Author :

Afakim12

Genre :

School life, Friendship(?), Romance(?), Drama, Marriage life tunggu .

Rating :

T

Disclaimer :

Ini fanfict GS. Apabila tidak suka, tidak usah baca.

FF INI MURNI KARYA AUTHOR KARENA BERSUMBER DARI PENGALAMAN dan KHAYALAN(IMPIAN) AUTHOR SENDIRI YANG DITAMBAH BUMBU-BUMBU(?) PENYEDAP.

Ini ceritanya flashback dulu kemasa SMA mereka dulu, maaf yang meminta kehidupan rumah tangga KaiSoo belum bisa dipenuhi.

Maaf jika tidak sesuai EYD.

KAISOO/ GS

.

.

.

DON'T BE SIDER!

.

.

.

"Aku pulang..." ucap seorang gadis muda dengan seragam sekolah yang masih lengkap itu.

"Kau sudah pul-" wanita paruh baya itu merespon putrinya, namun sayang putrinya seperti sedang dalam keadaan yang tidak baik. Wajahnya terlihat sangat masam kali ini. Ia hanya dapat menghela nafas kali ini. "Kyungie... hari ini appa lembur sebentar. Dan eomma akan ke mini market, apa kau ingin sesuatu?"

"Coklat" jawab putrinya singkat. Kali ini apalagi yang terjadi pada putri kesayangannya itu. Ia bertanya-bertanya.

"Baiklah eomma pergi dulu" ia segera bergegas pergi ke mini market. Ia tak ingin mengganggu putrinya, ia sangat hafal jika putrinya itu dalam keadaan mood buruk, haruslah diberikan waktu sendiri hingga ia siap menceritakan masalahnya itu.

.

.

.

Jam telah menunjukkan pukul sembilan tepat. Kyungsoo baru saja keluar dari kamarnya. Ia melangkah menuju dapur.

"Oh, sayang? Kau sudah keluar? Eomma sudah menghangatkan makananmu" Eomma Kyungsoo yang berada di ruang keluarga menyadari putrinya telah keluar dari kamarnya, ia langsung menyusul putrinya itu. Ia mengambilkan makanan untuk Kyungsoo yang telah ia hangatkan terlebih dulu, ia sangat hafal jika putrinya akan keluar pada pukul sembilan.

"Perlu eomma temani?"

Kyungsoo hanya menggeleng.

"Baiklah, eomma ada diruang keluarga jika kau mencari eomma" ia mengelus surai putrinya itu sebelum beranjak.

'Apa aku harus menceritakan hal ini pada eomma? Haruskah?' Kyungsoo makan dengan tidak tenang. Ia terus bergelut dengan pikirannya.

.

.

.

.

.

"Eomma, appa pulang jam berapa?" Kyungsoo yang baru saja menyelesaikan makannya kini menghampiri sang eomma.

"Sepertinya, 30 menit lagi". Kyungsoo mengangguk paham lantas duduk disebelah eommanya yang sedang menonton televisi. Ia melanjutkan acara memakan coklatnya sambil teremenung memikirkan sebuah hal.

'Haruskah? Hah... sekarang Do Kyungsoo... katakan sekarang! Iya sekarang!' ia berkutat dengan pikirannya.

"Eomma..." jantungnya berdegup kencang.

'Hah... rasanya seperti orang mau mengungangkapkan perasaan cinta saja! Ah tunggu! Aku saja belum pernah mengungkapkan perasaan!'

"Ya?" Nyonya Do mengalihkan pandangan pada putrinya yang menyandarkan kepalanya pada bahunya.

"Aku ingin mengatakan sesuatu..."

"Berceritalah..." ia mengelus putrinya itu. Sepertinya putrinya akan menceritakan alasan wajahnya yang masam tadi.

"Tapi eomma... eum.. eomma jangan ceritakan ini pada appa ya? Kumohon..." Kyungsoo menatap dengan memelas pada eommanya.

"Kenapa begitu? Tidak biasanya kau seperti ini? Sayangnya eomma ada apa?"

