Cast :
Shim Changmin
Jung (Cho) Kyuhyun
Lee Yeon Hee
Choi Siwon
Other Cast :
Jung Yunho-Jung (Kim) Jaejoong
Shim (Tan) Hangeng-Shim (Kim) Heechul
Shim Soo Yeon
Shim Ji Yeon
Genre : Romance, Friendship, Family
Warning : Ini adalah ChangKyu fanfiction. Jadi di sini Changmin dan Kyuhyun tentu berpasangan. Mohon untuk yang tidak menyukai Changmin dan Kyuhyun menjadi pairing untuk segera meninggalkan fic ini, daripada memberikan komentar negatif. Silahkan memberikan flame jika itu untuk plot cerita yang saya buat. Bukan memberikan flame karena saya seorang ChangKyu shipper. Saya menghargai shipper lain, jadi tolong untuk bisa bersikap sama. Terima kasih.
NB : setting lokasi FF ini ada di Busan, Korea Selatan.
.
.
.
Fanfic ini saya persembahkan untuk Pangeran Shim yang telah menjalani wajib militer.
This is for you Prince Shim.
.
.
"Oh darling, I know you're taken. But something 'bout this just feels so right…" (Charlie Puth-I won't Tell A Soul)
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 6
.
.
Selama beberapa waktu, Kyuhyun memutuskan memberi waktu pada Changmin untuk berpikir mengenai perasaannya. Yang terpenting adalah dia telah mengungkapkan apa yang dirasakannya dan dia yakin Changmin pasti akan memikirkannya dengan baik. Jadi sekarang adalah saatnya menjalani proses atas perjuangan perasaannya.
Dalam waktu ini pula, Kyuhyun memilih menyibukkan dirinya dalam kegiatan-kegiatan bersama anak-anak di panti asuhan. Dia baru menyadari bahwa di sinilah tempatnya. Di mana dia bisa melakukan banyak hal yang membuatnya merasakan bahagia secara sederhana. Kebahagiaan yang nantinya bisa dia berikan pada orang-orang yang paling membutuhkan. Dia berpikir ini akan jadi pilihan hidupnya. Maka dia harus berbicara dengan kedua orang tuanya.
Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga di mana biasanya Appanya berada saat libur dari kantor. Dia berdecak saat melihat Appanya tengah bermanja-manja pada Ummanya yang sibuk melihat majalah fashion terbitan salah satu negara Eropa.
"Ehem! Aku ingin mengganggu sebentar," ucap namja manis itu sengaja dengan suara keras agar kedua orang tuanya terutama Appanya menyadari kehadirannya.
Yunho mengalihkan perhatian pada anaknya yang telah berdiri di samping sofa tempatnya duduk.
"Kau itu mengganggu quality time Appa dengan Ummamu saja," balas Yunho agak jengkel.
Jaejoong yang juga telah melihat Kyuhyun langsung memukul lengan Yunho dengan majalah yang dipegangnya, saat mendengar kalimat yang diucapkan suaminya itu.
Kyuhyun terkikik geli melihat Appanya mengaduh lalu merajuk pada Ummanya. Sungguh ekspresi yang tidak pantas diperlihatkan oleh seorang Tuan Besar Jung dan itu hanya ditunjukkan pada keluarganya saja.
"Kemarilah, Kyu," kata Jaejoong yang langsung disambut anggukan Kyuhyun.
Namja manis itu lalu berjalan mendekat pada orang tuanya. Dia sengaja duduk di tengah-tengah antara Appa dan Ummanya. Tentu saja itu memaksa Yunho harus menggeser duduknya dengan tidak rela. Tapi, Kyuhyun tidak peduli. Dia memang senang mengganggu kesenangan Appanya saat bersama Ummanya.
"Kau itu benar-benar…" desis Yunho karena tingkah anaknya.
Kyuhyun menjulurkan lidahnya pada Yunho lalu memeluk lengan Ummanya. Sedangkan Jaejoong tertawa melihat pertengkaran kecil anak dan suaminya.
"Ada apa anak kesayangan Appa dan Umma?" tanya Yunho.
Kyuhyun tertawa dengan pertanyaan Appanya.
"Hehehe, Appa, Umma, aku ingin memberitahukan sesuatu yang itu akan berkaitan dengan pilihan hidup dan masa depan yang aku inginkan. Jadi Appa dan Umma harus mendengarkannya dengan serius,"
Yunho dan Jaejoong saling berpandangan setelah mendengar perkataan anak mereka. Secara bersamaan mereka menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kyuhyun tersenyum lalu melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.
