"Hari ini aku menemukan sebuah dunia baru untukku."
"Dunia yang ku kira tidaklah nyata. Makhluk yang kukira hanya ada dalam buku cerita. Mereka ada.. mereka hidup berdampingan dengan kami."
•
"Apa yang akan kau lakukan untuk orang yang kau sayangi? Kau akan melakukan segalanya, bukan? Begitu juga denganku."
•
•
••• TWO OF ME •••
Character(s): Sehun Oh, Zitao Huang, Shixun Huang
Baixian Bian, Chanli Piao, Fan Wu, Yixing Zhang, Junmian Jim, Han Lu, Xiumin Jim, Chen Jim, Jongin Kim, Kyungsoo Do.
WARNING!: Werewolf!AU. Typo...I guess.
Rate: T
Author: sehun's mother
Don't Like? Don't Read!
•
•
•
Chapter 003 – The Encounter
•
•
•
"Sehun! Sehun!"
Sehun buru-buru mengangkat kepalanya dari mejanya. "Ya?!" Ia memekik kaget. Membuat seisi kelas menoleh padanya. Beruntungnya guru kelas mereka baru saja keluar karena bel istirahat sudah berbunyi. Jika saja masih jam pelajaran, mungkin dia akan menghabiskan 30 menit di kelas detensi.
"Kau tertidur?"
Sehun menoleh pada Jongin yang menatapnya khawatir.
"Atau kau sakit?"
Sehun memejamkan matanya sesaat saat Jongin meletakkan punggung tangannya di atas dahinya. Merasakan kantuk masih menyerang matanya.
"Pergilah ke ruang kesehatan jika kau sakit. Atau kau mau makan dulu?" Saran Jongin pada sahabatnya sejak kecil itu.
"Makan. Aku lapar." Sehun berujar jujur sebelum berdiri dari kursinya diikuti Jongin. Ia mengusap kantuk dari matanya sebelum berjalan ke kantin bersama sahabatnya.
"Jongin, apa kau.. um tahu uh.. werewolf?" Sehun bertanya ragu saat keduanya sedang menikmati makan siang mereka. Tapi sepertinya hanya Jongin yang menikmati makan siangnya karena Sehun hanya menusuk-nusuk makanannya tanpa ada niatan sedikitpun untuk memasukkannya ke mulutnya. Ia terus memikirkan soal werewolf, Zitao, dan Shixun. Hal itu juga yang membuatnya terjaga semalaman dan membuatnya mengantuk saat jam pelajaran.
"Manusia serigala?" Jongin menghentikan sejenak acara kunyah-kunyahnya untuk menjawab pertanyaan Sehun. "Yang kutahu itu dongeng. Tidak benar-benar ada."
Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Jongin sebelum kembali bertanya, "Bagaimana kalau.. mereka benar-benar ada?" tanyanya dengan suara pelan. Tak ingin menarik perhatian siswa yang duduk tak jauh dari mereka.
Jongin berfikir sebentar, memperhatikan mimik wajah Sehun yang duduk di depannya. "Maka akan sangat mengerikan." Ujarnya singkat sebelum mengajukan pertanyaan pada temannya itu, "Apa kau habis nonton film?"
"Eh? T-tidak, hanya penasaran." Sehun mengangkat nampannya dan membawanya ke tempat sampah untuk membuangnya. Membuat Jongin menatap punggungnya heran.
"Dia belum memakannya sedikitpun."
Sehun berjalan cepat menuju perpustakaan. Ia benar-benar penasaran soal werewolf. Mungkin dia akan menemukan sesuatu di perpustakaan yang berhubungan dengan makhluk itu.
Perpustakaan selalu hening tiap ia masuk ke sana. Hanya ada beberapa siswa yang dengan khusyuk membaca buku di dekat jendela. Dengan sabar Sehun mencari buku yang berhubungan dengan werewolf dari rak satu ke rak yang lainnya. Dari rak legenda hingga mitologi. Namun, ia tidak menemukan satupun buku yang berhubungan dengan makhluk itu. Ia pun berjalan ke arah jajaran komputer yang di perpustakaan itu. Dengan sigap ia mengetikkan kata werewolf di mesin pencari.
