun menampilkan ekspresi mual lalu semakin merengut.
"Jadi mereka lebih penting daripada aku? Asal kau tahu saja, ya, hyung. Tadi malam aku hampir saja menjadi korban pelecahan seksual! Aku maraaah padamu!"
Suara Kyuhyun yang marah semakin nyaring dan Siwon sampai mengernyit mendengar suara keras kekasihnya. Tetapi menyadari kalimat Kyuhyun barusan, membuat matanya terbelalak kaget.
"Apa? Korban pelecehan seksual? Lalu-lalu,…"
Suara Siwon berubah panik. Dia mengecek tubuh Kyuhyun memastikan tidak terjadi hal yang buruk.
"Aku tidak apa-apa! Aku kan, sudah bilang hampir, hyung! Ham-pir!"
Kyuhyun jadi semakin naik darah melihat Siwon yang mengalami panic attacked.
Siwon tersenyum tak enak hati. Kemudian dia memeluk kembali kekasihnya yang masih merengut itu.
"Aku sangat bersyukur kau tak apa-apa. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika hal buruk terjadi padamu. Maafkan aku sayang," kata Siwon penuh penyesalan. Dia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
Kyuhyun menghela nafas mendengar kalimat Siwon. Dia berpikir bahwa hal yang terjadi kemarin malam juga itu di luar prediksi mereka. Dia tak bisa menyalahkan Siwon sepenuhnya karena bagaimanapun perusahaan keluarga Siwon itu juga penting baginya. Dia jadi merasa egois.
Siwon menatap namja manis yang masih merengut itu. Tetapi tampaknya dia sedang berpikir. Siwon tersenyum dengan wajah manis kekasihnya yang sedang tampak berperang pikiran untuk memaafkannya atau tidak.
"Bagaimana, hmm? Apakah aku benar-benar tidak mendapat maaf?" tanya Siwon dengan ekspresi memelas.
Kyuhyun melihat ekspresi wajah Siwon dan ingin tertawa geli. Tetapi dia berusaha menahannya. Dia memutuskan memaafkan Siwon, tetapi kekasihnya ini tetap harus diberi pelajaran. Namja manis itu menyeringai sekilas.
"Baik. Aku mau memaafkanmu, hyung. Tapi dengan satu syarat!"
Siwon menghela nafas. Ah, dia sangat tahu hal seperti ini. Meminta maaf pada Kyuhyun tidak hanya dengan perkataan, tetapi juga berarti harus ada hal yang harus dia lakukan untuk mengembalikan mood-nya. Siwon menganggukkan kepalanya setuju dan tentu saja itu membuat Kyuhyun tersenyum senang.
"Katakan saja apa syaratnya, pasti akan aku penuhi,"
Kyuhyun semakin melebarkan senyumannya.
"Aku ingin hari ini, hyung tidak ke kantor sama sekali. Aku ingin hyung menemaniku seharian. Aku juga ingin ke game center!" kata Kyuhyun semangat.
Siwon melebarkan matanya mendengar permintaan Kyuhyun. Baiklah dia memang terbiasa, tetapi jika tidak ke kantor, bagaimana dengan perusahaannya? Namun, sekali lagi, Siwon memilih mengabulkan permintaan kekasihnya daripada dia tidak mendapat maaf sama sekali. Bagi Siwon itu lebih buruk daripada memikirkan kondisi perusahaannya.
Siwon menganggukkan kepalanya lalu tersenyum. Kyuhyun refleks melompat senang dan bertepuk tangan. Nampak kekanakkan.
"Nah, bisakah kekasihmu yang tampan ini mendapat pelukan cinta, sayang?" tanya Siwon lalu merentangkan tangannya.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya antusias lalu melompat ke dalam pelukan Siwon dan tertawa senang.
Sedangkan dari ruang makan, Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya geli melihat anaknya yang hobi menjahili kekasihnya itu.
.
.
ChangKyu
.
.
"Selamat pagi, beauty,"
Yeon Hee tersenyum mendengar suara yang sudah sangat dihafalnya. Dia mendongak sejenak untuk memberikan senyuman lalu melanjutkan aktivitasnya merangkai sebuah buket bunga warna warni.
Seseorang yang menyapanya lalu duduk di kursi counter yang berhadapan dengan meja resepsionis, tempat Yeon Hee merangkai bunga-bunganya.
"Kau tak membalas sapaanku?" tanyanya.
Yeon Hee tersenyum lalu melihat seseorang itu, "Pagi, Changmin-ah"
Menyadari Changmin hanya diam sambil memandanginya, Yeon Hee menghentikan aktivitasnya sejenak, "Tumben kau datang pagi sekali. Kau tidak ada acara di kampus?"
Changmin menggeleng ringan, "Hari ini aku free dari kampus. Tetapi nanti siang aku ada acara dengan para relawan WWF(1),"
Yeon Hee mengernyit, "Ada apa?"
"Kami ingin memastikan perkembangan kondisi lepas Pantai Taejongdae(2). Kondisi karangnya semakin tidak baik akhir-akhir ini,"
"Berarti kau akan ke Taejongdae hari ini?"
Changmin menggeleng lagi, "Tidak. Aku hanya akan melakukan rapat koordinasi dengan para relawan. Kami harus bertindak cepat,"
"Aku harap usaha kalian berhasil. Jika ada yang bisa aku bantu, kau bilang saja, Min-ah," kata Yeon Hee lalu menepuk pelan tangan Changmin.
