Cast :
Shim Changmin
Jung (Cho) Kyuhyun
Lee Yeon Hee
Choi Siwon
Other Cast :
Jung Yunho-Jung (Kim) Jaejoong
Shim (Tan) Hangeng-Shim (Kim) Heechul
Shim Soo Yeon
Shim Ji Yeon
Genre : Romance, Friendship, Family
NB : setting lokasi FF ini ada di Busan, Korea Selatan.
.
.
Fanfic ini saya persembahkan untuk Pangeran Shim yang telah menjalani wajib militer. Sampai berjumpa 1 tahun 9 bulan lagi, Prince Shim…
This is for you Prince Shim.
.
.
"Something old, something new, something I didn't thought could be true. Love's too strong and a bit cliché. For now this is enough, I've got a long way. I'm afraid to ask but I need to know. Would you want me to stay? Or would you want me to go?" (Sherina-Better than Love)
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 5
.
.
"Ji Yeon-ah cepat sedikit! Umma nanti mengomel kalau kita lama!"
Changmin mendesah agak jengkel melihat adik perempuannya masih menali sepatunya yang lepas.
"Oppa menungguku sambil jalan, kan, bisa. Daripada mengomel!" protes Ji Yeon sembari matanya melihat Changmin sekilas.
Changmin tidak membalas perkataan Ji Yeon, tapi tetap menunggui adiknya. Dia tentu tidak akan seenaknya saja meninggalkan adiknya di jalanan ramai. Mereka berangkat bersama, pulang juga harus bersama.
Hari ini adalah jadwal rutin belanja bulanan di mana Changmin dan Ji Yeon yang bertugas melakukannya. Hasil belanja mereka semuanya dibawa Changmin tentu saja karena Ji Yeon tidak mau membawanya. Maka sekarang Changmin memegang dua plastik besar hasil belanja mereka.
Ji Yeon berdiri dari posisi berjongkoknya lalu melihat kakak laki-lakinya masih berdiri di depannya.
"Ah, kau memang kakak yang baik, ya, Oppa. Aku bangga memiliki kakak yang perhatian sepertimu," goda Ji Yeon sambil menaik turunkan alisnya.
Changmin memutar bola matanya untuk menanggapi godaan adiknya. Dia segera berbalik untuk kembali berjalan. Tapi karena melakukannya secara spontan, Changmin tidak menyadari seseorang berjalan cepat lalu menabraknya.
"Argh!"
Changmin agak terdorong ke belakang, tapi tidak sampai jatuh. Untungnya kedua plastik belanjaannya dan Ji Yeon yang dipegangnya tidak sampai jatuh berhamburan.
Namja tampan itu segera melihat siapa orang yang menabraknya.
"Ah, aku minta maaf karena menabrakmu! Aku yang salah, aku minta maaf!"
Orang itu membungkuk berulang kali pada Changmin. Suaranya terdengar parau dan pelan.
"Kyuhyun-ah?" panggil Changmin saat menyadari siapa yang menabraknya.
Kyuhyun yang masih membungkukkan tubuhnya terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Suara yang telah sangat dihafalnya.
Namja manis itu memejamkan mata erat tidak menduga sama sekali akan bertemu Changmin dalam kondisinya yang seperti ini. Bagaimana bisa dia dipertemukan dengan Changmin setelah pertengkarannya dengan Siwon beberapa saat lalu? Pertengkaran yang terjadi karena dia memilih meraih namja tampan di depannya ini. Dia benar-benar tidak mengerti. Ditambah lagi, sekarang wajahnya pasti terlihat sangat kacau dengan bekas air mata yang belum kering. Dia tidak ingin Changmin melihatnya.
"Kau benar Kyuhyun, kan?" tanya Changmin sembari mendekat pada namja manis yang masih membungkuk itu. Ji Yeon yang berada di belakang Changmin segera berjalan ke samping kakaknya itu untuk melihat sendiri.
Kyuhyun berpikir cepat, lalu dia segera menaikkan syal yang dipakainya sampai menyentuh hidungnya, lalu mengusap jejak air mata yang mungkin masih tersisa. Semoga Changmin tidak menyadari jika dia baru saja menangis. Namja manis itu ragu-ragu menegakkan tubuhnya. Setelah matanya melihat Changmin, dia segera menganggukkan kepalanya.
"Hai, Changmin-ah," balas Kyuhyun berusaha memperbaiki suaranya yang terdengar parau agar terdengar baik-baik saja.
Changmin mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Kyuhyun yang ditutupi syal sampai hidungnya itu terlihat lebih pucat dari biasanya. Ekspresi yang ditampakkan namja manis itu baginya bukanlah ekspresi jujur dari dalam dirinya, seperti menutupi sesuatu. Mata hitam kelamnya semakin menyipit saat melihat mata bulat namja manis itu memerah seperti habis menangis. Dia bisa melihat, masih ada sisa-sisa air mata di sudut-sudut kelopak matanya. Lalu suara Kyuhyun terdengar tidak seceria biasanya. Changmin berpikir, apa yang baru saja terjadi pada namja manis itu?
Changmin berjalan mendekati Kyuhyun yang sekarang diam melihatnya. Mata caramel itu terlihat agak panik. Tanpa sadar Kyuhyun memundurkan langkahnya takut jika Changmin menyadari dia baru saja menangis.
"Aku dapat melihatnya. Kau sedang tidak baik-baik saja," ucap Changmin setelah jaraknya cukup dekat dengan Kyuhyun.
Namja manis itu terkejut dengan ucapan Changmin. Refleks dia mengalihkan pandangan matanya dari mata kelam namja tampan itu.
"Hahahaha, apa maksudmu?" tanya Kyuhyun berusaha tertawa untuk menutupi rasa panik dan terkejutnya karena kalimat Changmin.
