Cast :
Shim Changmin
Jung (Cho) Kyuhyun
Lee Yeon Hee
Choi Siwon
Other Cast :
Jung Yunho-Jung (Kim) Jaejoong
Shim (Tan) Hangeng-Shim (Kim) Heechul
Shim Soo Yeon
Shim Ji Yeon
Genre : Romance, Friendship, Family
Warning : Ini adalah ChangKyu fanfiction. Jadi di sini Changmin dan Kyuhyun tentu berpasangan. Mohon untuk yang tidak menyukai Changmin dan Kyuhyun menjadi pairing untuk segera meninggalkan fic ini, daripada memberikan komentar negatif. Silahkan memberikan flame jika itu untuk plot cerita yang saya buat. Bukan memberikan flame karena saya seorang ChangKyu shipper. Saya menghargai shipper lain, jadi tolong untuk bisa bersikap sama. Terima kasih.
NB : setting lokasi FF ini ada di Busan, Korea Selatan.
.
.
.
Fanfic ini saya persembahkan untuk Pangeran Shim yang sedang menjalani wajib militer dan besok Kamis ulang tahun! Happy Birthday Pangeran Shim!
This is for you Prince Shim.
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 7
.
.
Changmin mengeratkan coat yang dipakainya untuk menghalau udara dingin yang sesekali berhembus di sekitarnya. Dia melihat Yeon Hee di sebelahnya yang melakukan hal sama. Baru saja dia akan memeluk bahu yeoja cantik itu, Yeon Hee telah berlari kecil sembari tersenyum girang menuju sebuah pohon. Sebuah pohon maple besar yang terletak di taman sekolah mereka dulu. Changmin ikut tersenyum melihatnya, apalagi pohon dan tempat ini, banyak kenangan di sini.
"Changmin-ah! Lihat ini! Ukiran nama kita masih ada. Hahahaha, aku sama sekali tak menyangkanya!" pekik Yeon Hee girang sambil melambaikan tangannya pada kekasihnya itu.
Namja tampan itu berjalan lebih cepat untuk menyusul kekasihnya. Yeon Hee menunjukkan ukiran nama mereka di sisi agak tersembunyi dari pohon maple. Masih dengan senyuman di wajahnya, Changmin mengusap ukiran nama yang sedikit pudar itu. Meskipun begitu, dia masih bisa membacanya dengan jelas.
Yeon Hee masih melihat ukiran nama mereka, sementara Changmin mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Pohon ini, tempat ini, sekolah ini, terlalu banyak kenangan tentang mereka. Itu mengingatkannya tentang kisah cinta pertamanya pada yeoja cantik itu. Kisah cinta seorang murid baru yang jatuh cinta pada yeoja sederhana yang merupakan seniornya. Dia ingat, dulu sangat tidak mudah mendapatkan cinta Yeon Hee. Yeoja cantik itu adalah primadona sekolah mereka. Dia cantik, baik, pintar, dan tetap sederhana. Benar-benar wanita idaman. Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya? Sedangkan dia, adalah satu-satunya lelaki yang beruntung bisa mendapatkan cinta Yeon Hee. Hingga sampai detik ini, hubungan mereka tidak berubah.
Terdengar Yeon Hee menghembuskan nafasnya. Matanya yang bening menerawang melihat bangunan sekolah mereka yang tidak berubah banyak sejak mereka menjadi alumni. Changmin melihat sekilas kekasihnya, lalu mengikuti arah pandang yeoja cantik itu.
"Betapa cepat waktu berlalu. Aku masih ingat dengan baik kenangan-kenangan kita di sekolah ini. Jika mengingatnya, aku ingin tersenyum bahkan tertawa. Tapi lebih banyak merasa sangat bahagia, karena kita tetap bisa bersama, Changmin-ah,"
Changmin melihat Yeon Hee yang juga sekarang melihatnya. Yeoja cantik itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Changmin.
"Dan, perasaanku pun tak berubah sedikitpun. Aku bersyukur aku memilihmu. Semoga ini memang takdir kita," lanjut Yeon Hee lalu memeluk lengan Changmin.
Changmin hanya diam dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Takdir? Bukankah itu juga yang dikatakannya pada Kyuhyun beberapa waktu lalu?
Namja tampan itu mendongakkan kepalanya untuk melihat langit yang tampak kelabu di penghujung musim gugur ini. Itu seolah tidak cocok untuk menggambarkan suasana kebersamaannya dengan Yeon Hee saat ini. Atau itu untuk menggambarkan hatinya saat ini? Harusnya dia menanggapi apa yang dikatakan Yeon Hee dengan kata-kata yang sama. Tapi, entah mengapa hatinya sangat berat untuk melakukannya. Perasaannya tidak seringan dulu. Di mana dia bisa mengungkapkan rasa cintanya dengan mudah pada kekasihnya itu. Apa yang dia pikirkan? Kenapa perasaannya menjadi sangat membingungkan begini?
"Changmin-ah, kenapa kau diam saja?" tanya Yeon Hee mengamati raut wajah kekasihnya yang tak menampakkan ekspresi apapun.
Changmin sedikit tersentak, lalu segera melihat Yeon Hee yang menunggu jawabannya. Dia memberikan senyuman singkat untuk menenangkan yeoja cantik itu.
"Seperti yang kau bilang, aku sedang mengenang hal-hal yang pernah kita lakukan di sini,"
"Lalu?" tanya Yeon Hee lagi.
