Chapter 2, Iblis

Arakan awan-awan oranye telah menghilang di langit. Lampu-lampu jalanan berkedip-kedip, seolah sedang menyahut satu-sama lain.

Di jalanan kosong di depannya, Jungkook menyeret kakinya, berjalan lunglai di antara cuaca dingin yang merabai tubuh. Di antara geraman dingin, Jungkook hanya mengenakan kaos putih polos, dan celana coklat panjang. Namun kedinginan bukanlah sebuah masalah untuk makhluk sepertinya.

Ini sudah tiga jam semenjak matahari menenggelamkan diri. Dan Jungkook masih belum ingin kembali ke apartemen. Bayangan gadis kecil yang baru saja ia ambil nyawa membuat Jungkook merinding setengah mati. Tubuh kecil yang memental oleh mini bus di pertigaan lampu merah sana, terlempar dan menghantam kerasnya aspal dengan napas tersendat-sendat.

Dengan ini, Jungkook semakin membenci seluruh tetek bengek pekerjaanya. Ia memandangi senapan biru tua di tangannya, berdeham. Sebuah benda yang ia benci belakangan ini.

Tadi, ia menembakkan lagi benda itu pada si gadis kecil. Tembakannya tidak terdengar, tidak terlihat, namun tetap saja, itu adalah tembakan kematian.

Ia mendudukkan diri pada kursi di taman kota. Menghela napas hingga udara dari mulutnya membentuk sebuah kepulan asap. Sembari tangannya memeluk diri sendiri, ia memejamkan mata, membiarkan dingin merasuk.

"Dingin?"

Jungkook mengerutkan alis, ketika ia membuka mata, ia melihat Jimin duduk di sebelahnya seperti hantu.

"Hm."

Menghiraukan reaksi dari pemilik gigi kelinci itu, Jimin melepaskan syalnya, mengalungkannya pada Jungkook. Kemudian tersenyum manis, sembari ia membenarkan sisi-sisi kain rajut biru itu di leher Jungkook.

"Tidak perlu," ketika Jungkook akan melepaskan benda yang mengelilingi lehernya itu, Jimin menahan, tersenyum sembari matanya ikut menyipit.

"Anggap saja ini ungkapan terima kasih karena telah menolongku beberapa hari lalu," yang lebih pendek mengerling pada Jungkook, kemudian menyandarkan tubuh pada kursi.

Jungkook memandangi syal biru di lehernya sesaat, kemudian ikut menyandarkan tubuh di kursi taman. Mereka tidak berbicara apa pun selama beberapa menit. Membiarkan hening meraup keadaan, sampai suara lenguh Jimin terdengar.

"Dingin sekali," kata si pendek sambil mencibir pada udara. "Kadang musim dingin terdengar sangat menyebalkan pada saat-saat tertentu."

"Hm," hanya dehaman yang bisa Jungkook berikan, maniknya ia lemparkan pada lampu taman yang dikerubungi oleh serangga malam.

"Ini yang membuatku tidak suka bekerja di musim dingin," keluh Jimin, ia memasukkan tangannya ke kantong jaket, kemudian menghembuskan napas begitu kuat.

"Kau bekerja apa?" Jungkook bertanya, hanya sekedar mengisi kekosongan. Maniknya melirik pada Jimin dengan rambut oranye yang mencuat lewat topi hodie merah tuanya.

"Melatih tari," helaan napas yang lebih pendek mencelos keluar begitu ia mengatakannya, matanya bergerak menatap Jungkook sembari senyumnya muncul lagi. "Kau?"

Jungkook terdiam. Matanya melihat pada Jimin, di mana rona di pipi itu semakin terlihat oleh dingin yang datang bersama larut malam. Namun detik berikutnya, Jungkook menatap lurus kembali ke depan, berdiri. "Kurasa sudah waktunya pergi."

"Cuaca malam akan membekukan kita," kemudian Jungkook menoleh ke belakang, merasakan darah di dadanya berdesir begitu Jimin tersenyum dan mengangkat tangannya.

"Kau duluan saja," ada jeda beberapa saat sebelum kalimat Jimin keluar lagi, nampak berpikir beberapa saat. "Aku masih ingin di sini sampai beberapa menit ke depan."

