Cast :

Shim Changmin

Jung (Cho) Kyuhyun

Lee Yeon Hee

Choi Siwon

Other Cast :

Jung Yunho-Jung (Kim) Jaejoong

Shim (Tan) Hangeng-Shim (Kim) Heechul

Shim Soo Yeon

Shim Ji Yeon

Genre : Romance, Friendship, Family

NB : setting lokasi FF ini ada di Busan, Korea Selatan.


Chapter 3 saya bagi menjadi 2 bagian karena words-nya sangat panjang. Saya khawatir nanti pada bosan kalo kebanyakan words, jadi ini adalah part A dari chapter 3.

.

.

Fanfic ini saya persembahkan untuk Pangeran Shim yang akan enlist military sebentar lagi.

This is for you Prince Shim.

"Karena kesempurnaan bukanlah yang membuatmu bahagia. Tetapi saling melengkapilah yang menciptakan kesempurnaan untuk membuatmu bahagia."

.

.

Selamat membaca!

.

.

Chapter 3-Part A

.

.

Suara riuh anak-anak panti terdengar bersahutan memberikan salam untuk Changmin dan Kyuhyun yang akan pulang. Suara-suara mereka terdengar sangat gembira. Itu karena baru saja Kyuhyun menepati janjinya mentraktir es krim untuk Eunsoo. Meskipun itu adalah janji untuk Eunsoo, tentu saja Kyuhyun akan dengan senang hati mentraktir semua anak. Lagipula, uang bukanlah hal yang sulit baginya untuk dikeluarkan. Jika hanya mentraktir es krim, itu sangat mudah baginya.

Setelah semua anak masuk ke dalam gedung panti asuhan, Changmin segera berbalik untuk bersiap melakukan aktivitas selanjutnya. Bukan pulang ke rumah, karena dia berencana akan mengunjungi Yeon Hee terlebih dahulu.

"Hei," panggil Kyuhyun saat dilihatnya Changmin akan pergi begitu saja. Tidakkah namja tampan itu ingin mengucapkan satu atau beberapa kata padanya sebelum pergi?

Changmin berbalik melihat Kyuhyun dengan sedikit menaikkan sebelah alisnya.

"Apa?"

Kyuhyun berdecak kesal saat mendengar nada bicara Changmin tidak berubah sama sekali sejak pertama kali mereka bertemu. Namja manis itu pasti kesal, apalagi jika dia mengingat di hadapannya selama beberapa lama, Changmin bisa tersenyum dan berbicara sangat ramah dan lembut pada anak-anak. Lalu kenapa jika dengannya, namja tampan itu berubah menyebalkan?

"Kau itu ramah sedikit denganku bisa tidak, sih? Tadi saja dengan anak-anak kau ramah sekali," kata Kyuhyun mengungkapkan kekesalannya.

Changmin mengedikkan bahunya tak peduli.

"Hmm, entahlah. Aku juga tidak tahu. Itu seperti otomatis saat berbicara denganmu," balasnya ringan seolah menganggap perkataan Kyuhyun tidak penting.

"Tapi, tadi saat 'story time' kau sempat…..tersenyum padaku," kata Kyuhyun agak pelan di kata-kata terakhir. Mendadak dia merasa malu dan gugup. Bahkan, jantungnya berdebar halus. Ah, dia tak tahu kenapa tiba-tiba reaksinya begini hanya karena membahas senyuman Changmin yang terlihat sangat hangat untuknya tadi. Kyuhyun mengalihkan pandangan matanya dari mata kelam Changmin untuk menutupi rasa gugup.

Sekarang Changmin mengernyitkan dahinya. Dia mengedikkan bahunya lagi, "Itu refleks saja. Sudahlah. Aku ingin segera pergi. Aku duluan,"

Namja tampan itu hampir melangkahkan kakinya, namun dia teringat sesuatu. Gelang dengan bandul 'K' yang masih terpasang di tangan kirinya. Dia kembali berbalik lalu berjalan mendekati Kyuhyun yang memandangnya tak mengerti.

"Ada apa?" tanya Kyuhyun saat dilihatnya Changmin berjalan ke arahnya.

"Aku kira kita sudah impas, jadi aku akan mengembalikan barang jaminan," jawab Changmin lalu menunjukkan tangan kirinya.

Kyuhyun melebarkan matanya agak terkejut saat melihat Changmin akan membuka pengait pada gelang miliknya yang terpasang di tangan Changmin. Namja manis itu refleks memegang tangan kiri Changmin dengan kedua tangannya untuk menghentikan pergerakan namja tampan itu.

"Tidak!" serunya cepat.

Changmin menatap namja manis di depannya yang balas menatapnya tajam. Dia menaikkan alisnya tak mengerti.

"Maksudmu apa?"

"Tentu saja jangan dikembalikan sekarang!" balas Kyuhyun cepat. Dia semakin erat memegang tangan Changmin memastikan namja tampan itu tidak memaksa melepas gelangnya.

"Hah? Memangnya kenapa?" tanya namja tampan itu tak mengerti.

Kyuhyun menggeleng, "Belum. Aku berpikir, kita belum impas,"

"Jangan bercanda! Tumpangan yang kau berikan itu lebih dari cukup. Lepaskan tanganmu! Aku akan mengembalikan gelangmu!" balas Changmin cepat.

Kyuhyun tetap menggeleng untuk menunjukkan penolakannya.

Changmin mendengus jengkel. "Maumu apa, sih?"

Namja manis itu terdiam. Jujur dia tidak tahu apa yang diinginkannya. Tapi, entahlah. Ada bagian dari dirinya yang tidak ingin membiarkan pemuda itu mengembalikan gelangnya secepat ini. Lalu apa alasannya? Dia tak tahu. Sungguh. Kyuhyun merasa tidak ingin perjumpaannya dengan pemuda di depannya itu berakhir sampai hari ini saja. Dia merasa seolah, tidak rela?

"Hei, jangan bilang kau ingin merecoki hidupku? Astaga…"

Changmin mengusap dahinya mengekspresikan dugaannya. Kyuhyun meringis mendengarnya. Changmin mendelik melihat ekspresi Kyuhyun yang tidak mengelak. Perkiraannya tepat.

"Kau itu kurang kerjaan," desisnya jengkel.