Changmin mengernyitkan dahinya, "Lalu? Maksudnya?"
"Iya, lalu apa yang kau rasakan?"
Changmin menghembuskan nafas pelan karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, karena tidak ingin mengecewakan kekasihnya itu, Changmin segera mengecup kening yeoja cantik itu.
"Aku senang kita bisa ke sini lagi,"
Itu adalah jawaban sederhana dari Changmin karena dia tidak ingin berbohong lebih banyak pada Yeon Hee, apalagi jika dia tahu perasaannya mungkin mulai berubah.
Yeon Hee melonggarkan sedikit pelukannya pada lengan Changmin saat merasakan getaran ponsel di saku coat Changmin. Namja tampan itu segera mengambil ponselnya dan mengernyit sekilas saat melihat nama Bibi Hyobin tertera di layar.
"Halo, Bibi," sapa Changmin terlebih dahulu.
"Iya, Changmin-ah. Apakah saat ini kau sedang sibuk?" tanya Bibi Hyobin yang dari suaranya terdengar panik tapi seperti berusaha tetap tenang.
Changmin melirik Yeon Hee sekilas, "Tidak, Bibi. Ada apa?"
"Syukurlah," terdengar helaan nafas lega. "Bibi minta tolong, bisakah kau ke rumah sakit daerah Seo-gu sekarang? Anak-anak keracunan makanan dan aku sedikit kewalahan mengurus anak-anak,"
"Keracunan makanan?" ulang Changmin terkejut. Hal itu membuat Yeon Hee melihatnya penasaran.
"Baiklah, Bibi. Aku segera ke sana secepatnya," lanjut Changmin tanpa meminta penjelasan lagi
Setelah menutup teleponnya, Changmin segera menjelaskan apa yang terjadi pada Yeon Hee. Yeoja cantik itu pun sama terkejutnya dan tanpa berkata apapun lagi dia ikut bersama Changmin menuju rumah sakit.
.
.
ChangKyu
.
.
Changmin dan Yeon Hee segera menuju gedung rumah sakit yang dikhususkan anak-anak, setelah sebelumnya mendapatkan informasi kamar tempat anak-anak panti dirawat. Saat membuka kamar rawat, mereka melihat Bibi Hyobin sedang mengusap-usap lengan salah satu anak yang masih merintih kesakitan. Ada sekitar empat anak di ruangan itu. Beberapa anak lain sudah mulai mulai tenang, meskipun ekspresi wajah mereka masih menunjukkan rasa sakit. Yeon Hee segera menghampiri salah satu anak lalu melakukan hal yang sama seperti Bibi Hyobin.
Changmin melihat anak-anak cemas. Dia segera mendekati Bibi Hyobin untuk mengetahui kronologi kejadian keracunan pada anak-anak.
"Bibi, bagaimana ini bisa terjadi pada anak-anak?" tanyanya.
Bibi Hyobin menghela nafas, "Ini karena anak-anak makan makanan pemberian seorang tamu yang berkunjung tadi pagi. Dia membawakan banyak makanan. Tapi, aku tak tahu jika beberapa makanan sudah basi. Jadi aku membiarkan anak-anak memakannya, hingga beberapa saat kemudian mereka mengeluh perut mereka sakit. Bahkan anak-anak sampai muntah-muntah. Tadi aku sangat panik, karena ada delapan anak yang keracunan,"
"Delapan? Tapi, di sini hanya ada empat orang?" tanya Changmin tak mengerti.
"Empat anak yang lain ada di ruangan sebelah. Aku kira kau baru saja dari sana," jawab Bibi Hyobin.
"Aku tidak tahu. Tadi perawat hanya memberi tahu satu kamar rawat,"
Bibi Hyobin menganggukkan kepalanya mengerti.
"Berarti tidak ada yang menemani anak-anak di ruang sebelah?" tanya Changmin lagi.
"Ada temanmu di sana, Changmin-ah. Ah, tadi Bibi belum sempat bercerita. Untunglah tadi dia datang, dia segera membantu membawa anak-anak ke sini. Jadi anak-anak dapat segera ditangani. Bahkan tadi dia juga sudah mengurus administrasinya. Bibi jadi merasa sangat merepotkannya,"
Changmin mengerutkan dahinya dalam, "Temanku?"
Bibi Hyobin mengangguk, "Iya, temanmu yang manis itu. Kyuhyun-ah,"
Changmin terkejut tak menyangkanya.
"Kalau begitu, aku ke ruang sebelah dulu, Bibi," ucap Changmin yang dijawab anggukan oleh Bibi Hyobin.
Yeon Hee yang mendengarkan percakapan Changmin dan Bibi Hyobin hampir mencegah Changmin pergi. Tapi dia kalah cepat dengan langkah namja tampan itu.
.
.
ChangKyu
.
.
Changmin membuka pintu kamar rawat dengan pelan. Dia mengantisipasi jika anak-anak mulai tertidur. Dia melihat semua anak-anak sudah tertidur, lalu ada Kyuhyun yang duduk dengan bersandar di headboard ranjang sedang mengusap-usap kepala Eunsoo. Namja tampan itu tak menduga jika Eunsoo juga keracunan. Dia segera berjalan mendekati Kyuhyun lalu duduk di depan namja manis itu.
Kyuhyun yang menyadari kehadiran seseorang segera mengalihkan perhatiannya. Dia melihat Changmin yang juga sedang menatapnya, tersenyum dengan hanya menarik satu sudut bibirnya. Senyuman dan tatapan mata kelam nan tajam itu membuatnya gugup. Tidak biasanya Changmin melihatnya dengan pandangan seperti itu. Dia mendadak salah tingkah, lalu memilih diam.