Sepersekian detik kemudian ia telah membuka satu blog yang membahas tentang makhluk itu. Dibacanya rentetan kalimat-kalimat yang rumit itu hingga ia sampai pada paragraf terakhir yang mengatakan bahwa makhluk itu tidak benar-benar ada.
Ia membaca beberapa artikel dari blog yang berbeda tetapi semua artikel itu mengatakan bahwa werewolf tidak benar-benar ada.
Lalu, apa sebenarnya mereka itu?
•
•
•
"Ge mau kemana kau?" Shixun menyilangkan lengannya di dada. Menatap tajam pada pria yang usianya terpaut enam tahun darinya. Sang kakak kini sedang mengenakan jins yang ia pakai kemarin juga sebuah jaket berwarna hitam. Ia memakai sepatu satu-satunya sebelum berjalan keluar.
"Bekerja." Zitao menyahut. Membuat Shixun membelalakkan matanya.
"Kerja? Maksudmu.. kau akan melewati perbatasan lagi?" Tanya Shixun dengan nada yang sedikit tinggi. "Tidak tidak. Aku tidak mengijinkanmu. Wu Fan ge tidak akan mengijinkanmu."
Zitao menghela nafas pelan sebelum berbalik menatap adiknya. "Shixun, aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Ujarnya mencoba menenangkan adiknya. "Wu Fan ge sudah mengijinkan kok."
"Atau kau mau menemui anak manusia itu lagi?"
Mendengar Shixun menyangkut-pautkan Sehun, Zitao mengingat kata-kata Lu Han semalam. "Dia amat cemburu dengan anak manusa itu." Ia tersenyum jahil kepada adiknya.
"Kau cemburu?" Tanyanya mencoba memecah ekspresi pasif Shixun. "Ayolah Shixun, aku menyayangimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri ataupun semua isi dunia ini." Lanjutnya. Ia berjalan mendekati Shixun dan menepuk-nepuk kepalanya. "Kau akan selalu menjadi yang paling utama untukku."
"Tetap saja kau tidak harus menyeberangi perbatasan!" Shixun masih mencoba mencegah kakaknya. Dalam hatinya ia sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Zitao di luar sana. Dia sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Tidak lagi. Namun, ia tidak bisa mengatakan kekhawatirannya itu pada kakaknya.
"Shixun aku melakukan ini untukmu. Sebentar lagi musim gugur akan tiba, disusul musim dingin, kau butuh pakaian hangat. Kita tidak bisa menemukan pakaian hangat di sini."
"Aku tidak butuh pakaian hangat!" Bantah yang lebih muda, ia masih menatap kakaknya dengan tatapan khawatir. "Aku hanya perlu terus berada dalam wujud wolfku dan aku akan merasa hangat. Kau tidak perlu membelikanku pakaian apa-apa. Aku tidak butuh!"
"Tidak bisakah kau percaya saja padaku?!" Tanya Zitao dengan nada sedikit tinggi. Tatapan matanya menajam pada adiknya.
Shixun diam, membuat Zitao menyesali perbuatannya. Perlahan tatapannya melemah dan ia kembali menepuk-nepuk kepala Shixun. "Jangan khawatir, Xunxun. Aku akan segera kembali." Ujarnya sebelum berlalu.
•
•
•
Sehun menghela nafas seraya mengikuti Jongin menuju entah tempat apa. Mendung tipis kembali meyelimuti langit dan lagi-lagi membawa suasana suram bagi penduduk kota. Sehun bersyukur kali ini ia membawa payung, kalau-kalau hujan deras turun lagi. Berbicara tentang hujan Sehun kembali mengingat kejadian kemarin. Ia kembali bertanya-tanya makhluk apa sebenarnya mereka itu? Apa benar mereka itu werewolf? Tapi kenapa semua sumber yang ia baca mengatakan bahwa makhluk mitologi itu tidak benar-benar ada? Ini semua membuat dirinya pening.
"Sehun apa kau mendengarkanku?"
Lamunan Sehun soal werewolf mendadak buyar saat Jongin menepuk bahunya lumayan keras.
"Oh? Ya?"
"Astaga jadi kau tidak mendengarkanku?"
Sehun hanya bisa tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf? Er.. jadi kita mau ke mana?" Tanyanya hati-hati.
Jongin memutar bola matanya mendengar pertanyaan Sehun sebelum menunjuk sebuah kedai kopi di sampingnya.