"Sebelumnya aku minta maaf pada Appa karena aku tidak serius bekerja di perusahaan. Itu karena aku tidak merasa menikmatinya,"
Yunho mengernyitkan dahinya lalu menganggukkan kepalanya karena memang benar bahwa anaknya itu dalam pemantauannya, selama ini tidak serius bekerja di perusahaan Keluarga Jung. Dia tidak langsung menanggapi tapi mendengarkan kembali apa yang akan dikatakan Kyuhyun.
"Aku telah memikirkannya, bahwa bekerja dan meneruskan perusahaan Jung bukan sesuatu yang akan aku jalani nantinya. Aku merasa itu bukan passion-ku,"
Mendengar kalimat lanjutan Kyuhyun, mau tidak mau itu membuat Yunho terkejut. Dia segera melihat Jaejoong yang terlihat sama terkejut. Dari matanya, Yunho bertanya pada Jaejoong mengenai kalimat Kyuhyun, tapi istrinya itu menggeleng ringan sebagai jawaban.
"Kenapa Appa diam saja?" tanya Kyuhyun saat Yunho tidak memberikan respon.
Yunho menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada sofa. Dia berpikir sejenak lalu kembali melihat Kyuhyun yang menunggu responnya.
"Appa kira kau belum menuntaskan kalimatmu,"
"Oh…" Kyuhyun menganggukkan kepalanya lalu mulai berbicara lagi.
"Baik, aku akan meneruskannya. Selama beberapa bulan ini, aku menjalani beberapa kegiatan sosial. Aku merasakan aku sangat menyukai kegiatan-kegiatan itu. Aku beberapa kali ke panti asuhan dan membawakan mereka banyak hadiah. Saat melihat wajah gembira anak-anak yang menerima hadiah dariku, aku merasakan ikut bahagia di sini," kata namja manis itu sembari menyentuh dadanya.
Jaejoong tersenyum melihat Kyuhyun yang tampaknya sedang mengingat momentnya saat melakukan kegiatan-kegiatan yang diceritakannya.
"Ternyata kebaikan yang bagiku sederhana, itu bisa berarti besar bagi anak-anak panti. Aku sangat menyukai saat aku bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk mereka. Aku ingin selalu bisa melakukan kebaikan-kebaikan itu. Jadi, aku sudah memutuskan akan mengabdikan diriku untuk membantu anak-anak yang belum mendapatkan kehidupan yang layak. Bagaimana pendapat Appa dan Umma?"
Setelah mendengar penjelasan Kyuhyun, Yunho dan Jajeoong kembali berpandangan. Jaejoong segera memberikan isyarat lewat matanya pada Yunho, bahwa dialah selaku kepala keluarga yang harus menjawab.
"Emm, ini cukup mengejutkan. Tentu saja Appa bahkan Ummamu tidak pernah berpikiran hal-hal seperti itu akan kau ucapkan, Kyu,"
Kyuhyun memiringkan kepalanya berpikir sembari menunggu kalimat lanjutan Appanya. Yunho tampak menarik nafas sejenak, lalu setelah menemukan kata-kata yang tepat dia melanjutkan perkataannya.
"Kau bilang kau ingin mengabdikan dirimu untuk anak-anak yang belum mendapat kehidupan secara layak. Lalu apa langkah yang akan kau lakukan untuk membantu mereka?"
Ini adalah pertanyaan yang sengaja Yunho berikan pada Kyuhyun untuk mengetahui sejauh mana anaknya serius dengan keputusannya. Tentu Yunho tidak ingin keputusan tentang masa depan yang dipilih anaknya, sebaik apapun kedengarannya, ternyata hanya keputusan sesaat tanpa perencanaan yang matang. Maka dia harus memastikan pada Kyuhyun sejauh mana, anaknya itu memikirkan rencana masa depannya.
"Mengenai itu, tentu saja aku sudah memikirkannya. Selama satu bulan ini aku telah mengumpulkan data beberapa yayasan dan lembaga sosial di Busan yang memang khusus menangani masalah anak-anak. Aku mengecek track record mereka, meliputi kinerja di lapangan, pengelolaan dana donatur, dan hasil dari kegiatan-kegiatan. Aku sudah mendapatkan yang benar-benar kompeten. Rencananya nanti aku ingin bergabung dengan mereka. Lalu, aku berencana agar Perusahaan Jung nantinya juga punya keterlibatan dalam mendukung kegiatan-kegiatan sosial anak-anak. Bagaimana Appa?"