Changmin tersenyum lalu menggenggam tangan Yeon Hee.
"Kau mendukungku itu saja cukup, Noona-ku sayang,"
Pipi Yeon Hee bersemu merah tetapi dia berusaha menutupinya dengan merengut, "Jangan panggil aku Noona! Aku merasa sangat tua kalau kau memanggilku dengan kata itu!"
"Kau, kan memang lebih tua dariku," balas Changmin tersenyum geli melihat ekspresi salah tingkah Yeon Hee. Dia memang suka menggoda yeoja di depannya.
"Aku tahu! Tetapi setelah kita menjadi kekasih begini, jangan berlagak kau yang muda dan aku yang tua. Itu sangat sensitif untuk wanita asal kau tahu!"
Changmin tertawa dengan kalimat yang diucapkan Yeon Hee. Melihat kekasihnya tertawa senang, Yeon Hee semakin merengut jengkel lalu melepaskan genggaman tangannya dan kembali merangkai buket bunganya.
Namja yang mempunyai paras tampan dengan mata bambi itu menghentikan tawanya melihat kekasihnya kesal. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi kemerahan Yeon Hee.
"Hei, jangan marah,"
Yeon Hee melihat Changmin sekilas masih dengan bibir mengerucut. Yeoja dengan wajah cantik itu mengabaikan perkataan Changmin.
"Aku, kan hanya bercanda. Bukankah aku selalu memanggilmu dengan panggilan yang manis? Contohnya tadi. Aku memanggilmu beauty. Biasanya aku memanggilmu sayang," lanjut Changmin. Terdengar membela diri. Tetapi dia sungguhan tidak ingin membuat kekasihnya marah.
Yeon Hee menghela nafas, dia berpikir bagaimanapun juga memang dia yang harus lebih bersikap dewasa. Meskipun memang sering Changmin bertindak lebih dewasa daripada umurnya, tetapi bukan berarti dia bisa menjadi gadis manja yang selalu merajuk. Dia berusaha mengimbangi sikap Changmin.
"Ya, ya, aku memang gadis yang baik. Aku memaafkanmu," balas Yeon Hee lalu tersenyum. Setelah itu dia mulai menyelesaikan rangkaian buket bunganya.
Changmin balas tersenyum lalu mengacak lembut rambut sebahu milik Yeon Hee.
"Oh, iya. Besok kau bisa datang ke panti asuhan, kan?" tanya Changmin.
Yeon Hee kembali menghentikan aktivitasnya.
"Ah, besok sudah hari Minggu. Astaga…aku tak bisa, Changmin-ah," jawab Yeon Hee saat teringat jadwalnya besok.
Changmin mengerutkan dahinya, "Kenapa? Kau sudah berjanji, kan?"
Yeon Hee menghela nafas tidak enak hati. Dia mengangguk pelan, "Iya. Tetapi besok aku mengerjakan pesanan bunga untuk sebuah pesta pernikahan. Pesanannya banyak sekali, aku sampai minta bantuan Seorin,"
Sekarang Changmin yang menghela nafas tampak kecewa, "Anak-anak pasti akan menanyakanmu."
Yeon Hee menunduk merasa bersalah, tetapi tentu saja dia tidak bisa membatalkan pesanan untuk toko bunganya. Itu sama saja dia harus ganti rugi.
"Aku minta maaf. Aku berjanji minggu depan aku pasti akan datang, mmh… tidak harus hari Minggu, kan aku ke sana? Aku bisa datang kapan saja saat tokoku tutup, Changmin-ah," kata Yeon Hee untuk meredam kekecewaan Changmin.
Changmin menganggukan kepalanya dengan berat hati. Akhirnya namja tampan itu mengalah. Mungkin besok dia harus menambah kegiatannya di Panti Asuhan, yaitu menghibur kekecewaan anak-anak karena tidak bertemu Yeon Hee.
"Oh, ya! Aku ingat aku sudah menyiapkan bibit bunga kertas untuk si kecil Eunsoo,"
Yeoja cantik itu beranjak dari duduknya lalu menuju ke gudang kecil di belakang toko bunganya. Dia mengambil beberapa kotak kecil wadah yang berisi bibit bunga kertas lalu menyerahkannya ke Changmin.
Namja tampan itu menerima kotak-kotak itu melihatnya sebentar lalu kembali melihat kekasihnya yang sudah mulai merangkai buketnya lagi.
"Tolong sampaikan permintaan maafku pada anak-anak terutama Eunsoo, ya? Besok harus Bibi Hyobin dulu yang menemaninya belajar menanam bunga," kata Yeon Hee menyesal.
Changmin mengangguk lalu menepuk-nepuk pelan tangan Yeon Hee.
"Tidak apa-apa. Mereka pasti mengerti,"
.
.
ChangKyu
.
.
"Tuan Muda, Anda sudah memutuskan ingin ke mana?" tanya supir keluarga Jung yang akrab dipanggil Paman Shin oleh Kyuhyun. Paman Shin melirik ke spion di depannya untuk memastikan Tuan Mudanya mendengar pertanyaannya.
Kyuhyun melihat spion di depan Paman Shin lalu menggeleng. Namja berparas manis itu melanjutkan kegiatannya melihat pemandangan di luar mobil, meskipun tanpa minat.