"Sungguh eomma, aku ingin eomma berjanji dulu tidak akan mengatakan hal ini pada appa, baru aku bercerita pada eomma..."

Nyonya Do menatap putrinya teduh kali ini, "Sayang, eomma pernah berkata padamu bukan? Di dalam sebuah keluarga tidak ada rahasia. Apapun itu. Appa adalah kepala keluarga, jadi appa berhak tau semua sayang..."

"Tapi eomma... kali ini saja..."

"Ceritakan masalahmu, eomma dan appa bisa membantumu sayang... kau tidak boleh seperti ini..."

"Eum.. bagaimana kalau eomma jangan langsung menceritakan pada appa? Ya... mungkin itu satu minggu lagi atau kapanlah... ya, ya ya? Kumohon eomma..."

"Eomma tidak menjamin, ceritakan masalahmu.. jangan dipendam sendiri..."

"Eum... begini.. eum... begini.. eh.. eum..." Kyungsoo terlihat benar-benar gugup.

Eomma Kyungsoo tertawa melihat tingkah putrinya, "Ada apa? Cerita pada eomma secara baik"

"Disekolahku ada anak yang sangat keren eomma..."

"Lalu?"

"Eomma sudah tau apa yang akan ku maksud?" Kyungsoo menatap eommanya intens.

"Tentu saja belum. Kau masih menceritakan satu kalimat, bagaimana eomma bisa mengerti?" Ia sebenarnya tau kemana arah pembicaran putrinya. Ia hanya berusaha memancing putrinya untuk menceritakan segalanya.

"Aih... kenapa belum? Eomma, yakin belum mengerti arah pembicaraanku?". Nyonya Do mengangguk mantap, dan Kyungsoo hanya bisa menghela nafas.

"Begini... disekolahku ada anak yang sangat keren eomma. Dia pintar menari. Ah, dia juga pintar secara akademik. Dia punya banyak fans disekolah! Bahkan sunbaeku juga banyak yang menyukainya!"

"Lalu ada apa memangnya? Bukankah itu sudah biasa? Eomma sering melihat itu di drama- drama yang eomma tonton.." ia memancing putrinya lagi.

"Jadi begini, eomma taukan Soojung? Yang kuceritakan waktu itu?"

"Ya, eomma tau. Kenapa?"

"Soojung juga salah satu fansnya. Tapi Soojung cukup keterlaluan eomma! Dia selalu menguntit kemanapun anak itu pergi! Dia sangat menyebalkan! Bahkan ia selalu menunggu hingganya pulang!" Kyungsso sangat tau tentang hal Soojung yang menunggu anak itu pulang, karena ia sering pulang sore, entah itu karena tugas atau ekstrakulikuler ia selalu mendapati Soojung yang berdiri di gerbang dengan setia menunggu kepulangan anak itu hingga anak itu akan menaiki bis yang akan anak itu tumpangi.

"Bagaimana dengan reaksi anak itu?"

"Anak itu sudah menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada Soojung! Tapi Soojung itu sangat mirip dengan Rion, eomma! Sasaeng Suho yang kuceritakan pada eomma itu!"

Eomma Kyungsoo terkekeh mendengar penjelasan putrinya. "Kenapa harus marah sayang? Biarkan saja, lagipula itu juga hak Soojung mau mengikutinya"

"Tapikan anak itu tidak suka pada Soojung, eomma..."

"Ya, biarkan saja. Kenapa harus kesal hm? Apa kau juga fansnya?"

Wajah Kyungsoo memerah. Nyonya Do yang gemas dengan putrinya itu, akhirnya mencubit pipi putrinya yang sedang memerah. "Aih eomma hentikan.."

"Jadi? Apa Kyungie juga menjadi fansnya?"

Kyungsoo menunduk dan mengangguk malu.

"Namanya siapa?"

"Kim Jongin"

"Lalu apa Baekhyun dan Luhan menjadi fansnya?"

"Entahlah eomma..."

"Sejak kapan Kyungie menjadi fansnya?"