"Aku menunggumu bicara. Tapi kenapa kau diam? Tidak biasanya," ucap Changmin dengan tetap melihat mata sewarna caramel di depannya.
Kyuhyun segera memalingkan wajahnya, malu. Dia memilih melihat wajah imut Eunsoo saat tidur dengan masih mengusap-usap rambut hitam gadis kecil itu. Mengetahui tak ada jawaban dari Kyuhyu, Changmin ikut melihat Eunsoo.
"Aku juga ingin berterima kasih atas bantuanmu. Entah bagaimana kondisi anak-anak jika tadi kau tidak sedang di panti asuhan. Oh, juga, terima kasih sudah mengurus biaya-"
"Tidak usah membahas itu!" potong Kyuhyun cepat.
Changmin mengernyit, "Kenapa?"
"Aku tidak ingin kau membahas bantuan yang sudah kulakukan. Aku takut, nanti aku akan menjadi besar kepala karena merasa sudah melakukan kebaikan. Biarlah itu terjadi tanpa diungkit. Okay?"
Changmin kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya atas penjelasan Kyuhyun.
"Tadi Bibi Hyobin memintaku ke sini karena beliau bilang kewalahan mengurus anak-anak,"
"Iya, memang. Apalagi ada dua kamar dengan kami meng-handle sendirian masing-masing kamar. Tadi anak-anak mengeluh kesakitan dan muntah berkali-kali. Bahkan Eunsoo tidak mau diurus perawat, dia terus merengek meminta aku tetap di sampingnya. Tapi setelah ditangani para dokter, perlahan kondisi anak-anak membaik. Lalu mereka mulai tertidur, jadi tidak segawat tadi," kata Kyuhyun tersenyum kecil saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Changmin ikut tersenyum melihatnya. Dia menyadari mulai ada setitik rasa kagum untuk namja manis di depannya itu.
"Oh, iya. Apakah kau juga akan menemani anak-anak di sini?"
"Kenapa?" Changmin balik bertanya.
Kyuhyun merengut, "Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya,"
Changmin tertawa ringan, "Kau tahu, pertanyaanmu tadi lebih terdengar seperti ini di telingaku, 'Apa kau mau menemaniku di sini menjaga anak-anak?' begitulah…"
Kyuhyun melebarkan matanya dengan kalimat Changmin. Kenapa seperti dia yang berharap?
"Kau percaya diri sekali!" pekik Kyuhyun mulai jengkel
"Oh, bukan, ya? Padahal kalau iya juga tidak masalah. Hahahaha…."
Changmin tertawa terbahak sekarang. Tapi kemudian dia segera menutupi mulutnya agar suara tawanya tidak menganggu tidur anak-anak. Kyuhyun semakin merengut mendengar tawa Changmin dan dia salah tingkah lagi karena Changmin dengan jelas menawarkan diri menemaninya. Tentu dia mau sekali.
"Bagaimana mau tidak?" tawar Changmin yang membuat pipi Kyuhyun sedikit memerah. Namja manis itu menggigit bibir bawahnya lalu pura-pura berpikir. Dia tentu harus tetap menjaga image-nya.
"Hah, sepertinya aku ke kamar sebelah saja," ucap Changmin yang sebenarnya cuma main-main. Dia ingin sedikit menggoda Kyuhyun.
"Eh, kau di sini saja! Kau tidak kasihan melihatku menjaga empat anak sendirian?" cegah Kyuhyun cepat saat Changmin hampir beranjak dari duduknya. Hal itu membuat Changmin kembali tertawa terhibur. Sedangkan Kyuhyun merengut karena akhirnya dia tetap tak bisa menjaga image-nya. Tapi, siapa peduli? Karena bagi namja manis itu yang penting Changmin ada di sisinya sekarang. Atau Kyuhyun memang harus peduli, karena Yeon Hee yang melihat interaksinya dengan Changmin, sangat tidak menyukainya.
.
.
ChangKyu
.
.
Setelah dirawat satu hari, kondisi anak-anak membaik dan mereka diijinkan pulang. Kyuhyun menawarkan diri mengantar anak-anak dengan membawa dua mobil. Satu mobil yang dibawa Paman Shin lalu satu mobil dirinya sendiri yang menyetir.
Paman Shin yang tak bisa berlama-lama karena harus segera mengantar Jaejoong ke suatu acara, akhirnya berpamitan terlebih dahulu. Kyuhyun menyusul kemudian setelah memastikan anak-anak beristirahat.
"Bibi akan mengantarmu sampai pintu depan, ya?" tawar Bibi Hyobin. Dia merasa sangat terbantu dengan semua kebaikan Kyuhyun. Dia ingin membalasnya dengan perbuatan baik sekecil apapun.
Kyuhyun menggeleng, "Tidak perlu, Bibi. Lebih baik Bibi tetap di sini, menunggui anak-anak. Lagipula aku tidak akan hilang hanya karena berjalan sendiri ke luar," guraunya.
Bibi Hyobin tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah. Terima kasih banyak, ya, Kyu-ah. Bibi tidak tahu harus membalas bantuanmu dengan apa. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya,"
"Bibi sudah mengatakan itu berkali-kali. Jangan sungkan. Emm, ya sudah, Bibi. Aku pamit dulu, ya…"
Kyuhyun menundukkan sedikit kepalanya memberi salam yang dibalas anggukan oleh Bibi Hyobin. Namja manis itu segera berjalan menuju mobilnya yang diparkir di luar pagar panti asuhan.