Changmin berusaha mengintip wajah Kyuhyun yang tertutupi poni dan syal itu. Dia mengambil satu langkah lagi ke depan, tapi namja manis itu refleks memundurkan langkahnya. Reaksi Kyuhyun, membuat Changmin semakin yakin dengan kalimatnya tadi. Ah, dia jadi merutuki tugasnya yang harus membawa dua plastik belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Jika tidak ada dua plastik belanjaan ini, dia bisa melakukan gerakan untuk mencegah namja manis itu menghindari pertanyaannya.
Ji Yeon mengamati interaksi Changmin dengan seseorang yang dia ingat adalah teman kakaknya itu. Dia masih hafal dengan wajah teman kakaknya yang tempo hari pernah menginap di rumah mereka. Meskipun sekarang yang tampak dari wajah itu hanya mata bulatnya, karena setengah wajah itu tertutup syal. Melihat mata itu, Ji Yeon membenarkan apa yang dikatakan kakaknya. Teman kakaknya itu sedang tidak baik-baik saja.
Gadis muda itu mendekatkan wajahnya pada sisi samping wajah Changmin, lalu membisikkan sesuatu, "Hei, Oppa, kita ajak saja dia ke rumah,"
Changmin melihat adiknya dari sudut matanya. Namja tampan itu balas berbisik, "Ke rumah? Tapi, apa dia mau? Kau lihat, kan, dia sedang dalam kondisi yang tidak baik,"
"Justru itu," balas Ji Yeon cepat.
Tanpa menunggu balasan Changmin lagi, Ji Yeon segera berjalan menuju tempat Kyuhyun berdiri lalu memegang lengannya. Namja manis itu melihat Ji Yeon tak mengerti.
"Oppa, hari ini keluarga kami akan masak banyak. Ayo, berkunjung ke rumah kami. Aku lihat kau butuh refreshing,"
Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali dengan kalimat yang diucapkan Ji Yeon. Yeoja yang merupakan adik kedua Changmin itu tersenyum geli lalu segera menarik lengan Kyuhyun untuk mengikuti langkahnya. Namja manis itu hanya pasrah dengan ajakan Ji Yeon. Sedangkan Changmin tersenyum saat mengerti maksud adiknya. Dia pun segera menyusul langkah kedua orang di depannya.
.
.
ChangKyu
.
.
Sembari menemani Appanya memperbaiki jam dinding rumah di ruang keluarga, Changmin sesekali melirik ke arah dapur. Di sana daripada disebut memasak, lebih bisa disebut sedang terjadi kekacauan. Ummanya terutama sumber kekacauan itu. sebenarnya jika hari-hari biasa, kedua anak perempuan keluarga Shim tidak akan membiarkan Umma mereka mengolah bahan makanan di dapur. Tapi, hari ini berbeda. Tadi saat mereka sampai di rumah, dengan isyarat mata yang disampaikan Ji Yeon pada Ummanya, tanpa berkata apapun, Ummanya langsung menganggukkan kepala dan mengikuti adik keduanya ke dapur. Bahkan Soo Yeon pun tak mengatakan apapun saat mengetahui Ummanya ikut memasak. Adik pertamanya itu seperti memahami situasi. Lalu Kyuhyun, namja manis itu menuruti saja saat Ummanya menggiring dirinya untuk ikut ke dapur. Tentu saja namja manis itu segan jika menolak keinginan tuan rumah.
Sekarang, dia bisa melihat Ji Yeon mengomel karena Ummanya yang sering salah memasukkan bahan makanan atau bumbu ke dalam masakan mereka. Ummanya balas mengomel karena tidak terima disalahkan. Ummanya itu memang tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Sedangkan Soo Yeon dengan tenang melakukan tugasnya bersama Kyuhyun. Namja manis itu sesekali tidak bisa menahan tawanya jika Ummanya sudah merajuk lalu meminta pertolongan padanya karena omelan Ji Yeon. Jika keadaan agak tenang, Soo Yeon mengajak Kyuhyun mengobrol. Tapi, obrolan mereka tentu tak bertahan lama, gara-gara Ummanya merusuh lagi.
Changmin lega melihat namja manis itu sudah tidak menampakkan ekspresi kesedihan di wajahnya. Bahkan bisa tertawa lepas. Inilah, maksud Ji Yeon tadi. Kadang dia memang tak mengerti cara-cara menghibur seseorang seperti yang dilakukan adiknya. Tanpa menyinggung apa yang telah terjadi, tapi tetap bisa meringankan beban yang dialami seseorang itu. Apalagi sikap keluarganya yang memang 'welcome' pada siapapun itu. Hal itu membuatnya bersyukur, karena kehangatan dalam keluarganya seolah bisa dirasakan orang lain.
"Changmin-ah, kau itu jangan melamun! Lihat kau salah memasukkan sekrup!" tegur Appanya yang menepuk lengannya.
Namja tampan itu agak terkejut dengan teguran Appanya. Dia melihat Appanya yang memandangnya tajam, lalu meringis saat melihat yang dikatakan Appanya benar.
Hangeng menghembuskan nafasnya pelan melihat reaksi anak laki-lakinya. Dia segera membenahi pekerjaan Changmin yang belum beres. Sembari membenahinya, Hangeng melihat anaknya itu telah kembali melihat dapur. Dia menelisik apa yang diperhatikan anaknya itu sampai serius seperti itu. Lalu matanya menangkap obyek yang jadi perhatian anaknya. Namja paruh baya yang tetap terlihat tampan itu tersenyum geli.
"Hei, Changmin-ah," panggil Hangeng agar anaknya melihat ke arahnya,
Changmin melihat Appanya lalu mengerutkan dahinya seolah bertanya ada apa Appanya memanggil.
"Apa namja yang berwajah manis itu kekasih barumu?" tanya Hangeng asal.
Pertanyaan Hangeng membuat Changmin melebarkan matanya terkejut.
"Tapi, Appa belum mendengar dari Ummamu jika kau putus dengan….. siapa kekasihmu yang dulu itu?"
