.

.

Park Jimin

21 tahun

Penyebab kematian : [...]

.

.

Jungkook merasakan tubuhnya bergetar, oleh alasan yang tidak diketahuinya apa. Diremasnya tepian map sembari napasnya tertahan oleh sesak. Map di depannya ia pelototi betul-betul, berusaha mempercayai apa yang disuguhkan di depannya.

Tubuhnya menegang. Ia tatap foto lampiran di ujung kertas, mencoba menyalahi penglihatannya. Namun penglihatannya tidak salah. Dari mana pun melihat, foto itu tetaplah foto Jimin, tetangganya. Si surai oranye. Jungkook tidak bisa mengelak. Itu kebenarannya.

Ia menyusur tulisan di kertas, menatap pada penyebab kematian yang dikosongkan. Mengerutkan alis. Kosong. Bahkan seumur hidupnya, Jungkook tidak pernah mengingat kesalahan seperti ini, mengosongkan penyebab kematian.

Laki-laki bergigi kelinci itu menghabiskan lebih dari dua menit untuk memikirkannya, dan berhenti di menit berikutnya karena tetap tidak menemukan apa jawabannya. Matanya mengerjap. Tiba-tiba teringat sesuatu.

Seketika ia berdiri, bergegas menuju pintu dan membuka dengan gusar. Langkahnya membelok pada apartemen si tetangga begitu tubuhnya sudah benar-benar berada di luar. Panik.

"Jimin!" Jungkook menggeram, pintu terkunci begitu ia berusaha membukanya. "Jimin buka pintunya!"

Panik.

"Jimin!"

.

.

"Aku kelaparan, Jungkook."

.

.

"Kau ingin makan malam apa Taehyung? Aku punya beberapa sayur dan daging sapi di kulkas," Jimin menunjuk ruang di belakangnya, dapur. "Atau buat steik saja?"

Taehyung mengangkat sebelah senyumnya, mengiyakan dengan cepat. Menatap Jimin yang balas tersenyum dan berbalik menuju dapur. Ia berdiri dari duduknya, sembari tangannya merogoh ke dalam saku. Mengambil belati yang masih disarungkan. Tanpa bicara apa pun digenggamnya belati itu kuat-kuat, seolah saat ini telah ditunggunya setelah sekian lama. Penantian yang dimintai penghabisannya.

Jimin bahkan tidak menyadarinya.

Kakinya melangkah mengikuti Jimin menuju dapur, bergerak perlahan-lahan.

Taehyung tidak makan di bulan-bulan terakhir.

Ia kelaparan.

Hei. Ada makanan lezat di sini.

Jimin tidak menyadari hawa yang ada di belakang tubuhnya, berkutat dengan kompor, sembari ia mencari-cari di mana ia menaruh spatula. Baru ketika suara langkah yang berlariannya di belakangnya semakin terdengar mendekat, Jimin menoleh.

.

.

Jungkook mendobrak pintu, menendangnya asal, tidak peduli jika pintu akan rusak atau apa. Persetan.

Langkahnya bergerak cepat, menoleh ke sana ke mari untuk menebak di mana Jimin. Dan telinganya menyorot sebuah suara, suara api yang dihidupkan. Ah, kompor. Begitu ia sadar, ia langsung berlari, mengejar suara itu.

Saat itu ia melihat, Si rambut oranye masih membuka-buka lemari, tidak sadar bahwa Taehyung berdiri di belakangnya, melepaskan belati dari sarungnya, berjalan mendekati Jimin dengan sangat perlahan.

Jungkook cepat berlari, menghentakkan kaki pada keramik hingga suara langkahnya terdengar dan Jimin menoleh.

Waktunya sangat pas.

Kebetulan?

Tertawalah, dunia penuh dengan kejutan.

Taehyung sudah akan menancapkan belatinya di belakang Jimin, dan Jungkook tiba-tiba datang sembari ia melemparkan sebuah pukulan di kepala Taehyung. Berdecih.