Kyuhyun menjulurkan lidahnya berusaha tidak peduli dengan kata-kata Changmin.

Tin! Tin!

Secara refleks Kyuhyun dan Changmin menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat Paman Shin telah menepikan mobil untuk menjemput tuan mudanya. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan saat melihat bantuan datang. Dia bisa mengelak secepatnya.

"Baiklah. Sampai bertemu lagi!" ucapnya cepat lalu melepaskan genggaman tangannya pada Changmin. Namja manis itu segera membuka pintu mobil dan meminta Paman Shin menjalankan mobilnya.

Pergerakan Kyuhyun yang begitu cepat, membuat Changmin tak bisa melakukan reaksi apapun. Namja tampan itu mengerang kesal dengan Kyuhyun yang lagi-lagi berbuat seenaknya. Bisa dilihatnya namja manis itu melambaikan tangannya dengan puas dan terlihat sangat senang.

.

.

ChangKyu

.

.

Yeon Hee mendongakkan kepalanya saat melihat seorang memasuki toko bunganya. Dia segera menegakkan tubuhnya dan memberikan salam ramah. Seseorang itu adalah pria dewasa jika dilihat dari penampilannya sebagai business man. Pria tersebut mendekat ke arah Yeon Hee lalu membalas senyum yeoja cantik itu. Yeon Hee dapat melihat sepasang dimple terbentuk saat pria tersebut tersenyum.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Yeon Hee saat pria tersebut telah berdiri di depannya.

Pria tersebut mengangguk, "Aku ingin memberikan sebuah buket bunga untuk kekasihku. Tapi, aku tidak mempunyai ide bunga apa yang cocok untuknya,"

Masih dengan senyum yang tidak lepas dari wajah cantiknya, Yeon Hee menganggukkan kepalanya mengerti. Kalimat yang diucapkan pria tersebut adalah hal lumrah yang ditanyakan para pembeli padanya.

"Anda bisa memberikan bunga sesuai dengan karakter seseorang, Tuan. Bisa Anda jelaskan bagaimana sifat atau rupa kekasih Anda?"

"Tentu saja. Dia seseorang yang manis, polos, meskipun cerewet dan agak merepotkan. Melihatnya itu pasti terasa sangat bersinar dan cantik," jawab pria tersebut sembari membayangkan kekasihnya. Terlihat ekspresi pemujaan pada wajahnya.

Yeon Hee melebarkan senyumnya. Dia segera mengambil setangkai bunga dan menunjukkannya pada pria tersebut.

"White Carnation. Ini adalah bunga yang tepat untuk menggambarkan kekasih Anda. Bunga ini memiliki arti sebuah kecantikan dalam balut kepolosan yang membuatnya manis,"

Pria tersebut segera mengalihkan perhatiannya pada setangkai bunga di hadapannya. Dia mengamati beberapa saat lalu tersenyum.

"Bunga yang sangat cantik,"

"Tentu saja, Tuan. Saya bisa membuatkan buket bunganya jika Anda berkenan,"

"Ya, boleh," balas pria tersebut cepat lalu menganggukkan kepalanya.

"Baik, silahkan duduk dahulu sembari menunggu,"

Yeon Hee segera berbalik menuju meja kerjanya, tempat dia biasa membuat pesanan untuk toko bunganya. Yeoja cantik itu dengan telaten merangkai sebuah buket bunga di tangannya.

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu belakang toko dibuka oleh seseorang. Seorang pria dengan tubuh jangkung yang membawa beberapa keranjang penuh bunga segar. Pria itu adalah Changmin, yang memang sesekali membantu kekasihnya mengurus toko bunganya.

"Yeon Hee, aku letakkan di mana ini?" tanyanya seraya menunjukkan keranjang-keranjang tersebut.

Yeoja cantik itu mendongak sekilas lalu kembali memusatkan perhatiannya pada rangkaian buket bunganya.

"Taruh saja di sampingku. Nanti akan aku tata ulang. Oh, ya bisakah aku minta tolong kau menunggui meja resepsionis sementara aku membuat ini?" tanya Yeon Hee kembali mendongak melihat Changmin. Namja tampan itu memberikan senyuman lalu mengangguk menerimanya dengan senang hati.

Changmin segera menuju meja resepsionis lalu duduk di salah satu bar stool. Karena tidak ada kesibukan, dia memilih melihat-lihat salah satu majalah tentang bunga yang memang menjadi langganan Yeon Hee.

Pria dengan dimple yang sedang menunggu buket pesanannya, sekilas melihat sebuah benda yang sangat dikenalnya saat Changmin membalik halaman majalah dengan tangan kirinya. Karena didera penasaran, pria tersebut mendekati Changmin lalu mengamati dengan lebih jelas benda yang melingkari tangan kiri Changmin.

"Em, maaf, bisakah saya melihat gelang yang ada di tangan kiri Anda?" tanyanya setelah memastikan gelang itu adalah gelang yang memang dikenalnya.

Changmin mengalihkan perhatiannya menuju pria di depannya. Dia mengerutkan dahinya sekilas lalu melirik singkat pada gelang di tangan kirinya.

"Kalau boleh saya tahu, memangnya ada apa?" tanya Changmin balik. Dia ingat gelang itu adalah milik orang lain, jadi tentu dia tidak dengan mudahnya menunjukkan gelang tersebut pada orang yang tidak dikenalnya.

"Oh, saya merasa mengenal gelang tersebut. Itu seperti gelang yang saya berikan pada kekasih saya tahun lalu. Gelang perak dengan bandul 'K'. Anda bisa melihat di bagian dalam tersebut ada nama kekasih saya," jawabnya lancar. Tentu itu membuat Changmin kembali mengerutkan dahinya.

Namja tampan itu segera melihat ke bagian dalam gelang tersebut dan memang menemukan sebuah nama di sana. Dia segera melihat ke arah pria di depannya lagi.

"Mohon maaf sebelumnya, saya juga hanya ingin memastikan. Siapa nama kekasih Anda?" tanya Changmin lagi.

Pria tersebut tersenyum sekilas, "Jung Kyuhyun,"

Changmin terkekeh sekilas lalu menganggukkan kepalanya.