"Kekasihku yang dulu? Yeon Hee maksud Appa? Dia masih kekasihku sampai sekarang!" balas Changmin jengkel.
Hangeng tampak berpikir sejenak, lalu mengedikkan bahunya. Dia kembali melanjutkan kegiatannya memperbaiki jam dinding.
"Oh, Appa kira kau sudah putus dengannya,"
"Kenapa Appa berpikir begitu?" balas Changmin tak mengerti dengan jalan pikiran Appanya.
"Appa hanya menebak saja. Kan, tidak biasanya kau perhatian pada orang lain, meskipun seseorang itu adalah temanmu. Kau itu sama saja dengan Ummamu,"
"Kenapa jadi menyamakan aku dengan Umma?" tanya Changmin tidak menerimanya. Ummanya yang berisik, seenaknya, dan selalu merepotkan itu, tentu saja semua itu bukanlah sifatnya.
Hangeng mendongakkan wajahnya melihat Changmin yang menunggu jawabannya.
"Kalian itu mempunyai beberapa sifat yang sama. Kau jadi mengingatkan Appa saat kami belum menjadi kekasih. Bagaimana Appa harus blak-blakan untuk menunjukkan perasaan Appa pada Ummamu, agar dia sadar,"
Changmin mengerutkan dahinya dengan penjelasan Appanya.
"Intinya apa? Tidak usah berbelit-belit, Appa!"
Hangeng memutar bola matanya malas karena ketidak mengertian anak laki-lakinya.
"Kalian itu sama-sama tidak peka untuk masalah perasaan. Tapi tidak perlu kau pikirkan. Ya, anggap saja ini nasehat untukmu," balas Hangeng lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Changmin hampir bertanya lagi, tapi mendengar kalimat lanjutan Appanya, dia pun diam sembari berpikir.
.
.
ChangKyu
.
.
Changmin melihat Kyuhyun yang menggosok-gosokkan kedua tangannya yang tidak memakai sarung tangan, lalu sesekali meniupinya. Tampaknya namja manis itu kedinginan karena berdiri di luar dengan cuaca dingin begini. Bulan November ini memang hampir mendekati musim dingin, hingga membuat suhu udara turun drastis hampir mendekati minus. Apalagi ini sudah malam hari.
Saat ini, Changmin sedang menemani Kyuhyun menunggu Paman Shin yang menjemputnya. Mereka berdiri di pagar depan rumah Changmin. Hal itulah yang membuat Kyuhyun tampak kedinginan.
"Aku sudah bilang, kan, lebih baik kita menunggu di dalam," ucap Changmin yang membuat Kyuhyun melihatnya. Namja manis itu hanya tersenyum lalu menggeleng ringan.
"Tidak apa-apa," balas Kyuhyun singkat. Dia kembali meniupi tangannya untuk meredam rasa dingin.
Changmin mendesah sekilas melihat ekspresi yang ditampakkan Kyuhyun. Meskipun tadi saat bersama keluarganya namja manis itu telah tertawa dan tampak tidak memikirkan masalahnya, tapi sekarang hal itu tidak bisa ditutupinya lagi. Ekspresi yang selalu berbinar-binar di wajah manis itu hilang tak berbekas. Changmin melihat wajah putih itu makin pucat seolah cahayanya redup. Dia merasakan ketidaknyamanan karena itu.
"Aku ke dalam sebentar," kata Changmin lalu segera masuk ke dalam rumah.
Kyuhyun melihat Changmin yang masuk ke dalam rumah, lalu telah kembali dengan cepat. Namja tampan itu tampak membawa sesuatu di tangannya.
Tanpa berkata apapun, Changmin menarik tangan Kyuhyun lalu memakaikan sarung tangan.
"Begini lebih baik," ucap Changmin setelah melihat kedua tangan Kyuhyun telah dibalut sarung tangan.
Kyuhyun melihat kedua tangannya, setelah itu melihat Changmin. Dia seolah tak bisa mengatakan apapun karena perlakukan Changmin yang sangat manis ini. Tentu saja hal ini membuatnya jatuh semakin dalam pada perasaannya.
Kekecewaan serta kemarahan Siwon padanya tadi pagi, sempat membuatnya ragu akan keputusannya. Dia kembali berpikir, apakah yang dilakukannya telah tepat? Lalu, tiba-tiba entah apa yang direncanakan Tuhan? Setelah pertengkarannya dengan Siwon, tanpa jeda, dia langsung dipertemukan dengan Changmin. Namja tampan itu dengan keluarganya seolah menghiburnya dengan cara mereka. Tanpa menyinggung masalahnya, tapi mengerti perasaannya. Jujur, dia merasa sangat bahagia diperlakukan sebaik itu, padahal baru dua kali dia bertemu keluarga Changmin. Lalu sekarang, perlakukan Changmin padanya itu semakin melambungkan harapannya.
"Kau jangan terlalu baik. Itu membuatku tidak bisa menahan diri,"
Kalimat Kyuhyun membuat Changmin mengerutkan dahinya. Dia menyejajarkan wajahnya untuk melihat wajah manis itu lebih dekat.
"Apa maksudmu?"
Kyuhyun membuang pandangannya ke arah lain agar matanya tak melihat mata hitam Changmin. Namja manis itu menghela nafas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya karena perasaannya pada namja tampan di depannya semakin membesar dan menggumpal seolah mendesaknya untuk segera diungkapkan.
Setelah berhasil menenangkan perasaannya, namja manis itu kembali melihat wajah tampan di depannya yang masih menunggu jawabannya.
"Apakah kau selalu bersikap seperti ini pada semua orang? Maksudku, kebaikanmu?"
Changmin menegakkan tubuhnya lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia melihat ke langit yang tampak gelap tanpa bintang, berpikir sejenak.
"Kebaikan itu dilakukan tanpa alasan untuk semua orang. Bahkan pada orang yang berbuat buruk pada kita sekalipun,"
Kyuhyun mendesah kecewa dengan jawaban Changmin. Apakah itu berarti dia tak berarti apapun untuk Changmin?