Yunho melebarkan matanya agak terkejut. Dia tidak menyangka Kyuhyun telah bertindak sedetail itu. Dia memproses semua yang dikatakan anaknya dan itu kembali di luar perkiraannya. Oh, dia sungguh tak menyangka Kyuhyun akan seserius ini mengenai pilihan hidupnya.
"Appa, bagaimana? Perusahaan Jung belum menjalin kerjasama dengan yayasan sosial manapun, kan?" tanya Kyuhyun lagi.
Yunho melihat Jaejoong yang tersenyum lebar karena penjelasan Kyuhyun. Senyuman istrinya itu menyiratkan kebanggaan pada anaknya itu. Dia mengusap pelan rambut Kyuhyun.
"Perusahaan Jung belum terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial sama sekali. Dari dulu perusahaan hanya fokus pada bisnis dan sedikit mempengaruhi perpolitikan Busan. Hahaha,"
Kyuhyun mengernyit dengan jawaban Appanya. Tapi, jika dipikir-pikir itu wajar juga. Bagaimanapun sebagai perusaahaan besar di daerah selatan Korea, Perusahaan Jung pasti butuh posisi untuk diakui eksistensinya.
"Appa akan menanggapi dulu mengenai jawabanmu tadi. Mempunyai passion itu memang penting. Itu akan mengarahkanmu pada tujuan hidup dan mimpimu. Tentu saja, menjalani passion yang tepat akan membuatmu menikmati hidupmu. Bagi Appa itu adalah pencapaian terbesar, saat kau telah menemukannya, lalu menjalaninya dengan bahagia,"
Yunho membiarkan Kyuhyun mencerna perkataannya terlebih dahulu, lalu setelah itu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Sekali lagi, Appa sungguh tidak menyangka kau telah seserius ini. Lalu, Appa tidak keberatan jika kau tidak tertarik meneruskan Perusahaan Jung. Itu nanti bisa kita bicarakan dengan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu, kan?" tanya Yunho menggoda anaknya yang dibalas pekikan.
"Appa!"
Kyuhyun merengut dengan pipi bersemu merah. Mau tidak mau otaknya telah memproses siapa seseorang yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Dia menutupi wajahnya yang makin memerah karena tidak dapat menahan reaksi tubuhnya.
Yunho dan Jaejoong tertawa melihat tingkah anaknya yang tampak malu-malu itu. Benar-benar seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tapi, Kyuhyun memang sedang jatuh cinta, kan?
"Baiklah, Appa akan melanjutkan kalimat Appa," Yunho masih terkekeh geli. "Kau tahu, Kyu? Appa dan Umma justru bangga kau telah mengetahui apa yang ingin kau jalani. Sebelum ini, Appa dan Umma khawatir dengan tingkahmu yang tak bertujuan dan asal menjalani hidup. Itu tentu tidak baik untuk masa depanmu. Ingatlah, masa depan hanya milik orang yang mempunyai mimpi dan mereka berusaha meraih mimpi itu. Tapi, setelah ini Appa dan Umma bisa bernafas lega. Jadi, tentu saja kami merestui apa yang menjadi pilihanmu. Iya, kan, sayang?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya mantap dengan pertanyaan Yunho.
Kyuhyun memandangi wajah kedua orang tuanya bergantian dengan pandangan berbinar-binar.
"Serius?" tanyanya memastikan.
Yunho mengangguk, "Serius,"
"Yeiy!"
Kyuhyun memekik senang lalu segera menghambur memeluk Appanya.
"Terima kasih, Appa! Aku janji akan melakukannya dengan sebaik mungkin!"
Yunho mengangguk lalu menepuk-nepuk bahu anaknya itu.
"Ya, ya, ya. Tapi, Appa tetap akan mengawasimu. Bagaimanapun kau tetap anak kecil bagi Appa,"
Kyuhyun melepaskan pelukannya lalu merajuk mendengar kata-kata Appanya. Yunho hanya mengedikkan bahunya tidak peduli. Jaejoong kembali tertawa geli. Tapi, kemudian Kyuhyun tersenyum lebar karena itu hanya cara Appanya untuk menjaga gengsinya. Dia sangat tahu Appanya sangat menyayanginya.