"Oh? Sudah sampai?"
Jongin bilang padanya kalau hari ini ia akan mentraktirnya secangkir kopi hangat di kedai tak jauh dari sekolah mereka karena ia melihat Sehun terlihat mengantuk sepanjang hari. Dan tentunya dengan alasan lain juga.
Keduanya masuk ke dalam kedai kopi itu dan mereka langsung disambut aroma khas kopi dan sedikit aroma coklat juga vanila. Tanpa sadar Sehun tersenyum. Namun senyum di bibirnya hilang saat ia mengerucutkannya melihat Jongin berlari untuk memesan dua cangkir kopi. Ia menghampiri sahabatnya yang pelan-pelan menyebutkan pesanan mereka.
Sehun mempertikan wajah Jongin yang terlihat sumringah itu sebelum pandangannya beralih pada barista di depan mereka. Sepasang mata bulat. Bibir kecil yang bentuknya sedikit unik. Kulit putih yang terlihat begitu sehat (tidak seperti kulit putih pucat miliknya). Sehun kembali melihat ekspresi wajah Jongin sesaat sebelum Jongin menariknya ke salah satu tempat duduk di sudut kedai kecil itu.
"Kau menyukai barista itu?" Tanya Sehun tanpa basa-basi yang langsung disambut pelototan dari Jongin.
Melihat reaksi sahabatnya itu Sehun tersenyum jahil. "Ah jadi kau mentraktirku bukan karena kau perhatian padaku ya?" Anak yang lebih muda itu menaik-turunkan alisnya. "Ah harusnya aku langsung pulang saja."
"Sst! Diam!" Jongin meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Mengundang tawa kecil Sehun. Pipi pemuda berkulit tan itu memanas mendengar ledekan dari Sehun.
"Jadi kapan kau akan mengajaknya keluar?" Tanya Sehun masih dengan nada jahil.
"Sabtu ini." Jongin menjawab yakin. "Yah itu pun kalau dia setuju." Ia menghela nafas pelan.
"Kau sudah tahu namanya?" Tanya Sehun penasaran.
"Do Kyungsoo. Dia mahasiswa keperawatan semester empat."
"Mahasiswa?!" Sehun memekik tertahan. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian karena berteriak di dalam kedai kopi yang cukup ramai ini.
"Whoa seleramu cukup tinggi juga ya."
Jongin membuka mulutnya untuk membalas ucapan Sehun tetapi terpotong oleh suara yang memanggil namanya. Tanda pesanannya sudah siap. Ia buru-buru berjalan ke arah barista yang menyiapkan pesanannya.
"Terima kasih." Ucap Jongin diikuti dengan senyum. "Err, Kyungsoo hyung." Panggilnya. Ia memang sudah agak lama mengenal Kyungsoo dan mereka sudah cukup akrab. Jongin sering ke kedai kopi ini semenjak ia tahu bahwa pujaan hatinya bekerja di sini.
"Ya?"
Jongin mendadak gugup. Ia masih memegangi nampan dengan dua buah cup kopi di atasnya. Ia melihat ke deretan menu kopi di belakang barista itu sambil mengumpulkan keberaniannya.
"Sabtu ini.. Apa kau libur?"
Kyungsoo mengedipkan mata bulatnya. Sejenak berfikir untuk jawaban dari pertanyaan siswa SMA itu. "Ya, tentu saja."
"Apa.. Kau ada waktu luang?" Tanya Jongin lagi. Ia hanya sesekali menatap Kyungsoo. Hatinya masih herdegup tak karuan saat menatap manik bulat barista di depannya.
"Aku...ya sepertinya ada."
•
•
•
Gerimis akhirnya turun saat Sehun dan Jongin yang terlalu bahagia keluar dari kedai kopi. Tanpa menunggu lama, mobil jemputan Jongin tiba di depan kedai kecil itu. Sehun mengucapkan sampai jumpa dengan tawa kecil saat Jongin buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Sehun dapat melihat beberapa orang berlarian di trotoar sambil menutupi kepala mereka. Ia menghela nafas pelan sebelum membuka ransel birunya dan mengeluarkan sebuah payung kecil transparan. Payung itu dibukanya sebelum ia berjalan ke arah apartemennya.