"Mungkin sejak awal mendaftar eomma, pertama kali aku melihatnya ketika mendaftar sekolah. Tapi saat itu mungkin aku fans pertamanya? Karena di hari awal sekolah belum banyak yang mengetahui Jongin.."

"Jadi alasan Kyungie kesal dari tadi itu Soojung? Jika begitu biarkan saja. Sebaiknya Kyungie fokus belajar disekolah, bukankah lomba yang akan Kyungie ikuti itu sebentar lagi hm? Jangan sia-siakan waktu mudamu dengan hal yang tidak bermanfaat seperti Soojung sayang. Waktu terus berjalan, isi setiap waktu di masa mudamu dengan prestasi mengerti?"

"Eum.. ya.." Kyungsoo mengangguk lesu. Ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari eommanya.

"Appa pulang..." sebuah suara bariton yang sangat mereka hafal itu terdengar begitu jelas di telinga mereka berdua.

"Eomma jangan katakan apapun pada appa... kumohon... aku menyanyangi eomma" Kyungsoo bicara sangat cepat, langsung mencium pipinya dan lantas kembali ke kamranya.

"Eh-? Kyungsoo belum tidur? Kenapa ia pergi terburu-buru yeobo?" Tuan Do yang baru saja sampai langsung bingung, bagaimana ia tidak bingung. Ia mendapati putrinya lari di tangga seperti dikejar anjing.

"Tentu saja belum... ia belajar keras untuk lombanya"

"Tapi, kenapa ia harus lari ketika aku pulang? Ada yang disembunyikan dariku?"

"Tentu saja, tidak. Aku akan menceritakannya padamu nanti. Mandilah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu"

.

.

.

.

.

"Hah..." ia langsung merebahkan tubuhnya disamping istrinya itu. "Apa yang akan kau ceritakan yeobo?"

"Aku rasa, aku baru melahirkannya kemarin. Tapi sekarang ia sudah begitu besar rupanya...". Eomma Kyungsoo mulai menceritakan apa yang putrinya tadi ceritakan, ia juga menceritakan tentang bagaimana sikap Kyungsoo saat menceritakan itu padanya tadi.

"Astaga... lucu sekali Soojung itu. Tapi, apakah Kyungsoo benar-benar menyukai Jongin? "

"Ya, kurasa begitu. Kyungsoo tertarik padanya sejak ia mendaftar sekolah, bukankah itu sudah cukup lama?"

"Setengah tahun lebih ya? Cinta di masa itu memang mulai muncul, kukira anak itu benar-benar polos tidak tau apa itu cinta"

"Anakmu itu sudah pernah menyukai laki-laki sejak dua tahun lalu. Kau tau idolanya itukan?" ujar Nyonya Do.

"Ya... itukan Kyungsoo hanya menyukainya sebagi seorang fans yeobo..."

"Tapi Kyungsoo pernah mengatakan padaku, bahwa cinta seorang fans pada idolanya itu sangat tulus,"

"Tapi sebenarnya aku kurang setuju ketika Kyungsoo menjadi seorang fangirl, aku takut waktunya akan beralih dengan kegiatannya menjadi fangirl itu..." Tuan Do mengutarakan apa yang ia ingin katakan selama ini.

"Awalnya aku memang sependapat denganmu, tapi kurasa itu tak masalah. Kyungsoo bisa mengatur waktunya dengan baik antara belajar dan menjadi fans. Kau tau, Kyungsoo pernah mengatakan sebuah hal padaku,"

"Mengatakan apa?"

"Ia pernah bilang bahwa ia ingin menjadi seperti Suho Oppanya itu. Kata Kyungsoo, Suho adalah murid yang pintar ketika ia sekolah, appanya adalah seorang profesor. Awalnya Appa Suho sangat menentang keinginan Suho menjadi penyanyi, karena nilainya sempat turun ketika ia menjalani masa trainingnya. Peringkatnya turun, tapi ia berusaha membuktikan pada appanya. Ia akhirnya membuat kesepakatan pada appanya, ia akan berusaha pada peringkat tiga besar. Dan itu benar, jadi intinya Kyungsoo ingin menjadi sosok Suho yang pintar itu..."