Saat Kyuhyun baru saja menutup pintu pagar, seseorang tiba-tiba memegang tangan kanannya erat. Dia terkejut dan refleks menoleh. Matanya membulat semakin terkejut melihat siapa seseorang di sebelahnya.
"Siwon hyung…" panggilnya hampir seperti bisikan.
Kyuhyun merasakan jantungnya berdetak semakin cepat merasa resah mendapati Siwon tiba-tiba muncul di hadapannya. Lalu bagaimana bisa Siwon tahu dia ada di panti asuhan? Terlebih alamat panti asuhan ini? Kyuhyun ingat bahwa dia tak pernah mengajak Siwon apalagi membicarakan tentang kegiatannya di panti asuhan saat hubungan mereka baik-baik saja. Kyuhyun berspekulasi tentang suatu hal. Matanya mengeras melihat Siwon yang masih bergeming di posisinya.
"Kau mengikutiku, hyung?" tanya Kyuhyun tajam tapi lebih seperti tuduhan.
Siwon menarik sedikit sudut bibirnya seolah telah menduga akan pertanyaan Kyuhyun.
"Menurutmu dari mana aku akan tahu kau ada di sini, jika aku tak mengikutimu, sayang?" Siwon membalikkan pertanyaan Kyuhyun. Mendengar pengakuan itu, Kyuhyun tak bisa lagi mengontrol emosinya. Terlebih panggilan 'sayang' yang masih dipertahankan Siwon.
"Apa-apan kau ini, hyung? Kau sekarang berubah menjadi stalker begitu?!" tanyanya dengan suara meninggi.
Wajah Siwon berubah mengeras. Dia semakin mengeratkan genggamannya di lengan Kyuhyun dan itu membuat Kyuhyun meringis sakit.
"Jangan menuduhku sembarangan! Lihatlah apa yang telah kau lakukan! Baru setelah itu pikirkan baik-baik kenapa aku sampai berbuat seperti ini!" balas Siwon juga dengan suara meninggi. Ego kembali menguasai dirinya hingga lupa bahwa dia harus berbicara baik-baik dengan namja manis itu.
Kyuhyun tersentak dengan balasan Siwon yang terdengar tajam di telinganya dan itu membuatnya takut. Perasaanya dilingkupi kecemasan, hingga dia tak bisa membalas perkataan Siwon.
"Aku ingin kita bicara lagi," lanjut Siwon. Kalimat yang terdengar memerintah daripada tawaran.
Kyuhyun menggeleng kuat, "T-tidak dengan kondisimu yang penuh emosi seperti ini, hyung,"
Siwon semakin emosi mendengar penolakan lagi dari Kyuhyun. Tangannya bergerak cepat mencengkeram kedua bahu Kyuhyun, lalu mendorong tubuh namja manis itu agak keras ke pagar. Namja manis itu mengaduh kesakitan dengan perlakuan Siwon. Dia mengernyit kesakitan tapi tampaknya diabaikan oleh Siwon. Kyuhyun tak bisa mempercayai perlakuan Siwon yang seperti ini. Dia mengenal Siwon bertahun-tahun dengan sikap baik serta dewasanya. Baginya hampir mustahil Siwon memperlakukannya kasar seperti tadi. Apakah dia sudah terlampau keterlaluan hingga sikap Siwon berubah drastis?
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" tanya Siwon masih dengan suara tinggi dan raut wajah mengeras. Kyuhyun mencoba melihat mata Siwon, tapi itu justru membuatnya makin takut. Hanya ada amarah di sana.
"H-hyung, i-ini sa-sakit," suara Kyuhyun hampir seperti rintihan karena Siwon tak melonggarkan cengkeramannya.
Siwon mengabaikannya. "Cukup kau jawab apa yang kau inginkan, Kyu!"
Namja manis itu masih meringis kesakitan. Dia mencoba memberanikan diri mengeluarkan suara. Tapi, suaranya seolah tercekat ditenggorokan. Perlakuan Siwon yang mengintimidasi seperti ini membuat takut untuk menjawab.
"Hah, lihatlah! Bahkan kau tak mau berbicara lagi. Ini sungguh menyakitkan, kau tahu?!"
Kyuhyun menggeleng kuat menolak anggapan Siwon. Bukan seperti itu–batinnya frustasi. Sayangnya Siwon tak menangkap gesture namja manis di depannya. Pikirannya yang dikuasai amarah membuatnya lebih mempercayai kesimpulan-kesimpulannya sendiri.
Siwon melepaskan cengkeramannya dan itu membuat Kyuhyun sedikit menarik nafas lega. Tapi ternyata belum sampai di situ, Siwon kembali memegang tangannya erat dan menariknya tiba-tiba. Namja manis itu lagi-lagi terkejut dan refleks mempertahankan dirinya untuk tidak menuruti tarikan tangan Siwon. Apa sekarang Siwon mencoba memaksa untuk mengikutinya?
"H-hyung! Jangan seperti ini!"
"Kau yang memaksaku memakai cara seperti ini!" Siwon kembali menarik Kyuhyun, tapi namja manis itu tetap berusaha mempertahankan dirinya.
"H-hyung, aku mohon…" Kyuhyun merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Dia merasa tak bisa menghentikan tindakan Siwon.
"Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun melihat Bibi Hyobin yang memanggilnya dan berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa. Apakah Bibi Hyobin melihat semua yang terjadi?
"Ada apa ini?" tanya Bibi Hyobin cemas tapi juga waspada.
Siwon segera melepas cengkeramannya dan bersikap biasa. Kyuhyun melirik Siwon sekilas lalu segera melihat Bibi Hyobin lagi. Dia segera menggeleng untuk menunjukkan tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia tahu dia berbohong, tapi dia juga tidak ingin membuat Bibi Hyobin khawatir, apalagi ini masalah pribadinya. Dia tidak ingin melibatkan orang lain.
"Kau serius, Kyu-ah?" tanya Bibi Hyobin memastikan. Kyuhyun mengangguk dan berusaha tersenyum.
Siwon berjalan mendekati Kyuhyun lalu berbisik di telinga namja manis itu, "Urusan kita belum selesai. Cepat atau lambat kau harus menyelesaikan kekacauan yang kau buat dalam hubungan kita," katanya dengan tajam.
Siwon segera menuju mobilnya dan pergi begitu saja. Kyuhyun terlihat shock karena kalimat Siwon hingga pikirannya terasa blank.
"Kyu, kau baik-baik saja, nak?"
Bibi Hyobin mengusap bahu namja manis itu. Dia semakin cemas melihat ekspresi Kyuhyun yang ketakutan.
"Kyu?" panggil Bibi Hyobin karena tak ada jawaban dari namja manis itu.
Kyuhyun segera melihat Bibi Hyobin dan berusaha tersenyum kembali.
"Bibi, em, aku pulang dulu, ya? Aku merasa sedikit pusing," jawab Kyuhyun mencoba memberi alasan.
"Apakah kau yakin ingin langsung pulang? Kau bisa mengistirahtkan diri sebentar di dalam,"
"Terima kasih tawarannya, Bibi. Aku rasa lebih baik aku langsung pulang,"
Bibi Hyobin tidak langsung mempercayainya. Tapi, dia mencoba menghargai namja manis itu dengan urusan pribadinya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya?"
Kyuhyun mengangguk lalu segera berpamitan dan pulang ke rumahnya. Kejutan yang sangat tidak menyenangkan dan dia ingin menenangkan dirinya dulu.
.
.
ChangKyu
.
.
Kyuhyun mengusap wajahnya kasar mendapati semua perkataan dan perlakuan Siwon terus memenuhi pikirannya seolah tak mau lenyap. Ini bahkan sudah berganti hari tapi pikirannya tak tenang. Dia menghela nafas berkali-kali merasa frustasi. Apakah dia memang melakukan kesalahan berat hingga menyebabkan Siwon berlaku seperti orang yang tak dikenalnya selama ini?
Namja manis itu tahu, Siwon hanya ingin bicara dengannya. Tapi dia belum siap. Dia masih butuh waktu untuk bertemu Siwon secara baik-baik. Kenyataannya Siwon tak bisa menunggu. Dia berpikir, apakah itu kesalahannya?
Kyuhyun menopang kepalanya dengan kedua tangan. Kepalanya terasa berat dan berputar kacau, hingga rasanya tak bisa diajak berpikir. Hingga kemudian dari posisi duduknya, dia melihat ada bayangan seseorang yang menutupinya. Perasaannya kembali was-was, cemas jika Siwon yang ada di hadapannya sekarang. Dia tak berani memastikan.
"Kenapa kau terlihat menyedihkan begini?"
Kyuhyun terkejut dengan suara yang didengarnya. Tanpa berpikir lagi dia mendongak dan sesuai dugannya, suara itu adalah milik Changmin.
"Ya, Tuhan, wajahmu kacau sekali!" komentar Changmin lalu segera berjongkok di depan Kyuhyun. Namja manis itu tak membalas komentar Changmin. Dia diam dengan matanya mengikuti pergerakan Changmin.
"Apa yang terjadi sampai kau terlihat sangat tidak biasanya?"
Kyuhyun tak menjawab pertanyaan tapi mengamati wajah Changmin.
"Kau tiba-tiba muncul di depanku, bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?" tanyanya yang justru mengingatkannya lagi dengan pertanyaan serupa darinya untuk Siwon. Dia kembali mendesah frustasi.
Changmin memegang tangan Kyuhyun untuk mencegah namja manis itu mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.
"Lihatlah GPS pada ponselmu! Itu yang membuatku tahu kau ada di sini,"
Kyuhyun mencernanya paham tapi dia malas untuk mengecek ponselnya. Jika itu benar, berarti wajar Changmin tahu dia ada di taman kota. Tapi, pertanyaannya sekarang, untuk apa namja tampan itu menemuinya?
"Lalu ada apa kau menemuiku?" tanyanya menyuarakan pikirannya.
"Aku akan menjawab dengan jujur. Tadi pagi saat aku ke panti asuhan, Bibi Hyobin bercerita padaku tentang apa yang dilihatnya kemarin. Beliau bilang bahwa sempat mendengarkan sedikit keributan di depan panti, makanya dia keluar untuk mengecek. Itu adalah kau dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Bibi Hyobin mencemaskanmu, karena dia melihat wajahmu ketakutan tapi mulutmu berkata baik-baik saja. Tentu saja aku segera mencarimu. Tapi kau bahkan tak menjawab teleponku. Lalu aku menemukanmu di sini dengan kondisi kacau begini. Sekali lagi aku bertanya, apa yang terjadi?"