Ini sudah hampir satu jam Paman Shin mengendarai mobil tanpa tujuan. Kemudian sudah kelima kalinya dia bertanya pada Tuan Mudanya tujuan mereka. Tetapi Kyuhyun juga lima kali menjawab dengan gelengan.
Sebenarnya, Kyuhyun juga bingung ingin ke mana dan melakukan apa. Hari Minggu ini sungguh terasa membosankan. Dia bosan di rumah dan sama sekali tidak punya teman untuk menemaninya menghabiskan waktu di hari yang seharusnya bisa untuk bersenang-senang. Appanya pergi ke luar kota sejak hari Sabtu sore kemarin bersama Ummanya. Lalu, tidak berbeda dengan orang tuanya, kedua sahabatnya memilih ikut pergi dinas kantor ke luar kota. Kata mereka bisa untuk menambah penghasilan. Kyuhyun berpikir wajar jika kedua sahabatnya memang pekerja keras. Mereka bukan lahir dari keluarga berlimpahan materi seperti dirinya.
Siwon? Emm, kalau boleh jujur Kyuhyun sedang malas menghubungi Siwon. Dia berpikir, kekasihnya itu belum tentu mempunyai ide menarik yang bisa membuatnya antusias untuk pergi bersamanya. Sejauh ini mereka menjalin hubungan, kegiatan mereka adalah kegiatan-kegiatan yang sangat terlalu biasa dilakukan pasangan. Kencan, menonton film, makan bersama, sesekali pergi ke luar kota, yah,…hanya itu-itu saja. Namja manis itu bosan jika begitu terus. Dia berpikir tidak adakah hal anti mainstream yang bisa dilakukan sepasang kekasih? Tetapi, sebenarnya dia sendiri juga tidak punya ide. Makanya sekarang hasilnya dia kesal sendiri. Lagipula kekasihnya itu pasti sedang sibuk dengan Hyundai(3)-nya.
Kyuhyun menghembuskan nafas agak kesal. Mood-nya buruk.
"Paman Shin pelan-pelan saja. Kita sedang tidak diburu apapun," kata Kyuhyun yang langsung dipatuhi Paman Shin.
Mata caramel Kyuhyun masih melihat-lihat tanpa minat view di luar mobil. Jalanan Busan cukup ramai oleh para penduduk lokal dan para turis.
Kyuhyun menyipitkan matanya saat dia melihat siluet familiar seorang pemuda yang sedang berjalan di trotoar dengan membawa dua buah kardus ukuran sedang yang diikat menjadi satu. Matanya bergerak mengikuti kepalanya untuk memastikan dugaannya benar. Ketika melihat wajah pemuda itu, Kyuhyun tersenyum lebar.
"Paman Shin, berhenti! Berhenti! Berhenti!" teriak Kyuhyun tergesa-gesa sembari tangannya menepuk-nepuk keras kursi Paman Shin.
Paman Shin tersentak kaget lalu otomatis menginjak rem kuat. Dia melirik spion samping memastikan tidak ada mobil di belakang yang melaju dengan kecepatan tinggi. Bisa sangat bahaya jika itu terjadi.
"Ya Tuhan, Tuan Muda! Anda mengagetkan saya. Untung saja saya melajukan mobil pelan," ucap Paman Shin setelah memastikan posisi mereka aman.
Kyuhyun memberikan cengiran, "Maaf, Paman Shin. Aku mau keluar sebentar. Tolong tunggu di sini, ya!" katanya lalu segera membuka pintu mobil. Paman Shin mengangguk lalu segera menepikan mobilnya dengan benar.
Namja manis itu bergegas keluar dari mobil lalu menghampiri pemuda yang membuatnya menyuruh Paman Shin berhenti mendadak. Sengaja Kyuhyun berdiri di depan pemuda itu dan tersenyum-senyum geli.
Merasa ada yang menghalangi langkahnya tiba-tiba, pemuda itu berhenti berjalan lalu memfokuskan penglihatannya ke depan. Mata bambinya menyipit beberapa saat, lalu melebar horor mengetahui siapa di depannya.
"Hai, kita bertemu lagi pria penolongku!"
Kyuhyun menyapa dengan tangan melambai semangat dan tersenyum lebar.
Pemuda itu memutar bola mata kelamnya malas lalu mulai berjalan kembali melewati Kyuhyun begitu saja. Namja manis itu refleks melongo mendapati dia diacuhkan begitu saja. Kyuhyun mendengus jengkel. Dia segera mengikuti pemuda itu lalu menghalangi langkah pemuda itu lagi.
"Hei! Kenapa kau selalu mengacuhkanku?! Aku menyapamu baik-baik!" pekik Kyuhyun kesal sekali.
Pemuda itu mendesah malas, "Aku masih ingat bahwa aku bilang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!" balasnya tidak kalah jengkel.
"Memangnya kenapa? Aku tidak menularkan penyakit berbahaya tahu!"
Pemuda itu mengernyitkan dahinya bingung. Dia berpikir apa hubungannya dengan menularkan penyakit berbahaya coba? Sungguh orang aneh.
"Aku merasakan bahwa hidupku tidak tenang jika kau tiba-tiba muncul di hadapanku! Pasti akan sangat merepotkan!" balas pemuda itu lagi.
Kyuhyun meringis kesal. Dia mengepalkan tangannya gemas.