Setelah itu, Kyuhyun menghambur memeluk Ummanya. Dia menyamankan dirinya dalam pelukan Ummanya yang terasa hangat dan nyaman.
"Umma sangat bangga padamu, sayang. Umma akan selalu mendoakan kebahagiaan menyertaimu,"
Kyuhyun menganggukkan kepalanya berkali-kali lalu kembali menyamankan diri dalam pelukan Ummanya. Ah, ternyata benar kata Appanya, dia tetaplah anak kecil bagi kedua orang tuanya. Ini yang dia rasakan sekarang ketika kedua orang tuanya memeluknya erat.
.
.
ChangKyu
.
.
Changmin mengernyitkan dahinya dalam saat mata kelamnya melihat gedung besar nan megah yang menjulang di depannya. Bola matanya bergerak cepat melirik Kyuhyun di sebelahnya yang ternyata sedang tersenyum sangat cerah.
"Jangan hanya diam! Ayo masuk!" ajak namja manis itu lalu dengan cepat tangannya menarik tangan Changmin yang masih bingung dengan keadaannya saat ini.
Kyuhyun tersenyum ke arah resepsionis yang menganggukkan kepalanya, lalu sesekali menyapa orang-orang yang berlalu-lalang di lobby gedung. Changmin ikut tersenyum untuk menunjukkan kesopanan meskipun gerakan bibirnya kaku.
Lift mengantarkan mereka ke lantai tempat tujuan dan Changmin masih diam. Dia memikirkan berbagai hal yang mungkin akan dihadapinya nanti. Dia sungguhan tidak mempunyai gambaran mengenai apa yang akan terjadi. Dia hanya tahu bahwa tadi setelah menyelesaikan kelas terakhirnya, Kyuhyun telah menunggunya tanpa konfirmasi sebelumnya, lalu dengan seenaknya memaksanya untuk ke suatu tempat. Ternyata ini tempatnya. Namja tampan itu hanya menerka bahwa ini salah satu perusahaan multinasional di Busan. Selain itu entahlah.
Kyuhyun menariknya hingga berhenti di salah satu pintu, yang Changmin tebak adalah ruangan khusus pimpinan perusahaan.
"Aku serius. Apa yang kau rencanakan?" tanya Changmin dengan menatap Kyuhyun sungguh-sungguh.
Namja manis itu memajukan bibir bawahnya tampak tidak suka tuduhan Changmin.
"Aku tidak merencanakan apapun! Tanya saja Appa nanti!"
"Apa kau bilang?"
Changmin merasa salah dengar.
"Aku bilang, nanti kau tanya Appa saja…." ulang Kyuhyun agak gemas.
"Appa?"
Changmin menggumam, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah Kyuhyun baru saja mengatakan Appa? Apakah itu berarti pimpinan perusahaan ini adalah Appa dari Kyuhyun? Tapi, Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Namja manis itu lalu mendorong bahu Changmin pelan, agar namja tampan itu segera masuk ke dalam ruangan di depannya.
"Appa sudah menunggumu. Cepat masuk!"
"Di dalam itu Appa-mu?"
Kyuhyun mendesah gemas lalu meniup poninya.
"Ish! Iya! Sudah cepat masuk!"
Sekarang namja manis itu membuka pintu lalu mendorong bahu Changmin agak kuat.
"Hei! Pelan-pelan!"
"Kau lama, sih!"
Pintu yang terbuka dengan suara ribut-ribut cukup menarik perhatian seseorang di dalam ruangan. Seorang namja berumur empat puluhan yang masih sangat tampan dengan wibawa yang khas.
"Kyu?"
Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari Changmin ke arah seseorang yang memanggilnya. Dia meringis lalu melambaikan tangannya sekilas. Seseorang itu adalah Yunho, dia hanya mendesah maklum dengan tingkah anaknya.
"Iya, Appa,"
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Yunho lalu matanya melihat seorang pemuda yang berdiri di samping anaknya. Pemuda itu menundukkan kepalanya sejenak untuk memberikan salam padanya. Yunho membalasnya dengan senyuman ringan.
"Aku hanya menyuruh Changmin cepat masuk," jawab Kyuhyun lalu tangannya kembali mendorong lengan namja tampan itu, yang dibalas pelototan dari Changmin.
"Ya, sudah. Karena Changmin sudah di sini, aku pergi," lanjut namja manis itu segera menutup pintu.