Sepatunya mulai basah oleh gerimis yang semakin lama semakin deras. Payung itu tak mampu menghindarkan sepatunya dari derai hujan yang menghujami tanah. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena ia lupa membawa jaketnya. Karena udara dingin mulai menembus seragam sekolahnya yang tipis.
Ia menghela nafas lega melihat bangunan apartemennya sudah tidak jauh. Tinggal beberapa blok lagi. Dan hujan juga semakin dan semakin deras lagi.
Langkahnya yang semula ia percepat itu langsung melambat saat telinganya menangkap suara gemerutuk dari gang kecil yang baru saja dilewatinya. Dengan ragu ia melangkah mundur dan melihat ke dalam gang kecil yang agak gelap itu. Mendung di langit membuatnya semakin gelap lagi.
"Sial."
Sehun berkedip saat mendengar suara dari dalam gang itu. Ia memiringkan kepalanya mencoba memproses suara yang sepertinya ia kenali. Perlahan ia berjalan ke dalam gang dan matanya berakomodasi di dalam remangnya gang kecil itu. Di dalam gang sempit dan basah itu Sehun dapat menemukan seorang lelaki yang sibuk menggosok lengannya sendiri, berusaha mencari kehangatan dari tubuhnya yang dibasahi hujan.
"..Shixun?"
Sehun buru-buru melangkah mendekati lelaki yang berlindung dari hujan itu. Yah, walau tak berpengaruh banyak karena hujan tetap saja membasahinya.
Payung kecil miliknya itu ia bagikan untuk Shixun yang menatapnya kaget, tapi kesal. Sehingga mau tak mau tasnya harus kembali basah karena payung kecil itu tak mampu menutupi tubuh dua orang.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Sehun hati-hati. Ia tak ingin Shixun marah-marah kepadanya-ia sangat senang melihat Shixun lagi.
Shixun tak menjawab tapi langsung mengalihkan pandangannya. Ia merasa gengsi untuk meminta bantuan pada manusia lemah-Sehun- ini. Jadi, dia hanya diam menahan dinginnya air hujan.
"Kau gemetaran." Ucap Sehun lirih setelah memperhatikan wajah Shixun dan mendapati bibirnya bergetar. "Um.. kau mau ikut denganku? R-rumahku hanya dua blok lagi." tanya anak lugu itu sembari menunjuk gedung apartemennya yang sudah terlihat.
Shixun diam, ia tak mau menjawab. Ia ingin menerimanya tapi ia masih merasa gengsi.
"Tapi, sial. Ini dingin sekali." Pikir Shixun.
Tanpa aba-aba tangan Sehun yang tidak memegang payung meraih tangan kanan Shixun dan menariknya keluar dari gang kecil itu. Sehun membagi payungnya dan keduanya berjalan dalam diam. Shixun menurut saja saat Sehun membawanya ke apartemen kecil milik anak manusia -Sehun- itu. Karena ia juga butuh sesuatu yang hangat.
"Uh.. Selamat datang di rumahku." Ucap Sehun sesaat keduanya telah di dalam. Anak itu langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mengambil beberapa pasang handuk yang langsung ia berikan pada Shixun. Tanpa mengatakan apapun ia mendorong Shixun agar masuk ke kamar mandi. "Aku akan mengambilkan pakaian bersih. Kau bisa membersihkan dirimu dulu." tak lama kemudian ia berlari ke kamarnya dan kembali dengan sebuah celana pendek selutut dan sweater. Setelah memberikannya pada Shixun ia bergegas ke dapur. Membuat secangkir kopi dan mencoba menghangatkan tubuhnya dengan berjalan kesana kemari. Ia tak lupa menghidupkan penghangat ruangan yang dimilikinya.
Sehun baru selesai menuang kopi ke dalam cangkir saat pintu kamar mandi terbuka dan Shixun keluar dari sana. Dengan wajah yang tak menunjukkan ekspresi apapun, Shixun berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya. Sehun segera membawa secangkir kopi itu dan meletakkannya di atas meja di depan Shixun.
"Um, aku tak pandai membuat kopi. Kuharap kau menyukainya. Nyamankan dirimu, aku akan ganti baju sebentar."