"Sepertinya kau benar-benar memahami anak kita, aku tidak salah meilihmu sebagai seorang istri dan juga ibu dari anakku..." Tuan Do memeluk istrinya itu.

"Tentu saja, aku ibunya. Aku mempunyai ikatan batin yang kuat dengannya". "Baiklah sekarang kita tidur, aku yakin kau pasti kelelahan karena bekerja tadi..." Nyonya Do melepaskan pelukan mereka.

"Tidak ada lelah yeobo, karena aku bekerja untuk kalian. Untuk membuat orang aku sayangi bahagia..."

"Berhenti menggombalnya dan cepat tidur..."

.

.

.

.

.

Ya, seperti apa yang dikatakan oleh Heraclitus, waktu terus berjalan dan akan ada perubahan disetiap waktunya. Entah itu perubahan baik atau buruk, yang pasti itu semua terus mengalir seiring waktu berjalan.

Mungkin dulu Kyungsoo adalah murid cerdas yang hanya dikenal oleh satu kelasnya saja, karena kepribadian uniknya yang tertutup pada orang lain selain yang dekat di sekitarnya. Tapi itu semua telah berubah, kini Kyungsoo sudah cukup banyak dikenal. Semenjak kemenangannya pada sebuah olimpiade yang ia menangkan pada dua minggu lalu. Ya, walaupun tidak juara pertama, itu tetap saja itu membanggakan baik bagi Kyungsoo ataupun sekolahnya.

'Baekki aku pulang dulu ya.. eomma sudah menjemputku'

'Tumben sekali kau dijemput, baiklah. Aku akan pulang bersama Luhan nanti... bye'

'Bye...' setelah sambungan terputus, Kyungsoo langsung segera menuju gerbang sekolah dimana tempat eommanya berada. Tak sengaja ia berpapasan dengan Jongin, tatapan mereka bertemu, namun Kyungsoo langsung merubah tatapannya menjadi sinis dengan Jongin. Ya, itu adalah kebiasaan lamanya saat bertemu Jongin. Entahlah... Kyungsoo pikir untuk apa menatap orang yang kau sukai dengan penuh harap jika ia tak menyukaimu. Kyungsoo juga masih sangat menjunjung tinggi harga dirinya dihadapan orang yang ia suka. Ia tidak seperti fans Jongin yang lain, yang mungkin akan berteriak atau semacamnya. Ketika ia bertemu dengan Jongin ia selalu menatapnya tajam. Ia juga tak tau alasan pasti tentang hal yang ia lakukan, yang pasti Kyungsoo tidak ingin terlihat rendah seperti yang murid lain lakukan.

.

.

.

.

.

"Eomma? Kenapa eomma menjemputku hari ini?"

"Eomma hanya ingin mengajakmu berbelanja saja. Bukankah sudah lama sekali karena kau selalu sibuk, sehingga tidak ada waktu menemani eomma belanja..."

"Eum... maafkan aku eomma.."

"Tak apa itu tak masalah. Sekarang nikmati sisa waktu hari ini berdua mengerti?".

Kyungsoo mengangguk saja. Ia sebenarnya sangat merindukan waktu dengan keluarganya, karena selalu tersita untuk kegiatan belajar ataupun ketika fangirling. Sangat disayangkan kini appanya tidak bersama mereka karena ia ada tugas di luar kota untuk satu minggu kedepan.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menuju pusat perbelanjaan, karena sekolah Kyungsoo yang letaknya dipusat kota. Pasangan ibu dan anak itu segera turun setelah memarkirkan mobilnya lantas mereka langsung mengelilingi pusat perbelanjaan itu.

"Kenapa eomma berbelanja banyak sekali? Bukankah dirumah hanya ada kita berdua?"