Changmin merutuki tingkah Kyuhyun yang selalu seenaknya seperti itu. Tiba-tiba meninggalkannya di ruangan Appanya tanpa penjelasan. Itu sungguh menjengkelkan.
"Changmin-ssi, silahkan duduk," kata Yunho yang telah berjalan menuju sofa-set dekat dinding kaca yang menghadap pusat kota Busan.
Changmin melihat sofa yang ditunjukkan Yunho. Dia mengangguk agak canggung.
"Aku minta maaf, mungkin kau merasa canggung karena tiba-tiba bertemu denganku. Sebenarnya, aku telah meminta Kyuhyun untuk memberitahumu terlebih dahulu. Tapi, mengingat sifatnya, beginilah jadinya. Terlalu mendadak. Aku harap kau bisa memakluminya,"
Changmin otomatis tersenyum dengan penjelasan Yunho.
"Saya sudah terbiasa dengan sifatnya, jadi itu bukanlah masalah besar,"
Yunho menggangguk ringan mendengar jawaban Changmin. Dia tersenyum sekilas lalu melanjutkan pembicaraan.
"Rileks saja, aku hanya ingin berbicara santai, bukan hal-hal yang berat,"
Changmin masih tersenyum agak canggung, tetapi kemudian mengangguk. Dia menarik nafas sejenak untuk mengurangi ketegangan yang dirasakannya.
"Kau tidak bertanya mengapa aku ingin bertemu dan berbicara denganmu?" lanjut Yunho.
Changmin berpikir sejenak lalu mengangguk kembali. "Sebenarnya iya. Tapi, menurut saya akan lebih baik jika Anda yang memulai pembicaraan,"
Yunho mengangguk ringan, "Baiklah. Sebelumnya perkenalkan, namaku Jung Yunho. Seperti tadi yang kau dengar, aku adalah Appa dari Kyuhyun. Kalau aku tidak salah mengingat, namamu Shim Changmin, kan?"
"Iya," jawab Changmin heran. Kenapa Appa dari Kyuhyun ini bisa tahu namanya? Jangan-jangan namja manis itu sudah berbicara banyak hal tentang dirinya kepada orang tuanya. Jika benar, Changmin tidak tahu apa yang harus dilakukannya beberapa waktu ke depan di hadapan Appa dari Kyuhyun ini.
"Aku dengar dari Kyuhyun, kau masih kuliah?" tanya Yunho yang membuyarkan dugaan-dugaan Changmin. Dia segera menganggukkan kepalanya.
"Iya, sekarang saya ada di tingkat empat,"
"Tingkat empat? Bukankah kau baru duapuluh tahun?" tanya Yunho takjub. Tingkat empat dengan usia duapuluh tahun, bukankah itu terlalu cepat? Apa anak muda di depannya ini selalu mengambil semua mata kuliah tingkat atasnya untuk mempercepat kelulusannya?
"Memang benar. Semester depan saya akan memulai penelitian untuk tugas akhir,"
Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya dia akan meminta asisten pribadinya untuk mencari tahu lebih banyak hal tentang pemuda di depannya.
"Lalu apakah ada aktivitas lain selain kuliah?"
Changmin lagi-lagi mengangguk, "Ada tentu saja. Saya mengikuti beberapa organisasi internal dan eksternal kampus. Sesekali saya terlibat untuk kegiatan di komunitas-komunitas Kota Busan,"
"Apa kau tidak merasa berat dengan semua kegiatan itu? Aku bahkan tidak sepeduli itu dengan sekitarku saat seusia denganmu,"
Changmin mengamati raut wajah Yunho sekilas sebelum menjawab pertanyaannya. Dia melihat Yunho lebih merasa heran daripada meremehkan jawabannya. Itu membuatnya memilih jawaban yang ringan.
"Ya, saya masih muda dan masih mempunyai banyak waktu. Saya pikir saya egois jika hanya memikirkan diri saya sendiri. Jadi saya mencoba melihat di sekitar saya, apa yang bisa saya lakukan? Maka saya bertindak. Lagipula berat atau tidak, itu jika dirasakan. Jika saya mengabaikannya dan lebih memilih menikmatinya, tidak akan ada rasa berat,"
Yunho kembali takjub dengan jawaban yang diberikan Changmin. Dia lebih banyak setuju dengan hal-hal tersebut.
"Lalu apa yang kau dapatkan dari semua hal yang kau jalani itu?"