Shixun tetap diam melihat anak manusia itu. Dalam hatinya ia masih bertanya-tanya kenapa mereka begitu mirip, tapi begitu berbeda. Ia pun memutuskan untuk meminum kopi hangat yang ada di hadapannya. Walau sebenarnya ia sangat jarang meminum kopi-setiap hari ia hanya minum air dari danau- dan ia ragu apakah lidahnya akan menyukai minuman pahit itu.
Setelah meneguk sedikit cairan berwarna gelap itu, ia memutuskan bahwa kopi itu tidak terlalu buruk. Ia meletakkan cangkir berwarna merah itu kembali ke atas meja dan matanya mulai menjelajahi isi ruangan yang tidak terlalu besar ini.
Di sebelah kanannya ada pintu kaca yang mengarah ke balkon kecil. Di sekitar televisi 21 inchi yang duduk manis di depannya, ada beberapa bingkai foto dan vas bunga. Salah satu foto terlihat seperti foto keluarga. Sepasang pria dan wanita muda bersama anak laki-laki yang usianya sekitar enam atau tujuh tahun di antara mereka. Ketiganya terseyum bahagia, memperlihatkan senyuman manis masing-masing.
Baru beberapa saat kemudian Shixun menyimpulkan bahwa anak kecil di tengah kedua orang tuanya itu adalah Sehun.
"Sangat beruntung." Pikir pemuda werewolf itu.
Di bingkai foto yang lain Shixun melihat foto Sehun bersama seorang lelaki berkulit tan di sebelahnya. Keduanya memamerkan masing-masing sebuah medali dan karangan bunga. Lagi-lagi Shixun merasa heran bagaimana ada manusia yang sangat mirip dengannya.
Belum sempat Shixun memperhatikan hal-hal lain, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dengan keras dan Sehun keluar dengan kepanikan. Ia sudah mengganti seragamnya dengan sepasang piama berwarna biru tua.
"Shixun apakah kau minum kopi?!" Tanyanya panik pada werewolf yang duduk di sofa miliknya. Melihat raut wajah Shixun yang heran dan bingung, Sehun kembali bertanya. Kini agak sedikit ragu. "Uh maksudku.. Apa kau.. Kalian.. Um, minum seperti...ku?" tanyanya tanpa melihat Shixun.
Shixun diam sesaat. Memperhatikan anak manusia yang kini malah memainkan kuku jarinya lantaran merasa gugup. "Ya." Jawabnya singkat. "Jarang sekali." jawab Shixun singkat sebelum kembali meminum kopinya.
Sehun bernafas amat lega sebelum kembali tersenyum pada Shixun. Senyuman manis yang mencapai matanya itu berhasil merebut perhatian Shixun. Ia bertanya-tanya apakah dia juga tersenyum seperti itu-ia akan menanyakannya pada kawanannya nanti. Namun, baru sesaat Shixun memperhatikan senyuman itu, Sehun sudah berlari ke dapurnya.
Tak lama kemudian anak itu kembali dengan segelas susu coklat di tangannya. Tanpa ragu ia duduk di sisi kosong sofa di sebelah Shixun.
"Shixun..kenapa datang kemari? Uh, m-maksudku.. kukira kau tidak suka um.. entahlah, menyeberangi.. perbatasan?" tanya Sehun ingin tahu. Ia meminum susu coklatnya seraya menunggu jawaban Shixun. Yah, itupun kalau dia beruntung Shixun mau menjawab.
"Aku menyusul Zitao." Shixun menjawab setelah meletakkan cangkir kopinya. "Dia pergi bekerja tadi pagi dan belum kembali sampai sore ini. Jadi aku ingin mencarinya." Jelasnya. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu depan. "Terima kasih untuk kopimu. Juga.." Shixun menunduk, melihat pakaian yang ia pakai. "Pakaian ini. Aku akan mengembalikannya." Ucapnya sebelum membuka pintu itu.
Sehun buru-buru meletakkan gelas susunya dan berlari menyusul Shixun. "Tapi di luar masih hujan."
"Aku akan kembali ke hutan." Ujar Shixun pelan. Mengambil sepasang sepatunya yang basah dan tetap memakainya. "Semoga kita tidak bertemu lagi."
Sehun mengedipkan matanya beberapa kali. Pandangannya mengikut Shixun yang sudah berjalan keluar apartemen kecilnya. Sesuatu seperti teringat di kepalanya saat ia buru-buru mengambil payung yang ia letakkan di sebelah rak sepatu dan berlari menyusul Shixun yang untungnya belum jauh.