"Jungkook?" Jimin setengah terperangah, ia mundur selangkah, mendapati ada belati yang terlepas dari tangan Taehyung dan terlempar di dekat kakinya.

"Sialan," Jungkook hendak melayangkan sebuah tinju lagi, namun Taehyung cepat berdiri dan balas memukul. Sudut bibirnya berdarah, dan ia menggeram marah.

"Kenapa kau datang pencabut nyawa sialan?!" Taehyung menahan satu pukulan Jungkook yang akan mengenai pelipisnya, napasnya bergemuruh oleh amarah. Diliriknya Jimin sebentar, kemudian ia memejamkan matanya. "Lain kali aku akan membunuhmu."

Detik berikutnya, tanpa berucap apa pun lagi, Taehyung telah berubah menjadi kepulan asap hitam. Menghilang begitu saja.

Jimin mengambil napas begitu Jungkook menoleh cepat ke arahnya. Nampak ketakutan.

Tapi Jungkook tidak bisa menunjukkan suatu apa pun untuk menenangkan ketakutan itu. Karena tubuh Jungkook yang gemetaran itu juga sama ketakutannya. Hingga tak ada lagi hal lain yang terlintas selain ia berjalan mendekat pada tubuh mungil Jimin, merengkuhnya ke dalam tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" tanya yang lebih pendek, matanya melihat kembali belati Taehyung. Bergidik.

"Kau hampir saja mati," Jungkook mengatakan, kemudian melepaskan rengkuhan sembari ia menarik napas. "Tapi paling tidak kau baik-baik saja."

Jungkook tidak tahu dari mana perasaan lega itu datang. Senang bisa melihat Jimin masih bernapas.

.

.

Jimin berjalan bersama Jungkook menuju ruang tengah sembari matanya menatap kalut pada Jungkook, seolah masih menyimpan ketakutan akibat perkelahian tiba-tiba tadi. Walaupun ia tidak menyuarakan apa pun tentang hal itu.

"Apa Taehyung tadi berusaha membunuhku?" Jimin bertanya ketika Jungkook mendudukkan dirinya di atas sofa, sedang dirinya masih berdiri gugup.

"Hm," Jungkook berdeham. Tidak mengerti harus menjelaskan dari sisi mana, dan bagaimana.

"Dan kenapa tubuh Taehyung bisa mendadak hilang begitu?" melupakan bahwa ia hampir terbunuh tadi, hal yang paling ditakutkan Jimin adalah tentang Taehyung yang bisa menghilang dalam kepulan asap hitam.

"Dia iblis."

Jimin menahan diri. Ia menenggak air liurnya. "Dan kau –kau pencabut nyawa. Aku mendengar Taehyung mengatakannya sebelum dia benar-benar hilang."

"Ya. Aku pencabut nyawa."

Kaki Jimin melemas, ia terduduk di sofa dengan tangan yang mengurut dahi. Pening. Tidak bisa menerima kenyataan yang begitu tidak masuk akal begitu. Jadi ia hanya diam dan berusaha mencerna kembali tiap detik yang berlalu barusan.

"Jimin."

Suara Jungkook membuat Jimin mengangkat kepalanya, menyadari Jungkook sudah duduk di sampingnya dengan wajah mereka yang teramat dekat. Beberapa mili lagi maka hidung mereka dapat bertemu.

"Jauhi Taehyung."

Bahkan tanpa Jungkook berkata seperti itu pun, Jimin sudah akan menjauhi Taehyung. Tak bisa menerima ketakutan ketika sadar bahwa teman yang sudah bersama dengannya bertahun-tahun itu iblis, percaya tidak percaya.

"Mulai sekarang tetaplah bersamaku," Jungkook menjatuhkan dirinya di sofa, bersandar sembari helaan napasnya keluar dengan begitu panjang.

"Kenapa?" Jimin mengerutkan alis, masih nampak ketakutan, walaupun sudah tersamarkan oleh raut penasarannya.