Changmin tersenyum, "Terlalu banyak yang saya dapatkan. Berbagai hal yang bahkan tidak akan saya dapatkan hanya di keluarga atau institusi pendidikan formal. Berhubungan dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, membuat saya bisa berpikir lebih bijak, lebih lapang dan lebih peduli. Saya kira itu hal yang sangat berharga,"
Yunho tersenyum puas dengan jawaban Changmin. Tampaknya pemuda di depannya bisa berpikir lebih dewasa dari umurnya dan itu adalah kelebihan yang jarang orang punyai.
"Dan, bagaimana pendapatmu tentang Kyuhyun?"
Changmin melebarkan matanya sekian detik karena perubahan topik pembicaraan yang tiba-tiba. Otaknya memproses pertanyaan yang tak diduganya itu lebih lama. Dia berdeham sekilas lalu mencoba mengingat-ingat pertemuan-pertemuannya serta obrolan-obrolannya dengan namja manis itu. Hasilnya dia menghela nafas.
"Tampaknya aku melihat dari reaksimu, kesanmu tentang Kyuhyun bukan kesan yang baik?" lanjut Yunho menyimpulkan sendiri.
Changmin tersenyum segan, "Bukan begitu. Dari awal pertemuan kami lalu diiikuti dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya, sesungguhnya berkesan. Maksud saya berkesan karena-" Changmin berdeham sekali lagi, "-kami lebih banyak bertengkar,"
Yunho mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Changmin yang di luar ekspektasinya. Dia mengira anaknya itu bertemu dengan Changmin dalam situasi yang lebih tenang dan mungkin saja romantis. Ternyata tidak.
"Ya… aku memaklumi jika demikian yang terjadi, mengingat bagaimana Kyuhyun itu. Tapi, hampir tidak ada yang mau meladeninya jika sudah bersikap seenaknya. Kebanyakan orang-orang di sekitarnya mengalah. Kecuali ibunya dan sepertinya sekarang kau termasuk pengecualian itu,"
Changmin meringis mendengar penjelasan Yunho. Dia jadi merasa tidak enak karena jawaban yang diberikannya sepertinya terlalu jujur.
"Oh, iya, dan bagaimana jawaban untuk pertanyaanku sebelumnya?" tanya Yunho yang membuat Changmin kembali berpikir.
"Ah, mengenai hal itu, saya kira setiap orang akan berpendapat sama bahwa Kyuhyun adalah orang yang baik. Jika berbicara mengenai sikapnya yang sering seenaknya atau mungkin sembarangan, saya memakluminya. Hanya saja, saya menyayangkan suatu hal yang tampaknya belum dia punyai selama ini. Itu adalah visi hidup. Mengenai mimpi,"
"Kau benar, Changmin-ssi,"
Pembenaran dari Yunho membuat Changmin cukup heran. Jika dugaannya benar, mengapa Yunho seperti membiarkannya saja? Menurutnya itu sangat disayangkan.
"Dia terlalu terbiasa hidup dengan segala kemudahan, dia terbiasa diperlakukan istimewa, mendapatkan apapun yang dia inginkan tanpa perlu berusaha keras. Itulah mengapa dia menjadi terlalu nyaman dengan apapun di sekelilingnya. Padahal sebenarnya itu menjemukan,"
Yunho menghela nafas sejenak, "Bukan berarti aku dan ibunya membiarkannya saja. Kami ingin Kyuhyun bisa menemukan sendiri apa yang diinginkannya untuk hidupnya. Tapi, ternyata itu butuh seseorang yang tidak pernah ada dalam lingkaran kehidupan kami. Seseorang yang baru, yang tidak terprediksi,"
Changmin merasakan dentuman keras di jantungnya dengan kalimat terakhir Yunho. Bukan berarti dia merasa sangat percaya diri dengan arti tersirat dalam kalimat itu, tapi dia ingat kata-kata Kyuhyun tempo hari tentang perasaannya. Namja tampan itu tiba-tiba seolah merasakan ada beban yang menindih pundaknya secara tiba-tiba. Ah, dia sekarang tahu apa maksud pembicaraan ini.
"Kyuhyun tidak mengatakan apapun tentang dirimu. Tapi, sebagai orang tua tentu saja aku akan mencari segala informasi tentang sesuatu yang mengubah anaknya. Apalagi perubahan itu dalam skala besar,"
Changmin melihat Yunho yang tersenyum berwibawa dengan raut wajahnya yang tampak serius.