Mendengar langkah kaki yang buru-buru menghampirinya, Shixun menoleh dan mendapati Sehun berdiri di belakangnya. Anak itu menyodorkan payung yang ia bawa. Shixun ragu untuk mengambilnya jadi ia hanya melihat payung itu saja.
"Lumayan jauh jika berjalan dari sini. Kau akan basah lagi nantinya."
Mendengar ucapan Sehun membuat Shixun berfikir tidak ada salahnya ia menerima bantuan anak itu-lagi. Ia menggumamkan terima kasih sebelum kembali berjalan ke arah elevator.
"Ah, berikan salamku untuk Zitao hyung ya." Ucap Sehun senang. Namun senyum di wajahnya langsung hilang saat Shixun berjalan kembali ke arahnya. Ia buru-buru menunduk saat tatapan tajam Shixun terarah padanya.
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah berfikir untuk berteman dengan kami?!" Desis Shixun. "Dan siapa kau berani memanggilnya seperti itu, huh?!"
Sehun masih menunduk, tangannya mencengkeram ujung piyamanya saat Shixun sepertinya belum tertarik untuk mengalihkan pandangan tajamnya pada anak manusia ini. "H-hyung bilang aku boleh memanggilnya seperti itu." Lirih Sehun.
Shixun tak mengatakan apapun lagi. Ia berdecak kesal sebelum berjalan cepat ke arah elevator. Meninggalkan Sehun uang yang akhirnya menghela nafas lega.
•
•
•
"Shixun belum kembali."
Baixian berjalan mondar-mandi di depan mulut gua sambil memainkan kuku jarinya. Wajahnya menampakkan kekhawatiran untuk anggota termuda kelompok mereka itu. Ia menatap ke langit yang sudah gelap. Melihat ke arah bulan cembung yang tersenyum ke bumi. Ia pun kembali mondar-mandir.
"Baixian tenanglah. Dia bersama Zitao." Suara seseorang dari dalam gua menarik perhatian beta itu dari acara mondar-mandirnya. Alpha Lu Han.
"Bagaimana kalau tidak? Dia bahkan tidak tahu di mana kakaknya bekerja. Di luar hujan, dia pasti tidak bisa menemukan Zitao."
Lu Han diam. Bersandar pada dinding gua dengan telapak tangan kananya. Ia sibuk mengunyah daging lembu yang ia pegang dengan tangan kirinya. Hasil buruannnya dengan Chanli malam ini lumayan banyak.
"Benar juga." Lu Han bergumam memikirkan kata-kata Baixian. Ia kembali menggigit daging lembu yang ia tusuk dengan tongkat kayu kecil di tangannya. "Tapi.. mereka akan baik-baik saja. Tenanglah. Kau lebih baik makan sebelum Chanli menghabiskan bagianmu."
"Biarkan saja. Aku masih khawatir."
Lu Han menatap salah satu beta di kelompoknya itu dengan alis terangkat. Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil melihatnya. "Kalian selalu bertengkar kalau bersama, tapi selalu saling mengkhawatirkan. Sekarang aku mulai ragu apakah kau ini benar-benar beta, Baixian." Tawa Lu Han sebelum masuk ke dalam gua mereka.
"Hey jangan mengejekku! Aku benar-benar beta!" Protes Baixian sambil menunjuk-nunjuk Lu Han yang mengacuhkan dirinya. "Alpha sialan." Baixian mencibir keras. Meregangkan otot-otot lehernya sejenak sebelum kembali menatap ke langit.
"Ayolah beta manja. Kau tidak tersesat, kan?" Batinnya.
"Baixian tenanglah. Shixun bukan pup lagi." Baixian mendengar salah satu anggotanya yang lain berucap. Langkahnya yang semakin dekat juga terdengar di telinganya yang tajam. "Lagipula kau bukan omega. Apalagi omega mereka. Kenapa kau begitu khawatir?" Tanya Junmian sembari duduk di dekat Baixian yang masih mondar-mandir khawatir. Beta yang lebih tua itu menyandarkan punggungnya ke dinding gua yang keras.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti." Beta itu meremas rambutnya dengan kedua tangannya, frustasi. "Shixun selalu terlihat seperti pup kecil untukku. Seperti saat Zitao pertama kali datang membawanya."