Kyuhyun tak menyangkanya. Bibi Hyobin berarti mendengar keributannya dengan Siwon. Lalu, jika Changmin mencarinya, apa berarti namja tampan itu mencemaskanya?
"Aku-" Kyuhyun menarik nafas sejenak, "Aku tak bisa menceritakannya,"
Changmin terlihat kecewa dengan jawaban itu. Kyuhyun terlihat frustasi dan masih memilih memendam masalahnya sendiri. Padahal Changmin sengaja tidak memberitahu secara gamblang apa saja yang diceritakan Bibi Hyobin. Itu agar dia bisa mendengar sendiri dari Kyuhyun apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, dia tahu apa yang terjadi dan itu membuatnya marah. Dia merasa tidak rela Kyuhyun diperlakukan kasar dan dibentak oleh seseorang seperti apa yang dilihat Bibi Hyobin. Andai dia ada di sana saat itu, dia tidak akan membiarkan Kyuhyun diperlakukan kasar oleh orang lain. Dia tidak tahu, kenapa ingin melakukannya, tapi dia ingin melindungi namja manis itu.
Changmin kembali memperhatikan Kyuhyun yang kembali tenggelam dengan pikirannya. Oh, dia tak tahan melihat wajah tertekan namja manis itu. Dia lalu segera menggenggam kedua tangan Kyuhyun lalu mengubah posisinya menjadi berlutut.
"Aku minta maaf karena aku belum bisa memberikan keputusan. Tapi, jika kau butuh bersandar, aku bisa melakukannya untukmu," kata Changmin yang membuat Kyuhyun tiba-tiba terisak. Changmin segera memeluknya dan Kyuhyun tak menolaknya. Namja manis itu tak bisa menahan lagi perasaannya yang sesak. Dia ketakutan dan bingung. Dia memang butuh sandaran dan baginya Changminlah tempat yang tepat. Di sisi lain, Changmin mulai memikirkan suatu hal atas apa yang dirasakannya sekarang.
.
.
ChangKyu
.
.
Di sinilah Changmin sekarang, menemui Yeon Hee untuk keputusan yang telah dibuatnya setelah mempertimbangkannya baik-baik. Dia yakin dia tak terburu-buru, karena apa yang bisa diharapkan, jika hatinya mulai terbagi?
Yeon Hee yang duduk di depannya tak berbicara apapun menunggu Changmin memulai pembicaraan. Yeoja cantik itu terlalu peka dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bisa jadi dia tahu apa yang akan dibicarakan Changmin.
"Yeon Hee, aku ingin mengakui suatu hal. Aku minta maaf sangat banyak sebelumnya,"
Yeoja cantik itu tak mengubah ekspresi wajahnya tetap membiarkan Changmin menuntaskannya kalimatnya. Hal itu membuat atmosfer yang meyelimuti mereka berdua terasa menekan.
"Beberapa bulan ini aku mengenal seseorang. Awalnya semua biasa saja, hingga suatu hari dia menyatakan perasaannya padaku. Dia mencintaiku,"
Yeon Hee merasakan jantungnya berdentum dengan kalimat terakhir. Dia sangat tidak menyukainya.
"Aku minta maaf, aku tak bisa menolaknya. Tapi aku juga belum menerimanya. Dia meminta kesempatan dan maaf, aku memberikannya,"
Yeon Hee memalingkan wajahnya yang telah memerah karena amarah mulai mengumpul dalam dirinya. Dia tak ingin mendengar apapun lagi. Bisakah Changmin menghentikan kalimatnya?
"Itu karena aku menyadari perasaanku mulai terbagi. Lalu terjadi suatu hal yang membuatku ingin ada di sisinya dan dari situlah aku tahu aku tak bisa mengkhianatimu dengan perasaanku yang seperti ini,"
"Kau mencintainya?!" tanya Yeon Hee dengan suara meninggi. Matanya yang telah dipenuhi amarah melihat Changmin tajam.
"Aku belum bisa mengatakannya sekarang,"
"Itu berarti cintamu masih hanya untukku, Changmin-ah!"
"Aku tidak yakin mengenai hal itu. Karena kenyataannya aku juga memperhatikannya, ingin melindunginya, dan tidak menyukai jika dia tersakiti,"
Yeon Hee tertawa satire. Itu membuat Changmin merasa sangat berdosa karena jelas dia telah menyakiti hati seseorang yang setia bersamanya selama beberapa tahun ini. Tapi dia tak ingin menyakiti hati yeoja cantik itu lebih dalam lagi, jadi dia memilih membuat pengakuan.
"Lalu apa sekarang yang ingin kau lakukan? Mengakhiri hubungan kita? Lalu kau akan membangun hubungan baru dengan orang itu? Kau sungguh keterlaluan Changmin-ah!" pekik Yeon Hee dengan pipinya yang mulai dibasahi air mata. Tapi yeoja itu menahan dirinya agar tak terisak dan mempertahankan suaranya tetap stabil.
"Iya, akan lebih baik untuk mengakhiri hubungan kita. Tapi bukan berarti aku akan menjalin hubungan baru. Aku butuh waktu berpikir tapi dengan kondisi aku tidak terikat siapapun. Jadi kalian berdua tidak tersakiti semakin dalam,"
"OMONG KOSONG! CUKUP DENGAN SEMUA OMONG KOSONG YANG KAU KATAKAN! KAU SUNGGUH KEJAM!" teriak Yeon Hee lalu segera pergi meninggalkan Changmin.