"Astaga... eomma lupa menceritakan padamu ya? Sahabat eomma waktu kecil akan kerumah kita besok. Kami tak sengaja bertemu ketika eomma mencari bunga baru untuk taman belakang, eomma sangat merindukannya sayang... besok sahabat eomma akan mengajak anaknya juga. Katanya ia memiliki dua anak, yang satu seumuran denganmu dan yang kecil akan lulus tahun ini dari Elementary Schoolnya"

"Benarkah?"

"Eomma rasa anak pertamanya juga satu sekolah denganmu"

"Begitukah? Tapi kurasa besok malam aku harus belajar karena ulangan eomma..."

"Eomma harap kau bisa meluangkan waktumu sedikit untuk besok sayang..."

"Eum... baiklah aku akan mengusahakannya"

.

.

.

.

.

"Eomma, apa aku harus ikut makan malam ini? Aku besok ada ulangan kimia eomma..." ujar Kyungsoo yang kini membantu eommamya menyiapkan jamuan makan malam.

"Tentu saja, harus sayang... Dia itu sahabat baik eomma semasa kecil""Eomma yakin anak eomma ini pintar. Buktinya bukankah kau sudah memenangkan olimpiade itu hm? Eomma sangat bangga denganmu..."

"Tapi... kimia adalah materi yang paling sulit..."

"Baiklah, bagaimana jika nanti kau ikut makan malam saja. Nanti kau tidak ikut mengobrol dengan kami. Cukup makan malam bersama dan kau bisa belajar?"

"Eum... baiklah"

.

.

.

.

.

'Tok tok tok'

Eomma Kyungsoo mengetuk kamar putrinya, sebelum membuka pintu kamar anak tericntanya itu. Ia sangat tahu anaknya sangat sensitif jika sedang belajar dan harus diganggu. "Sayang ayo turun, teman eomma sudah sampai..."

"Eum... baiklah..." Lantas Kyungsoo memberesi bukunya. Kemudian ia turun menuju ruang makan dengan menggandeng eommanya.

"Sayang... kau harus memperkenalkan dirimu pada ahjumma ketika kita sampai mengerti?" eomma Kyungsoo membisikan hal tersebut ketika mereka hampir sampai.

Kyungsoo melihat siluet seorang perempuan dan laki-laki yang ada dimeja makannya. Kyungsoo sedikit mempertajamkan matanya karena ia pikir ia sangat mengenali siluet laki-laki itu.

'Astaga! Apa ini mimpi?' batin Kyungsoo bertanya-tanya. Ia mematung melihat pemandangan didepannya itu. Hingga senggolan dari eommanya kembali menyadarkan dirinya.

"A-annyeonghaseyo Ahjumma... Do Kyungsoo-imnida..." Kyungsoo memperkenalkan dirinya.

"Wah... anakmu benar-benar cantik. Sama sepertimu..." Kyungsoo tersenyum menanggapi teman eommanya itu. "Aku yakin putrimu juga cantik, sayang ia tidak bisa ikut. Ayo sayang kita duduk..." Kyungsoo menuruti eommanya dan duduk disebelah eommanya. Kyungsoo benar-benar gugup dengan keadaannya saat ini.

"Ah, iya ini anak ahjumma. Eommamu bercerita tentang sekolahmu waktu itu, dan aku tak menyangka kalian satu sekolah. Kau pasti mengenalnya kan?"

'Eomma kenapa tidak bilang padaku... kalau anak ahjumma ini Jongin! Aish!' batin Kyungsoo kesal. Ia sangat gugup dengan situasi ini. Ia ingin merasakan senang ketika ia tau bahwa Jongin adalah anak dari sahabat eommanya, tapi mungkin jika itu dulu. Namun Kyungsoo saat ini tidak boleh merasakan hal itu.

"Ya, ahjumma. Aku tahu, Jongin cukup populer di sekolah" jawab Kyungsoo dengan berusaha menetralkan dirinya.

"Ah... ya, Jongin juga populer saat di JHSnya dulu... astaga aku sampai pusing sendiri dengan fansnya yang berusaha baik padaku ketika aku akan mengambil raportnya.."

"Jelas saja dia tampan, sudah pasti Jongin populer. Bukankah begitu sayang?" Nyonya Do ikut menimpali.