"Ya, saya mengerti," jawab Changmin sembari menganggukkan kepalanya.
"Aku tak akan mencampuri kehidupanmu, tapi kau perlu mengetahui bahwa sekarang kau adalah bagian terpenting dari hidup Kyuhyun. Aku kira kau pasti tahu, apa yang harus kau lakukan,"
Changmin tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya atas kalimat Yunho. Apa maksudnya? Apakah itu permintaan tersirat untuknya agar segera mengambil keputusan? Tapi, dia bahkan tidak tahu langkah apa yang harus dilakukannya.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Lagipula saat ini Kyuhyun pasti menunggumu sambil mengomel. Terima kasih kau sudah bersedia datang ke kantorku. Lain kali, aku ingin berbicara lebih banyak denganmu," lanjut Yunho lalu segera berdiri dari duduknya.
Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Changmin segera mengikuti Yunho lalu menundukkan sedikit tubuhnya untuk memberi salam.
"Sama-sama. Saya juga mengucapkan terima kasih,"
.
.
ChangKyu
.
.
Sepanjang perjalanannnya menuju lobby menggunakan lift, Changmin masih berpikir. Dia berkali-kali membuat kesimpulan tentang inti pembicaraannya dengan Appa dari Kyuhyun itu. Baginya ini terlalu mendadak dan bukan suatu hal yang sangat penting, jika dia bertemu dengan Yunho untuk saat ini. Hubungannya dengan Kyuhyun saja belum berubah. Itu akan terasa wajar, jika dia dan Kyuhyun adalah kekasih. Lalu Appa dari kekasihnya ingin bertemu dengannya untuk membicarakan masa depan hubungan mereka. Bukankah seharusnya seperti itu?
Tetapi Changmin mengingat bagaimana Kyuhyun itu, lalu dia mendesah maklum jika Yunho bersikap sangat serius. Dia tak menyangka, jika dia bisa memberikan dampak yang sangat besar untuk namja manis itu. Padahal menurutnya dia tak melakukan apapun. Sejauh yang dia ingat, dia melakukan segala hal apa adanya bersama namja manis itu. Memang kebanyakan namja manis itu merecoki kegiatannya. Mungkin karena Kyuhyun yang masuk terlalu dalam ke wilayahnya, yang sepertinya adalah hal asing dalam hidupnya, yang membuat namja manis itu belajar banyak hal.
Changmin tersenyum kemudian setelah menyadari hal tersebut. Dia tak menyangkanya bahwa perubahan kadang datang tanpa diminta.
Setelah keluar dalam lift, Changmin mengedarkan pandangannya ke penjuru lobby. Bola mata kelamnya melihat Kyuhyun yang sedang berbicara dengan resepsionis. Dia bisa mendengar samar-samar, namja manis itu meminta resepsionis agar menanyakan ke sekretaris Appa-nya apakah Appanya sudah menyelesaikan pembicaraan dengan temannya.
Namja tampan itu tersenyum sembari memutar bola matanya. Ternyata apa yang dikatakan Yunho benar. Kyuhyun memang tidak sabaran. Sepertinya lain kali harus ada lebih banyak hal terkait belajar sabar untuk dilakukan namja manis itu.
Changmin segera berjalan menuju meja resepsionis yang agaknya tidak disadari oleh Kyuhyun. Sedangkan resepsionis yang sedang melakukan apa yang diminta namja manis itu tersenyum padanya, lalu segera memberitahukan pada Kyuhyun bahwa orang yang dimaksud sudah ada di belakangnya. Namja manis itu perlu sekian detik untuk mengerti maksud si resepsionis, lalu setelah sadar dia segera berbalik.
"Aku rasa pembicaraanku dengan Appa-mu tidaklah lama. Dasar tidak sabaran!" kata Changmin yang dibalas pelototan kesal dari Kyuhyun.
"Heh! Kau itu tidak dalam posisi menunggu, jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya menunggu itu! Jangan bicara sembarangan!" balas Kyuhyun tidak mau kalah.
"Itu akan terasa menyebalkan jika kau tidak punya kerjaan. Makanya jangan kebanyakan waktu luang," sahut Changmin santai lalu segera berjalan menuju pintu keluar gedung tanpa menunggu respon Kyuhyun lagi.
Namja manis itu berdecak sangat kesal dengan kata-kata dan sikap Changmin yang mengacuhkan dirinya. Padahal dia telah mencoba sabar menunggu namja tampan itu selesai bicara dengan ayahnya. Dia segera menyusul langkah Changmin yang berada cukup jauh di depannya.