Namja tampan itu mengalihkan pandangannya dari langit malam ke wajah manis di hadapannya.
"Tapi, entahlah. Aku merasa sudah sangat terbiasa padamu, padahal aku juga baru mengenalmu. Tadi Appa juga bertanya padaku tentang suatu hal. Katanya, aku hampir tidak pernah menaruh perhatian pada orang lain. Tapi, itu kulakukan padamu,"
Changmin terlihat berpikir lalu melanjutkan kalimatnya, "Apa kau bisa membedakan arti kebaikan dan perhatian?"
Penjelasan Changmin dan pertanyaannya, membuat Kyuhyun berpikir serius. Kebaikan dan perhatian, ya? Namja manis itu tersenyum lebar ketika mendapatkan arti dari pertanyaan itu.
"Kau meminta penjelasan atau ingin aku menebak artinya?" tanya Kyuhyun untuk memastikan maksud Changmin.
"Aku meminta penjelasan, karena aku tidak mengerti maksud Appaku,"
Jawaban Changmin membuat Kyuhyun tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Changmin merasa aneh dengan reaksi namja manis itu.
"Pikir saja sendiri," jawab Kyuhyun masih dengan senyuman di bibirnya.
Changmin memutar bola mata hitamnya jengkel dengan jawaban Kyuhyun. Di depannya, Kyuhyun kembali tertawa. Kali ini dia ingin berharap lebih banyak. Semoga perhatian itu memang berarti lebih.
.
.
ChangKyu
.
.
Siwon menyandarkan dagunya pada tangan kanannya yang bertumpu pada lengan sofa. Dia sekarang berada di rumah Kyuhyun, untuk kesekian kalinya berharap namja manis yang masih diakuinya sebagai kekasih itu mau menemuinya.
Setelah kejadian tempo hari di mana mereka bertengkar karena pengakuan Kyuhyun yang tak pernah mencintainya, tapi justru mencintai orang lain, dia memang sempat sengaja untuk tak menemui namja manis itu. Tentu saja dia sangat kecewa dan sakit hati. Kyuhyun sukses menghancurkan perasaannya. Tapi, egonya kalah oleh perasaannya. Kenyataannya sekarang meskipun Kyuhyun menyakitinya seperti itu, dia tak bisa melepaskan namja manis itu. Dia menyesali tindakannya yang mengedepankan emosinya saat pertengkaran terjadi. Dia berpikir, seharusnya dia bisa bertanya baik-baik. Mungkin akan ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Siwon mengalihkan pandangannya saat melihat Jaejoong berjalan ke arahnya. Umma dari orang yang dicintainya itu menepuk pelan bahunya seolah meminta maaf.
"Maaf, Siwon-ah. Aku sudah meminta Kyuhyun untuk menemuimu. Tapi dia bersikeras tidak mau melakukannya,"
Siwon menghela nafas panjang mendengar jawaban Jaejoong. Ini adalah hal yang paling tidak diinginkannya. Kyuhyun benar-benar menjaga jarak dengannya dan serius dengan keputusannya.
Setelah berpikir sejenak, Siwon beranjak dari duduknya.
"Tidak apa-apa, Bibi. Aku akan mencoba lain kali. Tolong sampaikan pada Kyuhyun, aku tidak akan menyerah," ucapnya serius.
Jaejoong mengernyitkan dahinya sekilas, tapi segera mengangguk.
"Akan aku sampaikan,"
"Terima kasih. Aku pamit dulu,"
Siwon menundukkan tubuhnya lalu segera pergi setelah Jaejoong menjawab salamnya.
Setelah Siwon pergi, Jaejoong kembali berjalan menuju kamar Kyuhyun lalu mengetuk pintu kamar anaknya itu. Tapi tidak ditanggapi oleh Kyuhyun. Namja berparas cantik itu mendesah lelah dengan tingkah anaknya.
"Kyu, Umma masuk, ya?"
Namja cantik itu merapatkan telinganya ke pintu untuk mendengar jawaban dari anaknya. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk saja, lagipula Kyuhyun tidak akan mengunci pintunya seburuk apapun mood-nya.
Saat memasuki kamar anaknya, Jaejoong bisa melihat gundukan selimut di ranjang. Dia menghela nafas lalu segera duduk di sisi ranjang. Tangannya menepuk-nepuk gundukan selimut itu.
"Umma! Aku sudah bilang tidak mau bertemu Siwon Hyung! Suruh dia pulang!" pekik Kyuhyun dari balik selimut.
"Dia sudah pulang," jawab Jaejoong lalu mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Kyuhyun.
Namja manis itu membiarkan saja saat Ummanya menarik selimutnya. Dia segera bangun dari posisi tidurannya dan menghadap Ummanya.
"Umma tidak bohong, kan?"
Jaejoong menggeleng. "Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengeceknya sendiri,"
"Tidak mau!" sahut Kyuhyun cepat dengan menekuk wajahnya.
Jaejoong kembali menghela nafas.
"Kau itu sudah tidak remaja lagi, Kyuhyun-ie. Jangan kekanak-kanakkan begini,"
"Aku tidak kekanak-kanakkan!"
Jaejoong berdecak dengan jawaban Kyuhyun yang tidak sesuai dengan tingkahnya.
"Sikapmu ini menunjukkan kau kekanak-kanakkan. Kalau kau mempunyai masalah dengan Siwon, bicarakanlah baik-baik. Bukan malah mengurung diri di kamar saat dia datang. Ini sudah kesekian kalinya dia datang dan kau tidak mau menemuinya,"
Kyuhyun merengut mendengar perkataan Ummanya.
"Umma, tidak tahu apa yang terjadi. Aku pusing memikirkannya…"
Jaejoong mengubah ekspresinya lebih lembut mendengar jawaban anaknya. Kyuhyun benar, dia tidak tahu ada masalah apa antara anaknya itu dengan Siwon, jadi dia tidak bisa asal menyimpulkan.