"Seebentar, sebelum Anda berpikir macam-macam, saya akan menceritakan asal mula mengapa gelang ini ada di tangan saya," lanjut Changmin cepat saat melihat ekspresi pria di depannya berubah agak tidak bersahabat.

"Jadi, sekitar satu minggu lalu, pada malam hari, saat saya akan pulang ke rumah dengan menaiki bus, seorang namja mendekati saya dan meminta tolong untuk membayarkan ongkos busnya. Dia bilang dia hampir mengalami kejadian tidak menyenangkan-"

"Ah, iya! Dia menceritakan hal yang sama," sahut pria tersebut cepat teringat dengan cerita kekasihnya.

"Saya belum selesai bercerita," ucap Changmin agak jengkel.

"Oh, maaf, silahkan Anda lanjutkan,"

Changmin menghela nafas pelan lalu mulai melanjutkan ceritanya.

"Ya, dia bilang bahwa tasnya tertinggal karena untuk menyelamatkan diri dan dia tidak membawa uang sepeserpun bersamanya. Mungkin untuk meyakinkan saya, dia menawarkan barang jaminan. Lalu dia memberikan gelang ini sebagai jaminan sampai dia bisa membalas pertolongan yang saya berikan. Ternyata namja itu kekasih Anda,"

Namja tampan itu menyelesaikan penjelasannya lalu mengedikkan bahu sekilas tampak menganggap kejadian bersama seorang namja yang cerewet itu-lah kejadian tidak menyenangkan. Dia menghela nafas merasa bersyukur karena sudah lewat satu minggu mereka tidak bertemu lagi.

Pria tampan itu menganggukkan kepalanya mengerti.

"Ah, lalu apakah Kyuhyun sudah membalas pertolongan Anda?"

Changmin menganggukkan kepalanya, "Sudah. Bahkan lebih dari cukup. Tapi dia tidak mau saya mengembalikan gelang ini secepatnya. Saya tidak tahu kenapa,"

Jawaban Changmin membuat pria tersebut yang ganti mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Kyuhyun menolak menerimanya padahal dia sudah membalas pertolongan pemuda ini? Apa yang sebenarnya yang kekasihnya itu pikirkan?

"Ah, untunglah saya bertemu Anda. Saya bisa mengembalikan gelang ini pada Anda, kan?"

Pria tersebut mengangguk lalu segera menerima gelang yang disodorkan Changmin. Dia mengamati sekilas gelang pemberiannya itu lalu segera memasukkannya ke dalam saku celananya.

"Oh, ya. Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan Anda waktu itu,"

"Tidak usah sungkan," balas Changmin cepat.

Yeon Hee mendekati kedua pria yang tampak sedang mengobrol itu. Dia segera tersenyum pada pria pemesan bunganya lalu mengulurkan buket bunga yang dipesannya pada pria tersebut.

"Apakah Anda ingin menambahkan kartu ucapan, Tuan?" tanya Yeon Hee memberikan penawaran kembali.

"Tak perlu. Cukup tulis namaku saja dalam note kecil," balas pria tersebut.

Yeon Hee mengangguk lalu mengambil sebuah note kecil bersiap menulis.

"Silahkan,"

"Dari Choi Siwon untuk Jung Kyuhyun,"

.

.

ChangKyu

.

.

"Buket bunga?" tanya Kyuhyun dengan ekspresi sangat terlihat tidak menyukainya.

Siwon tersenyum lalu menganggukkan kepalanya cepat. Dia tampak tidak terpengaruh dengan ekspresi Kyuhyun.

"Ya Tuhan, hyung! Memangnya aku ini yeoja atau namja pecinta bunga? Aku tidak suka," lanjutnya cepat dan menggeser buket bunga yang diberikan Siwon menjauhinya.

Siwon menghela nafas agak panjang melihat Kyuhyun sudah merengut.

"Oh, ayolah… Aku hanya ingin bersikap romantis dengan memberikanmu hal-hal yang manis, sayang. Kau tahu bunga ini sangat menggambarkan dirimu. Nama bunga ini adalah White Carnation yang artinya kecantikan berbalut kepolosan yang membuatnya tampak manis. Bukankah itu dirimu sekali?" sahut Siwon dengan sedikit meniru perkataan yeoja di tempat membelinya bunga. Lalu dia pikir kata-katanya tadi sudah cukup manis untuk merayu Kyuhyun. Semoga itu berhasil.

"Apa? Kenapa aku jadi terdengar sangat lembut dan yeoja sekali? Aku tidak mau! Kalau hyung ingin menyenangkanku ajaklah aku ke game center atau hal-hal semacam itu!" balas Kyuhyun tetap menolak.

"Astaga, sayang. Kau ini sudah bukan remaja lagi. Kau bahkan sudah lulus kuliah. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang lebih romantis. Tentu saja sesuai dengan sepasang kekasih seusia kita,"

"Oh, jadi maksud hyung aku kekanak-kanakkan?" balas Kyuhyun sengit.

"Aduh, bukan… Bukan begitu! Sudahlah jangan dibahas lagi," jawab Siwon cepat tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. Dia memijit pelipisnya pelan. Terbukti sudah rayuannya gagal dan sekarang Kyuhyun justru merajuk. Oh, ingatkan dia untuk tidak membelikan buket bunga lagi untuk kekasihnya itu.

Kyuhyun yang sedang merajuk saat ini entah mengapa justru mengingatkannya pada obrolannya dengan pemuda di toko bunga itu. Dia ingat tentang gelang milik Kyuhyun serta ingin bertanya sesuatu pada kekasihnya.

"Ah, iya. Ada yang ingin kuberikan lagi padamu. Lihat dulu!" sahut Siwon cepat saat Kyuhyun semakin merengut. Mungkin namja manis itu berpikir Siwon akan memberikan sesuatu yang terkesan chessy lagi. Dia sungguh tidak mau.

Namja dengan sepasang dimple itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu menaruhnya di atas menja yang memisahkan mereka berdua. Kyuhyun melihatnya agak penasaran lalu dengan cepat dia terkejut dengan benda yang diberikan Siwon.

"Bagaimana hyung bisa mendapatkannya?" tanya Kyuhyun terkejut tanpa menutupi ekspresinya sama sekali.