"Kau menyebalkan sekali!" pekiknya kemudian.
Pemuda itu lagi-lagi hanya memutar bola matanya menanggapi Kyuhyun. Dia lalu kembali berjalan melewati namja manis itu. Namja manis itu mengerang kesal lalu berjalan untuk menghalangi langkah pemuda itu lagi.
"Astaga! Apa maumu?" pekik pemuda itu sangat kesal dengan tingkah Kyuhyun.
Kyuhyun diam. Namja manis itu berpikir. Dia harus menemukan alasan masuk akal. Dia baru saja menemukan kesenangan. Dia tidak akan melepaskan kesenangannya ini. Kemudian matanya tertumbuk pada dua kardus yang dibawa pemuda di depannya. Nah, dia mendapat pencerahan sekarang.
"Aku ingin membalas kebaikanmu tempo hari. Bolehkan?" tanya Kyuhyun lalu memasang senyuman ramah.
Pemuda itu mengernyitkan dahinya.
"Nah, aku lihat kau butuh bantuan untuk membawa dua kardus itu. Kalau kau mau aku menawarkan tumpangan, Itu mobilku," lanjut Kyuhyun sembari mengedikkan dagunya ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Pemuda itu menoleh sekilas ke arah mobil yang ditunjukkan Kyuhyun lalu melihat namja manis itu lagi, "Aku tidak berminat,"
Kyuhyun kembali mengerang kesal.
"Aku tidak peduli!" sahutnya lalu berjalan ke belakang pemuda itu. Kedua tangannya memegang bahu si pemuda lalu mendorongnya ke arah mobil.
"Hei! Hei! Ini pemaksaan!" teriak pemuda itu. Dia ingin menghentikan aksi pemaksaan Kyuhyun, tetapi dengan posisinya yang membawa-bawa dua kardus yang cukup berat, tampaknya itu sulit.
"Paman Shin! Tolong buka pintunya!"
Paman Shin yang sedari tadi melihat tingkah Tuan Mudanya hanya menggeleng maklum lalu segera membuka pintu mobil. Kyuhyun segera mendorong pemuda itu masuk ke mobilnya. Setelah dia ikut masuk ke dalam mobil, Kyuhyun segera menahan tangan pemuda di sampingnya yang akan bergerak membuka pintu mobil. Mata caramelnya memberikan pandangan mengancam yang dibalas dengan dengusan jengkel dari pemuda itu.
"Paman Shin, jalan!" seru Kyuhyun cepat. Paman Shin segera melajukan mobil majikannya.
Sekarang, pemuda di sampingnya benar-benar mengerang kesal.
"Hahaha, aku berhasil memaksamu!" kata Kyuhyun puas lalu terkekeh senang.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong, aku sudah tahu namamu," lanjut Kyuhyun dengan bangga.
Pemuda itu mengernyitkan dahinya kaget. Bagaimana bisa?
Mengerti dengan ekpsresi pemuda di sebelahnya, Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan kanannya terulur untuk mengobrak-abrik dashboard mobilnya mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya, dia segera menunjukkan sebuah bolpoin ke pemuda di sebelahnya.
"Nah! Namamu adalah Shim Changmin!" ucap Kyuhyun puas dan bangga dengan usahanya.
"Jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu Changmin. Kau masih ingat namaku, kan? Kau bisa memanggilku, Kyuhyun,"
Pemuda yang bernama Changmin itu kembali menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Kyuhyun. Dia mendadak merasa pusing gara-gara tingkah seenaknya sendiri dari namja di sampingnya ini.
"Hei, kenapa kau diam saja?" tanya Kyuhyun.
"Diamlah! Kau itu cerewet sekali!" ucap Changmin lalu menyandarkan tubuhnya.
Terdengar kekehan ringan dari kursi depan, yang tak lain adalah Paman Shin. Dia merasa terhibur dengan kata-kata Changmin yang mengatai Tuan Mudanya cerewet. Dia sependapat mengenai hal itu. Dia jadi teringat dengan Nyonya Jung. Ibu dan anak sama saja cerewetnya.
Kyuhyun melihat Paman Shin yang masih berusaha menahan tawanya. Namja manis itu memajukan bibirnya kesal.
Paman Shin melirik ke spion di depannya, "Mohon maaf mengganggu. Anda akan ke mana, Tuan?" tanya Paman Shin pada Changmin.
Changmin melihat Paman Shin.
"Tuan? Apakah maksud Paman saya?" tanya Changmin memastikan. Dia merasa aneh dengan panggilan Tuan. Dia bukanlah seorang Tuan Muda, untuk apa dipanggil Tuan?
"Iya, Tuan," jawab Paman Shin.
"Panggil nama saya saja, Paman. Nama saya, Changmin. Jangan memanggil Tuan. Saya bukanlah seorang Tuan Muda,"
"Hei! Kau mengaku juga akhirnya!" sahut Kyuhyun tiba-tiba.
Changmin melirik ke arah Kyuhyun yang merengut.
"Huh! Dengan Paman Shin saja kau ramah! Itu tidak adil!"
Paman Shin kembali terkekeh. Tetapi sebisa mungkin dia menahan tawanya. Sedangkan Changmin hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.
"Oh, ya, Tuan Changmin bagaimana? Anda bisa saya antar ke mana?" tanya Paman Shin lagi.