Changmin hampir ingin mengejar Yeon Hee, tapi jika dia melakukannya, bukankah itu seperti memberi harapan lagi pada yeoja cantik itu? Jadi, Changmin diam di tempatnya memejamkan matanya erat. Dia mencoba meyakinkan diri, bahwa keputusan yang dibuatnya adalah tepat.
Di sisi lain Yeon Hee masih berjalan dengan wajah dibasahi air mata. Dia berhenti lalu mengusap air mata itu. Dia menarik nafas sejenak untuk menetralkan emosinya. Dalam pikirannya, dia meyakini, dia bukanlah yeoja cengeng yang hanya akan meratapi nasib. Dia harus berusaha jika dia menginginkan sesuatu bukan?
Yeon Hee mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu mencari sebuah kontak seseorang. Dia menekan icon call lalu tak menunggu lama seseorang menjawab teleponnya.
"Apakah ini benar dengan Jung Kyuhyun?"
"Iya, benar. Maaf ini dengan siapa, ya?"
"Ini dengan Lee Yeon Hee. Aku kira kau pasti tahu dengan benar siapa aku, Kyuhyun-ssi,"
Beberapa saat hening tak ada balasan dari Kyuhyun.
"Aku meneleponmu bukan tanpa alasan Kyuhyun-ssi. Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan dan aku tak menerima penolakan. Kita harus bertemu," lanjut Yeon Hee dengan penuh penekanan.
Kyuhyun masih tak membalas ucapan Yeon Hee. Tapi yeoja cantik itu tak peduli, karena dia tahu Kyuhyun masih mendengar apa yang dikatakannya.
"Aku akan mengirim pesan, alamat tempat dan jam kita bertemu. Buktikan dirimu bukan pengecut dengan datang menemuiku!"
Yeon Hee segera menutup teleponnya lalu mengetik alamat serta jam mereka bertemu. Setelah mengirimkannya pada Kyuhyun, yeoja cantik itu kembali berjalan. Tanpa setahu Changmin, dia telah mengetahui apa yang terjadi selama ini. Perasaannya sebagai seorang perempuan sangat perasa. Otaknya yang berpikir dengan cepat segera mencari tahu semua tentang hubungan Changmin dan Kyuhyun, hingga dia menarik sebuah kesimpulan. Lalu memang tinggal menunggu waktu, Changmin memilih mengakhiri hubungan mereka. Hanya dia tak menyangka akan secepat ini. Memorinya mengingat di mana dia melihat Changmin memeluk Kyuhyun yang menangis beberapa hari lalu. Dugaannya adalah karena hal itu Changmin membuat keputusan yang menghancurkan perasaannya.
.
.
ChangKyu
.
.
Kyuhyun meremas tangannya gelisah. Matanya melihat waspada pada pintu masuk restoran tempatnya akan bertemu dengan Yeon Hee. Yeoja itu, dia sangat terkejut saat kemarin Yeon Hee meneleponnya. Bagaimana bisa yeoja itu mengetahui nomor teleponnya? Lalu mengapa tiba-tiba dia meminta bertemu dengan kata-kata menyudutkan? Apakah Yeon Hee sudah mengetahui jika dia mencintai Changmin?
Kemudian Yeon Hee terlihat memasuki restoran lalu segera menuju meja tempat Kyuhyun menunggunya. Yeoja itu memandangnya tanpa ekspresi lalu meletakkan kedua tangannya bersidekap di meja.
"Terima kasih sudah mau datang. Kau bukan pengecut seperti yang ku duga," mulai Yeon Hee dengan kata-kata tajam. Kyuhyun melebarkan matanya sekian detik mendengarnya. Dia tak menyukai kata-kata yeoja itu, tapi berusaha menahan emosinya.
"Baiklah, tampaknya kau sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin aku bicarakan. Benarkan, Kyuhyun-ssi?"
"Bisakah kau mulai saja dan tak perlu berbasa-basi?!" balas Kyuhyun mulai jengkel.
"Ya, tentu. Aku minta kau untuk pergi dari hidup Changmin. Jangan mengganggunya dengan perasaanmu apalagi meminta kesempatan bisa bersama dengannya!"
Kyuhyun terkejut dengan kalimat Yeon Hee. Dia semakin meremas tangannya yang sedikit tremor. Perlahan dia mencoba menguasai emosinya tidak ingin terbawa ego. Dia harus bisa menghadapi yeoja di depannya secara baik-baik.
"Aku minta maaf. Aku tidak bisa melakukannya,"
Yeon Hee tersenyum sinis mendengarnya, "Aku sudah menduga jawabanmu,"
"Lalu? Kenapa kau masih memintanya?" balas Kyuhyun cepat.
"Aku ingin mencobanya. Bisa jadi ada kemungkinan kau menuruti permintaanku. Tapi ternyata tidak!"
Kyuhyun hampir menjawabnya dengan emosi yang berkumpul di dadanya. Tapi dia kembali menahan dirinya untuk diam.
"Aku tidak menyangka, jika orang-orang kaya begitu serakah. Apa masih merasa kurang kau memiliki segalanya, Kyuhyun-ssi?!"
"Apa maksudmu? Kenapa kau menghubung-hubungkannya dengan kekayaan?"