"Hm."

Jungkook tidak ingin terlihat peduli. Jadi ia melangkahkan kakinya berat, seperti kakinya telah dibekukan oleh udara, meninggalkan Jimin di belakangnya. Ketika matanya menangkap mobilnya yang terparkir dekat sana, langkahnya menjadi semakin lebar.

Sesaat sebelum ia benar-benar masuk ke dalam mobilnya, ia menoleh kembali pada Jimin yang masih terduduk, termenung sendirian. Ada sebuah ragu yang menggelitik dadanya, apakah ia benar-benar akan meninggalkan Jimin dengan keadaan cuaca seperti ini? Atau mungkin memaksa si pendek untuk ikut masuk ke dalam mobilnya seperti hari itu, saat kaki Jimin terluka.

Namun detik berikutnya, Jungkook menggelengkan kepala, kemudian mendudukkan diri di kursi kemudi sembari ia menyalakan mesin. Melaju bersama helaan malam.

.

.

Jimin akan mengangkat tubuhnya dari duduk kalau saja ia tidak mendengar suara yang familiar itu menelaah ke dalam telinganya.

"Yo, Jimin."

Sepasang mata kelam, dan senyum miring. Surai abu-abu yang membuat Jimin merinding sendiri. Berdiri di sampingnya, kemudian mengumbar sebuah senyum kotak.

"Ah, Taehyung," dan entah kenapa, sesuram apa pun kesan kedatangan Taehyung, nama itu selalu membuat Jimin tenang.

"Duduklah," Jimin meminta, dan Taehyung menurutinya dengan patuh, duduk di sebelah Jimin sambil menyandarkan punggungnya. "Kau dari mana saja? Beberapa hari ini aku tidak pernah melihatmu."

"Sibuk dengan klien."

"Uhm," Jimin mengangguk, walaupun ia tidak pernah tahu pekerjaan Taehyung, atau siapa klien yang Taehyung maksud. "Kau tampak lelah."

Ini bukan seperti Jimin bisa membaca keadaan seseorang atau apa. Semua orang akan tahu hanya dengan melihat keadaan Taehyung sekarang. Bahu yang merosot turun, helaan napas yang terlalu banyak, dan sepasang manik yang setiap saat meredup.

"Klienku pergi."

"Kenapa?"

"Aku melepaskannya."

Melepaskannya.

Ini adalah sisi Taehyung yang terkadang Jimin takuti. Taehyung yang mengatakan sesuatu dengan kalimat yang tidak jelas, bermakna ganda, ambigu. Jimin sendiri tidak pernah menyuarakan pertanyaan seperti 'apa sih maksudmu?', Jimin hanya akan berakting seolah ia mengerti.

"Mengapa kau melepaskannya?"

"Dia membosankan, Jimin," Taehyung menghela napas lagi, kemudian menoleh pada Jimin dengan melemparkan ekspresi tidak ingin ditanyai lagi. Jadi Jimin diam.

"Omong-omong, aku perlu bantuanmu."

Jimin mengerutkan alisnya. Kemudian mengangguk, sekali pun Taehyung nampak agak aneh. Taehyung adalah teman baik Jimin selama tiga tahun ini, walau mungkin Jimin tidak terlalu mengenal keluarga atau perkejaan Taehyung, sebenarnya mereka cukup dekat.

Jadi Jimin berkata, "apa saja."

"Izinkan aku tinggal di rumahmu, untuk sementara."

.

.

Jungkook menghempaskan tubuh pada sofa, melemparkan map di tangannya sembari ia menelungkupkan tangan di depan wajah. Memejamkan mata. Ia baru saja menyelesaikan satu pekerjaan, ketika Seokjin dengan seenaknya mengirimkan yang baru untuknya.

Ada nyeri di kepalanya ketika suara letupan senapannya terbayang. Wajah gadis kecil yang ia ambil nyawa, rintihan, tangisan, boneka yang berdarah. Ini mengerikan.

Jungkook berdiri lagi, melupakan sesuatu. Ia berjalan dengan pikiran penuh tadi, dan melupakan pintu depannya yang masih terbuka. Jadi ia berbalik dan menarik kakinya menjauhi ruang tengah.