"Paman, saya sudah bilang, kan-"
"Mohon maaf, saya tidak terbiasa, Tuan,"
"Hei, sudah hentikan perdebatan kalian. Kau segera sebutkan alamat yang akan kau tuju!" sahut Kyuhyun tiba-tiba. Dia merasa tidak dilibatkan dalam pembicaraan dan itu membuatnya kesal.
Changmin menghela nafas untuk kesekian kalinya. Astaga, hanya karena bertemu makhluk di sebelahnya ini, dia telah membuang-buang kebahagiaannya yang berharga. Namja berparas tampan itu berpikir dia lebih baik mengalah daripada menghabiskan energinya percuma. Dia ingat untuk menyimpan energinya karena kegiatannya setelah ini akan sangat menguras tenaga.
"Saya akan ke Panti Asuhan Cheongug di distrik Seo. Alamatnya-"
"Ah, Panti Asuhan Cheongug. Saya tahu, Tuan. Dulu saya pernah tinggal di sekitar sana," ucap Paman Shin tiba-tiba memotong kalimat yang akan diucapkan Changmin.
Namja tampan itu mengernyit sebentar tidak menduga Paman Shin mengetahui panti asuhan yang biasa dikunjunginya.
"Paman Shin! Jangan menyela omongan orang! Itu tidak sopan. Paman itu kebiasaan!" tegur Kyuhyun yang merasa Paman Shin tidak sopan dengan memotong ucapan Changmin.
"Ah, iya, Tuan Muda! Saya mohon maaf," balas Paman Shin cepat lalu menganggukkan kepalanya.
Kyuhyun mengangguk singkat lalu mengalihkan perhatiannya ke Changmin.
"Hei, ada perlu apa kau ke sana?"
Changmin melirik Kyuhyun singkat, "Bukan urusanmu,"
Namja manis itu memajukan bibirnya lagi-lagi kesal dengan respon Changmin. Seumur hidupnya baru kali ini ada orang yang mengabaikannya dengan sangat menyebalkan begini. Tetapi, dia tidak akan menyerah untuk mengajak pemuda di sampingnya ini bicara. Dia memang pantang menyerah.
"Huh! Terserah kau akan memberitahuku atau tidak. Aku pasti akan mengetahuinya!"
Changmin hanya mengedikkan bahunya lalu memusatkan perhatiannya ke jalanan di depannya. Meskipun Paman Shin bilang dia mengetahui alamatnya, Changmin tetap merasa harus memastikan jalan yang dilalui Paman Shin benar.
"Oh, ya, ngomong-ngomong kardus-kardus itu untuk anak-anak di panti asuhan, ya?" tanya Kyuhyun lagi.
Sekali lagi, Changmin hanya melirik singkat lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke Paman Shin.
"Paman, apa memang Tuan Mudamu itu sangat cerewet?" tanya Changmin tidak memperdulikan reaksi Kyuhyun yang terkejut dengan pertanyaannya.
"Hei, apa maksudmu lagi-lagi mengataiku cerewet?!"
"Memang kau cerewet!"
"Aku tidak cerewet! Aku hanya mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi!"
"Rasa ingin tahu yang merepotkan!"
"Apa kau bilang? Katakan sekali lagi kalau berani!"
"Dasar cerewet! Dasar merepotkan!"
"Aaaargh! Kau menyebalkan sekali!"
"Hei, kenapa kau memukuli-ku?!"
"Aku memberimu pelajaran! Agar kau menjaga mulutmu yang berbisa!"
"Apa kau bilang?"
"Dasar mulut berbisa!"
"Dan, kau cerewet!"
"Aw! Hentikan pukulanmu!"
"Tidak akan!"
Paman Shin hanya tertawa merasa terhibur mendengar keributan dua orang di kursi belakangnya.
.
.
ChangKyu
.
.
Setelah sampai di alamat yang dituju, Changmin segera keluar dari mobil. Namja tampan itu membungkukkan tubuhnya singkat lalu mengucapkan terima kasih pada Paman Shin. Pria paruh baya itu mengangguk lalu tersenyum. Kemudian, Changmin beralih pada Kyuhyun yang masih memandangi bangunan sederhana di depannya.
"Hei, namja cerewet. Terima kasih tumpangannya," ucap Changmin lalu segera beranjak dari samping mobil Kyuhyun. Tampak namja tampan itu tidak menunggu untuk mendapat respon dari Kyuhyun.
Melihat Changmin yang telah pergi, Kyuhyun memikirkan, setelah ini apa yang akan dilakukannya? Lalu secepat itu pula dia mendapatkan ide.
"Paman Shin, aku ingin ikut Changmin. Nanti jika aku sudah selesai, aku akan segera menghubungimu, Paman. Tolong jemput di sini lagi, ya," kata Kyuhyun cepat. Dia segera membuka pintu mobil lalu menyusul Changmin yang akan membuka pintu pagar panti asuhan.
Paman Shin menggeleng maklum dengan tingkah seenaknya Tuan Mudanya. Dia segera menyalakan mesin mobil lalu pulang ke kediaman Keluarga Jung.
Changmin hampir meletakkan kedua kardusnya ke tanah untuk membuka pintu pagar, ketika ada tangan yang mendahuluinya. Namja tampan itu melihat si pemilik tangan, lalu mendesah kesal.