Siwon tersenyum sekilas lalu mengedikkan bahunya, "Tuhan tidak tidur, sayang," jawabnya ringan.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya dalam-dalam dengan jawaban Siwon yang menurutnya tidak nyambung. Tangannya bergerak meraih gelang tersebut ingin memastikan sendiri itu gelang yang sama yang diberikan Siwon padanya lalu seingatnya diberikannya pada Changmin sebagai jaminan. Bukankah seharusnya gelang itu ada pada Changmin?

Namja manis itu melihat Siwon lagi yang masih memandanginya. Mata caramelnya meminta jawaban dari Siwon dengan kalimat sederhana. Siwon tertawa melihatnya.

"Maksudku, tentu saja banyak hal terjadi tanpa kita bisa menebak. Contohnya gelang ini. Tadi sore saat membeli buket bunga untukmu aku bertemu dengan seorang pemuda yang memakai gelang ini. Aku bertanya padanya dan dia menjelaskan. Dia bilang kau sudah membalas pertolongannya tapi kau menolak menerima kembali gelangmu. Apakah benar?"

Kyuhyun kembali terkejut dengan penjelasan panjang Siwon. Sekarang Kyuhyun ingin merutuki Changmin. Kenapa namja tampan itu memberikan penjelasan dengan gamblang pada Siwon? Apa yang harus dijawabnya?

"Kyu?" panggil Siwon menuntut jawaban.

Namja manis itu tersenyum lebar untuk menutupi pikirannya yang terasa agak panik.

"Oh, aku…memang sudah membalasnya. Tapi, aku rasa itu belum cukup, hyung. Iya, belum cukup," jawabnya lalu menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Siwon.

"Tapi, kata pemuda itu, kau sudah membalasnya lebih dari cukup," sangkal Siwon agak mengerutkan dahinya.

Kyuhyun menyandarkan tubuhnya ke kursi yang di dudukinya lalu sedikit menghela nafas. Itu sebenarnya adalah gesture yang dia buat-buat agar tampak meyakinkan di mata Siwon.

"Hyung, kadang ada penolong yang mengatakan hal seperti itu. Tentu saja karena dia merasa bahwa pertolongannya bukanlah apa-apa. Makanya dia tak meminta pamrih," kata Kyuhyun lagi sewajar mungkin. Namja manis itu berharap Siwon benar-benar mempercayainya. Dapat dilihatnya kekasihnya itu berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya tanda dia sepakat dengan kalimat namja manis itu. Kyuhyun diam-diam menghirup nafas lega.

"Ah, benar juga. Untunglah kau bertemu dengan penolong sebaik dia, sayang,"

Kyuhyun mengernyitkan dahinya dan membatin, 'Baik apanya? Menyebalkan iya!'

"Sudahlah, kita membicarakan hal yang lain saja. Gelangku sudah kembali, kan?"

Kyuhyun menunjukkan gelang perak yang sudah melingkar lagi di tangan kirinya, meskipun dalam hatinya dia merasa tidak rela gelangnya kembali secepat ini. Entahlah, dia merasa gelang ini adalah alasan dia bisa bertemu lagi dengan Changmin. Dia sungguh penasaran dengan namja menyebalkan itu. Tapi kenapa dia penasaran? Dia sedikit tersentak dengan pikirannya. Dia mengerjapkan matanya untuk menghilangkan segala pikiran yang menurutnya aneh. Namja manis itu kembali memusatkan perhatiannya pada kekasihnya. Dilihatnya Siwon mengangguk menjawabnya.

"Oh, iya. Buket bunga ini bagaimana?" tanya Siwon sembari menunjuk buket bunga yang tergeletak di meja.

Kyuhyun menghela nafas lelah.

"Ya, sudah. Sini, mungkin Umma akan menyukainya,"

.

.

ChangKyu

.

.

Cuaca musim gugur terasa sejuk cenderung dingin. Matahari bersinar tidak terlalu terik. Kyuhyun tentu sangat bersyukur akan hal itu saat ini. Dia bersama dengan tim dari divisi perencanaan proyek perusahaan Appanya, pagi ini dijadwalkan untuk meninjau proyek pembangunan resort di daerah Taejongdae. Meninjau proyek yang berarti harus berada di lapangan, melakukan pengecekan di setiap jengkal pembangunan, itu akan sangat lama. Berada di ruang terbuka saat sepanjang hari di musim panas akan membuat kulit putih pucatnya memerah dan Kyuhyun tidak menyukai hal tersebut. Untunglah banyak proyek perusahaan yang berlangsung saat musim gugur ini. Jadi jika Appanya lain kali menugaskan dia melakukan peninjauan proyek lagi, dia mau saja menerimanya.

Kyuhyun melirik jam tangan di tangan kirinya yang telah menunjukkan waktu makan siang. Sekilas dia melihat gelang perak yang sudah terpasang bersebelahan dengan jam tangannya. Namja manis itu mendesah entah untuk apa. Sekarang jika melihat gelang perak itu, bukan Siwon yang dia ingat, tapi Changmin. Apa-apan ini? Pikirannya terasa sangat aneh.

Di depannya, Lee Jiyeon yang merupakan manager proyek, telah memberikan perintah pada tim untuk istirahat siang. Setelah itu tim akan kembali ke perusahaan. Kyuhyun berpikir dia tidak harus kembali ke perusahaan, karena tugas yang diberikan Appanya hari ini hanya ikut dengan tim dari divisi pembangunan untuk meninjau proyek. Setelahnya tugas selesai. Namja manis itu tersenyum senang saat memikirkan suatu rencana dalam otaknya. Mungkin dia bisa ke Pantai Taejongdae dulu setelah ini. Semoga udara pantai tidak terlalu dingin meskipun saat ini musim gugur.

"Jiyeon-ssi, maaf bisa bicara sebentar?" tanya Kyuhyun segera saat dilihatnya manager proyek itu akan beranjak untuk makan siang.

"Ya, silahkan," jawab Jiyeon menganggukkan kepalanya.

"Apa aku bisa ijin pergi lebih dulu? Aku ingat siang ini aku sudah mempunyai urusan,"

Terlihat Jiyeon berpikir sesaat lalu menganggukkan kepalanya.

"Tentu, Kyuhyun-ssi. Setelah ini memang tidak ada tugas untuk Anda. Silahkan,"

Kyuhyun tersenyum lebar lalu menundukkan kepalanya untuk undur diri.