"Eum... ya" jawab Kyungsoo singkat dengan tersenyum paksa.

"Lalu bagaimana dengan Kyungsoo? Apa kau mengenalnya Jongin? Kyungsoo ini anaknya sangat pemalu dan pemilih dengan teman. Aku tak yakin anakku ini populer..." Kyungsoo terbelalak dengan apa yang dikatakan oleh eommanya itu.

"Kyungsoo cukup populer ahjumma, semenjak ia memenangkan perlombaan itu. Kini banyak yang mengenal Kyungsoo..." jawab Jongin tersenyum.

'Kim Jongin menyebalkan! Kenapa kau harus tersenyum? Kau membuat perasaanku benar-benar kacau!' Kyungsoo terus merutuk dalam hati.

"Baiklah... kurasa kita bisa makan malam sekarang. Ah iya ini masakan Kyungsoo dia sangat suka mencoba resep makanan, aku tak tau dia mendapat resep darimana padahal ia selalu sibuk belajar"

"Dia menuruni bakatmu.."

.

.

.

.

Tak lama makan malam selsesai, Kyungsoo membantu memberesi semua piringnya. Setelah selesai mereka menuju ke ruang tamu dimana Jongin dan eommanya berada. Nyonya Do dan sahabatnya berbincang asik, seolah tidak ada siapapun di samping mereka. Kyungsoo dan Jongin hanya diam mendengarkan dan sekali-kali mereka ikut tertawa walaupun tak tau arah pembicaraannya. Hingga Kyungsoo tersadar bahwa ia harus belajar, ia menyenggol lengan eommanya yang sedang asik berbicara itu.

"Ah.. iya. Aku hampir melupakannya, Kyungsoo bilang padaku ia harus belajar tadi, besok ada ulangan"

"Ya, tak apa. Belajarlah, semangat ya Kyungsoo!' ujar ahjumma itu.

"Terima kasih, ahjumma aku permisi..."

"Ah, ya tidak apa-apa..."

Kyungsoo membungkuk pamit. Dan langsung menuju kamar, ia tak sadar ketika Jongin terus menatapi kepergiannya. Sepertinya Kim Jongin akan mati kebosanan sendiri.

.

.

.

'Tok tok tok'

Ketukan pintu terdengar. Kyungsoo tak menggubrisnya, karena biasanya eommanya mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam kamarnya.

'Tok tok tok'

'Kenapa diketuk lagi?Aih eomma mengangguku belajar!'

'Tok tok tok'

Kyungsoo beranjak dari meja belajarnya dengan pandangan yang tak lepas dari bukunya. Ia membuka pintu dengan menggerutu "Kenapa tidak langsung masuk saja eom-? ma?"

"Eum... boleh aku meminjam buku biologimu? Kebetulan besok aku ada ulangan..."

"Eoh? Tentu..."

"Eommamu menyuruhku kesini, boleh aku masuk? Aku hanya ingin menumpang belajar?" Jongin kembali bertanya. Sementara Kyungsoo mati-matian menjaga mimiknya agar tidak terlihat gugup.

"Eum... tentu silahkan. Kau bisa duduk di sofa itu" Kyungsoo mengizinkan Jongin masuk. Ia tak tau bagaimana eommanya dapat berpikir seperti itu. Sementara Jongin mengamati kamar Kyungsoo, Kyungsooo mencari semua buku biologinya yang ada dimeja belajarnya.

"Kamarmu rapi"

"Terima kasih, dan ini bukunya maaf aku harus kembali belajar" Kyungsoo langsung menuju meja belajarnya ia berusaha kembali fokus pada bukunya. Buku yang berisi kumpulan kata yang tak terlalu ia pahami. Ya, Kyungsoo sempat tertinggal karena latihan tambahan yang dilakukannya dulu ketika akan lomba sehingga ia cukup banyak meninggalkan jam pelajaran.