"Lihat, aku membantumu," ucap Kyuhyun yang melihat raut kesal di wajah Changmin.
"Bukannya kau harusnya pergi?" tanya Changmin tidak menanggapi perkataan Kyuhyun.
"Aku ingin ikut denganmu. Lagipula aku sedang tidak ada acara sama sekali. Oh, ya, aku tidak peduli kau mengijinkan atau tidak. Aku tetap ikut denganmu!" ucap Kyuhyun final saat dia melihat Changmin akan memprotes kata-katanya. Namja manis itu segera berjalan mendahului Changmin.
Namja tampan itu merasa harus banyak bersabar hari ini karena tingkah seorang namja cerewet yang seperti ingin ikut campur urusannya.
Ketika Changmin dan Kyuhyun hampir sampai di pintu panti asuhan, pintu itu telah terbuka dan berhamburanlah anak-anak dari dalam. Mereka tertawa senang melihat kedatangan Changmin. Beberapa anak memeluk Changmin lalu mulai ribut bertanya-tanya. Kyuhyun yang berada di samping namja tampan itu hanya diam melihat pemandangan di depannya. Hatinya terasa menghangat dengan celotehan riang anak-anak panti. Namja manis itu mengalihkan perhatiannya ke Changmin yang telah berubah ekspresinya menjadi lebih lembut dan hangat. Dia tersenyum kecut menyadari namja yang baru dikenalnya dua hari itu bisa ramah juga.
"Hei, pelan-pelan. Biarkan aku masuk dulu, ya? Setelah itu kalian bisa mengobrak-abrik apa yang aku bawa," kata Changmin untuk meredakan keributan anak-anak di sekelilingnya.
"Iyaaa….." koor anak-anak kompak lalu mereka segera masuk sembari tangan-tangan kecil mereka menggandeng Changmin. Namja tampan itu tersenyum geli mendapati anak-anak tersebut tetap tidak mau melepaskannya.
Kyuhyun kembali tersenyum melihat interaksi anak-anak itu dengan Changmin. Ah, dia merasa sungguh tersentuh dengan kebahagian murni serta polos anak-anak itu. Namja manis itu segera mengikuti Changmin masuk ke dalam.
Changmin lalu meletakkan kardus-kardus tersebut dan mulai membuka ikatan yang tersimpul. Setelah terbuka, anak-anak segera menyerbu isi kedua kardus tersebut yang berisi buku-buku bacaan bermacam genre.
"Kalian jangan berebut, bukunya masih sangat banyak,"
Changmin menggeleng ringan dengan kekehan ringan melihat keaktifan anak-anak panti. Kyuhyun pun ikut tersenyum.
"Changmin-ah, selamat datang, Nak," sapa seorang ibu paruh baya menghampiri Changmin.
Namja tampan itu menoleh lalu memberikan senyuman dan pelukan singkat.
"Apa kabar, Bibi Hyobin?" tanya Changmin.
"Kau menanyakan kabarku seolah kau sudah sangat lama tak ke sini. Padahal aku ingat minggu lalu kau ke sini dengan Yeon Hee," balas Bibi Hyobin yang disambut dengan tawa dari Changmin.
Kyuhyun mengernyitkan dahinya mendengar nama asing yang disebutkan Bibi Hyobin.
"Ah, siapa si manis di sampingmu ini, Changmin-ah?" tanya Bibi Hyobin yang menyadari ada seseorang di sebelah Changmin.
Kyuhyun tersenyum malu mendengar kata manis dari Bibi Hyobin untuk menyebut dirinya.
Changmin melirik malas-malasan, "Perkenalkan dirimu," katanya tanpa minat.
Kyuhyun mendesah kesal menyadari Changmin yang kembali dalam mode menyebalkannya. Dia segera menundukkan sedikit tubuhnya lalu memperkenalkan diri pada Bibi Hyobin.
"Anyeonghaseo, Bibi. Nama saya, Jung Kyuhyun,"
Bibi Hyobin tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Kau bisa memanggilku Bibi Hyobin, Kyu-ah. Aku adalah pengurus panti asuhan ini. Hmm, aku baru melihatmu hari ini. Apa Changmin yang mengajakmu?"
Changmin menggeleng cepat mendengar pertanyaan Bibi Hyobin. Sedangkan Kyuhyun menggangguk membenarkan. Respon yang berbeda itu membuat Bibi Hyobin mengernyit bingung. Siapa yang benar?
Melihat Bibi Hyobin terdiam, Changmin segera mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ya, Bibi. Yeon Hee menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa datang hari ini. Dia harus mengurus pesanan bunga di sebuah pesta pernikahan. Tetapi, minggu depan dia akan mengusahakan datang,"
Bibi Hyobin mengangguk mengerti, "Iya, tidak apa-apa. Sampaikan salamku jika kau bertemu dengannya, ya?"
Changmin tersenyum lalu mengangguk. Sedangkan Kyuhyun kembali mengernyit dengan nama yang disebutkan Changmin.
"Changmin Oppa!" panggil suara seorang anak kecil yang berlari kecil mendekatinya.
Changmin segera menyejajarkan badannya dengan tinggi anak kecil tersebut.
"Halo, Eunsoo! Apa kabarmu, sayang?" sapa Changmin sembari tangannya mengacak lembut rambut hitam si kecil Eunsoo.