"Terima kasih,"

.

.

ChangKyu

.

.

Changmin mengusap sedikit keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia mengira dengan udara yang cukup dingin di Taejongdae, itu tidak akan membuatnya berkeringat seperti sekarang. Tapi ternyata sama saja. Dia menegakkan badannya untuk meregangkan sedikit punggungnya yang telah membungkuk sekian lama. Mata hitam sekelam malam miliknya mengamati para relawan lain yang masih melakukan aktivitas serupa dengannya. Jika menganut istilah para pecinta alam, nama kegiatan yang sedang dia lakukan adalah bersih bumi. Maksudnya adalah kegiatan untuk membersihkan alam dari sampah-sampah yang sering kali disebabkan para manusia. Seringkali adalah para turis yang meninggalkan sampah dalam jumlah besar. Sehingga dia dan para relawan di kampusnya mempunyai jadwal melakukan kegiatan ini rutin satu bulan sekali.

Matanya mengawasi sekitar tempatnya, mengecek bagian mana yang belum dibersihkan. Dia mendapati masih banyak sisi tersembunyi dari Taejongdae yang perlu mendapat perhatian lebih. Baiklah, sepertinya kegiatan yang berawal dari pagi sampai siang ini, akan berlanjut sampai nanti sore.

"Changmin-ah!"

Namja tampan itu menengok ke sumber suara dan melihat temannya sesama relawan berlari kecil menghampirinya.

"Ada apa?"

"Paman Jongsik memanggilmu. Ada hal yang ingin dibicarakan,"

Changmin mengerutkan dahinya sekilas lalu mengangguk. Tanpa basa-basi lagi, dia segera berjalan agak cepat menuju pos penjaga pantai tempat Paman Jongsik berada.

Setelah sampai di pos penjaga pantai dan memasuki ruangan biasanya Paman Jongsik berkantor, dia mendapati seseorang yang sedang berbicara dengan Paman Jongsik. Dari tampak belakang, dia seperti mengenal orang itu.

Paman Jongsik melihat Changmin yang telah berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum lalu segera meminta Changmin masuk ke ruangannya.

"Kemarilah Changmin-ah," kata Paman Jongsik.

Seseorang itu berbalik dan matanya yang sewarna caramel melebar sedekian detik melihat Changmin yang juga terbelalak melihatnya.

"Ah! Kau!" pekiknya spontan.

Setelah menyadari siapa orang yang berdiri di depan Paman Jongsik, Changmin memutar bola matanya malas. Namja tampan itu bisa mendengar tawa senang dari seorang namja yang dijulukinya cerewet. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Entah bagaimana bisa namja cerewet itu ada di sini, di hadapannya, di harinya yang sibuk.

"Kalian saling mengenal?" tanya Paman Jongsik tak menduganya.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya antusias untuk menjawab pertanyaan Paman Jongsik. Sedangkan Changmin dengan wajah jengah, berjalan mendekati Paman Jongsik. Dia ingin segera menyelesaikan urusannya, lalu segera menghilang dari penglihatan Kyuhyun.

"Ada apa, Paman?" tanyanya terdengar tidak sabar.

"Oh, iya. Aku ingin meminta tolong, kegiatan bersih pantainya agar segera diselesaikan sebelum jam tiga sore. Prakiraan cuaca hari ini, akan ada badai sekitar jam enam sore. Kalian harus segera berkemas sebelum sore hari karena hujan pasti akan mulai turun sore nanti," jawab Paman Jongsik dengan raut wajah serius.

"Yang benar saja, Paman. Aku telah mengecek prakiraan cuaca hari ini dan kemungkinan besar baik-baik saja. Hujan badai kemungkinan akan dimulai minggu depan," sangkal Changmin atas penjelasan Paman Jongsik.

"Itu, kan tadi, Changmin-ah. Cuaca di negara seperti Korea itu bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan. Jika kau tidak percaya, kau bisa mngecek siaran berita sekarang. Di mana-mana diberitakan agar masyarakat segera pulang ke rumah,"

Changmin mendesah agak kesal mendapati hal yang dijelaskan Paman Jongsik. Tidak mungkin sekali menyelesaikan kegiatan bersih-bersih pantai cuma sampai jam tiga sore. Kecuali ada bala bantuan. Namja tampan itu tersenyum tiba-tiba ketika otaknya mendapat ide. Dia melirik singkat Kyuhyun yang dari tadi diam mendengarkan obrolannya dengan Paman Jongsik. Namja manis itu sesekali melihatnya lalu melihat keluar jendela untuk memastikan sendiri bagaimana warna langit. Dia ingin sedikit mengusili namja manis di sampingnya ini. Jika biasanya dia yang dibuat jengkel, dia ingin membuat namja manis itu yang jengkel sekarang. Keinginannya untuk menghilang secepat mungkin dari Kyuhyun telah berubah.

"Sebenarnya masih banyak sisi pantai yang belum dibersihkan, Paman. Kemungkinan besar kami memang baru bisa menyelesaikannya sore nanti. Jika keadaan cuaca seperti itu, hasil kerja kami tidak akan maksimal. Tapi, jika ada bantuan, mungkin kami bisa menyelesaikannnya lebih cepat," ucap Changmin yang sekarang terang-terangan melihat Kyuhyun dengan senyuman ringan nan ramah terpasang di bibirnya.

Namja manis itu makin diam melihat ekspresi wajah Changmin. Wajahnya seolah menyiratkan pertanyaan, 'Kenapa kau tersenyum selebar itu dengan melihatku?'

Paman Jongsik mengikuti arah pandangan Changmin. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya memahami maksud Changmin.

"Ah, sebenarnya Kyuhyun-ssi tadi ingin menghabiskan waktu di pantai selayaknya pengunjung. Tapi karena pantai di tutup karena kegiatan bersih-bersih pantai dia langsung ke sini untuk bertanya,"

"Bukankah berarti dia tidak ada urusan lagi sekarang. Mungkin dia bisa membantu kami, Paman," lanjut Changmin masih dengan senyuman.