Jungkook tidak bisa berkata bahwa nyawa selanjutnya yang harus ia ambil adalah nyawa Jimin. Berkata dia, "paling tidak kau akan tetap aman."

Jungkook sendiri tidak yakin akan hal yang barusan dikatakannya.

"Percayalah," Jungkook menaruh sebuah tekanan pada sorot matanya, meminta Jimin mempercayainya sembari ia menatapi wajah Jimin yang dipenuhi oleh ragu.

Jimin nampak berpikir selama beberapa saat kemudian, menelaah ke dalam kepalanya. Ada selang jeda yang panjang sembari menunggu Jimin berpikir. Sampai akhirnya yang lebih pendek menoleh pada Jungkook, mengulum bibir. "Kenapa Taehyung berusaha membunuhku? Apa aku sudah melakukan hal yang salah?"

Jungkook menarik napas, matanya tidak mengekspresikan apa pun, namun pundaknya bergetar sedikit. "Titisan iblis. Mereka memakan nyawa manusia. Membunuh tubuh manusia sebelum akhirnya merebut roh yang keluar tubuh manusia itu untuk masuk ke pintu kematian."

Jimin bergidik, menggenggam tangannya sendiri dengan wajah kalut. Jungkook menepuk pundak laki-laki itu, berusaha memberitahu bahwa semua baik-baik saja, walaupun tidak berhasil dan Jimin masih nampak ketakutan.

"Aku akan menjagamu," entah dari mana kalimat itu berasal, Jungkook tidak tahu mengapa ia dapat mengatakannya dengan begitu ringan. "Semuanya baik-baik saja."

Sebenarnya, Jungkook tidak mempercayai kata-katanya sendiri. Berkata semuanya baik-baik saja, walaupun laki-laki itu yakin bahwa ada hal buruk mungkin bisa terjadi. Dan pada akhirnya, Jungkook tahu, bahwa Jimin akan tetap mati, berapa kali pun Jungkook mengatakan baik-baik saja.

"Baiklah."

Namun Jimin. Si pipi tembam mempercayai hal itu. Tersenyum ramah di sela rasa khawatirnya. "Terima kasih Jungkook. Aku percaya."

.

.

"Kenapa kau mengosongkan penyebab kematiannya?" Seokjin menatap map di depannya, kemudian pada seorang wanita berbaju biru itu, mengerutkan alis. "Apa ada kesalahan teknis?"

"Tidak," wanita itu menggeleng. "Ketua yang memintanya sendiri."

"Ketua?" Seokjin menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, berdecih. "Kim Namjoon, maksudmu?"

Kemudian anggukan keluar dari wanita itu. Detik berikutnya, Seokjin terkekeh sebentar. Entah sedang menertawai hal apa. "Beritahu dia aku akan menemuinya malam ini."

"Baik," patuh, wanita itu keluar dari ruangan disusul dengan suara pintu yang menutup sendiri. Meninggalkan Seokjin bersama tumpukan map di depannya, dan data seorang Park Jimin yang masih belum ingin disingkirkan.

Mata lelaki itu menatap pada data di depannya, memasang senyum miring. "Ketua sialan itu mau melakukan apa lagi, ck."

.

.

TBC

.

.

Maaf telat update.

Saya ketiduran terus tiap malam habis pulang kegiatan, ahk.

Btw. Belum ada karakter baru di sini. Mungkin chapter depan, kalau FF ini tetap lanjut sih. Maybe.

Saya ucapkan terima kasih untuk yang udah ngereview. Ngefollow. Ngapaporit. Yang baca. Kalian pahlawanku. Ea. Author amatir kaya saya kalo FF-nya direview dikit aja, bahagianya ga ketulungan/?

Untuk request. Silahkan request. Kalau saya bisa saya sanggupi, berhubung saya ini orangnya gak ada kerjaan. Kekeke. Tapi mungkin untuk sekarang, nuntasin Hands of Death aja dulu.

Oke, saya banyak omong.

Bye!