Namja berparas cantik itu mengulurkan tangannya pada anaknya itu.
"Kemarilah dan bercerita. Jika kau tidak bercerita, bagaimana Umma tahu apa yang terjadi, hmm…"
Kyuhyun melihat tangan Ummanya lalu segera beringsut mendekat. Dia merebahkan kepalanya pada pangkuan Ummanya. Jaejoong segera mengusap rambut anaknya dengan gerakan lembut.
Namja manis itu memejamkan matanya merasakan kehangatan kasih sayang dari Ummanya membuatnya lebih tenang.
"Umma, aku sudah menemukan apa yang aku inginkan dan itu tidak ada dalam diri Siwon Hyung. Aku menemukannya pada orang lain," mulai Kyuhyun setelah bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Ummanya.
Jaejoong menganggukkan kepalanya, "Kau sudah membuat keputusan?"
"Sudah. Aku sudah menjelaskannya pada Siwon Hyung, tapi dia tidak bisa menerimanya. Dia pergi begitu saja, lalu sekarang dia ingin bertemu denganku. Aku merasa sudah tidak bisa lagi menjalani hubunganku dengan Siwon Hyung, Umma,"
Kyuhyun membuka matanya. Tapi mata caramelnya terlihat tidak fokus. Tak ada titik tujuan yang dilihatnya.
"Kau sudah sangat yakin dengan keputusanmu?"
Kyuhyun mengangguk atas pertanyaan Ummanya.
"Aku tidak pernah merasa seyakin ini, Umma. Aku memang tidak pernah tahu seperti apa takdir akan bermain dan memberikan hasilnya. Tapi, bukankah Tuhan juga memberikan pilihan? Selama ini aku hanya menjalani apa adanya hidupku. Aku tidak punya tujuan, tidak tahu apa yang aku inginkan, dan tidak punya ambisi. Lalu, sekarang aku tahu apa yang aku inginkan, aku ingin meraihnya, aku ingin berusaha mendapatkannya. Apakah itu salah, Umma?"
Penjelasan Kyuhyun membuat Jaejoong tersenyum. Ah, dia tak menduga anaknya telah berpikir dewasa jauh dari yang dia ketahui.
"Salah atau tidak itu tergantung bagaimana kau meyakininya, Kyu. Itu akan salah, jika kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Tapi, kau tidak perlu ragu dan takut untuk apa yang kau inginkan. Kalau pun keputusan yang telah kau buat itu tidak sepenuhnya benar, setidaknya kau telah belajar, bukan? Kadang manusia berbuat salah karena akan ada proses belajar di sana. Yang terpenting adalah kau telah berani bertindak,"
Kyuhyun melihat mata doe Jaejoong yang juga melihatnya. Dia tersenyum dengan jawaban Ummanya lalu menegakkan tubuhnya untuk memeluk Ummanya.
"Terima kasih, Umma…"
Jaejoong menganggukkan kepalanya sembari menepuk-nepuk pelan bahu anaknya itu.
"Oh, ya. Umma ingin memberikan saran jika kau tidak keberatan,"
Kyuhyun melepaskan pelukannya, lalu melihat Ummanya.
"Bicaralah lagi dengan Siwon secara baik-baik. Dia hanya terlalu mencintaimu. Bahkan dia bilang tidak akan menyerah. Mungkin dia hanya belum bisa menerimanya,"
Kyuhyun merengut kembali mendengar saran Jaejoong, sekaligus tidak menyangka Siwon berkata seperti itu.
"Kyu, dia hanya perlu bukti bahwa keputusanmu itu tepat dan membuatmu lebih bahagia daripada ketika bersamanya,"
Namja manis itu menghela nafas panjang mendengar penjelasan Ummanya.
.
.
ChangKyu
.
.
Changmin menghentikan langkahnya saat melihat Kyuhyun ada di depan gerbang kampusnya. Ada apa namja manis itu ke kampusnya? Seingatnya dia tak mempunyai janji apapun atau mungkin namja manis itu mempunyai urusan dengan orang lain yang kebetulan juga satu kampus dengannya?
Tanpa berpikir lebih lama lagi, Changmin melanjutkan langkah kakinya menghampiri Kyuhyun. Dilihatnya namja manis itu telah menyadari kehadirannya lalu melemparkan sebuah senyuman manis.
"Hai…" Kyuhyun menyapa terlebih dahulu yang dibalas senyuman oleh Changmin.
"Kau ada acara di sini? Atau ada seseorang yang ingin kau temui?"
Namja manis itu memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Changmin. Tapi kemudian dia segera menggeleng sebagai jawaban.
"Aku tidak ada acara di sini. Aku hanya ingin bertemu denganmu,"
Changmin diam mendengar jawaban Kyuhyun. Jawaban namja manis itu di luar dugaannya. Bertemu dengannya untuk apa?
"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Changmin sekali lagi.
Kyuhyun mengamati sekelilingnya lalu segera menarik tangan Changmin.
"Kita bicara sambil jalan saja,"
Changmin tidak memprotes ajakan Kyuhyun. Dia melangkahkan kakinya mengikuti namja manis itu lalu berjalan bersebelahan.
Beberapa saat berjalan mereka hanya diam. Lalu Changmin melihat Kyuhyun yang berjalan dengan tenang di sebelahnya. Changmin mengamati akhir-akhir ini, saat bertemu dengan Kyuhyun, raut wajah namja berparas manis itu tidak secerah seperti saat awal-awal mereka bertemu. Seperti ada hal cukup berat yang dipikirkannya. Apalagi jika melihat bola mata sewarna caramel milik namja manis itu. Mata bening itu justru terlihat keruh, tidak berbinar-binar seperti yang biasa dia lihat. Changmin tidak tahu kenapa, tapi melihat semua yang tergambar di wajah manis itu membuatnya tak nyaman.