"Aku sudah mengetahui tentang semua latar belakangmu, Kyuhyun-ssi. Seorang anak tunggal dari pemilik perusahaan multinasional di Busan. Lalu mempunyai kekasih seorang pemilik salah satu Department Store terbesar di Korea. Tapi, sayangnya kau memutuskan kekasihmu yang sangat sempurna itu, demi mengejar cinta seorang mahasiswa biasa yang sebenarnya juga sudah memiliki kekasih. Aku tak habis pikir denganmu!" jawab Yeon Hee penuh sarkasme.
"Kau! Apa-apaan kau ini?!"
Kyuhyun kembali shock dengan fakta yang dikatakan Yeon Hee. Yeoja di depannya ini sungguh dia tak menduganya, bahwa Yeon Hee sudah hampir sedetail itu mengetahui tentang dirinya. Kenapa ini jadi semakin rumit?
"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Tidak cukup dengan semua kesempurnaan yang kau miliki hingga ingin mengambil milik orang lain, hah?!"
Kyuhyun menggeleng kuat, "Tidak! Bukan begitu, Yeon Hee-sii!"
"LALU APA?!" Yeon Hee mulai berteriak. Beberapa pengunjung restoran mulai melihat mereka. Tapi Yeon Hee tak peduli.
Kyuhyun memejamkan matanya erat untuk menenangkan pikirannya yang mulai kalut lagi. Dia ingin mencoba memberi jawaban yang dapat dipahami gadis di depannya.
"Aku…ingin meraih kebahagianku. Aku belum pernah merasakannya selama hidupku dan Changmin yang membuatku merasakannya. Karena itu aku tidak ingin melepaskan Changmin. Aku minta maaf itu menyakitimu. Tapi aku juga ingin memperjuangkan apa yang aku inginkan,"
"Ya, kau menghancurkan hubungan kami. Kau puas sekarang?"
Menghancurkan hubungan Changmin dan Yeon Hee?
Kyuhyun hanya diam. Dia merasa diliputi perasaan bersalah sekarang. Dia berpikir bahwa dia telah membuat orang-orang terluka hatinya. Membuat mereka tersakiti. Membuat kebahagiaan orang lain hancur. Mengorbankan orang lain. Lalu dia mulai bertanya apakah semua ini benar?
"Kenapa kau hanya diam? Apa kau mulai merasa, kau itu tidak tahu diri?" kata-kata Yeon Hee semakin tajam dan merendahkan. Itu terdengar menyakitkan saat Kyuhyun mendengarkannya karena dia merasa, dia seperti apa yang dikatakan Yeon Hee.
Dia seorang yang tidak tahu diri karena ingin merebut kekasih orang lain, lalu mengorbankan kekasihnya sendiri yang mencintainya selama bertahun-tahun.
Apakah itu maksud Yeon Hee?
Kyuhyun semakin tenggelam dengan perasaan bersalahnya. Kata-kata Yeon Hee telah sukses menjatuhkannya hingga ke titik nadir. Dia mencoba bernafas untuk mengurangi sesak yang dirasakannya. Tapi terasa sulit.
"Jika kau ingin memperjuangkan apa yang kau inginkan, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kita lihat nanti, siapa yang akan dipilih Changmin!"
Setelah mengatakan itu, Yeon Hee pergi begitu saja.
Kyuhyun memejamkan matanya erat, lalu menutupi wajahnya. Masalahnya dengan Siwon bahkan belum terselesaikan, lalu Yeon Hee datang mengancamnya, menjatuhkannya, dan menantangnya. Apakah nanti akhirnya Changmin akan mencintainya? Atau apakah perasaannya hanya akan terus menjadi perasaan sepihak saja? Bagaimana jika pada akhirnya Changmin tetap mencintai Yeon Hee? Memikirkannya membuat Kyuhyun kembali kalut. Dia seperti ingin menangis, tapi mencoba menahan diri. Dia ingin tetap berdiri, terus melangkah menuju apa yang diyakininya, tapi semuanya semakin rumit.
Akhirnya Kyuhyun menyerah dan membiarkan dirinya menangis untuk seseorang yang belum bisa diraihnya hingga detik ini. Kenapa mencintai seseorang bisa sesulit ini?
.
.
TBC
A/N : Jika ingin memberi komentar, tolong dengan sangat berikanlah saran dan kritik yang membangun. Bukan komentar yang negatif, merugikan author, apalagi tak ber-etika. Jadilah readers yang cerdas dengan punya etika dan sopan santun!
Readers, plis, plis, plis, jangan marah2 sama Mbak Yeon Hee. Coba saja bayangkan kamu cewek diputus cowokmu gara2 seseorang yang baru aja datang di hidupnya, tapi sudah bisa membuat cowokmu galau. Itu sih, yang saya pikirkan pas ngetik scene-scene Mbak Yeon Hee. Keep strong, ya, Baby Kyu! wkwkwkwk
Oh, ya, saya gagal paham beberapa reader minta Kyuhyun dibuat menderita terus nangis2. Ini FF kan genrenya Romance&Family, ya, bukan Hurt/Comfort, Angst, apalagi Tragedy. Ya, kurang cocok lah. FF ini memang sengaja saya buat ringan. Kalo pengen Kyuhyun menderita trus nangis2 itu silahkan mengikuti 2 FF saya yang lain/modus/
Okay, terima kasih atas semua apresiasinya di chapter kemarin, terutama untuk reviews yang masuk. Maaf saya sedang tak bisa membalas, saya ingin beristirahat sejenak.
Thanks so much for all of you who red, rev, fav, and foll my fic/deepbow/