"Kabarku baik sekali, Oppa! Eum, Yeon Hee Unnie mana? Aku tidak melihatnya," balas Eunsoo mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Kyuhyun memutar bola mata caramelnya malas ketika lagi-lagi mendengar nama itu. Kenapa sih semua orang tampak sangat mempedulikan nama itu?
"Ah, Yeon Hee Noona meminta maaf padamu karena dia belum bisa datang hari ini. Pekerjaannya masih sangat banyak. Tapi kau jangan bersedih, ya? Dia telah membawakanmu bibit bunga kertas sesuai janjinya," hibur Changmin melihat Eunsoo kecewa mendengar Yeon Hee tidak datang.
"Tapi-tapi, aku tidak mau menanam bibit bunga itu jika tidak dengan Yeon Hee Unnie!" rajuk Eunsoo.
Changmin melihat Bibi Hyobin meminta pertolongan. Bibi Hyobin mengangguk lalu berlutut untuk melihat wajah Eunsoo.
"Eunsoo, untuk hari ini menanam bibit bunganya dengan Bibi, ya?" bujuk Bibi Hyobin. Namun sayangnya dijawab dengan gelengan keras dari Eunsoo.
"Hei, gadis kecil. Bagaimana kalau dengan oppa? Kalau kau mau setelah menanam bibit bunga, kita akan makan es krim bersama dengan yang lain, bagaimana?" tanya Kyuhyun tiba-tiba yang telah berlutut di samping Changmin.
Eunsoo mengalihkan mata hitamnya ke arah Kyuhyun lalu mengamatinya. Gadis kecil itu nampak berpikir, lalu akhirnya mengangguk malu-malu. Kyuhyun tersenyum puas dengan respon Eunsoo. Dia segera mengulurkan tangannya untuk menggandeng Eunsoo.
"Mana bibit bunganya?" tanya Kyuhyun pada Changmin yang masih agak terkejut dengan Eunsoo yang gampang terbujuk oleh rayuan Kyuhyun.
Namja tampan itu segera mengeluarkan beberapa wadah kecil dari tasnya lalu menyerahkannya ke Kyuhyun.
"Nah, sekarang tunjukkan tempat menanamnya, ya?" ajak Kyuhyun yang disambut anggukkan semangat Eunsoo. Tampaknya gadis kecil itu sudah melupakan kesedihannya karena Yeon Hee tidak datang. Mereka segera berjalan menuju halaman samping panti asuhan, tempat menanam bunga.
Changmin menaikkan sedikit alisnya melihat interaksi di depannya.
"Ah, untunglah kau membawa temanmu yang manis itu ke sini, Changmin-ah. Kalau tidak ada dia, bisa-bisa Eunsoo merajuk seharian," kata Bibi Hyobin dengan senyuman lega.
Sedangkan Changmin diam tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
.
.
ChangKyu
.
.
Kyuhyun dan Eunsoo tampak berbinar-binar melihat hasil kerja keras mereka. Bibit-bibit bunga kertas yang mereka tanam. Selanjutnya adalah menunggu beberapa minggu sampai bibit-bibit bunga itu tumbuh menjadi tanaman bunga dan memunculkan tunas-tunas bunga baru. Ah, Kyuhyun tersenyum sangat senang membayangkannya.
Namja manis itu memang sesekali menemani Umma-nya menanam bibit-bibit bunga di suatu space yang khusus disediakan Appa-nya untuk hobi sang istri. Sebenarnya hal itu dilakukannya tanpa minat. Karena sungguh itu bukan hobinya asal kalian tahu. Tetapi, Ummanya dengan rajukan yang sungguh tidak cocok untuk usianya, selalu berhasil membuatnya melakukan aktivitas yang baginya kotor dan panas itu. Oh, Kyuhyun memang membenci aktivitas semacam itu. Bukan bermaksud manja, hanya saja dia tidak terbiasa. Mungkin saja itu alasan Umma-nya memaksa dirinya untuk ikut berkotor-kotor di halaman rumah mereka.
Akan tetapi, hari ini Kyuhyun merasa aktivitas menanam bunga bersama gadis kecil Eunsoo sangat menyenangkan. Dia banyak tertawa karena celotehan-celotehan lucu dan polos Eunsoo. Namja manis itu membandingkan dengan Umma-nya yang sering mengomel jika apa yang dilakukannya salah. Kyuhyun mendesah malas jika mengingat omelan Umma-nya. Sekarang dia berpikir, mungkin lain kali dia bisa menanam bibit bunga yang lain dengan Eunsoo. Dia tersenyum membayangkannya.
"Kyu Oppa, ayo kita ke dalam! Aku tidak mau tertinggal 'story time'!" ajak Eunsoo lalu menarik tangan Kyuhyun ke dalam panti.
Kyuhyun mengernyit mendengar kata 'story time' dari Eunsoo. Dia penasaran tetapi memilih mengangguk dan bergerak mengikuti langkah kecil Eunsoo.
Setelah sampai di sebuah ruangan yang cukup besar, Eunsoo melepaskan genggaman tangannya dari Kyuhyun, lalu berlari kecil menuju kumpulan besar anak-anak yang membentuk lingkaran di tengah ruangan. Mereka duduk di lantai yang telah beralaskan karpet tipis. Lalu di tengah-tengah mereka, Kyuhyun melihat Changmin sedang memangku seorang gadis kecil yang mungkin usianya masih di bawah lima tahun. Gadis kecil itu melihat Changmin dengan wajah antusias.