Sesekali ia menggerutu karena gagal paham dengan isi bukunya itu, dan itu membuat Jongin terkekeh kecil sedari tadi. Ya, sedari tadi Jongin tidak belajar, itu hanyalah alasannya agar tidak mati kebosanan disana. Dia cukup menyesali karena adik keras kepalanya tidak mau mengikuti eommanya karena harus fokus pada ujian kelulusannya di elementary school.

"Apa aku bisa membantu?" ujar Jongin ketika melihat menelungkupkan kepalanya karena frustasi.

Kyungsoo menyadari hal itu, ia pun menoleh.

"Apa aku bisa membantu?" ujar Jongin kembali.

'Apa aku harus meminta tolong padanya? Tidak Kyungsoo, kau tidak boleh dekat-dekat dengan Jongin lagi! Dan bukannya kau selalu menatap tajam Jongin saat bertemu? Ah.. itu memalukan! Tapi? Bagaimana dengan nilaiku besok jika aku tidak dapat memahami materi ini?' Kyungsoo berpikir dalam hati, dan pada akhirnya, "Bolehkah?"

"Eum... tentu"

Setelah mendapat jawaban ia membawa bukunya ke Jongin. "Apa kau tau ini? Aku benar-benar tidak mengerti dengan materi ini". Sejenak Jongin membaca materi yang dimaksud oleh Kyungsoo.

"Yang ini? Baiklah aku akan menjelaskannya"

.

.

.

.

.

"Hey, apakah kau Kim Jongin?" Tanya laki-laki itu.

Orang yang dipanggil Jongin itu mengernyit. "Ya, itu namaku. Apakah ada sesuatu?"

"Akhirnya kita kembali bertemu!" Tiba-tiba saja orang itu memeluk Jongin dengan hebohnya. Jongin merasa sedikit risih dengan sikap heboh orang yang baru ia temui itu.

"Kau bersekolah disini rupanya. Ah, kau masih mengingatku?"

"Kau?" Dahi Jongin mengerut, "Apa yang kau lakukan disini?"

"Oh... itu aku menunggu-" ucapannya terpotong ketika seorang perempuan menghampiri memanggilnya. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Oh hai... Ayo kemari? Tak merindukanku?" Ia bertanya pada perempuan yang memanggilnya tadi dan hal itu membuat Jongin bingung.

"Kenapa kau kemari?" Tanya perempuam itu.

"Aku disini menjemputmu, ada yang salah?"

"Yak! Bahkan rumah kita berbeda kota. Kenapa kau kemari? Rumahmu itu jauh! Kenapa malah kemari menjemputku?"

"Kenapa marah padaku? Apa kau tak merindukanku hm? Padahal dari awal aku sangat semangat ingin menjemputmu"

"Tapi-"

"Ekhm!"Deheman cukup keras menyadarkan mereka berdua bahwa masih ada orang lain di sekitarnya.

"Ah iya Jongin-ah. Tujuanku kesini adalah menjemput kekasihku. Dia Kyungsoo, apa kau mengenalnya?" laki-laki itu langsung menggaet tangan Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo hanya menunduk gugup. Ok! Bagaimanapun Kyungsoo pernah menyukai, tidak! Bahkan mencintai Kim Jongin pada pandangan pertama sebelum ia mengenal sosok yang menggandeng tangannya itu.

.

.

.

.

TBC?

Maaf baru sempat update ff, ya? Eum.. peminatnya sedikit ya? Sudah terlanjur diposting ya bagaimana lagi?

Maaf, buat yang minta kehidupan keluarga KaiSoo belum bisa dipenuhi, karena author ingin menceritakan tentang masa lalu mereka dulu.

Dan author cuma mau bilang ff ini author buat berdasarkan pengalaman yang author alamin, atau pengalaman yang author lihat dari orang lain. Yang pengalaman asli dini itu yang bagian Soojung nguntit Jongin terus, itu beneran. Ada temen author yang ngelakuin itu ke doi(?) Duh kok jadi curhat gini. Dan yang lain itu khayalan author ya...

Ok, sekian makasih buat yang udah review, favorite ataupun follow. Dan author mohon jadi readers yang aktif ya?

Terima kasih^^

-Review sangat diharapkan-