Kyuhyun melebar horor dengan kata-kata lanjutan itu. Apa kata Changmin tadi? Membersihkan pantai? Yang benar saja! Bahkan dia tak pernah membersihkan apapun di rumahnya! Sekarang dia dimintai tolong untuk membersihkan pantai yang luas itu? Astaga! Dia sungguh tak bisa membayangkannya!

"Kalau itu, kau bisa menanyakannya langsung pada Kyuhyun-ssi, Changmin-ah," kata Paman Jongsik.

"Dia sudah pasti sangat bersedia, Paman. Kami sudah saling kenal dekat. Jadi dia tak akan mungkin menolak permintaan tolongku. Kami permisi, Paman. Ayo, Kyu!" balas Changmin cepat lalu segera memegang tangan Kyuhyun dan menarik namja manis itu keluar dari kantor Paman Jongsik. Namja tampan itu benar-benar tidak peduli dengan reaksi Kyuhyun yang masih loading dengan keadaannya. Dia belum sempat memberikan pendapat. Bahkan dia tak bisa menolak.

Setelah sampai di luar pos penjaga pantai, namja manis itu baru selesai memproses seluruh kata-kata Changmin. Dia cukup terkejut dengan kata-kata Changmin yang sok akrab memangggil namanya. Matanya melihat tangannya digenggam dan Changmin menariknya untuk mengikuti langkah namja tampan itu.

Kyuhyun merasakan aliran darahnya mengumpul di wajahnya. Mendadak dia tak bisa merasakan hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Pipinya, ah, tidak hanya pipi, tapi seluruh wajahnya terasa hangat. Egonya ingin melepaskan genggaman tangan Changmin, tapi kenapa dia merasakan tangan Changmin seolah menyalurkan kejutan listrik yang membuatnya tak berkutik? Kyuhyun hanya bisa memejamkan matanya kuat menahan debaran halus di jantungnya yang terasa menyenangkan untuk dirasakan. Dia tak tahu kenapa ingin menikmatinya.

"Nah, kita sudah sampai,"

Kalimat Changmin menyadarkan keterdiamannya. Namja manis itu mengedarkan pandangannya dan melihat sekitar tempat mereka berdiri. Dia melihat beberapa orang serius mengambil sampah-sampah di sekitar karang. Wajahnya mengernyit agak jijik melihatnya. Dia sungguh tidak menyukai acara bersih-bersih seperti ini.

Changmin melepaskan genggaman tangannya. Sejenak Kyuhyun merasakan kehilangan saat Changmin melepaskan genggaman tangannya. Tapi, kemudian menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan aneh yang dirasakannya.

Namja manis itu lalu melihat Changmin yang mengambil sebuah kantong dan memberikan padanya. Namja manis agak enggan menerimanya.

"Kenapa aku harus melakukannya?" tanyanya terdengar kesal.

"Kau harus melakukannya, jika kau tidak ingin melihat besok ada berita yang menyiarkan para relawan Taejongdae kehilangan nyawanya karena bersikeras memberihkan pantai saat badai," jawab Changmin ringan.

"Hah?" Kyuhyun mengerutkan dahinya dalam-dalam mendengar jawaban yang baginya aneh itu.

"Uhh, tapi aku tidak bisa!"

Changmin melipat kedua tangannya di depan dada lalu menatap Kyuhyun tajam.

"Kenapa tidak bisa?" tanyanya dengan aura mengintimidasi. Kyuhyun meringis melihat ekspresi Changmin.

"Ya-pokoknya aku tidak bisa!"

"Haa…. jangan bilang kau adalah seorang anak manja yang tak pernah melakukan hal seperti ini, hmm?" balas Changmin lalu menyipitkan matanya untuk menambah aura intimidasi.

Kyuhyun terbelalak mendengar kalimat tuduhan Changmin. Dia menggertakan giginya kesal.

"Enak saja kau bilang aku manja! Aku tidak seperti itu! Akan aku perlihatkan padamu aku bukan anak manja!" balasnya tajam lalu segera melepas sepatunya dan meninggalkan Changmin untuk memulai kegiatan bersih-bersih hasil paksaan namja tampan itu. Bahkan Kyuhyun tak peduli jika masih memakai pakaian kantoran.

Changmin mengerutkan dahi sekilas lalu tersenyum puas dengan reaksi Kyuhyun. Tapi melihat namja manis itu melepas sepatunya begitu saja…

"Hei! Akan lebih baik jika kau pakai sepatumu meski tidak cocok dengan medan seperti ini. Kakimu bisa terluka!" Changmin berteriak untuk memperingatkan Kyuhyun yang sudah berjalan menjauh.

"Aku tidak peduli!" balas namja manis itu keras kepala. Mungkin dia ingin menyelamatkan harga dirinya.

Changmin mendesah mendengar jawaban Kyuhyun. Dia sungguhan khawatir tentang kaki Kyuhyun yang bisa saja terluka jika namja manis itu bertelanjang kaki. Karang-karang tentulah mempunyai permukaan yang tajam dan dapat dengan mudah melukai siapapun. Tapi, jika Kyuhyun keras kepala begitu, mau bagaimana lagi? Changmin mengedikkan bahunya lalu melanjutkan kegiatannya.

.

.

ChangKyu

.

.

Changmin menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Sedikit demi sedikit kegiatan bersih-bersih pantai ini mulai selesai. Tinggal sedikit lagi dan dia bersama para relawan bisa segera pulang. Matanya mendongak melihat gerombolan awan yang mulai menghitam. Ah, memang benar kata Paman Jongsik. Setelah itu, dia mengamati keadaan di sekitarnya. Matanya melihat Kyuhyun yang masih sibuk mengumpulkan sampah-sampah. Dia tertawa merasa terhibur dengan ekspresi yang ditampakkan namja manis itu. Ada gambaran rasa jijik, kesal, enggan, tapi tetap memungut sampah-sampah. Dia lega sejauh ini dia tidak mendengar namja manis itu berteriak mengaduh. Mungkin saja jika kakinya terluka.

Namja tampan itu baru saja akan melanjutkan kegiatannya, saat mendengar pekikan dari obyek yang baru saja dilihatnya. Dia menegakkan tubuhnya kembali dan dengan cepat matanya bergerak melihat Kyuhyun lagi. Dia melihat namja manis itu menyandar pada karang di belakangnya lalu mengangkat kaki kanannya. Baru saja, dia merasa harus bersyukur karena namja manis itu tidak terluka, tapi sekarang itu terjadi? Namja tampan itu segera berjalan cepat mendekati Kyuhyun. Beberapa relawan yang sempat mendengar pekikan Kyuhyun juga mendekati namja manis itu.