Namja manis itu melihat satu persatu wajah anak-anak yang tidak kalah antusias melihat Changmin. Namja tampan itu sedang membacakan sebuah buku cerita. Sesekali suaranya akan berubah mengikuti dialog dan suasana yang ada dalam cerita. Tangannya juga kadang bergerak untuk menciptakan efek lebih pada cerita yang dibacakannya.
Anak-anak begitu terhibur dan sangat menikmati cerita yang dibacakan Changmin. Mereka akan ikut tertawa jika cerita dan ekspresi Changmin berubah lucu atau menjadi ketakutan jika ceritanya berubah menyeramkan. Suara-suara ribut terdengar berdengung untuk menanggapi cerita yang dibacakan Changmin. Tetapi, Kyuhyun melihat Changmin hanya tersenyum atau menanggapi ringan penuh kesabaran atas celotehan anak-anak itu.
Melihat pemandangan yang sungguh manis itu, Kyuhyun merasakan perasaan hangat yang menelusup sangat halus dalam perasaannya. Dia pernah melihat pemandangan semacam ini dalam drama atau film yang ditontonnya. Hanya dia merasa biasa saja. Tidak ada kekaguman atau perasaan tersentuh melihat itu. Tetapi melihatnya, berada langsung dalam kondisi itu, Kyuhyun sekarang mengerti bagaimana perasaannya membuncah dengan kebahagiaan yang dirasakan anak-anak. Dia dapat melihatnya, bahwa kebahagiaan itu memang menular. Namja manis itu tanpa sadar tersenyum dengan sangat bahagia. Ah, perasaan ini sungguh memenuhi dirinya. Seumur hidupnya, ini adalah hari terbaik yang pernah dia alami.
Kyuhyun masih betah melihat anak-anak yang berceloteh riang saat dari mata caramelnya, dia melihat Changmin yang menoleh ke arahnya. Namja tampan itu memberikan senyuman untuknya. Senyuman tulus pertama kali yang dilihatnya dari wajah Changmin. Dan, sekarang Kyuhyun tak tahu kenapa melihat senyuman itu, jantungnya terasa berdetak lebih heboh dan tiba-tiba dia merasa kesulitan bernafas!
.
.
TBC
Glosarium :
(1) WWF (World Wild Fund for Nature) : sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan. Saat ini, sebagian besar tugas WWF terfokus pada konservasi tiga bioma yang berisikan keragaman hayati dunia, yaitu hutan, ekosistem air tawar, samudera dan pantai.
Lebih lengkapnya bisa cek (kurung tutup buka-nya dihilangkan dulu):
id()wikipedia()org/wiki/World(_)Wide(_)Fund(_)for(_)Nature
(2) Pantai Taejongdae : salah satu pantai yang menjadi destinasi utama di Busan. Pantai ini merupakan kawasan berbatu karang.
(3) Hyundai (Department Store) : salah satu dari tiga department store terbesar dan utama di Korea Selatan selain Lotte Department Store dan Shinsegae. Hyundai Department Store mempunyai 14 lokasi dengan total penjualan $340 juta per tahun.
.
.
Yeah, Kyu, cinta memang bisa datang kapan saja, kan? Tidak peduli kau sudah punya pacar atau dia yang tiba-tiba kau sukai juga punya pacar. Hahaha…
Ah, Changmin, that's a prince! Membayangkan Changmin melakukan scene terakhir dengan anak-anak kecil di sekelilingnya…./gegulingan/meleleh/
Saya berharap semoga fanfic ini bisa memberikan pesan moral ke depannya dan ada "isinya". Saya tidak ingin hanya memberikan sebuah cerita yang isinya cuma roman picisan seperti fanfic-fanfic saya yang lain/nyengir/
Oh, ya, untuk kali ini saya ingin menjawab pertanyaan2 dari review. Desviana407. Maaf, ya, saya seorang Changkyu hardshipper, jadi tentu kamu tahu Kyu akan bersama siapa nanti^^. Untuk Our Baby, masih saya ketik, mohon maaf menunggu. Readlight. Yang prince di sini? Sebenarnya itu sudah sangat tersurat di ocehan saya sebelum cerita dimulai, coba kamu cek lagi. Kyu di sini umurnya sekitar 23 tahun. MinGyuTae00. Siapa Changmin? Dia hanya seorang pemuda biasa yang melakukan hal-hal luar biasa. AkaSunaSparKyu. Iya, Changmin masih kuliah dan tentu dia di sini lebih muda dari Kyuhyun. iaasshine. Pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini, ya. Lalu sayangnya, Siwon tidak akan selingkuh dari Kyu. Tetapi Kyu yang akan selingkuh dari Siwon. Hehehe. Sheehae89. Terima kasih koreksinya. Maaf, ya, saya tidak tahu detail tubuh member Super Junior. Maklum, saya bukan Elf.
Untuk GaemGyu92; Awaelfkyu13; cuttiekyu; SNCKS; Songkyurina; widiantini9; hyunnie02; ; yulianasuka; Jiji Park; ChwangKyuh EviLBerry; naminara; Caramel Macchiato; angel sparkyu; Eka Elf; Mee; dan Macchiato Chwang. Terima kasih reviewnya^^
Thanks so much for all of you who red, rev, fav, and foll my fic/deepbow/