Junmian tersenyum lembut. "Aku juga tidak bisa melupakan hari itu." Mata coklat terangnya menatap ke bulan di atas langit. Menerawang kejadian bertahun-tahun yang lalu, saat kelompok mereka bertambah jumlah. "Aku tidak menyangka pup kecil itu sekarang adalah beta yang sangat kuat. Zitao benar-benar mengajarinya untuk menjadi kuat. Mereka berdua seperti kutub magnet yang tidak bisa dipisahkan. Zitao dan Shixun."
•
•
•
Zitao menghela nafas pelan. Menatap rintik hujan yang jatuh di depan pandangannya. Beberapa bagian tubuhnya sudah basah karena ia berlari dari toko tempatnya bekerja ke halte terdekat. Ia sudah menunggu bus sejak pukul enam-sekarang pukul 7.38- namun tak ada satupun bus yang lewat.
Astaga. Dia sudah terlambat beberapa jam. Ia bilang pada Shixun akan pulang sekitar pukul empat sore. Shixun pasti sangat mengkhawatirkannya. Mengingat betapa besar ketakutannya mengetahui kakaknya akan mengahabiskan beberapa jam di dunia manusia.
Ia tidak bisa berlari menebus hujan. "Jarak dari halte ini ke bukit di belakang sekolah Sehun sekitar 8 menit dengan bus." Ia tidak masalah jika cuaca cerah. Tapi hujan membuat penciuman tajam werewolf menjadi buruk. Tidak. Tidak. Dia tidak akan menembus hujan dan mengorbankan indera penciumannya untuk beberapa jam ke depan. Malam ini Chanyeol dan Lu Han yang berburu, kedua alpha itu pasti bisa mendapat paling tidak tiga ekor rusa jantan besar.
Ngomong-ngomong, apa Ia baru saja menyebutkan Sehun?
Ah, anak manusia yang mirip dengan Shixun itu.
"Oh?" Zitao seakan teringat sesuatu. Ia mengamati keadaan di sekitar halte bus tempatnya duduk. "Dia kan tinggal di sekitar sini."
Zitao berpikir untuk meminta bantuan pada anak manusia itu. Yah, sekedar meminjaminya payung atau jas hujan sudah cukup. Ia berdiri dari duduknya dan menatap kembali hujan yang tak kunjung mereda. Bodohnya. Ia tidak akan bisa meminta bantuan anak manusia itu jika ia tidak bisa pergi ke rumahnya. Dan hujan sialan ini tidak mengijinkannya pergi dari halte bus itu. Sambil menggerutu Zitao kembali duduk di halte yang sebenarnya agak basah itu.
Saat itulah Zitao mencium aroma yang sangat familiar untuknya. Ia buru-buru mengedarkan pandangannya. Namun ia tidak menemukan si pemilik aroma itu. Sampai tak lama kemudian ia melihat seseorang datang ke arah halte itu dengan payung di tangan kanannya. Sedangka tangan kirinya menenteng sepatu hitam yang terlihat basah.
"Shixun?!" Zitao kembali berdiri mendapati adiknyalah yang kini juga melihat kearahnya. Mata membulat dan senyuman mulai merekah di bibirnya.
"Zitao!" Shixun buru-buru berjalan ke halte itu.
Zitao mengernyitkan dahinya melihat Shixun tertatih-tatih. Tanpa memakai sepatunya.
"Zitao!" Shixun menghamburkan dirinya ke pelukan Zitao sesampainya ia di halte. Payung yang ia bawa sudah tergeletak tak berdaya di paving halte bersama sepasang sepatu miliknya.
Zitao terkekeh. Langsung membalas pelukan adiknya erat. Menghirup aroma yang akan selalu terpatri di kepalanya. Ia melepas dekapannya pada sang adik beberapa saat kemudian. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kakimu? Kau tidak pakai sepatu? Pakaian siapa ini?" Tanyanya bertubi-tubi.
Shixun seperti baru teringat akan kejadian yang baru dialaminya. Ia berjalan meraih payung yang tergeletak tak jauh darinya sebelum duduk di bangku halte. Zitao buru-buru duduk di samping adiknya yang sudah mengangkat kaki kirinya dan meletakkannya di atas lutut kanannya.
"Apa yang terjadi?!"