Changmin memegang lengan Kyuhyun untuk menghentikan langkah mereka. Namja manis itu melihat tangan yang memegang lengannya, lalu matanya bergulir berganti melihat wajah tampan di sampingnya.
"Jika kau punya masalah, berbagilah denganku. Aku tidak bisa menjanjikan solusi, tapi aku bisa mendengar ceritamu,"
Kyuhyun mengamati mata Changmin yang memandanginya. Namja manis itu bisa melihat ketulusan dalam mata yang berwarna sekelam malam itu. Ketulusan itu tentu saja menghangatkan hatinya.
Namja manis itu memejamkan matanya sejenak lalu melihat lurus tepat pada mata Changmin. Namja tampan itu masih melihatnya dengan sorot yang sama. Dia meyakinkan dirinya untuk mencoba peruntungannya. Sekarang.
"Changmin-ah, bagaimana menurutmu jika ada seseorang yang menyukaimu padahal kau sudah punya kekasih?"
Namja tampan itu mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Kyuhyun. Bukan cerita seperti apa yang dikiranya. Dia menggelengkan kepalanya tak yakin.
"Hah? Yang benar saja,"
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Emm, mungkin aku akan melihat dulu siapa orang yang menyukaiku itu. Jika aku tidak mengenalnya, aku akan mengabaikannya,"
"Jika kau mengenalnya?"
"Mungkin aku akan berpikir dulu,"
Hening beberapa saat. Changmin mengangkat sebelah alisnya saat dilihatnya namja manis di depannya tampak berpikir sungguh-sungguh.
"Kenapa? Jangan-jangan kau menyukaiku?" lanjutnya lebih pada gurauan.
Kyuhyun sekarang melihatnya dengan tatapan serius, "Iya," jawabnya yang membuat Changmin diam.
Tapi, kemudian namja tampan itu tersenyum, "Kau pasti bercanda!"
"Aku tidak bercanda! Aku menyukaimu,"
Kalimat penekanan yang diucapkan Kyuhyun, membuat senyuman Changmin menghilang. Suasana berubah canggung dan Changmin merasakan tatapan Kyuhyun padanya tidak berubah. Apakah namja manis di depannya ini serius dengan kata-katanya? Changmin tidak bisa mempercayainya begitu saja. Dia menghela nafas pelan lalu kembali berjalan.
"Sudah, kita ganti topik pembicaraan saja. Aku tidak sungguh-sungguh saat menebak kau menyukaiku,"
Namja manis itu melebarkan matanya mendengar balasan Changmin. Tangannya segera bergerak memegang lengan namja tampan itu untuk menghentikan langkahnya.
"Tapi aku sungguh-sungguh saat mengatakan aku menyukaimu!"
Changmin melihat Kyuhyun yang masih menatapnya dengan serius. Tatapan itu tidak menunjukan gurauan, tapi menunjukkan kesungguhan. Entah kenapa itu membuatnya gelisah. Perasaannya mendadak tidak nyaman.
"Ya Tuhan… Kyu, kalau kau sedang bercanda sekarang, segera katakan! Jadi aku bisa segera tertawa,"
"Kau jahat sekali! Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu? Apa aku harus mengulangi berkali-kali agar kau percaya?"
Sekarang, Changmin tidak bisa merasakan apapun selain perasaan terkejut atas pengakuan Kyuhyun. Namja manis yang masih memegangi lengannya dengan erat ini, menyukainya?
"Ya Tuhan! Tapi, bagaimana mungkin? Aku sudah mempunyai kekasih dan setahuku, begitu pula kau!"
"Aku sudah bilang padanya tentang perasaanku padamu. Aku sudah memutuskan untuk memilihmu,"
Changmin mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Dia mencoba berpikir runtut tentang apa yang sekarang terjadi. Dia ingat tadi dia menawarkan diri untuk mendengar masalah namja manis itu. Lalu tiba-tiba namja manis itu mengungkapkan perasaannya yang awalnya dia kira adalah gurauan. Tapi, ternyata itu sungguhan dan Changmin tidak menyangka Kyuhyun akan senekat ini untuk mengakui perasaannya. Dia ingat mereka baru mengenal dalam hitungan bulan. Lalu dia juga ingat status mereka tidaklah sendiri. Ini baginya adalah kegilaan.
"Kau benar-benar gila…" desis Changmin setelah dia berhasil mencerna kembali apa yang dikatakan Kyuhyun.
Namja manis itu melepaskan genggaman tangannya pada lengan namja tamppan di depannya. Dia menundukkan wajahnya lalu mendesah pelan, "Bukankah jatuh cinta memang membuat seseorang menjadi gila, Changmin-ah?"
Itu bukan pertanyaan yang harus dijawab Changmin, jadi Kyuhyun melanjutkan kalimatnya.
"Bisakah kau memberitahuku apa yang akan kau lakukan sekarang saat mengetahui orang yang menyukaimu adalah orang yang kau kenal?"
Changmin diam memikirkan kalimatnya di awal tadi saat Kyuhyun bertanya. Dia menghela nafas panjang kemudian karena tak menemukan jawaban.
"Jujur aku tak tahu,"
Kyuhyun tersenyum. Jika Changmin tidak langsung menolak perasaannya, bisakah dia berharap?
"Kalau begitu, aku meminta kesempatan,"
"Apa maksudmu?"
"Aku meminta kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku,"
Mata Changmin melebar terkejut untuk kesekian kalinya karena kalimat Kyuhyun.
"Astaga! Kau benar-benar gila! Aku sudah mempunyai seseorang yang aku cintai, Kyu!"
Mata bening Kyuhyun terlihat mengeras sebagai reaksi perkataan Changmin.
"Jika kau memang mencintainya, harusnya kau langsung menolak perasaanku sekarang! Tapi kau tidak melakukannya. Berarti aku bisa mendapatkan kesempatan!"
Changmin menggelengkan kepalanya tak mengira Kyuhyun segigih ini.
"Apakah kau menyadari bahwa perkataanmu itu sangat egois? Kau tidak memikirkan perasaan kekasihmu, perasaan kekasihku, perasaanku!"