"Ah, Jungkook."

Jungkook menelengkan kepala. Ia baru saja sampai di depan pintu ketika dilihatnya Jimin menyapa, tersenyum sama ramahnya seperti saat-saat sebelumnya. Namun bukan hal itu yang membuat alis Jungkook bekerutan, melainkan laki-laki yang berdiri di samping Jimin yang tersenyum dingin.

"Ah, Jungkook, ini temanku, Taehyung," Jimin menepuk pelan bahu laki-laki di sebelahnya, sembari matanya melempar pandang pada Jungkook yang masih terdiam di depan pintu.

"Aku Taehyung," laki-laki memberikan tangannya.

"Jungkook," dan Jungkook tidak ingin membalas uluran tangan itu, hanya diam dan membiarkan Taehyung menarik tangannya kembali.

"Selamat malam Jungkook," Jimin menunduk lagi, kemudian menarik tangan Taehyung untuk mengajak laki-laki itu masuk ke apartemennya, namun Taehyung tidak bergeming.

"Aku ingin mengobrol sebentar dengan Jungkook," pinta si senyum kotak, dan Jimin hanya mengangguk sembari ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke apartemennya terlebih dahulu.

Mereka tidak berbicara selama beberapa saat. Dan saling menatap satu sama lain. Terlebih Jungkook yang hampir melotot. Jungkook telah hidup sangat lama, hingga ia mengenal begitu banyak hal.

Dan ia dapat mengenali dengan sangat mudah hal di depannya ini, laki-laki yang bernama Taehyung itu. Pancabut nyawa sepertinya tidak perlu waktu lama untuk mengetahui hal seperti itu.

"Iblis," Jungkook berdesis, menatap Taehyung yang terkekeh kecil.

"Bukankah para pencabut nyawa terlalu kejam dengan memanggil kami begitu?" Taehyung mengerutkan alis, tersenyum miring sembari ia memasukkan tangannya ke dalam kantong. "Kami hanya titisan iblis, Jungkook, rupa kami bahkan masih menyerupai manusia. Bisa-bisanya kalian menyebut kami begitu."

Jungkook menarik diri, menatap Taehyung tajam. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Oh, apalagi?" Taehyung tertawa geli, kemudian mencondongkan tubuhnya pada Jungkook, ingin membuat sebuah intimidasi dari keadaan itu. "Aku kelaparan, Jungkook."

Jungkook akan membalas perkataan itu sebelum Taehyung mengangkat tangannya dan berjalan meninggalkan Jungkook. "Kita bicara lagi kapan-kapan, selamat malam."

.

.

Jungkook tidak bisa menepis pikiran itu. Taehyung, si laki-laki iblis itu berteman dengan Jimin, bahkan menginap di rumahnya. Iblis yang kelaparan.

Laki-laki kelinci itu terduduk di ruang tengah, menatap datar pada map di depannya. Ah, ia bahkan masih belum membuka lagi map itu. Jadi ia menepis segala sesuatu tentang iblis atau apa pun itu dan menarik map biru di atas meja sembari membukanya.

Dan seolah perihal iblis ini belum cukup memenuhi kepalanya, map itu menawarkan beban baru untuk Jungkook.

Nyawa yang akan ia ambil selanjutnya, adalah seseorang yang dikenalnya. Tetangganya. Si rambut oranye, Jimin.

Park Jimin

21 tahun

Penyebab Kematian : [...]

.

.

TBC

.

.

Hayo-hayo, saya update akhirnya.

Terima kasih yang kemaren review. Yang baca, yang paporit, dan folou, terima kasih~

Taehyung udah masuk ^^. Penyebab kematian Jimin sengaja dikosongin, biar nanti Jungkook mati penasaran buat nyari tahu, dan ah, bisa aja si Taehyung penyebab kematiannya, dan yah, saya sebenarnya masih belum menetapkannya. Keke.

Dan ya, member lain nyusul seiring berjalannya cerita. Ea. Walaupun saya pikir mungkin FF ini bakal enggak begitu bagus sih. Selamat tahun baru! (telat)

RnR?