Setelah berada di depan Kyuhyun, Changmin segera melihat kaki kanan namja manis itu. Mata hitamnya terbelalak lebar melihat kondisi kaki Kyuhyun.

"Ya Tuhan! Jadi seperti ini kakimu dari tadi?! Kau ini bodoh atau bagaimana, sih?" tanya Changmin agak memekik kesal. Dia melihat kaki putih pucat itu terdapat banyak goresan melintang yang mengeluarkan sedikit darah. Lalu yang paling parah adalah yang mungkin menyebabkan namja manis itu memekik kesakitan tadi. Luka dekat tulang tumit yang cukup besar dengan banyak darah mengalir. Itu sudah pasti sangat sakit. Letaknya yang dekat tulang tumit, akan membuatnya susah bergerak.

Kyuhyun meringis kesakitan tapi segera memajukan bibirnya kesal karena Changmin mengatainya bodoh. Tadi dia disebut manja, sekarang bodoh. Kenapa namja tampan itu selalu menyebalkan? Ini terjadi juga karena namja tampan itu yang memaksanya.

"Apa ini cukup dengan pertolongan pertama?" tanya Changmin pada seorang relawan yang berdiri di sampingnya.

Relawan itu menggeleng, "Tidak akan cukup. Letak lukanya yang dekat dengan tulang tumit mengkhawatirkan. Harus dipastikan tidak ada sendi yang ikut terluka,"

Kyuhyun melebarkan matanya horor dengan penjelasan itu.

"Sebaiknya kau segera mengantarkannya ke rumah sakit, Changmin-ah," lanjut teman relawannya.

"Tapi, bagaimana dengan bersih pantai ini?" tanya Changmin tampak bimbang.

Kyuhyun semakin kesal dengan pertanyaan Changmin itu. Astaga… dia terluka parah begini dan Changmin masih memikirkan acara bersih pantai ini? Namja manis itu sungguh tak habis pikir. Kyuhyun membayangkan jika dia menjadi kekasih namja tampan itu, pasti dia akan selalu jadi yang kedua, karena yang pertama adalah Changmin selalu mendahulukan jiwa sosialnya. Eh? Apa yang baru saja dia pikirkan?

"Kau tidak perlu memikirkannya. Tinggal sedikit lagi sampah yang harus dibersihkan. Tidak apa-apa jika kau pergi dulu," jawab teman relawan Changmin.

Kyuhyun melihat Changmin yang terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya. Dia menghela nafas lega karena Changmin tidak terlalu lama berpikir.

Setelah itu, Changmin membalikkan tubuhnya lalu menghadapkan punggungnya pada Kyuhyun. Namja manis itu terlihat terkejut untuk kesekian kalinya. Dia hanya diam menatapi punggung lebar yang terlihat sangat nyaman jika bersandar di sana. Astaga! Dia memikirkan apa lagi? Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk menghalau pikirannya yang semakin melantur.

"Hei! Kau jangan diam saja! Segera naik ke punggungku!" perintah Changmin yang mulai tak sabar.

"A-apakah ha-harus?" tanya Kyuhyun gugup. Dia merutuki suaranya yang terdengar gugup.

"Memangnya kau bisa jalan? Atau kau ingin aku gendong di depan, hah?" tanya Changmin lagi yang mulai jengah.

Kyuhyun terkejut lagi. Pipinya mulai dirambati rona merah muda mendengar tawaran Changmin. Membayangkan dirinya di gendong di depan oleh Changmin….

"Ti-tidak! Kau gila!" jawabnya malu dan semakin gugup.

"Kan, aku hanya bertanya,"

Kyuhyun akhirnya naik ke punggung Changmin meskipun dengan perasaan tidak karuan. Dia malu sungguh, tapi mau bagaimana lagi?

"Pegangan. Aku tidak ingin mendengar jeritan di belakangku nanti jika kau jatuh," kata Changmin memperingatkan setelah Kyuhyun naik di punggungnya.

Namja manis itu bersungut-sungut jengkel tapi akhirnya melingkarkan kedua tangannya ke bahu lebar Changmin. Dia merasakan jantungnya, astaga jantungnya tak lagi berdebar halus, tapi sudah berdebar tak karuan. Punggung tegap dalam pelukannya ini seolah menghantarkan panas yang membuat pikirannya mendadak kacau. Kyuhyun merutuki hal ini karena dia tak tahu harus bagaimana menenangkan dirinya. Tapi, dia harus tenang. Itu terlihat sulit tampaknya.

Setelah berpamitan dengan para relawan, Changmin membawa Kyuhyun menuju ke luar lokasi Pantai Taejongdae.

"Hei, kau bawa mobil tidak?" tanya Changmin sebelum sampai luar Pantai Taejongdae.

Dari balik bahu Changmin, Kyuhyun menggeleng.

"Tidak. Paman Shin akan menjemputku,"

Changmin berpikir sebentar.

"Ya, sudah kita naik bus saja. Akan lebih lama jika menunggu Paman Shin," putusnya lalu berjalan menuju halte bus.

Dalam perjalanan ke halte bus, Kyuhyun mengernyitkan dahinya merasakan ada getaran ponsel di saku jeans yang dipakai Changmin. Tampaknya namja tampan itu mengacuhkannya.

"Hei, ponselmu bergetar. Kau tidak ingin melihatnya?" tanya Kyuhyun mengintip wajah Changmin dari samping.

Namja tampan itu melirik Kyuhyun sekilas, lalu masih dengan menggendong Kyuhyun dia mengambil ponselnya dan menyerahkan ponsel itu pada Kyuhyun.

"Tolong pegang ponselnya,"

Kyuhyun segera mengangguk dan menerimanya. Dia menempelkan ponsel itu ke telinga Changmin. Namja tampan itu menerima telepon masih dengan berjalan menuju halte bus.

"Ada apa, Umma?" tanya Changmin tanpa basa-basi. Kyuhyun menaikkan alisnya mendengarnya.