Kyuhyun menundukkan wajahnya, "Bukankah setiap orang berhak meraih kebahagiannya, Changmin-ah? Itulah yang aku lakukan sekarang," katanya lirih.
Namja manis itu memejamkan matanya erat-erat karena sekali lagi dia merasakan tidak mudah menjalani keputusannya. Reaksi Changmin, tidak pernah dia perkirakan sebelumnya. Itu terasa menyakitkan tentu saja. Tapi dia telah memutuskan tidak akan menyerah.
"Aku hanya meminta kesempatan. Jika Yeon Hee bisa mendapatkannya, kenapa aku tidak?" lanjutnya.
Changmin menghela nafas benar-benar tidak habis pikir dengan pertanyaan Kyuhyun.
"Itu berbeda, Kyu! Dia adalah kekasihku! Kau tidak bisa seenaknya ingin mengubah perasaanku!"
Kyuhyun mendongak lalu kembali melihat mata Changmin, "Justru karena perasaan bisa berubah Changmin-ah-"
"Cukup! Aku muak mendengar kata-katamu!" potong Changmin cepat dan segera beranjak meninggalkan Kyuhyun. Dia tidak mau mendengar lagi perkataan-perkataan Kyuhyun yang baginya omong kosong itu.
Kyuhyun tersentak melihat Changmin pergi begitu saja meninggalkannya. Namja manis itu segera menyusul Changmin. Dia menarik tangan namja tampan itu lalu menempelkan bibirnya pada bibir Changmin. Hanya beberapa detik. Setelah itu Kyuhyun memeluk erat-erat tubuh Changmin yang menegang syok karena perbuatannya.
"Tolong, beri aku kesempatan. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sampai seperti ini. Baru kali ini aku sangat ingin memiliki seseorang sampai rasanya gila jika memikirkannya…"
Changmin menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini.
"Kenapa harus aku, Kyu? Aku merasa tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku…"
"Karena aku yang merasakannya, Changmin-ah. Kau melakukan hal-hal berbeda yang tak pernah aku tahu. Hal-hal sederhana yang justru membuatku tersentuh dan bahagia. Kebahagiaan sederhana dan terasa sangat tulus, yang tak pernah aku alami. Kau membuatku berpikir tentang tujuan hidup. Kau tahu? Selama dua puluh tiga tahun hidupku, aku tak pernah tahu apa yang aku inginkan. Kau yang membuatku tahu apa tujuan hidupku sekarang. Itu adalah kau,"
Changmin terbelalak sangat lebar mendengar penjelasan Kyuhyun. Dia tak bisa mengatakan apapun. Dia sungguh tak menemukan kata-kata untuk membalas ungkapan perasaan Kyuhyun untuknya.
Namja manis itu melepaskan pelukannya pada Changmin. Mata bulatnya telah dipenuhi liquid bening yang mulai mengalir di pipinya. Kyuhyun menatap mata kelam Changmin. Mata yang berwarna sekelam malam, yang entah sejak kapan membuatnya selalu terhanyut dan tenggelam oleh pesonanya.
Kyuhyun menyandarkan kepalanya di dada Changmin untuk mendengarkan detak jantung namja tampan itu. Dia bisa mendengarkan detak jantung Changmin berdetak sama cepatnya dengan jantungnya.
"Apakah Yeon Hee membuatmu merasakan perasaan seperti apa yang aku rasakan padamu, Changmin-ah?" tanya Kyuhyun lirih hampir menyerupai bisikan.
Changmin memejamkan matanya erat. Kepalanya mendadak pusing dengan kalimat-kalimat Kyuhyun. Jika bisa mengakuinya, Changmin merasakan pikiran serta perasaannya kacau. Dia berpikir tidak seharusnya seperti ini. Sebelumnya dia sangat yakin, bahwa dihatinya hanya ada Yeon Hee. Dia mencintai yeoja itu. Dia tak pernah memikirkan orang lain. Lalu tiba-tiba, benar-benar tanpa diduga, Kyuhyun mengatakan perasaannya. Jika dia memang mencintai Yeon Hee, bukankah seharusnya sejak tadi dia dengan mudah menolak perasaan Kyuhyun? Apakah sekarang ada bagian dalam hatinya yang mempunyai perasaan pada namja manis itu? Changmin sungguh bingung. Dia tidak tahu apa jawabannya.
"Yeon Hee pernah membuatku seperti itu, Kyu," balas Changmin akhirnya.
Namja manis itu menegakkan tubuhnya. Matanya menatap Changmin dengan pandangan terluka karena jawaban itu. Melihat sorot luka di mata Kyuhyun, membuat Changmin merasakan hatinya tidak nyaman.
"Tapi, entahlah. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku juga memikirkan perasaanmu sekarang," lanjutnya.
Kyuhyun belum mengerti atas jawaban Changmin.
"Apakah itu artinya aku bisa mempunyai kesempatan untuk membuatmu mencintaiku?"
Changmin menarik kedua sudut bibirnya berusaha tersenyum.
"Perasaan orang memang bisa berubah, Kyu. Tapi, kita tidak bisa memaksakannya. Aku minta maaf, aku tak bisa menjawabnya sekarang. Kau benar, orang berhak meraih kebahagiaannya. Tapi, cara dan prosesnya juga harus benar. Tidak dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Maka dari itu, aku butuh memikirkannya dengan benar, agar tidak ada yang tersakiti. Apakah kau dapat menerimanya?"
Namja manis itu terpana dengan kalimat Changmin. Dia tak pernah memikirkan itu. Changmin benar, dia merasa egois. Kebahagian yang kita raih, tidaklah dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Namja manis itu membalas pertanyaan Changmin dengan menganggukkan kepalanya.
"Bolehkah aku memelukmu lagi?" tanya Kyuhyun penuh harap.