Kyuhyun segera memegang lengan Changmin agar dia bisa berjalan bersebelahan dengan namja tampan itu. Sedangkan Changmin hanya melihatnya sekilas lalu terus berjalan.
"Hei, apa yang tadi kau bicarakan dengan Appa?" tanya Kyuhyun lebih kalem setelah mencoba meredakan kekesalannya. Dia mencoba mengalah jika itu adalah Changmin. Padahal biasanya orang lain yang akan mengalah. Mau tidak mau itu membuatnya belajar mengendalikan emosinya.
"Hmm, apakah aku harus memberitahukannya padamu?"
Kyuhyun memajukan bibirnya kembali kesal karena Changmin justru balik bertanya.
"Kau, kan, tinggal menjawab. Apa susahnya?"
"Pembicaraan kami itu antar pria dewasa. Tidak untukmu,"
Kyuhyun melebarkan matanya yang sudah besar itu mendengar kata-kata Changmin. Dia meremas gemas lengan Changmin untuk melampiaskan kekesalannya.
"Argh! Ini sakit! Lepaskan tanganmu!"
Pekikkan Changmin tidak dipedulikan Kyuhyun, tapi namja manis itu justru makin meremas gemas lengan Changmin.
"Itu salahmu! Apa maksudmu dengan pembicaraan pria dewasa, hah?! Kau itu lebih muda dariku! Jangan sok-sokan lebih tua!" balas Kyuhyun tak kalah memekik.
"Lalu mana ada pria dewasa yang jika kesal melakukan hal seperti ini?"
Changmin membalas masih dengan mengernyit kesakitan. Remasan Kyuhyun pada lengannya tidak main-main sakitnya.
"Aku tidak peduli! Kau itu sangat menyebalkan! Dan bisa-bisanya aku menyukaimu?!"
Namja manis itu kaget dengan kata-katanya sendiri. Dia refleks melepaskan tangannya yang memegang lengan Changmin lalu mengalihkan pandangannya dari wajah Changmin. Dia merutuki mulutnya yang asal bicara. Sekarang dia malu sekali. Dia tak berani melihat Changmin.
Sedangkan Changmin berdeham sekilas lalu mencoba bersikap biasa.
"Sudahlah. Aku mau pulang," katanya lalu mulai berjalan kembali.
Kyuhyun yang mendengarnya segera menarik tangan Changmin lagi.
"Nah, berarti kau juga luang, kan?"
"Kata siapa aku luang? Aku akan ada acara dengan dengan para relawan WWF,"
Kyuhyun berpikir sejenak. Lalu dia melepaskan tangannya yang memegangi tangan Changmin.
"Ya, sudah, sana pergi," kata namja manis itu terdengar tidak rela. Wajahnya tertekuk terlihat kecewa.
Itu membuat Changmin tersenyum geli. Dia menahan dirinya agar tidak tertawa lebih keras. Namja manis di sampingnya ini ekspresif sekali.
"Kau tidak ingin ikut?"
Kyuhyun melihat Changmin, lalu mata bulatnya berbinar-binar kembali. Dia tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya bersemangat.
"Jangan menyesal nanti karena menawariku!"
"Aku sudah mulai terbiasa dengan sifatmu yang menyebalkan," balas Changmin lalu segera berjalan. Sedangkan Kyuhyun sama sekali tidak melepaskan senyumannya dan mengikuti langkah Changmin.
.
.
TBC
Akhirnya saya bisa update, saya lega/smile/
Okay, update saya kali ini, adalah on mission. Saya ingin memberitahukan kepada teman-teman yang mencintai ChangKyu bahwa saya bersama dengan teman saya winterTsubaki, mengadakan Project ChangKyu bulan Februari 2016. Untuk informasi lebih lengkap silahkan bisa di cek akun FFN changkyuproject16. Ada pengumuman di fanfiksi yang telah kami posting atau bisa baca pengumumannya langsung di Bio.
Kami mengajak teman-teman yang mencintai ChangKyu untuk ikut meramaikan project ini. Yuk, kita ramaikan ChangKyu fanfiction!
.
.
Untuk semua review yang sudah masuk, terima kasih^^ Maaf saya belum bisa membalasnya kali ini.
Thanks so much for all of you who red, rev, fav, and foll my fic/deepbow/