"Kau itu tidak sopan pada Umma-mu! Dasar anak kurang ajar! Setidaknya sapalah Umma dulu! Baru bertanya!" jawab suara yang keluar dari speaker ponsel.

Changmin memutar bola matanya malas. Seperti sudah sangat terbiasa dengan makian Ummanya. Sedangkan Kyuhyun terkikik geli.

"Ya, ya, ya. Halo Umma, bagaimana kabarmu di sore yang mendung ini? Semoga tidak ikut mendung, ya," balas Changmin sarkastik.

Kyuhyun benar-benar tergelak sekarang. Changmin mengabaikan tawa Kyuhyun.

"Kau memang sungguh menyebalkan Changmin-ah! Sudahlah Umma tidak ingin berbasa-basi!"

Ummanya itu memang tidak jelas. Tadi minta disapa, sekarang tidak ingin berbasa basi.

"Jika tidak ingin berbasa-basi, lanjutkan kata-katamu Umma,"

"Ah, iya juga!"

Sekarang Changmin ingin menepuk dahinya tak habis pikir. Kyuhyun di belakangnya masih tertawa. Tampaknya namja manis itu sangat terhibur dengan obrolannya pada Ummanya.

"Apa acara bersih Pantai Taejongdae sudah selesai? Jika sudah segera pulang ke rumah! Ada hal yang sangat-sangat-sangat darurat! Kau tidak bisa mengabaikannya! Jika kau mengabaikannya, Umma bisa mengancammu dengan siksaan yang tidak berperi-keibuan!"

Kyuhyun tambah tergelak mendengarnya. Dia agak takjub dengan interaksi Changmin pada Ummanya. Changmin mau tidak mau menoleh ke belakang melihat namja manis itu. Tapi dia masa bodoh, dia harus segera menjawab pertanyaan Ummanya. Jika tidak suara melengking Ummanya akan menjadi hal buruk untuk didengarnya.

"Jawabannya sudah. Tapi aku tidak bisa segera pulang-dengarkan dulu Umma!" potong Changmin cepat saat Ummanya akan menyela jawabannya.

"Ada temanku yang terluka. Aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang. Tidak bisa ditunda,"

"Tapi-tapi, ini juga mendesak, Changmin-ah! Kau-harus-pulang-sekarang!" balas Ummanya dengan penuh penekanan.

"Lalu temanku bagaimana?"

Kyuhyun menghentikan tawanya. Dia jadi merasa tak enak hati sekarang. Tapi, kan, dia terluka juga hasil paksaan Changmin.

"Emm, ah! Bawa saja ke rumah! Umma nanti akan minta tolong Jung Soo untuk mengobati temanmu," usul Ummanya.

Changmin teringat Bibi Jung Soo yang merupakan tetangga depan rumah mereka dan seorang dokter itu. Ah, Ummanya itu kadang-kadang pintar juga.

"Sebentar, aku tanya temanku dulu,"

"Pastikan dia menjawab iya," paksa Ummanya yang membuat Kyuhyun kembali terkekeh geli.

Changmin menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang melihat Kyuhyun yang juga melihatnya.

"Kau dengarkan, kan? Bagaimana jawabanmu?"

Kyuhyun tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya antusias. Namja manis itu tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana. Tapi dia merasa sangat senang, saat Umma dari Changmin menyuruh namja tampan itu membawanya ke rumah mereka.

Changmin kembali melanjutkan pembicaraannya pada Ummanya.

"Dia mau Umma. Pastikan Bibi Jung Soo sudah di rumah saat kami datang,"

"Beres, Changmin-ah! Baiklah, Umma tutup teleponnya. Hati-hati anak Umma yang tampan!" balas Ummanya lalu mematikan telepon sepihak.

Namja tampan itu mendesah jengkel dengan perbuatan Ummanya yang suka seenaknya. Tiba-tiba dia merasa familiar dengan seseorang yang tingkahnya hampir mirip dengan Ummanya. Seseorang yang sekarang ada dalam gendongannya tentu saja. Sedangkan seseorang itu tersenyum-senyum senang di belakang Changmin seperti lupa dengan sakit di luka kaki kanannya.

.

.

TBC


Sekian untuk part A dari chapter 3. Saya akan melihat respon pembaca dulu baru saya post part B-nya. Jika responnya bagus, saya pasti akan post secepatnya dalam minggu ini.

Ini adalah balasan untuk review yang masuk. AkaSunaSparKyu. Iya, masing-masing udah punya pasangan. Shin Ririn1013. Hemm, bisa dibilang begitu. Kyu nganggur habis lulus kuliah, terus bingung sama tujuan hidupnya gitu. Saya membayangkan Kyu itu terbiasa nyaman dan mulus hidupnya sebagai orang kaya, jadilah dia seenaknya saja. Makanya meskipun punya orangtua yang mapan, dia mengganggap dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Dia ikut magang di perusahaan Appa-nya, tapi gak serius. Seperti penjelasan di chapter 1, kalo kata Eunhyuk itu cuma buat ngisi waktu luang dia aja. Masalah umur Kyu lebih tua dari Changmin. Macchiato Chwang. Saya ngebut nyelesain fic ini dulu yaaa/maaf/. hyunnie02. Bukan selingkuh juga sih nyebutnya nanti. Kyuhyun akan mengalami saat di mana ada sesuatu yang ingin dia miliki, tapi dia harus berusaha keras, karena selama ini sebagai seseorang yang berlimpahan materi, dia tak pernah berjuang dengan serius. Apa yang akan dia perjuangkan? Silahkan baca lanjutan fic ini/hehehehe/. Sheehae89. Bisa dibilang begitu. iasshine. Tidak, Heechul dan Jaejoong belum saling mengenal. elferani. Mengenai perasaan Kyuhyun ke Siwon akan dijelaskan pada chapter selanjutnya. laxyovrds. Iya sepertinya. Maaf saya memang jagonya nge-drama.

Untuk JonginDO; SNCKS; Desviana407; ; cuttiekyu; readlight; cho loekyu07; Jiji Park; GaemGyu92; kyunihae; Eka Elf; angel sparkyu; Songkyurina; Caramel Macchiato; naminara; Minhyun Ichigo Macchiato. Terima kasih reviewnya^^

Thanks so much for all of you who red, rev, fav, and foll my fic/deepbow/