Changmin menghela nafas karena meskipun namja manis itu bisa menyetujui tawarannya, Kyuhyun tetaplah Kyuhyun, yang akan selalu mengambil kesempatan untuk kepentingannya. Changmin mengangguk yang disusul dengan pelukan erat dari Kyuhyun.
"Jika memang kita ditakdirkan bersama, akan selalu ada jalan untuk kita bersatu," lanjut Changmin yang membuat Kyuhyun tersenyum.
.
.
TBC
Sebenarnya, chapter ini mau saya buat lebih panjang lagi. Tapi saya sedang tidak mood untuk menambah wordsnya, jadi saya kira cukup ini saja untuk update minggu ini. Lagipula ini juga sudah panjang menurut saya, sudah mencapai 5000 words.
Yang ingin tahu perasaan Changmin, di chapter ini bisa ditebak, ya. Chapter ini bukan jawaban final atas perasaan Changmin ke Kyuhyun. Kalau pembaca masih bingung, saya jelaskan secara singkat, yaitu Changmin mulai menaruh perhatian pada Kyuhyun, tapi belum pada tahap suka atau ada hati.
Terus, saya suka membaca reviews chapter sebelumnya XD Pada gemes ya sama Kyuie? Tapi menurut saya itu adalah tindakan yang tepat. Hubungan dengan perasaan salah satu pihak itu banyak terjadi di dunia nyata. Yang tahu ya yang menjalani. Sedangkan kita sebagai orang luar hanya seringnya melihat yang manis2 dan bahagia saja. Jadi Kyuhyun sebagai cast yang saya buat mengalami hal itu, tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Justru tindakan tegas Kyuhyun untuk menentukan sikap saat hatinya telah memilih itulah yang penting. Tidak semua orang bisa seberani itu mengambil sikap.
Jawaban untuk reviews chapter 4. Yong Do Jin316. Iya, saya setuju sama kamu. Kisahnya cukup miris/siapayangbikincerita?/Ini sudah dilanjut. readlight. Tenang, tanpa kamu request pun, saya sudah menyiapkan scene-nya nanti. Desviana407. Mohon tenangkan dirimu. Semoga penjelasan saya di atas bisa membuatmu lebih kalem/peace^^v/ Untuk our baby akan saya lanjut setelah menamatkan ff ini. sheehae89. Mohon kamu juga tenangkan dirimu, ya? Iya, benar ini cuma ff, kok! Aw~ apakah kamu changkyu shipper juga? Minhyun Ichigo Macchiato. Chapter ini tuh sebenarnya bikin galau unnie, kok bisa2nya jadi obat galau? -.-a Yunjae pasti muncul, kok. Ditunggu saja, ya? Terima kasih reviewnya unnie panjang~ Awaelfkyu13. Hahahaha, kamu sangat menikmati kalo Kyuie menderita ternyata XD Terima kasih. Kim Nayeon. Iya, kadang memang butuh orang ketiga agar seseorang bisa sadar sama perasaannya/ditabok/ Macchiato Chwang. Sudah bisa menebak perasaan Changmin, kan? Tapi sekali lagi ini bukan jawaban final atas perasaan Changmin. Sudah update, ya. cuttiekyu. Semoga alur cerita ini tidak membuatmu bingung. Terima kasih sudah menunggu. Puput257. Cinta pada orang yang tidak tepat? Maaf saya tidak setuju. Kita tak pernah bisa memilih pada siapa cinta akan berlabuh. Cinta itu datang tidak terduga. Terima kasih sudah menunggu. SNCKS. Aw~ ff ini jadi film? Saya merasa tersanjung! Terima kasih/hug/ Kamu sebelnya ke Siwon? Hahaha, saya sangat mengerti perasaanmu. Kita satu frekuensi XD. Kim Eun Seob. Iya, benar. Tentu saya tidak akan membuat perasaan Changmin berubah semudah itu. Sudah update, ya. GaemGyu92. Silahkan untuk mengikuti ff ini untuk mengetahui jawabannya/modusauthor/ Mo218. Terima kasih banyak atas pujiannya. Saya terbang~/hug/ ini sudah update, ya. Tepe024. Final chapter akan menjawab apakah Kyu berhasil mendapatkan Changmin apa tidak, hahahaha. kyunihae. Mohon maaf, plot cerita yang saya buat sayangnya tidak seperti yang kamu inginkan. Justru di sini, Kyu yang akan berjuang mendapatkan Changmin Shin Ririn1013. Iya, pihak perempuan memang sering lebih peka masalah perasaan. Terima kasih sudah menunggu. Caramel Macchiato. Saya setuju sangat dengan pendapat kamu! Iya, Kyuie memang lebih suka yang menantang, hahahaha. Sudah update, ya. elferani. Sepertinya saya sukses mengaduk-aduk emosi kamu. Maaf, ya, tapi saya senang/ditabok/ Setuju atau tidaknya Heenim, akan terjawab di chapter selanjutnya. Songkyurina. Siwon yang tidak mau melepas Kyu jadi bencana tidak ya? Hehehehe. Terima kasih masukannya. Untuk beberapa scene akan saya buat dari segi Changmin. Juma Park. Terima kasih review dobelnya XD. Gak usah pusing, nanti saya akan menyelesaikan masalah mereka. Guest(untuk kesekian kalinya, hei siapa kamu? Apakah orang yang sama?). Coba dilihat nanti, bagaimana sikap Siwon. JonginDO. Ini sudah lanjut, ya. Xenzia. Saya senang membuat emosi kamu terkuras, hahahaha. Terima kasih sudah menunggu. Angel sparkyu. Ini sudah lanjut…
Terima kasih review-nya^^
Oh, ya. Untuk ff oneshot Invisible, bagi para reader yang membacanya, serius minta sekuel? Yakin dengan seyakin-yakinnya? Saya ingatkan ff itu genrenya Angst dan bisa berlanjut ke Tragedy. Jadi masih minta sekuel?
Thanks so much for all of you who red, rev, fav, and foll my fic/deepbow/