Zitao langsung meraih pergelangan kaki kiri Shixun untuk melihat luka seperti sayatan sepanjang tiga sentimeter di telapak kaki itu.
Shixun meringis saat Zitao menekan-nekan pelan di sekitar lukanya itu. "Aku menginjak pecahan kaca saat berjalan kemari."
"Lukanya lumayan dalam." Gumam Zitao. "Kenapa sih kau ke sini." Zitao sedikit membentak. Meraba-raba saku jaket dan celananya, berharap menemukan sesuatu untuk menghentikan pendarahan ringan di kaki Shixun. Dia tidak menemukan apapun pada akhirnya.
Shixun mencuatkan bibir bawahnya. "Aku tidak apa-apa kok. Hanya luka kecil." Ucapnya. "Sepatuku basah jadi aku melepasnya. Tapi malah begini."
Zitao menghela nafas berat. "Kau sangat pintar membuatku khawatir." Bisiknya.
"Akan kuucapkan yang sama untukmu, tuan Alpha." Cibir Sehun.
Zitao mau tak mau tertawa kecil. Ia pun berjongkok di depan Shixun, diam-diam meminta adiknya itu untuk naik ke punggungnya. Membuat beta muda itu terkikik senang. Ia mengikatkan tali-tali sepatunya sebelum mengalungkan sepatu basahnya ke leher Zitao. Ia mengangkat payung yang ada di tangannya sebelum naik ke punggung Zitao.
Perlahan keduanya berjalan ke arah bukit belakah sekolah.
"Bukankah ini terasa familiar?" Bisik Shixun. Ia meletakkan kepalanya di bahu Zitao sambil memeluk leher Alpha itu. Salah satu tangannya masih menggenggam erat payung yang melindungi mereka dari derai hujan.
"Yah, begitulah." Zitao tersenyum. "Tapi saat itu aku sangat takut."
"Kau bisa takut juga?" Kekeh Shixun. "Aku adalah orang paling bahagia karena memilikimu." Tuturnya. "Aku menyayangimu..gege."
"Aku juga sangat menyayangimu..beta manja."
"Hei!"
•
•
•
Chapter 003 – END
Author's Note:
Hoho, halo pembacaku sekalian ^^')a
Maaf ya baru sempat update. Liburannya udah selesai jadi ya gini. Agak terlantar. Makanya rajin-rajin review biar saya rajin-rajin ngetik lanjutannya. Hahaha.
Oya, yang punya IG bisa follow saya disana, mamahnyathehun wkwk.
-balasan review—
*Ohunie: dududu dipanggil mamah /.\ iya baby, itu typo. Duh maafin mamah /.\ mamah mah apa atuh udah diliat berkali-kali masih aja ada yang typo ;_;)a. Sip, di sini Kai udah muncul tuh. Hahaha, baru sedikit tapi. Di chap005 mungkin dia muncul agak banyak. Hoho. Makasih ya cuyung udah baca, udah review, dan juga sarannyaa~ muahmuah:** (abaikan)
*YunYuliHun: wkwk lucu ya? Aku sengaja bikin image Shixun jadi galak tapi gemesin. Hahaha. Makasih udah baca+review. Jangan lupa review lagi untuk chap003 ini ya. Haha/?
*Taohunshipper: masuk dan dimasuki /? belum berfikir ke situ ^^')a kita liat aja nanti ya. Hahaha. Makasih udah RnR:*
*Oh Yuugi: makasih sarannya ^^'a diusahain untuk buat lebih panjang / chapternya ;; makasih udah RnR ^^
*Pantatsehunsemok (usernamenya kok gemesin :'v): itu D.O udah muncul. Hahaha. Makasih udah RnR ya~
*Kotokochan: makasih udah RnR ^^~
*Byuneelia6894: duh 6894 :") ayo kita liat sama-sama babythehun akhirnya sama siapa :"D makasih udah RnR ^^
LIST ABO (ALPHA BETA OMEGA) ROLE
Wu Fan : Head Alpha
Xiumin : Alpha
Lu Han : Alpha (Lulu akan selalu manly untukku:*)
Junmian (Suho) : Beta
Yixing : Beta
Baixian(Baek) : Beta
Chen : Alpha
Chanli(Pcy) : Alpha
Zitao : Alpha
Shixun : Beta
(udah/?)
